Friday, November 5, 2021
Waspada Dehidrasi Pada Anak Ketika Demam Atau Diare
| Photo by Kelly Sikkema on Unsplash |
Kemarin, nggak sengaja lihat status di beranda Facebook yang membuat saya tertarik membaca sampai selesai. Ternyata tentang anak yang dehidrasi ketika sedang diare dan muntah-muntah. Saya jadi ingat, dulu, suami saya pernah mengalami hal yang hampir sama. Bedanya, saya segera membawanya ke dokter sebelum dehidrasinya tambah parah. Penyebab awalnya juga sama, diare dan muntah-muntah hebat.
Suami saya memang tipe orang yang kurang suka minum apalagi yang nggak manis. PR banget buat saya sebagai istri bahkan sampai hari ini. Ketika dia sakit, saya memberinya larutan oralit hingga air putih. Namun, dia malas sekali meminumnya karena pasti memang sedang nggak enak, tapi mestinya bisa dipaksa sedikit-sedikit. Akhirnya, kondisinya makin buruk. Waktu dibawa ke dokter, dia bahkan nggak bisa jalan sendiri, mesti pakai kursi roda. Waktu itu, kondisi saya juga sedang hamil muda dengan placenta previa. Sangat berharap dia nggak dirawat karena saya hanya sendirian dan ada anak sulung yang masih kecil.
Namun, dokter bilang mesti rawat karena dehidrasinya sudah lumayan parah. Saya pun menurutinya dan Alhamdulillah, setelah diinfus, nggak lama kemudian dia membaik dan segar lagi. Betapa pentingnya cairan dalam tubuh kita. Jangan sampai kejadian juga sama teman-teman, ya.
Waspada Dehidrasi Ketika Demam
Anak-anak saya punya riwayat kejang demam. Waktu anak sedang demam, saya pasti memaksa mereka untuk tetap minum. Baik itu ASI, air putih, atau jus buah. Supaya suhunya bisa turun dan lagi agar tidak dehidrasi. Karena dehidrasi memicu kejang.
Anak-anak terbiasa banyak minum tanpa harus diomelin karena itulah yang saya ajarkan. Namun, untuk suami saya yang sudah dewasa, mana bisa dipaksa? Dan memang sulit sekali memaksa dia untuk banyak minum terutama air putih.
Ketika anak sedang demam, jangan terlalu khawatir soal demamnya. Namun, perhatikan terus kecukupan cairan dalam tubuhnya. Beri minum sedikit, tapi sering supaya tidak mual.
Demam itu alarm tubuh, secara alamiah akan terjadi demam saat ada infeksi baik disebabkan oleh virus ataupun bakteri. Demam itu berjasa membunuh bakteri dan virus, lho. Jangan musuhin demamnya, tapi cari penyebabnya. Selama penyebabnya masih belum diatasi, demam pun masih terjadi.
Kita itu terbiasa panikan kalau anak-anak demam. Ya, wajar saja. Sama seperti saya. Apalagi anak-anak di rumah kalau demam suhunya tinggi banget. Nggak jarang kejang demam. Saya pun tetap observasi penyebabnya apa. Kalau hanya common cold, saya hanya memberikan cairan yang banyak, makan yang lebih sehat, penurun panas supaya anak lebih nyaman dan bisa istirahat juga. Kalau penyebabnya bukan virus, jangan ragu untuk konsultasi ke dokter supaya anak bisa lekas ditangani.
Orang-orang mungkin sering abai soal cairan karena belum mengerti risiko dehidrasi. Tanda-tanda dehidrasi pun mesti kita pelajari dan ketahui terutama sebagai orang tua. Sehingga kita tahu kapan mesti ke dokter dan rawat inap dan kapan cukup ditangani di rumah.
Betapa pentingnya belajar tentang penyakit langganan anak dan cara mengatasinya bagi orang tua. Kalau nggak ikut Milis Sehat, bisa baca-baca di blog dan akun Instagramnya dokter Apin. Beliau dokter Milis Sehat yang selama ini saya ikuti. Dokter-dokter di Milis Sehat sungguh sangat berjasa buat perjalanan saya sebagai orang tua, terutama dalam situasi berat. Atau beli deh bukunya dokter Apin. Nggak akan pernah rugi, kok.
Waspada Dehidrasi Ketika Anak Diare dan Muntah-Muntah
Diare akut umumnya disebabkan oleh virus dan tidak butuh obat tertentu. Hal yang perlu diperhatikan saat anak diare dan muntah-muntah adalah memastikan dia nggak dehidrasi. Jadi, sama seperti saat mereka demam. Atau lebih bahaya lagi kalau anak diare muntah dan masih demam tinggi juga. Mereka benar-benar butuh cairan yang cukup.
Berikan cairan sedikit, tapi sering. Kalau dimuntahkan lagi? Kasih lagi setelah jeda sebentar. Anak pasti akan lemas, tapi kalau jumlah cairan dalam tubuhnya cukup, insyallah nggak berbahaya buat mereka.
Pemberian oralit juga penting. Oralit nggak bisa digantikan dengan minuman lain. Ingat, ya. Nggak bisa digantikan dengan P*C*R* sekalipun, lho. Usahakan selalu menyediakan oralit di rumah. Oralit termasuk obat wajib yang mesti tersedia di kotak obat. Jangan enteng dan abai soal cairan. Risikonya bisa fatal :(
Prinsip penanganan diare dan muntah adalah mencegah dan menangani dehidrasi. Walaupun intensitas diare dalam sehari lumayan banyak sampai 10x dalam sehari, tapi selama tidak terdapat tanda-tanda dehidrasi, insyaallah kondisi anak akan tetap baik.
Selama menjadi orang tua, sudah berkali-kali kejadian anak diare atau kena gastroenteritis (muntah-muntah tanpa berhenti), tapi Alhamdulillah sejauh ini masih bisa ditangani di rumah karena saya sangat memperhatikan tercukupinya cairan.
Tanda-Tanda Dehidrasi
Tanda-tanda dehidrasi saya pelajari dari buku dr. Wati. Bagi yang ikut Milis Sehat, pasti tahu banget siapa dr. Wati ini. Buku beliau bagus sekali, tapi sayangnya sudah nggak cetak ulang. Saya sarankan, teman-teman bisa membeli buku-buku dr. Apin sebagai panduan bagi orang tua ketika anak sakit. Jangan sampai anak terlambat ditangani atau malah overtreatment saking paniknya. Yang rugi bukan hanya orang tua, tapi juga anak-anak.
Ketika orang tua nggak paham tanda-tanda dehidrasi terutama dehidrasi berat, anak bisa dalam kondisi berbahaya dan bisa terlambat mendapatkan pertolongan. Namun, ketika kita tahu dan paham kapan anak perlu dibawa ke rumah sakit, insyaallah kondisi buruk akan bisa diminimalisir.
Saya kutip dari buku dr. Wati tentang tanda-tanda dehidrasi yang perlu orang tua waspadai,
Dehidrasi Ringan
- Mata kering, saat anak sedang menangis, hanya sedikit keluar air mata atau malah nggak keluar air mata sama sekali.
- Mulut dan bibir lebih kering.
- Buang air kecil sedikit lebih jarang. Biasanya saya selalu menghitung berapa kali anak buang air kecil terutama saat demam dan diare. Benar-benar sampai dihitung.
Dehidrasi Sedang
- Mata cekung.
- Lemas.
- Sangat kehausan.
- Semakin jarang buang air kecil.
- Kulit kering.
Dehidrasi Berat
- Pada bayi di bawah usia 6 bulan, ubun-ubun terlihat cekung.
- Tidak mau minum.
- Tidak buang air kecil lebih dari 8 jam.
- Ketika kulit dicubit dengan dua jari, kulit sulit kembali ke bentuk asal.
- Sangat lemas atau kesadaran menurun.
Itulah beberapa kondisi yang perlu diwaspadai oleh kita sebagai orang tua. Ketika anak sedang demam atau diare, jangan panik berlebihan sampai nggak tahu mau ngapain, dan jangan juga mengentengkan sampai anak jadi terlambat ditangani.
Bagi saya, nggak ada ruginya banyak belajar soal kesehatan terutama hal yang dasar saja pada penyakit langganan anak-anak, karena kita nggak boleh juga hanya bergantung sama dokter. Nggak semuanya mesti ditangani dokter, ada juga yang cukup ditangani di rumah saja.
Jika kita mengerti, kita juga ikut membantu dokter supaya RUM dan nggak overtreatment terutama soal pemberian obat. Karena banyak dokter jadi nggak RUM akibat permintaan orang tua yang berlebihan setiap kali konsultasi. Inilah yang diceritakan oleh salah satu dokter spesialis anak di RS Hermina Jatinegara waktu saya ke sana. Beliau membenarkan apa yang saya lakukan. Kalau memang nggak butuh obat A, ya, ngapain diminta?
Yuk, ah, belajar lagi jadi orang tua yang bijak menggunakan obat dan tahu kapan anak mesti dibawa ke rumah sakit dan rawat inap. Nggak harus menjadi dokter dulu buat belajar semua ini, apalagi jika hanya soal penyakit langganan pada anak dan pertolongan pertama yang bisa kita berikan selama di rumah. Cukup jadi orang tua saja yang mau tetap belajar, insyaallah kita bisa melewati semuanya tanpa harus panik berlebihan dan terlambat mengambil keputusan.
Salam hangat,
Tuesday, November 2, 2021
Common Cold Setelah Masuk Sekolah Offline
| Photo by Atikah Akhtar on Unsplash |
Setelah sekian lama hanya di rumah saja, belajar pun di rumah, main juga di rumah, bertemu teman-teman juga hanya via online, akhirnya kita sampai juga pada waktu di mana pandemi pelan-pelan akan pergi. Iya, kita sudah bisa berkativitas di luar secara bertahap. Sekolah-sekolah mulai dibuka untuk pembelajaran tatap muka. Dan inilah hal yang nggak saya suka, common cold lagi!
Jumat lalu, si bungsu yang mesti sekolah setiap hari mengeluh sakit tenggorokan. Hari itu juga saya tidak mengizinkannya sekolah offline. Langsung minta izin. Benar saja, siangnya sudah meler dan demam. Mulai batuk-batuk juga. Kemarin, suaranya malah sempat hilang.
Setelah dua tahun hidup di masa pandemi, benar-benar jarang sakit, baru kali ini dia kena common cold lagi. Dan seperti biasa, sulit dihindarkan supaya nggak menular ke emaknya ataupun kakaknya. Jadi, kami bertiga kompak meriang…kwkwk.
Drama Commond Cold di Masa Lalu
Common cold ini pernah menjadi drama berkepanjangan dalam hidup saya. Awal-awal si sulung masuk TK sampai SD rasanya adalah waktu terberat karena mereka mesti bolak balik ke rumah sakit. Mereka hanya kena common cold, tapi risiko lainnya pun nggak bisa dihindari.
Adanya riwayat kejang demam dari saya membuat kedua anak saya harus merasakan sering-sering kena kejang demam juga setiap kali demam, terutama si sulung. Saya orangnya nggak suka yang buru-buru ke dokter kecuali memang diperlukan. Ketika anak-anak kejang demam, saya bisa menangani sendiri di rumah selama gejalanya memang bisa di-treatment di rumah. Saya selalu menyediakan obat kejang di kulkas. Nggak pernah telat stok.
Namun, ada kalanya saya mesti bolak balik periksa untuk memastikan diagnosa, benar nggak, nih anak saya baik-baik saja meskipun kejang demam terus sampai usia lima tahun lebih? Atau si adik yang kena otitis media akut atau OMA yang berkepanjangan. Dokter bilang dia nggak bisa sembuh atau kemungkinannya kecil banget saking seringnya dia kena OMA akibat common cold yang berkepanjangan. Bahkan sempat ada rencana bakalan operasi telinga. Kalau ingat, dulu, kok kuat-kuat saja, ya ngejalaninnya? Kalau ngebayangin di waktu sekarang, rasanya berat banget :D
Kenapa anak-anak bolak balik common cold terutama di waktu sekolah? Karena ketularan dari teman-temannya. Ini hal yang sulit banget dihindarkan ketika anak sudah masuk sekolah. Dan sangat wajar sekali terjadi. Di rumah, anak-anak nggak main di luar. Kemungkinan kenanya paling dari kami, orang tuanya. Namun, ketika sekolah, dengan kelas yang selalu memakai AC, sudah bisa dipastikan akan mudah banget menular.
Setelah beberapa bulan ini mulai masuk offline lagi, akhirnya kejadian dan ngerasain juga kena common cold lagi, tapi Alhamdulillahnya anak-anak sudah lebih strong. Kemarin, ada wali murid yang bilang anaknya batuk juga. Hasil konsultasi juga dengan dokter Apin di RS, ya itu risiko yang nggak bisa dihindari. Lagi pula, anak-anak sakit pun buat menaikkan imunitasnya, kok. Cuma emaknya mulai oleng saja kalau lihat anak-anak sering sakit. Semoga tahun-tahun ini nggak separah dulu.
Nggak Semua Penyakit Butuh Obat
Nggak dibawa ke dokter? Ke dokter mau ngapain? Curhat? Seperti saya waktu dulu berkonsultasi ke dokter Apin, cuma pengin curhat dan mencari dukungan kalau hal yang saya lakukan sudah benar. Bahkan dokter Apin pun tahu saya ke sana hanya pengin nunjukin ke suami saya yang dulunya belum RUM, biar dia tahu istrinya ini sudah benar menangani anaknya selama sakit…kwkwk.
Pulang pun kami nggak bawa obat atau antibiotik. Padahal, waktu itu, doker lain sudah minta bolak balik cek darah sampai suruh rawat inap. Namun, dokter Apin hanya membolak balik badan anak saya…kwkwk.
Nggak setiap sakit butuh obat. Nggak setiap sakit mesti ke dokter terutama di masa pandemi seperti sekarang. Menghindari banget pergi ke dokter kecuali dalam kondisi darurat dan mengharuskan saja.
Nggak ke dokter bukan berarti nggak sayang sama anak-anak. Justru karena sayang sama mereka, kita mesti hati-hati ngasih treatment terutama soal obat-obatan yang meski aman dikonsumsi, tapi tetap punya efek samping dan harus sesuai kebutuhan. Anak common cold nggak butuh antibiotik, tapi berapa banyak dokter yang ngasih oleh-oleh antibiotik setiap saya konsultasi? Obat sekantong buat satu anak dengan diagnosa common cold? Sedangkan kita hanya butuh satu tablet saja? Kira-kira masuk akal nggak, sih? Kecuali ada diagnosa lainnya.
Sampai capek kadang debat sama dokter. 'Anak saya sakit apa, Dok? Common cold. Sebabnya common cold apa, ya, Dok? Virus. Kalau sebab virus, kenapa anak saya diberikan antibiotik? Antibiotik, kan hanya dibutuhkan untuk penyakit yang disebabkan bakteri. Apa nggak berlebihan treatment-nya?
Hari-hari berikutnya saya nggak mau debat lagi. Cukup nggak tebus obatnya dan pulang membawa obat demam atau obat lain yang jelas memang dibutuhkan.
Perjalanan common cold dalam hidup saya nggak sederhana. Ada anak yang sering kejang demam setiap kali kena common cold, ada anak yang bolak balik ke dokter THT hampir setiap minggu karena kena OMA. Itulah kenapa saya merasa berat kalau di sekolah nggak disiplin terutama soal anak yang sakit atau belum benar-benar sehat, tapi tetap masuk sekolah. Peraturan di zaman pandemi, anak-anak yang masuk hanya yang benar-benar sehat saja. Jangan sampai dia masuk, tapi malah membahayakan teman-temannya.
Saya sadar betul, itulah risiko yang bakalan terjadi dan nggak masalah karena mereka akan tumbuh semakin besar dengan imunitas yang lebih bagus. Namun, kadang jenuh juga kalau keseringan sakit…hiks.
Anak-anak saya terbiasa pakai masker setiap mereka kena common cold jauh sebelum masa pandemi, sampai terkenal di sekolah rajin pakai masker. Zaman dulu, kalau hanya flu batuk, kan masih boleh sekolah, ya. Anak-anak saya memakai masker semata-mata demi menjaga teman-temannya yang lain supaya nggak ketularan juga. Semoga teman-temannya juga sama-sama menjaga. Itu saja yang saya harapkan. Kalau sudah diusahakan dan masih kena juga, qadarallah.
Sekian curhatan di pagi yang cerah dengan kondisi badan yang mulai enakan…kwkwk. Semoga anak-anak kita tetap sehat ya, selama pembelajaran tatap muka.
Salam hangat,
Monday, November 1, 2021
Belajar Online Lebih Mudah Bersama Bimbingan Belajar Kelas Pintar
| Photo by Compare Fibre on Unsplash |
Sejak pandemi, tugas mendidik anak-anak sepenuhnya kembali kepada orang tua. Bayangkan, anak-anak yang awalnya bisa masuk sekolah hingga hampir seharian, belajar bersama teman-teman dan gurunya, sekarang mesti selalu di rumah dan lebih banyak berinteraksi dengan orang tua. Bagi yang belum siap, rasanya kelabakan banget menghadapi semua perubahan ini. Apalagi jika anak-anaknya nggak terbiasa disiplin belajar sendiri, yang ada malah ribut hampir setiap hari. Orang tua stres, anak-anak lebih parah lagi.
Keadaan nggak nyaman itu sangat terasa di awal-awal pandemi tahun lalu. Orang tua yang repot sendiri melihat tugas-tugas sekolah anaknya, harus cek tugas-tugas mana yang belum selesai, juga memaksa anak-anaknya supaya tetap disiplin. Dan lagi, guru-guru pun belum sepenuhnya siap beradaptasi dengan pembelajaran online di masa pandemi sehingga mereka lebih banyak ngasih tugas daripada berinteraksi lewat Zoom atau Google Meet. Jadi, kalau dipikir-pikir, yang paling tertekan adalah anak-anak :(
Namun, seiring berjalannya waktu, proses belajar online memang terasa lebih mudah. Anak-anak mulai terbiasa sekolah via Zoom, orang tua lebih santai, dan guru-guru pun semakin kreatif dalam proses belajar mengajar sehingga anak-anak sekarang jadi lebih bersemangat lagi.
Kebetulan, si sulung sudah naik kelas lima tahun ini. Kelihatan banget dia lebih menikmati sekolahnya ketimbang tahun lalu. Keinginan berkompetisi pun makin tumbuh. Nggak malu-malu lagi kalau berebut menjawab pertanyaan bersama teman-temannya. Sangat bersyukur dengan proses yang nggak mudah. Sebab, saya merasakan betul capek lelahnya belajar online tahun lalu. Dia sering menangis karena terlalu banyak mendapatkan tugas, sedangkan materinya kurang diulas. Gimana mau ngerjain tugas kalau dia belum sepenuhnya paham dengan materi pelajarannya? Eh, tapi gurunya sudah nagih-nagih juga. Orang tua jadi serba salah mesti gimana, dong? Benar-benar tahun yang nggak mudah dilupakan…hihi.
Tiga Tipe Gaya Belajar
Di sekolah si sulung, anak-anak akan dibagi sesuai dengan tipe gaya belajarnya masing-masing. Jadi, anak-anak visual nggak bakalan belajar bersama anak-anak kinestetik dan audio. Begitu juga sebaliknya. Kelas-kelas dibagi sesuai gaya belajar mereka.
Hal ini memudahkan saya sebagai orang tua untuk mengenal gaya belajar si sulung. Jangan sampai saya mendampingi dengan cara yang nggak tepat sehingga dia malah merasa tambah kesulitan saat harus belajar di rumah.
BTW, gaya belajar itu dibagi menjadi tiga,
Gaya Belajar Visual
Anak dengan tipe visual cenderung fokus pada indera penglihatannya. Mereka bisa belajar lebih mudah dengan mengamati gambar, tulisan, ataupun video. Anak-anak dengan tipe visual juga lebih anteng kalau belajar. Nggak banyak gerak ke sana kemari. Juga nggak banyak bersuara. Mereka jauh lebih tenang dibanding kelas sebelahnya..hihi.
Gaya Belajar Auditori
Anak dengan tipe auditori bisa lebih fokus belajar dengan mengandalkan pendengaran. Jadi, anak-anak auditori lebih senang mendengarkan penjelasan gurunya tanpa harus melihat gambar ataupun mencatatnya. Anak-anak auditori juga lebih senang membaca keras. Dia juga nggak terlalu mahir menulis, tapi sangat pandai bercerita.
Gaya Belajar Kinestetik
Jika ada anak yang nggak bisa duduk tenang dalam waktu yang lama, kemungkinan besar dia adalah anak kinestetik. Anak-anak dengan tipe belajar kinestetik memang akan lebih banyak bergerak karena dia selalu berorientasi pada fisik. Jadi, kalau ada anak yang belajarnya nggak bisa anteng, bukan berarti nakal, ya. Bisa jadi dia adalah anak kinestetik. Inilah pentingnya mengetahui gaya belajar anak-anak kita sedini mungkin.
Dulu, pernah ada teman sekelas si sulung yang dianggap belum siap masuk SD. Karena dia nggak bisa duduk dengan tenang saat belajar. Lebih banyak bergerak ke sana kemari. Kita sering melabeli anak-anak seperti ini dengan sebutan ‘nakal’. Namun, yang mengejutkan adalah dia diterima di SD bersama teman-temannya yang lain. Saat menjalani psikotes, barulah diketahui kalau dia ini termasuk anak kinestetik yang memang nggak bisa seanteng anak visual.
Buat saya pribadi, mengetahui tipe belajar anak-anak sangat penting. Jangan sampai kita jadi ngomel-ngomel gara-gara anak kita nggak bisa duduk diam saat belajar. Apalagi sampai kesulitan belajar karena kitanya salah mengerti. Anak kinestetik ataupun audio nggak bisa dong belajar mengandalkan gambar dan tulisan. Begitu juga sebaliknya. Mereka harus belajar dengan metode yang tepat sesuai karakternya masing-masing.
So, anak-anak di rumah termasuk tipe belajar apa, nih?
Bimbingan Belajar Online dengan Melihat Gaya Belajar
Sekolah online di masa pandemi memang nggak mudah. Apalagi kalau kita nggak bisa selalu mendampingi anak-anak belajar di rumah karena mesti bekerja dan lain sebagainya. Kita nggak bisa melakukannya sendirian. Kita butuh pihak lain untuk membantu. Salah satunya dengan menggunakan bimbingan belajar online.
Saya merekomendasikan Kelas Pintar sebagai solusinya. Kenapa mesti Kelas Pintar? Karena Kelas Pintar sangat memahami anak-anak dengan gaya belajar yang berbeda-beda. Kelas Pintar menggunakan pendekatan PERSONAL sebagai metode penyampaian materi yang nantinya akan disesuaikan dengan karakter setiap anak.
Selain itu, Kelas Pintar juga menggunakan metode PINTAR yang menggunakan pendekatan Learn, Practice, serta Test.
Jadi, nggak ada tuh ceritanya anak kesulitan belajar karena salah pakai metode. Kelas Pintar sangat memahami bahwa setiap anak punya gaya belajar yang berbeda sehingga mereka tidak bisa belajar dengan metode yang sama.
Temukan Solusi Belajar di Kelas Pintar
Fokus utama dari Kelas Pintar adalah menguatkan dan mensinergikan peran guru, sekolah, dan orang tua dalam proses pembelajaran lewat platform yang terintegrasi. Platform ini punya kemampuan merekam proses belajar siswa yang nantinya bisa digunakan oleh guru, sekolah, maupun orang tua dalam memahami karakter setiap anak serta menemukan potensi dan menyelesaikan kesulitan yang mereka hadapi selama ini.
Apa saja yang bisa kita temukan di Kelas Pintar?
● Mempelajari materi lengkap dalam bentuk video belajar, audio-visual, juga e-book. Jangan khawatir, anak-anak juga akan mengerjakan soal-soal latihan sebelum evaluasi melalui soal tes yang sangat bervariasi.
● Butuh berlatih dengan banyak soal sebelum ulangan harian atau ujian semester? Tenang, anak-anak bisa mengakses puluhan ribu soal LOTS, MOTS, dan HOTS demi meningkatkan kesiapan siswa dalam ulangan harian ataupun ujian semester. Sehingga orang tua tidak perlu terlalu khawatir jika dalam proses belajar tidak selalu dapat mendampingi di rumah.
● Guru-guru dari Kelas Pintar siap mendampingi anak-anak belajar dari rumah. Nggak harus selalu orang tua yang mengawasi dan menemani. Dengan adanya guru dari Kelas Pintar, anak-anak akan belajar lebih enjoy tentunya dengan metode yang tepat sesuai dengan karakter setiap anak.
Sebagai orang tua, pastinya kita ingin memberikan pendidikan yang terbaik bagi anak-anak terutama di masa pandemi seperti sekarang. Kita memang tidak boleh berharap terlalu tinggi kepada mereka dalam situasi yang serba sulit seperti saat ini, tapi nggak ada salahnya jika kita memberikan pendampingan yang terbaik bagi proses belajar mereka selain dari sekolah.
Bagi saya, adanya Kelas Pintar benar-benar menjadi solusi terutama bagi orang tua yang harus bekerja dan tidak ada banyak waktu untuk mendampingi anak-anaknya di rumah. Anak-anak pun akan lebih enjoy belajar dengan metode yang tepat dari Kelas Pintar. Semoga informasi ini membantu, ya.
Salam hangat,
Saturday, October 30, 2021
Perjalanan Menjadi Penulis Buku Best Seller dari Achi TM
| Photo by Road Trip with Raj on Unsplash |
Beberapa hari ini lumayan heboh sendiri sama sharing kepenulisan yang diadakan oleh KBM App. Mengenal KBM sudah sekian lama, bahkan pernah ikutan workshop Bunda Asma Nadia bareng teman-teman KBM juga. Namun, seiring berjalannya waktu, saya memang mulai meninggalkan KBM, terutama karena saya sudah tidak lagi menulis cerita fiksi. Kalau teman-teman mengikuti blog ini dari awal, justru isinya cerpen semua. Dari dulu saya memang senang menulis fiksi.
Sejak ada KBM App, saya sudah bergabung dan pernah menulis satu bab nonfiksi. Iya, hanya satu bab, setelah itu saya kabur karena KBM App belum seramai sekarang. Saya pun akhirnya lebih sibuk menulis buku motivasi dan seperti sekarang, saya bahkan nggak ingat pernah pengin nulis di KBM App, lho saking sudah lamanya…hihi.
Dua hari berturut-turut ikutan Indonesia Literacy Fest bersama KBM App, saya jadi pengin mulai lagi menulis di KBM App. Apalagi setelah mendengar sharing para pemateri, ampun jadi lupa capek lelahnya ngerjain ilustrasi buku dan masih ada energi buat nulis yang lain.
Bagi saya, siapa pun pematerinya, akan selalu menarik karena selalu ada ilmu yang bisa didapat. Saya pembaca buku-buku Tere Liye, buku-buku Asma Nadia, Ahmad Fuadi, dan sama sekali nggak tahu bukunya Mba Achi TM. Nggak mengenal juga karena makin ke sini saya memang jadi jarang baca-baca novel. Namun, setelah dengar sharing-nya saya benar-benar merasa termotivasi sekali. Plus momennya tepat banget setelah paginya ada kejadian kurang menyenangkan buat saya…kwkwk.
Kapan Bisa Jadi Penulis Best Seller?
Bagi saya, mungkin inilah impian yang belum bisa diraih sampai saat ini, jadi penulis buku-buku laris atau best seller. Takut bermimpi? Nggak juga. Malah sering menjadi doa. Namun, takdirnya memang belum kesampean.
Pagi itu, seorang marketing dari buku saya yang akan segera terbit menghubungi dan bilang kalau jumlah buku terjual nggak sebanyak apa. Dia nggak pernah memasang target, tapi pernah bilang semoga bisa laku 500 sampai 3000 buku misalnya. Saya merasa ucapan itu jadi doa, sekaligus lumayan jadi beban juga karena saya sadar betul, buku saya nggak mungkin laku segitu banyaknya dalam waktu sekitar sebulan pertama.
Entah karena saya masih suka menyimpan perasaan nggak enakan, akhirnya saya meminta maaf. Perasaan nggak nyaman itu terus muncul sampai sore harinya. Kayak mau udahan saja nulis buku. Ngerasa bersalah karena mungkin nggak bisa memenuhi ekspektasi mereka.
Malam harinya, saya dengar sharing dari mba Achi TM. Untuk pertama kalinya saya tahu beliau. Poin penting yang bikin saya akhirnya nggak mau nyerah adalah ketika Mba Achi bilang pengin udahan nulis setelah 21 novel terbit dan nggak pernah ada yang jadi best seller. Tulisannya laku, tapi bukan yang laku-laku banget. Dia punya pembaca, tapi nggak best seller juga sampai buku ke-21. Mba Achi seperti sedang menasihati saya. Saya nggak percaya kebetulan. Ini bukan kebetulan :D
Waktu dia berniat berhenti menulis, laptopnya hilang. Kejadian itu benar-benar bikin Mba Achi sadar bahwa niatnya sudah salah. Sudah dikasih kemampuan menulis sama Allah, malah mau berhenti. Akhirnya beliau bernadzar bakalan nulis lagi jika laptopnya ketemu. Dan benar, laptoptnya ketemu…kwkwk.
Naskah pertama yang ditulis setelah laptopnya ketemu adalah novel berjudul Insya Allah, Sah! Buku itu bahkan belum cetak, tapi sudah dipinang untuk difilmkan dan best seller. Gimana rasanya, ya? Waktu sudah pasrah, sudah nggak berharap yang muluk, tiba-tiba sama Allah dikasih best seller dan lebih dari itu?
Menulislah dan Cobalah Terus
“Nggak ada yang salah, nggak perlu minta maaf, mungkin ada rasa nggak enak, I feel you, tapi Mbak sudah berusaha, nanti bisa diusahakan lagi.”
Itulah kalimat yang saya dengar dari seorang sahabat setelah saya bercerita tentang kejadian pagi itu. Ngerasa bersalah, ngerasa nggak bisa seperti yang lain, ngerasa nggak bisa apa-apa, kemudian jadi sadar, ya sudah, nggak masalah ngerasa nggak baik-baik saja. Mungkin ada kurangnya saya juga di sini, tapi bukan berarti saya boleh menyalahkan diri sendiri terus menerus.
Menurut Mba Achi TM, buku best seller itu keajaiban yang Allah kasih ke kita. Iya, setelah kita usaha, setelah kita capek-capek, tapi ya kita nggak bisa menentukan kapan waktunya. Jadi, kenapa mesti jadi beban yang akhirnya bikin kita jadi berhenti menulis? Kadang, yang muluk-muluk tanpa tangga pancapaian yang masuk akal bikin kita down.
Saya sudah menerbitkan banyak buku, itu sudah pencapaian luar biasa buat saya yang sebelumnya sama sekali nggak punya buku terbit. Bisa masuk Gramedia dan terbit di luar negeri? Bahkan dulu pengin saja malu-malu saking ngerasa itu nggak mungkin.
Saya jadi lebih bersyukur dengan pencapaian saya saat ini dan juga bersyukur karena saya masih mau berjuang hingga sejauh ini. Meski capek, meski pengin berhenti, meski kadang ngerasa kerjaan rumah saja nggak beres-beres, tapi masih menulis plus ngerjain ilustrasi, ‘Thank you banget sudah berjuang terus!’
Setiap orang punya perjalanannya masing-masing. Kita sering nggak melihat berdarah-darahnya dia sebelum berhasil, pun kadang kita kurang menghargai itu. Sekecil apa pun hasilnya sekarang, jangan pernah menyalahkan diri sendiri, ya. Sudah bilang terima kasih sama diri sendiri karena sudah mau berusaha sampai sejauh ini? Kalau bukan karena keberanian, keinginan yang kuat, disiplin dan, pantang menyerah, pastilah dari dulu kita sudah berhenti menulis. Iya, kan? Namun, lihat kita sekarang, masih mau usaha lagi walaupun perjuangannya nggak semudah sebulan, setahun jadi. Please, jangan nyerah dan hargai kerja kerasmu juga :)
Salam hangat,
Tuesday, October 26, 2021
Cara Menemukan Ide dan Mengembangkannya Menjadi Tulisan
Sering kehabisan ide untuk menulis? Padahal, keinginan menulis sedang menggebu-gebu, tapi saat menghadap layar, tiba-tiba idenya lenyap dan buntu, nggak tahu harus menulis apa. Bagaimana, dong?
Sebagai penulis, kita dituntut untuk lebih peka terhadap permasalahan hidup sehari-hari. Kebanyakan ide tulisan yang baik justru muncul dari hal-hal sederhana yang diolah menjadi tulisan yang unik dan menarik. Nggak perlu jauh-jauh mencari ide, karena di sekitar kita, ada banyak hal bisa ditulis dan dikembangkan menjadi naskah.
Merasa masih kesulitan menemukan ide tulisan? Mungkin kamu bisa melakukan beberapa hal ini,
1. Banyak Membaca
Menulis dan membaca akan selalu berkaitan satu sama lain. Nggak mungkin seorang penulis bisa menuliskan idenya dengan lancar jika dia jarang membaca. Bagi penulis, membaca adalah kunci kemudahan mengalirnya ide-ide dalam tulisan. Jika kamu merasa kesulitan mencari ide dan mengembangkannya menjadi tulisan, bisa jadi kamu kurang membaca.
Membaca akan memperkaya wawasan serta kosa kata. Dengan membaca, kita akan lebih mudah mengekspresikan gagasan.
2. Mencari Ide dari Pengalaman Pribadi
Ada banyak penulis yang berhasil menuangkan pengalaman pribadinya menjadi sebuah buku yang menarik. Kebanyakan orang senang menulis buku berbekal dari pengalaman pribadi karena merasa ia lebih paham dan lebih tahu, sehingga tulisannya bisa dibuat lebih detail.
Kenapa harus jauh-jauh mencari ide kalau dari pengalaman sendiri saja bisa dijadikan tulisan? Coba wawancarai diri sendiri dan temukan ide terbaik yang bisa dijadikan tulisan. Bisa jadi, ide sederhana justru bisa menginspirasi banyak orang. Misalnya saja tentang sulitnya kamu mewujudkan impian, menemukan jodoh, atau membina rumah tangga sakinah bersama pasangan. Coba diulik lagi, kira-kira pengalaman seperti apa yang layak kamu tulis?
3. Bertemu Banyak Orang dan Berdiskusi
Pernahkah kamu membaca buku yang isinya ditulis dari pengalaman saat berjumpa dengan orang lain? Penulis pandai sekali mengambil hikmah dari setiap pertemuan sehingga dia mampu menghasilkan tulisan hanya dari diskusi singkat. Tidak harus selalu dengan orang yang dikenal, kadang juga dengan orang yang baru dijumpainya. Tulisannya menjadi ringan, tapi sarat dengan hikmah.
4. Nonton Film
Kalau sudah penat, jangan dipaksakan terus menulis. Cobalah mencari hiburan sekaligus mencari ide. Salah satunya dengan nonton film. Ada banyak jenis film yang layak kita tonton sekaligus mencari inspirasi. Namun, jangan asal nonton film dan menghabiskan waktu, ya. Kebanyakan orang yang senang nonton film seringkali sampai lupa waktu, lupa dengan impian dan juga targetnya. Penulis yang baik tentu saja akan memanfaatkan waktunya dengan maksimal supaya impiannya tidak sekadar menjadi impian, tapi juga dapat diwujudkan.
5. Cari Tahu Hal-Hal yang Paling Disukai
Menulis tema-tema yang sedang kita minati tentu saja sangat membantu supaya kita tidak mudah kehabisan ide. Kalau kita sudah suka, pastinya kita tidak akan malas membaca dan mencari referensi. Misalnya ketika kita sedang senang-senangnya memulai gaya hidup sehat, tidak ada salahnya menulis tema serupa karena dari sini, sebenarnya kita sudah punya banya referensi dan juga pengetahuan.
6. Rajin Berlatih
Jika tidak mau kehabisan ide, cobalah lebih rajin berlatih menulis. Menulislah setiap hari saat kamu punya waktu dan usahakan luangkan waktu, bukan menunggu waktu luang. Jika kita terbiasa menulis, ide sederhana saja bisa kita kembangkan menjadi tulisan panjang yang menarik dan layak dibaca semua orang. Berbeda dengan orang-orang yang ngakunya pengin jadi penulis, tapi jarang berlatih dan praktik. Bisa ditebak, tulisannya tidak pernah selesai.
Setelah menemukan ide, bagaimana cara mengembangkannya?
1. Carilah referensi yang cukup. Karena tanpa referensi, kita akan kesulitan menuliskan ide-ide tersebut menjadi sebuah naskah. Paling mentok di halaman pertama dan kedua, sisanya entah mau diisi apa.
2. Buatlah rancangan naskah. Kembangkan dari ide yang sudah kita dapatkan. Jangan malas membuat outline dengan detail karena nantinya kita akan dimudahkan ketika mulai menulis, terutama ketika menulis buku. Tuliskan daftar isi dan judul dari buku yang akan kita tulis. Jika semua sudah dikerjakan, seterusnya kita tidak akan kebingungan mau menulis apa atau malah lupa dengan ide yang akan ditulis.
3. Tuangkan apa yang ada di pikiran kita. Tulislah seolah kamu sedang bercerita kepada orang lain dan ajak pembaca mengikuti alur ceritamu. Jangan terlalu banyak memikirkan benar atau salah, jangan dulu memusingkan typo dan lainnya, selesaikan dulu, editing kemudian.
4. Sampaikan kepada pembaca dengan bahasa sederhana. Jangan berbelit-belit supaya terkesan keren, tapi akhirnya menyulitkan pembaca untuk memahami. Jika bisa dipermudah, jangan mempersulit. Apalagi demi mengejar target jumlah halaman supaya terlihat tebal. Tebal saja tidak cukup jika isinya sulit dipahami dan hanya sengaja dipanjang-panjangkan. Usahakan memakai kalimat efektif saja saat menulis.
5. Mulailah menulis dengan konsisten setiap hari dan tentukan target kapan naskah akan selesai. Tanpa target waktu, kita akan bermalas-malasan mengerjakan naskah. Lantas kapan impianmu terwujud?
Kemampuan menulis setiap orang akan berbeda-beda. Ada yang mampu menulis sepuluh halaman per hari, ada yang satu sampai dua halaman saja. Berapa pun jumlahnya, asalkan konsisten, kita pasti bisa menyelesaikannya.
Jika target naskahmu 120 halaman, kamu bisa mengerjakan dua halaman saja per hari. Dua bulan kemudian, naskahmu mestinya sudah beres. Jika sehari kamu tidak mengerjakannya, artinya kamu berutang di hari berikutnya. Utang dua halaman kemarin mesti kamu bayar jika ingin naskah selesai tepat waktu. Kira-kira, seperti itulah yang saya terapkan selama ini.
Itulah beberapa poin yang bisa kita lakukan saat hendak mencari ide dan mengembangkannya menjadi tulisan, juga belajar menyelesaikan tulisan kita supaya menjadi buku. Semoga bermanfaat dan selamat menulis!
Salam hangat,
Thursday, October 21, 2021
Seberapa Pentingkah Mengikuti Kelas Menulis Online?
Akhir-akhir ini saya lumayan sering ikut kelas menulis lagi. Alasannya, pengin nyoba-nyoba lagi menulis cerita anak yang sudah lama saya tinggalkan. Biasanya, saya lebih aktif menulis buku-buku motivasi remaja. Namun, sejak saya menjadi ilustrator, keinginan untuk menulis sekaligus membuat ilustrasi sendiri tumbuh lagi. Sudah seperti rumput yang disirami hujan, jadi lebat dan begitulah…Intinya masih pengin banget mewujudkan keinginan saya yang satu ini.
Kelas-kelas online yang saya ikuti harganya beragam. Mulai dari angka puluhan ribu hingga jutaan rupiah. Memang, mesti menyisihkan uang khusus untuk ikutan kelas. Namun, ilmu yang akan kita dapatkan saya rasa nggak bisa diukur dari harga yang sudah kita bayar. Lebih besar dari itu apalagi kita benar-benar memanfaatkannya dengan baik.
Kelas menulis online itu waktunya lebih fleksibel. Bulan ini, saya sedang ikut kelas menulis bersama Pak Joko dari Elex Kidz. Kelas menulis buku antologi bertema motivasi yang nantinya akan diterbitkan di sana juga. Menulis cerpen anak sudah lama tidak saya lakukan. Ibaratnya, kalau jarang nulis tema-tema serupa, seperti balik lagi dari nol. Itulah pentingnya tetap istikamah menulis. Dan saya sering gagal di sini…kwkwk.
Lumayan berat memulainya lagi. Bahkan mesti revisi karena tema yang saya ambil terlalu menyedihkan…kwkwk. Tapi, nggak masalah, belajar menulis katanya memang seumur hidup. Sudah kayak pernikahan saja, ya? Hihi. Mesti dikerjakan sesering mungkin walaupun nggak harus setiap hari. Seperti kata Bu Arleen A, beliau nggak setiap hari menulis buku. Namun, bukan berarti beliau meninggalkan dunia menulis.
Apa saja manfaat mengikuti kelas menulis online? Apakah sepadan dengan biaya yang dikeluarkan?
Memotivasi Diri
Ikut kelas menulis online pasti bisa memotivasi diri kita supaya tetap bersemangat melanjutkan naskah. Apalagi jika ada target mesti menyelesaikan sekian cerita. Tanpa itu, orang-orang yang masih belum istikamah menulis akan kesulitan sekali menemukan semangatnya.
Contohnya saya, karena kelamaan membuat ilustrasi, waktu menulis saya jadi berkurang. Inilah salah satu alasan kenapa saya masih ikutan kelas menulis. Walaupun sudah punya buku solo, saya tetap bukanlah penulis sempurna yang bisa nulis sambil merem…kwkwk. Saya merasa masih harus lebih banyak lagi belajarnya. Dan itu bisa saya mulai kembali dengan ikut kelas menulis.
Belajar Itu Tidak Ada Habisnya
Jangan mudah berpuas diri atas semua pencapaian yang sudah diraih. Karena bagi yang mau belajar, makin banyak belajar, makin terasa bahwa masih banyak hal yang belum kita ketahui.
Sebenarnya, saya malu kalau mau daftar kelas menulis karena adminnya selalu menertawakan saya sambil bercanda. Ngapain ikutan kelas? Nggak salah? Kan, sudah punya buku?
Jangan terlalu tinggi menilai saya. Saya juga sama seperti yang lain, masih butuh belajar lagi dan lagi. Meskipun buku saya sudah lumayan banyak, saya masih tetap senang ikut kelas-kelas menulis apalagi untuk genre yang masih belum sepenuhnya saya kuasai. Dan saya bersyukur karena masih mau belajar sampai usia setua ini…kwkwk. masyaallah.
Kembali Menulis
Saya merasa, kesibukan saya membuat ilustrasi benar-benar menyita waktu saya untuk menulis naskah. Saya yang dulunya hanya mengerjakan naskah buku, kini harus terpecah fokusnya dengan membuat ilustrasi. Adanya kelas menulis membuat saya kembali ke jalan yang benar…kwkwk.
Sampai sekarang, saya masih berpikir bahwa mengikuti kelas menulis nggak akan merugikan. Meskipun keluar biaya yang lumayan banyak, tapi ilmunya akan tetap kita pakai selamanya. Awet. Nggak seperti ketika kita jajan bakso yang setelah selesai dikunyah akan lenyap…kwkwk.
Menulis dan membuat ilustrasi memang akan terus saya kerjakan. Butuh waktu yang lumayan panjang untuk membuat gambar, tapi juga butuh fokus ketika menulis naskah. Semoga dua hal ini bisa terus saya kerjakan. Memilih salah satunya mungkin akan meringankan, tapi keinginan saya bukan itu. Penginnya ya bisa ngerjain dua-duanya dan itulah yang saya harapkan sampai sekarang.
Yuk, ah lebih semangat lagi ngerjain naskah dan ngerjain ilustrasinya. Usaha yang sungguh-sungguh tentu tidak akan mengkhianati hasil. Apa yang kita perjuangkan, tentunya akan berbuah manis di kemudian hari. Terus berpikir positif dan tetap fokus dengan impian serta target.
Salam hangat,
Tuesday, October 19, 2021
Kesalahan Ilustrator Pemula Saat Menghadapi Klien
Pengalaman menjadi ilustrator masih seumur jagung, sudah bisa ditebak, lebih banyak salahnya saat menghadapi klien dibanding benarnya…haha. Kesalahan yang merugikan diri kita sendiri tak jarang memang disebabkan oleh kita yang minim pengalaman. Akhirnya jadi lebih banyak waktu dihabiskan untuk menyelesaikan pekerjaan yang sama.
Sebagai ilustrator, kita akan bertemu dengan klien yang punya bermacam-macam karakter. Ada yang sabar, neriman, dan tak jarang kita juga dapat klien yang rewel. Permintaan mereka yang bermacam-macam bagi saya sangat manusiawi sekali karena mereka memang membayar kita. Kita bekerja bukan tanpa dibayar. Jadi, wajar banget kalau klien suka banyak maunya.
Namun, kita juga mesti ngasih batasan kepada mereka. Nggak mungkin juga dengan harga yang sama kita harus mengerjakan banyak sekali revisi. Kebanyakan ilustrator yang sudah berpengalaman akan ngasih batasan revisi maksimal berapa kali untuk harga tertentu. Jika ada revisi yang nggak sesuai perjanjian alias sudah terlalu banyak, ilustrator bisa meminta tambahan biaya dan itu nggak masalah. Penting keduanya sama-sama profesional dan saling menghargai saja. Karena kita sama-sama saling membutuhkan.
Saya pernah mengalami hal-hal yang kurang menyenangkan ketika menjadi ilustrator. Paling nggak enak itu kalau ada klien yang kabur tanpa kabar setelah kita mengerjakan gambar…kwkwk. Benar-benar menguji kesabaran. Ada juga klien yang minta revisi secara total alias idenya berubah yang awalnya maunya begini, tiba-tiba jadi begitu. Kebanyakan memang orang luar negeri.
Kalau sudah kelewat batas, saya menolak untuk merevisi secara keseluruhan apalagi jika gambar sebelumnya sebenarnya sudah sesuai, tapi dianya mau ganti model lain…hiks. Sejujurnya ini kesel banget, tapi sebisa mungkin kita juga nggak marah-marah, ya.
Nah, dari pengalaman selama setahun terakhir ini, saya akan mencoba mengulas kesalahan-kesalahan yang pernah saya alami saat mengerjakan ilustrasi. Semoga bisa membuat kita jadi lebih siap menghadapi klien tanpa marah-marah, ya :)
Beri Batas Revisi
Teman sesama ilustrator pernah cerita juga soal ini. Kita pasti sama-sama pernah mengerjakan revisi yang nggak manusiawi. Kesalahannya adalah karena kita nggak ngasih batas revisi yang jelas sejak awal. Mestinya kita bilang, harga sekian, revisi maksimal sekian. Jangan sampai kita lupa bilang batas revisi karena nanti kitalah yang akan kelelahan sendiri.
Dulu, saya pun nggak pernah kepikiran soal ini. Memang, tidak semua klien itu rewel. Kebanyakan baik dan sangat pengertian. Namun, satu atau beberapa kali kita pasti akan bertemu dengan orang yang berbeda. Ngasih batas revisi akan sangat membantu kita ketika berhadapan dengan klien yang suka rewel begini.
Minta Informasi yang Lebih Detail
Misalnya soal ukuran, berwarna atau tidak, style, dan juga yang lainnya. Jangan sungkan bertanya lebih banyak pada klien karena ini akan sangat membantu kita ketika mengerjakan ilustrasi. Supaya nggak ada ceritanya salah ukuran, salah gambar, atau salah style. Kalau semua sudah jelas dari awal, revisi pun bisa diminimalkan.
Kita juga mesti mengerti siapa klien yang sedang dihadapi. Nggak semua orang paham soal dunia ilustrasi. Jika kita bertemu dengan klien yang awam, baru banget pesan gambar atau baru pertama kali, nggak ada salahnya kita ngasih informasi lebih detail kepada mereka.
Intinya, jangan pelit-pelit ngobrolnya. Bangun hubungan yang baik dan nyaman. Klien yang merasa puas dengan pekerjaan kita tentu akan kembali kepada kita lagi.
Buat Sketsa Kasar dan Mintalah Persetujuan
Sebelum memutuskan coloring , kita mesti menerima persetujuan dari klien. Jangan karena terburu-buru, kita main coloring saja. Kalau klien nggak setuju, kita bakalan capek revisinya :D
Sebaiknya, kerjakan sketsa dulu, tunjukkan pada klien, jika sudah setuju dan tidak ada perubahan, kita bisa lanjut coloring. Bukan salah klien jika akhirnya dia minta revisi hanya karena sejak awal kita kurang komunikasi. Rugi di kita, kan? Akhirnya kita jadi lebih capek lagi ngerjainnya
Takut Menentukan Harga
Kebanyakan ilustrator pemula takut banget menentukan harga karena merasa gambarnya nggak pantas dihargai…kwkwk. Untuk kasus seperti ini, kita bisa melihat harga pada umumnya dan lihat juga kualitas ilustrasi yang kita buat. Kalau merasa gambar kita makin baik, nggak ada salahnya menaikkan harga.
Buat pemula, dapat klien ibaratnya bisa belajar sambil dibayar. Penting kita nggak ketinggian ngasih harga karena kita memang masih pemula. Tapi, bukan berarti selalu gratisan juga :(
Hmm, kira-kira kesalahan apalagi yang paling sering kita lakukan sebagai pemula? Minim pengalaman nggak masalah, yang penting kita tetap mau belajar. Seiring berjalannya waktu, kita akan paham dengan sendirinya. Jangan malu-malu saat diskusi dengan klien dan juga jangan minder dengan ilustrasi yang kita buat. Tetap semangat, ya :)
Salam hangat,
Hey there!
Part of
