Saturday, October 13, 2018
Minder Kirim Naskah ke Penerbit Mayor? Cobain 5 Penerbit Indie Super Kece Ini dan Ketahui Perbedaannya!
![]() |
| Photo on Unsplash |
Setelah merampungkan naskah pertama, ada baiknya kamu segera mengirimkannya kepada penerbit. Kadang kamu dilema, mending kirim ke penerbit mayor atau penerbit indie? Nah, kira-kira apakah kamu sudah tahu perbedaan di antara keduanya?
Penerbit indie adalah sebuah alternatif menerbitkan buku dari penulis sendiri. Artinya, kamu sendiri yang memutuskan akan menerbitkan buku itu. Jumlah cetakan buku juga biasanya disesuaikan dengan jumlah pesanan (POD), beban biaya biasanya ditanggung oleh penulis meskipun saat ini juga ada yang bersedia menerbitkan secara cuma-cuma lewat jalur seleksi, dan lagi, buku-buku yang diterbitkan indie biasanya penjualannya hanya melalui media online, tidak dijual di toko-toko buku favoritmu.
Sedangkan penerbit mayor biasanya mencetak buku-buku yang telah diseleksi secara masal dan menjualnya di toko-toko buku seperti yang sering kamu lihat saat berkunjung ke toko buku kesayangan.
Tentu saja penerbit mayor juga punya banyak perbedaan dengan penerbit indie. Di antaranya adalah memberikan royalti kepada penulis, editor akan jadi partner kamu hingga bukumu lahir, penerbit mayor biasanya menanggung semua biaya cetak dan distribusi ke toko buku, buku-buku yang diterbitkan oleh penerbit mayor biasanya dicetak masal minimal 1000 buku, tidak hanya bisa dibeli online, buku-buku yang terbit mayor juga bisa kamu beli langsung di toko buku kesayangan.
Lalu, mana sih, yang paling cocok buat penulis terutama yang pemula? Menurut saya, keduanya sama-sama oke, tergantung kamu memilihnya. Toh, keduanya memang punya keunggulan masing-masing. Tapi, ada baiknya kamu mengirimkan naskah itu pada penerbit mayor terlebih dahulu, tunggu 3-4 bulan sampai ada kabar atau tarik naskahmu setelah melewati waktu yang ditentukan, perbaiki apa yang menurutmu masih kurang, kemudian kirimkan lagi ke penerbit lain.
Tapi, jika kamu memang ingin menerbitkan buku ke penerbit Indie, beberapa penerbit ini bisa jadi pilihan yang sangat menarik, lho.
Bitread
Pernah dengar nama ‘Bitread’? Yap! Bitread adalah salah satu penerbit indie yang cukup populer terutama di kalangan penulis pemula seperti saya. Menerbitkan buku di sini sungguh menarik. Bukan hanya bisa menerbitkan buku secara cuma-cuma, mereka juga bakal bikinin cover gratis yang super kece. Kalau penulis merasa kurang klik dengan cover mereka, kamu bisa kok mengajukan lagi dan meminta mereka mengubahnya.
Ada beberapa buku yang saya tulis sendiri ataupun antologi yang terbit di Bitread. Kamu cukup mengirimkan naskahmu sesuai ketentuan. Bitread menyediakan template sendiri yang bisa kamu gunakan, kemudian kamu bisa mengirimkannya dan tunggu antrean buat segera diproses.
Kamu nggak perlu membayar sepeser pun untuk menerbitkan buku kecuali kamu memesan ISBN. Harga mengurus ISBN di Bitread sebesar Rp 200 ribu. Setelah semua dirapikan oleh mereka, kamu bakalan dapat konfirmasi sebelum bukumu terbit. Jadi, kamu bisa cek dulu seperti apa bukumu nanti. Jika masih ada kesalahan dalam penulisan ataupun letak, kamu masih bisa memperbaikinya.
Nanti bukumu akan dicetak sesuai pesanan dan spesialnya, mereka nggak membuat batasan untuk itu, lho. Kamu bisa pesan berapa pun. Sebelumnya kamu bisa adakan PO dan mereka bakalan bikin gambar yang kece untuk media promo kamu. Buku yang sudah kamu pesan biasanya akan ready setelah 7-9 harian.
Kamu bisa cek dan mencoba mengirimkan naskahmu ke sini.
Choco Books
Jika kamu punya naskah nonfiksi, kamu bisa banget mengirimkan naskah itu kepada salah satu penerbit indie yang mengkhususkan dirinya pada kategori nonfiksi. Yap! Namanya Choco Books.
Choco Books merupakan salah satu penerbit indie yang menerima naskah nonfiksi lewat jalur seleksi. Jadi, naskah kamu harus lolos seleksi dulu sebelum diterbitkan. Di sini, buku kamu bakal diterbitkan secara cuma-cuma. Per 2019, jika naskah kamu mencapai batas minimum pemesanan, nantinya mereka akan menerbitkan secara masal dan memasukkannya ke toko-toko buku kesayangan. Wah, pasti kece banget, ya?
Satu naskah nonfiksi saya juga lolos seleksi ke Choco Books dan sedang proses editing. Kamu juga pengen? Cek syaratnya.
1. Siapkan naskah yang sudah diketik rapi, pastikan itu bukan plagiat dan ketik di Microsoft Word ukuran A4, spasi 1,5, TNR 12, dan rata kiri dan kanan.
2. Naskah kamu memiliki tebal 70-100 halaman.
3. Jangan lupa lampirkan proposal naskah, sinopsis, biodata penulis, dan jadikan dalam satu file.
4. Cantumkan akun sosial media kamu seperti Instagram, Facebook, dan blog.
5. Kirimkan naskahmu ke redaksichocobooks@gmail.com. Jangan lupa isi subjek dengan Judul Naskah_Nama Penulis_Jenis Naskah.
Kamu bisa cek langsung langsung ke webnya ya.
AT Press
Apakah kamu punya naskah fiksi dan merasa pengen diterbitkan pada penerbit indie? Bisa jadi AT Press jawabannya, lho. Telah memiliki beberapa cabang di Nusantara, AT Press punya beberapa paket penerbitan berbeda.
Kamu bisa menerbitkan dengan membayar langsung, bisa juga gratis tapi dengan syarat naskah kamu menarik, diketik rapi, dan pastinya bikin editor tertarik meminang naskahmu. Tapi, jika naskahmu tidak lolos seleksi, kamu bisa memilih beberapa paket penerbitan yang mereka miliki. Harga yang mereka tawarkan pun cukup terjangkau, lho.
Wonderland Creative
Bukan hanya membuka kelas-kelas menulis berkualitas, Wonderland Creative yang didirikan oleh Wulan Mulya Pratiwi, seorang penulis berbakat dalam segala bidang ini juga membuka penerbitan indie, lho. Bagi kamu yang sering ikut kelasnya Wonderland, pasti nggak asing lagi dengan buku-buku terbitan mereka yang murah tapi nggak murahan.
Saya pribadi punya beberapa buku antologi yang diterbitkan di Wonderland Creative. Jika kamu punya naskah anak, Wonderland Creative juga bisa menerbitkannya untukmu. Jangan khawatir, mereka juga punya kerjasama dengan para illustrator, lho. Jadi, bukumu bakalan kece banget di sini.
Untuk kelas-kelas khusus yang diadakan oleh Wonderland, biasanya mereka akan mengadakan proyek antologi yang nantinya bakal diterbitkan oleh Wonderland Creative sendiri, dan itu cuma-cuma saja. Biasanya kita cukup membeli 2-3 buku kita sendiri.
Nah, kalau kamu pengen menerbitkan naskah kamu, cobalah hubungi Mbak Wulan dan diskusikan naskahmu, siapa tahu kamu berjodoh. Untuk harga menerbitkan buku, kamu bisa menanyakan langsung di akun Facebook beliau, ya.
Loka Media
Menjadi bagian tak terpisahkan dari Choco Books, Loka Media yang bekerjasama dengan beberapa toko buku ini menerima naskah fiksi lewat jalur seleksi. Jadi, Loka Media adalah penerbit indie khusus naskah-naskah fiksi tak berbeda dengan Choco Books yang mengkhususkan diri untuk naskah-naskah nonfiksi. Bedanya hanya pada penerimaan jenis naskahnya saja.
Kamu bisa cek langsung ke website mereka untuk mengetahui seperti apa Loka Media. Buku-buku yang mereka terbitkan punya cover-cover super kece, lho. Cobain, siapa tahu naskahmu berjodoh dengan penerbit ini.
Itulah beberapa perbedaan antara penerbit Indie dan penerbit mayor serta beberapa penerbit indie yang bisa saya rekomendasikan. Kira-kira mana yang sesuai dengan diri kamu? Semua penerbit ini pasti punya keunggulannya masing-masing. Dan yang terpenting adalah kamu harus punya naskah lengkap dulu dong sebelum kepo dengan kelimanya. Yuk, tulis bukumu. Minimal satu buku sebelum mati, kamu pasti bisa mewujudkan itu, insya Allah!
Thursday, October 11, 2018
7 Trik Menulis Buku Solo, Babat Kemalasan dan Gapai Impianmu!
Siapa sih yang tidak mau punya buku solo? Bahkan satu buku saja seumur hidup itu sudah lebih dari cukup. Saya pun, saat baru mulai meniti karier di dunia literasi, rasanya punya buku solo itu serba mustahil dan sulit. Impian punya buku solo rasanya hanya milik mereka yang sudah cemerlang dan tenar. Sedangkan saya? Bahkan menulis cerpen saja masih belepotan.
Tapi, ternyata anggapan seperti itu tidaklah benar. Meskipun buat memulainya tidaklah mudah, tetapi siapa pun yang berniat dan berusaha pastinya bisa banget punya buku solo. Terutama saat ini banyak banget penerbit mayor dan indie yang ramah buat para penulis pemula.
Waktu masih di pesantren, dengan hanya menulis di buku, saya berhasil menyelesaikan beberapa novela dan kumpulan cerpen. Cerita ini sering saya ulang karena saya mau menunjukkan, ini, lho saya yang dulu, yang nggak punya fasilitas cukup, tetap bisa menyelesaikan beberapa buku hanya bermodalkan buku tulis dan pena. Dan sekarang? Teman-teman bahkan punya lebih dari apa yang saya punya. Terutama sekarang akses internet bisa sangat membantu, kelas-kelas menulis online bisa diikuti dengan mudah baik yang berbayar mapun yang free, dan lagi, banyak komunitas menulis yang bisa menjaga nyala dalam hati kita, supaya impian itu tetap hangat dan segera menemui jalannya.
Rasanya malu kalau sekarang saya malas-malasan, betapa impian bertahun-tahun lalu begitu sulit saya capai, tetapi tak sedikit pun saya ingin menyerah. Sekarang saya sudah punya laptop buat menulis, akses internet begitu mudah dan membantu, tapi kadang saya masih malas buat memulai, rasanya malu banget pada ‘saya’ sepuluh tahun silam. Menulis tema ini serasa menampar diri sendiri. Duh, malu banget.
Belakangan banyak sekali penulis yang ingin mewujudkan impian menulis buku solo. Senang mendengar dan ikut mendoakan semoga mimpi itu segera terwujud dengan izin Allah. Dan kira-kira apa saja yang perlu kita lakukan supaya bisa merampungkan sebuah buku?
Tentukan Ide dan Carilah Referensi Sebanyak-banyaknya
Saat akan menggarap sebuah novel, Tere Liye mengatakan dia butuh waktu lebih banyak untuk mengumpulkan referensi ketimbang saat menulis naskahnya. Dan itu memang benar sekali. Jika ide sudah ditentukan, dan referensi sudah kamu dapat sebanyak-banyaknya, kamu akan lebih mudah menuangkannya dalam bentuk tulisan.
Referensi bisa kamu dapatkan dari mana saja, buku, obrolan dengan teman lama, dari internet, film, dan banyak sekali sumber lain yang bisa kamu ulik. Jadi, jangan malas mencari sumber atau referensi, ya. Cari sebanyak yang kamu bisa, jangan malas dan cobalah kumpulkan apa pun yang kamu temukan untuk bahan tulisanmu nanti.
Buatlah Outline dari Naskah yang Akan Kamu Kerjakan
Outline itu apa? Rancangan. Jika kamu mau membuat sebuah buku, cobalah tentukan ide dan tema apa yang akan ditulis. Setelah ide itu matang dan telah mencari referensi cukup, maka saatnya kamu membuat outline supaya naskahmu bisa dikerjakan dengan lebih mudah dan nggak berantakan.
Outline itu penting dan akan sangat membantu, lho. Jadi, sebaiknya buat saja oulitne ini. Bikinnya gimana? Buatkan mulai dari bab pertama, kemudian berikan sub judul pada masing-masing bab. Begitu seterusnya sampai bab terakhir. Itu jika bukumu termasuk nonfiksi. Jika fiksi? Buatlah bab per bab juga dengan jalan cerita sesuai keinginan kamu. Jika kumpulan cerita anak? Sebaiknya kumpulkan cerita per tema, misalnya khusus dongeng fabel atau yang lainnya.
Buat Jadwal dan Terget Harian
Setelah outline kamu selesai, saatnya kamu mengerjakan naskah kamu. Buatlah jadwal harian, berapa bab bisa kamu kerjakan dalam sehari? Jika kamu sanggup menyelesaikan satu bab per hari, berarti dalam sebulan kamu bisa menyelesaikan 30 bab. Wah, keren banget, ‘kan?
Jadi, sebaiknya kamu perhitungkan jangan terlalu memaksa, karena aktivitas lainnya pun harus tetap berjalan. Hidupmu bukan hanya sekadar tentang buku solo saja. Ada cucian menumpuk, ada setrikaan menjulang, duh jadi ingat kerjaan saya belum beres…hihi.
Satu bab dalam sehari itu sudah lebih daripada cukup. Yang masalah jika kamu sama sekali nggak mau memulai, tetapi pengen punya buku. Itu masalah banget. Jika sudah ketahuan dalam sehari berapa bab yang bisa kamu selesaikan, berarti kamu juga akan tahu, kapan buku solomu bakalan rampung. Bisa sebulan, dua bulan, atau lebih.
Berikan Hukuman Jika Kamu Melanggar
Jika dalam sehari kamu harus menyelesaikan satu bab, kemudian kamu tidak menepati, baik karena malas ataupun karena alasan lain yang tidak bisa ditinggalkan, maka hari berikutnya kamu harus membayar itu. Itu hukuman buat kamu karena kamu telah melanggar targetmu sendiri.
Memangnya harus, ya? Harus dong kalau kamu mau bukumu beres dan beneran jadi. Itu selalu saya lakukan setiap membuat buku. Ketika membuat buku tanpa bimbingan orang lain, maka kita sendirilah yang harus pandai-pandai menjaga komitmen itu. Kalau ada yang mengingatkan mungkin bakalan lebih mudah, tapi kalau hanya kita saja yang tahu? Satu-satunya jalan ya kita sendirilah yang harus belajar menepati dan menghukum diri sendiri jika melanggar.
Konsisten Itu Tidak Mudah, Tetapi Bukan Tidak Mungkin
Jangankan untuk membuat buku solo, untuk belajar menulis saja kita harus konsisten sejak awal. Harus menulis setiap hari itu keharusan banget buat penulis, menurut saya. Kalau lama nggak nulis, keahlian itu bakalan memudar, bikin malas, jadi bosan, susah semangat, dan banyak hal negatif yang bakal menghinggapi.
Karena itulah, konsisten itu amat sangat diperlukan. Kalau kamu konsisten mengerjakan satu bab setiap hari dan membayarnya ketika terpaksa tidak mengerjakan, maka bukumu bakalan lahir dalam waktu yang tepat seperti yang sudah kamu tentukan. Kalau kamu nggak konsisten, bisa jadi waktu setahun pun nggak akan pernah cukup buat kamu menyelesaikan buku itu. Jadi, konsisten dan komitmen itu wajib banget hukumnya.
Jangan Malas Mengedit Naskahmu Sendiri
Setelah naskah kamu selesai, cobalah tinggalkan sebentar. Lupakan dulu naskah itu, seminggu kemudian kamu bisa mengedit dan membacanya kembali. Setelah mengendapkan naskah, kamu bisa menemukan kesalahanmu dengan lebih mudah.
Meski terkesan remeh, tetapi hal ini cukup penting. Jadi, jangan terburu-buru, endapkan dulu naskahmu sebelum mengeditnya. Setelah itu, kamu edit sebisamu dan semampumu. Kenapa harus diedit, bukannya penerbit juga punya editor yang nantinya akan mengedit naskah kita?
Ada beberapa orang beranggapan seperti itu. Tapi, berbeda dengan saya. Editor itu kerjaannya nggak sedikit. Dan tahukah kamu berapa jumlah naskah yang masuk ke penerbit? Pasti banyak banget. Kalau kamu mengirimkan tulisanmu yang acak-acakan itu pada penerbit, kira-kira sanggup nggak sih bersaing dengan naskah lain yang lebih rapi? Kalau saya pribadi akan menjawab tidak.
Sejak membangun Estrilook dan mulai me-review artikel teman-teman, saya jadi lebih peka dan mengerti, betapa beratnya tugas seorang editor. Pantas saja editor Estrilook sering ngeluh kalau kebagian naskah dari penerbit yang cukup berantakan, karena bikin pusing banget. So, ada baiknya kamu memperbaiki tulisanmu sebaik mungkin sebelum memutuskan mengirimkannya pada penerbit baik indie ataupun mayor.
Biarkan Naskahmu Mencari Jodohnya
Jodoh itu adalah sebuah misteri. Sudah ditentukan, tetapi susah banget ditebak oleh manusia. Begitu juga dengan jodoh naskah kita. Saya, punya naskah yang berhasil saya rampungkan tahun 2014. Naskah itu sudah masuk antrian cetak dan sudah ber-ISBN. Sebulan, dua bulan, naskah itu tak kunjung ada kabar. Setahun kemudian, tetap saja tak ada kemajuan. Dan akhirnya saya mencoba mengikhlaskan.
Tahun 2017, saya kembali menanyakannya pada salah satu penulis senior yang bertanggung jawab menerima naskah itu. Kamu tahu apa katanya? Naskah itu gagal terbit dan dia tak pernah berusaha mengabari saya. Sakit? Luka? Mungkin jika rasanya seperti sakit fisik, ngilu dan perihnya seperti luka yang dikucuri air jeruk nipis dan ditaburi garam. Naskah pertama saya, impian terbesar saya gagal terbit setelah bertahun-tahun menunggu.
Kemudian saya biarkan. Saya kembali menulis naskah baru. Satu buku solo berhasil lahir dan terbit indie. Kemudian menyusul buku solo berikutnya yang dipinang oleh penerbit mayor. Kemudian terpikir untuk mengirimkan naskah lama yang gagal terbit ke penerbit lain. Dan tahukah kamu? Dua bulan setelah mengirimkan naskah, ternyata naskah itu di-acc dan sedang dalam proses editing saat ini. Saat menerima kabar itu, saya menangis dan rasanya hampir tak percaya. Dua hari yang lalu menyusul kabar bahagia lagi, naskah nonfiksi saya kembali lolos seleksi dan akan diterbitkan. Padahal awalnya akan saya terbitkan sendiri karena merasa naskah itu tak pantas terbit di penerbit lain, nggak pede aja. Tapi, editor Estrilook lebih maksa, dia suruh kirim ke penerbit lain. Dan Alhamdulillah, karena Allah buku itu lolos seleksi.
Dan seperti itulah perjalanan mencari jodoh dari naskah kita. Jika kamu sudah berhasil merampungkan, kamu kirim ke penerbit yang sesuai dengan naskah kamu, kemudian jangan pernah berpikir untuk menunggunya apalagi menanyakannya ke penerbit. Biarkan saja dia mencari jodohnya sendiri. Jika dalam 3-4 bulan belum ada kabar, kamu bisa kirmkan surat penarikan dan kirimkan kembali naskahmu pada penerbit lain. Selama menunggu, kamu harus menulis lagi di sela kesibukanmu yang lain. Dan jangan lupa, banyakin doanya, banyakin sedekahnya sambil menunggu bukumu di-acc.
Berat nggak sih ceritanya? Apakah cukup memotivasi atau justru bikin kamu jadi takut? Hihi. Jangan pernah takut bermimpi, bermimpi itu gratis, tapi buat mewujudkannya memang kamu harus membayarnya dengan proses yang kadang tidak selalu mudah, tetapi itu tak pernah mustahil.
Semoga cerita ini bisa membuat kamu lebih semangat dan percaya diri, setelah ini buku solomu akan rampung dan berbaris rapi di rak toko buku kesayangan kamu. Senang banget kalau bisa melihat buku sendiri dipajang di sana.
Jika kamu telah berhasil menyelesaikan naskahmu, kasih hadiah dong buat diri kamu sendiri. Kalau saya? Saya membeli dua buku Tere Liye, ‘Pergi’ dan ‘Pulang’. Itu hadiah karena saya berhasil menyelesaikan sebuah buku beberapa bulan lalu. Dan sekarang, insya Allah akan memulai outline baru. Kamu bisa memberikan hadiah berupa apa pun pada dirimu sendiri.
Yuk, ah semangat. Ngapain sih malu-malu bermimpi, toh kita tidak sedang mencuri hak orang lain, kita sedang membangun rumah kita sendiri, impian yang bakal bikin senyummu semanis gula batu…hihi. Selamat berjuang!
Monday, October 1, 2018
9 Penderitaan yang Akan Kamu Rasakan Ketika Memutuskan Jadi Penulis, Masih Sanggup Bertahan?
Kemarin sempat membaca postingan Bu Arleen A, seorang penulis buku anak super kece yang pernah saya tahu, tergelitik setelah membaca satu per satu bagian yang membuat saya harus mengatakan bahwa semua itu memang betul sekali adanya.
Menjadi penulis itu memang nggak main-main, tidak hanya sekadar menulis cerita saja, lho. Ada banyak hal yang perlu teman-teman tahu, mengenai penderitaan di balik semua kesuksesan dan ketenaran seorang penulis. Rupanya ada duka, ada luka, dan bahkan sakit hati yang kadang sulit dilupakan.
Setelah melalui banyak hal sulit, saya harus percaya bahwa tidak ada orang yang benar-benar mudah untuk kita percaya. Ya, memercayai orang itu, yang hanya sekadar kita temui di media sosial, ternyata sangat tidak mudah. Nggak gampang bilang si A baik, saya pikir butuh waktu lama untuk membuktikan itu semua. Tapi, bukan hak kita juga mengatakan seseorang itu buruk. So, yang paling penting adalah bagaimana kita bersikap kepada orang lain, bagaimana kita berbuat, bagaimana kita memperlakukan orang lain, dan selebihnya kamu pasti tahu bahwa Allah itu nggak tidur, melihat siapa yang sebenarnya melukai dan dilukai.
Ada orang yang mungkin pernah mengalami ini, ada juga yang merasa karier kepenulisannya lancar dan mulus aja, tetapi nggak sedikit juga yang merasakan pahitnya.
Ada orang yang mungkin pernah mengalami ini, ada juga yang merasa karier kepenulisannya lancar dan mulus aja, tetapi nggak sedikit juga yang merasakan pahitnya.
Selalu Dianggap Paling Tahu Padahal Belum Tentu
Kebayang nggak sih, kita yang sebenarnya kadang punya pengetahuan pas-pasan kemudian dianggap paling tahu banyak hal? Apalagi saya selama ini lebih banyak otodidak ketika mempelajari sesuatu, kadang suka bingung kalau ditanya soal teori. Jadi penulis memang sering dianggap paling tahu segalanya, ya. Memang menyenangkan bisa dianggap seperti itu, jadi tempat bertanya, inbox dan wapri masuk banyak banget, tetapi intinya cuma satu, mereka menganggap kita paling tahu banyak hal. Saya pribadi nggak akan malu kalau memang nggak tahu jawabannya, bisa nanya ke google dulu sebelum menyerah, atau langsung bilang aja, “Coba kamu cari sendiri di google.” Hehe. Sadis nggak, sih?
Ditolak Itu Menyakitkan, Tetapi Nggak Bikin Kapok
Saya yang masih pemula entah sudah berapa kali merasakan penolakan dari penerbit ataupun media online. Ditolak itu memang menyakitkan, tetapi karena saya merasa itu hal wajar dan artinya naskah saya memang tidak layak, hal berikutnya yang harus saya lakukan adalah belajar memperbaiki semuanya. Jangan sampai saya kirim lagi, kemudian ditolak lagi, ‘kan?
Bagi yang ingin menjadi penulis, jangan jadikan penolakan dari penerbit sebagai sesuatu yang akan mematahkan semangat untuk mewujudkan impian kamu, ya. Ditolak itu hal biasa, kamu bisa kirimkan lagi. Penerbit juga senang dengan penulis yang pantang menyerah. Dan lagi, penulis-penulis terkenal yang bukunya banyak dipajang di toko buku, kebanyakan dulunya juga pernah ditolak, lho. Bahkan nggak cukup ditolak sekali. Gimana, masih pengen jadi penulis?
Menunggu Itu Kadang Memang Menyebalkan
Jika kamu punya pengalaman menerbitkan naskah atau buku di penerbit mayor, kamu pasti nggak asing lagi sama yang namanya menunggu. Setelah berbulan-bulan kita selesaikan naskah, yang artinya itu bukan waktu sebentar, kemudian kita harus menunggu lagi selama beberapa bulan supaya tahu apakah naskah kita ditolak atau diterima. Lalu, kabar baiknya naskah kita diterima setelah menunggu selama 2-3 bulan. Lama, ya?
Setelah itu, naskah kita nggak bakalan secepat kilat terbit, lho. Proses editing juga memakan waktu cukup lama. Setelah semua siap, kamu harus menunggu antrean. Kadang bahkan setelah antre bertahun-tahun justru nggak terbit. Ini fakta banget dan pernah saya alami.
Makannya, ketika kita selesai mengirimkan naskah, jangan ditanya kapan itu diterima, kapan akan terbit. Biarkan saja waktu yang menjawabnya … hihi. Saya percaya, setiap tulisan itu pasti ada pembacanya. Jangan pesimis, tapi optimislah dan bayangkan bahwa buku kamu pasti akan terbit meskipun harus menunggu lama, bahkan bertahun-tahun untuk mencari jodohnya.
Sabar Itu Mahal Harganya!
Selain harus menunggu lama, kamu juga harus sabar dengan tidak terlalu banyak bertanya, kapan. nih terbit? Jadi terbit nggak, sih? Sudah hampir setahun kok belum ada kabar? Duh, capek nungguinnya.
Pliss, sabar! Kadang menyebalkan juga mendengar pertanyaan yang sama setiap hari. Lalu bagaimana jika editor atau penerbit yang mendengarnya? Bisa-bisa naskah kita dikembalikan, ya?
Pelajaran banget buat kamu yang memutuskan menerbitkan buku di penerbit mayor, yang namanya menunggu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun itu adalah hal yang wajar banget terjadi. Banyakin aja doanya, banyakin juga sedekahnya, semoga buku yang kamu tulis dengan susah payah itu bisa segera terbit pada saat yang tepat!
Diminta Sharing Padahal Suka Mati Gaya di Depan Publik
Berbagi pengalaman atau cerita di balik terbitnya sebuah karya adalah hal yang wajar. Tapi, tahukah kamu jika bicara di depan orang banyak ternyata tidak selalu dikuasai oleh semua penulis? Bahkan sekadar sharing online aja bikin keringat dingin, lho.
Saya setuju banget pada poin ini yang ditulis oleh bu Arleen dalam postingannya. Saya pribadi termasuk orang yang nggak bisa tampil di depan banyak orang, karena itu saya menulis. Sulit bagi saya untuk tidak gugup, tapi saya menjadi begitu berani ketika menulis. Saya merasa luar biasa ketika menuliskan banyak hal. Jika dipaksa bicara di depan orang banyak, itu benar-benar penderitaan buat saya!
Dikejar-kejar Deadline
Pasti nggak enak banget kerja sambil dikejar-kejar deadline. Kadang kita memang merasa diburu-buru banget ketika menyelesaikan naskah. Karena itu, saya pribadi sekarang lebih suka mengirimkan naskah lengkap ketimbang hanya sekadar rancangan saja. Karena apa, karena kadang mood buat menyelesaikan tema itu juga sudah berubah, kadang ya nggak enak banget diburu-buru. Mending saya rampungkan dulu, baru kemudian saya kirimkan. Selebihnya, tinggal revisi pada bagian tertentu saja.
Dianggap Punya Banyak Buku dan Suka Diminta Oleh Orang Terdekat
Tahukah kamu jika penulis itu sebenarnya sama seperti kalian semua? Kita hanya punya beberapa bukti terbit dan selebihnya jika kami ingin lebih, sama seperti kamu, harus membelinya juga.
Tapi, kadang orang menganggap kita punya buku banyak banget, sehingga dengan ringan mereka meminta buku pada kita. Apalagi bagi pemula, royalti kadang juga belum seberapa, kemudian dimintai buku dari orang sejagad maya, gemas nggak sih?
Plis, belilah buku kami jika kamu memang merasa kita sahabatan *ngancem..haha.
Bertemu Penerbit atau Orang yang Tidak Amanah
Dunia literasi itu kejam! Saya setuju banget dengan kalimat ini. Bagi kita yang pemula, yang sangat berharap buku bisa terbit dan dibaca banyak orang, ternyata kadang harus berhadapan dengan penerbit atau orang yang nggak amanah.
Dan ini memang real banget terjadi dalam dunia literasi. Orang yang kadang kita lihat baik, yang sangat kita harapkan bantuannya justru nggak amanah dan tiba-tiba menghilang serta sulit dihubungi. Tahu-tahu aja kita sudah di-unfollow dan di-delete padahal dia duluan yang dulu ngajak berteman. Nyesek banget nggak sih ketemu orang begini? Lebih parahnya dia masih punya kewajiban yang harus dipenuhi pada kita yang masih prematur di dunia literasi ini? Harus dikejar ke mana orang seperti ini?
Jika pun kita bicara pada semua orang tentang siapa dia, mungkin justru malah kita kali yang dianggap jelek dan buruk karena hampir semua orang melihat dia super duper baik.
Atau, buku yang janji akan diterbitkan, kemudian dalam kurun waktu berbulan-bulan bahkan hampir setahun nggak juga ada kabar, padahal kita sudah memenuhi persyaratan. Ketika kita bicara dan menagih hak kita, kadang tetap kita, lho yang kelihatan salah.
Mereka dengan santai mengatakan sedang menunggu naskah lain dari penulis dalam sebuah antologi bersama. Dalam waktu berbulan-bulan? Melewati deadline? Lucu banget, sih. Tapi, fakta ini memang nyata banget. Buat saya, orang yang amanah itu nggak akan begini. Pasti bakalan dikabari jika ada buku terbit, pasti bakalan ditunjukkan kemajuan dari naskah kita, meskipun itu berjalan lambat, pasti bakalan dikabari kalau naskah gagal terbit, nggak membiarkan penulis bertanya-tanya apalagi sampai buruk sangka. Tapi, itulah dunia literasi. Kadang kita harus bertemu orang yang tidak amanah dan hanya memanfaatkan kita. But, Gusti Allah mboten sare. Allah melihat siapa yang sedang dilukai dan siapa yang sedang melukai.
Sakitnya Dibully Senior hingga Diabaikan
Emang ada ya penulis senior membully juniornya? Lucu nggak sih mendengar poin terakhir ini? But, ini beneran terjadi, lho. Saya pikir, nggak semua senior suka melihat juniornya berhasil apalagi sampai melambung tinggi. Bagi sebagian orang itu menyakitkan. Padahal, seharusnya itu menjadi kabar baik. Senang dong juniornya berhasil? Kan itu juga bagian dari keinginannya saat membimbing juniornya dulu, ‘kan?
Atau diabaikan? Keduanya sama menyakitnya, lho. Semoga jika suatu saat kita sudah senior, jangan merasa berat ketika junior kita lebih sukses daripada kita. Jangan abaikan mereka yang butuh kita bimbing, sebab senior pun dulunya pernah junior, ‘kan? Kenapa juga harus melakukan hal menyakitkan itu pada orang lain?
Nah, dari sekian banyak penderitaan yang saya jabarkan, mana yang menurut kamu paling menyakitkan? *eh maksudnya mana yang pernah kamu alami selama ini? Yang pasti, meskipun harus menghadapi banyak hal sulit, menulis itu tetap menjadi sesuatu yang paling menyenangkan buat saya. Dan bisa jadi juga buat kamu. Apalagi ketika tahu buku kita akhirnya terbit setelah bertahun-tahun melalui medan sulit.
Wednesday, September 26, 2018
Lintang Langit pada Senja, Ketika Takdir Membuatmu Hampir Putus Asa
“Lintang, aku adalah Langit. Langit yang senantiasa menaungimu, mendekapmu, memayungimu hingga pagi tiba. Andaipun mentari memaksamu pergi, bukankah ada senja yang selamanya mempertemukan kita?”
“Kita hadapi semua yang terjadi dengan hati lapang. Kebahagiaan sejati seperti sekuntum mawar. Ia tak bisa langsung kita petik. Namun, ia kita tanam, kita rawat, dan ia tumbuh. Kita tidak boleh putus asa, Lintang. Kita tak boleh lemah dengan rintangan-rintangan yang melemahkan semangat. Aku ingin kau menjadi muslimah yang serupa sebatang pohon kurma. Kamu tak mudah teraih oleh tangan-tangan jail, tak mudah tergapai oleh keburukan, kelemahan, dan godaan. Mereka yang melemparimu, kau balas dengan guguran buah yang manis dan menyehatkan. Kamu bisa, Lin?Ini pun janji untuk diriku sendiri, pelajaran untuk diriku sendiri.” (Hlm. 201)
Itulah sepenggal kalimat yang diucapkan oleh Langit kepada Lintang yang menjadi cinta pertama dan terakhirnya. Kisah penuh perjuangan menggapai kebahagiaan hakiki yang tertuang dalam sebuah novel berjudul ‘Lintang Langit pada Senja.’
Sinopsis
Langit adalah seorang mahasiswa yang harus berjuang membiayai kuliahnya sambil menjadi juru parkir sebuah diskotek. Tidak seperti Lintang yang serba kecukupan bahkan kaya raya, Langit harus melihat ibu kandungnya berjuang mati-matian membiayai hidup keluarga yang telah ditinggal pergi oleh ayah kandungnya hanya demi perempuan lain.
Kerasnya garis takdir yang harus dilalui oleh Langit membuat ia marah akan ketetapan Allah. Merasa senasib dengan Lintang yang kekurangan perhatian dan kasih sayang orang tua, mereka pun sepakat melangkah bersama. Merasa dibenci oleh Sang Pencipta karena nasib baik yang tak pernah berpihak membuat keduanya mudah saja jatuh cinta.
Sayangnya, di saat jalinan kasih di antara keduanya begitu erat terpaut, takdir justru memisahkan mereka. Hancur, rapuh, dan merasa sendiri membuat Lintang enggan melanjutkan hidup. Sedangkan di sisi lain, Langit harus menghadapi banyak masalah, termasuk ibunya yang sakit-sakitan dan adiknya, Nawang yang diperkosa dan mengalami tekanan batin teramat dalam.
Lintang yang malang, sepi merenggut bahagia yang sebelumnya sempat memikatnya, kehilangan Langit membuat semuanya jadi serba sulit. Ia mencari ke mana Langit pergi. Dalam pencarian panjang yang tak kunjung menemui ujungnya, Lintang justru dihadapkan pada situasi yang jauh lebih sulit. Ya, dia hamil di luar nikah. Bagaimana Lintang harus menghadapi takdir itu sendirian tanpa Langit? Sedangkan di sisi lain Langit pun sedang berjuang menikam rindu pada Lintang yang entah ada di mana.
Bagaimana keduanya menggapai hidayah dalam gelimang masa lalu penuh nista? Akankah keduanya bisa kembali bersama?
Ririn Astutiningrum begitu pandai menuliskan kisah Lintang dan Langit dengan penuh emosi. Membuat saya terbawa akan kesedihan yang melindap kebahagiaan keduanya. Satu konflik demi konflik yang diceritakan membuat novel ini nggak hambar, bahkan bikin deg-degan. Gemes pengen cepat sampai ending.
Bagi saya, buku bagus tidak cukup hanya membawa emosi pembaca, membawa pembaca ikut larut dalam cerita, tapi juga berisi pelajaran hidup dan penuh makna. Dan itulah yang saya temukan dalam novel ‘Lintang Langit pada Senja’ ini.
Kehidupan Lintang dan Langit tak berbeda dengan kehidupan kita yang sebenarnya. Kisah seorang hamba yang diuji dengan bertubi masalah yang bahkan sempat membuat mereka membenci Tuhan. Tapi, hidayah Allah siapa yang tahu? Kita pun sering mendapati banyak gambaran manusia penuh dosa di masa lalu, tetapi kemudian mereka bahkan menjadi lebih baik daripada kita berkat hidayah dari Allah. Maka seperti itulah kisah Lintang dan Langit digambarkan.
Ujian itu ada sejatinya bukan untuk membuat seorang hamba semakin menjauh dari Allah, justru itu menjadi alarm supaya kita semakin dekat, menjadi lebih kuat, belajar berdamai dengan takdir, dan menerima ketetapan Allah. Dan itulah yang pada akhirnya didapatkan oleh Lintang dan Langit.
Novel ini cocok buat kamu yang ingin atau sedang hijrah. Banyak sekali pelajaran hidup di dalamnya, bahkan penulis dengan begitu apik mengangkat kisah para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai pelajaran nyata yang seharusnya kita teladani.
Buat kamu yang cengeng dan mudah terbawa emosi, sebaiknya sedia tisu sebelum memutuskan membacanya. Benar-benar kisah cinta penuh drama, tetapi digambarkan dengan begitu natural. Layak banget kamu baca!
Dan ini adalah sepenggal isi dari surat Senja yang dituliskan untuk Lintang. Salah satu bagian yang saya suka. Kamu pun layak membacanya.
“Mba, meski semua ruangan dalam hati Mas Langit diberikan kepada saya, ruangan itu tak terjamah. Ia menutupi kesunyiannya dengan selembar tirai senyuman agar saya tak turut merasakannya. Hari-harinya ia habiskan untuk membuat saya senantiasa tersenyum, sementara satu sisi batinnya meteskan air mata….”
Tuesday, September 25, 2018
9 Trik Membuat Judul Artikel yang Menarik dan Memikat Hati Pembaca
Pernahkah kamu merasa jika membuat judul rupanya jauh lebih sulit ketimbang membuat isi artikel itu sendiri? Ternyata bikin judul yang menarik itu bukan perkara gampang, ya? Kita harus pintar-pintar membuat judul yang dapat memikat hati pembaca, nggak sekadar menarik saja, tetapi juga harus benar caranya.
Supaya kamu nggak bingung, terutama bagi yang baru saja belajar menulis artikel, beberapa trik ini bisa kamu coba sambil terus berlatih.
Bedakan Antara Topik dan Judul
Topik itu bukan judul, dan judul juga tidak akan menarik jika dibuat dari topik sebuah artikel. Keduanya adalah sesuatu yang berbeda. Tapi, ternyata banyak yang melakukan kesalahan pada poin pertama ini, lho.
Contoh:
a. Cara Meredakan Demam
b. Cara Memutihkan Kulit
c. Panduan Menulis Artikel
a. Cara Meredakan Demam
b. Cara Memutihkan Kulit
c. Panduan Menulis Artikel
Beberapa contoh di atas merupakan sebuah topik dari beberapa artikel. Topik itu tidak layak dijadikan judul. Judul itu cenderung lebih menarik, mengandung perbedaan antara satu artikel dengan artikel lain yang memiliki topik yang sama. Judul biasanya menjabarkan isi, nggak bikin pembaca merasa samar ketika membaca judul artikelmu.
Kemudian perhatikan contoh berikut ini, ya.
a. 5 Bahan Alami yang Ampuh Redakan Demam pada Si Kecil
b. Ternyata 7 Bahan Alami Ini Efektif Putihkan Kulit dalam Waktu Singkat
c. 10 Trik Jago Menulis Artikel, Nomor 2 Sering Kamu Abaikan
Adakah perbedaan antara contoh pertama dan kedua? Sangat berbeda, ya? Pertama itu memuat topik, sedangkan pada contoh kedua memuat judul artikel yang kenyataannya memang lebih menarik.
Perbedaan keduanya bukan karena pendek dan panjangnya, ya. Tapi memang judul memuat nilai lebih ketimbang topic yang dijadikan judul. Gimana, masih bingung? Semoga nggak, ya. Kita lanjut poin berikutnya.
Berikan Manfaat dan Detail Lebih Banyak
Semua orang tentu ingin mendapatkan sesuatu ketika berniat membaca artikel. Misalnya manfaat apa sih yang didapat setelah membaca artikel itu? Kalau nggak ada gunanya mending nggak dibaca dong. Selain itu, orang juga butuh hiburan, inspirasi, solusi ataupun yang lainnya.
Semua orang tentu ingin mendapatkan sesuatu ketika berniat membaca artikel. Misalnya manfaat apa sih yang didapat setelah membaca artikel itu? Kalau nggak ada gunanya mending nggak dibaca dong. Selain itu, orang juga butuh hiburan, inspirasi, solusi ataupun yang lainnya.
Nah, supaya judul kita menarik, sebaiknya kita sertakan poin lebih di dalamnya.
a. Tips dan Trik Menulis Buku, Mudah dan Cepat!
b. Tips dan Trik Menulis Buku Supaya Best Seller, Mudah dan Cepat.
a. Tips dan Trik Menulis Buku, Mudah dan Cepat!
b. Tips dan Trik Menulis Buku Supaya Best Seller, Mudah dan Cepat.
Orang pasti akan mencari tips dan trik menulis buku supaya best seller dong ketimbang hanya sekadar bisa menulis buku saja. Selain itu, kamu juga bisa membuat nilai lebih dengan memuat detail atau poin-poin yang jauh lebih banyak daripada artikel yang sudah ada.
a. 11 Destinasi Wisata Paling Hits di Bandung, Nomor 2 Asli Bikin Mupeng
b. 21 Destinasi Wisata Paling Hits di Bandung, Nomor 2 Asli Bikin Mupeng
Yakin orang akan memilih judul nomor dua karena memuat lebih banyak destinasi ketimbang yang pertama. Sekali membaca, mereka akan mendapatkan informasi yang jauh lebih lengkap. Karena itu, coba kamu penuhi poin kedua ini ketika hendak membuat judul.
Buatlah Angka dan Daftar
Judul yang memuat angka akan sangat menarik pembaca, lho. Terutama jika kita menggunakan angka ganjil. Angka ganjil menurut sebuah sumber dipercaya bisa menarik perhatian mata pembaca secara psikologis. Dan nyatanya sih memang sangat menarik, ‘kan?
Menuliskan angka dan daftar pada sebuah judul juga bisa membuat pembaca percaya bahwa artikel kita memuat deretan informasi yang mudah dipahami. Selain angka, kamu bisa menambahkan kata-kata ajaib setelahnya. Misalnya saja tips, alasan, fakta, rahasia, trik, inspirasi, ide, ataupun cara.
Menuliskan angka dan daftar pada sebuah judul juga bisa membuat pembaca percaya bahwa artikel kita memuat deretan informasi yang mudah dipahami. Selain angka, kamu bisa menambahkan kata-kata ajaib setelahnya. Misalnya saja tips, alasan, fakta, rahasia, trik, inspirasi, ide, ataupun cara.
Memiliki Keterikatan dengan Perasaan
Kenapa bawa-bawa perasaan? Ini ‘kan hanya menulis judul artikel? Nggak perlulah dibuat baper, ‘kan? Yess! Kamu memang benar, tapi pembaca juga akan membuka artikel kamu ketika kamu menuliskan sebuah judul yang mampu menarik perhatian, memiliki keterikatan dengan perasaan mereka, tetapi perasaan itu muncul alami, bikin takjub, bertanya-tanya, simpati atau empati, bukan malah merasa aneh.
Kenapa bawa-bawa perasaan? Ini ‘kan hanya menulis judul artikel? Nggak perlulah dibuat baper, ‘kan? Yess! Kamu memang benar, tapi pembaca juga akan membuka artikel kamu ketika kamu menuliskan sebuah judul yang mampu menarik perhatian, memiliki keterikatan dengan perasaan mereka, tetapi perasaan itu muncul alami, bikin takjub, bertanya-tanya, simpati atau empati, bukan malah merasa aneh.
a. 21 Deretan Film Terbaru 2018, Paling Keren!
b. 9 Cara Turunkan Berat Badan Tanpa Diet dalam Waktu 3 Minggu
Contoh pertama itu menimbulkan perasaan aneh. Seperti tidak penting, nggak ada gunanya banget pakai kata paling keren. Sedangkan contoh kedua benar-benar bikin penasaran, apalagi banyak banget perempuan pengen kurus tanpa diet..hehe. Karena itu kenali perasaan apa yang kamu inginkan muncul dari pembacamu.
a. Apakah rasa tidak percaya?
b. Apakah penasaran, bertanya-tanya sehingga pengen tahu banget?
c. Bisa jadi empati
d. Mungkin saja yakin atau kepastian
e. Dan khawatir sehingga mereka mau membaca artikelmu
Semua itu bisa kamu ciptakan dan buat sesuai dengan keinginan kamu. Gimana, masih pusing memikirkan judul? Kita lanjut poin berikutnya, ya!
Bikin Judul yang Enak Dibaca Mata dan Unik
Jangan takut bikin judul-judul yang unik, tetapi pikirkan itu haruslah enak dibaca, ya. Salah satu contoh mudah selalu saya dapatkan ketika membaca artikel-artikel di Hipwee. Kamu bisa menemukan judul-judul yang mereka buat nyatanya selalu unik, tapi enak banget dibaca. Mereka nggak takut bikin judul berbeda dari yang lainnya, tapi justru itu jadi ciri khas tersendiri bagi platform satu ini.
Buatlah Judul Berupa Pertanyaan yang Bisa Membangun Rasa Penasaran
Jangan takut ketika ingin membuat sebuah judul yang diawali dengan sebuah pertanyaan, justru itu bikin pembaca menjadi tertarik, penasaran dan bertanya-tanya, lho. Contoh mudah yang bisa kamu ambil seperti ini.
a. Kulit Kamu Masih Kusam dan Berjerawat? Mungkin 5 Hal Inilah Penyebabnya
b. Sudah Diet Ketat Tapi Berat Badan Nggak Turun-turun? Bisa Jadi 7 Kesalahan Ini Kamu Lakukan Tanpa Disadari
Kira-kira seperti itulah yang bisa kamu buat nanti, ya. Semoga kamu nggak semakin pusing memikirkan judul yang tepat untuk artikelmu nanti. Next!
Modifikasi Ide dari Judul-judul yang Sudah Populer
Selain harus terus berlatih, kamu juga bisa belajar membuat judul dari beberapa artikel yang sudah populer, yang terbukti menarik, yang klik di hati kamu, dan tentu saja yang wajar dan tidak aneh, ya?
Kamu bisa mengambil ide dari judul artikel lain, tapi pliss, kreatiflah sedikit, jangan sampai kamu ambil semua bagian judul yang telah dibuat orang lain, itu bukan gaya penulis, itu plagiat, dan itu dilarang.
Kamu bisa menirukan misalnya hanya pada kata ‘Tersembunyi’ yang kemudian kamu buat menjadi sebuah judul menarik seperti ‘Pulau Padar, Surga Tersembunyi di Labuan Bajo yang Bikin Traveler Betah’. Ya, cukup ambil satu kata saja, ya.
Bikin Judul yang Lebih Spesifik
Kita harus menentukan judul sesuai dengan target pembaca. Bikin judul yang lebih spesifik itu jauh lebih menarik daripada yang umum. Kamu bisa melihat contohnya seperti ini.
a. Panduan Traveling ke Bali dengan Budget di Bawah 2 Juta
b. Deretan Smartphone Keren Buat Kamu yang Suka Selfie
Nah, kira-kira sudah semakin jelas dan mudah, ‘kan membayangkan bagaimana meramu judul yang menarik dan benar?
Memberikan Sebuah Kepastian
Nah, poin terakhir yang perlu kamu buat ketika hendak menuliskan judul yang menarik adalah memberikan sebuah kepastian yang mana memang selalu pembaca harapkan ketika membaca sebuah artikel. Yap! Setiap pembaca, terutama yang tidak kamu kenal pasti ingin mendapatkan sesuatu yang mereka harapkan, misalnya saja mereka mencari artikel dengan topik menurunkan berat badan tanpa diet, itu mereka lakukan karena memang mereka butuh itu, mereka akan mencoba mempelajari dari artikel yang mereka harapkan bisa memberikan solusi.
Pembaca akan membaca artikel kamu bukan karena mereka ngefans, apalagi ingin jadi teman kamu, lho. Jangan GR, ya? Hehe. Karena itu, penting kamu membuat judul yang nggak menipu, bisa berupa judul yang memberikan durasi spesifik dan hasil spesifik.
a. Putihkan Kulit dengan Bahan Alami Ini Hanya dalam Waktu 7 Hari
b. Cara Meningkatkan Penghasilan Hingga 90% Tanpa Keluar Rumah
Dan yang perlu kamu ingat, berlatihlah terus sampai kamu merasa mudah melakukannya. Meskipun kamu tahu teori, jika kamu enggan berlatih, itu sama saja bohong. Bahkan penulis artikel profesional rela bikin judul lebih dari lima hanya untuk sebuah artikel yang mereka rampungkan. Bagaimana dengan kita yang katanya pengen belajar tapi mencoba saja enggan?
Monday, September 10, 2018
Anak Suka Memaksakan Kehendak? Ajari Dia Sejak Dini dengan 5 Tips Ini
Punya buah hati pastinya merupakan suatu hal yang sangat diidamkan oleh setiap pasangan yang telah menikah. Karenanya, tak heran jika banyak yang akhirnya susah menahan diri untuk tidak menuruti keinginan si kecil meskipun itu tampak sangat berlebihan.
Anak-anak usia di atas dua tahun, yang sudah mengerti, yang sudah memahami keinginannya, sering sekali memaksa orang tua untuk menuruti apa yang dia mau. Salah satu contoh sederhana, mereka bisa menangis hingga tantrum hanya karena ingin membeli es krim, naik odong-odong yang setiap hari lewat di depan rumah, atau meminta mainan.
Karena tidak nyaman dilihat orang lain, atau tidak mau disebut orang tua yang tidak sayang pada anaknya, maka kita sering sekali terpaksa menuruti keinginan mereka. Nah, sekali saja kita turuti, mereka akan mengulanginya lagi. Yap! Anak kecil itu, meski usianya baru beberapa tahun, tetapi amat cerdas, lho. Mereka mempelajari bagaimana reaksi orang tua saat ia memaksa dan menangis di tempat umum.
Keponakan saya, saat usianya masih balita, selalu melakukan hal yang sama setiap ada tamu bertandang ke rumah. Dia minta pergi ke toko dan meminta jajanan. Dia pasti menangis kalau tidak dituruti, sedangkan orang tua sungkan dengan tamu yang datang. Bahkan tak jarang tamu juga mengatakan, sudahlah, turuti saja dulu. Dan akhirnya itu terjadi hingga dia berusia cukup besar, bahkan hingga masuk sekolah dasar.
Belajar dari kejadian seperti itu, saya berusaha membenahi apa yang salah. Setelah memiliki anak, saya berusaha untuk tidak selalu menuruti mau anak-anak. Pernah sekali, saat sulung ingin punya mobil remot, dia sudah hampir gulung-gulung di pasar. Tapi, saya tetap berkata, kita nunggu tabungan kamu penuh. Jadi, pulang sambil nangis. Oke, itu nggak masalah. Tidak perlu cemas dengan tatapan orang lain di sekitar kita. Toh kita nggak melakukan kekerasan fisik sama dia, kan? Santai dan tarik napas, deh!
Nah, supaya itu jangan sampai terjadi, coba ikuti tipsnya.
Ajari Menabung Sejak Dini
Saya selalu mengajari anak-anak menabung sejak kecil, bahkan sebelum mereka mengerti fungsi uang. Ajarkan pelan-pelan bahwa menabung bisa mengabulkan keinginan mereka. Mereka bisa mengumpulkan uang setiap hari, setelah celengan penuh, mereka bisa membeli apa saja yang mereka inginkan.
Hasilnya? Tabungan sulung pernah sampai 1 juta lebih dalam bentuk uang receh…hehe. Dan itu akhirnya masuk ke rekening tabungannya, bukan dibelikan mainan.
Tunjukkan Bahwa Menabung Bisa Mengabulkan Keinginan Si Kecil
Ya, jangan sampai kita hanya memberikan teori menabung pangkal kaya, tetapi kenyataannya dia tak kunjung bisa membeli apa yang dia inginkan. Jika celengan sudah penuh, pecahkan dan hitung uangnya. Katakan bahwa uang yang dia miliki sekian, akan cukup untuk membeli bla bla bla. Itu akan membuat anak-anak percaya bahwa dengan menabung mereka bisa mendapatkan apa yang diinginkan.
Ajarkan Untuk Bersabar
Menabung itu butuh kesabaran, kan? Sesekali mereka pasti tidak sabar, tetapi tetap ajarkan untuk selalu bersabar dengan cara yang sabar pula. Mereka akan mengerti. Anak-anak itu cerdas. Mereka pasti akan mengerti kalau terus menerus kita beri pengertian.
Bikin Perjanjian
Yess! Sebelum kita pergi ke supermarket, bikin perjanjian dulu dengan si kecil. Kita ke supermarket karena ingin membli terigu misalnya. Kamu boleh beli permen, tetapi tidak yang lain. Jika sepakat, kamu bisa pergi. Jika si kecil tiba-tiba meminta mainan yang di luar perjanjian, ingatkan dengan baik-baik dan jangan mudah menuruti. Kita pun harus konsisten supaya mereka percaya bahwa kita tidak akan menuruti apa yang ada di luar perjanjian meskipun dia menangis di tempat umum.
Konsisten dan Sesekali Beri Dia Hadiah
Anak-anak, pastilah senang jika diberikan hadiah. Katakan dia hebat karena sudah bisa menahan diri dan bersabar, sesekali saja. Dan lagi, orang tua harus konsisten dalam menerapkan aturan. Awal mula anak-anak suka membantah itu biasanya karena kitanya yang nggak konsisten, lho. Jadi, mereka mencari celah supaya kemauannya dituruti. Jangan sampai, ya.
Itulah beberapa tips yang bisa kamu coba. Memang berat, ya jadi orang tua. Tapi, pengalaman dan belajar terus menerus akan membuat kamu memahami triknya. Jangan berhenti belajar meski telah menjadi orang tua. Justru saat inilah kamu harus lebih banyak belajar, bukan sebaliknya.
Saturday, August 11, 2018
Tips Traveling Bersama Si Kecil, Dibikin Asyik Aja!
Gimana ceritanya traveling ke destinasi yang cukup jauh, enggak pernah disinggahi pula, dan yang pasti bawa dua anak cowok yang kadang mood-nya aja berganti-ganti tiap menit, berebut hal sepele setiap detik, dan owh itu bikin kepala migrain…hihi.
Saya termasuk ibu yang suka panik. Ya, kadang suka dibikin ribet sendiri. Padahal sebenarnya masalah itu tergantung seperti apa kita menanggapinya. Kalau dibawa santai, insya Allah semua akan berjalan dengan mudah kok. Tapi, buat menjadi sesantai itu enggak mudah buat saya.
Ketika hari itu benar-benar tiba, mau enggak mau saya harus santai sesantai-santainya. Nah, kali ini saya mau berbagi tips untuk itu. Siapa tahu berguna bagi teman-teman yang ingin melakukan perjalanan jauh dan membawa balita. Btw, saya seorang ibu dengan dua putra. Sulung saya berusia 7 tahun, dan bungsu berusia 3 tahun. Dan inilah beberapa tips yang bisa teman-teman coba terapkan ketika ingin traveling bersama balita.
Ketahui kondisi anak-anak
Kita yang paling tahu seperti apa kondisi anak-anak terutama jika diajak melakukan perjalanan. Misalnya saja, anak saya keduanya suka mabuk kendaraan. Ini riwayat dari saya banget yang sampai usia 28 tahun ini masih juga mabuk kalau naik mobil … hihi. Memang tidak setiap naik kendaraan roda empat saya mabuk, tetapi lebih sering terjadi ketika pagi hari.
Karena itulah saya selalu sedia banyak kantong kresek di ransel yang selalu saya bawa. Selain itu, kita juga perlu memerhatikan kondisi kesehatannya, dan mood mereka. Kalau anak-anak mudah bosan, ada baiknya siapkan mainan di ransel yang mudah dijangkau supaya ketika berada di perjalanan, kita bisa dengan mudah mengalihkan perhatiannya.
Siapkan pakaian ganti yang cukup
Namanya perjalanan jauh, pastilah kita akan membawa banyak baju di koper. Tapi, jangan lupa juga bawa baju di ransel yang selalu kita pakai, ya. Supaya tidak panik dan gelagapan saat membutuhkannya sewaktu-waktu.
Buat anak-anak, saya selalu bawa ganti lebih banyak karena kondisi mereka yang tidak bisa dipastikan. Berbeda dengan kita yang dewasa. Daripada nanti harus bingung mencari baju baru, mending bawa stok lebih, ya.
Siapkan obat-obatan
Minimal bawa penurun panas seperti paracetamol. Bawa juga obat-obatan yang paling dibutuhkan lainnya, misalnya minyak telon, krim anti ruam, pelembab, dan sebagainya.
Jika teman-teman punya anak dengan riwayat penyakit tertentu, misalnya saja sulung saya yang punya riwayat kejang demam, sebaiknya bawa obatnya, ya. Apalagi obat kejang itu enggak mudah dibeli bebas di apotek. Jadi, saya selalu bawa itu sampai kakak berusia enam tahun.
Jangan lupa bawa makan berat dan camilan
Kita aja suka bosan kalau menunggu terlalu lama, apalagi mereka, ya? Perjalanan menuju Turki dan umrah kemarin menjadi perjalanan paling panjang buat kami sekeluarga. Ini pertama kalinya saya harus pede melakukan perjalanan jauh dan membawa anak-anak. Meskipun sejak awal memang saya sendiri yang selalu menginginkannya, tetapi ketika itu terjadi, saya jadi bingung harus ngapain … hihi.
Dan salah satu hal yang perlu diingat adalah selalu bawa bekal makanan berat seperti nasi dan lauk kering serta camilan yang kita letakkan di dalam ransel. Itu wajib banget. Kalau mereka lapar sewaktu-waktu, tinggal ambil dari ransel karena biasanya ketika baru sampai, tentu saja kita enggak mudah membeli makanan di tempat yang jarang dikunjungi.
Plis, bawa gendongan
Ya Allah, ini adalah hal sepele, namun sungguh sangat berarti … hihi. Saya sedikit cerita, ketika umrah, suami pede sekali bahwa si bungsu akan dia gendong sendirian tanpa bantuan saya. But, kamu tahu realnya kayak apa? Ternyata si bungsu sejak masuk di pelataran masjidil Haram enggak mau pindah gendongan dari saya. Dia menangis kalau digendong ayahnya apalagi orang lain. Sedangkan saya yang awalnya mau membawa gendongan akhirnya urung karena suami nolak.
Masya Allah, saya thawaf sambil menggendong si bungsu tanpa gendongan. Beruntung itu terjadi tengah malam. Jadi, masih adem gitu. Selesai thawaf, lanjut sa’i. Saya sempat bilang bahwa saya enggak bakalan sanggup. Tapi, suami mengingatkan jangan bicara seperti itu. Dan waktu rasanya berjalan lambat banget. Antara menikmati prosesi ibadah umrah dan menahan pegal pinggang dan punggung yang kadang rasanya mau patah..hihi.
Ajaibnya, ada satu lagi rekan saya mengalami hal serupa. Entah kenapa anaknya juga enggak mau digendong bapaknya. Sampai banyak ibu-ibu bilang nggak tega sama kami berdua, mau menggantikan, tapi anak enggak mau. So, jangan tinggalkan gendonganmu di hotel … hihi.
Dibawa asyik aja!
Tidak ada cara lain, teman-teman harus santai sesantai-santainya ketika harus traveling membawa anak-anak. Jangan dibawa ribet, jangan dibawa pusing, jangan dibawa berat. Nikmati perjalanan dan kebersamaan dengan keluarga, kapan lagi bisa pergi bareng?
Saya yang awalnya suka ribet mau enggak mau harus santai juga. Bawa anak-anak di musim dingin ke Turki pastilah jadi cobaan berat buat saya yang jarang banget traveling. Kami jarang banget pergi jauh. Saat di Turki, bisa jadi karena capek juga karena enggak berhenti mengunjungi tempat-tempat wisata selama 3 hari di sana, akhirnya si bungsu flu. Kasihan banget, meskipun udah pakai jacket super tebal khusus musim dingin, tetap saja ketika pergi dia seperti beku. Ingat banget deh waktu di Topkapi Palace, dia jalan kaku banget, tangannya dingin pula. Tapi, harus santai, sudah tiba, masa mau dikeluhkan?
Saat tiba di Madinah, adik udah lumayan enak kondisinya, tetapi sampai di Mekah, kami bergiliran sakit. Saya demam, adik demam bahkan sampai perjalanan pulang. Suami juga sempat meriang, bahkan hampir semua rombongan ikutan sakit waktu itu.
Kalau sudah enakan setelah minum obat penurun demam, saya paksa ikutan thawaf sambil gendong adik bareng suami. Alhamdulillah setiap dibawa thawaf adik tidur nyenyak banget. Selesai thawaf barulah ia bangun dan saya bisa salat duha bergantian sama suami. Kalau si sulung karena sudah lebih besar jadi lebih santai. Dan mau enggak mau semua memang harus dibawa santai, kan?
Apalagi bungsu saat itu susah banget minum penurun demam dan itu berlanjut sampai sekarang. Waktu perjalanan pulang dari Turki ke Indonesia, adik saya paksa minum obat penurun demam susahnya bukan main. Akhirnya saya minumkan waktu dia agak tertidur. Barakallah selama di pesawat dia enggak ada masalah, suhu tubuhnya normal selama perjalanan sekitar 13 jaman.
Sampai bandara dia diare. Kami pulang ke rumah dan drama itu dimulai. Adik muntah-muntah enggak berhenti dan lanjut diare. Kalau dipikir, misalnya saja Allah takdirkan dia sakit pas dalam perjalanan pulang, minimal pas di taksi aja menuju rumah, paniknya saya pasti lebih dan lebih banget. Tapi, Allah tentukan beda. Alhamdulillah, enggak lama dia pun pulih.
Saya pikir, memang enggak ada jalan lain selain berusaha santai ketika harus membawa balita bepergian jauh. Pastikan saja semua kebutuhannya siap di ransel yang selalu kita bawa ke mana-mana.
Ketahui kondisi cuaca di lokasi tujuan
Mungkin yang paling berat ketika saya melakukan perjalanan ke Turki adalah musim dingin yang menusuk tulang dan hidung. Hidung enggak berhenti berdarah setiap hari. Mana pernah merasakan musim salju. Baru pertama kali dan harus membawa anak-anak juga.
Sejak di rumah udah siap-siap membawa jacket musim dingin. Tapi, kenyataannya masih belum bisa mengatasi sepenuhnya. Tapi, setidaknya kita udah lebih siap jika sudah tahu kondisi cuaca dan acara apa aja di lokasi tujuan.
Waktu di Turki kami seperti tidak terlalu menikmati karena terlalu dingin. Terlebih ketika menaiki kapal melewati selat Bosphorus, saljunya dikit turunnya tapi ademnya kebangetan. Malah justru lebih enak main salju di Uludag, rasanya enggak sedingin ketika di selat Bosphorus. Dan semua berjalan baik meskipun sedikit menyiksa, ya ... hihi.
Dan tidak ada resep paling mujarab untuk traveling bersama anak-anak kecuali dibawa santai aja. Semoga ulasan sederhana berdasarkan pengalaman ini bisa bermanfaat, ya. Sesuaikan dengan kebutuhan dan semoga perjalanannya menyenangkan!
Subscribe to:
Posts (Atom)
Hey there!
Part of







