Rekomendasi Dokter Gigi di Duren Sawit Jakarta Timur

Monday, January 27, 2020

Nyari dokter itu susah-susah gampang. Maunya yang baik, ramah, detail, dan hangat sama pasien. Karenanya, saat si bungsu sakit gigi kemarin, bingung juga mau nyari dokter gigi di Duren Sawit yang cocok siapa, ya? Apa di rumah sakit langganan atau nyari dokter gigi lain aja?

Sebelumnya, saya pernah menceritakan tentang sakit gigi si bungsu dalam postingan ini. Setelah giginya ditambal, otomatis sakit giginya tidak langsung beres, lho. Besoknya, pipinya malah bengkak. Dia mengeluh sakit, nyeri sudah pasti. Kecuali di bagian giginya yang sudah ditambal, katanya tidak sakit sama sekali.

Akhirnya mau nggak mau kami harus segera ke dokter gigi lagi. Kayaknya ada yang nggak beres dengan tambalan giginya kemarin. Sedih harus bolak balik ke dokter gigi. Dengan mempertimbangkan waktu juga, akhirnya kami memutuskan mengunjungi dokter berbeda. Kali ini, dokter gigi langganan si ayah dulu.

Periksa Gigi di Klinik Sapta Mitra Duren Sawit


Antrean pasiennya lumayan panjang. BTW, saya akhirnya memilih berobat ke Klinik Sapta Mitra di Duren Sawit, Jakarta Timur. Klinik yang lumayan besar dan lengkap ini ada di Jl. Taman Malaka Utara, Blok A12 No.1, Malaka Jaya, Duren Sawit, Jakarta Timur. Lokasinya sangat dekat dengan rumah.

Sebelumnya, kami nggak terlalu familiar dengan klinik ini. Biasa berobat ke rumah sakit yang jaraknya juga nggak terlalu jauh dari rumah. Sayangnya, pengalaman kurang baik yang terjadi pada anak dan suami akhirnya membuat kami mencari tempat berobat lainnya.

Jangan kira, karena ini hanya sebuah klinik, dokter dan pelayanannya hanya seadanya. Kamu yang berpikir seperti itu, sama juga dengan saya dulu, ternyata salah besar. Dokter-dokter di klinik ini memang benar-benar pilihan. Super baik, meskipun nggak terlalu RUM (Rational Use of Medicine) misal, tapi mereka ramah banget, hangat sama pasien. Hal sederhana seperti ini kadang sudah cukup melegakan, sih buat saya atau suami. Apalagi suami yang suka trauma dijutekin sama dokter di tempat lain, auto ngajakin pindah...kwkwk.

Suami saya paling nggak suka dijutekin, karena merasa kita ini bayar, lho. Haha. Ya, memang benar juga, sudah sakit, masih dijutekin pula, kan, sama sekali nggak enak. Kalau saya pribadi, asal dokternya RUM aja nggak masalah. Tapi, dokter yang RUM juga biasanya ramah, nggak pernah menemukan dokter RUM yang galak gitu...kwkwk.

Dan, ternyata di klinik Sapta Mitra, kayaknya semua memang dituntut melayani pasien dengan ramah dan senyuman. Terbukti kita bisa melihat papan di bagian pendaftaran yang intinya menyebutkan bahwa pasien boleh menegur petugas medis jika melayani tanpa senyum, nggak rapi, dll. Senyum itu jadi poin utama, lho. Nggak heran kalau di sini semakin hari semakin dibanjiri pasien.

Rekomendasi Dokter Gigi di Duren Sawit


Namanya dokter Rosita. Berhijab panjang dan sangat ramah. Dokter Rosita adalah dokter gigi kedua yang kami kunjungi di klinik Sapta Mitra. Beliau pernah menangani karang gigi suami saya. Suami langsung sreg aja sama beliau karena orangnya baik banget.

Pipi si bungsu yang bengkak sudah pasti disebabkan oleh sakit giginya. Gigi gerahamnya yang kemarin sempat berlubang kemudian ditambal. Ternyata, ada semacam infeksi yang sebelumnya belum ketahuan *mungkin. Untuk memulihkan pipinya yang bengkak, tambalan giginya harus dibongkar lagi.

Sebenarnya, saya cukup seram juga membayangkan tambal bongkar gigi geraham si bungsu. Tapi, karena dia kooperatif banget, anteng dan nggak bikin panik, akhirnya emaknya yang ketakutan pun ikut bernapas lega. Nggak khawatir lagi terutama melihat dokter Rosita juga cukup cekatan saat menangani si bungsu.

Proses bongkar tambalan gigi ini nggak memakan waktu lama, kok. Hanya sebentar saja, ini juga lumayan mudah karena si bungsu sangat anteng dan nggak rewel saat tindakan. Dokternya juga seperti biasa gemas dan senang...haha. Badan kecil, tapi berani katanya, Masya Allah.

Akhirnya, tambalan giginya dibuka lagi, dia pun harus minum obat selama semingguan baru kemudian dilakukan perawatan kembali minggu depannya.

Drama Sakit Gigi


Selama seminggu, kondisi si bungsu membaik memang. Meski tambalan dibuka, dia nggak ngeluh sakit saat makan. Dia juga jadi lebih rajin menggosok gigi, sehari bisa tiga kali lebih. Bersyukur dia nggak rewel karena tahu sakit gigi itu nggak enak. Jadi, dia mengiyakan saja setiap diajak sikat gigi.

Dalam seminggu tersebut, dia sempat demam. Pipinya kempes, sih. Nah, demamnya ini karena apa? Saya pun kurang paham. Hanya saja, karena bagian pipi dan gigi nggak dikeluhkan, saya pikir bukan itu sebab demamnya.

Seminggu berlalu, kontrol harusnya dilakukan hari ini, tapi Jumat kemarin dia menangis setiap kali makan. Ada sedikit nasi masuk ke lubang gerahamnya, dia menjerit sejadinya. Duh, nggak tega banget. Hari itu juga, kami memutuskan pergi ke dokter lagi.

Menambal Gigi Kedua Kali


Antrean ke dokter gigi malam itu super duper banyak. Si bungsu dapat antrean ke-19. Belum lagi kondisi klinik lumayan penuh, banyak banget anak-anak dan dewasa yang sakit wira wiri gitu. Kebanyakan batuk-batuk. Saya pikir, kayaknya musim hujan seperti ini menjadi musim orang sakit juga.

Menunggu antrean lumayan lama. Hingga menjelang pukul 12 malam, barulah si bungsu masuk sebagai pasien terakhir juga. Baru duduk, dia langsung buka mulut. Saya lihat dia ini, kok happy gitu..haha. Apa karena dokter suka memuji dia hebat atau gimana, yang jelas dia yang harusnya sudah mengantuk seperti kakaknya, malah seger banget.

Saat diperiksa, semua baik-baik saja. Nggak ada infeksi. Nggak ada masalah, tapi kenapa dia sempat kesakitan sampai dua kali di rumah? Sampai dia nggak bisa makan juga. Karena merasa semua oke dan baik-baik saja, akhirnya dokter Rosita memutuskan menambal gigi si bungsu kembali.

Alhamdulillah, ini adalah hari ketiga gigi si bungsu ditambal. Nggak ada keluhan sama sekali. Dia sudah bisa makan seperti biasa. Bersyukur sekali, artinya kami nggak perlu kembali ke dokter Rosita dalam waktu dekat. Kontrol kembali setelah dua minggu.

Penyebab Gigi Berlubang


Sebenarnya apa penyebab gigi berlubang? Kenapa gigi si bungsu sampai seperti itu? Bikin miris dan kasihan, nggak jarang bikin emaknya merasa berdosa parah karena merasa kurang mampu mengurus...hiks. Semua ini seperti di luar kendali, kayak nggak pernah kepikiran kalau giginya bisa berlubang. Ibu saya bilang, "dulu anak-anakku sakit gigi dan berlubang perasaan biasa aja, kenapa juga kamu sampai merasa seperti itu?" Hihi.

Penyebab kerusakan gigi pada anak itu ada tiga,

  • Kerusakan gigi akibat botol susu

  • Gigi berlubang

  • Peradangan gusi atau gingivitis


Si bungsu mengalami gig berlubang atau karies. Dia bukan pengguna dot, bahkan sampai usia 3 tahun lebih masih ASI *ampun tutup muka...haha. Masalah kerusakan giginya sama sekali bukan disebabkan oleh dot. Gigi berlubang biasanya disebabkan oleh bakteri yang merusak enamel gigi dan menyebabkan pembusukan hingga akhirnya membuat gigi berlubang.

Dokter bilang, mungkin meski rajin sikat gigi, sikat giginya kurang bersih. Kayaknya itu masuk akal mengingat dia sudah terbiasa sikat gigi sendiri sejak dini. Jarang banget saya bantuin...hiks.

Akibatnya, karena ada sisa makanan di giginya, akhirnya menjadi sumber makanan bagi bakteri. Enamel gigi menjadi lunak akibat penumpukan asam di giginya. Ujungnya gigi jadi berlubang seperti sekarang.

Masalah gigi berlubang atau munculnya spot putih hingga kecokelatan sebenarnya jangan dianggap remeh. Dulu, karena dokter spesialis anak di salah satu rumah sakit yang memeriksa si bungsu mengatakan masalah gigi seperti itu bukan masalah besar dan suruh dibiarkan, akhirnya membuat saya lalai dan nggak lekas ke dokter gigi.

Setelah terlambat seperti sekarang, barulah saya menyesal. Masalah gigi berlubang semacam ini harus segera ditangani. Jika dibiarkan bisa juga merembet ke gigi yang lain, bahkan ke gigi permanennya nanti.

Lagian, kalau udah sakit gigi begini nggak bakalan tega. Asli bikin mewek lihatnya. Kalau bisa diubah, sejak dulu saya periksakan dia ke dokter gigi :(

Cegah Gigi Berlubang Sejak Dini



Bungsu adalah anak kedua. Kalau kakaknya sekarang, punya gigi yang bagus, nggak ada warna kecokelatan sama sekali, masih utuh, bahkan baru tanggal dua...hihi. Karenanya, merasa sangat menyesal ketika si bungsu punya masalah sama giginya. Kan, dia bukan anak pertama, bukan hal baru menjaga giginya yang baru beberapa. Tapi, kenapa sampai salah begini?

Buat teman-teman yang merasa kurang perhatian  dengan kesehatan gigi si kecil, ada baiknya mulai sekarang melakukan langkah pencegahan terutama untuk gigi berlubang. Berikut beberapa hal yang bisa teman-teman lakukan,

  • Sikatlah gigi si kecil bahkan saat pertama kali gigi pertamanya muncul. Jangan menunggu hingga giginya berjumlah banyak. Sikat gigi dengan lembut bisa dengan sikat gigi bayi plus air matang. Kalau saya dulu, senang menyikat dengan kasa steril yang dililitkan ke jari kemudian dicelupkan ke air hangat.

  • Jika anak sudah mengerti berkumur dan tidak menelan pasta gigi, ada baiknya sikat gigi menggunakan pasta gigi ber-fluoride.

  • Pastikan anak-anak kita ajarkan menyikat gigi dengan benar minimal dua kali sehari. Selalu awasi mereka ketika menyikat gigi terutama jika usianya belum enam tahun.

  • Hindari konsumsi banyak makanan manis dan sebisa mungkin selalu menyikat gigi setelah makan manis seperti permen atau cokelat.


Itulah beberapa langkah pencegahan yang bisa kita lakukan supaya gigi anak tidak berlubang. Memang harus kitanya yang telaten membantu mereka sikat gigi. Semoga postingan ini bermanfaat dan bisa menjawab pertanyaan teman-teman juga tentang rekomendasi dokter gigi di Duren Sawit, Jakarta Timur. Selain dokter Rosita, pasti masih banyak dokter gigi lain yang nggak kalah baik, ramah, dan sabarnya.

Salam hangat,

Featured image: Photo on hourdetroit.com

 

Comments