Daftar Pertanyaan yang Sering Diajukan Oleh Penulis Pemula

Monday, December 30, 2019

Postingan ini berisi daftar pertanyaan yang sering kali diajukan oleh penulis pemula. Beberapa pertanyaanmu mungkin masih belum terjawab sampai sekarang. Tentu saja ini bukan postingan tentang jodoh yang tak kunjung datang atau sebuah kutukan jomlo tanpa akhir. Please, jangan curhat di postingan ini *lol.

Kalau boleh cerita sedikit, Gaes, beberapa hari ini mungkin agak sedikit galau dengan banyaknya kasus plagiarisme pada beberapa postingan blog teman-teman sesama blogger. Sebab tahu betul menulis bukan proses yang mudah, jadi ikut was-was juga akhirnya.

Saya pikir, hanya postingan bagus-bagus aja yang diplagiat, ternyata yang remeh pun banyak dicopas tanpa izin. Terbanyak kalau dari blog saya adalah resep-resep masakan. Lebih buruknya lagi, link resep-resep ini dipakai oleh beberapa blog yang nggak bener. Pas cek kemarin, rasanya pengen nangis. Banyak banget backlink mengarah pada postingan nggak jelas, semacam kuislah, blog yang isinya hasil copas semua, kadang juga nggak bisa dibuka.

Selain yang semacam itu, ada juga orang terniat banget sampai bikin postingan saya tentang JSR versi PDF. Postingannya nggak hanya satu dua, tapi banyak juga. Orang yang datang tinggal download. Niatnya baik, berbagi. Ya sudah. Semoga jadi amal shaleh :)

Namun, apakah sebagai penulis saya rela diperlakukan seperti ini? Tentu saja tidak, Gaes. Kesel, sedih, tapi kalau dipikir lagi, kita bisa apa, sih? Ujung-ujungnya jadi nggak nyaman ngisi blog karena mikir ini dan itu. Akhirnya jadi kurang leluasa menulis karena mikir abis ini postingan mana lagi yang bakal dicopas?

Dan hari ini saya memutuskan, ya udahlah kalau memang ada yang berniat kurang baik, semoga Allah beri hidayah *sekaligus balasan setimpal...kwkwk. Penulis best seller sekelas Ahmad Rifa’i Rif’an aja hanya bisa senyumin orang yang udah bikin bukunya versi bajakan, apalah saya yang masih berproses menuju penulis best seller? :D

Saya mau tetap menulis tanpa mengkhawatirkan banyak hal. Karena ngurus naskah aja udah puyeng, pengennya buka blog buat bersenang-senang, rehat dari rumitnya garap buku. Karena masalah seperti ini, akhirnya membuat proses ngisi blog jadi serba salah, serba horor juga. Nggak enak banget!

Kembali pada tema dalam postingan ini, ya. Selama seminggu ini saya sedang ikut kelasnya KMO bersama penulis buku nonfiksi best seller Ahmad Rifa’i Rif’an. Jujur saja, pertama kali baca buku beliau versi digital yang diterbitkan oleh Quanta, tentang proses menulis buku semacam buku beliau Super Writer. Setelah sekian lama saya mati rasa, mati gaya juga karena jarang dapat suntikan motivasi, menganggap proses menulis seolah datar aja, lempeng, pas baca buku beliau, meletup-letuplah semangat menulis, dan saya bawa hingga sekarang.

Makannya, pas tahu beliau bikin kelas menulis, saya antusias banget pengen ikutan meskipun sebagian materi sudah pernah saya pelajari, tapi pasti ada sesuatu yang ‘beda’ bisa saya dapatkan.

Dari ikutan kelas tersebut, akhirnya tercetus ide untuk menulis postingan ini. Siapa tahu jadi banyak pertanyaan terjawab dan kamu yang merasa kesulitan bisa segera tercerahkan.

1. Buat penulis pemula, berapa target waktu menulis yang manusiawi?


“Saya nggak pernah menulis buku, ini kali pertama saya menulis buku.”

Kemudian muncul pertanyaan, berapa lama saya bisa menyelesaikannya? Semua tergantung pada kemampuanmu dalam menyelesaikan naskah. Per hari bisa menulis berapa halaman? Andai kamu bisa menulis dua halaman per hari, maka jadikan itu sebagai target harianmu. Untuk naskah setebal 200 halaman, berarti bisa kamu selesaikan dalam waktu 3 bulan lebih.

Apakah tidak terlalu lambat? Nggak ada yang lambat, dan nggak ada pula yang cepat. Penting kelar tepat waktu. Meski awalnya cepat, tapi kalau nggak sesuai kemampuan, biasanya gagal di tengah jalan :)

2. Kapan waktu yang tepat untuk menulis?


Setiap orang punya kesibukan berbeda. Misalnya saya, pagi saya utamakan mengerjakan pekerjaan rumah. Setelah semua beres, saya baru bisa menulis saat anak tidur siang. Sisanya bisa saat malam hari setelah semua tidur, itu pun kalau anak-anak tidur lebih cepat.

Begadang sering, tapi sering nyesel juga karena nggak jarang bikin kepala pening...kwkwk. Mending tidur lebih cepat, dan bangun lebih awal.

“Tapi, aku sangat sibuk. Nggak ada waktu buat nulis!”

Satu jawaban buat kamu, mungkin kamu emang nggak niat jadi penulis, kamu belum jatuh cinta sama profesi ini.

3. Satu buku minimal terdiri dari berapa halaman, ya?


Semua tergantung jenis buku dan penerbit yang kamu tuju. Untuk naskah nonfiksi rata-rata harus terdiri minimal 100 atau 120 halaman. Maksimalnya nggak terlalu saya perhatikan juga. Saya menulis satu buku paling terdiri dari 200 halaman lebih. Nggak sampai 300 halaman :D

Untuk buku anak-anak, sesuai pengalaman aja, ya. Biasanya terdiri dari 20-25 cerita yang setiap ceritanya terdiri dari 2 halaman. So, ada sekitar 40-60 halaman.

Sebelum kirim naskah, coba pelajari dulu syarat-syarat yang diberikan oleh penerbit. Biasanya dari sana kita tahu target halaman yang harus dipenuhi.

4. Berapa jumlah buku yang wajib dicantumkan dalam daftar pustaka?


Nggak ada aturan bakunya. Kata mentor saya begitu. Hanya saja, mentor saya yang lain memang meminta saya mengisi minimal 10 buku dalam daftar pustaka.

Buku-buku referensi ini bisa didapatkan baik dari buku fisik ataupun digital. Sama aja, kok.

5. Wajibkah mencantumkan daftar pustaka untuk buku nonfiksi?


Nggak wajib, Gaes. Kalau memang murni dari pengalaman pribadi, nggak masalah dibuat tanpa daftar pustaka. Hanya saja kalau memang ada buku referensi yang kamu baca, sebaiknya dicantumkan sebagai rasa terima kasih kita serta sopan santunnya kita pada penulis tersebut.

6. Saya penulis pemula, masih nggak pede share tulisan ke publik. Bagaimana saya mengatasinya?


Saya beruntung, tidak pernah melewati masa ini kecuali beberapa kali. Selebihnya, saya selalu percaya diri menulis apa pun. Sebagai penulis, kita memang harus menunjukkan karya kita pada orang lain, kalau bisa, minta teman kita membacanya, kemudian minta kritik serta pendapatnya.

Kita tidak perlu pusing memikirkan apakah naskah kita layak dibaca banyak orang atau tidak. Tugas kita hanya menulis dan belajar supaya tulisan kita lebih baik. Apa yang buruk menurut kita belum tentu buruk menurut orang lain, lho. So, nggak usah minder. Toh semua orang pasti akan berproses menuju yang lebih baik.

7. Kak, jadi penulis penghasilannya gede, ya? Itu kenapa kakak mau jadi penulis?


Mendengar pertanyaan ini, saya pengen lemparin sendal...kwkwk. Memang ada yang benar-benar bertanya demikian. Saya mau cerita sedikit pengalaman saya.

Saat saya berdiskusi dengan editor salah satu agensi naskah, beliau sempat mempertanyakan fee yang akan saya dapatkan setelah buku terbit. Dari penerbit, penulis mendapatkan 10%. Kemudian dari 10% ini akan dipotong untuk agensi sebanyak 3%. Kemudian, karena merupakan buku cerita anak, ada potongan untuk ilustrator sebanyak 5%. Jadi, sisanya 2%. Jika buku solo, uang sebanyak 2% ini akan saya dapatkan sendiri. Sedangkan untuk buku duet, kami bagi lagi masing-masing 1%.

“Mbak, serius? Nanti mbak hanya dapat 2%, lho?” tanya editor.

Nggak masalah, asal buku saya terbit, saya sudah senang *Sok bijak banget saya jawabnya...kwkwk.

Tanpa harus panjang lebar menjelaskan, kalian tahu, kan jawabannya? Perjuangan seorang penulis itu berat, apalagi yang belum terkenal. Cerita di atas memang tidak berlaku untuk buku-buku saya yang lain, tapi setidaknya itulah gambarannya. Kalau sudah dicetak berkali-kali alias best seller, tinggal tidur dan makan aja nggak usah kerja udah lebih dari cukup :D

Namun, bagi yang masih berjuang, bayangan hidup enak itu jangan main telan mentah-mentah. Nggak semudah itu.

Waktu masih aktif menulis artikel, bayaran pertama yang saya dapatkan hanya nol nol sekian dolar, Gaes...kwkwk. Buat beli permen aja diketawain. Hingga akhirnya saya bisa mendapatkan hampir 2000$ selama aktif menulis artikel. Satu artikel ada yang dibayar hingga 500 ribuan. Dua sampai tiga halaman doang harganya segitu :D

Tenang, penulis lain ada yang bayarannya lebih gede lagi. Tapi, pernahkah kita fokus melihat proses yang mereka lakukan untuk mencapai titik sekarang?

Orang mah fokus sama hasilnya, mereka nggak tahu proses berat di belakangnya. Drama sama editor dan bosnya yang membekukan fee kami, ada fee artikel yang belum dilunasi sampai detik ini, dan masih banyak kisah kasih di sekolah lainnya...haha.

Kalau kata mas Rifa’i saat ngisi kelas, di mana harga kerja keras kita jika niatnya hanya pengen dapat uang? Saya pun akhirnya memahami, jangan cetek-cetek mikirnya, jauhan dikitlah mainnya. Karena uang bisa habis dalam sekejap. Itu benar, tapi alasan lain yang lebih kuat dan lebih lurus akan membuat kita bertahan untuk tetap menulis. Mungkin setelah ikut kelas beliau, saya mulai mendapat hidayah :D

8. Boleh nggak sih kita niat menulis asal buku terbit, asal jadi?


Boleh aja. Tapi seharusnya kita mulai meningkatkan niat kita, jangan yang itu-itu aja. Dulu, awal buku terbit mayor, senangnya bukan main. Kemudian setelah beberapa buku terbit, rasanya mulai hambar, deh. Kalau udah tahu, owh gitu rasanya? Hehe. Udah gitu doang. Nggak greget lagi seperti pengalaman pertama menerbitkan buku.

Karena itu, di awal bisa aja kita berniat menulis asal ada satu buku bisa terbit. Tapi, setelah tercapai, seharusnya kita niatkan lagi harus terbit mayor, kemudian menulis supaya best seller. Jadi, kalau mau buku laris, bukan hanya niatnya yang ditingkatkan, tapi juga kemampuan menulisnya. Tujuan best seller bukan hanya soal uang, menurut beliau, kalau buku laris, otomatis kebaikan yang kita sampaikan akan lebih meluas jangkauannya. Sepakat, ya?

Saya ingat, saat ikut seminar bersama Asma Nadia, moto kami waktu itu “Satu buku sebelum mati, bisa!”. Kemudian setelah ada buku terbit, menulis lagi dan ikut kelasnya KMO, saya katakan harus ada buku yang best seller tahun ini. Meski sampai sekarang belum ada yang best seller, nggak masalah. Saya sabar menanti dan berproses, insya Allah.

Selama ikut kelasnya mas Rifa’i, ada beberapa tahapan yang telah saya lalui, dan saya harap bisa melanjutkan sesuai yang beliau sampaikan. Yups! Best seller, insya Allah.

9. Minta bukunya, dong! Penulis, kan dapat buku banyak dari penerbit!


Idih, kamu kira kami gudang buku...kwkwk. Penulis juga harus beli bukunya sendiri jika ingin punya lebih dari sekadar bukti terbit yang biasanya dibagi-bagikan...haha.

So, dengan rendah hati, hargai jerih payah kami dengan membeli bukunya, bukan memintanya :D *Jleb.

10. Bagaimana kita menanggapi penulis yang hobinya minta disuapi terus menerus?


Udah dikasih contoh masih minta diajarin, ternyata contoh yang dikasih nggak dibaca dong, malah dilepeh...kwkwk. Apakah kita perlu membantu mereka terus menerus sedangkan mereka saja usahanya masih setengah hati?


Niat ngajarin orang lain biar bisa nulis udah bagus. Tapi, jangan juga menjadikan orang lain manja karena selalu kita layani. Biarkan mereka usaha juga. Begitu nasihat mas Rifa’i kepada saya kemarin...kwkwk. Jadi, itu adalah pertanyaan saya sendiri, sih :D

11. Bagaimana cara menularkan semangat menulis kepada yang lain?


Dengan produktif menulis kita bisa memberikan contoh pada yang lain. Jadi, orang terpacu juga untuk bisa terus berkarya seperti kita.

Adakah pertanyaan lain yang terlewat? Hmm, semoga nggak ada, ya? Jika ada pertanyaan yang mirip dengan kenyataan, mohon maaf, mungkin itu hanya serba kebetulan belaka dan tidak ada maksud apa-apa :D

Salam hangat,

Featured image: Photo by Jessica Lewis on Pexels

 

Comments

  1. persentasenya dapet kecil bgt yaa.. sangat struggle untuk penulis pemula.. Tapi saya tetap ada keinginan untuk menerbitkan buku juga.. semoga aja bisa terwujud :)

    Thanks sharingnya mbak :)

    -Traveler Paruh Waktu

    ReplyDelete
  2. Smoga terwujud, ya. uang mah bisa dikalahkan oleh kebahagiaan lain...penting tetap menulis :)

    ReplyDelete