Mendidik dengan Konsisten

Wednesday, December 4, 2019

Mendidik anak itu benar-benar butuh kesabaran. Orang yang bisa tanpa tanduk saat anak-anak ‘berulah’ pasti adalah makhluk langka yang sulit kita temukan...kwkwk. Minimal kita dongkol kalau mereka melakukan sesuatu meski nggak sambil ngomel. Lebih parah kadang pengen nangis kalau udah keterlaluan *curcol...kwkwk

Anak-anak, seluar biasa apa pun tingkahnya, saya pribadi nggak pernah menyebut mereka nakal atau bandel. Karena saya tahu, label ‘nakal’ itu benar-benar bakalan mengubah mereka menjadi anak nakal beneran. Dan lagi, belum tentu mereka yang kita anggap nakal itu memang nakal dalam artian sebenarnya. Kadang mereka hanya terlalu aktif dan tidak bisa diam saja atau justru sedang mencari perhatian dari orang tuanya.

Saya memiliki dua orang putra, satu berusia sembilan tahun, sedangkan satunya baru berusia empat tahun. Jujur saja, meski kelihatan dari luar kalem dan anteng terutama saat di depan publik, namun saat di rumah mereka ajaib banget, Gaes... :(

Ada saja keributan kecil yang terjadi setiap mereka berkumpul dan bertemu. Saat sulung sekolah, keadaan rumah jadi adem dan tentram..kwkwk. Tapi, pas dia pulang, nggak sampai lima menit, udah ada yang diributin. Heran juga kadang, mereka ajaib banget nggak pernah kehabisan ide buat mencari keributan, mulai dari rebutan bantal, tempat tidur, sampai hal remeh lainnya.

Saya pun menyetujui pendapat bahwa ibu rumah tangga itu rawan banget stres apalagi yang nggak punya kegiatan di luar persis seperti saya. Karena rutinitas sama setiap hari, nggak bertemu dengan orang luar layaknya suami yang bisa ngobrol sama teman kantornya. Jadi, belajar slow dikit itu perlu, belajar santai dikit jangan apa-apa dibesar-besarkan itu sangat penting.

Karena sebenarnya anak-anak yang sering ribut itu bisa berubah jadi manis banget dalam waktu sekejap, begitu juga sebaliknya. Jadi, misal nggak ada yang berbahaya, biarin aja sampai akhirnya mereka diam sendiri. Sharing dengan teman yang sama-sama punya dua anak pun ceritanya nggak beda jauh. Jadi, hal kayak gini memang wajar banget terjadi. Kalaupun kita maksa nasihatin mereka pas mereka ribut, bakalan jadi percuma dan bikin kesal saja.

Maka penting kitanya aja yang pintar-pintar menjaga kewarasan diri. Jangan sampai terlalu dipikir, karena pada dasarnya mereka hanyalah anak-anak yang nggak ada serius-seriusnya ketika sedang menghadapi masalah seperti ini (kecuali masalah tertentu). Cukup sering berikan pengertian dan banyak berdoa semoga badai lekas berlalu...hehe.

Konsisten Saat Mendidik


Bicara tentang konsisten, mendidik itu memang seperti main layang-layang. Kadang butuh ditarik, kadang perlu diulur. Butuh banget sabar, namun juga jangan sampai kita tidak tegas menghadapi mereka. Tegas juga bukan berarti kita boleh menyiksa mereka.

Konsisten dalam mendidik menjadi perlu karena jika kita memberikan aturan, namun hanya sekadar diucap tanpa dipraktikkan, ujungnya hanya akan jadi omong kosong atau bualan semata. Anak-anak itu pandai banget. Mereka hapal dan mengerti cara kita menghadapi mereka. Sekadar nakut-nakutin atau memang serius bisa konsisten.

Nah, anak-anak yang terbiasa dididik tidak konsisten cenderung suka seenaknya sendiri. Berulah, kemudian merengek-rengek supaya dikasihani, dia paham orang tuanya bakal nggak konsisten ketika melihat dia se-mellow itu. Ujung-ujungnya aturan nggak jadi diterapkan, ini bahaya bagi keselamatan jiwa dan raga emaknya...kwkwk.

Katakan Tidak Jika Memang Tidak


Seminggu ini, si sulung sedang menghadapi ujian. Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya di mana dia cenderung rajin parah. Dibuatkan soal, dia bakal kerjain dengan senang hati. Sedangkan untuk tahun ini, saya lihat dia cenderung lebih santai. Ya, santai kayak di pantai.

Kemarin, hal lucu dan menggemaskan terjadi. Setelah pulang sekolah, saya lihat dia membaca buku di kamar. Saya pikir dia sedang membaca buku Tematik-nya. Setelah saya longgar, saya ajak dia duduk di sebelah saya. Barulah saya tahu, ternyata dia bukan sedang belajar, melainkan sedang membaca buku Fakta-Fakta Islam alias buku bacaan koleksi dia di lemari...kwkwk.

Kaget banget saya. Jujur saja sejak awal saya katakan boleh melakukan apa pun asal dia belajar dulu, baru kemudian boleh bermain atau membaca buku. Namun, ini belum juga buka buku pelajaran, tapi sudah baca buku lain sampai mau hatam. Setelah itu, dia tidur dong dengan manisnya. Masih kalem emaknya. Saya biarkan sampai dia bangun sendiri.

Sorenya, dia asyik bermain bersama adiknya. Kali ini nggak ribut...haha. Saya ingatkan, lekas dibaca pelajarannya. Dia hanya mengiyakan. Patah hati emak...kwkwk.

Menjelang Magrib, barulah dia mau membaca pelajaran dan benar saja, sampai malam dia belum selesai. Saya sudah katakan sebelumnya, “Bunda tidak mau membantu seperti membuatkan soal jika kamu belajar sampai jam sembilan malam lewat. Karena itu sudah waktunya istirahat.”

Alhasil semalam dia mewek nangis bombay dengan sepenuh hati membujuk saya supaya mau membuatkan soal (padahal kalau dibuatin juga dia ogah-ogahan ngisinya, kok). Saya tetap pada pendirian, saya hanya ingat, jika saya turuti, besok-besok dia bakalan mengulang hal yang sama dan artinya saya bersedia dipermainkan.

Sama anak, kok, begini amat, sih? Lha, anak juga pintar banget, bahkan lebih pintar ketimbang orang tuanya. Jadi, butuh strategi khusus supaya semua bisa berjalan sebagaimana mestinya.

Saat lelah, sulung berhenti menangis dan saya katakan bahwa saya sudah bilang demikian, maka saya harus tepati ucapan saya. Dia diam dan mengerti. Minta maaf dan nyium emaknya. Saya bilang, baca saja dengan seksama apa yang belum dimengerti, karena malam ini nggak ada soal. Dia paham. Nggak ngambek lagi. Dan saya berhasil menepati ucapan saya. Subhanallah, Nak :)

Hasil dari Konsistensi


Hari ini, tanpa perlu banyak disuruh, anak sulung langsung belajar sampai selesai meskipun ya masih setengah hati. Mungkin lelah juga, pelajaran  zaman sekarang sulit minta ampun dan kalau dilihat terlalu berat untuk usianya.

Namun, mau gimana lagi? Semua mengalami hal yang sama, maka nggak ada cara lain selain menghadapinya dengan gagah berani sebagai seorang lelaki *lol.

Dua hari lagi ujian baru berakhir. Selain dia, saya pun ingin lekas liburan panjang dan tidak lagi memikirkan mata pelajaran terutama berhitung yang bikin pening. Tapi, saya mikir lagi, kalau dia libur, sudah pasti rumah isinya nano-nano mulu tiap hari...kwkwk.

Kalau dipikir, hal menyebalkan atau tidak tergantung kita yang melihat dari sisi mananya. Tingkah mereka jadi lucu dan menggemaskan kalau kita lihatnya positif aja, coba kita kesel dan jengkel, hal kecil aja bisa jadi begitu menggeramkan. Tarik napas, katakan bahwa semua akan baik-baik saja dan bisa berlalu dengan indah.

Tidak semua orang bisa menjadi ibu, karenanya, bersyukurlah kita yang telah diberi gelar itu. Tetap semangat.

Salam hangat,

Pict: Pexels.com/Berendey_Ivanov

 

Comments

  1. Untuk menjadi orang tua yang konsisten kadang perlu tekad yang kuat. Bayangin aja liat anak mewek lalu memohon sampai nyium gitu, klo tekad gak kuat pasti akan luluh lantak. Hehehe

    ReplyDelete
  2. Wah, pengingat banget nih. Sya harus banyak belajar parenting dari Mbak Muyas nih. Soalnya masih suka salah ngedidik. Huhu

    ReplyDelete
  3. Haha, iya. Seringnya memang hancur benteng pertahanan, tapi setelah itu mereka akan ulangi dan ulangi kesalahan yang sama. Bahayaanya di situ..

    ReplyDelete
  4. Hehe...sama-sama sedang belajar, Mbak..yang salah ya nggak saya posting toh...kwkwk *Pencitraan :D

    ReplyDelete
  5. Wah, mirip kondisinya dengan bocah-bocah saya nih, Mbak. Beda usia 5 tahun, tapi cowok dan cewek, tiap hari selalu ada aja yang jadi rebutan. Dan ujian semester kali ini si kakak juga santainya minta ampun, bikin Bunda sempat mewek saking gemesnya ngingetin belajar. Alhamdulillah hari ini ujian berakhir, Bunda gak perlu ngingetin belajar dan kasi pertanyaan lagi. Kalo anakku sukanya dikasi pertanyaan (dibacakan Bundanya) macem kuis-kuisan gitu, hwkwkwkwkk...

    ReplyDelete
  6. Mbak sampai nangis? Kwkwkwk. Pasti gemas minta ampun, ya. Saya pun sampai sering ngomel karena lihat anak santai banget, tapi sebenarnya itu saya harapkan sebab yang lalu dia sempat agak stres karena ujian. Lihat hasil ujiannya pun nggak mengecewakan Alhamdulillah..

    ReplyDelete
  7. Jadi inget anakku. Yang kalau di luar rumah tampak pendiam. Tapi, kalau di dalem rumah astaga. Nggak bisa diem sampai manjat-manjat pun dilakoni. Rasanya sehari nggak mungkin ga teriak2 😂. Tapi, setuju, konsisten dalam menerapkan aturan saat mendidik anak itu perlu banget

    ReplyDelete