Review Buku Anak Juga Manusia

Wednesday, October 30, 2019

Judul buku: Anak Juga Manusia

Penulis: Angga Setyawan

Penerbit: Noura Books

Tahun terbit: 2019

Tebal buku: 182 halaman

Sebuah buku parenting yang ditulis ringan oleh seorang praktisi parenting, Angga Setyawan, rupanya memberikan banyak sekali pelajaran bagi saya sebagai orang tua. Awalnya, saya mengenal sebuah akun ‘Anak Juga Manusia’ di Instagram, kemudian memutuskan menjadi followers-nya. Dari sanalah saya kemudian belajar banyak hal, terutama bagaimana cara kita bersikap yang seharusnya kepada anak-anak yang kadang bagi kita terlihat seperti manusia ajaib yang mesti serba bisa.

Ngaku, deh! Kadang kita masih sering mengabaikan anak-anak, kan? Kadang kita masih nggak rela bermain bersama mereka di sela kesibukan kita sehari-hari. Atau jangan-jangan hanya saya yang merasa demikian?

Menjadi orang tua itu belajarnya seumur hidup. Ya, meski kita sudah datang dalam seminar parenting, baca buku parenting, bahkan belajar langsung dari ahlinya, tetap saja ada celah yang membuat kita selalu merasa kurang sempurna sebagai orang tua. Saya sadar, saya manusia, pernah melalui banyak hal ‘kurang menyenangkan’ saat kecil, kemudian tak sedikit juga kadang terbawa pada cara mendidik saya saat ini pada anak-anak. Tapi, meski tahu saya tidak akan bisa menjadi orang tua yang sempurna buat anak-anak, saya ingin mengubah diri saya menjadi sebaik mungkin. Supaya mereka senang dan bangga memiliki saya, iya, sebagai ibu yang melahirkan mereka.

Mereka anak-anak yang tak bisa memilih siapa orang tua mereka. Kitalah yang mengharap mereka lahir di tengah-tengah kita. Kalau dulu kita mengalami banyak trauma masa lalu kurang menyenangkan, buatlah anak-anak tidak pernah merasakannya. Jika dulu kita merasa kurang bahagia, terkadang sering dimarahi dan dipukuli, maka sekarang saatnya kita membuat anak-anak menjadi sebahagia-bahagianya anak manusia.

Tapi, ternyata itu lumayan sulit. Tak jarang saya masih suka marah dengan hal-hal sepele. Susu tumpah, makanan jatuh ke lantai, dan masih banyak lagi. Padahal, kalau dipikir baik-baik, lantai kotor bisa dibersihkan. Meja makan kotor bisa dibereskan. Mainan berantakan bisa mereka rapikan kembali. Tapi, rasa sedih karena dimarahi itu akan membekas dan susah banget hilangnya. Kadang sayanya nggak sadar dengan hal semacam itu meski saya tahu ilmunya.

Karena itu, saya bisa mengatakan bahwa menjadi orang tua itu belajarnya seumur hidup. Nggak akan pernah selesai, bahkan meski anak-anak kita telah beranjak dewasa.

Anak-anak Belajar dari Lingkungan Terdekat


 
Anak-anak adalah Mahakarya Tuhan yang Sempurna. Tidak ada yang pernah salah dengan desain Tuhan. Semua anak terlahir suci. Anak kita hari ini adalah serangkaian apa yang mereka lihat, dengar, dan rasakan. Jangan bermimpi untuk mendidik anak-anak dengan baik, jika kita tidak mengubah cara-cara kita dalam mendidik anak, yaitu mengubah cara-cara kita memperlakukan anak dengan lebih baik. (Anak Juga Manusia, hal 9)

Anak-anak belajar dari lingkungan terdekatnya. Anak-anak belajar dari melihat bagimana orang tuanya bicara, bersikap, dan melihat. Tanpa kita minta, mereka telah mengambil teladan dari orang terdekat yang setiap hari mengisi kenangan di dalam benak mereka. Iya, mereka belajar dari kita, orang tuanya.

Tapi, tidak sedikit orang tua yang masih kurang peduli dengan anak-anaknya. Mereka lebih senang disibukkan dengan pekerjaan kantor atau bahkan lebih sibuk membalas pesan chat dari teman-teman satu angkatan saat kuliah ketimbang mengajak anak-anaknya bicara dan bermain. Mendidik memang bukan soal seberapa banyak waktu yang bisa kita habiskan di rumah. Karena itu, tak heran jika ada wanita karier yang luar biasa dalam mendidik anaknya, padahal kita lihat dia menghabiskan waktu lima hari dalam seminggu di kantor. Kok, bisa?

Karena mendidik bukan sekadar tentang banyaknya waktu kita bersama anak-anak, tetapi seberapa berkualitasnya waktu kita saat  bersama mereka. Malulah kalau kita sebagai Ibu Rumah Tangga justru tidak punya waktu berkualitas bersama anak-anak, malu dengan mereka yang siang sampai malam kerja di luar, tetapi justru berhasil membangun bonding dengan buah hati mereka.

Orang Tua Kerap Meragukan Kemampuan Sang Buah Hati


Apa yang kita harapkan dari anak-anak kita? Setiap dari kita pasti menginginkan mereka tumbuh menjadi anak yang shaleh, berbakti, sukses dunia dan akhirat, serta banyak harapan lain yang tak kalah hebatnya. Sayangnya, ternyata banyak di antara kita yang masih belum memercayai kemampuan mereka.

“Memangnya anakku bisa?” atau “Anakku bisa nggak, ya?”

Sikap pesimis kita justru merusak fitrah mereka. Seharusnya kita melihat seberapa hebat kemampuan mereka bukan dari kelemahan dan kekurangannya, melainkan dari apa yang telah mereka capai selama ini.

Jika kita mau membangun pondasi yang kuat, mustahil kita membangunnya dari kelemahan dan kekurangan, hasilnya pasti akan sangat buruk. Sebaliknya, kita mestinya fokus dengan kelebihan mereka, sehingga mereka bisa mengembangkan kemampuan itu menjadi lebih baik, bahkan kadang melampaui apa yang kita bayangkan selama ini.

Bill Gates, pendiri Microsoft yang juga merupakan salah satu orang terkaya di dunia, ternyata dulunya pernah mengalami disleksia. Louis Pasteur, sang penemu 1.800 vaksin dulunya pernah menderita attention deficit disorder (ADD). Kita juga bisa melihat, salah satunya Masyita yang memiliki kekurangan fisik, namun dia begitu dikagumi banyak orang karena suara merdu dan kuatnya hapalan Alquran yang dimiliki. Lihat mereka, tidak ada yang sempurna, tetapi berkat dukungan penuh dari orang tua, mereka berhasil mendorong diri mereka untuk mencapai batas tertinggi dari kemampuan yang dimiliki.
Semua anak terlahir dengan keyakinan belajar itu asyik karena bermain, tetapi, kita singkirkan keasyikan itu dengan menyuruhnya duduk diam di depan meja. (Anak Juga Manusia, hal 117)

Cara Anak Menerima Cinta


Kita pernah menyuruh anak untuk segera shalat, tetapi mereka masih asyik bermain. Seolah mereka tidak mendengarkan perintah kita. Kita pernah menyuruh mereka belajar dan mengerjakan PR, tapi kadang mereka memilih tidur lebih awal sehingga melewatkan tugas dari sekolah. Kita pernah menjadi tidak sabaran karena banyak alasan, tetapi kita menuntut mereka untu selalu sabar, atau meminta mereka menjadi penyabar. Tapi, lihatlah kita sebagai orang tua mereka? Sudah pantaskah memberikan contoh yang sesuai?

Di dalam buku Five Love Languages, karya Gary Champman, disebutkan 5 cara anak menerima cinta dari kita,

Pertama, melalui waktu yang berkualitas. Seperti saya sebutkan sebelumnya, banyak di antara kita yang lalai akan poin nomor satu ini. Kita sering bersama mereka, tetapi kita menduakan mereka dengan ponsel dan lebih sibuk dengan orang lain yang sebenarnya bisa menunggu. Waktu yang kita berikan sama sekali tidak berkualitas, entah mereka bisa menuturkan apa yang dirasa atau tidak, yang jelas, saya yakin mereka sangat kecewa ketika menerima perlakuan seperti ini.

Kedua, melalui pujian dan dukungan lewat kalimat yang positif. Saya pernah melihat sebuah video menarik yang dikirim oleh seorang teman dalam grup kepenulisan. Di sana diceritakan betapa seorang anak itu butuh diakui dalam artian mereka butuh dihargai, dipuji, didukung oleh orang tuanya.

Dikisahkan, seorang anak laki-laki menunjukkan nilai akademiknya yang luar biasa kepada sang ayah, dia berharap ayahnya akan bangga dengan hasil yang dia dapatkan. Sayangnya, ayahnya memilih mengabaikan dan mengatakan dia tidak bisa mengatakan apa pun selain dia sedang sibuk. Tahukah apa yang terjadi setelah itu?

Anak itu kemudian menjadi pemabuk, mengonsumsi narkoba, hingga harus mati dalam keadaan OD. Ketika ditanya apa yang menjadi alasan dia melakukannya? Karena dia merasa sudah tidak ada harganya, sudah tidak dianggap. Ya, Allah, semudah itu, lho, kita merusak kehidupan anak-anak kita sendiri.

Pujian ini sekarang jarang sekali kita dengungkan di telinga  mereka. Ketika mereka memperlihatkan hasil ujian atau ulangan, kita sibuk mencari satu nomor yang salah ketimbang melihat sekian banyak yang benar. Iya, kan?

“Wah, salah satu. Kamu salah yang mana, nih?”

Kita jadi lupa bahwa mereka sudah sangat luar biasa menyelesaikan sekian nomor lebih banyak dengan benar. Sering juga kita tidak menyadari ini.

Ketiga, berikan pelukan dan sentuhan fisik lainnya kepada anak dengan lebih sering. Iya, kita mulai melupakan hal ini, lho. Sahabat saya mengatakan, anak yang bandel dan nakal itu hanya kurang dipeluk aja, kok. Banyakin deh peluk mereka. Sudahkah kita melakukan ini?

Keempat, melayani mereka dengan baik semisal mau berdiskusi dan membantu mereka sesuai porsi kita sebagai orang tua, bukan bermaksud melayani dalam segala hal sehingga mereka menjadi pribadi kurang mandiri. Tidak demikian, ya. Tapi, kita memang punya porsi sendiri untuk membantu mereka.

Kelima, memberikan anak hadiah dengan tulus. Tentu saja bukan barang mewah yang kita berikan, melainkan perhatian kecil semisal selalu mengingat mereka setiap kali kita bepergian sehingga mereka merasa senantiasa diingat dan juga sebagai apresiasi atas usaha mereka.

Kelima cara tersebut sebaiknya menurut Angga Setyawan senantiasa dijadikan sebuah kebutuhan. Kita butuh melakukan itu, sehingga kita menjadikannya sebagai rutinitas wajib setiap harinya.
Membuat anak-anak tumbuh dalam perasaan dicintai sangatlah penting. Hal itu seperti memberi bahan bakar bagi mereka untuk mengarungi kehidupan. (Anak Juga Manusia, hal 137)

Tentang Buku Anak Juga Manusia


Beberapa poin di atas saya jabarkan setelah membaca buku Anak Juga Manusia. Buku ini dikemas sangat ringan sehingga mudah sekali dipahami. Ditulis dalam bab-bab pendek yang tidak membuat kita jenuh. Banyak sekali kalimat motivasi bagi kita orang tua, banyak juga kalimat makjleb di dalamnya yang tak jarang bikin saya keselek...hehe.

Disertai quotes motivasi juga di setiap babnya. Langsung dijabarkan sekaligus dicontohkan sehingga kita mudah sekali memahami apa yang ingin disampaikan oleh penulis.

Jujur saja, sejak mengikuti Instagramnya, saya memang langsung suka dengan kalimat-kalimat yang diposting oleh akun ini. Sederhana, tetapi memang benar dialami kita sebagai orang tua zaman sekarang yang pastinya banyak lalainya juga dalam mendidik anak-anak (ini, sih, saya..hehe).

Buku ini sangat recommended buat kita sebagai orang tua yang tidak pernah lelah ingin memperbaiki diri dan terus upgrade ilmu parenting. Ya, karena kita sedang mendidik anak sesuai zamannya, bukan seperti zaman orang tuanya tumbuh.
Hanya karena hal-hal sepele kita jadi sering tidak sabaran pada anak. Padahal, anak begitu sabar menunggu kita yang tak kunjung menjadi orang tua yang sabar. (Anak Juga Manusia)

Salam,

Comments

  1. Wah bukunya benar-benar keren dan cocok buat para pasangan muda yg akan menikah, baru menikah dan sudah menikah lama.

    Setiap anak memiliki karakter yg berbeda-beda, bahkan anak kembar sekalipun. Jadi orang tua harus punya sabar yg lebih dalam mengajarkan semua hal pada mereka, tak lupa kita harus ikhlas dan penuh kasih sayang dalam mendidiknya.

    Thanks kak reviewnya,, jadi pengen punya bukunyaa..

    ReplyDelete
  2. Merasa : "wah, iya nih, saya juga kadang begini", pas baca kalimat-kalimat yang sedikit menyentil di tulisan ini. Jadi mbayangin misal pas momong ponakan di rumah, masih banyak "marah" dan "enggak sabarannya" daripada memberikan pujian atau pelukan ke mereka.

    ReplyDelete
  3. Dalam hidup ini memang unik. Dan itu membuktikan bahwa Tuhan ikut berperan dalam kehidupan ini.
    Orang yang dulu merasakan tertekan dalam kehidupan keluarganya. Eh ternyata bisa tumbuh dengan baik.
    Dan giliran untuk menumbuhkan anaknya menjadi orang baik, merasa kesulitan. Walau sudah dalam kelingkung yang sempurna. Dikit-dikit marah.
    Saya jadi ingin memmiliki buku ini, biar tambah koleksi

    ReplyDelete
  4. Saya belum merasakan jadi orang tua, mulai sekarang harus persiapan dg terus belajar khususnya kesabaran, agar bisa menjadi orang tua yg baik hehe

    Tapi bener juga ya mbak, saya pun terkadang sering marah khusunya terhadap anak didik pas di sekolah, apakali kalau dia nakal yg paling memuncak saat kita memberikan materi malah dianya main sendiri heem rasanya ... harus banyak sabar

    ReplyDelete
  5. Ah, ya.
    Kita sering lupa, hal yang biasa dan wajar menurut kita bisa jadi sesuatu yang luar biasa berarti untuk anak-anak.
    Seperti pujian, pelukan, ciuman, ucapan tolong dan terima kasih, dan juga kata maaf yang gengsi kita ucapkan karena kita merasa lebih tau segalanya daripada anak.
    Auto interospeksi baca tulisan ini...

    ReplyDelete
  6. Betul sekali, Mbak..yuk ah dimiliki juga :)

    ReplyDelete
  7. Iya, Mas. Kadang orang dewasa emang suka lupa sama kekurangannya sendiri, tapi suka banget nyalahin anak-anak...haha. Ini sih saya kayaknya :D

    ReplyDelete
  8. Hehe, bener banget nih...

    ReplyDelete
  9. Iya, persiapannya jangan hanya nyari calonnya aja ya, Mas..hehe *bercanda :D

    ReplyDelete
  10. Benar sekali, Mbak..kita sering nggak sadar nih sama hal-hal kecil..

    ReplyDelete