Alasan Kenapa Kamu Tidak Perlu Khawatir Menikah Muda

Friday, October 25, 2019

Menikah muda bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan apalagi ditakutkan. Saya menikah di usia 19 tahun, ketika itu saya bahkan belum sepenuhnya mengenal calon suami saya. Dia bukan orang dekat, bukan teman atau kakak kelas. Dia juga bukan tetangga, bahkan saya baru bertemu dengannya sekali, kemudian dia memutuskan datang kembali untuk melamar.

Saat SMA, saya tidak berpikir ingin segera menikah di usia muda. Saya masih berharap bisa melanjutkan pendidikan lebih tinggi, ingin kuliah seperti teman-teman yang lain. Masalahnya, takdir berkata lain. Keterbatasan ekonomi membuat saya harus pasrah. Mengambil D1 di pesantren di mana saya menyelesaikan Sekolah Menengah Atas menjadi pilihan paling tepat. Setidaknya saat itu saya tidak menjadi pengangguran di rumah.

Namanya anak muda, impian waktu itu meletup-letup bukan main. Awalnya ingin sekali kuliah supaya bisa lebih mudah menjadi penulis buku. Bayangannya dulu ke arah sana, lho. Tidak mau banyak mengeluh atas sesuatu yang tidak bisa saya dapatkan, saya tetap menulis sambil menyelesaikan D1 di Sekolah Tinggi Ilmu Kitab Kuning (STIKK) An-Nur 3, Malang.

Allah berkehendak, saat liburan hari raya, dia bertandang ke rumah. Baru sadar ternyata dia adik dari salah satu guru saya di pesantren. Perlu kamu tahu, saya sempat terkejut bukan main karena nggak pernah kebayang bakalan menjadi saudara ipar dengan guru sendiri. Masalahnya bukan hanya itu, sering saat jam pelajaran saya menggambar karena bosan dan mengantuk. Salah satunya di jam-jam beliau ini...hihi. Seperti disambar petir ketika tahu saya bakalan menikah dengan adiknya. What? Nggak salah, ya? Please...cubit pipi saya!

Singkat cerita, selesai D1 saya pun menikah. Pertemuan ketiga terjadi setelah aqad. Singkat banget, ya, kisahnya? Hihi. Tapi, memang seperti itulah adanya. Saya menikah dengan orang yang usianya terpaut lumayan jauh. Dia sudah matang dan dewasa, sedangkan saya masih labil. Tapi, wajahnya sok imut, jadi sampai sekarang usia kami seperti tidak berbeda jauh *kesel...kwkwk.

Dalam perjalanannya, pernikahan di usia saya yang masih 19 tahun rupanya tidak semulus cerita dalam dongeng. Bukan hal mudah tinggal bersama orang yang baru dikenal, terlebih setelah menikah saya langsung diboyong ke Jakarta. Masa-masa adaptasi yang luar biasa. Pertengkaran kecil itu seperti makanan sehari-hari. Ada saja yang diributkan.

Tapi, saya percaya, masalah dalam rumah tangga itu akan selalu ada, tidak melihat di usia berapa kita menikah. Ini bukan semata-mata karena saya menikah muda, tetapi memang yang namanya menikah belajarnya seumur hidup. Mengenal, mengerti, memahami, memaafkan, memaklumi, saling mengingatkan, setia, belajar mencintai tanpa mengenal waktu, belajar banyak hal yang mungkin tidak pernah saya bayangkan sebelumnya.

Saya tidak pernah menyesal menikah di usia muda, meski pupus harapan untuk kuliah, tetapi saat ini Allah kabulkan impian saya menjadi penulis buku meski sambil menjadi Ibu Rumah Tangga. Kurang apa coba? Allah seperti mau bilang, "Rencanaku jauh lebih baik buat kamu. Aku lebih tahu apa yang kamu butuhkan ketimbang apa yang kamu inginkan."

Andai saat ini saya ingin kuliah, insya Allah suami sangat mengizinkan. Sayangnya, saya masih belum berani mengambil keputusan besar itu. Khawatir anak-anak jadi kurang diperhatikan karena saya terlalu banyak kesibukan. Kemarin sempat ada rencana masuk UT, sudah tanya-tanya, tetapi akhirnya diurungkan kembali. Kita lihat sampai kapan keinginan untuk kuliah akan memudar. Saya takut jangan-jangan ini hanya semangat di awal, khawatir setelahnya malah kurang antusias menjalani.

Menikah muda bukan momok menakutkan, kok. Justru di usia muda kita bisa mendapatkan banyak hal positif dalam membangun biduk rumah tangga. Memang tidak selalu sempurna, karena setiap pernikahan sudah pasti ada saja retaknya. Tapi, setidaknya kamu sudah tidak galau lagi menanggapi pertanyaan, “Kapan kamu nikah?” *Lol

Bagi yang ingin menikah di usia muda, ternyata ada banyak dampak positif yang bisa didapat. Di antaranya,

Tidak Membuang Banyak Waktu



Kalau sudah ‘klik’, ngapain nunggu lama-lama? Kalau semua sudah dianggap mampu, kenapa harus menunda-nunda? Justru kalau ditunggu terlalu lama, kadang calon kamu malah diambil sahabat karibmu, lho *horor. Menunda pernikahan padahal sudah cocok dan direstui dari kedua belah pihak malah bisa membuat kita tidak fokus dalam banyak hal. Mending segera halalkan saja.

Soal biaya dan nanti akan seperti apa, bukankah pernikahan tidak selalu lekat dengan kemewahan? Paling penting momen sakral itu disaksikan orang-orang terdekat dan sah dalam pandangan agama. Soal nanti hidup kita tidak sekaya tetangga sebelah, kan, bisa diusahakan sama-sama *manis banget nggak, sih? Haha.

Sadar kalau kita belum semapan yang lain, belajarlah untuk saling menerima dan belajar hidup sederhana. Ini bukan sekadar nasihat, tetapi memang saya alami sendiri...*curcol

Menikah Muda Membuat Kita Lebih Cepat Belajar Tanggung Jawab



Menikmati masa muda memang menyenangkan, ya. Tapi, mau sampai kapan kita bersenang-senang terus? Suatu saat kita akan mendapatkan giliran untuk menjadi kepala rumah tangga atau menjadi seorang ibu dari anak-anak kita. Dengan menikah muda, kita belajar tanggung jawab lebih awal.

Saya melahirkan putra pertama di usia 21 tahun. Sebelumnya sempat mengalami keguguran dan harus menjalani proses kuretase yang agak horor buat saya pribadi. Setelah memiliki anak, saya belajar banyak hal yang dulu belum pernah saya pelajari. Salah satunya tentang menjaga kesehatan anak-anak sehingga sebagai ibu muda, saya tidak terlalu panik menghadapi permasalahan kesehatan yang umum terjadi pada anak usia balita.

Sampai sekarang, ilmu itu (saya pelajari di milis sehat), masih saya terapkan. Bahkan sempat ada yang namanya beda pendapat antara saya dan suami. Lucu, sih. Mungkin Mas anggap saya siapa, kok, sok pinter banget melawan pendapat beberapa dokter sekaligus. Dia pasti suka gemas karena saya juga sering kekeh dengan pendapat saya pribadi dan cenderung mengabaikan anjuran dokter yang bagi saya nggak RUM (rational use of medicines).

Saya masih ingat, ketika sulung pertama kali kejang demam di usia 2 tahun, sesuai petunjuk, kami mesti membawanya ke dokter apalagi jika kejang demamnya berulang dalam waktu singkat. Setelah sampai di UGD, saya malah berdebat dengan dokter. Suami menghubungi beberapa kerabat yang juga berprofesi sebagai dokter. Semua menyarankan supaya anak saya dirawat plus diinfus. Sedangkan dia dalam keadaan sadar, menangis, mau minum, dan kondisi klinisnya bagi saya belum wajib menjalankan rawat inap.

Suami sambil bicara dan sedikit mengancam mengatakan, “Mau dirawat atau nggak, nih? Besok ayah kerja jauh, kalau ada apa-apa nggak bakalan bisa bantu.”

Meski sudah dinasihatin atau lebih tepatnya diancam...haha, saya tetap membawa pulang si sulung ke rumah. Sampai di rumah, demamnya reda, gantian emaknya yang demam. Saya sedikit memaksa dan kekeh seperti ini bukan tanpa alasan apalagi sok pintar. Saya percaya kondisi si sulung bukan kondisi darurat untuk rawat inap. Kalaupun mau observasi, saya terima, tetapi saya menolak dia diinfus dengan alasan dia mau makan dan minum. Tindakan yang tidak diperhitungkan dengan baik hanya akan membuat anak trauma dan lebih buruk bisa tertular penyakit lebih berbahaya selama menginap di rumah sakit.

Kondisi seperti ini saya alami beberapa kali, bahkan ketika bungsu lahir, saya dan suami sempat menandatangani dua surat keputusan berbeda untuk tindakan pada bayi kami yang baru lahir. Pasangan suami istri, kok, nggak kompak banget, ya? hehe.

Usia saya masih muda saat itu. Saya pun tinggal dan mandiri tanpa orang tua dan mertua setelah menikah. Membayangkan bisa mengambil keputusan besar seperti itu rasanya mustahil. Tapi, kenyataannya saya memang belajar lebih cepat untuk bertanggung jawab dan berani mengambil keputusan. Qadarallah, selama ini keputusan saya memang benar.

Kabar baiknya, sekarang Mas sudah mengerti bagaimana sebaiknya menjadi orang tua yang bijak dalam menggunakan obat. Perjuangan panjang banget mengedukasi pasangan *kibas gamis

Menikah Muda Bikin Happy Karena Sudah Sah!


Daripada kita menjalin hubungan tanpa status yang bisa menjerumuskan kita pada perbuatan dosa, kenapa tidak dihalakan saja? Menikah muda bisa membuat kita happy tanpa takut dosa. Toh sudah sah menjadi pasangan. Bahkan jadi sumber pahala.

Tapi ingat, kalau mau enaknya saja mending jangan menikah dulu. Karena menikah bukan hanya tentang bersenang-senangnya saja, tetapi juga penuh pelajaran berharga. Andai kita ingin menikah muda, jangan sampai kita mendzalimi pasangan kita. Jika belum siap, memang sebaiknya ditunda dulu. Jika sudah siap bertanggung jawab, usia tentu bukan masalah berarti karena sudah banyak contohnya dan mereka tetap happy aja menjalani.

Bisa jadi Sahabat Bagi Anak-anak


Kita sebut orang tua yang memiliki anak di usia muda itu sebagai orang tua gaul yang dapat mengikuti perkembangan anak-anaknya bahkan ia bisa mengimbanginya, mengikuti, hingga tak jarang kita lebih senang menyebutnya sebagai sahabat. Dari segi penampilan dan jarak usia pun tidak terlalu jauh bedanya jika dilihat selintas.

Semoga Allah memberikan kita umur panjang. Tapi, memang ketika kita memiliki anak di usia muda, tenaga kita pun untuk merawat mereka masih bagus. Karena mengasuh anak-anak itu bukan hal mudah apalagi ketika mereka beranjak remaja.

Karena kita masih bisa dikatakan muda ketika menjadi orang tua, kita jadi lebih mudah mengikuti dan mengimbangi kehidupan mereka. Nggak banyak ngeluarin tenaga gitu apalagi sampai ngotot-ngototan...hihi. Tapi, bukan berarti yang sudah dewasa tidak pandai mendidik juga. Hanya saja, ada orang dekat yang mengeluhkan betapa lelahnya mendidik anak remaja di usianya yang tak lagi muda di mana seharusnya ia sudah sepantasnya menggendong cucu :)

Menikah muda atau di usia yang cukup matang punya kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Masalah dalam rumah tangga bukan hanya hadir pada pernikahan usia muda, tetapi juga pada semua usia. Jadi, jangan terlalu dirisaukan. Ambil keputusan terbaik yang bisa kamu lakukan. Pikirkan matang-matang, karena setiap orang pastilah ingin menjalin hubungan serius hanya dengan satu orang saja.

Jangan sampai karena terburu-buru kita jadi menyakiti orang lain apalagi sampai tidak bisa bertanggung jawab. Saya percaya, meski masih muda, sejatinya kita sudah mampu memikirkan mana yang terbaik. So, masihkan kamu takut menikah muda?

 

*Pict by Pexels.com

Comments

  1. Wah samaan nih Mbak, saya juga baru bertemu suami untuk ketiga kalinya pas akad. Cuma bedanya kalau Mbak nikahnya umur 19 saya baru nikahnya umur 24 padahal tadinya impian saya juga pengen nikah muda, wkwkw

    Btw enak ya kalau suami sudah mengerti sekarang ini saya masih berada di masa2 sering berbeda pendapat dengan suami termasuk dalam hal pemberian obat RUM itu

    ReplyDelete
  2. Mbaknya pernah tinggal di Malang ya?
    Waah.. Membaca ini menjadikan hasrat saya ingin nikah muda menggebu-gebu tapi kembali lagi, sebagai seorang laki banyak hal yang harus diperhatikan karena bakal menjadi imam kelak

    ReplyDelete
  3. Iya, Mbak. Alhamdulillah suami udah sepaham sekarang. Kadang malah dia yang nenangin kalau sy agak panik...hehe.

    ReplyDelete
  4. Iya, saya memang asli Malang dan pindah ke jakarta setelah menikah.

    Betul, kalau laki-laki banyak yang dipertimbangkan karena akan mengemban tanggung jawab besar. semoga lekas dipertemukan dengan jodohnya ya..aamiin

    ReplyDelete
  5. Gw sampe umur segini belum nikah, wkwkwkwk

    Bukannya gak mau menikah atau menunda pernikahan, tapi belum ketemu yang 'klik'. Gw mah santai aja, tapi orang-orang sekitar yang heboh. Ini anak udah tua bangka gak kawin-kawin, wkwkwk.

    Santai, jodoh udah ada yang ngatur. Kalo jatahnya nikah muda ya tau-tau ketemu jodohnya. Kalo sampai berumur belum nikah ya berarti belum didekatkan jodohnya. Sesimpel itu cara gw mikir.

    ReplyDelete