Merajut Impian dari Langit-langit Pesantren An-Nur 3, Ketika Mimpi Tak Lagi Sebatas Ingin

Wednesday, October 9, 2019






Yup! Saya adalah alumni dari Pesantren An-Nur 3, Bululawang, Malang. Jika ditanya kapan mulai bermimpi yang benar-benar serius banget? Jawabannya ketika masuk SMA. Qadarallah saya masuk pesantren. Ini sebenarnya bukan niatan awal saya. Maunya nggak masuk pesantren karena mau ngekor teman satu bangku, kemudian karena satu dan lain hal akhirnya Allah antarkan saya masuk pesantren ini.

Ketika masih kecil, kita sering melontarkan keinginan menjadi dokter dan guru saat ditanya apa cita-citamu saat besar nanti? Berbeda dengan saya, sejak kecil cita-cita saya mau jadi pelukis. Wajar karena sejak kecil saya senang menggambar. Kemudian berkembang menjadi komikus setelah masuk SMP. Lantas setelah masuk pesantren, saya jadi tergila-gila banget dengan dunia literasi. Pokoknya aku harus jadi penulis! Tekad saya dalam hati.


Meski nggak pernah tahu mau lewat mana memperjuangkan impian itu, bahkan belum tahu bagaimana caranya, saya tetap usaha mati-matian. Jadwal sekolah dan belajar seabrek di pesantren An-Nur 3 nggak pernah menjadi alasan buat saya menyerah. Saat itu, saya belum kenal slogan “Orang sukses mencari jalan, orang gagal mencari alasan.”, yang saya pahami saat itu, aku pengen jadi penulis, maka aku melakukan sesuatu yang bisa membuatku happy menjalankan dan mengusahakannya. Satu-satunya jalan yang aku bisa hanya menulis, maka aku menulis dan terus menulis.”




Setiap dapat hadiah buku tulis tebal-tebal karena mendapat peringkat tiga besar di sekolah diniyah, selalu saya pakai buat menulis cerpen atau novela. Saat itu, mustahil pakai komputer kecuali saya membajak milik ustadz. Sayangnya, saya nggak sesadis itu, sih, walaupun impian melangit begitu tinggi...hihi. Saya juga bukan anak orang kaya, untuk membeli sebuah buku bacaan saja harus menabung sekian lama, jika terkumpul justru dipakai untuk membeli LKS...hihi. Satu-satunya cara yang bisa saya lakukan adalah mencatat semua kalimat indah dalam buku-buku yang sempat saya pinjam baik dari teman atau perpustakaan.


Zaman dulu, saya tidak memahami betapa pentingnya menulis sebuah impian di dalam buku harian. Menulisnya setiap hari, setiap malam ketika beranjak tidur. Nggak pernah paham ternyata apa yang kita tuliskan benar-benar bakal membantu kita mencapai apa yang kita inginkan. Masya Allah. Saat itu, saya hanya menuliskan impian sekadar karena saya memang benar-benar suka melakukannya. Seperti ada energi positif yang enggan beranjak setiap saya menggambarkan impian menjadi seorang penulis.


Ketika di pesantren sempat ada penulis dari Yogyakarta datang, happy bukan main. Perasaan meletup-letup tak tertahan saking senengnya. Impian semakin melambung tinggi tanpa bisa dicegah lagi. Setiap kalimat yang keluar dari Mas Shachree (salah satu penulis yang sharing ilmu), saya dengarkan baik-baik. Saya catat benar-benar di dalam hati. Saya tidak sempat membayangkan bagaimana kalau saya gagal jadi penulis? Kemudian saya harus mengganti impian itu menjadi apa? Nggak pernah ada bayangan semacam itu.


Tahun berganti, impian masih tetap sama. Nggak pernah goyah, malah semakin menjadi. Sehingga ketika saat itu datang seorang penulis senior dari Malang, almarhumah Ratna Indraswari Ibrahim, semakin menyala saja impian di dalam hati. Saya sangat percaya, andai kita memiliki keinginan kuat, usaha adalah cara terbaik dan Allahlah yang akan memampukan. Allah juga akan membuka jalannya. Kita nggak perlu khawatir.


Meski saat itu saya tidak pernah tahu akan lewat mana mewujudkan, tetapi akhirnya satu per satu jalan terbuka lebar. Misalnya, buku antologi pertama saya terbit tahun 2009. Buku ini saya kerjakan saat masih STIKK (Sekolah Tinggi Ilmu Kitab Kuning) di pesantren An-Nur 3 pada tahun 2008/2009. Nggak pernah ngebayangin bisa menulis buku bareng beberapa penulis senior dari kota Malang. Kok, bisa gabung bersama mereka, sedangkan saya saat itu masih pemula banget dalam dunia literasi. Allah begitu pemurahnya memberikan kesempatan besar itu kepada saya *mewek. Setelahnya, meski tidak selalu mudah, selalu ada kesempatan baik datang kepada saya.


Lantas bagaimana kabar impian besar itu setelah saya menikah dan menjadi ibu rumah tangga?

 

Masih zaman nggak, sih, emak-emak ngomongin soal impian? Apa nggak terlambat mengingat sekarang kesibukan nggak bisa disebut sederhana. Dari pagi menyiapkan bekal, memasak, mengantar anak sekolah (sampai depan teras maksudnya...hihi), mengantar suami ngantor (tetap sampai teras doang), dan mengerjakan pekerjaan rumah yang seabrek nggak ada habis-habisnya.


Meski telah menjadi seorang ibu, mengejar impian di masa lalu bukan hal yang memalukan, kok. Bahkan bisa jadi inilah saat yang tepat mengingat kita sudah lebih pandai mengatur waktu ketimbang waktu masih sekolah. Meskipun pada akhirnya kita harus mengorbankan waktu istirahat, bahkan sampai lupa kapan terakhir nonton film. Kita harus menerima itu sebagai pilihan yang pasti juga ada risikonya. Masa iya kita hanya mau enaknya aja, sih? Sedangkan saya pun mengerti, untuk menggapai impian tidak bisa dilewati dengan cara bersantai-santai saja.


Tahun 2013, saya lebih serius menekuni dunia literasi. Saat itu mulailah saya mengenal komunitas menulis dan beberapa penulis senior yang dengan senang hati membantu. Tahun 2014, keinginan menulis buku solo terwujud. Sayangnya, tidak semudah itu buku bisa terbit meski telah masuk penerbit dan mengantongi ISBN, buku pertama saya masih menggantung di atas awan. Iya, nggak tahu kapan terbitnya. Menunggu bertahun-tahun rasanya serupa sambil menelan duri. Apalagi setelah tahu bahwa buku itu gagal terbit setelah menunggu hingga empat tahun lebih. Ngilu.


Tahun 2017, saya memutuskan melupakan naskah pertama saya dan memulai menulis naskah baru.  Tahun ini juga saya memulai semuanya dari nol setelah sekian tahun istirahat. Saya mulai dengan mengikuti banyak kelas-kelas menulis online. Dalam sebuah kelas menulis, saya beranikan diri menulis sebuah buku kembali. Yang lalu biarlah berlalu. Kata mentor menulis saya, “Anggap aja itu jamu pahit yang menyehatkan.” Iyess, baru saya sadari ternyata masuk dunia kepenulisan begitu mengerikan. Entah kita dicurangi dan hak kita tidak dipenuhi, atau malah ada penulis lain yang menusuk kita dari belakang. Ternyata semua kemungkinan itu selalu ada. Bahkan hampir keseluruhannya sudah saya rasakan *kibas gamis.


Tahun 2018, saya memutuskan menarik naskah pertama saya dan mengirimkannya ke penerbit mayor yang lain. Keputusan ini tidak saya ambil dengan mudah, sempat berdiskusi dengan teman dan mentor, hingga kemudian saya mantap menarik naskah tersebut dan berharap bisa diterbitkan di penerbit lainnya.


Orang-orang nggak akan tahu rasanya, betapa kecewanya ketika kita punya calon buku, tetapi belum kunjung terbit. Ini bukan semata-mata tentang uang, tetapi penulis butuh fisik dari buku yang ditulisnya. Tahun-tahun berikutnya memang berjalan lebih mudah. Qadarallah, selain naskah lama yang akhirnya dipinang oleh Quanta (lini buku islami dari Elex Media), beberapa naskah lain pun menyusul dipinang oleh penerbit yang sama.



Dari langit-langit pesantren An-Nur 3, impian itu kini telah menjadi nyata



Kalau ditanya apakah impian saya sudah terwujud keseluruhannya? Belum. Saya memang sudah punya beberapa buku yang terbit mayor, dipajang di seluruh Gramedia di Indonesia, bahkan beberapa buku saya sudah meluncur ke luar negeri (meski orangnya masih di rumah aja...hihi), tapi ada beberapa impian yang masih digantungkan di langit dan belum terwujud. Selain memang sepertinya ini masih baru buat saya. Masih ingin bertahun-tahun belajar lagi supaya bisa sebaik Ustadz Salim A. Fillah saat menulis buku nonfiksi islami. Atau sebaik mbak Watiek Ideo saat menulis cerita anak. Hmm, bahkan sebaik Bang Tere Liye ketika menulis cerita fiksi. Berhubung saya memang menulis beberapa genre, jadi semua diharapkan *serakah..hihi. Intinya ini masih awal dan baru dimulai.




Bicara tentang mimpi, ternyata ada seorang adik kelas saat saya masih di pesantren An-Nur 3 yang baru-baru ini begitu dekat dan akrab dengan saya. Dulunya kami jarang banget bertegur sapa. Saya introvert, begitu juga dengan dia. Kenal pun sebatas tahu saja. Padahal, bertemu setiap hari, lho. Ajaibnya, sekarang kami malah akrab dalam suasana yang sangat berbeda. Sudah jadi emak-emak, tetapi masih kekeh pengen mewujudkan impian. 


Baru-baru ini buku kami terbit di Quanta. Dia pun berkisah tentang aktivitasnya semasa masih di pesantren An-Nur 3. Dia anggota mading Al-Fikri (mading pesantren). Dia aktif di sana sejak lama. Sedangkan saya, meski senang menulis, dari dulu tidak masuk sebagai anggota. Mengisi mading iya, sebatas diminta teman-teman membantu ketika mereka mendapatkan tugas. Dan kami bercerita mengenang zaman dulu ketika masih di pesantren.


Bagaimana kami begitu happy ketika ada orang baru datang ke pesantren, sadar kami ini nggak banyak mengenal dunia luar. Jadi, kalau ada tamu seperti penulis datang buat sharing, rasanya bahagia banget. Pengen segera dapat ilmu baru supaya bisa segera dipraktikkan.


Namanya Rizka Amalia Asdia. Berbeda dengan saya, dia punya impian menjadi ilustrator. Impiannya terbilang bisa terwujud cepat, karena tidak lama setelah kami belajar bareng tentang ilustrasi digital, dia sudah punya buku terbit mayor. Beda banget dengan kakak kelasnya ini yang mesti menunggu beberapa tahun...kwkwk.


Saya merasa heran dengan pertemuan kami sekarang, dulu nggak kenal, kok, sekarang malah akrab. Bahkan sekarang dia sedang menggarap buku saya juga. Kita sering ngobrol mengenai impian, yang kadang membuat kita begitu semangat, di sisi lain kadang nyaris membuat kita ingin berhenti berjuang saat itu juga.


Bagi kami, perjalanan ini memang dimulai sejak kami mengenyam pendidikan di pesantren An-Nur 3. Banyak banget kenangan menyenangkan saat itu, dan dari sanalah kami mulai melangitkan impian.



Tak ingin muluk-muluk, cukup lakukan yang terbaik demi mengharumkan nama pesantren An-Nur 3 di mata dunia



Bicara soal keinginan, bakalan banyak banget pendapat yang mampir kepada kami. Mau bikin ini dan itu, mau  melakukan ini dan itu. Tapi, selama itu hanya sekadar ingin, mimpi ya nggak berbeda dengan bunga tidur, jangan harap kita bisa melakukan sesuatu.


Ada orang yang hanya sekadar antusias memulai, tetapi tidak mampu mewujudkan, ada orang yang begitu heboh mau melakukan sesuatu, tetapi mental berjuangnya hanya sampai di situ atau malah ketahuan banget cuma bisa ngomporin tanpa kerja nyata alias nggak konsisten, ya udah. Kalian sama ajalah intinya. Setelah ngobrol berdua kemarin dengan Rizka, kami sepakat tetap fokus dengan impian kami. Dia menjadi ilustrator profesional, sedangkan saya menjadi penulis buku-buku best seller, insya Allah. 


Akhirnya kami sepakat,


Kita kerjakan apa yang bisa kita lakukan sekarang. Jika saya mampu menulis, maka saya akan menulis hanya tentang kebaikan demi diri saya, orang-orang yang mendukung saya, dan demi pesantren yang telah membesarkan saya. Begitu juga dengan kamu. Kamu suka menggambar, maka jadikan gambar itu sebagai media dakwah. Kita berjuang bukan hanya demi diri sendiri, tetapi juga demi banyak orang yang telah ikhlas mendoakan.

Ketika mendapatkan foto di atas, saya begitu rindu dengan kehidupan pesantren dulu. Saat itu, saya begitu senang belajar kaligrafi, belajar jurnalistik, hingga belajar menjahit. Saya rindu dengan semua itu. Tiba-tiba mata berair. Rasanya satu per satu slide kenangan di masa lalu diputar kembali. Bagaimana antusiasnya saya ketika duduk di aula itu sambil mendengarkan sharing ilmu dari para penulis yang datang jauh-jauh dari Yogyakarta. Saya pun masih ingat ketika mengikuti kelas jurnalistik bersama ustadz Heru dan ustadz Solihin.

Kita memang tidak bisa mengulang kembali masa lalu, tetapi kita bisa berjuang melakukan yang terbaik demi orang-orang yang telah membantu kita hingga menjadi seperti sekarang. Dan cara kita nggak akan selalu sama. Orang-orang introvert seperti saya dan Rizka selalu suka bekerja di belakang layar. Nggak pernah jago bicara, kalaupun dulu sempat masuk kelas dakwah di pesantren, semata-mata itu hanyalah salah jurusan...hihi. Jadi, passion kami sekarang, itulah yang kami perjuangkan. Semata-mata bukan buat kami pribadi, tetapi juga buat orang-orang telah susah payah mendoakan, mendidik, dan mendukung kami *mirip pemilu aja.



Salam hormat kepada guru-guru yang pernah mendidik saya selama ada di pesantren An-Nur 3. Dari sanalah saya belajar menjadi pejuang yang tidak akan pernah menelantarkan impian begitu saja. Dari sanalah saya belajar memperjuangkan sesuatu tanpa banyak beralasan. Dari sanalah saya belajar memercayai impian. Dari sana pula saya belajar memercayai sesuatu yang bagi orang terdengar mustahil untuk diwujudkan.


Salam,

Comments