Tuesday, May 16, 2023

Cara Ampuh Melindungi Anak dari Gigitan Nyamuk

Cara Ampuh Melindungi Anak dari Gigitan Nyamuk
Photo by Mithil Girish on Unsplash


Sebal nggak sih kalau anak kita terganggu saat bermain hanya gara-gara gigitan nyamuk? Terlebih jika nyamuk itu membawa virus penyebab DBD. Bukan hanya bikin panik kita sebagai orang tua, tapi juga membahayakan buah hati.


Saya punya pengalaman buruk sewaktu si sulung masih kecil. Waktu itu, kami sempat menginap di rumah paman yang kebetulan sedang ke luar negeri. Ceritanya kita jagain rumah kosong yang jaraknya memang nggak terlalu jauh dari rumah kami.


Merupakan hal biasa ketika sore hari banyak nyamuk berkeliaran di sana, sebab banyak pohon dan rimbun tanaman di mana-mana. Waktu itu saya ingat betul, si sulung sempat digigit nyamuk. Namun, saya benar-benar nggak nyangka kalau itu nyamuk DBD. Besoknya, si sulung demam tinggi sampai kejang demam. Saya observasi kondisinya yang makin lemah dari hari ke hari. Sampai mengangkat tangannya saja dia tidak kuat.


Akhirnya kami membawanya ke rumah sakit setelah menunggu selama 3x24 jam sebelum cek darah. Kenapa mesti menunggu sekian hari sebelum cek darah? Karena menurut yang saya pelajari dari beberapa dokter spesialis anak, cek darah terutama untuk melihat apakah itu DBD atau bukan memang harus menunggu 72 jam supaya bisa efektif. 


Hal inilah yang terjadi pada pasien anak di sebelah si sulung yang terlambat ditangai hanya karena salah diagnosa. Ketika demam hari pertama si anak sudah dibawa ke rumah sakit dan cek darah. Dokternya bilang, hasilnya bukan DBD sehingga mereka membawanya pulang ke rumah. Sampai hari ke sekian kondisinya makin memburuk dan akhirnya dia dibawa ke rumah sakit di mana si sulung dirawat, tapi dalam kondisi sudah kritis hingga harus masuk ICU.


Waktu si sulung dibawa ke rumah sakit, dia langsung cek darah dan diketahui terkena DBD. Jujur, meski sudah menebak sejak awal setelah observasi dan melihat bitnik-bintik di badannya, saya tetap belum siap. Namun, saya bersyukur kami membawanya ke dokter tepat waktu sehingga si sulung bisa segera ditangani dengan baik.


Hanya karena nyamuk, nyawa anak kita dan mungkin kita juga bisa terancam. Itulah kenapa sebal rasanya kalau ada nyamuk di mana-mana. Apalagi buat si bungsu yang bar-bar banget ketika menggaruk bekas gigitan nyamuk hingga membekas di kaki. 


Saya berusaha membersihkan lingkungan rumah supaya tidak menjadi sarang nyamuk. Salah satunya dengan tidak menumpuk barang pada satu tempat, dibersihkan secara rutin, juga tidak menanam tanaman yang terlalu rimbun supaya nyamuk tidak betah.


Cara Ampuh Melindungi Anak dari Gigitan Nyamuk 

Cara Ampuh Melindungi Anak dari Gigitan Nyamuk
Photo by Alexander Dummer on Unsplash


Jangan sampai kejadian yang menimpa si sulung terjadi juga pada teman-teman di rumah. Mencegah tentu lebih baik daripada mengobati. Sebelum terlambat, yuk terapkan cara agar anak tidak digigit nyamuk seperti yang telah saya rangkum berikut,


1. Bersihkan genangan air supaya tidak jadi sarang nyamuk. Nyamuk senang sekali mendapati kaleng bekas yang terisi air, gelas air mineral yang tak dibereskan, atau benda lain yang dapat menampung air. Hati-hati ya, teman-teman. Terkadang kita terlalu meremehkan hal semacam ini, tapi ternyata bisa berakibat fatal.


2. Jika punya bak di kamar mandi, jangan lupa dibersihkan secara rutin supaya tidak jadi tempat berkembang biaknya jentik penyebab DBD. Saya pribadi sudah tidak menggunakan bak di rumah dan memilih menggunakan shower ketika mandi. Alasannya simpel, males mau menguras sedangkan jentiknya terlalu cepat berkembang. Takutnya saya lengah ketika sedang capek dan malas menguras yang akhirnya bisa membahayakan orang serumah.


3. Jika punya tanaman, jangan lupa dicek apakah ada pot yang alasnya tergenang atau hidroponik yang jarang dibersihkan. Pengalaman saya waktu punya tanaman hidroponik mesti rajin-rajin dibersihkan atau menaburkan obat jentik ke dalam air tanaman kita. Waktu itu sempat saya tidak tahu, ternyata jentiknya sudah sehat-sehat di situ…hiks. Sejak saat itu saya rajin membersihkan dan menaburkan obat.


4. Gunakan pakaian serba panjang terutama ketika bermain di luar rumah saat pagi dan sore hari. Pilih juga pakaian berwarna cerah. Biarkan anak-anak bermain, tapi jangan lupa untuk selalu menjaga mereka di mana pun. Pakaian panjang dapat mencegah gigitan nyamuk yang lebih banyak. Meskipun agak panas sedikit, ya? hehe.


5. Ada baiknya tetap bermain di rumah di saat nyamuk banyak berkeliaran terutama saat pagi dan sore hari. Mending main di tempat yang aman supaya anak terhindar dari gigitan nyamuk yang menyebalkan.


6. Jangan lupa gunakan kelambu saat anak tidur. Kita bisa pakai tirai magnet yang bisa dipasang untuk menutup pintu dan jendela. Cara ini dapat mencegah nyamuk masuk, lho. Saya sudah menerapkan cara ini sejak lama. Anak-anak jadi lebih santai bermain di kamar meski jendela dan pintunya tetap dibuka.


7. Pasang kipas angin terutama saat anak bermain. Selain bisa menghindari udara pengap, kipas angin juga bisa mengusir nyamuk supaya tidak mudah mendekat. Anak-anak bisa bermain dengan nyaman di dalam rumah.


8. Jangan lupa gunakan lotion anti nyamuk yang aman terutama untuk anak-anak. Cara ini mungkin bisa dibilang yang paling ampuh dapat mencegah anak digigit nyamuk. Saya rutin membawa lotion anti nyamuk terutama saat bepergian di sore hari. Saya tidak ingin kejadian yang sama menimpa keluarga kami.


9. Jangan lupa gunakan salep yang dapat meredakan gatal-gatal akibat gigitan nyamuk. Inilah salah satu benda wajib yang mesti saya bawa ke mana-mana karena si bungsu yang bar-bar banget ketika menggaruk dan akhirnya menyisakan banyak bekas luka di kedua kakinya. Salep Pereda gatal bisa mengurangi rasa gatal akibat gigitan serangga sehingga si bungsu tidak sembarangan lagi menggaruk.


Banyak cara dapat kita lakukan untuk melindungi anak-anak kita dari gigitan nyamuk nakal. Jangan lupa selalu disiplin menjaga kebersihan lingkungan rumah supaya tidak jadi sarang nyamuk.


Tetap sehat, tetap waspada, ya :)


Salam hangat,


Wednesday, May 10, 2023

Kehilangan Barang di KAI, Apa yang Harus Dilakukan Penumpang?

Kehilangan Barang di KAI, Apa yang Harus Dilakukan Penumpang?
Photo by Tomas Anton on Unsplash

 

Tahun ini, seperti biasa saya melakukan rutinitas tahunan ketika lebaran, mudik! Alhamdulillah, sesuai permintaan anak-anak, kami memilih naik kereta api. Sama seperti tahun sebelumnya, saya dan keluarga naik kereta api ekskutif Brawijaya dari Jakarta menuju Malang.


Capek nggak naik kereta? Kenapa nggak naik bus, pesawat, atau bawa kendaraan pribadi? Kebanyakan orang akan mempertanyakan kenapa kami selalu memilih naik kereta akhir-akhir ini?


Sejak anak-anak mulai tumbuh besar, bisa diajak kompromi, nggak rewel di perjalanan, dan bahkan bisa menikmati perjalanan mereka, kami sepakat naik kereta. Naik kereta bisa lebih nyaman dan santai bahkan bisa menginap seperti yang anak-anak harapkan. Kalau dulu, ketika saya masih punya bayi, pesawat jadi satu-satunya pilihan supaya lekas sampai tujuan tanpa banyak kendala. Maunya yang sat set gitu, kan apalagi bawaan bisa 2 koper, belum lagi tentengannya. Bawa balita itu riweh, euy :D


Namun, sejak beberapa tahun terakhir, kami bisa melakukan perjalanan dengan lebih santai, bawa koper pun hanya satu saja sudah cukup. Naik kereta tidak khawatir macet. Benar-benar tepat waktu sampai tujuan. Berbeda dengan bus yang bikin deg-degan terutama di sepuluh terakhir bulan Ramadan.


Sampai saat ini kami belum pernah mudik menggunakan mobil. Kayaknya super capek sih apalagi di keluarga kami hanya suami yang bisa nyetir. Nggak mungkin gantian sama anak-anak apalagi istrinya yang naik sepeda aja nggak jago…kwkwk.


Dan, naik kereta di zaman sekarang itu nyaman! Bahkan yang kelas ekonomi aja sudah tertib, apalagi yang ekskutif. Tempat duduknya lega, bisa selonjoran, pegal-pegal dikit wajar, sih. Menurut saya ini masih sangat nyaman, apalagi sekarang KAI punya banyak menu, ya. Hanya saja untuk nasi goreng saya kurang suka, rasanya terlalu biasa. Menu lainnya mungkin bisa dicoba, seperti nasi ayam geprek? Lumayan kan dimakan waktu sahur, biar nambah mules di jalan…hihi.


Selama beberapa kali mudik naik kereta, baru kali ini saya meninggalkan barang tanpa sengaja di sana. Benar-benar lupa nggak cek meja kecil dekat jendela sebelum keluar. Baru sadar saat sampai di rumah, dan buruknya, sampai saat ini saya belum bisa juga mendapatkan barang saya yang amat berharga itu :(


Tenang, Ini Tip Saat Barang Tertinggal di KAI

Seperti inilah judul yang diterbitkan di laman resmi kai.id. Saya yang kemarin merasa kehilangan barang atau lebih tepatnya tanpa sengaja meninggalkan barang di KAI Brawijaya serasa dapat angin segar. Barang saya bakalan balik, nih. Dari judul sama isinya meyakinkan banget soalnya bakalan dibantu…kwkwk.


Namun, setelah mencoba beberapa cara yang disebutkan di artikel tersebut, tidak ada satu pun yang berhasil. Chat Whatsapp hanya dijawab oleh robot yang berulang kali menjawab dengan kalimat yang sama, diminta menunggu sampai waktunya habis. Begitu juga pesan DM di Instagram, dibaca pun nggak, lho. 


Saya tidak tahu, bagaimana cara mencari barang yang tertinggal di KAI sedangkan kondisi saya sudah tidak di kereta. Berbeda ketika masih di kereta, petugas memang akan mengumumkannya. Jika ditemukan dan belum ada yang ambil, katanya bakalan disimpan di pos pengamanan stasiun dan masuk pendataan sistem Lost and Found milik KAI.


Barang saya ada namanya, tapi memang ditulis pakai bahasa arab. Barang ini bukan besar nilainya, tapi besar kenangannya. Ini yang bikin saya merasa berat banget buat ikhlasin begitu saja.


Namun, setelah melakukan banyak usaha dan hasilnya nihil, saya akhirnya menyerah. Susah sih kalau pelayanannya hanya sekadar wacana alias nggak real di lapangannya. Masa semua cara nggak berhasil sama sekali? 


Kehilangan memang bukan tanggung jawab KAI, tapi sebagaimana dijelaskan, pihak KAI katanya akan dengan senang hati membantu bahkan bersedia menghubungi jika barang ditemukan. Hanya saja, jika mau melapor saja sudah kesulitan, bagaimana kami bisa dibantu?


Jaga Barangmu dan Selalu Periksa Setiap Sudut Sebelum Meninggalkan Gerbong Kereta

Biasanya saya selalu waspada dan hati-hati soal ini. Entah qadarallah kali ini saya teledor tidak cek dulu di dekat tempat duduk. Buru-buru keluar seolah tidak ada barang tertinggal.


Ketika ada di transportasi umum, sebisa mungkin memang tidak mengeluarkan barang-barang kecuali karena perlu banget. Segera kembalikan agar tidak lupa. Hal inilah yang terjadi pada saya waktu kemarin.


Hanya karena saya sempat beresin sampah makanan, saya jadi lupa menaruh barang kembali ke tempatnya. Alhasil, barang saya tertinggal dan sampai saat ini belum ditemukan juga.


Kejadian ini akan jadi pelajaran berharga buat saya supaya ke depannya tidak terulang hal yang sama lagi. Jangan sampai ada barang tertinggal lagi :(


Dari teman-teman di sini, kira-kira ada nggak sih yang pernah tertinggal barangnya di KAI?


Salam hangat,


Monday, February 27, 2023

Review Jujur Mineral Botanica Glo It Up Peptide Serum

Review Jujur Mineral Botanica Glo It Up Peptide Serum
Photo: Dok pribadi

Sudah sekitar hampir 5 bulan saya menggunakan produk dari Mineral Botanica. Salah duanya adalah serum serta hydrating toner-nya. Awalnya nggak sengaja dan ketemu review serum yang bagus di Google. Kemudian saya masuk ke femaledaily dan membaca beberapa review menarik dari skincare satu ini.


Awalnya nggak mau berekspektasi terlalu banyak juga, sih. Karena saya memang tipe orang yang wajahnya lumayan sensitif sehingga susah mau cocok sama merek-merek skincare di pasaran. Namun, nggak tahu kenapa, untuk kali ini, sejak pemakaian pertama sampai sekarang mau habis botol kedua, kulit tampaknya baik-baik saja dengan produk dari Mineral Botanica.


Saya nggak bisa menjamin kulit kalian langsung cerah dan sejujurnya saya juga nggak bisa bedain kulit saya yang dulu sebelum pakai serum ini dengan yang sesudahnya. Cuma yang bikin nyaman, kulit wajah saya nggak kusam, nggak timbul jerawat kecil yang biasa ada ketika kulit nggak cocok sama produk tertentu, jadi lembab, adem udah kayak ubin masjid…kwkwk.


Sebelumnya saya sudah beberapa kali mencoba serum dari produk kecantikan yang sudah biasa saya pakai krim dan sabun mukanya, hasilnya wajah kayak gelap, berjerawat, dan jadi berminyak. Sejak saat itu saya memutuskan berhenti pakai serum. Ngerasa nggak jodoh aja karena sampai dua jenis dicoba hasilnya selalu sama.


Saya sempat mikir, memang sudah dasarnya malas make up, tapi masa pakai skincare aja nggak bisa…huhu. Pengin juga kayak ciwi-ciwi lain yang kulitnya sehat dan cocok pakai skincare tertentu. Nggak harus glowing sampai mengilat. Cukup sehat an cerah aja udah seneng, kok.


Manfaat Mineral Botanica Glo It Up Peptide Serum

Review Jujur Mineral Botanica Glo It Up Peptide Serum
Photo: Dok pribadi


Hal yang paling menonjol ketika memakai serum dari Mineral Botanica Glo It Up ini adalah teksturnya yang cair dan bening sehingga mudah meresap di kulit. Nggak lengket dan nyaman. Meski cair, tapi serum ini nggak terlalu watery juga kok. Sehingga rasanya pas ketika diaplikasikan ke kulit wajah.


Aromanya juga lembut. Bukan tipe yang aneh gitu aromanya, jadi nggak mengganggu juga. Saya menggunakan serum ini biasanya pagi dan malam hari sebelum tidur. Saya bukan tipe orang yang rajin pakai skincare, kadang ada malas dan lupanya. Tapi, ketika rajin dipakai sekalipun, serum ini nggak bikin kulit jadi berminyak gitu. Makanya sampai saat ini saya masih tetap pakai dan nggak nyangka sudah hampir lima bulan tetap nyaman.


Mineral Botanica Glo It Up serum ini mengandung peptide, juga 7 kandungan whitening booster yang mengklaim dapat membuat kulit lebih glowing, kenyal, serta dapat mengecilkan pori-pori. Produk ini juga bermanfaat menunda penuaan dini. Jadi, mestinya memang cocok sih buat kita yang usianya sudah masuk kepala tiga, tapi masih ngerasa remaja wae…hihi.


Sejauh ini, klaim tersebut memang terasa di kulit saya. Pori-pori makin mengecil, kulit jadi lebih cerah, tapi bukan yang tiba-tiba jadi glowing juga karena memang pada dasarnya kulit saya memang putih. Agak susah bedainnya kecuali saya perhatikan betul before after-nya. Masalahnya, saya nggak sedetail itu sih buat membuktikan perbedaan setelah pemakaian teratur selama beberapa bulan terakhir.


Cuma rasanya udah cocok banget aja sama produk ini. Nggak pengin ganti yang lain lagi sih…hihi.


Mineral Botanica Glo It Up Hydrating Facial Toner


Review Jujur Mineral Botanica Glo It Up Peptide Serum
Photo: Dok pribadi


Biar lengkap, saya juga mencoba toner dari Mineral Botanica. Pas baru coba, jatuh cinta banget sama wanginya. Asli ini enak banget aromanya…huhu. Kalian mesti coba. Ini review jujur banget dari hati terdalam…kwkwk.


Untuk toner, sejujurnya saya juga agak susah cocok dengan produk lain. Nggak tahu kenapa, kalau sudah nggak cocok, bawaannya kulit jadi beruntusan gitu. Makanya jadi takut mau sering coba-coba produk kecantikan seperti ciwi-ciwi lain. Nggak bisa sembarang review, bisa-bisa wajah saya rusak.


Untuk toner ini, Mineral Botanica mengklaim bahwa produknya dapat membantu melembapkan, mencerahkan, menjaga PH normal kulit, serta bisa membersihkan sisa-sisa kotoran di hati*eh di wajah maksudnya.


Sejauh ini, seger banget setelah pakai toner ini. Terutama seperti yang saya sebutkan sebelumnya, wanginya itu lho enak banget masya Allah :D


Kemasan dan Harga

Kemasan dari Mineral Botanica Glo It Up ini lucuk sih menurut saya. Kemasannya berwarna cokelat gelap transparan, ditambah label berwarna cokelat muda menambah kesan simpel dan natural. Tutupnya yang berwarna hitam bikin enak aja dilihat.


Harga serumnya Rp. 124.900 untuk kemasan 20 ml, sedangkan tonernya Rp. 30.000 untuk kemasan 100 ml. Untuk tonernya sangat terjangkau, tapi serumnya memang lumayan dibanding serum jenis lainnya yang pernah saya pakai. Karena itu, harus pinter-pinter beli ketika sedang sale, yah…hihi.


Sejauh ini, saya jadikan dua produk dari Mineral Botanica ini sebagai salah satu skincare favorit. Semoga setelah pemakaian setahun, hasilnya makin bagus di kulit. Siapa tahu juga bisa mencerahkan masa depan, kan?


Salam,

Wednesday, January 25, 2023

Cara Menghafalkan Alquran Tanpa Menghafal Untuk Anak

Cara Menghafalkan Alquran Tanpa Menghafal Untuk Anak
Photo by Masjid Maba on Unsplash


Alhamdulillah, akhirnya tergerak kembali mengisi blog ini setelah sekian lama. Karena lebih banyak menulis naskah dan mendampingi anak-anak yang lumayan repot beberapa bulan terakhir, akhirnya blog jadi terbengkalai. Benar-benar nggak diisi berminggu-minggu :(


Kali ini, saya pengin sharing sedikit tentang metode menghafalkan Alquran tanpa menghafal. Nah, lho, gimana caranya, tuh? Hehe.


Sebenarnya, saya bukan penghafal Alquran, tapi di rumah anak-anak memang diwajibkan setor hafalan sejak masuk SD. Benar-benar rutin setiap hari. Hal inilah yang sebenarnya sangat membantu mereka supaya mau berusaha menghafal. Meski nggak dipaksa, akhirnya jadi terbiasa.


Menghafalkan Alquran memang impian semua muslim. Begitu juga ketika punya anak-anak, penginnya mereka juga menghafal Alquran. Namun, kembali lagi, tidak semua anak mau dan enjoy. Ada yang memang tidak tertarik untuk serius menghafal dan itu nggak apa-apa.


Dulu, pengin banget anak bisa menghafal 30 juz. Di bayangan kita, 30 juz itu kan banyak banget, ya? Terlebih kita sebagai orang tua bukan penghafal Alquran atau guru mengaji. Rasanya makin berat lagi.


Namun, jangan dibayangkan 30 juz sekaligus. Kita mulai saja dari juz 30 saja. Pelan-pelan saja naik ke juz berikutnya. Meskipun ingin anak-anak lekas menghafal sebanyak mungkin, tapi saya sadar kalau mereka juga punya keinginan masing-masing. Nggak semua anak mesti menghafal. Kalau mereka nggak enjoy, masih ada banyak pilihan yang bisa ditekuni. Jangan melihat hanya anak-anak penghafal Alquran saja yang bisa dianggap baik, saleh, dan masya Allah, anak lain dengan pilihannya yang berbeda juga sama meskipun dalam agama kita, menghafal Alquran memang sangat spesial.


Nggak perlu membanding-bandingkan juga dengan yang lain. Anak kita mungkin nggak pernah ngomong kalau mereka nggak suka dibandingin, tapi pasti mereka nggak suka. Soalnya saya sendiri nggak suka dibandingin sama orang tua. Begitu juga anak-anak di rumah. Saya sangat hati-hati untuk menyebut seperti Kakak atau seperti Adek yang begini dan begitu. Mending ditahan daripada anak kesal diam-diam.


Hal terberat dalam menghafal Alquran sebenarnya bukan menghafalkan ayat per ayatnya, melainkan murajaahnya. Mengulang-ulang hafalan itu berat banget. Kadang, anak sudah capek dan jenuh. Mereka juga bosan. Kadang, mereka sudah lelah menambah hafalan, tapi masih harus murajaah juga.


Sadar akan beratnya menghafal Alquran, saya jadi lebih longgar pada diri sendiri dan juga anak-anak. Nggak semua hal mesti dikuasai. Ibaratnya, masuk surga itu nggak harus lewat satu cara. Ada banyak cara lainnya yang tentunya dengan tidak melanggar aturannya Allah.


Dengan begini, kita jadi nggak terbebani juga. Anak-anak asal dibiasakan insya Allah bisa enjoy saat menghafal. Seperti menjadi kebutuhan.


Cara Menghafalkan Alquran Tanpa Menghafal Untuk Anak
Photo by Masjid Maba on Unsplash


Ada beberapa hal yang mesti dilakukan untuk membantu anak menghafalkan Alquran. Saya sharing tentang metode menghafalkan Alquran tanpa menghafal dan beberapa tip yang saya terapkan di rumah.


1. Buatlah suasana rumah selalu lebih dekat dengan Alquran. Contohnya, nyalakan murattal setiap hari. Tak peduli mereka mau mendengarkan atau tidak. Saat mereka bermain, nyalakan saja dengan suara yang cukup jelas, tak harus nyaring-nyaring. Untuk anak audio, hal semacam ini sangat membantu. Mereka akan lebih mudah mengingatnya ketika belajar menghafal.


2. Jangan menyalakan lagu-lagu di rumah. Tantangannya berat juga kalau ada orang rumah yang suka mendengarkan lagu-lagu. Sudah bisa dipastikan, semakin sering dinyalakan, semakin mudah anak-anak menyanyikan lagu-lagu semacam ini. Hal inilah yang jadi pertimbangan saya waktu itu. Karena anak-anak ini mudah sekali mengingat lagu-lagu yang enak didengar, akhirnya saya merasa ini salah dan keliru. Kenapa tidak menyalakan murattal saja? Akhirnya, setiap ada waktu dan tidak mengganggu belajar mereka, saya menyalakan murattal. Seperti saat di sekolah ketika jam istirahat. Dengan begini, kita sudah berusaha selangkah lagi dibanding sebelumnya.


3. Menggunakan aplikasi untuk mendengarkan ayat suci. Sekarang, kita dimudahkan sekali untuk menghafal dan murajaah. Nggak seperti dulu, saya mesti beli speaker murattal yang selalu rusak setiap beberapa bulan sekali. Harganya juga nggak murah, kan? Sedih banget sampai harus beli beberapa kali. Namun, sekarang kita bisa pakai aplikasi untuk membantu anak-anak menghafal Alquran di rumah. Bisa diulang per ayat sampai berkali-kali sehingga anak-anak lebih mudah menghafal.


4. Pilih hanya satu syekh yang akan didengar dan dipelajari nadanya. Anak-anak akan lebih mudah menghafal jika nadanya sama. Maka, jangan ganti-ganti syekh, ya. Cukup pilih satu saja. Di rumah, biasanya anak-anak memilih syekh Misyari Rasyid. Adem banget suaranya, masya Allah.


5. Buatlah jadwal rutin untuk menghafal per harinya. Misalnya, sepulang sekolah setelah istirahat dan main-main. Jika dibuat rutinitas, anak-anak merasa bahwa menghafal ini sebagai sebuah kebutuhan. Menghafalnya nggak perlu banyak-banyak. Kalau ayatnya pendek, bisa dua atau tiga ayat saja per hari. Jika panjang, cukup satu atau setengah ayat per harinya. Kenapa sedikit sekali? Karena anak-anak kita sekolah juga. Bukan anak yang khusus belajar menghafal seperti anak-anak pesantren yang ijazahnya paket. Jadi, pikirkan juga betapa lelahnya mereka sekolah seharian apalagi full day. Mereka juga jenuh dan butuh istirahat.


6. Metode menghafal Alquran tanpa menghafal ini sebenarnya simpel. Cukup anak diminta membaca satu ayat yang kemudian diulang berkali-kali. Awalnya 10 kali. Boleh sambil melihat ayatnya. Jika belum hafal, diulang lagi sampai 20 kali dan seterusnya. Jika anak malas menghafal, cara ini sangat membantu.


7. Anak-anak sebaiknya tidak diberikan gadget sebelum waktunya. Karena hal ini dapat menghambat semangat mereka untuk menghafal. Dan lagi, sudah banyak penelitian membuktikan dampak negatif yang jauh lebih banyak dibanding positifnya ketika anak diberikan gadget sejak dini. Tenang, anak-anak nggak akan gaptek hanya karena nggak punya gadget sendiri kok. Mereka tetap boleh pinjam milik orang tua dengan batasan tertentu sesuai kesepakatan bersama.


8. Orang tua mesti rutin membantu murajaah. Buatlah list surat-surat yang akan dihafal dan yang sudah dihafalkan. Usahakan setiap hari murajaah. Seminggu 1 juz lebih baik. Jika tidak memungkinkan tidak apa asal tetap dibantu murajaah. Supaya lebih seru, kadang saya bikin kuis tebak surat. Juga memilih surat mana yang mau dimurajaah lebih dulu menggunakan website yang dimainkan. Saya lupa sekali namanya…kwkwk. Nanti kita isi nama-nama suratnya kemudian tinggal diputar menggunakan jari. Otomatis akan terpilih 1 nama surat yang nantinya akan dibacakan kembali oleh anak-anak. Seru juga, kan? hehe.


9. Anak nggak mood? Nggak perlu dipaksa. Biarkan mereka istirahat dan melanjutkannya esok hari. Kalau dipaksa, nanti mereka stres dan akhirnya benci menghafal Alquran. Padahal, hal ini tidak harus mereka lakukan jika memang tidak mau, kan?


10. Jangan lupa berikan reward jika mereka berhasil mencapai target. Nggak perlu mahal-mahal. Beli buku, jajan es krim? Karena jika reward-nya terlalu besar, dikhawatirkan mereka menghafal karena pengin hadiah. Tentu ini bukan hal yang kita harapkan.


11. Tetap beri kesempatan anak untuk bermain dan menikmati waktunya. Ingat, masa kecil tak akan terulang. Biarkan mereka tetap bersenang-senang juga. Jangan sampai mereka menjalani impian orang tuanya. Mereka tentu punya pilihan sendiri.


Itulah beberapa cara yang bisa teman-teman terapkan di rumah jika ingin anak-anak belajar menghafal sejak dini. Jauh sebelum mereka besar, mestinya kita juga rajin menyalakan murattal di rumah sebagaimana pernah disampaikan oleh ustadz Adi Hidayat. Saya pribadi merasa agak telat juga, sih...hiks.


Jika Allah izinkan, meski hanya di rumah dan masih sekolah formal juga, anak-anak tetap bisa menghafal meskipun tak secepat yang lainnya. Semoga hafalan mereka bisa jadi cahaya yang menuntun sampai mereka dewasa nanti. Tidak ada harapan yang lebih indah selain mengharap rida Allah. Pengin menghafal biar mereka disayang Allah dan Allah jadikan anak-anak kita pemberi syafaat untuk orang tuanya di akhirat kelak.


Capek? Benar. Sangat melelahkan mendampingi mereka. Kadang, kita pengin istirahat dan selonjoran setelah aktivitas seharian, tapi anak-anak juga butuh didampingi. Maka, semoga lelahnya kita jadi pahala dan pemberat di akhirat. Tetap semangat, ya membantu anak-anak menghafalkan Alquran. Insya Allah ada kebaikan yang didapat dari usaha kita semua. 


Salam hangat,


Tuesday, December 27, 2022

Kenapa Mesti Menyenangkan Semua Orang?

Kenapa Mesti Menyenangkan Semua Orang?
Photo by Paul Garaizar on Unsplash


Sering berusaha membantu dan menyenangkan orang lain, tapi nyatanya ada saja hal-hal yang membuat sebuah hubungan menjadi renggang. Sering berusaha menjadi teman yang baik, saudara yang baik, tapi pada akhirnya ada saja yang mereka anggap kurang. Terkadang, perasaan bersalah muncul karena merasa belum bisa memberikan yang terbaik bagi mereka. Namun, benarkah perasaan bersalah ini perlu, sedangkan selama ini kita sudah berusaha memberikan semua hal yang kita bisa, semampu kita, bahkan sering kali mengorbankan diri sendiri?


Menjadi baik itu memang sebuah keharusan. Kita memang dituntut menjadi baik kepada semua orang, tapi menyenangkan semua orang, benarkah kita mampu melakukannya?


Karena perasaan orang lain merupakan salah satu yang mustahil kita kendalikan, jadi nggak aneh jika mereka sering merasa kecewa dan merasa tidak puas dengan apa yang kita berikan. Padahal, kita mati-matian lho memperjuangkan diri supaya bisa membuat orang lain senang.


Kita harus punya batasan. Sejauh mana kita bisa membantu dan menyenangkan semua orang. Sejauh mana kita bisa memberikan pertolongan dan meringankan beban orang lain. Jangan hanya karena merasa nggak enak, kita jadi mengorbankan diri sendiri apalagi mengambil alih tanggung jawab orang lain.


Nah, batasan ini yang sering kali nggak kita miliki saking pedulinya kita sama orang dan pengin diterima. Akhirnya, setiap disuruh dan diminta, kita selalu mengiyakan meski sebenarnya nggak sanggup mengerjakan semua seorang diri. Hanya karena jadi orang nggak enakan, kita selalu minta maaf, padahal nggak salah juga.


Masalah seperti ini benar-benar menguras pikiran. Jika kita nggak pandai-pandai menempatkan diri dengan baik, memberikan batasan dan merasa cukup dengan apa yang telah kita berikan, sampai kapan pun kita akan selalu merasa bersalah.


Saya pernah membaca sebuah buku yang menjelaskan bahwa, kebahagiaan orang lain bukan tanggung jawab kita. Ini bukan soal hubungan kita dengan orang tua atau melarang diri kita membantu orang lain yang membutuhkan. Ini tentang yang lain. Seperti orang-orang yang telah kita bantu sepenuh hati, semaksimal mungkin, tapi kok masih nggak disapa? Seperti orang-orang yang berusaha kita prioritaskan karena dia saudara atau teman dekat, tapi kok nggak bisa dipercaya?


Ini tentang hal-hal yang berlebihan atau lebih tepatnya bisa dianggap ‘nggak tahu diri’. Pasti kamu pernah punya teman yang sudah sangat akrab, sering kamu bantu, tapi ada satu momen yang membuat kamu merasa bahwa mestinya dia nggak melakukan itu. Jika setelah itu kamu masih belum menarik diri dan menjauh, selamat! Mungkin kamu termasuk salah satu orang yang masih nggak enakan untuk mengambil sikap.


Kemungkinan besar, orang-orang yang memperlakukan kita dengan tidak pantas setelah menerima banyak hal dari kita, entah itu perhatian atau bantuan, merasa bahwa mereka nggak berlebihan, kok. Makanya nggak pernah ada perasaan nggak enak buat minta tolong, padahal itu tugas mereka yang mestinya jadi tanggung jawab mereka.


Mereka juga nggak sungkan minta ini itu, padahal sudah berkali-kali. Itu pun tanpa apresiasi alias sekadar nyuruh!


Dengan alasan menjadi baik itu harus, bukan berarti kita mau dan harus melakukan semua hal demi orang lain. Sepertinya, ada banyak cara untuk menjadi orang baik, tidak melulu mau dimanfaatkan atau menyenangkan semua orang. Karena pada akhirnya, mereka juga harus belajar menghargai orang lain.


Lakukan Sewajarnya

Kenapa Mesti Menyenangkan Semua Orang?
Photo by Elijah Hiett on Unsplash


Sering kali kita berusaha bersikap sebaik mungkin, sampai nggak bisa menolak hal-hal yang di luar kemampuan kita. Berusaha memenuhi keinginan semua orang, meski itu sebenarnya nggak masuk akal dan memberatkan, tapi kita tetap melakukannya.


Awalnya, kita merasa begitu lega jika bisa membantu orang lain, tapi kok ujungnya jadi gini? Lho, kok aku diginiin? 


Jika masih ada yang membuatmu kecewa, artinya kamu mengharapkan sesuatu dari kebaikanmu. Kalau demikian, cobalah memberikan batasan pada diri sendiri, sejauh mana kita bisa membantu tanpa mengharapkan diperlakukan dengan cara yang sama baiknya.


Contohnya, ketika ada teman atau saudara meminjam uang, kamu pasti mau dengan senang hati membantu. Tetapi, nominal yang diminta besar sekali, kamu nggak mampu atau kamu merasa itu berlebihan, maka bantulah sewajarnya, semampumu, jangan sampai kamu memaksakan diri demi orang lain.


Orang-orang yang mengalami hal seperti ini pasti paham apa yang dimaksud. Ini bukan tentang pemberian kita pada orang tua atau pada orang-orang yang benar-benar membutuhkan. 


Ada yang bilang, nggak apa-apa dimanfaatkan, itu akan jadi urusan mereka dengan Tuhan. Namun, beberapa orang mengatakan, ketika dirinya dikecewakan, padahal sudah berusaha sebaik mungkin memperlakukan orang lain, tapi masih dianggap kurang, maka mau nggak mau kita mesti menjauh pelan-pelan. Tandain aja, deh!


Kamu, termasuk yang mana?


Sebab Kita Bukan Malaikat

Kenapa Mesti Menyenangkan Semua Orang?
Photo by Kasia on Unsplash


Penginnya bisa menyenangkan dan menolong semua orang. Terutama orang-orang terdekat, tapi kenapa sering kali kita justru dikecewakan oleh mereka juga, ya?


Orang-orang terdekat merupakan yang paling sering membuat kita kecewa. Masuk akal, karena kita selalu berusaha untuk mereka, tapi pada beberapa kasus, mereka justru sebaliknya. Tidak peduli, egois, seenaknya sendiri, dan nggak mau tahu dengan susahnya kita.


Ketika kita nggak bisa memberikan apa yang mereka inginkan, tiba-tiba nggak disapa, dimusuhin, diomongin di belakang, dianggap nggak peduli. Kebaikan-kebaikan tak terhitung sebelumnya tiba-tiba nggak dianggap. Kayak jahat banget!


Sampai di sini kita harus paham, kita ini bukan malaikat apalagi Tuhan. Sampai kapan pun kita nggak bisa menyenangkan semua orang. Jika ada yang kecewa, maka biarkan dirimu merasa cukup dengan semua yang sudah dikorbankan.


Iyap, merasalah cukup dan buatlah batasan sebab kita nggak sedang mencukupi kebutuhan anak-anak atau orang tua. Terkadang, tanpa disadari kita selalu membuat orang lain bergantung pada kita sampai-sampai membuat mereka nggak mandiri. 


Jika demikian, kita juga jadi salah dan keliru bersikap. Jangan sampai kebaikan kita malah membuat orang nggak mau berjuang untuk dirinya sendiri. Membuat mereka selalu bergantung merupakan hal yang keliru. Dan untuk memutus rantainya, kita butuh keberanian yang besar karena sadar pasti akan dianggap nggak peduli lagi.


Kita harus belajar untuk merasa cukup bukan hanya pada apa yang telah kita terima dan dapatkan, tapi juga pada apa yang telah kita berikan kepada orang lain. Karena di luar sana, ada lebih banyak orang yang benar-benar butuh dibantu dibanding mereka yang hanya memanfaatkan kita.


Salam hangat,


Monday, November 14, 2022

Sup Udang Brokoli, Cocok Untuk Anak Batuk Pilek

Sup Udang Brokoli, Cocok Untuk Anak Batuk Pilek
Sup boleh ditambahkan sayuran lain (Photo by Elena Leya on Unsplash)


Drama batuk pilek belum juga usai. Lebih sering memang dialami oleh si bungsu yang masih 7 tahun. Masih beradaptasi dengan virus setelah sekian lama ada di rumah selama pandemi. Apalagi anak-anak memang jarang main ke luar, jadilah interaksi dengan anak-anak lain memang sebatas hanya di sekolah.


Setelah minggu lalu muntah-muntah hebat seharian dan demam tinggi sampai 39,9 C. Nggak sampai seminggu sudah kena common cold lagi. Alhamdulillah nggak sampai demam dan semoga nggak demam lagi. Rasanya kayak pengin bilang capek banget, tapi takut sama Allah :(


Soal obat-obatan dalam bentuk sirup yang dilarang, nggak terlalu berpengaruh besar bagi saya dan anak-anak. Alhamdulillah, mereka bisa beradaptasi cepat dengan minum tablet paracetamol ketika demam. Tinggal dipotek aja ketika mau diminum disesuaikan dengan berat badan. Untuk anak dengan berat badan 10kg bisa pakai ¼ tablet paracetamol 500 mg. Untuk anak 20kg bisa pakai ½ tablet. Untuk aturan di kemasan obat biasanya disesuaikan dengan usia, tapi setiap anak dengan usia yang sama pasti punya berat badan berbeda. Jadi, memang sudah semestinya takaran obat disesuaikan dengan berat badan.


Informasi dosis paracetamol tablet ini saya dapatkan dari Instagram dr. Piprim Basaroh. Sebelumnya, saya sudah memberikan anak-anak obat penurun panas dalam jumlah yang sama pada si bungsu dan sulung. Alhamdulillah, nggak keliru :D


Soal obat batuk dan pilek, sejujurnya sampai sekarang saya nggak percaya dengan obat-obatan tersebut. Karena yang benar-benar bisa menolong mengencerkan dahak ya cairan. Bukan karena saya anti obat, tapi memang sudah disampaikan juga oleh beberapa dokter yang RUM soal ini. Obat-obatan yang berlebihan meski aman, tetap saja ada efek sampingnya. Kalau diperlukan dan memang jelas bermanfaat, nggak apa-apa, tapi kalau sudah overtreatment demi menenangkan orang tuanya sendiri, gimana dong?


Resep Sup Udang Brokoli

Sup Udang Brokoli, Cocok Untuk Anak Batuk Pilek
Photo by Louis Hansel on Unsplash

Karena nggak tahu mau masak apa, jadilah kepikiran buat masak sup udang ini. Supnya bening, gurih dari udang tanpa MSG, juga menyehatkan karena ditambahkan brokoli. Jika teman-teman punya udang segar, jangan terlalu lama disebus supaya nggak alot. Namun, jika udang yang dipakai nggak segar, boleh direbus bersamaan dengan brokolinya. Sekalian biar keluar kaldu gurihnya juga.


Bahan-bahannya mudah dan ini asli enak seger gitu, lho :D *jadi ngiler sendiri…kwkwk. Kebetulan si adek memang suka udang, jadi nggak masalah makan sup ini dengan nasi hangat. Lahap!


Bahan:

¼ udang segar, kupas bersih

Secukupnya brokoli

1 siung bawang putih ukuran besar, geprek

1 batang selederi, simpulkan

Secukupnya merica, gula, dan garam


Cara membuat:

1. Bersihkan udang, cuci sampai bersih. Jika udangnya berukuran besar, boleh dipotong-potong.

2. Bersihkan brokoli dan rendam dalam air garam. Kemudian cuci bersih.

3. Panaskan panci, tumis bawang putih geprek sampai harum.

4. Tambahkan air. Tunggu sampai mendidih. Boleh juga dimasukkan udangnya di tahap ini, ya.

5. Masukkan udang dan brokoli. Tambahkan daun seledri.

6. Bumbui dengan merica, gula, dan garam.

7. Rebus sebentar sampai semua matang.

8. Sajikan sup udang brokoli dengan nasi hangat. Yummy!


Kebetulan nggak ambil fotonya langsung karena malas foto-foto…kwkwk. Si bungsu lahap banget makannya. Karena dia memang suka dengan udang dan brokoli. Tapi, kalau kakaknya nggak suka udang, jadilah nggak akan disentuh walau kita sebut enaak. Ada yang begini juga anaknya?


Ketika sedang common cold begini, makannya butuh yang hangat-hangat, berkuah biar enak di tenggorokan, dan minim minyak. Jadi, makan sup udah yang paling tepat menurut saya. Jika tidak suka udang, coba bikin sup ayam. Gunakan ayam kampung atau pejantan supaya kaldunya gurih sedap. 


Jika anak tidak mau makan nasi, coba ganti dengan jenis karbohidrat lain seperti kentang, pasta, dan sebagainya. Jangan berharap anak banyak makan ketika sakit, asal masuk cairan yang cukup dan makan cukup, insya Allah aman. Nanti, setelah sehat, dia akan lahap sendiri, kok.


Salam hangat,


Thursday, November 3, 2022

Cara Cerdas Menentukan Uang Saku Anak Sekolah SD

Cara Cerdas Menentukan Uang Saku Anak Sekolah SD
Photo by Annie Spratt on Unsplash


Beberapa waktu lalu, di sekolah si Kakak sempat ada kasus pencurian uang saku. Beberapa hari belum ketemu juga setelah sempat digeledah.  Anak ini mengambil uang sejumlah 2 ribuan, 10 ribuan, hingga 20 ribuan. 


Hal yang membuat saya agak kaget karena jumlah uang saku anak-anak sekarang gede-gede juga, ya? hihi. Maklum si Kakak hampir nggak pernah jajan di sekolah karena selalu bawa bekal dari rumah. Dia hanya saya bawakan uang sekitar 5 sampai 7 ribuan yang disimpan di tasnya dan bisa dipakai jika butuh sewaktu-waktu. 


Uang dengan jumlah tersebut tidak diberikan setiap hari karena sampai berbulan-bulan pun masih utuh. Paling dipakai hanya 3 ribu untuk membeli air putih karena minumnya dia habis. Hemat amat, ya anak saya? :D


Aturan dari sekolah pernah menyebutkan bahwa uang saku anak-anak nggak boleh lebih dari 10 ribu, tapi nyatanya banyak anak membawa uang saku lebih dari itu. Jajanan di kantin sekolah memang agak sultan, ya…kwkwk. Soalnya harganya lumayan gitu. Hal ini juga sempat dikeluhkan oleh wali murid yang lain.


Karena kejadian itu, saya sampai bertanya pada si Kakak, memangnya kamu nggak pengin seperti teman-temanmu yang lain? Bisa jajan indomie seminggu sekali di sekolah atau jajan kebab dan burger? Dia jawab, biasa aja. 


Selama ini, saya membawakan dia susu UHT, roti isi selai cokelat kesukaannya, dan biskuit. Kadang, diselang seling dengan kue buatan emaknya seperti kue cubit. Dia dan adiknya nggak pernah bosan dan nggak pernah mengeluh. Ketika tahu teman-temannya punya uang saku dengan nominal yang menurut saya lumayan besar, agak kaget juga kenapa anak saya nggak pernah minta?


Saya bersyukur anak-anak nggak banyak maunya. Pun dengan menu berat untuk makan siang. Kalau dipikir, menu-menu mereka simpel-simpel banget. Nasi goreng, nasi putih dengan brokoli krispi, omelet bayam keju, ayam goreng, perkedel kentang, dan sejenisnya. Menunya akan berputar itu-itu saja, sih…kwkwk. Dan mereka kayak mau bilang, I’ts okay, Bunda. Nggak apa-apa yang penting dibawain makan…kwkwk. Nggak ada ngeluhnya kecuali dia nggak suka menunya seperti si Kakak yang kurang suka dengan ayam goreng, sedangkan adiknya lebih ke pasrah dengan semua menu :D


Semalam saya ngobrol dengan suami dan sempat bilang, Bunda nggak tahu kenapa anak-anak bisa sampai sebegitu manutnya. Kalau ditanya gimana ngajarinnya, saya juga nggak tahu mau jawab apa karena semua terjadi seperti tanpa sengaja. Ya Allah, gini amat, ya? :D


Suami saya bilang, semua bisa dibiasakan. Yes, betul. Tapi, bagi sebagian orang tua nggak mudah juga menerapkan hal semacam ini. 


Balik lagi dengan jumlah uang saku, sebenarnya bagaimana sih cara menentukan uang saku anak SD? 


Cara Cerdas Menentukan Uang Saku Anak Sekolah SD
Photo by Annie Spratt on Unsplash


Memberi Pemahaman Pada Anak Tentang Konsep Uang

Saya selalu mengajarkan pada anak-anak bahwa memperoleh uang itu nggak bisa dengan berdiam diri. Orang tua mendapatkan uang dari bekerja. Anak-anak melihat saya yang meski di rumah, tapi tetap bekerja dan berpenghasilan. Seperti itulah contohnya.


Karena untuk mendapatkan uang itu butuh usaha, kita nggak bisa seenaknya juga menghabiskan uang. Harus sesuai kebutuhan, tapi sesekali boleh menyenangkan diri sendiri dan orang lain dengan membeli hal-hal yang disenangi.


Jangan lupa, harus menabung dan juga berbagi dengan orang lain. Konsep dasar seperti ini mesti ditanamkan supaya anak-anak tidak berpikir bahwa uang bisa keluar dengan sendirinya dari mesin ATM…hihi.


Memberikan Uang Jajan Sesuai Kebutuhan

Waktu TK, anak-anak tidak diperbolehkan bawa uang saku. Jika ada yang bawa, maka harus dititipkan pada Bu Guru. Kantinnya juga nggak ada, jadi mesti ke kantin SD. Jadi, sepanjang anak-anak TK selaman 2 tahun, saya tidak pernah membawakan mereka uang saku. 


Di SD, jam istirahat ada dua kali. Jam 10an pagi jamnya jajan atau makan snack. Sedangkan jam 12 siang jamnya makan siang. Anak-anak sebagian besar akan membawa 2 bekal berupa snack dan makan siang, tapi ada juga yang hanya membawa makan berat saja.


Bagi si Kakak, tentunya dia nggak butuh banyak uang jajan harian karena setiap hari pasti akan saya bawakan bekal dan bagi dia itu sudah lebih dari cukup. Sehingga uang saku 5 sampai 7 ribu itu hampir selalu ada di tasnya sampai sekarang. Seingat saya, baru 2 kali kakak pakai untuk membeli air mineral di kantin dan baru sekali saya tambahkan selama tahun ajaran baru ini.


Saking jarangnya jajan, dulu sampai saya paksa untuk mencoba jajan di kantin. Dia memang kurang suka, karena antre dan sedikit merepotkan. Sedangkan bagi dia jajanannya mungkin nggak terlalu sesuai sama selera. Jadi, nggak worth it banget, gitu…kwkwk.


Sedangkan bagi anak yang mesti jajan di kantin, bisa dicek juga harga jajanan di kantin berapa saja. Misalnya burger 6 ribu, ditambah jajan lain yang lebih murah sudah mengenyangkan apalagi ini bukan jamnya makan berat. Jadi, jajannya sesuai kebutuhan, bukan keinginan. Jumlah 10 ribu rasanya sudah lumayan besar dan sangat cukup bahkan ada teman Kakak yang bisa menabung dari sisa uang saku 10 ribu tersebut.


Perhatikan juga, apakah anak-anak butuh uang lebih untuk naik angkot ketika pulang dan sebagainya. Tentu saja jumlahnya akan berbeda karena setiap anak punya kebutuhan berbeda.


Jika ada yang bawa lebih dari cukup, benar ini memang sesuai kebiasaan saja. Karena ada anak yang seneng banget jajan dan nggak cukup hanya sedikit. Hanya saja ketika ada perbedaan jumlah uang saku cukup mencolok begini, khawatirnya menimbulkan kesenjangan sosial…kwkwk. Seperti uang saku kita sama Sisca Kohl yang bedanya seperti langit dan bumi :D


Kasus pencurian uang di sekolah bisa terjadi juga karena alasan seperti ini. Makanya, sekolah memberikan aturan supaya semua bisa merasa nyaman dan aman.


Bikin Kesepakatan dengan Anak

Saya dan anak-anak selalu berkomunikasi tentang apa pun, termasuk ketika akan memberikan uang saku. Mereka setuju lebih senang bawa bekal dari rumah, juga bawa uang secukupnya yang nantinya bisa dipakai sesuai kebutuhan.


Apa anak-anak nggak menabung? Mereka menabung di celengan dan di bank. Ketika mendapatkan uang dari kami atau dari orang lain, mereka hampir selalu menabungnya di celengan. Ketika sudah penuh, celengan dipecahkan dan uangnya disimpan di bank.


Tahun ini, Kakak pengin bisa kurban dari uang tabungannya sendiri. Waktu denger itu lumayan kaget juga. Dia bisa pakai uang tabungannya karena jumlahnya sudah lumayan besar, tapi keinginan kurban nggak muncul dari semua anak seusia dia.


Karena anak-anak begitu hati-hati saat menggunakan uang, nggak sembarang minta ini itu, saya dan suami juga harus mengapresiasi untuk lebih sering ngasih reward buat mereka. Tapi, Masya Allah, permintaan mereka nggak pernah berlebihan. Hanya pengin komik, beli mainan nggak lebih dari 50 ribu setelah berprestasi, makan es krim, dan itu-itu saja. 


Inilah yang saya terapkan di rumah. Mungkin sedikit berbeda dengan teman-teman lainnya. Nggak apa-apa beda, setiap orang tua pasti tahu yang terbaik bagi anaknya. 


Jadi, berapa jumlah uang saku yang teman-teman berikan pada anak-anak di rumah? 


Salam hangat,