Thursday, July 8, 2021
Curhatan di Masa Pandemi
![]() |
| Indonesia, lekas pulih, ya :) |
Akhir-akhir ini, kondisi Jakarta dan daerah lain bisa dikatakan dalam keadaan ‘nggak baik-baik aja’. Kasus positif Covid-19 bukan lagi tentang orang di bumi belahan lain. Bukan tentang mereka yang ada di India apalagi Cina. Tapi, makin ke sini makin dekat dengan lingkungan kita. Entah teman-teman sesama wali murid di sekolah sulung, teman kajian, hingga keluarga.
Mulai parno banget dan panik, tapi berusaha menenangkan diri dengan banyak melakukan hal baru yang bikin sibuk. Contohnya beres-beres rumah yang biasanya nggak pernah dikerjain sampai berjam-jam. Namun, kali ini, dari pagi sampai sore baru kelar. Atau banyakin belanja buku dan baca-baca sebanyak mungkin. Semata-mata biar nggak kebanyakan pikiran.
Makin kaget waktu dengar keluarga mau ngadain acara rame-rame di kampung. Jujur kecewa banget, di saat saya yang merantau nggak bisa pulang sampai dua tahun, di sana malah mau ngadain acara dengan ngundang orang yang nggak sedikit? Please, semoga semua sehat-sehat.
Kalau edukasi dari saya sudah banyak banget, tiap telepon pasti mewanti-wanti supaya lebih banyak di rumah ketimbang keluar apalagi kalau nggak penting. Masalahnya, kondisi di sana berbeda. Pakai masker aja diketawain seolah aib. Akhirnya semua ikut-ikutan. Misal ada yang kena pun rame-rame nggak percaya. Padahal, kena Covid-19 itu bukan aib. Makin jujur kita, makin banyak yang bisa diselamatkan.
Urut kening dulu. Itulah salah satu alasan kenapa saya masih belum berani pulang, karena prokes di sana masih kurang banget. Dan alasan yang lebih penting, pengin jagain orang tua dan mertua jangan sampai kena virus. Meskipun naik kendaraan pribadi, bukan berarti kami aman seratus persen. Mencegah lebih baik daripada mengobati.
Untuk saat ini, di kampung pun nggak bisa dikatakan aman. Kalau dulu, kota-kota besar saja yang genting. Sekarang, di sana pun berbahaya dan rumah sakit mulai kewalahan. Apa yang terjadi dengan Indonesia? Kenapa bisa sampai seperti ini? Sini, yuk, cerita :(
Baca Berita di Sosial Media Bikin Parno Nggak Habis-habis
Saat ini, informasi tersebar begitu mudah. Untungnya, kita memang jadi tahu lebih cepat tentang kabar paling baru. Namun, jangan salah. Karena informasi seolah nggak bisa disaring mana hoax, mana bukan, mana yang mesti dibaca dan lihat, dan mana bukan, akhirnya penuh isi kepala gara-gara berita yang berseliweran.
Informasi tentang situasi saat ini benar-benar bikin mewek. Kalau lihat-lihat foto entah di UGD atau di pemakaman Covid-19, pasti meleleh air mata. Mulai cemas banget dengan kondisi sekarang yang satu per satu mulai kena dan nggak sedikit juga yang meninggal.
Mau kena Covid-19 atau nggak, kenapa rata-rata meninggalnya sekarang? Siaran berita kematian masa iya hampir tiap hari? Ya, Allah. Jujur ini makin bikin parno selain lihat berita di sosial media.
Saya mulai belajar buat banyakin skip lihat berita-berita, tapi tetap menjaga diri dan berhati-hati banget selama di rumah. Saya hanya keluar rumah seminggu sekali untuk belanja sayur dan kebutuhan pokok di dekat rumah. Biasanya sudah pesan sehari sebelumnya. Sekarang, saya juga sudah nggak berani belanja ke supermarket. Memilih belanja online kayaknya lebih bijak meskipun mesti keluar uang lebih untuk ojeknya.
Penting banget menjaga kewarasan jangan sampai stres. Beberapa hari ini lumayan banget kepikiran dan stres juga. Sampai susah tidur, deg-degan mulu, mau bercanda kok susah dan kayak gimana, ya. Kamu mungkin tahu rasanya kayak apa.
Kematian Sudah Pasti Waktunya
Kemarin, nggak sengaja dengerin ceramah Ustadz Adiwarman Azwar Karim tentang kematian. Kenapa mesti takut dan khawatir? Kalau belum waktunya, nggak akan dijemput, kok. Dan lagi, hidup itu mesti rida. Mau enak atau nggak, ya harus rida karena semua adalah pemberian dari Allah.
Salah satu hal yang ditakutkan dalam kondisi seperti ini adalah kematian. Kayak kematian dimajuin gitu lho jadwalnya. Padahal, kematian sudah ditentukan, nggak akan lebih maju waktunya ataupun bisa dimundurkan.
Ketakutan berlebihan akan kematian ya memang nggak perlu. Disiapin aja dalam kondisi apa pun. Entah kita duluan atau mereka. Nyesek banget nggak, sih bahas kematian dalam keadaan pandemi yang makin memburuk gini? :(
Kesedihan Nggak Selalu Harus Diperlihatkan
Kamu pasti tahu, ada orang-orang yang sengaja menyimpan kesedihannya supaya tetap waras aja. Itu cara dia supaya tetap tenang. Jadi, bukan berarti yang statusnya 'haha hihi' nggak berduka atas keadaan saat ini. Ada kalanya mereka hanya ingin mengimbangi berita-berita duka yang makin banyak setiap hari.
Saya pun sedih kalau kebanyakan baca berita duka. Memang akan merasa lebih terhibur dan lupa kalau ada status receh di sosial media. Karena makin ke sini beritanya makin nggak karuan. Kematian makin banyak, kasus positif pun meningkat.
Kita harus apa? Semua orang punya cara masing-masing untuk melewati masa sulitnya sendiri. Setiap dari kita pasti akan merasakan susah senang secara bergiliran. Nggak mungkin ada orang yang hidupnya bahagia doang, sempurna sekali hidupnya kalau begitu.
Untuk mendapatkan kebahagiaan, kita mesti menyelesaikan suatu masalah atau ujian dulu. Kalau hidupnya datar tanpa ujian dan cobaan, justru bahagia itu susah didapat. Karena bakalan hambar aja. Kalau kamu mau bahagia, selesaikan dulu kesulitanmu. Begitu kata Mark Manson, ya :D
Sehat itu Sangat Berharga
Makin ke sini makin sadar diri, bahwa bukan liburan yang paling diinginkan apalagi uang banyak. Karena punya uang banyak sekalipun nggak akan berguna jika kitanya nggak sehat. Karena bisa liburan juga nggak ada bahagianya jika kitanya sakit.
Sehat itu mahal. Kita pun makin sadar, betapa berharganya kesehatan itu. Bernapas yang dulunya semudah menarik dan mengembuskan, sekarang mesti tergantung pada tabung-tabung oksigen. Betapa karunia Allah itu luar biasa banget, tapi sering luput kita sadari.
Berapa banyak orang yang akhirnya meregang nyawa akibat sesak dan kesulitan bernapas? Banyak sekali terutama di masa pandemi ini. Tabung oksigen makin dibutuhkan. Makin dicari di sana sini. Berat ya menghadapi pandemi? :(
Kapan pandemi berakhir? Sangat berharap kita bisa segera hidup normal seperti dulu. Nggak masalah tetap pakai masker dan lebih banyak di rumah asal kondisinya nggak semencekam sekarang. Hidup dalam ketakutan dan kekhawatiran seperti ini sangat tidak nyaman. Belum lagi anak nggak bisa sekolah dan kehilangan waktu emas bersama teman-temannya.
Mungkin kita bisa berjuang bareng-bareng untuk lebih taat prokes sehingga kasus positif segera menurun dan ICU segera lengang. Harapan akan selalu ada karena kita punya Allah. Sedih, cemas, takut, dan panik itu wajar. Namun, jangan sampai kita melakukan hal-hal aneh seperti menimbun susu beruang, padahal masih ada susu cap singa…kwkwk. Stay safe, teman-teman. Kita berdoa semoga pandemi lekas berakhir dan Indonesia bisa segera pulih. Kita bisa melewati semua ini, insyaallah kita bisa!
Salam hangat,
Monday, June 28, 2021
Perjalanan Menjadi Ilustrator
![]() |
| Semua dimulai dari sini.... |
Beberapa orang pernah mengirimkan pesan di akun Instagram saya, menanyakan bagaimana cara menjadi ilustrator. Sejujurnya, saya juga baru memulai dan belum andal kalau diminta tip kecuali tekunlah berlatih :D
Saya lahir dari latar belakang keluarga sederhana. Bahkan mungkin sangat sederhana sampai-sampai untuk jajan es harga seratus rupiah saja pernah susah banget. Ayah saya seorang guru yang kemudian banting stir jadi petani sampai detik ini. Yes, saya anak seorang petani.
Sejak kecil, Ayah yang telaten ngajarin saya belajar nulis, baca, dan menggambar. Mungkin dari sinilah saya punya hobi menggambar sejak kecil. Saya nggak masuk TK, kecuali hanya beberapa minggu terakhir sebagai syarat supaya bisa punya ijazah…kwkwk. Nggak pernah betah duduk di kelas dan bawaannya nangis kalau ditinggal pergi oleh ayah saya. Jadi, Ayah capek anter dan nemenin, belum lagi malu sama ibu-ibu lainnya, kan? Di mana-mana yang anter sekolah emaknya. Tapi, saya berbeda…hehe.
Saya suka menggambar, tapi saya nggak jago juga, kok. Jadi, kalau kalian merasa belum jago, tapi pengin jadi illustrator, ya kenapa nggak? Semua bisa dipelajari dengan banyak berlatih. Nggak ada yang susah kecuali bagi si pemalas *lol
Sejak Kapan Bercita-cita Mau Jadi Ilustrator?
Zaman masih kecil, saya belum tahu dan kenal profesi ilustrator. Tahunya pelukis atau komikus. Sempat pengin jadi keduanya pada masa itu. Namun, saat saya masuk pesantren sambil menyelesaikan SMA, keinginan itu berubah dan luntur. Yup! Saya lebih pengin jadi penulis, meskipun tetap saja saya menggambar hampir setiap hari, terutama ketika ngantuk saat jam pelajaran berlangsung :(
Keinginan jadi ilustrator mungkin muncul beberapa tahun yang lalu, sih. Waktu itu pernah ikut kelasnya Pak Maman Mantox, kita belajar menggambar dari nol dan rasanya sungguh senang, meski lama-lama jadi stres bukan happy :D
Karena makin dipelajari makin tahu banyak banget yang saya 'nggak tahu'. Mesti belajar bikin garis lurus, lingkaran, dll. Kenapa muter-muter di situ aja? Kayak nggak sabar bangetlah pokoknya…kwkwk. Plis, jangan dicontoh *emang bukan teladan banget, sih…hihi.
Waktu itu saya memutuskan rehat dan fokus menulis buku dulu. Pengin, sih tetap pengin. Tapi, setelah melewati proses yang agak njelimet, saya kayak ngerasa nggak dulu, deh. Mulai berpikir bahwa nggak semua yang saya inginkan mesti terjadi. Intinya dulu milih bersyukur sudah bisa menulis buku dan diam-diam rasanya mau nyerah. Ingat, ya, diam-diam aja, kok…haha.
Pandemi datang. Dunia penerbitan seperti kaget dan mulai banyak yang tutup. Sampai ada satu buku yang saya tulis bersama teman mesti ditunda terbit hingga entah kapan. Bersyukur, tahun ini diproses meski akhirnya memilih nggak bisa masuk Gramedia. Daripada nggak terbit-terbit, kan? Curhat, Mah!
Tahun 2020 menjadi awal yang sangat menentukan buat saya…*yaelah, sok serius amat…hihi. Waktu itu, saya mulai ngeluarin tablet lagi dari lemari. Mulai menggambar lagi meskipun dari nol dan nggak tahu harus mulai dari mana. Ketika saya mencoba, saya nggak banyak berpikir macam-macam kecuali, ‘Mari kita mulai dengan sungguh-sungguh!’
Pengin Jadi Ilustrator, Mulainya dari Mana?
Kalau pengin sesuatu, jangan buru-buru bisa atau segera dapat. Semua orang, hampir semuanya pasti memulai dengan berdarah-darah. Nggak ada yang mudah kecuali kamu memilih untuk rebahan di kamar seharian.
Waktu mulai menggambar lagi, keinginan saya waktu itu bukan jadi ilustrtor juga. Hanya mau branding saja di sosial media. Karena saya senang menggambar, saya pun bikin kalimat-kalimat motivasi disertai gambar. Kalau penulis lain mungkin bisa pakai canva, dll.
Nggak nyangka, dari sini akun saya berkembang jauh lebih baik daripada sebelumnya. Saya memang setiap hari posting, kalau bolong pun, paling cuma sehari atau dua hari. Secara nggak langsung, saya juga berlatih. Udah kebayang pengin jadi ilustrator? Belum juga. Sempat ada masa di mana saya selalu menolak ketika ada yang mau pesan gambar. Ya, karena ngerasa belum layak saja dan belum berani, meski pengiin.
Dari hari ke hari saya hanya menggambar setekun mungkin. Latihan itu penting sekali, jangan nyerah karena kamu bukan anak DKV. Jangan merasa gagal hanya karena kamu nggak punya fasilitas. Jangan mudah ngeluh juga, karena pastilah capek ngerjain semuanya dan membangun apa yang kita pengin dari nol.
Ketika kita nggak tahu cara pakai aplikasi menggambar, coba bertanya pada Youtube dan cobalah dipraktikkan. Cari referensi sebanyak mungkin untuk dicoba. Begitulah cara memulainya. Bisa, kan?
Dari Mana Datangnya Klien?
Dari mata turun ke hati...hihi. Saya baru menerima pesanan gambar sederhana sekitar bulan September 2020 lewat Instagram. Waktu itu saya masih pakai tablet Samsung dengan aplikasi Ibis Pint X. Klien saya datang dari Austria. Dia pesan beberapa gambar untuk lembar aktivitas gitu. Percayalah, gambar saya masih sederhana banget waktu itu :D
Kemudian saya mengerjakan pesanan gambar untuk konten sosial media dari sebuah penerbit islami di UK. Datangnya juga dari Instagram. Saya belum berani masuk ke Fiverr, bahkan sampai sekarang. Kebanyakan klien saya datang dari Instagram atau dari kenalan klien saya yang sudah pernah pesan gambar.
Jadi, branding di sosial media itu penting, ya? Buat saya yang nggak main di Fiverr dan sejenisnya, penting banget. Hasil dari belajar dan latihan kita bisa untuk mengisi feed Instagram sekaligus untuk branding. Isilah dengan hal yang baik-baik karena nanti sosial media kita bakalan jadi cerita ketika kita udah nggak ada :)
So, di akhir tahun 2020, mulai ada lebih banyak klien datang dan menawarkan pekerjaan kepada saya. Desember 2020, pertama kalinya saya berani menerima tawaran untuk mengerjakan picture book dari penulis Mesir.
Ganti Tablet dengan iPad 8 Pakai Aplikasi Procreate
Saya bersyukur, suami mengizinkan saya untuk berkarya dari rumah. Dia paham ketika saya punya banyak DL dan nggak kesel gitu bawaannya…kwkwk. Izin dari suami buat saya adalah doa. Kalau dia ridha, insyaallah pekerjaan saya pun akan mudah diselesaikan.
Sebelum saya ganti iPad 8, saya sudah pernah pakai dua jenis tablet. Pertama banget dulu pakai tablet Advan, kemudian Samsung dengan S pen. Waktu saya bilang mau ganti iPad, suami kurang setuju. Kenapa? Ya, karena saya belum terlihat seserius itu buat ngerjain ilustrasi. Baru banget nerima beberapa pesanan, yakin tiba-tiba mau ganti Ipad 8 yang harganya nggak murah?
Jangan sampai barang yang sudah dibeli malah nggak terpakai. Jangan sampai jadi buang-buang uang hanya demi gaya-gayaan. Kalau masih bisa dipakai memang mending pakai yang ada. Namun, iPad dengan tablet android berbeda menurut saya. Lebih nyaman pakai iPad sejauh ini dan Alhamdulillah semua proyek bisa dikerjakan dengan lebih mudah tanpa kendala berarti.
Sempat mikir mau upgrade ke iPad pro, tapi jadi mikir dua kali karena iPad 8 kondisinya masih oke, barang baru, nggak ada masalah. Takutnya tergiur karena lebih gaya aja, kan? Jangan sampai, ya...kwkwk. Apalagi akhir-akhir ini saya memilih fokus lagi menulis buku. Meskipun masih menerima proyek ilustrasi, tetap sangat dipilih dan nggak semua bisa saya kerjakan disebabkan keterbatasan waktu.
Bulan Desember 2020, saya memutuskan membeli iPad 8 + Apple pencil gen 1. Waktu itu baru banget Ipad 8 muncul, jadi harganya masih lumayan. Namun, saya nggak nyesel beli iPad. Karena dari sinilah semua benar-benar dimulai :)
Picture Book Pertama

Akhir Desember 2020 setelah saya membeli Ipad, tiba-tiba ada orang kirim dm ke Instagram dan menawarkan saya pekerjaan. Iyap, saya diminta membuat gambar untuk bukunya. Dan inilah picture book pertama saya :)
Sejujurnya butuh banyak keberanian untuk memulainya. Ya, karena kalau nggak pernah, mana tahu cara dan tip bikin gambar buat picture book. Tapi, kalau nggak pernah dimulai, mungkin saya juga nggak akan belajar sampai sejauh itu.
Saya banyak bertanya kepada teman yang lebih senior. Benar-benar bantuan dari orang lain sangat membantu. Kenapa? Ya, karena nggak semua hal bisa kita temukan di Google atau Youtube. Termasuk soal menentukan harga. Dari klien Indonesia pasti beda harga dengan klien luar negeri. Itu butuh ilmu, nggak sembarangan nentuin *sok tahu ya, saya...haha.
Masyaallah tabarakallah. Dari akhir Desember 2020 hingga Juni 2021, saya telah mengerjakan ilustrasi untuk 5 picture book, ilustrasi untuk 4 buku nonfiksi, sekian banyak cover buku dan foto, serta sekian yang lainnya.
Saya sungguh bahagia mengerjakan semuanya, terutama jika saya mengerjakan ilustrasi untuk buku sendiri…kwkwk. Nggak galau mau revisi…hihi.
Klien saya nggak serta merta datang begitu saja. Apalagi saya bukan ilustrator senior yang telah dikenal banyak orang. Mereka datang dan menawarkan pekerjaan setelah melihat beberapa ilustrasi yang saya buat. Terutama yang telah saya upload di sosial media seperti Instagram dan Facebook.
Jadi, buat yang tidak masuk ke Fiverr, ikut agensi, atau jadi tim illustrator lain, branding di sosial media itu penting. Karena dari sinilah kita akan dikenal sebagai ‘siapa’.
Ada teman-teman ilustrator yang nggak aktif di sosial media, tapi tetap dapat job. Semua orang punya cara dan rezeki masing-masing. Apa yang saya sampaikan di sini adalah murni dari pengalaman saya dan nggak ada hubungannya dengan orang lain. Yes, ya? :D
Jadi, apa yang saya kerjakan mungkin berbeda dengan mereka di luar sana, tapi saya bahagia menjalaninya. Saya bukan termasuk orang yang senang menerima banyak job sekaligus, saya memilih untuk close pemesanan ketika mengerjakan proyek supaya nggak stres. Saya mesti kelarin satu proyek dulu, ketimbang menumpuk pekerjaan. Saya senang dapat uang dari kerja keras sendiri, tapi saya juga pengin menikmati hidup dengan wajar :)
Apakah cerita saya sudah cukup mencerahkan seperti krim pemutih? Kwkwk. Semoga pikiranmu berubah setelah membaca postingan ini. Dari yang awalnya mau nyerah berubah bersemangat memulai lagi. Setumpuk love buat kamu. Semangat, ya :)
Salam hangat,
Tuesday, June 15, 2021
Resep Membuat Kue Lumpur Tanpa Oven
![]() |
| Yuk, sajikan kue lumpur tanpa oven di rumah (Photo: Asianfoodnetwork.com) |
Saya senang memasak atau membuat kue, terutama selama pandemi. Kemudahan mencari informasi di dunia maya, termasuk mencari resep yang mudah dicoba, menjadikan saya semakin rajin menyajikan makanan di meja makan. Iya, masak sendiri itu lebih nyaman dalam kondisi seperti sekarang. Selain lebih terjamin kebersihan serta bahan-bahannya, aktivitas ini bisa menjadi salah satu alternatif untuk menghilangkan kebosanan.
Males di rumah terlalu lama, tapi mau keluar rumah juga parno. Akhirnya, saya melakukan banyak hobi lama, termasuk nge-baking. Sekalian ajak anak-anak juga biar terhibur. Agak riweh memang kalau mau masak bareng mereka, tapi happy banget apalagi kalau mereka ikut senang dan menikmati juga.
Dapur jadi berantakan? Itu salah satu risikonya…hihi. Ajak anak-anak juga untuk membantu membereskan. Mereka akan dengan senang hati membantu, kok asal kita mau ngasih kesempatan. Dan inilah yang saya terapkan kepada anak-anak.
Salah satu peralatan yang diperlukan bagi yang suka bereksperimen di dapur untuk membuat kue adalah oven. Dengan oven, akan memudahkan kita membuat berbagai macam kue yang bisa dinikmati sendiri maupun dijual.
Misalnya, saya sering membuat roti sendiri, entah itu roti tawar atau roti manis isi berbagai macam selai. Bikinnya nggak terlalu sulit, kok. Butuh lebih sabar saja karena mesti proofing hingga beberapa kali untuk menghasilkan roti yang lembut.
Biasanya, anak-anak ikut bantu membentuk adonan roti menjadi bentuk yang mereka inginkan. Saya bebaskan mereka dan dengan senang hati saya berikan sebagian adonan supaya mereka senang bisa dapat bagian ‘membantu’ sambil bersenang-senang.
Selain roti, saya juga senang membuat bolu pakai oven. Pokoknya, oven ini berguna banget karena banyak sekali jenis kue yang bisa kita buat di rumah. Termasuk juga kue kering yang biasa menghiasi meja tamu saat lebaran dan nggak bisa mudik seperti dua tahun terakhir.
Baking Tanpa Oven, Bisa Nggak, ya?
Akan tetapi, bagi pencinta kue yang tidak mempunyai oven di rumah, tidak perlu khawatir. Masih ada banyak varian kue yang bisa dibuat tanpa menggunakan bantuan oven dan cukup menggunakan rice cooker ataupun kompor yang ada di rumah. Terutama untuk ibu-ibu muda yang baru menikah dan belum jago nge-baking. Nggak perlu khawatir nggak bisa bikin kue, karena memasak atau ngebaking nggak harus pakai peralatan mahal dan merepotkan. Cukup dengan perkakas yang ada di rumah saja dan manfaatkan dengan sebaik-baiknya.
Waktu awal menikah, saya juga nggak jago masak, kok. Malah serba nggak bisa apa-apa karena selain masih muda, saya juga nggak ada pengalaman sering masak sendiri selama masa sekolah. Di pesantren, kami tidak diperkenankan memasak sendiri karena khawatir membuat kami kehabisan waktu dan capek. Sedangkan aktivitas belajar padat banget selain sekolah formal.
Pas udah nikah, kayak nggak tahu apa-apa selain masak nasi pakai rice cooker…kwkwk. Sedangkan sosial media nggak semudah sekarang, apa-apa serba susah. Beli buku resep pun sering nggak jelas isinya. Selalu nggak berhasil pokoknya.
Namun, kita nggak boleh menyerah. Semua akan bisa karena terbiasa. Saya pun percaya meski lebih banyak nggak percayanya, terutama ketika melihat hasil masakan nggak ada yang bener…hihi. Sudah capek-capek bikin sesuai resep, kok hasilnya gini? Hiks. Sering banget ngalamin semua itu.
Seiring berjalannya waktu, akhirnya pinter juga, kok. Masih ingat juga pertama kali bikin roti dan berhasil, terharu banget dan bangga banget, lho. Sebelumnya, entah berapa kali gagal bikin roti. Padahal, ngulennya aja sudah sampai tengah malam, tapi ujung-ujungnya bantetlah atau malah nggak matang dengan sempurna.
Setelah berhasil, akhirnya berani nyoba lebih banyak resep lagi. Karena aktivitas lumayan padat, tapi mesti nyiapin sarapan serta bekal sekolah untuk anak, akhirnya lebih banyak nyoba resep-resep simpel yang nggak membutuhkan oven untuk proses memasaknya. Iya, cukup pakai Teflon, cetakan kue cubit, dll.
Resep Kue Tanpa Oven
Salah satu kue yang tidak membutuhkan oven untuk membuatnya adalah kue lumpur yang mempunyai rasa enak dan tampilan sederhana. Siapa yang nggak tahu kue lumpur? Biasanya, kue lumpur jadi kue wajib dalam acara hajatan dalam keluarga besar saya. Selain mudah dibuat, rasanya juga enak. lembut dan gurih.
Untuk membuat kue lumpur, kita hanya membutuhkan bahan sederhana, yaitu:
- Gula pasir 250 gram
- Telur 2 butir
- Kuning telur 1 butir
- Santan 500 ml
- Tepung terigu serbaguna 250 gram
- Kentang kukus 500 gram, lumatkan hingga halus
- Margarin blueband 100 gram, cairkan terlebih dahulu
- Vanili ½ sendok teh
- Daun pandan 2 lembar, simpulkan
- Kismis secukupnya untuk topping
Cara membuat kue lumpur tanpa oven:
- Rebus santan terlebih dahulu. Tambahkan garam dan daun pandan. Aduk hingga mendidih dan angkat. Biarkan hingga dingin.
- Kocok telur. Tambahkan gula, kemudian masukkan vanili.
- Tuang santan pada adonan yang dibuat sedikit demi sedikit. Masukkan terigu dan kentang.
- Aduk rata dan campurkan blueband yang telah dicairkan.
- Panaskan cetakan dan olesi dengan margarin. Tuang adonan yang telah dibuat secukupnya saja.
- Masak setengah matang, kemudian berikan topping berupa kismis.
- Tunggu hingga matang dan kue lumpur siap dinikmati.
Resep membuat kue lumpur di atas mudah untuk diikuti karena mempunyai bahan dan peralatan yang sederhana. Untuk mendapatkan bahan tersebut juga sangat mudah, salah satunya bisa didapatkan dari TokoWahab yang merupakan distributor bahan kue online, sehingga menawarkan banyak sekali bahan yang bisa dipilih dan didapatkan. Mulai dari coklat lengkap, keju, tepung, berbagai bahan topping, mentega dan banyak bahan kue lainnya.
Belanja Online Lebih Aman
Teman-teman pasti setuju, jika belanja online sangat membantu terutama dalam kondisi pandemi seperti sekarang. Saya, selama dua tahun ini, benar-benar nggak pernah pergi ke pasar untuk sekadar belanja kebutuhan sehari-hari. Mending beli online jika berupa bahan-bahan kering seperti bahan-bahan kue, dll.
Buat saya, selain hemat waktu, juga hemat tenaga dan tentu saja jauh lebih aman. Jika teman-teman punya toko bahan-bahan kue, bisa banget belanja grosir di TokoWahab. Selain menjual bahan-bahan kue yang kita butuhkan, TokoWahab juga menjual peralatan kue, lho. Kerennya, bisa kirim ke seluruh wilayah di Indonesia.
Selain kue lumpur, ada banyak resep kue-kue tradisional tanpa oven. Misalnya kue cubit, kue cucur, bolu kukus, dll. Yuk, kita mencoba berbagai resep sederhana di rumah. Lumayan banget buat ngisi waktu kosong dan menghibur diri.
Salam hangat,
Saturday, June 12, 2021
Cerita di Balik Proses Menulis Buku Belajar Jadi Lebih Baik
Sudah baca buku terbaru saya yang terbit di Genta Hidayah? Judulnya Belajar Jadi Lebih Baik. Buku ini seperti jawaban atas doa-doa saya. Juga atas impian yang malu-malu saya sampaikan. Karena merasa minder dan hampir nggak percaya bisa melakukannya. Sampai detik ini, rasanya kayak mimpi bisa ngerjain ilustrasi sendiri. Pernah ada di posisi seperti saya? :D
Tahun lalu, saya pernah menulis caption di Instagram, berharap tahun 2021 ada buku terbit dan saya ilustrasikan sendiri. Dan buku Belajar Jadi Lebih Baik seolah menjadi jawaban atas keinginan yang malu-malu saya ungkapkan pada tahun sebelumnya.
Gambar-gambar yang saya buat dalam buku ini memang terbilang terlalu cepat pengerjaannya, kayak di-uber-uber waktu cetak. Gambarnya sudah pasti masih jauh sekali dari sempurna. Namun, saya bersyukur bisa menyelesaikan semuanya tepat waktu.
Dalam usia saya yang sudah nggak lagi muda, rupanya saya masih senang mengejar impian. Kadang, suka lupa sama umur kalau sudah ngerjain banyak hal yang saya suka. Apalagi kerjaan saya memang bukan pegawai kantoran. Saya bekerja di rumah, waktunya fleksibel, dikerjakan saat saya longgar dari kewajiban mengurus rumah dan anak-anak, pokoknya senyamannya aja dikerjain. Dan ya, sepertinya inilah hidup yang saya inginkan, masyaallah.
Saya bersyukur sekali karena punya pasangan yang sangat mendukung. Mas tahu saya nggak suka keluar rumah, pekerjaan saya sebagai penulis dan ilustrator sudah yang paling nyaman. Nggak harus interaksi dengan banyak orang secara langsung sebab itu bukan 'saya' banget. Saya pun bersyukur karena Mas ngasih izin dan juga membantu ketika saya membutuhkan.
Usia Bukan Alasan Untuk Berhenti Bermimpi
Saya menikah di usia 19 tahun. Kemudian ikut suami ke Jakarta dan menetap hingga sekarang. Waktu awal menikah, saya nggak kepikiran mau ngapain aja di rumah. Demi mengusir rasa bosan, saya melakukan banyak hal, misalnya bikin kerajinan dari kertas krep, bikin bunga koran, merajut, menyulam, ya ampun banyak banget hal yang saya kerjakan selain menulis waktu itu :D
Sambil nunggu Mas pulang kerja, saya ngerjain semua itu bergantian. Sesukanya aja. Sampai rumah penuh dengan bunga-bunga kertas buatan saya…kwkwk. Belum kebayang bakalan nulis lagi dan nggak tahu juga mau di kemanain tulisannya. Nggak kenal penerbit, nggak tahu apa-apa pokoknya. Intinya, tahun-tahun awal menikah, saya nggak kepikiran bakalan nulis cerita lagi seperti saat di pesantren.
Waktu berlalu begitu lambat. Iya, kalau sekarang ngebayangin kayaknya lambat karena itu bukan tahun-tahun yang mudah terutama untuk ibu muda seperti saya. Setelah anak-anak cukup besar, saya mulai menulis lagi dan mulai belajar lagi hingga sekarang.
Pencarian atas sesuatu yang saya inginkan rupanya nggak semudah yang orang bayangkan. Saya sempat rehat sekian tahun dan berhenti menulis, saya pernah gagal menerbitkan buku meski telah menunggu hingga sekian tahun. Banyak hal telah saya lalui dan saya beryukur bisa tetap menulis hingga sekarang. Rasanya, bahagia.
Ternyata, makin bertambah usia, makin senang saya mengejar impian yang telah lama terlupakan. Salah satunya menjadi penulis. Perjalanan menjadi penulis buku nggak serta merta terjadi begitu saja. Saya pernah fokus menulis artikel selama beberapa bulan, saya pernah hanya fokus ngeblog sampai puas, saya pernah hanya fokus menulis buku dan mengabaikan blog, hingga akhirnya saya tahu, saya senang melakukan semuanya. Nah, lho. Repot, kan kalau semua dikerjain? Kwkwk.
Akhirnya, harus pandai-pandai bagi waktu. Nggak semua bisa kita kerjakan sesuka hati karena waktu kita amat terbatas. Terutama karena saya sudah menjadi seornag ibu dan punya dua anak laki-laki yang sedang tumbuh. Di rumah nggak ada yang bantuin, kalau nulis mulu, bisa-bisa rumah berantakan dan anak-anak nggak makan…kwkwk.
Solusinya gimana? Kalau saya sedang sibuk mengurus blog, saya nggak akan memaksa diri menyelesaikan naskah dalam waktu yang sama. Ketika saya sibuk menulis artikel, saya nggak mungkin ngeblog sering-sering. Dan itulah yang saya kerjakan sampai sekarang.
Lakukan sesuai porsi kemampuan kita. Setiap orang punya kemampuan berbeda, jadi jangan melihat orang lain, lihatlah diri kita sendiri, mampu nggak ngerjain semuanya? Kira-kira ada kewajiban yang diabaikan nggak kalau maksa ambil semua pekerjaan?
Impian memang menjadi salah satu alasan bagi kita untuk tetap bersemangat menjalani hidup. Namun, kita tidak boleh egois juga dengan kehidupan nyata. Apa gunanya kita berhasil, tapi di sisi lain ada bagian yang ‘gagal’?
Pintar-pintar saja membagi waktu, jadi ibu-ibu bukan alasan untuk berhenti bermimpi *eaa.
Menulis Buku Sekaligus Bikin Ilustrasi
Buku terbaru saya ini disertai ilustrasi pada setiap babnya. Jadi, teman-teman bakalan menemukan banyak ilustrasi khas saya. Iya, saya tahu belum bagus, tapi saya sudah berani menyelesaikan semua, lho. Saya juga telah memulainya, gimana dengan kamu? :D
Saya itu sangat percaya, semua hal bisa dikerjakan bukan hanya tergantung pada bakat seseorang, melainkan juga dari usaha dan latihan yang gigih. Dan semua dimulai dari bawah alias nol.
Penulis hebat, nggak mungkin tiba-tiba jadi hebat. Dia mulai belajar dari nol, dia membuang rasa takut serta ragu, belajar setiap hari tanpa kenal lelah, hingga akhirnya kita bisa lihat penulis-penulis hebat seperti Tere Liye atau Asma Nadia.
Buat saya, segala sesuatu itu nggak harus sempurna. Ketika saya membuat buku ini, saya tahu gambar saya nggak sebaik milik orang lain, bahkan saya baru belajar banget. Tapi, kesempatan saya datang di saat itu, kalau saya menyerah, sudah pasti saya akan gagal dan siapa yang menjamin saya bakalan bisa dapat kesempatan yang sama di lain waktu?
Saya abaikan perasaan insecure dan meletakkan pada tempatnya. Karena yang saya butuhkan saat itu bukan rasa minder, melainkan keberanian dan komitmen untuk menyelesaikan semuanya tepat waktu. Soal bagus atau nggak, itu urusan belakangan. Karena mau bagus itu butuh proses dan jangan harap bisa sebentar. Dan saya menikmati prosesnya. Dijalanin aja apa susahnya, sih?
Tentang Buku Belajar Jadi Lebih Baik
Apa istimewanya buku ini? Selain berisi motivasi terutama bagi para remaja milenial, buku ini juga dilengkapi dengan quote serta ilustrasi pada setiap babnya. Buku ini ditulis dengan sangat ringkas, mudah dibawa karena ukurannya yang mungil, dan begitu spesial buat saya karena untuk pertama kalinya saya bisa membuat ilustrasi untuk buku saya sendiri. Eits, masih ada lagi, kita juga bisa share ilustrasi serta quote dalam buku ini lewat aplikasi yang telah disediakan.
Gimana ceritanya bisa terbit? Ada banyak calon penulis yang pengin tahu dan tentunya pengin juga menerbitkan buku di penerbit mayor. Saya mau ceritakan sedikit prosesnya.
- Pertama, kita harus menyelesaikan satu naskah hingga rampung. Jangan lupa lakukan editing sebelum mengirimkannya pada penerbit. Kebanyakan, penulis baru masih acak-acakan tulisannya. Jujur, ini bikin mumet juga. Jadi, banyak belajar editing naskah sendiri supaya lebih rapi ketika diajukan pada penerbit.
- Kedua, lengkapi naskah kamu dengan outline-nya juga. Dalam outline disertakan target pembaca, alternatif judul, dll. Outline biasanya kita buat sebelum mengerjakan naskah. Nanti, kirimkan juga outline ini saat melakukan pengajuan naskah, ya.
- Ketiga, ajukan pada penerbit yang kamu inginkan. Kalau kamu pengin bikin buku disertai ilustrasi, kirimkan sampel gambarmu dan jelaskan konsep buku yang kamu inginkan. Supaya penerbit ada bayangan. Nggak usah takut apalagi malu, toh kita nggak kenal sama editonya, kok. Kecuali kalau kita mesti bertatap muka. Mungkin bisa pingsan duluan saking takutnya…kwkwk. Santai dan berdoalah :)
- Keempat, sabar menunggu jawaban yang memang tidak sebentar. Sebulan, dua bulan, tiga bulan, tanyakan kembali bagaimana hasilnya. Rata-rata penerbit butuh waktu sekitar 3 bulan untuk me-review naskahmu.
Lama, ya prosesnya? Nggak ada keberhasilan yang dicapai dalam waktu sekejap. Semua butuh proses yang nggak sebentar dan butuh kesabaran yang sangat besar. Kalau memang ingin, saya yakin kamu akan menunggu dengan sabar sambil menulis lagi dan terus belajar. Kalau memang cinta menulis, nggak akan kebanyakan alasan. Yuk, tetap semangat mengejar impian!
Salam hangat,
Tuesday, June 8, 2021
Pandai Membaca dan Pentingnya Budaya Literasi dalam Keluarga
Waktu awal pandemi tahun lalu, mestinya si bungsu bisa sekolah untuk pertama kalinya. Dia sudah menunggu cukup lama dan sangat antusias. Melihat kakaknya sudah sekolah, dia pun ingin seperti kakaknya. Saya sebagai orang tua pun ikut senang andai dia bisa segera sekolah sesuai waktu dan usianya.
Sayangnya, masuk sekolah pertama kali dan mesti online seperti nggak masuk akal buat saya. Apalagi jika pihak sekolah belum sepenuhnya siap membantu anak-anak belajar online di rumah. Memaksa offline saja? Rasanya lebih nggak masuk akal lagi. Anak-anak usia TK lebih riskan tertular jika harus masuk sekolah.
Saya nggak mau ambil risiko, karena taruhannya nyawa. Anak-anak mungkin lebih kuat imunnya dibanding orang dewasa, tapi bagaimana jika mereka menularkan kepada yang lain terutama orang tua? Belum lagi, kebanyakan anak-anak usia TK, jangankan memakai masker dengan disiplin, rajin cuci tangan dan nggak sembarangan pegang-pegang pun sulit dihindarkan. Kebanyakan dari mereka belum mengerti. Tahu sendiri, edukasi soal apa pun nggak bisa instan caranya. Harus dibiasakan sejak lama terutama dari keluarga. Dan Indonesia sangat tidak terbiasa soal ini.
Sejauh pengalaman saya dulu ketika si Kakak baru masuk sekolah dan sering tertular batuk dan flu, tidak ada yang memakai masker. Ini mungkin terlihat aneh, ngapain anak kecil dipakaikan masker segala, sih? Sampai-sampai anak saya sering ditertawakan.
Saya ingin meminimalisir penularan virus kepada anak-anak yang sehat. Karena ruangan memakai AC dan berkumpul saat sekolah sangat memungkinkan menularkan virus. Saya ngerasain banget capeknya ketika anak sakit. Karena anak-anak saya nggak hanya sekadar flu dan batuk kalau sudah ketularan, tapi juga punya riwayat kejang demam serta otitis media akut.
Ketika salah satu dari anak-anak saya flu, mereka akan demam, tak jarang kejang demam terutama si sulung. Sedangkan si bungsu hampir setiap minggu mesti ke dokter THT untuk membersihkan cairan di telinganya yang keluar terus menerus ketika sedang kena common cold. Kebayang, gimana beratnya saya saat itu?
Tak jarang, saya juga sakit bersamaan dengan anak-anak. Itulah kenapa sejak dulu saya selalu mengajarkan anak-anak untuk menjaga kebersihan, rajin cuci tangan setelah pegang hidung atau mulut saat common cold serta memakai masker supaya tidak menularkan virus pada anggota keluarga yang lain.
Ketika pandemi dan si sulung akhirnya harus sekolah dari rumah, kondisi bolak balik kena batuk pilek atau common cold ini jauh berkurang atas izin Allah. Kami sehat, tidak flu atau batuk. Pengalaman inilah yang membuat saya mengurungkan niat untuk menyekolahkan di bungsu tahun lalu dan insyaallah dia baru masuk sekolah tahun ini.
Selama di rumah, dia sering merasa bosan terutama ketika kakaknya mulai zoom bersama teman-temannya. Dia mau ngapain? Setiap hari mainnya sama si Kakak. Akhirnya kepikiran juga supaya dia ikut belajar di rumah bersama saya.
Pandai membaca bukan prioritas utama saya. Saya bukan termasuk orang tua yang terburu-buru ingin anaknya lancar membaca. Tapi, saya ingin anak-anak senang melakukannya, bukan sekadar bisa. Budaya literasi di rumah sudah saya bangun sejak dini. Terutama saat si Kakak masih kecil.
Budaya Membaca Sejak Dini
Dulu, waktu hamil anak pertama, saya hanya punya satu dua buku bacaan untuk anak-anak. Makin besar usia si sulung, makin banyak buku anak-anak yang saya beli untuk dia. Main gede lagi, dia makin senang beli buku sendiri setiap kami jalan-jalan ke mall. Kadang pakai uang saya, kadang dia pakai uang tabungannya untuk membeli buku yang dia suka.
Saat si bungsu lahir, buku bacaan anak yang kami punya sudah satu lemari lebih. Meski sudah disiapkan lemari khusus, buku-buku itu selalu berpindah-pindah tempat, ada di kamar saya, ada di ruang tengah, ada di kamar anak-anak, ada juga di lantai atas, dan tentu banyak di bawah bantal :(
Nggak bisa dihindari, jangan harap bisa rapi, karena anak-anak senang membaca buku di mana-mana. Sebelum tidur, saya biasa membacakan buku untuk mereka. Setelah Kakak sudah besar dan bisa membaca sendiri, tugas membacakan buku hanya dilakukan untuk di bungsu. Si Kakak sudah beda buku bacaannya dan lebih senang membaca sendiri.
Saya akui, anak-anak sangat senang dengan buku. Ketika ada buku baru, mereka nggak akan berhenti membaca sampai bukunya habis. Untuk si sulung, sampai takjub juga karena kemarin saya belikan buku Muhammad Al Fatih 1453 karya Ustadz Felix yang bentuknya bukan berupa buku anak-anak, tapi dia habiskan juga. Padahal, saya saja belum selesai baca.
Budaya literasi yang baik seperti ini tentu membuat semua jauh lebih seimbang. Andai anak saya sudah bisa membaca sejak dini, sepertinya bukan masalah karena dia senang melakukannya dan bukan sekadar bisa baca, tapi juga suka dan cinta :)
Belajar Membaca Tanpa Mengeja
Beberapa bulan yang lalu, saya lupa tepatnya kapan, akhirnya saya membelikan si bungsu buku cara membaca berjudul 'Abacaga; Cara Praktis Belajar Membaca untuk Anak'. Model bukunya tuh unik dan beda dengan buku-buku lainnya. Kalau menurut saya, buku ini lebih mirip seperti buku Iqra’ yang buat ngaji.
Warnanya pun dibedakan antara abu-abu dan hitam. Seingat saya, dalam waktu sebulanan atau lebih seidikit, si bungsu sudah menyelesaikan buku ini dan sekarang sudah bisa baca buku sendiri. Masyaallah.
Waktu pertama kali dia bisa baca, dia takjub banget sampai meluk saya dengan spontan. Itu bikin saya jadi terharu. Kenapa? Karena, selama ini si Kakak belajarnya di sekolah dan banyak dibantu sama bu guru. Sedangkan si bungsu benar-benar belajar dengan saya di rumah. Rasanya terharu banget.
Saya itu nggak bisa mengeja. Jadi, jangan berpikir bahwa saya akan mengajarkan anak saya belajar membaca dengan mengeja. Nggak sama sekali. Dia belajar mengenal huruf kemudian membaca. Dan itu jauh lebih mudah buat saya secara saya nggak bisa ngeja...kwkwk.
Buku ini termasuk best seller. Dan menurut saya, sangat membantu dan recommended banget, sih. Kalau mengikuti panduannya, sehari anak-anak hanya diminta membaca selama 10 menit untuk 1 halaman. Simpel banget.
Cinta Membaca Sejak Dini
Setiap anak itu istimewa dan nggak akan sama dengan yang lainnya meskipun itu adalah saudara kembarnya sendiri. Begitu juga dengan anak saya yang bungsu ini. Kedua anak saya belajar mengaji bersama saya sejak kecil. Ini adalah kebiasaan orang tua yang diwariskan pada saya...hehe. Saya terbiasa mengaji bersama Ibu meskipun di halaman ada musholla. Ibu lebih senang mengajari saya mengaji sendiri di rumah.
Dan kebiasaan ini juga saya lakukan pada anak-anak. Buat si bungsu, belajar mengaji ini butuh waktu lebih lama ketimbang si sulung. Ngajinya pun nggak bisa anteng sambil duduk. Kadang sambil miring, tengkurap, dll. Semua saya ikuti dan saya telateni.
Satu halaman bisa diulang hingga seminggu, lho. Karena saya mau memastikan dia benar-benar hapal dan paham dan nggak sekadar bisa baca saja. Kalau sampai salah, pemahaman itu akan dia pakai sampai besar nanti, Itu fatal banget. Alhamdulillah, saat ini dia sudah hampir rampung Iqra’ 4. Saya sabarin banget pokoknya. Sebab, dia berbeda dengan si sulung. Cara ngajarinnya juga beda. Cara meresponnya juga beda.
Ketika dia baru pindah ke halaman baru, dia langsung kusut banget wajahnya. Ngerasa nggak bisa duluan padahal belum dicoba. Jadi, saya biarkan dia membaca sebanyak yang dia mau. Misal hanya 2 baris, nggak masalah asal dia mau bukan dipaksa. Besoknya dia akan menambah jumlahnya sendiri hingga selesai.
Begitu juga saat belajar membaca. Saya nggak memaksa, dia lakukan sesuka hatinya. Kalau lagi nggak mau, ya sudah biarkan saja. Nanti dia akan minta sendiri. Sekarang, dia sudah bisa baca meski belum masuk sekolah. Dia juga sudah pandai menulis, meskipun belum sepenuhnya sesuai KBBI :D
Melatih Anak-anak Cinta Membaca
Gimana, sih caranya membudayakan literasi sejak dini? Biar anak suka membaca tanpa terpaksa? Berikan buku yang sesuai dengan usia mereka sejak dini. Jangan malas membacakan buku setiap hari.
Saking seringnya dibacakan buku, anak saya sampai hafal teks dalam buku-buku miliknya. Lucunya, ketika disuruh membaca sendiri, dia justru menghafalkannya…kwkwk.
“Wah, hebat. Adek sudah bisa baca?”
“Nggak, kok. Adek nggak baca. Adek hafal.”
Ngakak banget pas dengar dia bilang begitu. Jangan remehkan budaya literasi seperti ini. Karena banyak sekali manfaatnya, lho. Ayo, kita cari tahu manfaat membacakan buku untuk anak sejak dini,
- Budaya membacakan buku sejak dini bisa membantu mereka mengenal kosa kata baru.
- Membentuk bonding yang kuat antara orang tua dan anak-anak.
- Membacakan buku sejak dini juga bisa membantu anak supaya lebih siap untuk membaca sendiri.
- Membuat otaknya aktif dan membantu memancing respon anak.
- Membangkitkan minat baca sekaligus mengenalkan hal baru.
- Meningkatkan imajinasi pada anak dan bisa membuat mereka lebih kritis.
Anak-anak yang biasa dibacakan buku sejak dini biasanya cenderung lebih mudah membaca sendiri ketika sudah siap. Setiap anak punya kemampuan yang berbeda-beda. Tugas kita bukan memaksa mereka supaya lekas bisa, tapi membantu mereka supaya senang dan siap melakukannya. Karena bisa dan mampunya mereka ada saatnya. Nggak perlu terburu-buru. Lakukan semuanya dengan menyenangkan dan sejak dini. Ingat, nggak ada yang instan di dunia ini, bahkan mi instan saja mesti direbus dulu, lho sebelum dimakan :D
Salam hangat,
Sunday, May 16, 2021
Lagi-lagi Nggak Mudik ke Kampung Halaman
Taqabbalallahu minna wa minkum! Selamat Idulfitri, teman-teman. Sebulan ini belum ngisi blog sama sekali. Bukan karena sibuk mempersiapkan diri untuk mudik atau berhari raya, tapi nggak tahu dari kemarin sibuk ngapain aja selain sibuk jagain hati yang sudah dua tahun nggak bisa mudik…kwkwk. Sedih? Pastilah. Setahun nggak pulang aja rasanya aneh apalagi sampai sekarang ternyata nggak bisa mudik juga. Tapi, mau gimana lagi, ternyata harapan untuk pulang ke kampung halaman benar-benar nggak kesampean di tahun sekarang.
Dulu, harapannya tahun ini sudah bisa berpuasa tanpa parno dengan covid-19. Faktanya, covid-19 belum pulang kampung juga, lho. Nggak bisa juga bersikeras buat pulang, sementara di sana sini banyak kasus yang lumayan bikin keberanian turun sampai 180 derajat saking parnonya.
Kasus covid-19 nggak hanya mengancam lansia dengan penyakit beratnya, tapi juga yang masih muda bahkan yang belum 40 tahun. Qadarallah, memang sudah takdir Allah. Tapi, jadi nggak boleh seenaknya atau kita dianggap nantang maut dan nggak mau ikhtiar. Belum lagi pulang kampung fokusnya mengunjungi orang tua. Orang tua sudah sepuh, was-was banget dari kota pulang ke kampung, takut bahayain yang ada di sana.
Memang, banyak orang mudik, walaupun sambil maksa, nggak bisa disalahkan juga. Nggak mau nyalahin mereka juga karena paham banget rasanya jadi anak rantau memang nggak mudah. Banyak doain aja semoga mereka baik-baik aja dan kasus covid-19 segera turun dan hilang segera.
Lebaran di Jakarta, Ngapain Aja?
Tahun ini memang sudah nggak separno dulu. Meskipun jujur, saya masih belum pengin ikut ngumpul-ngumpul. Saya memang lebih senang di rumah aja, karena suka gugup kalau ketemu banyak orang. Anak introvert, biasalah...kwkw. Namun, kelamaan di rumah aja juga salah. Akhirnya jadi serba salah....haha.
Lebaran hari pertama, shalat di masjid dekat rumah dibatasi khusus bagi jamaah laki-laki saja karena kondisinya bakalan penuh jika tidak dibatasi. Sedangkan masjid-masjid yang lain sengaja buka shaf sampai ke jalan-jalan, masuk gang-gang gitu juga supaya bisa jaga jarak.
Masak ketupat dan bikin opor sudah jadi tradisi sejak saya mulai rajin masak...kwkwk. Jadi, saya masak dong untuk lebaran tahun ini. Nggak bikin menu banyak karena serumah makannya hanya sedikit-sedikit asal incip. Besoknya aja sudah minta nasi goreng semua. Bisa kebuang kalau masak kebanyakan :(
Waktu menulis ini, masih ada sisa ketupat dan opor ayam di dapur. Nasibnya hanya diangetin tiap pagi dan sore hari. Sedangkan kami serumah mulai berpaling makan bakso dan nasi goreng.
Lebaran hari pertama saya mengunjungi tetangga dekat dan sekadar bermaaf-maafan dari teras saja. Nggak ada masuk-masuk ke rumah orang apalagi sampai duduk dan ikut makan rendang. Nggak sopan banget itu…kwkwk. Kemudian saya pergi ke rumah saudara yang nggak jauh dari rumah. Pulang dan nge-zoom dengan keluarga lain.
Hari kedua sibuk nyuci, lupakanlah. Hari ketiga saya pergi ke Bintaro dan silaturahim ke rumah saudara hingga sore. Main hena dan seru-seruan. Cukup jadi hiburan juga karena jarang ketemu saudara dan kurang banget ketawa selama dua tahun belakangan…hihi.
Seru nggak sih lebaran di Jakarta? Seru-seru aja asal semua sehat, kan? Banyak sekali hal yang saya alami selama pandemi, sampai sekarang saya bersyukur dan sangat bersyukur. Memang, kesehatan adalah yang paling berharga. Jadi, ketika semua sehat, rasanya nggak pengin macam-macam juga. Hal sederhana saja bisa sangat istimewa, kok.
Gimana Perasaannya Nggak Mudik-mudik Seperti Bang Toyyib?
Sempat yang suka nangis gitu kalau lihat foto orang tua dan mertua. Nyesek sebentar kemudian diam dan yaudahlah, mau gimana lagi? Dua tahun bukan waktu sebentar. Tiap mau mudik, dari dulu sejak saya merantau, Ibu selalu menghitung hari, kurang sekian hari kamu mudik, nih. Selalu begitu. Dan sekarang, mau ngitung sampai kapan lagi ya, kayaknya nggak sampai-sampai itu hari. Sedangkan orang tua sudah sepuh semua.
Sebenarnya, bukan semata-mata karena ada larangan mudik, tapi pandeminya juga belum selesai. Jangan sampai kenapa-kenapa di jalan atau malah bikin kenapa-kenapa orang di rumah. Suka gemas kalau ada yang nyeletuk,
“Itu yang lain mudik nggak apa-apa. Mudik aja, jalan tol juga nggak ditutup.”
Dengan entengnya bilang begitu. Ya, Allah, belum dilempar sampai Papua dan Kalimantan kali ya itu orang…kwkwk. Jadi dia nggak tahu susahnya jadi anak rantau. Bukan soal jalan tol ditutup atau nggak, tapi covid-19 aja belum kelar. Banyak banget pertimbangan, nggak mau tebak-tebakan nasib karena ini berhubungan sama hidup dan mati kita atau orang lain.
Wisata atau Diam di Rumah?
Gimana rasanya wisata sambil berdesak-desakan? Mending di rumah aja kalau memang nggak boleh mudik, sebaiknya memang nggak perlu main ke tempat wisata dulu. Namun, faktanya, yang berwisata membludak. Hayoloh, bukan salah saya karena saya hanya di rumah aja…kwkwk.
Nyari hiburan sebentar rasanya nggak setimpal sama deg-degannya kalau wisata sampai berdesakan begitu. Saya pribadi memang kurang suka ke mana-mana, ditambah sekarang masih ada covid-19, makin nggak pengin ke mana-mana kecuali terpaksa. Walau dibayarin, mending di rumah saja selonjoran yang penting aman.
Tapi, nggak semua orang berpikiran hal yang sama. Jadi, jangan heran kalau masih banyak orang senang liburan di tengah pandemi seperti sekarang. Malah bikin merinding dan makin parno aja.
Pandemi Mau Sampai Kapan, ya?
Nggak tahu dan nggak mau berharap terlalu banyak. Bisa tetap bertahan sampai detik ini saja adalah anugerah yang luar biasa, ya. Bisa tetap sehat dan nggak kurang apa pun, meskipun hampir semua tahu, pandemi seolah menghentak hidup hampir semua orang, tapi masih banyak hal yang patut saya syukuri.
Daripada terus menerus meratapi yang telah hilang, mending fokus pada hal-hal yang lebih penting. Di waktu pandemi, saya memang sempat mengalami banyak hal yang kurang mengenakkan. Namun, Allah ganti semua yang hilang serta rasa sakit dengan hal yang jauh lebih baik.
Fokus saja dengan hal-hal positif yang ada di depan mata. Nggak usah membalas orang-orang yang mencibir dan menjelekkan di belakang, nanti kita jadi sama buruknya dengan mereka. Pada akhirnya, waktu terbukti bisa menyembuhkan luka.
Bahasannya jadi agak serius dan dalam, ya…kwkwk. Makin ke sini memang makin menyadari, orang-orang yang mampir dalam hidup kita, entah dia saudara ataupun teman-teman dekat, pada akhirnya akan menepi dan memilih pergi atau kitalah yang memilih mengakhiri. Punya banyak teman, bukan berarti hidup kita selalu lebih baik. Makin ke sini makin sadar juga, hal yang paling baik adalah punya teman yang benar-benar tulus meskipun itu hanya sedikit.
Makin dewasa juga makin paham, siapa dan seperti apa teman-teman yang tepat buat kita. Ada hubungannya sama pandemi? Ada aja kalau dihubungkan…kwkwk. Ngerasa aja, selama setahun terakhir, ada banyak sekali perubahan dalam hidup saya. Selalu berdoa sama Allah, semoga Allah kirimkan orang-orang yang tulus, nggak toxic, nggak bikin drama, dan sakit hati, dan tentunya tulus memang pengin berteman baik.
Tetap semangat, ya. Kamu nggak sendiri. Minimal ada satu atau dua teman yang layak kamu andalkan, kok selain Allah dan juga keluarga.
Salam hangat,
Sunday, April 25, 2021
Pengalaman Membuat Ilustrasi Buku Anak dan Terbit di Luar Negeri
Hai, hai! Gimana kabarnya, nih? Masih semangat mengejar impian atau malah sudah menyerah di tengah jalan? Jangan dulu menyerah, bisa jadi impian kamu hanya berjarak satu jengkal saja dari hadapanmu. Iya, hanya satu jengkal. Namun, karena kamu memutuskan menyerah dan berbalik arah, akhirnya impian itu nggak pernah bisa kamu raih. Jadi, please, tetap melangkah ke depan dan fokus dengan target yang ingin dicapai *ceramah mulu
Sejak kecil, saya senang sekali menggambar. Impian masa kecil berputar-putar antara pengin jadi pelukis, komikus, dan sejenisnya. Meskipun nggak punya kesempatan untuk belajar lebih serius apalagi sampai kuliah, tapi kerjaan sehari-hari memang menggambar. Nggak ada hari tanpa menggambar. Meskipun gambarnya nggak pakai ilmu alias sesuka hati aja :D
Saat SMA, saya pengin jadi penulis. Impian yang berkutat dengan hobi menggambar pelan-pelan lenyap. Mungkin, karena dulu nggak kebayang ada profesi tukang gambar atau ilustrator. Sehari-hari lebih banyak baca buku seperti novel dan puisi. Jadi, impian akhirnya bergeser dan lebih lekat dengan dunia menulis.
Apakah setelah itu nggak suka menggambar? Nggak juga. Sampai saya menikah dan punya anak, saya tetap senang menggambar. Hingga waktu berjalan begitu cepat dan mengantarkan saya pada posisi sekarang ini di mana akhirnya saya berhasil menerbitkan buku serta bisa membuat ilustrasi untuk buku anak-anak. Rasanya gimana, ya? Nggak bisa digambarkan saking kagetnya :D
Mulai Serius Belajar Gambar Digital
Saya masih ingat betul, karena alasan pandemi dan merasa banyak buku gagal terbit sesuai waktu yang ditentukan, akhirnya saya mencari pelarian dengan belajar menggambar digital, tepatnya pada bulan Mei 2020 lalu. Benar, baru kemarin rasanya nyoba buka lagi aplikasi menggambar dan tablet yang sudah lama disimpan di lemari.
Waktu itu, nggak kebayang kalau bisa sampai seperti sekarang. Dulu cuma pengin ngisi feed Instagram sekaligus buat branding sebagai penulis. Jadi, memang hampir nggak pernah share gambar anak-anak apalagi nulis 'DM for Commissions' di bio. Sebab sejak awal memang belum kepikiran bakalan ngerjain ilustrasi untuk buku orang lain. Ahhh, rasanya masih nggak percaya :D
Apa kendalanya waktu belajar menggambar digital? Mempelajari dan mengenal aplikasi itu butuh waktu banget. Saya hanya pakai satu aplikasi waktu itu yakni Ibis Paint X. Sebelumnya sudah pernah nyoba, tapi sekadarnya saja. Meski sudah pakai Ibis Paint X sekian bulan, saya belum sepenuhnya tahu apa saja fitur di aplikasi ini.
Akhir tahun 2020, saya memutuskan ganti tablet serta aplikasi karena tablet saya jadi berat. Sampai sekarang, saya pakai aplikasi Procreate di Ipad 8.
Ganti aplikasi aja butuh waktu banget untuk menyesuaikan diri. Pegang pencil dari Samsung jadi Apple pencil aja bikin pegel karena ukurannya berbeda jauh. Diketawain ini sama senior…kwkwk. Tapi, serius memang ini yang saya keluhkan waktu pertama kali pakai Ipad. Ukuran Apple pencil mirip pensilnya tukang saking gedenya. Sedangkan punya Samsung mungil banget sampai bisa diselipin ke tabletnya. Receh banget bahasan ini...kwkwk.
Saya ingat betul, selama berbulan-bulan bahkan sampai sekarang, hampir nggak pernah saya absen menggambar. Bisa dilihat di feed Instagram saya, itu tiap hari posting gambar. Secara nggak langsung saya sedang berlatih. Memang sekadar buat ngisi feed, tapi saya juga pengin meningkatkan kemampuan dan nggak mau gampang berpuas diri.
Akhirnya selalu belajar dan belajar. Ikutan kelas online juga beberapa kali. Namun, hal yang paling penting adalah praktik. Mesti banyak latihan kalau mau bisa. Mesti latihan sesering mungkin kalau mau dapat hasil yang maksimal.
Inget banget dulu sering begadang hanya demi menyelesaikan satu gambar. Nggak bosan memang karena sudah suka. Nggak ada capeknya karena lagi semangat-semangatnya. Untungnya saya nggak gampang insecure. Posting ya posting aja nggak pernah kepikiran mau minder karena gambarnya belum bagus. Kalau dilihat sekarang, kelihatan banget gambar lama benar-benar jauh dari sempurna. Namun, saya berusaha tetap disiplin berlatih. Gambar dan posting *eaaa...kwkwk.
Pertama Kali Dapat Tawaran Membuat Ilustrasi Buku Anak
Sebelum saya pakai procreate, saya sudah pernah menerima pesanan gambar dari orang luar negeri. Waktu itu ada penerbit dari UK dan orang Austria yang pesan gambar untuk buku aktivitas. Jadi, sebelum mengerjakan gambar untuk buku anak-anak, saya sudah memberanikan diri menerima pesanan orang. Itu pun setelah diomelin sama Ibu...kwkwk. Ibu gemes banget sama saya karena selalu nolakin orang yang mau pesan gambar. Waktu itu saya merasa belum berani. Ternyata, kalau nggak diambil kesempatan itu, kitanya jadi nggak bergerak alias belajarnya ya gitu-gitu aja.
Singkat cerita, waktu itu, ada DM dari orang Mesir. Dia bertanya apakah saya bisa membuat gambar untuk buku anak-anak? Sejujurnya saya kaget karena nggak ada gambar di feed yang menjelaskan bahwa saya ilustrator buku anak-anak. Bahkan di bio juga nggak ada kalimat seperti itu. Feed Instagram saya lebih terlihat seperti akun dakwah dan motivasi. Setuju? Kwkwk. Namun, orang Mesir ini justru bertanya hal yang berbeda.
Setelah dia meminta contoh dan saya berikan, dia setuju dan berjanji akan kembali setelah menyelesaikan ceritanya. Dan datanglah dia sekitar bulan Desember 2020 lalu. Dan untuk pertama kalinya saya memberanikan diri membuat ilustrasi untuk buku anak-anak.
Apakah ini kebetulan? Sejujurnya saya nggak percaya dengan yang namanya kebetulan. Saya percaya Allah sudah mengatur semuanya dengan sangat indah. Dulu, meskipun bukan hal yang sering saya ucapkan, tapi saya pernah berkata bahwa saya pengin suatu saat bisa menulis buku dan membuat ilustrasinya sendiri. Tahun ini, Allah mudahkan jalan itu dan saya akhirnya benar-benar bisa menulis buku dan membuat ilustrasinya sendiri. Rasanya terharu banget dan nggak jarang saya nangis sendiri. Allah baik banget....
Membuat Ilustrasi Buku Anak dan Terbit di Luar Negeri
Waktu itu, saya butuh waktu sekitar sebulanan untuk menyelesaikan ilustrasinya. Dan tentu saja ada banyak revisi di sana sini. Saya memang nggak banyak mengeluh, selain merasa itu akan menjadi beban, saya juga menganggap semua itu adalah proses pembelajaran untuk pengalaman pertama yang sangat berharga ini.
Kalau saya ngeluh mulu, ya, Allah, malu banget sama Allah yang sudah ngasih kesempatan ini. Nggak semua orang punya kesempatan yang sama, lho. Meskipun kadang revisi serta permintaannya sangat lumayan, tapi tetap dikerjakan. Dibikin happy aja gitu. Kekuatan berpikir positif itu luar biasa. Jangan salah....kwkwk. Dan akhirnya, dia pun mengirimkan buku terbitnya ke Indonesia.
Proses pengiriman buku ini juga lumayan unik. Jadi, dia memang dengan senang hati memberikan buku terbit, tapi masalahnya ongkos kirimnya mahal banget. Itu yang membuat dia nggak ngasih buku sejak awal.
Qadarallah, saya punya klien orang asli Indonesia yang menetap di Kairo. Kami kenal karena beliau memesan gambar untuk bukunya. Dari situ saya bertanya harga pengiriman barang dari Mesir ke Indonesia. Dan beliau bilang harganya akan mahal kalau pakai pengiriman resmi, tapi orang Indonesia biasanya pakai Jastip. Jadi, barang-barang akan dititipkan ke bagasi orang Indonesia yang mau mudik. Harganya sangat manusiawi.
Akhirnya, buku-buku dari klien saya dititipkan pada klien saya satunya ini. Dan bukan hanya saya, teman-teman ilustrator lainnya juga dikasih percuma. Bahagia yang menular, ya karena kebaikan banyak orang.
Terima kasih sekali untuk Mba Itta di Kairo yang mau repot-repot membantu mengirimkan buku saya dan teman-teman. Allah yang balas, Mbak. Kita sepakat, sih nggak ada yang kebetulan. Kenal Mbak Itta juga nggak lama, baru beberapa minggu saja. Namun, itulah rencana indah yang sudah Allah gariskan. Masyaallah.
Belajar yang Tidak Instan
![]() |
| Cover buku 'Parenting Experiences' |
Benar, siapa pun kita, dan apa pun latar belakang pendidikan kita, semua punya kesempatan yang sama untuk berhasil meraih apa yang diimpikannya. Asalkan mau, asalkan percaya dan yakin.
Belajarnya nggak bisa instan, ya. Butuh waktu untuk mencapai apa yang pengin kita raih. Kadang, sampai begadang hanya demi menyelesaikan satu gambar. Kukuh banget pengin bisa. Dan ingat, nggak perlu membandingkan diri dengan orang lain. Semua punya cerita perjalanannya masing-masing. Tugas kita hanya usaha dan usaha.
Saya belajar tidak menjadikan kekurangan sebagai alasan untuk menyerah. Beruntungnya saya termasuk orang yang hampir selalu percaya diri menunjukkan apa yang bisa saya kerjakan. Nggak gampang minder dengan hal yang kurang perlu karena saya paham betul, semua orang punya waktunya sendiri untuk berhasil.
Pengalaman mengilustrasikan buku anak di Mesir ini seolah menjadi awalan yang sangat baik. Membuat saya jadi punya pengalaman dan lebih berani menerima tawaran berikutnya. Dari sini saya juga butuh tempat untuk bertanya. Saya butuh teman yang lebih berpengalaman, di mana saya bisa bertanya apa yang belum saya kuasai. Alhamdulillah, setelahnya, ada beberapa buku anak yang saya ilustrasikan lagi, belum cover, dll. Yaelah, sekarang dikerjain semua malah sambil ngerjain buku sendiri...kwkwk. Dan, makin ke sini makin menikmati dan bisa mengatur waktu.
Pengalaman pertama selalu mendebarkan, tak jarang membuat kita takut. Namun, jika kita tidak pernah berani mengambil kesempatan itu, sampai kapan pun kita akan diam di tempat dan jadi penonton. Nggak pengin, kan? Makanya ambil langkah dan beranilah berubah dari kondisi 'nyamanmu'. Karena semua itu akan jadi pengalaman yang sangat berharga.
Salam hangat,
Hey there!
Part of






























