Wednesday, March 10, 2021

Serba Serbi Sekolah Online

serba serbi sekolah online


Setahun sudah kita melewati pandemi. Bukan hanya orang dewasa saja yang mesti beradaptasi dengan lingkungan kerja, lebih banyak di rumah, bahkan tak jarang ada yang diberhentikan dari pekerjaannya. Anak-anak, terutama usia skeolah juga mesti beradaptasi dengan proses belajarnya. Karena mustahil datang ke sekolah dan bertatap muka. Maka, sejak beberapa bulan yang lalu, terhitung sudah setahunan, anak-anak harus sekolah online di rumah.


Masalahnya, sekolah di rumah juga nggak bisa semudah yang dibayangkan. Banyak sekali permasalahan yang dihadapi, terutama bagi daerah terpencil yang susah sinyal dan sebagian besar kesulitan ekonomi sehingga tak jarang kita bisa melihat dan membaca berita tentang anak-anak yang akhirnya berhenti sekolah dan memilih membantu orang tuanya bekerja. 


Ada juga yang mesti berjalan jauh hanya demi mengambil materi pelajaran karena dia nggak punya fasilitas. Belum lagi yang mesti menjual harta bendanya demi membeli handphone. Nelangsa dan sedih setiap baca berita kayak gini.


Buat kita yang punya fasilitas, bukan tidak mungkin ada kendala lain yang membuat belajar online terasa begitu kaku dan gerah kayak di musim panas di tengah kota Jakarta… hihi. Selain orang tua juga harus memerhatikan anak-anaknya, guru juga mesti memberikan kelonggaran sedikit sebab ada banyak kendala yang kita hadapi dalam pembelajaran jarak jauh ini.


Internet Tidak Stabil, Belajar pun Tersendat

Waktu awal semester 2 kemarin, ada aturan di mana anak-anak yang terlambat masuk zoom selama 5 menit tidak akan dibolehkan bergabung. Masalahnya, keterlambatan itu tidak selamanya disebabkan karena anak-anaknya yang malas belajar. Tidak jarang juga disebabkan oleh internet yang kurang stabil. Kalau sudah susah, jangankan 5 menit, seharian aja kadang nggak bisa ngapa-ngapain.


Di sini, sempat ada hal yang kurang mengenakkan di mana ada anak yang akhirnya tidak bisa mendapatkan haknya untuk belajar. Padahal sudah stand by tepat waktu. Komunikasi dengan wali kelas berjalan kurang baik, sehingga ada salah paham.


Di sinilah saya sebut kayak kaku banget ini pembelajaran jarak jauhnya. Anak-anak yang mestinya dapat hak belajar jadi nggak bisa. 


Belum lagi kalau sinyal nggak bagus dan mesti zoom, sering keluar masuk sendiri dan pasti bikin nggak fokus. Mau bagaimana lagi, inilah kendala yang dihadapi saat harus belajar online di rumah.


Bersyukur, semakin hari, komunikasi dengan guru semakin baik. Sehingga jika ada kendala seperti itu, guru bisa memaklumi dan memberikan izin supaya anak-anak bisa ikut belajar bersama.


Waktu Belajar Menjadi Tidak Pasti

Kenapa begitu? Anak-anak memang masuk dari jam 7 pagi sampai jam 12 siang. Saat ini, rata-rata semua mata pelajaran menggunakan zoom. Mungkin biar lebih berasa sekolahnya, ya. Namun, karena belajar online inilah, ada aja murid yang molor ngerjain tugas dan tak jarang guru mesti mengingatkan atau harus memeriksa tugas hingga larut malam.


Padahal, sudah dikasih batas waktu juga, sih. Namun, ada saja yang terlambat entah kenapa. Ada juga yang anaknya memang nggak mau mengerjakan tugas kecuali setelah malam hari. Agak riweh banget di sini pasti. Karena guru kayak nggak ada jam istirahatnya :D


Mau bagaimana lagi, setiap anak punya kondisi berbeda. Ada yang memang disiplin tanpa diminta, ada yang mesti dirayu setengah mati. Semester 2 ini berjalan lebih baik dan lebih disiplin kalau dilihat. Mungkin karena semester 1 kemarin terlalu santuy, akhirnya semester 2 ini aturan menjadi lebih ketat dan gurunya jadi jauh lebih kaku sehingga muridnya mau nggak mau jadi ngikutin juga :D


Sulit Bertanya Jika Kurang Mengerti

Ada saat di mana pertanyaan sempat nggak dijawab. Mungkin sudah kebanyakan pesan yang masuk atau terlewat. Ini memang jadi risiko dari pembelajaran jarak jauh begini. Beruntungnya, sekarang kita bisa belajar dari Youtube, ya. Di sana, sudah banyak guru-guru yang bikin video dengan penjelasan yang kadang lebih simple sehingga mudah dipahami. 


Terutama untuk mata pelajaran Matematika, di mana saya benar-benar nggak suka kecuali dulu kayaknya memang karena terpaksa…kwkwk. Belajar dari Youtube ini sangat membantu.


Jika gurunya merespon, beruntung sekali. Dulu, pernah beberapa kali dalam sehari harus video call sama gurunya si sulung. Karena dia kurang memahami pelajaran berhitung. 


Terlalu Lama Menatap Layar

Waktu awal-awal sekolah online, zoom ini nggak terlalu sering digunakan. Namun, di semester 2 tahun ini, hampir semua mata pelajaran memakai zoom yang tentu saja mengharuskan anak-anak menghadap layer dalam waktu yang cukup lama.


Kasihan juga sebenarnya, tapi mau gimana lagi? Sekolah menerapkan hal seperti itu yang dinilai lebih efektif mungkin untuk belajar online. Sangat berharap pandemi segera berakhir, semua orang pun akan mengaminkan. 


Nggak kebayang, setelah ini si bungsu juga bakalan masuk sekolah TK setelah tahun lalu saya cancel karena kondisi yang tidak memungkinkan. Nggak nyangka, tahun ini pun ternyata masih pandemi juga :(


Anak TK gimana belajar online, ya? Selama di rumah, saya coba mengajarinya mengaji seperti kebiasaan yang saya lakukan kepada kakaknya dulu. Alhamdulillah, untuk ngaji Iqra semua berjalan dengan baik. Namun, yang jadi pikiran soal membaca ABC itu, lho. Dia kurang suka dan saya nggak memaksakannya.


Hari ini, saya membeli sebuah buku untuk si bungsu. Buku belajar membaca yang ternyata isinya bedaa banget dengan buku-buku kebanyakan. Seharian ini dia bawa ke mana-mana (maksudnya tetap di dalam rumah…kwkwk). Dia happy banget belajarnya. Insyaallah next saya review bukunya, ya.


Saya berharap si bungsu segera bisa membaca. Kok, gitu? Karena dia senang sekali dibacakan buku dan sering ribut sama kakaknya karena kakaknya nggak mau bacain… kwkwk. Setiap hari, terutama menjelang tidur, dia bawakan buku-bukunya yang banyak dan meminta saya membacakannya. Itu rutinitias yang setiap hari saya lakukan, bahkan dari saat si sulung masih dalam perut emaknya.


Dulu, koleksi buku belum sebanyak sekarang. Masih terbatas banget. Alhamdulillah, sejak si sulung lahir, saya lebih rajin beli buku bacaan buat anak-anak. Dan sejak si sulung semakin besar, dia juga seneng banget belanja buku.


Saya, tidak mau bergantung terlalu banyak pada sekolah. Karena kondisi sekarang memang mengharuskan saya sebagai orang tua ikut aktif juga membantu anak-anak belajar di rumah. Walaupun dia sekolah, walaupun ada gurunya, bukan berarti di rumah nggak perlu dibantu. Saat pandemi seperti sekarang, saya berusaha melakukan apa yang saya bisa, walaupun ngajarin orang bukan keahlian, tapi mesti dilakukan.


Membantu anak supaya disiplin dan tahu tanggung jawabnya adalah hal yang tidak mudah. Awal-awal sekolah online sedikit-sedikit panggil 'Bundaaaa'. Sekarang, dia lebih mandiri dan tahu apa yang mesti dilakukan. 


Lucunya, dia sampai pasang alarm, lho buat jadwal nge-zoom supaya nggak telat sampai ada alarm sekitar jam 12 siang yang mengingatkan supaya dia lekas menyelesaikan tugas. Sempat takjub dia punya ide begini…kwkwkwk.


Namun, jangan kira semua berjalan semulus itu, ya. Masih ada saja hambatannya. Sejauh ini, saya berysukur anak-anak sangat mengerti dan memahami apa yang mesti dilakukan. Ini sangat membantu saya sebagai orang tua sehingga apa-apa tidak selalu meminta tolong kecuali terpaksa.


Semoga postingan ini bermanfaat *sebagai media curhat...kwkwk. Jangan lelah dan patah, ya. Semoga kita bisa melalui ujian ini dengan sabar. Aamiin.


Salam hangat,

Featured image: Photo by Paige Cody on Unsplash

Sunday, March 7, 2021

Susahnya Jadi Orang yang Nggak Enakan

Susahnya jadi orang nggak enakan

Jujur, nggak enak banget jadi orang yang nggak enakan. Nah, lho! Ribet banget ngomongnya, ya? Hihi. Saya juga pernah menjadi orang yang nggak enakan. Dan sungguh itu sangat menyengsarakan perasaan. Lebih parahnya, ada aja orang yang seenaknya memperlakukan orang yang nggak enakan ini *hadeh ribet kwkwk.


Pernah seorang followers saya di Instagram curhat soal ‘nggak enakan’ ini. Dia merasa bersalah banget waktu ada teman kerjanya minta tolong, dan kebetulan dia nggak bisa bantu karena suatu hal. Dia merasa bersalah, padahal dia nggak salah juga, kan? Dia bukannya pelit dan nggak mau bantu, hanya saja kondisinya sedang tidak memungkinkan. Lebih nggak enaknya lagi, dia baca status temannya itu yang bicara soal kejadian tersebut. Semakin nggak enak, kan perasaan kalau begini?


Begitulah derita orang yang nggak enakan. Ketika orang yang 'seenaknya' sudah nyenyak tidur dan rebahan, kita masih aja mikirin sampai keesokan harinya. Perasaan nggak enak ini benar-benar menggangu banget. Mau ngapa-ngapain kepikiran terus. Diiyain salah, ditolak juga salah. Sampai lupa sama urusannya sendiri.


Repotnya Jadi Orang Nggak Enakan


Susahnya jadi orang nggak enakan


Kamu ngerasa nggak, sih, jadi orang nggak enakan itu….


  • Susah banget mau nolak permintaan teman, padahal kondisinya memang nggak memungkinkan. Akhirnya diiyain aja dan tahu, kan? Kita sendiri yang kerepotan.
  • Mau mengutarakan pendapat rasanya berat, takutnya ada yang kurang setuju. Mending diem aja lebih aman.
  • Walaupun nggak suka, kita memilih tetap melakukannya demi menjaga perasaan orang lain. Lupa kalau perasaannya sendiri juga butuh dijaga supaya nggak luka :(
  • Lebih banyak ngalah demi orang lain. Ya udahlah, nggak masalah. Demi teman.
  • Hampir semua kesulitan mesti kita beresin sendiri. Salah siapa, kenapa mesti diiyain semua?
  • Paling tega sama diri sendiri. Lupa kalau diri sendiri juga butuh dicintai. Nggak masalah bucin sama diri sendiri daripada dikerjain orang terus, kan? :D
  • Rela mau mengorbankan diri sendiri demi orang lain. Iya, demi orang lain nggak masalah, deh kita dikorbanin. Sekalian aja nggak nunggu Iduladha? *eh
  • Kita memang dianjurkan untuk membantu orang lain, tapi tidak semua masalah orang bisa kita selesaikan semudah itu. Please, deh. Bagi yang seenaknya sebaiknya berpikir juga :(
  • Kesal dan sebal, tapi mau gimana lagi. Telan aja sendiri. Benar-benar nggak enak banget!
  • Ada yang bercandanya keterlaluan, tapi mau gimana lagi, mau protes juga nggak enak, kan? Telan aja rasa nggak enak itu terus. Gemes :D
  • Jangankan marah, protes aja nggak berani. Pengin bilang ‘berhentilah menertawakan masalahku.’ Padahal, marah di tempatnya itu nggak selalu buruk, kok apalagi jika tidak berlebihan. Nggak masalah marah sekali-kali, ya? Tapi, masih mikir lagi…kwkwk.
  • Saat ada teman mau pinjam uang, kita sulit menolak, takut dikatain pelit dan bukan teman baik. Padahal, kalau itu berlebihan dan menyulitkan buat kita, nggak ada salahnya menolak dan bantu semampu kita. Jadi baik itu nggak bisa selalu menyenangkan semua orang. 


Itulah beberapa penderitaan orang yang nggak enakan. Masih mau jadi orang nggak enakan? Kenapa nggak jadi orang yang 'enakan' aja asal jangan seenaknya. Iya, kan? :D


Hargai Diri Sendiri


Susahnya jadi orang nggak enakan


Selain kita sendiri, kira-kira siapa orang yang paling bisa menghargai diri kita? Kayaknya nggak ada yang lebih pantas dan layak selain kita sendiri, deh. Kalau kita aja sudah nggak peduli dengan perasaan sendiri dan selalu merasa nggak enakan pada orang lain, ujung-ujungnya kitalah yang nggak dihargai.


Kita punya masalah, kita punya kesulitan juga, nggak ada salahnya menolak permintaan orang apalagi jika itu terlihat ‘sangat berlebihan.’


“Kasih harga temanlah! Lagian cuma gambar begitu doang.”

“Kak, boleh nggak minta gambarnya dan saya ganti watermark-nya dengan nama Instagran saya?”

“Minjem duit 30 juta. Lagi butuh, nih. Itu, kan kecil buat kamu.”


Hei, sejak kapan kita berteman? *gubrak :D


Ini hanya fiktif dan memang nggak mustahil terjadi, sebagian besar juga saya alami sendiri. Dan rasanya agak takjub juga dengan kelakuan orang-orang yang baru saya jumpai, bahkan dengan orang-orang terdekat. 


Beberapa hari yang lalu saya sempat melihat Story Instagram salah seorang ilustrator. Waktu itu dia cerita ada orang yang izin minta gambarnya buat jualan. Dan ditolak. Dan respon dari yang minta nggak sopan banget :D


Banyak orang minta izin dulu pada saya dengan permintaan yang wajar. Ada yang minta gambar buat cover novel online tanpa menghapus watermark, saya sangat menghargai dan saya tidak melarangnya. Banyak banget orang yang minta izin dulu buat ini dan itu. Selama itu wajar, saya nggak akan menolak.


Memang, banyak sekali kejutan waktu awal rajin posting gambar di Instagram. Ada yang ambil caption seenaknya, ada yang edit gambar dan hapus watermark, dan sebagainya. Kaget iya. Selama ini mainnya di blog sama nulis buku. Jarang ketahuan ada yang begini. Namun, saya tahu ini adalah risiko ketika saya posting karya di sosial media di mana semua orang bebas melihat dan mengambilnya.


Contoh di blog misalnya, kita pakai anticopas pun bakalan mustahil buat melindungi konten dari orang yang memang berniat buruk buat nyuri tulisan kita. Kayak mudah aja buat yang sudah jago.


Dan itu memang jadi risiko buat kita. Nulis buku aja bisa dibajak, apalagi hanya postingan di sosial media, kan? 


Poinnya apa? Andai ada yang minta izin untuk hal yang mungkin di luar batas wajar, nggak masalah, kok kita tolak. Apalagi kalau kita memang nggak mungkin membantu karena kondisinya memang nggak memungkinkan. Jangan takut bilang nggak bisa. Jangan merasa nggak enak untuk mengatakan tidak. Iya, kamu juga butuh dihargai karena kamu juga punya keterbatasan. Nggak mungkin bisa membantu semua orang.


Kita Juga Perlu Menjaga Perasaan Sendiri


Susahnya jadi orang nggak enakan


Jangan mentang-mentang karena kita bersaudara, kita teman dekat, kita tetangga, kita kenal sudah lama dan sebagainya, kamu jadi seenaknya bersikap sama semua orang. 


Kita sudah mati-matian menjaga perasaan orang lain, mengalah supaya nggak ada masalah, tapi orang lain justru seenaknya. Apakah di sini kita masih perlu jadi orang nggak enakan? 


"Ya, udahlah ngalah aja daripada dilihat orang nggak enak. Kita udah dewasa dan sudah sama-sama ngerti."


Weeei, kenapa kita mesti menjaga perasaan orang terus? Perasaan kita juga butuh dijaga. Ya, Allah, maafkan saya ngegas....kwkwk. Nggak peduli kita pernah dekat dan akrab, kalau berhadapan dengan orang yang seenaknya, apalagi sudah kita bantu segala macam dengan ringannya, saya, sih memilih udahanlah nggak enakannya. Kayaknya nggak perlu banget jadi orang nggak enakan hanya demi menjaga perasaan orang yang ‘seenaknya’ sama kita.


Insyaallah ada jalan lain untuk berbuat baik, nggak harus lewat jalan itu terus kalau akhirnya bikin kita jadi kurang ikhlas. Kecuali kamu memang berniat membantu dan benar-benar membantu :D 


Menjadi ‘enakan’ dari ‘nggak enakan’ ini memang nggak gampang. Pastinya butuh waktu untuk bersikap lebih santai supaya nggak takut sama omongan orang. Jangan sampai kita melakukan sesuatu karena orang lain, tapi kerjakanlah karena kita memang ingin dan mampu melakukannya. Jangan sampai kita pengin bantu orang, tapi justru membuat ruwet hidup sendiri.


Buat yang masih nggak enakan, cobalah belajar mencintai diri kamu sendiri. Sedangkan buat yang seenaknya, please, deh hargai orang lain :)

Salam hangat,

Image: Photo on Unsplash

Thursday, March 4, 2021

Pandemi Sudah Berlangsung Selama Setahun, Perlukah Vaksin Covid 19?

 

Vaksin Covid 19


Sudah setahun kita hidup dalam kondisi penuh kekhawatiran akibat adanya wabah Covid 19. Dua belas bulan sudah kita melewati pandemi. Seperti bisa kita lihat sekarang, kasus positif masih tinggi di mana-mana. Rasanya sampai lupa apa itu bosan diam di rumah? Hal paling penting yang saya utamakan adalan kesehatan keluarga. Lupakan dulu jalan-jalan dan berliburnya.

Nggak peduli kita di rumah sudah berbulan-bulan melakukan rutinitas yang sama, bahkan tak jarang saking bosannya sudah mulai tidak tahu harus melakukan apa. Belum lagi sekolah si sulung aktifnya nggak ketulungan, tapi kesannya jadi agak kaku sejak semester 2 ini.

Karena sekolahnya nggak bisa tatap muka alias mesti online, mau nggak mau kita harus selalu terhubung dengan internet. Nah, kendalanya di sini. Meskipun tinggal di kota besar seperti Jakarta, jangan harap internet bisa selalu lancar aman dan jaya, ya. Sekali waktu, terutama saat hujan turun menderas, internet jadi ikut bermasalah.

Kalau sudah bermasalah, anak-anak jadi terganggu belajarnya, kadang sambil ngambek juga karena nggak bisa ikut nge-zoom bareng guru dan teman-temannya. Pandemi mau sampai kapan, ya? Keadaan yang serba sulit bukan hanya buat anak-anak, tapi juga bagi kita yang sudah dewasa.

Pakai Masker, Tapi….


Fakta Vaksin Covid 19


Sejak pandemi, saya memang jarang sekali pergi ke luar rumah kecuali ada kebutuhan mendesak. Bahkan belanja untuk makan sehari-hari saja saya rela seminggu sekali. Belanja sekaligus banyak buat kebutuhan seminggu. Biar nggak riweh cuci-cuci sayur dan kebutuhan lainnya. Supaya nggak terlalu sering kontak dengan orang lain di luar juga.

Meskipun cukup merepotkan, tapi untuk hari berikutnya sangat memudahkan. Semua bahan tinggal ambil di lemari pendingin. Dalam kondisi bersih juga. Nggak harus bolak balik mandi dan ganti baju karena memang hanya di rumah. Kalau bisa seperti ini, kenapa mesti keluar setiap hari? Akhirnya saya pun terbiasa melakukannya selama setahun ini.

Nah, seminggu yang lalu, kebetulan saya mesti ke bank untuk mengurus kartu ATM. Datang pagi sebelum bank buka, tapi ternyata orang-orang sudah antre lebih dulu sudah banyak sekali jumlahnya. Akhirnya, dari jam 8 pagi, baru bisa masuk sekitar jam 1 siang.

Menunggu sekian jam sambil membaca komik Conan, saya masih agak terheran-heran dengan orang-orang di luar sana. Oke, semua memakai masker kecuali beberapa anak kecil. Namun, kebiasaan mereka masih sama. Nggak bisa jaga jarak, masih sembarangan pegang sana sini sebelum cuci tangan atau minimal pakai hand sanitizer.

Kondisi seperti ini mungkin sulit sekali diubah bagi masyarakat kita. Padahal, bukan hanya mesti memakai masker saja, ada banyak protokol kesehatan yang mesti dilakukan supaya terhindar dari Covid 19. Bukan salah mereka, mungkin memang kurang sekali edukasi.

Pada akhirnya, kita tak bisa memaksa orang untuk selalu disiplin. Kitalah yang mesti menjaga diri sendiri dan memikirkan kesehatan orang terdekat.

Setahun Hidup Bersama Covid 19


Fakta vaksin Covid 19


Nggak nyangka sudah setahun kita melewati pandemi. Benar-benar banyak hal telah saya lalui. Dari pandemi kita belajar, bahwa kesehatan adalah salah satu hal yang sering kita abaikan, tapi berasa banget begitu penting ketika kita jatuh sakit.

Kita itu sering nggak peduli sama kesehatan. Karena merasa hari ini baik-baik saja, maka kita boleh sembaranga kurang istirahat, makan seenaknya, dan yang lainnya. Saat kita sakit, barulah berasa kalau selama ini kita kurang banget perhatian sama kesehatan.

Orang-orang di luar sana, mungkin juga termasuk saya sudah merasa jenuh dengan Covid 19. Namun, kita harus sehat dan melewati ujian ini dengan baik. Karena kita punya keluarga, kita punya pasangan, kita punya anak-anak. Kita tidak mungkin seenaknya hanya karena mulai ‘jenuh’ dengan pandemi. Setidaknya demi diri sendiri dan demi orang-orang yang menyayangi kita, kita harus ikhtiar supaya terhindar dari Covid 19.

Ada beberapa hal yang saya lakukan selama pandemi yang sebagian sudah saya terapkan sebelumnya,


  • Rutin konsumsi jus buah dan sayur

Tubuh butuh vitamin, terutama vitamin C untuk menjaga daya tahan tubuh. Saya memang bukan termasuk orang yang senang konsumsi obat. Bukan anti dengan obat, tapi lebih ke rasional memakai obat-obatan.

Sebelum pandemi, kebutuhan vitamin terutama vitamin C saya dapatkan dari jus buah dan sayur. Ini memang sederhana, tapi atas izin Allah, hal sederhana ini sangat membantu mencukupi kebutuhan vitamin keluarga saya.

Minum jus tomat dengan tambahan buah dan sayur lain nggak terlalu buruk, kok untuk dikonsumsi setiap hari. Saya biasa menghabiskan minimal 4 kilogram tomat setiap minggu. Tomat ini nantinya akan dicampur dengan buah dan sayuran lainnya.

Sekadar tip, jika kamu tidak terlalu suka dengan rasa sayur, boleh tambahkan buah apel, nanas, atau jeruk nipis ke dalamnya. Rasanya akan jauh lebih baik. Saya pribadi tidak mau merepotkan diri dengan membeli bahan-bahan yang mahal, cukup yang murah meriah dan ada di sekitar kita.

  • Istirahat yang cukup

Meskipun saya tahu, saya kurang banget, sih istirahatnya. Namun, saya usahakan selalu istirahat yang cukup terutama di malam hari.

Tidur malam itu nggak bisa diganti dengan tidur siang, lho. Kamu harus tahu itu. Kebutuhan tidur di malam hari nggak bisa kita bayar dengan tidur dari pagi sampai siang. Mending kita tidur lebih awal dan bangun lebih cepat untuk membereskan pekerjaan yang masih tertunda.

Yup, jangankan kamu, saya juga masih kesulitan untuk tidur cukup, kok…hehe.

  • Usahakan tetap di rumah

Sebenarnya, pengin, kok jalan-jalan ke luar, tapi, selain takut dan merasa horor sendiri, saya juga merasa kesenangan sesaat itu nggak sebanding aja sama risikonya. Kalau nggak benar-benar butuh, nggak akan mau keluar rumah pokoknya…kwkwk.

Herannya, anak-anak saya pun melakukan hal yang sama. Kemarin, sengaja suami ngajak anak-anak buat belanja kebutuhan rumah bulanan ke supermarket. Meskipun ini nggak serius, tapi anak-anak dengan serius nolak, lho. Agak takjub juga, sih dengan penolakan mereka karena selama ini saya tidak pernah menakut-nakuti. Hanya edukasi secukupnya saja dan bersyukurnya mereka sudah benar-benar paham.

Perlu Vaksin Nggak, sih?


Sudah setahun pandemi terjadi, benar, sudah setahun, lho. Dan sekarang, banyak orang yang sudah mulai mendapatkan vaksin. Seorang teman di Kuwait bahkan sudah lebih dulu melakuka vaksin Covid 19 di negaranya. Benar, itu wajib dan kudu banget dilakukan atau kita akan kesulitan melakukan banyak aktivitas.

Begitu juga di Indonesia. Vaksin mulai diberikan kepada orang-orang yang diprioritaskan, terutama bagi kalangan medis. Sampai di sini, apakah kamu paham apa, sih itu vaksin? Kenapa ada orang yang sudah diberikan vaksin, tapi malah masih positif Covid 19?

Vaksin merupakan virus atau bakteri yang telah dilemahkan atau bahkan sudah mati, bisa juga merupakan bagian dari virus atau bakteri yang diberikan dengan tujuan supaya terbentuk sistem kekebalan tubuh sehingga mampu melawan saat terkena penyakit yang sama.

Jadi, vaksinasi memang tidak 100% melindungi kita dari virus Covid 19, tapi diharapkan andai terkena virus tersebut, gejalanya akan jauh lebih ringan karena tubuh telah membentuk antibodi. Itulah kenapa ada orang yang sudah menerima vaksin Covid 19, tapi masih kena Covid 19 juga.

Pemberian vaksin Covid 19 ini dinilai paling efektif untuk mengatasi pandemi. Kita tentu berharap, semua akan kembali normal seperti dulu lagi. Di mana kita bisa hidup tanpa kekhawatiran seperti sekarang. Saking parnonya sekarang, suami bersin aja horor. Sedangkan suami saya ini punya alergi debu dan dingin. Kalau sudah bersin, berhentinya butuh waktu banget…kwkwk.

Manfaat Vaksin Covid 19


Fakta vaksin covid 19


Jika kita sudah memahami apa itu vaksin, sekarang kita pelajari apa saja manfaatnya?

  • Dengan adanya vaksin Covid 19, diharapkan angka kematian akan menurun. Karena vaksin bisa membentuk antibodi sehingga dapat meringankan gejala saat terpapar virus tersebut. Lebih dari itu, orang-orang yang sudah divaksin juga bisa melindungi anggota keluarganya dari virus Covid 19, terutama anggota keluarga yang rentan seperti lansia misalnya. Hal ini terjadi karena orang yang sudah divaksin memiliki risiko yang sangat kecil untuk menularkan virus Covid 19.

  • Vaksin Covid 19 diharapkan bisa menekan angka penularan sehingga kegiatan ekonomi dan sosial di dalam masyarakat bisa kembali seperti semula. Meskipun bagi kita, butuh waktu yang tidak sebentar untuk melakukan vaksin pada semua orang.

Fakta dan Mitos Tentang Vaksin Covid 19


Di masyarakat, banyak beredar informasi yang sebagian memang tidak sesuai dengan fakta. Buruknya, kita sering ikut membagikannya. Salah satunya informasi tentang vaksin Covid 19. Daripada kita salah mencerna informasi yang kurang tepat, lebih baik kita pelajari fakta tentang vaksin Covid 19,

  • Memengaruhi kesuburan
Ada yang bilang kalau vaksin Covid 19 ini bisa memengaruhi kesuburan seseorang. Dengan kata lain, kita akan kesulitan mendapatkan keturunan jika menggunakan vaksin ini. Fakta atau mitos, ya?

WHO telah mengatakan dengan jelas bahwa vaksin Covid 19 tidak memengaruhi kesuburan seseorang. Berita yang beredar tersebut sama sekali tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. So, jangan ikut menyebarkan, ya.

  • Telah melalui uji klinis yang ketat
Vaksin Covid 19 telah melalui uji klinis yang sangat ketat, telah diuji coba pada puluhan ribu orang. Sudah terbukti aman dengan dosis yang telah ditentukan.

  • Tidak mengubah struktur DNA manusia
Vaksin Covid 19 tidak bisa mengubah DNA seseorang. Vaksin yang beredar saat ini berbasis mRNA yang mustahil bisa mengubah DNA manusia. Hal ini telah ditegaskan juga oleh WHO.

Itulah beberapa hal yang bisa kita ketahui tentang Vaksin Covid 19. Jangan sampai termakan informasi hoax yang beredar saat ini, ya. Kita butuh informasi yang benar dan tepat terutama dalam kondisi pandemi seperti saat ini. Selengkapnya kamu bisa membacanya di Halodoc.com.

Halodoc merupakan aplikasi serta situs web kesehatan yang telah didirikan sejak 2016 silam. Halodoc menawarkan banyak kemudahan bagi kita yang bukan hanya butuh informasi seputar kesehatan, tapi juga butuh konsultasi langsung dengan para dokter. Ada ratusan dokter terpercaya yang siap membantumu terutama di masa pandemi seperti saat ini di mana kita tidak mungkin sering-sering berkunjung ke rumah sakit untuk berkonsultasi secara langsung.

Kenapa Harus Halodoc?


Bukan hanya bisa berkonsultasi langsung dengan para dokter, kita juga bisa mengakses informasi mengenai apotek hingga asuransi kesehatan dengan mudah di aplikasi Halodoc. Kebayang nggak, sih, betapa mudahnya kebutuhan kita segera bisa dipenuhi.

Membeli obat pun tak perlu mengantre di apotek yang punya risiko tinggi untuk penularan Covid 19. Mending cari obatnya lewat aplikasi Halodoc aja dan tungguin di rumah sambil istirahat. Beres, kan?

Janjian dengan dokter di rumah sakit kini tak perlu antre lagi. Kita bisa menggunakan aplikasi Halodoc untuk membuat janji dengan dokter langganan di rumah sakit. Ini bisa menurunkan risiko tertular penyakit terutama di masa pandemi seperti sekarang.

Banyak sekali kemudahan yang bisa kita dapatkan dari aplikasi Halodoc. Yuk, bagikan informasi yang tepat kepada orang-orang yang kamu sayangi supaya manfaatnya semakin luas. Jangan sampai kita menjadi salah satu orang yang menyebarkan berita hoax, ya.

Salam hangat,

Monday, January 18, 2021

Tips Supaya Tetap Semangat Berkarya

Tips tetap konsisten berkarya



Mengawali tahun 2021, apa harapan kamu ke depan? Masih ada harapan setinggi langitkah untuk impianmu yang belum terwujud?


Tahun 2020, sudah pasti banyak rencana yang mungkin sulit diwujudkan. Pandemi tiba-tiba mampir dan membuat semuanya kelabakan. Bukan hal mudah melewati satu tahun pertama dalam kondisi wabah seperti ini. Namun, lihat, deh, kita bisa sampai di tahun berikutnya dalam kondisi sehat dan tidak kurang satu hal apa pun. Betapa kita sangat beruntung. 


Masih semangatkah kamu untuk terus berkarya? Menulis, membuat ilustrasi, atau apa pun passion kamu, jangan sampai semangat itu surut begitu saja. Buat saya, di masa pandemi seperti sekarang, hobi ataupun passion bisa sangat membantu mengisi waktu luang selama di rumah. Jalan-jalan nggak pernah, ke mall apalagi. Benar-benar di rumah aja, lho. Kalau nggak ada kesibukan sama sekali, mungkin bakalan mudah buat pikiran jadi stres. Mungkin jadi susah buat happy.


Itulah kenapa saya berusaha untuk tetap konsisten melakukan hal yang saya senangi, meskipun kondisi sekarang seperti mengubah mood, tapi urusan berkarya sekuat tenaga tetap dilakukan. Benar-benar membantu, bikin saya jadi sibuk dengan hal baru dan lupa dengan keadaan yang serba sulit seperti ini.


Waktu Pertama Pandemi Muncul di Indonesia


Tips tetap semangat berkarya


Waktu pertama kali tahu kabar bahwa covid-19 sudah masuk Indonesia, saya masih agak santai. Nggak ada pikiran borong masker hingga saya sadar masker dir supermarket udah nggak tersisa sama sekali. Telat banget bangunnya, kan? Kwkwk.


Dan masih nggak nyangka kalau pandemi bisa memberi dampak seburuk saat ini. Baik buat kesehatan atau pekerjaan orang-orang di sekitar saya. Seburuk ini, lho efeknya? Lekaslah pulang ke kampung halamanmu, please :(


Awal tahun lalu, saya masih beruntung karena dua buku solo bisa terbit di awal tahun. Meskipun jangan berharap penjualan di bulan-bulan selanjutnya bakalan sebaik seperti sebelum pandemi. Setidaknya itu buku yang sudah disiapkan bisa lahir dalam bentuk cetak dan sempat masuk Gramedia. 


Sebab, ada banyak buku yang akhirnya gagal terbit dalam bentu cetak. Kebanyakan buku diterbitkan dalam bentuk ebook. Buat siapa pun, ebook ini nggak sama seperti buku fisik. Nggak ada aroma kertasnya, nggak bisa dipeluk, nggak bisa diajakin foto dengan leluasa, pokoknya, rata-rata penulis nggak pengin bukunya dicetak dalam bentu ebook. Qadarallah, saya masih seberuntung itu.


Bulan-bulan berikutnya, penerbit mulai menunda waktu terbit dan seperti kita tahu sekarang, penerbit hanya menerbitkan sedikit saja buku dalam bentuk fisik. Kayaknya benar-benar dipilih banget temanya. Lalu, saya ngapain dong? Mana naskah-naskah yang sudah di-ACC masih banyak banget di beberapa penerbit mayor. Bahkan, Agustus tahun lalu, harusnya naskah saya ada yang terbit, akhirnya gagal. Dan nggak ada kabar sampai sekarang. 


Satu lagi saya ingat, karena pandemi, ada beberapa lomba blog yang hadiahnya nggak nyampe ke tangan…kwkwk. Sebenarnya ini nggak masuk akal sama sekali, tapi nggak masalah. Sesuatu yang hilang akan digantikan dengan yang lebih baik. Bukan begitu? :D


Apakah pandemi benar-benar membuat hari-hari saya menjadi begitu buruk? Nyatanya nggak. Apa yang hilang akan Allah gantikan dengan yang lebih baik. Nggak terlalu aktif menulis dan ngeblog, akhirnya membuat saya berani belajar ilustrasi. Benar-benar karena pandemi, sih ini.


Karena sudah berani memulai, akhirnya saya mendapati hal baru yang sangat menyenangkan. Itulah kenapa, jangan takut memulai hal baru yang kamu sukai. Karena kita nggak pernah tahu, kejutan apa yang akan Allah berikan.


Semangat, Semangat!


Tips tetap semangat berkarya


Ketika saya buka question di story Instagram, ada yang nanya,


“Waktu pertama kali upload gambar di Instagram, sebulan berapa postingan?”


Saya jawab, sehari 1 gambar. Berlebihan nggak, sih? Memangnya nggak ada kerjaan lain, ya? Masa tiap hari gambar mulu? Kwkwk. Dikira menggambar habis 24 jam mungkin, ya? Nggaklah :D


Sebenarnya saya nggak nyangka, dari menggambar yang hasilnya masih sederhana banget, bisa membuat banyak orang suka, masyaallah. Awalnya, upload gambar sering-sering ya karena pengin latihan juga. Toh belum punya proyek juga, kan? Nggak ada yang mesti dikerjakan waktu itu. Makanya, waktu luang dipakai untuk menggambar.


Dan ternyata bisa tetap konsisten sampai sekarang. Apa nggak bosan? Pernah bosan, kok. Tapi, lebih banyak senangnya. Manfaatnya apa buat kita? Nggak ada yang bayar, nggak pernah nerima iklan lewat juga…kwkwk.


Saya jelaskan manfaatnya kalau kamu mau konsisten berkarya,


1. Bisa konsisten berlatih


Supaya bisa menggambar, kita harus ngapain? Latihan. Bukan banyak nanya, bukan banyak nonton youtube juga. Jawabannya, latihan. Tanpa latihan, mustahil gambar kita bakalan bagus. Buat yang pemula, narik garis lurus aja ndredeg, Rek (ini pengalaman saya...kwkwk). Gimana mau bagus kalau nggak pernah latihan? Mungkin impian bakalan jadi sekadar impian, jadi bunga tidur saja kalau kita nggak mau berlatih meningkatkan kemampuan.


Kalau hasilnya belum bagus, nggak masalah, upload aja di sosial media. Dari sini kita bisa lihat hasilnya dari waktu ke waktu. Yakin, deh, nggak bakalan hasilnya selalu sama kalau kamu latihan terus.


Malu? Kalau nggak percaya diri dengan karya yang kamu buat, lalu siapa lagi yang mau menghargainya? Nggak bisalah kita terus menerus memelihara rasa malu kalau bukan pada tempatnya. Akhirnya kita jadi nggak berkembang. Sibuk sama malu muluuuu. 


Kalaupun hasilnya belum bagus, nanti bakalan ada yang ngasih masukan, kok. Seiring berjalannya waktu, kamu pun harus percaya bahwa usaha keras itu nggak akan mengkhianati hasil. 


2. Branding


Jangan mau jadi biasa saja. Bermimpilah yang muluk. Bermimpilah yang tinggi. Salah satu cara yang bisa kita lakukan adalah dengan branding di sosial media. Perlihatkan karyamu pada orang lain. Biarkan mereka tahu kalau kamu punya kelebihan, meskipun belum sebanyak yang lain. Kenapa nggak? :)


Manfaatnya apa buat kita? Lebih mudah dikenal oleh banyak orang. Dan ini beneran masyaallah banget dampaknya kalau kamu bisa ngerasain langsung. Dari sini juga, mungkin bakalan ada yang nawarin kamu proyek membuat ilustrasi untuk buku atau yang lain.

 

Apakah ini terlihat mudah? Kalau diceritakan iya, tapi saat dijalani mungkin nggak semudah ini. Kuncinya, konsisten aja berkarya, ya. Nggak usah peduliin ucapan yang nggak perlu kamu dengar. 


Saya mau cerita satu hal, pernah ada seorang wanita dari Turki yang kirim foto bersama pasangannya. Katanya, itu foto tujuh tahun lalu ketika pertama kali bertemu suaminya di Masjid Biru, Turki. Dan itu mirip banget dengan gambar yang pernah saya buat. Dia terharu banget karena bisa mirip gitu dengan fotonya.

Kaget juga, tapi ikut senang. Saya memang cukup sering menggambar karakter dengan latar belakang masjid-masjid di Turki. Karena jatuh cinta banget sama negara satu ini. Terutama setelah saya pernah menginjakkan kaki di sana beberapa tahun lalu. Bukannya puas, malah pengen datang lagi dan lebih lama traveling di sana. Sampai bela-belain nabung biar bisa berangkat lagi. Tabungannya nyampe, covid-19 pun datang :D


Tips Konsisten Berkarya Tanpa Alasan


Konsisten berkarya


Gimana caranya supaya kita tetap konsisten berkarya? Soalnya suka nggak mood, kadang repot juga bagi waktu. Gimana caranya?


  • Lakukan karena kamu benar-benar suka. Jangan karena ikut-ikutan orang lain. Jangan karena pengen disebut keren dan hebat. Namun, benar-benar karena pengin dan suka. Karena poin ini penting sekali dicari. Kalau kita nggak bosan, bisa saja kita berhenti kalau memang nggak benar-benar suka melakukannya.
  • Bagi waktumu dengan baik. Jangan kebanyakan gambar sampai lupa kewajibanmu yang lain. Kerjakan apa yang menjadi prioritasmu. Kalau memang nggak mungkin menggambar setiap hari, coba lakukan beberapa hari sekali, tapi pastikan tetap konsisten.
  • Menyempatkan, bukan menunggu sempat. Karena bakalan susah kalau kita hanya nyari waktu luang. Kayaknya, hidup kita sibuk banget. Kalau nggak disempatkan, bakalan susah dong.
  • Berkarya nggak tergantung pada mood. Jujur saja, jarang saya menggambar ketika waktu benar-benar lapang. Pasti nyari waktu sedikit, bahkan meski itu sudah larut dan capek. Makanya, suka nggak detail gambar macam-macam karena waktu terbatas. Namun, happy banget bikinnya, sambil latihan juga. Nggak berasa capeknya. Buat yang suka nggak mood, coba balik lagi ke poin pertama, ya :)
  • Banyakin latihan demi meningkatkan kemampuan. Jangan mudah puas dengan hasil yang kamu dapat sekarang. Orang lain semakin semangat belajar, kamu jangan mau kalah, ya.
  • Punya tujuan jelas dan target yang pasti. Tujuan kamu apa, sih? Kalau nggak punya target jelas atau nggak tahu yang dilakukan buat apa, ya bakalan sulit untuk konsisten berkarya. Namun, ketika kamu tahu pasti apa tujuan kamu, insyaallah bakalan susah untuk berhenti sampai keinginan kamu tercapai.


Apalagi, ya? Coba kamu tambahkan sendiri di kolom komentar. Siapa tahu kamu punya tip yang lebih ngena lagi.

 

Nggak harus sehebat yang lain untuk memulai semua ini. Karena orang yang hebat pun memulainya dari titik yang sama, dari bawah, dari nol. Jadi, nggak usah minder apalagi insecure segala. Terus berkarya, yang positif dan bermanfaat buat semua orang, biar kerja kerasmu nggak hanya sekadar keren saja, tapi juga berpahala. Aaamiin. Semoga, ya? :)

Salam hangat,


Thursday, December 31, 2020

Tahun yang Penuh Kejutan

Kejutan



Kita sudah ada di akhir tahun 2020. Rasanya baru kemarin kita menghirup awal Januari. Kemudian pandemi tiba di Indonesia dan mengubah segalanya. Jadi, nggak salah kalau saya sebut tahun ini sebagai tahun penuh kejutan. Penuh rasa kaget atas perubahan yang serba tiba-tiba, kekhawatiran yang begitu berlebih, hingga kehilangan yang tak bisa dihindari.

Qadarallah, kita merasakannya. Masa pandemi yang entah akan berakhir kapan. Nggak ada yang tahu, bahkan hingga detik ini, kasus positif semakin tinggi di mana-mana. Bukan hanya di Indonesia.

Memikirkan hal mengerikan begini benar-benar bikin parno. Akhirnya, nggak habis-habis menangis setiap hari. Belum lagi buat yang kehilangan keluarga, nggak bisa pulang, dan bertemu orang yang disayang, hingga kehilangan pekerjaan. Benar-benar tahun penuh dengan kejutan, kan?

Namun, saya ingat bahwa Allah tidak akan membebani seorang hamba dengan masalah dan ujian yang melebihi kemampuannya. Jadi, ujian ini mungkin terasa berat, tapi Allah sudah menakar dan mengetahui bahwa kita mampu melewatinya. So, please, jangan nyerah *berbisik pada diri sendiri.

Baca Juga:

Tiba-tiba Jadi Ibu Guru


Pandemi ini menakutkan, tapi sungguh penuh dengan hikmah. Anak-anak jadi sekolah di rumah dan bertemu orang tuanya sepanjang hari, selama 24 jam dalam sehari, hingga hampir setahun lamanya.

Tugas mendidik tidak lagi dipegang ibu guru, tapi juga orang tua. Kalau kita nggak ikut membantu di rumah, akan jadi lebih sulit buat anak-anak. Andai anaknya sudah punya rasa tanggung jawab, bisa menyelesaikan tugas tanpa diminta apalagi dipaksa, insyaallah nggak ada masalah. Namun, bagaimana dengan anak yang mesti didorong terus? Tugas menumpuk hingga berbulan-bulan?

Saya benar-benar bisa melihat perbedaan itu sejak pandemi. Setiap anak itu unik. Kemampuan mereka pun nggak bisa disamakan. Bersyukurnya, si sulung nggak harus drama kalau ngerjain tugas. Itu benar-benar memudahkan saya sebagai orang tua. Selama bisa dilakukan sendiri, dia nggak akan minta tolong. Sangat bersyukur dengan kamu, Mas. Masyaallah tabarakallah.

Berbeda dengan Masnya, si bungsu yang mestinya masuk TK A, akhirnya batal sekolah tahun ini. Karena nggak memungkinkan buat masuk sekolah dan sekolah online sepertinya kurang efektif buat dia, jadi kami memutuskan di rumah dulu belajarnya.

Kenyataannya, apakah dia belajar di rumah? Nggak dong…kwkwk. Dia nggak suka belajar menulis dan sebagainya. Sehari-hari dia menggambar dan belajar mengaji bersama saya, seperti kebiasaan sebelumnya, anak-anak belajar membaca Alquran selalu dengan saya. Itu juga yang saya ingat saat kecil dulu.

Meskipun di depan rumah ada musholla dan anak-anak tetangga ngaji di sana, Ibu tetap mengajari anak-anaknya sendiri di rumah. Dan itu yang ingin saya lakukan juga ketika punya anak. Alhamdulillah, saya bisa melakukannya :)

Tetap Produktif di Rumah


Pandemi ataupun nggak, sebenarnya nggak terlalu banyak mengubah aktivitas sehari-hari saya. Karena selama ini memang kerjaannya di rumah aja. Jarang banget pergi atau jalan-jalan kecuali sesekali.

Ketika pandemi, saya sempat bingung mau ngapain, nih? Karena menulis pun bakalan susah nerbitin di mana-mana. Sedangkan beberapa bulan terakhir, fokus saya menulis buku. Awal pandemi rasanya masih nggak pasti mau ngapain, apalagi anak dan suami di rumah semua…kwkwk.

Qadarallah, saya berani memulai hal baru. Ya, menggambar. Kayak anak kecil menemukan mainan baru. Senang dan bersemangat. Ketika orang lain berlatih seminggu 3x, saya lakukan hampir setiap hari. Sampai akhirnya, saya bisa mendapatkan pekerjaan dari hobi baru ini. Allah baik banget.

Dan yang nggak saya sangka, akhir tahun ini justru banyak jalan Allah buka. Bersyukur banget. Awalnya, yang saya rasa mustahil, tiba-tiba Allah datangkan dengan begitu mudahnya.
Udah, deh. Kalau hitung-hitungan pakai logika manusia, nggak akan pernah sampai.

Satu hal yang saya yakin, apa pun yang kita inginkan, asalkan baik, dilakukan dengan sungguh-sungguh serta cara yang benar, insyaallah akan dimudahkan. Baik-baikin diri sendiri dengan  berbuat baik sama orang lain. Banyak-banyakin berbagi (nggak harus materi). Bikin bahagia orang, nanti Allah yang bahagiain kita. Matematikanya Allah itu beda pokoknya. Kamu harus yakin itu.

Belajar Berprasangka Baik


Orang dengan kategori highly sensitive person atau HSP itu memang peka, tapi ya buruknya jadi suka mikir berlebihan. Saya baru tahu bahwa HSP itu memang ada dan bukan hanya saya. Ketika orang lain sebut kita ini lebay banget dan baperan, ternyata ada sebutan yang lebih tepat dari itu, kok :D

Saya tahu rasanya dimaki-maki orang karena saya HSP sehingga mudah sekali berpikir berlebihan sampai berburuk sangka. Namun, semakin saya belajar, saya semakin paham bagaimana mengendalikan perasaan dan pikiran sendiri. Saya begitu sensitif, pengalaman yang kurang menyenangkan pun ikut memperburuk keadaan saya.

Apa saya nggak bisa berubah? Drama terjadi berulang-ulang, bukan hanya karena saya yang HSP, tapi juga dari lingkungan yang membuat saya akhirnya menarik diri. Selama saya masih ada di situ, ceritanya bakalan sama dan berulang. Itulah yang dikatakan oleh mentor saya.

Gimana sekarang? Semua jauh lebih baik, insyaallah. Saya belajar menerima yang sudah terjadi, saya belajar memaafkan diri sendiri dan juga orang lain. Saya belajar mengikhlaskan yang sudah-sudah. Meskipun memaafkan nggak bisa disebut melupakan juga, ya :D

Saya sangat percaya, pikiran positif akan membawa hal baik dalam hidup kita. Jangan gampang berburuk sangka atas setiap keadaan. Apalagi sama Allah. Ketika kita mendapatkan musibah, akan lebih baik kalau kita fokus dengan hal baik yang mungkin terjadi setelahnya. Atau, daripada sibuk membenci keadaan, mending lihat lagi ke bawah, ada orang yang jauh lebih susah.

Sambil sujud sambil bilang, ‘Allah, saya sangat bersyukur atas semua kehendak-Mu. Nggak habis-habis nikmat yang sudah Engkau beri.’

Karena memang sebanyak itu nikmat Allah dalam hidup kita. Semakin disyukuri, semakin ringan beban yang kemarin terasa berat banget. Semakin disyukuri, semakin bahagia hidup meskipun sederhana sekali.

Bukan saya nggak terdampak karena pandemi, saya pun merasakannya. Namun, rasanya yang Allah kasih jauh lebih banyak daripada yang telah hilang. Dan saya percaya, rencana Allah itu nggak pernah salah. Kalau kita sebagai manusia bisa aja salah ketika merencanakan sesuatu, tapi, Allah bukan manusia. Jadi, percaya sama Allah, ya :)

Selamat Tinggal 2020 yang Penuh Pelajaran


Jangan terlalu membenci diri sendiri karena banyak hal nggak tercapai atau karena pernah melakukan kesalahan. Saya pun sama. Namun, hidup ini terus berjalan. Yang kemarin adalah pelajaran, asal jangan kita masuk ke dalam lubang yang sama untuk ke sekian kalinya.

Kalau kita dianjurkan bisa memaafkan kesalahan orang lain, maka jangan enggan memaafkan diri sendiri. Kalau kita bisa mencintai diri sendiri, insyaallah kita pun mampu membahagiakan orang lain.

Tahun ini penuh pelajaran berharga, ya? Belajar ikhlas, belajar berbaik sangka, belajar sabar, belajar tetap berusaha di tengah keterbatasan, dan banyak hal lainnya. Satu hal yang nggak pernah berubah, selama kita dekat dengan Allah, berharap hanya pada-Nya, nggak akan kecewa kita. Beda ketika kita berharap sama makhluk.

So, mari kita tutup tahun 2020 dengan penuh rasa syukur, berharap tahun 2021 akan jauh lebih baik. Tetap semangat ya jadi versi diri kita yang paling baik. Nggak masalah belajarnya pelan-pelan asalkan tetap melangkah dan nggak diam di tempat.

Salam hangat,

Featured image: Photo by Soyoung Han on Unsplash

 

Friday, December 18, 2020

Review Jujur Bikin Roti Antigagal Pakai Re-Bread

Review Re-Bread



Harusnya, sih, bikin review seminggu atau sebulan setelah pemakaian. Karena nggak cepat-cepat ditulis, akhirnya baru kesampaian sekarang setelah berbulan-bulan memakai Re-Bread. Lupa tepatnya kapan beli mesin roti ini. Kalau nggak salah awal pandemi.

Kenapa tertarik beli Re-Bread? sejak lama memang pengin beli mesin roti atau mixer roti. Tapi, setelah cek, mixer roti harganya juga lumayan kalau mau yang bagus dengan kapasitas adonan yang lumayan juga. Mikir dua kali untuk membelinya.

Pernah direkomendasikan sama teman, katanya Re-Bread ini sangat membantu. Kita bisa menyiapkan bahan sebelum tidur, besoknya kita dapat menyantap hangat-hangat roti yang baru matang sesuai waktu yang diinginkan. Wah, sangat menggoda, ya? :D

Setelah pandemi, saya jadi lebih rajin di dapur. Iya, semua masakan hampir selalu dibuat sendiri. Pernahlah jajan, tapi ya nggak sering. Anak-anak termasuk yang doyan banget makan roti. Biasanya saya memang membuatnya sendiri. Namun, sejak pandemi, mulai parno kalau sering-sering beli. Kalau nggak salah ingat, baru bulan-bulan kemarin berani beli lagi di depan rumah.

Kalau sering bikin roti, jujur waktu saya habis untuk memegang mixer. Selama ini saya hanya pakai hand mixer. Untuk membuat adonan roti yang kalis, saya butuh waktu sekitar 2 jam. Itu baru ngulen adonannya saja. Belum menunggu proofing dan memanggang. Bisa habis waktu setengah hari hanya demi membuat roti yang habisnya hanya dalam sekejap.

Akhirnya, kepikiran lagi buat beli mixer roti atau bread maker. Setelah menimbang berkali-kali, akhirnya saya memutuskan membeli Re-Bread via online. Bagi yang pengin membeli, harga Re-Bread ini sekitar 2 jutaan. Dibandingkan mixer roti dengan kapasitas jumlah yang sama, apalagi Re-Bread punya banyak pilihan menu selain ngulen adonan dan memanggang, jelas Re-Bread masih juara.

Baca juga:


Benarkah Bikin Roti Pakai Re-Bread Antigagal?


Re-bread


Beberapa kali saya membuat roti dengan resep dari buku resep Re-Bread. Saya pilih menu ngulen hingga memanggang, tapi, saya masih kurang puas dengan hasilnya. Sampai dengan resep roti lembut sekalipun, saya masih merasa kalau itu nggak maksimal.

Foto di atas adalah contoh roti yang saya buat dengan Re-Bread. Hasilnya bagus, hanya saja roti yang dihasilkan cenderung berat dan bikin cepat kenyang saking beratnya. Dan setelah dingin, rotinya jadi kurang enak. Nggak lembut maksimal pokoknya.

Saya sudah bertahun-tahun membuat roti sendiri. Dengan berbagai macam resep, hasilnya selalu bagus. Setelah dingin masih sangat enak disantap. Kenapa pakai Re-Bread nggak bisa sebaik itu hasilnya?

Saya pikir, karena proses mengulennya terlalu sebentar. Untuk membuat roti dengan resep dari Re-Bread, diproses mulai dari adonan hingga memanggang, proses mengulennya hanya satu kali. Saya lihat, adonan belum kalis maksimal.

Selain itu, proses memanggang dengan panas yang kurang cenderung membutuhkan waktu yang cukup lama. Ketika memanggang roti pakai oven listrik, saya butuh waktu maksimal 15 menit saja dengan suhu hampir 200’C. Saya pikir, ini sangat berpengaruh terhadap tekstur roti.

Setelah berkali-kali mencoba resep dari Re-Bread dan hasilnya masih sama, saya pun menyerah dan beralih menggunakan resep sendiri. Iya, Re-Bread hanya saya pakai untuk mengulen saja. Itu pun saya butuh 3x ngulen. Nggak bisa sekali ngulen langsung kalis, lho :D

Minimal saya nggak harus capek-capek pegang mixer lagi. Dengan Re-Bread, pekerjaan saya jadi lebih mudah. Sambil mengulen, saya bisa mengerjakan pekerjaan lain semisal menghitung uang *lha…kwkwk.

Jadi, beneran antigagal? Jelas ini benar dong. Bikin roti pakai Re-Bread memang antigagal. Namun, soal hasilnya, saya belum puas.

Re-Bread Bisa Apa Saja?


Re-bread


Re-Bread ini nggak hanya pinter ngulen adonan, tapi juga punya banyak menu yang bisa kita coba. Misalnya, bisa bikin yogurt, brownies, selai, bubur kacang hijau, dll. Saya lupa Re-Bread ini bisa bikin apa saja…kwkwk. Sejauh ini, saya belum pernah pakai menu lain, hanya menggunakan tombol ngulen hingga memanggang.

Penasaran pengin juga nyoba bikin yogurt atau selai buah untuk olesan roti. Dengan buku resep yang sangat tebal, kita bisa nyobain berbagai macam resep dengan panduan yang sangat lengkap. Nggak bisa review hasil resep lainnya karena saya juga belum nyoba…kwkwk.

Apalagi yang bisa dilakukan oleh Re-Bread? Berhemat. Iya, walaupun dipakai hingga memanggang, listrik di rumah masih aman, lho. Benar-benar hemat listrik, sih.

Dengan membuat roti sendiri, kita juga bisa menyajikan roti yang lebih sehat kepada keluarga *padahal ya kayaknya sama aja…kwkwk. Saya selalu memakai resep sendiri, tapi bukan berarti roti saya nggak sesehat yang dibuat dengan resep dari Re-Bread. Bahan dasar membuat roti itu standar saja, kok. Misalnya tepung, telur, susu, gula, margarin, air, dan ragi instan. Nggak perlu menambahkan pelembut apalagi pengawet, karena dalam satu atau dua hari juga sudah habis….kwkwk.

Maksimal Jumlah Adonan 


Di dalam buku resep dari Re-Bread, jumlah adonan kering maksimal nggak boleh sampai 500 gram. Jadi, beberapa kali saya hanya membuat adonan maksimal sekitar 400an gram saja. Untuk diproses hingga dipanggang, rasanya memang wajar. Karena roti akan mengembang ke atas, kan?

Tapi, khusus buat ngulen adonannya saja seperti yang saya lakukan, kita bisa membuat hingga 500 gram adonan kering. Insyaallah masih aman, kok. Dan hasilnya tetap kalis elastis dengan 3x ngulen (tiga kali klik menu ngulen).

500 gram adonan kering ini bisa menghasilkan banyak roti. Bisa 3-4 loyang, lho. Sangat cukup untuk dimakan sekeluarga sampai besoknya :D

Worth It Nggak Punya Re-Bread?


Re-bread



Buat saya sangat worth it. Kenapa? Meskipun hanya saya pakai untuk mengulen adonan, tapi ini jelas sangat membantu. Dengan banyak pilihan menu, hemat listrik, dan harga yang lumayan terjangkau dibandingkan mixer roti, jelas ini lebih oke buat saya. Kebutuhan saya hanya sebatas untuk konsumsi sendiri, bukan dijual. Jadi, ya, oke banget daripada harus beli mixer roti yang ukuran kecil dan nggak tahu sekokoh apa juga barangnya.

Sebelum membeli, saya juga membaca beberapa review yang sama. Ada yang bilang, bikin roti dengan buku resep dari Re-Bread hasilnya memang nggak selembut kalau pakai resep sendiri. Jadi, dia pun memakai resep sendiri untuk menghasilkan roti selembut yang diinginkan. Nggak berbeda dengan saya, kan?

Sejauh ini, setelah berbulan-bulan pakai re-Bread nggak ada masalah. Kecuali satu. Mangkuk untuk mengulen yang dilapisi keramik tergores gara-gara suami saya sembarangan ngaduk adonan pakai sendok...huhu. Auto nyari baru lagi saking kagetnya :D

Kalau baru mencampur adonan, otomatis masih lembek dan menempel ke mana-mana. Biasanya saya bersihkan bagian sisi-sisinya dengan spatula karet. Namun, suami salah paham, pakai sendok dong bersihinnya saat mesin roti nyala dan berputar. Sendok tersentak dan masuk dalam putaran. Klotak klotak. Langsung tergores :D


Roti Re-bread



Teman-teman bisa lihat hasilnya. Mulai dari adonan yang sudah proofing hingga selesai dipanggang dengan oven listrik. Sejauh ini saya suka pakai Re-Bread untuk ngulen dan hasilnya nggak bohong memang kalis banget.


Gimana, kamu jadi beli atau nggak, nih?

Salam hangat,

 

Thursday, December 3, 2020

Edukasi Keluarga Tentang Pentingnya Bijak Konsumsi Obat

RUM



Sebagai orang tua, siapa, sih, yang tega melihat anaknya sakit? Ketika pertama kali bayi kita demam, buru-buru kita bawa ke dokter saking paniknya. Apalagi jika itu anak pertama. Jangan sampai terlambat ditangani. Kekhawatiran semacam itu memang pasti terjadi, tapi, benarkah kita sebagai orang tua boleh terburu-buru membawa anak ke dokter ketika sakit?

Saat menjadi orang tua, saya percaya, tanggung jawab lebih besar menanti bukan hanya soal bagaimana cara kita mendidik mereka dan mendampingi tumbuh kembangnya dengan tepat, tapi juga soal menjaga kesehatan mereka terutama di usia balita.

Ketika anak-anak masih balita, ada saja kepanikan yang saya alami terutama ketika mereka sakit. Misalnya saat si sulung berusia dua tahun, dia mulai alami demam tinggi dan kejang demam pertama kali. Panik? Tentu saja. Bahkan hampir pingsan saking paniknya. Tapi, saya bersyukur bisa mengontrol kepanikan itu dan tahu harus apa ketika kejang demam itu muncul.

Begitu juga ketika si bungsu lahir. Drama bolak balik sakit itu masih terjadi, bahkan mungkin lebih heboh. Hampir sebulan dia alami demam dengan diagnosa tidak jelas di usianya yang masih enam bulan. Bolak balik ambil darah untuk diperiksa sampai hampir putus asa saya memeriksakannya ke dokter. Hasilnya, masih nihil. Nggak tahu penyebab demamnya apa saat itu.

Saya memang panik, tapi kepanikan itu bisa diatasi karena sejak hamil anak pertama, saya memutuskan untuk menjadi calon ibu yang ‘lebih pintar’ daripada saya yang sebelumnya. Iya, keputusan untuk bergabung dalam sebuah milis kesehatan mengubah hidup saya.

Dulu, buat saya, belajar tentang kesehatan harusnya hanya buat dokter dan kalangan medis. Namun, sejak hamil anak pertama, saya memahami bahwa konsumen kesehatan pun mestinya juga mengerti dan turut belajar minimal hal-hal sederhana saja seperti tentang penyakit yang sering terjadi pada balita.

Karena banyak mendengar sharing dan penjelasan dari para dokter baik di milis, website, hingga dari buku, saya pun punya bekal menghadapi hari esok. Saat anak kejang pertama kali, saya panik, tapi saya tahu tidak semestinya meletakkan sendok ke dalam mulutnya karena itu bisa menggangu pernapasannya. Saat dia kejang pertama kali dan berulang hingga usia enam tahun, saya tidak gegabah melakukan banyak tindakan apalagi gampang rawat inap.

Sebab kejang demam sebenarnya tidak memengaruhi otak anak. Kejang demam pun tidak bisa dicegah dengan obat kejang. Obat kejang yang saya sediakan di rumah hanya dipakai saat anak mengalami kejang demam.

Pengetahuan sederhana seperti ini benar-benar sangat membantu ketika saya harus menjaga anak sendirian saat suami sedang dinas ke luar negeri selama beberapa minggu. Saya bersyukur dan sangat beryukur, tinggal jauh dari orang tua membuat saya merasa sendirian. Namun, saya bisa hidup mandiri di usia yang masih sangat muda. Menikah di usia 19 tahun dan memiliki seorang putra di usia 21 tahun. Jika dulunya saya enggan belajar, bisa jadi saya salah mengambil tindakan ketika anak sakit.

Kebanyakan dari kita sering terlalu panik ketika anak sedang sakit. Buru-buru membawanya ke dokter dengan alasan supaya lekas sehat. Padahal, lebih tepat jika dikatakan supaya orang tua lebih tenang meskipun entah apakah tindakannya sudah tepat atau tidak. Sebab, tidak semua penyakit membutuhkan obat. Tidak setiap sakit, kita mesti ke dokter.

Ada saatnya ketika anak demam cukup dirawat di rumah dengan obat penurun panas. Tapi, ada saatnya kita tidak boleh menunda sedetik pun untuk pergi ke dokter ketika terjadi tanda gawat darurat.

Kekompakan dari Orang Tua

Saya bukan orang berpendidikan tinggi. Lahir di sebuah desa kecil dan hanya mengenyam pendidikan pesantren. Ketika saya menikah dan pindah ke Jakarta, kehidupan berubah drastis. Hal paling berat terjadi ketika saya dan suami berbeda pendapat mengenai cara yang tepat menangani anak yang sedang sakit.

Dia bukan orang yang rational use of medicine (RUM). Sedikit-sedikit konsumsi obat. Padahal hanya flu. Sedikit-sedikit minum antibiotik, padahal hanya common cold. Dan itu benar-benar bertolak belakang dengan prinsip yang telah saya pelajari selama masa kehamilan anak pertama.

Saat anak kejang demam pertama kali, saya memutuskan membawanya ke dokter untuk memastikan kondisinya baik-baik saja. Sesampainya di UGD, dokter jaga meminta si sulung dirawat inap dengan alasan mau observasi.

Saat itu, saya tahu anak saya baik-baik saja. Dia bangun dan menangis. Dia mau minum dan tidak sedang hilang kesadaran. Saya menolak rawat inap. Namun, dokter sedikit mengancam dan menakut-nakuti. Gimana kalau penyakitnya berbahaya?

Okay, saya terima. Anak saya boleh rawat inap, tapi tanpa diinfus. Saya tidak mau dia trauma dengan rumah sakit. Dengan membolehkannya rawat inap saja, saya sudah membuka kemungkinan anak tertular sakit lebih parah selama di rumah sakit. Di sana, tempatnya virus dan bakteri, lho. Jika tidak dibutuhkan, saya tidak mau ke rumah sakit.

Dokter menertawakan penolakan saya. Karena merasa dokter kurang jelas memberikan alasannya dan berbekal pengetahuan saya selama belajar di milis kesehatan, sampai-sampai saya membawa sebuah buku yang ditulis langsung oleh seorang dokter spesialis anak, saya memutuskan batal rawat inap. Saya benar-benar mempertimbangkan, tidak asal ambil keputusan.

Saya ingat betul, suami mengatakan bahwa dia tidak bisa membantu ketika terjadi sesuatu karena besoknya harus ke luar kota. Dia melimpahkan semua keputusan besar itu kepada saya seorang diri.

Setelah menimbang dan melihat klinis anak, saya memutuskan menolak saran dari dokter dan mengatakan bertanggung jawab kepada suami saya jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan nantinya.

Saya hanya minta diresepkan obat kejang untuk jaga-jaga. Karena obat ini memang wajib dimiliki jika ada riwayat kejang demam pada anak. Setelahnya, kami pulang. Apa yang terjadi? Anak saya yang selama beberapa hari demam, saat itu juga demamnya mulai reda. Dia hanya kena common cold. Hidungnya meler. Dia mau makan dan minum. Dia mulai aktif dan bermain lagi. Dia baik-baik saja!

Perbedaan pendapat antara saya dan suami terjadi hingga beberapa tahun berikutnya. Buat saya, ini berat sekali. Memang, pasti sulit buat dia menerima pendapat saya, karena saya memang bukan ahlinya. Tapi, bukan berarti semua orang tua nggak bisa mempelajari ini.

Perjalanan kami bertemu banyak dokter, baik yang RUM dan tidak, membuat pikiran suami pelan-pelan terbuka. Saya sangat berterima kasih kepada beberapa dokter spesialis anak yang RUM, menjelaskan dengan baik, sehingga kami sebagai orang tua merasa tercerahkan sekali. Kami pun bisa menangani dengan tepat saat anak sakit.

Salah satu dokter spesialis anak di Jakarta Timur pernah mengatakan kepada saya,

“Dokter kadang hanya mengikuti permintaan orang tua. Ada orang tua yang meminta obat macam-macam hingga antibiotik meskipun itu tidak diperlukan. Apa yang ibu lakukan sudah tepat. Obat demam di rumah sudah cukup.”

So, kita sebenarnya punya peran juga membantu dokter supaya tetap RUM. Saat kita memutuskan membawa anak ke dokter, tidak selalu tujuannya untuk mendapatkan obat. Bisa jadi hanya untuk konsultasi dan memastikan diagnosa.

Saat si bungsu demam hampir sebulan dengan begitu banyak tindakan yang kurang tepat dari beberapa dokter berbeda, saya merasa harus segera bertemu dengan dokter yang RUM. Selama ini, kami hanya mendatangi dokter terdekat. Menerima berbagai tindakan medis yang kurang tepat, karena saya sendiri pun kurang memahami penyebab demam si bungsu saat itu.

Setiap selesai periksa darah dan dokter menerima hasilnya, tidak ada diagnosa yang jelas. Hanya virus katanya, hasil cek darah baik. Tapi, saya mendapatkan resep antibiotik. Padahal, virus, kan nggak mempan juga sama antibiotik, ya?

Dokter lain malah meminta anak kami segera rawat inap. Celakanya, suami sependapat. Akhirnya, saya memutuskan mengajak suami pergi ke rumah sakit yang jaraknya lumayan lebih jauh dari rumah, hanya demi berkonsultasi dengan dr. Apin. Do you know who dr. Apin? Dr. Arifianto, Sp.A atau akrab disapa dr. Apin ini merupakan salah satu dokter yang ada di milis kesehatan yang saya ikuti. Saya sering berkonsultasi juga via grup waktu itu. Dan saya tahu, beliau pasti RUM.

Saat sampai di sana, beliau membaca semua hasil dari tes darah hingga urin yang dilakukan sebelumnya. Beliau menimang anak saya. Katanya, semua baik-baik aja, kok. Kami pun ngobrol hingga beliau berkata,

“Kayaknya ibu ke sini hanya demi menunjukkan pada Bapak, ya?”

Yess, dokter benar. Saya pengen suami saya sepaham dengan saya. Kalau saya yang bilang, dia pasti menolak. Karena saya memang bukan ahlinya. Tapi, saat dr. Apin yang bicara, setidaknya dia akan sulit menyangkal. Masa iya dokter salah? :D

Dan kami pun pulang dengan perasaan lega. Tanpa obat, tanpa antibiotik.

Panjang sekali perjalanan ini buat saya. Siapa yang mau anak sakit? Mestinya lekas kasih obat dong biar sehat. Logikanya seperti itu, ya? Tapi, kalau nggak tepat dan nggak bijak, itu hanya bisa melegakan kita sebagai orang tua, tapi justru memperburuk kondisi anak.

Karena Tidak Semua Penyakit Butuh Obat


Makanya, tidak setiap sakit kita mesti ke dokter dan menelan antibiotik. Orang bilang saya penganut herbal dan antidokter, padahal, saya hanya berusaha bijak menggunakan obat. Karena, meskipun namanya ‘obat’, pasti ada efek sampingnya ketika diminum. Apalagi kalau dipakai tidak sesuai kebutuhan. Benar, kan?

Saat anak sedang demam misalnya, jangan panik dan buru-buru menurunkan demamnya saja, tapi pikirkan juga penyebabnya. Demam bukan penyakit. Demam adalah alarm tubuh, menandakan sedang terjadi infeksi baik karena virus atau bakteri.

Selama ini, kita sering salah mengartikan demam. Kayaknya, demam ini musuh besar buat kita. Padahal, ia pahlawan, lho. Demam terjadi sebagai bentuk perlawanan tubuh terhadap kuman. Dalam kondisi suhu tubuh tinggi, kuman akan mudah mati.

Kesalahan lainnya, kita sering nggak RUM menangani anak demam. Karena demam terjadi selama lebih dari tiga hari, kita memberikannya antibiotik. Padahal, demam disebabkan virus bisa terjadi lebih dari 3 hari juga, tergantung imunitas anak.

Belum lagi kita hanya mengukur suhu dengan perasaan, memakaikan baju tebal, lupa memerhatikan kebutuhan cairan, hingga salah memberikan kompres dingin saat anak sedang sakit. Hmm, coba koreksi kesalahan kita dengan membaca 5 Pertolongan Pertama Saat Anak Demam.

Ada saatnya anak memang tidak membutuhkan obat sama sekali ketika sakit. Misalnya saat sedang common cold. Apalagi jika tidak disertai demam, masih aktif, mau makan dan minum seperti biasa.

Saya pikir, hal-hal mendasar seputar kesehatan anak sangat perlu dipelajari untuk kita sebagai orang tua. Dan pengetahuan ini benar-benar bisa meredam kepanikan kita saat anak sedang sakit. Panik itu boleh, tapi setidaknya kita tahu harus apa dan kapan mesti membawa anak ke dokter.

Beruntung, kita bisa belajar banyak tentang kesehatan anak, mulai dari hal sederhana seperti penanganan yang tepat saat anak demam hingga penyakit lainnya di theAsianparent Indonesia. Artikel kesehatan anak hingga pengetahuan seputar parenting bisa kita dapatkan di sini. Artikelnya persis pula dengan apa yang telah saya pelajari dan jalankan selama ini. Bahagia ada situs sebaik ini. Menjadikan kita sebagai orang tua lebih 'pintar' menghadapi kondisi-kondisi sulit dan tak terduga.

Di zaman secanggih sekarang, rasanya tidak ada alasan lagi untuk malas belajar, minimal dengan membaca artikel kesehatan yang tepat sebelum memutuskan berkunjung ke dokter. Karena menjadi orang tua belajarnya bukan hanya tentang pola asuh saja, pengetahuan dasar tentang kesehatan anak pun menjadi hal yang tidak bisa dinomorduakan.

Anak Belajar dari Orang Tua

Teladan orang tua


Saat kita berusaha bijak menggunakan obat, saat itu anak-anak juga belajar hal yang sama dari kita. Ketika sedang demam, mereka tidak buru-buru minta minum obat. Lebih baik banyak minum air hangat. Konsumsi banyak cairan saat sedang demam tidak perlu dipaksa. Mereka tahu apa yang harus dilakukan saat sedang sakit.

Saya pun merasa bersyukur, karena mereka lebih banyak mengerti. Mereka juga membantu saya supaya lebih bijak menggunakan obat. Kalau anak-anak rewel dan tidak bisa ditenangkan, otomatis orang tua pun akan lebih mudah panik.

Anak-anak melihat bagaimana kita bertindak dan bersikap. Sakit memang tidak nyaman, tapi di sisi lain bisa meningkatkan imunitas mereka. Anak-anak terutama yang sudah masuk sekolah akan lebih sering mengalami episode mudah sakit. Sebab, sekolah memiliki risiko lumayan tinggi menularkan penyakit terutama common cold.

Bolak balik batuk pilek itu biasa. Apalagi, hanya sedikit dari mereka yang memedulikan kebersihan. Ketika anak-anak lain cuek bersin sembarangan saat sedang common cold, saya mengedukasi si kecil supaya selalu pakai masker saat sedang tidak enak badan. Bukan hanya di sekolah, tapi juga di rumah.

Ia harus lebih rajin cuci tangan supaya tidak menularkan sakitnya kepada orang lain. Dan ajaibnya, anak-anak menurut tanpa perlu dipaksa. Dia tahu, sakitnya bisa berpindah jika tidak menjaga kebersihan. Pakai masker bukan hal sulit buat mereka. Teman-temannya pun harus sehat supaya ia tidak tertular sakit kembali.

Edukasi tentang kesehatan baik tentang menjaga kebersihan dan bijak menggunakan obat perlu dilakukan sejak dini. Seharusnya ini bukan hal aneh dan langka. Seharusnya ini lebih familiar buat mereka. Jangan menunggu pandemi untuk memakai masker, sebab yang menular bukan hanya covid-19 saja. Iya, kan? :)

Sayangnya, tidak banyak orang peduli. Ketika pandemi, kita kelabakan mengedukasi. Butuh waktu untuk membiasakan diri. Bagaimana kalau anak-anak mesti masuk sekolah? Bisakah mereka tetap menjaga jarak dan menjaga kebersihan? Rasa tidak percaya pun muncul.

Betapa kita telah abai tentang ini. Padahal, menjaga kesehatan juga merupakan hal penting. Ini juga menjadi investasi jangka panjang. Anak-anak yang pintar juga butuh fisik yang tangguh. Mereka tidak hanya butuh otak cerdas untuk menyelesaikan soal-soal, tapi juga butuh sehat supaya bisa tumbuh dengan baik. Dan, edukasi mengenai kesehatan serta kebersihan mestinya dimulai dari lingkungan terkecil, yakni keluarga.

Salam hangat,

Featured image: Photo by Kelly Sikkema on Unsplash