Tahun yang Penuh Kejutan

Thursday, December 31, 2020

Kejutan



Kita sudah ada di akhir tahun 2020. Rasanya baru kemarin kita menghirup awal Januari. Kemudian pandemi tiba di Indonesia dan mengubah segalanya. Jadi, nggak salah kalau saya sebut tahun ini sebagai tahun penuh kejutan. Penuh rasa kaget atas perubahan yang serba tiba-tiba, kekhawatiran yang begitu berlebih, hingga kehilangan yang tak bisa dihindari.

Qadarallah, kita merasakannya. Masa pandemi yang entah akan berakhir kapan. Nggak ada yang tahu, bahkan hingga detik ini, kasus positif semakin tinggi di mana-mana. Bukan hanya di Indonesia.

Memikirkan hal mengerikan begini benar-benar bikin parno. Akhirnya, nggak habis-habis menangis setiap hari. Belum lagi buat yang kehilangan keluarga, nggak bisa pulang, dan bertemu orang yang disayang, hingga kehilangan pekerjaan. Benar-benar tahun penuh dengan kejutan, kan?

Namun, saya ingat bahwa Allah tidak akan membebani seorang hamba dengan masalah dan ujian yang melebihi kemampuannya. Jadi, ujian ini mungkin terasa berat, tapi Allah sudah menakar dan mengetahui bahwa kita mampu melewatinya. So, please, jangan nyerah *berbisik pada diri sendiri.

Baca Juga:

Tiba-tiba Jadi Ibu Guru


Pandemi ini menakutkan, tapi sungguh penuh dengan hikmah. Anak-anak jadi sekolah di rumah dan bertemu orang tuanya sepanjang hari, selama 24 jam dalam sehari, hingga hampir setahun lamanya.

Tugas mendidik tidak lagi dipegang ibu guru, tapi juga orang tua. Kalau kita nggak ikut membantu di rumah, akan jadi lebih sulit buat anak-anak. Andai anaknya sudah punya rasa tanggung jawab, bisa menyelesaikan tugas tanpa diminta apalagi dipaksa, insyaallah nggak ada masalah. Namun, bagaimana dengan anak yang mesti didorong terus? Tugas menumpuk hingga berbulan-bulan?

Saya benar-benar bisa melihat perbedaan itu sejak pandemi. Setiap anak itu unik. Kemampuan mereka pun nggak bisa disamakan. Bersyukurnya, si sulung nggak harus drama kalau ngerjain tugas. Itu benar-benar memudahkan saya sebagai orang tua. Selama bisa dilakukan sendiri, dia nggak akan minta tolong. Sangat bersyukur dengan kamu, Mas. Masyaallah tabarakallah.

Berbeda dengan Masnya, si bungsu yang mestinya masuk TK A, akhirnya batal sekolah tahun ini. Karena nggak memungkinkan buat masuk sekolah dan sekolah online sepertinya kurang efektif buat dia, jadi kami memutuskan di rumah dulu belajarnya.

Kenyataannya, apakah dia belajar di rumah? Nggak dong…kwkwk. Dia nggak suka belajar menulis dan sebagainya. Sehari-hari dia menggambar dan belajar mengaji bersama saya, seperti kebiasaan sebelumnya, anak-anak belajar membaca Alquran selalu dengan saya. Itu juga yang saya ingat saat kecil dulu.

Meskipun di depan rumah ada musholla dan anak-anak tetangga ngaji di sana, Ibu tetap mengajari anak-anaknya sendiri di rumah. Dan itu yang ingin saya lakukan juga ketika punya anak. Alhamdulillah, saya bisa melakukannya :)

Tetap Produktif di Rumah


Pandemi ataupun nggak, sebenarnya nggak terlalu banyak mengubah aktivitas sehari-hari saya. Karena selama ini memang kerjaannya di rumah aja. Jarang banget pergi atau jalan-jalan kecuali sesekali.

Ketika pandemi, saya sempat bingung mau ngapain, nih? Karena menulis pun bakalan susah nerbitin di mana-mana. Sedangkan beberapa bulan terakhir, fokus saya menulis buku. Awal pandemi rasanya masih nggak pasti mau ngapain, apalagi anak dan suami di rumah semua…kwkwk.

Qadarallah, saya berani memulai hal baru. Ya, menggambar. Kayak anak kecil menemukan mainan baru. Senang dan bersemangat. Ketika orang lain berlatih seminggu 3x, saya lakukan hampir setiap hari. Sampai akhirnya, saya bisa mendapatkan pekerjaan dari hobi baru ini. Allah baik banget.

Dan yang nggak saya sangka, akhir tahun ini justru banyak jalan Allah buka. Bersyukur banget. Awalnya, yang saya rasa mustahil, tiba-tiba Allah datangkan dengan begitu mudahnya.
Udah, deh. Kalau hitung-hitungan pakai logika manusia, nggak akan pernah sampai.

Satu hal yang saya yakin, apa pun yang kita inginkan, asalkan baik, dilakukan dengan sungguh-sungguh serta cara yang benar, insyaallah akan dimudahkan. Baik-baikin diri sendiri dengan  berbuat baik sama orang lain. Banyak-banyakin berbagi (nggak harus materi). Bikin bahagia orang, nanti Allah yang bahagiain kita. Matematikanya Allah itu beda pokoknya. Kamu harus yakin itu.

Belajar Berprasangka Baik


Orang dengan kategori highly sensitive person atau HSP itu memang peka, tapi ya buruknya jadi suka mikir berlebihan. Saya baru tahu bahwa HSP itu memang ada dan bukan hanya saya. Ketika orang lain sebut kita ini lebay banget dan baperan, ternyata ada sebutan yang lebih tepat dari itu, kok :D

Saya tahu rasanya dimaki-maki orang karena saya HSP sehingga mudah sekali berpikir berlebihan sampai berburuk sangka. Namun, semakin saya belajar, saya semakin paham bagaimana mengendalikan perasaan dan pikiran sendiri. Saya begitu sensitif, pengalaman yang kurang menyenangkan pun ikut memperburuk keadaan saya.

Apa saya nggak bisa berubah? Drama terjadi berulang-ulang, bukan hanya karena saya yang HSP, tapi juga dari lingkungan yang membuat saya akhirnya menarik diri. Selama saya masih ada di situ, ceritanya bakalan sama dan berulang. Itulah yang dikatakan oleh mentor saya.

Gimana sekarang? Semua jauh lebih baik, insyaallah. Saya belajar menerima yang sudah terjadi, saya belajar memaafkan diri sendiri dan juga orang lain. Saya belajar mengikhlaskan yang sudah-sudah. Meskipun memaafkan nggak bisa disebut melupakan juga, ya :D

Saya sangat percaya, pikiran positif akan membawa hal baik dalam hidup kita. Jangan gampang berburuk sangka atas setiap keadaan. Apalagi sama Allah. Ketika kita mendapatkan musibah, akan lebih baik kalau kita fokus dengan hal baik yang mungkin terjadi setelahnya. Atau, daripada sibuk membenci keadaan, mending lihat lagi ke bawah, ada orang yang jauh lebih susah.

Sambil sujud sambil bilang, ‘Allah, saya sangat bersyukur atas semua kehendak-Mu. Nggak habis-habis nikmat yang sudah Engkau beri.’

Karena memang sebanyak itu nikmat Allah dalam hidup kita. Semakin disyukuri, semakin ringan beban yang kemarin terasa berat banget. Semakin disyukuri, semakin bahagia hidup meskipun sederhana sekali.

Bukan saya nggak terdampak karena pandemi, saya pun merasakannya. Namun, rasanya yang Allah kasih jauh lebih banyak daripada yang telah hilang. Dan saya percaya, rencana Allah itu nggak pernah salah. Kalau kita sebagai manusia bisa aja salah ketika merencanakan sesuatu, tapi, Allah bukan manusia. Jadi, percaya sama Allah, ya :)

Selamat Tinggal 2020 yang Penuh Pelajaran


Jangan terlalu membenci diri sendiri karena banyak hal nggak tercapai atau karena pernah melakukan kesalahan. Saya pun sama. Namun, hidup ini terus berjalan. Yang kemarin adalah pelajaran, asal jangan kita masuk ke dalam lubang yang sama untuk ke sekian kalinya.

Kalau kita dianjurkan bisa memaafkan kesalahan orang lain, maka jangan enggan memaafkan diri sendiri. Kalau kita bisa mencintai diri sendiri, insyaallah kita pun mampu membahagiakan orang lain.

Tahun ini penuh pelajaran berharga, ya? Belajar ikhlas, belajar berbaik sangka, belajar sabar, belajar tetap berusaha di tengah keterbatasan, dan banyak hal lainnya. Satu hal yang nggak pernah berubah, selama kita dekat dengan Allah, berharap hanya pada-Nya, nggak akan kecewa kita. Beda ketika kita berharap sama makhluk.

So, mari kita tutup tahun 2020 dengan penuh rasa syukur, berharap tahun 2021 akan jauh lebih baik. Tetap semangat ya jadi versi diri kita yang paling baik. Nggak masalah belajarnya pelan-pelan asalkan tetap melangkah dan nggak diam di tempat.

Salam hangat,

Featured image: Photo by Soyoung Han on Unsplash

 

Comments