Thursday, November 16, 2017

Ikan Pari Asap Masak Santan

Ikan Pari Asap Masak Santan


Suka sekali dengan ikan pari. Entah karena saya memang pemakan segala atau memang saya suka dengan bau asap-asap dari ikan-ikan yang diasap. Baik itu ikan pari atau jenis lainnya. Aromanya itu justru menggugah selera.

Berbeda dengan paksu yang nggak doyan sama sekali..he. Jadilah ketika memasak ini saya selalu makan sendirian. Bukan masalah juga sih, saya juga bisa menghabiskannya sendiri..hoho.


Ikan pari asap jarang dijual di warung-warung. Alasannya sih pasti karena memang jarang ada yang suka. Saya harus ke pasar pagi-pagi sekali, atau akan kehabisan. Yang menjual biasanya orang Madura. Kebetulan saya juga orang Madura asli yang saat bertransaksi selalu menggunakan bahasa Indonesia..hehe. Nggak banget..kwkwk


Nah, ikan pari asap ini enak digoreng begitu saja lalu dipenyet di atas sambel. Boleh juga dibuat kuah santan seperti resep ini. Keduanya enak dan selalu butuh nasi sebakul buat melahapnya. Bagi yang sedang diet, dilarang membuatnya, ya. Bakalan gagal diet!


Bahan:

4 buah ikan pari asap ukuran sedang

1 buah tomat hijau ukuran sedang
5 buah belimbing wuluh, potong

2 batang daun bawang

1 bungkus santan instan

Secukupnya air

Bumbu, iris:

5 siung bawang merah

2 siung bawang putih

1 lembar daun salam (biarkan utuh)

5 buah cabe merah atau cabe hijau

5 buah cabe rawit atau sesuai selera

1cm lengkuas (memarkan)

Secukupnya garam

Sedikit kaldu bubuk

Sedikit minyak untuk menumis


Cara membuat:

1.      Tumis semua bumbu dan irisan daun bawang sampai wangi.

2.      Masukkan air dan santan. Bumbui garam dan kaldu bubuk.

3.      Masukkan ikan pari asap. Biarkan mendidih dan meresap.

4.      Masukkan potongan tomat dan belimbing. Biarkan sampai agak layu. Matikan.

5.      Sajikan dengan nasi panas.

Aromanya Menggugah Selera


Yups! Aromanya ikan pari ini benar-benar menggugah selera apalagi setelah dimasak pakai santan. Jangan terharu kalau nanti kamu bisa menghabiskan banyak nasi gara-gara menu satu ini. Saya baru tahu resep ini setelah tinggal dan menetap di Jakarta. Dulunya sih kalau ketemu sama ikan asap sejenis ini hanya digoreng dan dipenyet saja.

Setelah tahu resep ini, auto pengen masak pari bersantan terus karena rasanya khas banget. Hanya saja untuk mendapatkan ikan ini nggak gampang. Mesti ke pasar dan nggak boleh kesiangan atau akan kehabisan *perjuangan banget ini mah...haha.

Ikan pari asap ini prosesnya nggak mudah dibuat. Untuk menghasilkan ikan pari seperti ini, butuh waktu lama untuk mengasapnya. Jadi, ikan kayak gini beda dengan ikan bakar. Kita nggak bisa bikin ikan asap dengan cara dibakar seperti ayam bakar atau ikan bakar itu, Guys. prosesnya sangat berbeda.

Daripada pusing membuat, ya mending beli aja :D *lagian siapa juga yang mau bikin sendiri, kan? hehe.

Buat sebagian orang, bau sangit atau akibat dari proses pengasapannya ini begitu mengganggu. Nggak enak katanya. Hiks. Padahal buat saya, justru itu enak banget gara-gara bau asapnya yang bikin kuliner satu ini jadi beda daripada yang lainnya.

Di rumah, suami nggak doyan dan nggak suka. Jadi, tiap bikin, nggak banyak yang mau nyobain apalagi anak-anak ya. Kira-kira, kalau di tempat kamu, siapa yang doyan makan menu kayak gini? Apakah kamu juga tertarik mencobanya di rumah?
Ini menu sederhana yang enak banget dinikmati ketika kumpul keluarga. Membuatnya pun nggak susah, bumbunya tinggal diiris. Hasilnya, hmm, jangan ditanya, yaa..langsung dicoba aja yuk siapa tahu keluarga menyukainya :)

Salam hangat,

Tuesday, November 14, 2017

Cerbung Tentang Kita Bag 13; Rindu

Cerbung Tentang Kita Bag 13; Rindu


Raina melipat pakaian suaminya dengan air mata meleleh. Tidak sekali atau dua kali mereka bertengkar, tapi tidak pernah sesakit ini rasanya. Pernikahan mereka bukan terjadi dalam bilangan singkat, bahkan tahun demi tahun sejatinya menjadi alasan baginya untuk segera memaafkan kesalahan Bagas. Sayangnya sebab masalah satu itu, Raina enggan.

Dia ingat, betapa sulitnya dulu memercayai Bagas, terutama setelah dia melihat kedatangan Sherly dan Rara untuk pertama kali. Tanpa sengaja, Raina mendengar percakapan singkat di antara mereka. Bukan hal mudah memaafkan kesalahan masa lalu Bagas, yang sebenarnya jika diingat, lebih mirip seperti sinetron.


Tapi, sebab cinta dia memutuskan melupakan semua. Dan Bagas sudah berjanji tidak akan mengundang masa lalu masuk ke dalam pernikahan mereka. Tanpa kedatangan Sherly pun, bahtera rumah tangga sering goyah diterpa riak-riak kecil. Dan Sherly serupa badai yang siap menghantam dan mengoyak perahu mereka. Sakit.


Bagas bisa mudah mengatakan bahwa dia akan menikahi Sherly sebab kasihan, benarkah? Lalu bagaimana jika dia benar-benar menyukai wanita dalam masa lalunya itu? Dan Raina memutuskan segera menghilangkan semua pikiran buruk itu. Ingatannya kembali pada Sherly yang katanya sedang terbaring di rumah sakit sejak beberapa bulan lalu. Sakit apa dia? Bahkan Bagas tidak sempat menjelaskan.


Raina mengusap kemeja suaminya. Sepertinya beberapa hari tidak bertegur sapa dengannya, Raina merasa ada sesuatu yang hilang. Tapi rasa kesal mengalahkan semua. Raina rindu menyambut suaminya di depan pintu selepas Bagas bertugas dari rumah sakit. Belakangan bukan hanya itu, Raina memutuskan tidur di kamar Raka demi menghindari suaminya sendiri. Berdosakah dia? Tapi minta ampun dia kepada Allah, sungguh tidak mudah memaafkan kesalahan suaminya meskipun kenyataannya semua belum benar-benar terjadi.


Tapi, sampai kapan semua menjadi serenggang ini? Tidak nyaman mendiamkan Bagas, apalagi ketika laki-laki berhidung mancung itu tiba-tiba muncul di hadapannya. Sejujurnya, Raina rindu. Tapi, sungguh kecewanya belum sempurna menghilang. Maka kemarahan masih menjadi alasan kenapa dia menjaga jarak dari suaminya sendiri.

****

 

Bagas berlari menuju kamar mandi. Wajahnya diliputi kecemasan. Raina terlihat lebih kurus akhir-akhir ini. Lihat saja, kedua pipinya tampak lebih tirus. Bahkan kedua mata indahnya terlihat berkantung gelap.  Semua tampak jelas setiap kali Bagas mencuri pandang ke arahnya.


Dan sekarang, Bagas gemetar berdiri di depan pintu kamar mandi setelah sebelumnya Raina menepis tangannya yang hendak memberikan bantuan. Raina memutuskan menahan mual yang membuatnya muntah-muntah tak wajar. Masuk anginkah istrinya? Tapi, Bagas tidak bisa menerka. Sepertinya Raina terlalu banyak pikiran sampai-sampai dia jadi sakit. Menyesallah Bagas sebab tentu saja dialah sebab utama atas terpuruknya Raina akhir-akhir ini.


“Kita ke dokter,” Bagas tegas bicara, tidak meminta persetujuan dari istrinya.


Setelah mencuci muka dan mengeringkan wajahnya dengan handuk, Raina justru segera pergi. Membiarkan Bagas semakin bingung. Bagas tahu Raina sedang kurang sehat. Jadi, dia sedikit membentak ketika mengatakannya barusan. Kadang perempuan tidak terlalu peka ketika ada seseorang yang benar-benar memerhatikan, atau mungkin Raina pura-pura tidak mengerti dengan ucapan Bagas barusan?


Bagas mengacak rambutnya. Kepalanya berdenyut. Sampai kapan badai dalam rumah tangganya berlalu? Tidakkah Raina mengerti, keadaan seperti ini amat menyita pikirannya. Bagas bahkan sulit berkonsentrasi ketika berada di rumah sakit. Dia jauh lebih murung ketimbang teman-temannya yang putus cinta. Dia jauh lebih buruk ketimbang pegawai yang dimarahi atasannya. Ini Raina, istrinya yang selama beberapa tahun menjadi belahan jiwa, kini memutuskan tidak lagi memercai dirinya sebagai suami yang baik. Mengecewakan sekali! Bagas berkali-kali merutuki nasibnya.


“Astaghfirullah,” desahnya. Sungguh lelah menghadapi kenyataan, di mana masih banyak wanita merasa begitu ketakutan ketika mendengar suaminya akan poligami, bahkan ketika dia menegaskan tidak akan pernah melakukannya. Apakah semenakutkan itu?

 

****

 
Bagas berdiri di depan cermin, menggosok giginya berulang kali. Berhenti ketika menyadari di atas gelas kaca berukuran sedang, tak lagi nampak sikat gigi berwarna merah milik Raina.


Bagas terpaku, tiba-tiba hatinya mencelos. Takut. Resah dan entahlah, dia bahkan tidak bisa menerjemahkan kata hatinya sendiri. Jika kemarin Raina tidak lagi tidur di kamar, sekarang sikat gigi milik istrinya pun sudah berpindah tempat, lalu besok apalagi yang harus ditakuti Bagas?


Tanpa merasa perlu membersihkan sisa pasta gigi di mulutnya, Bagas berlari keluar kamar, mencari Raina. Tidak, gadisnya tidak ada di kamar putra mereka. Bahkan di kamar mandi anaknya pun kosong. Raka terlihat masih pulas. Bagas segera melesat menuruni tangga. Dia benar-benar tidak punya banyak waktu. Ketakutan akan banyak hal tiba-tiba melintas dalam benaknya. Termasuk ketakutan akan perpisahan yang mungkin saja terjadi tanpa diduga.


Bagas berhenti di depan pintu dapur. Kedua kakinya masih gemetar. Napasnya tersengal, dan Raina tanpa sengaja sedang menatapnya heran, ada apa?


Belum sempat Bagas bicara, Raina sudah mendekati Bagas dan mengusap sisa pasta gigi di mulut suaminya. Hanya sepersekian detik waktu seolah berhenti ketika tatapan mereka saling beradu. Dengan langkah tergesa, Raina segera sibuk mengaduk sup panas di atas kompor yang masih menyala. sedangkan Bagas memilih diam dan bersorak dalam hati.


Coba kalian mengerti, tidak mudah menghilangkan kebiasaan yang sudah bertahun-tahun dibangun, termasuk ketika mereka saling peduli dan bicara. Dan kepedulian Raina barusan, sudah cukup mengaduk-aduk perasaan Bagas. Seperti perasaan ketika pertama kali mengetahui gadis itu menerima pinangannya. Bukan main gembiranya!


****

Sunday, November 12, 2017

Roti Sobek Isi Keju

Roti Sobek Isi Keju


Assalamualaikum…kemarin bikin roti sobek isi keju. Sebenarnya isian keju ini merupakan isian termalas yang pernah saya buat…he. Biasanya keju saya buat keju manis susu, masih diolah. Tapi, kemarin belum menyiapkan isian dan sudah membuat adonan. Ya sudahlah, waktunya tidak cukup karena harus mengerjakan yang lain.

Resep ini sudah sering saya gunakan untuk berbagai macam jenis roti. Bisa model roti pizza, roti sosis, roti isi, roti abon atau roti sobek seperti sekarang. Manisnya pun bisa disesuaikan, ya. Kalau nggak suka manis, cukup 80gr gulanya. Kalau suka manis, bisa sekitar 90-100gr. Ini sudah manis banget.


Untuk kuning telur, seperti biasa saya pakai 3 kuning telur saja. Boleh juga 4 kuning telur. Boleh juga hanya 2, hasilnya tetap empuk meskipun tak seempuk yang kuning telurnya lebih banyak.


Kemarin saya sempat juga memberikan tips sukses membuat roti ala bakery di UC news. Bisa baca-baca di sini, yaa.


Entah ini roti keberapa yang sudah saya buat. Yang jelas, kalau sudah berhasil sekali aja, berikutnya pastilah ketagihan pengen bikin lagi. Yuk, dicoba, ikuti step by step-nya yaa. Dulu saya juga belajarnya otodidak. Selain karena saya memang kurang pergaulan, ikutan kursus memasak memang harus membayar mahal, pakai banget malah. Sempat juga ditawari oleh salah satu aplikasi memasak, disuruh buka kelas, nanti mereka akan membantu segala kekurangannya. Tapi, bagi saya yang hanya berani di dunia maya, bertemu banyak orang itu bikin jantung kepleset…he. Jadi, saya urungkan untuk membuka kelas masak, saya kumpulin dulu deh keberanian sampai sebesar gunung..he.


Buat saya, berbagi resep dan membuat orang lain terbantu meskipun sedikit saja itu sudah sangat membahagiakan. Kalau ada yang recook dan berhasil, itu kepuasan sendiri buat saya yang sebenarnya masih pemula juga. Kadang ada juga yang sampai berjualan. Berbagilah apa pun yang kita mampu, mungkin buat orang lain itu nggak ada gunanya, gak bermanfaat, tapi buat sebagian orang itu sangat membantu bahkan bisa menambah penghasilan. Dulunya saya juga hanya mencoba resep orang, setelahnya saya merasa sangat berterima kasih kepada orang-orang yang mau berbagi resepnya, bahkan ada juga yang sudah berjualan dan masih mau membocorkan resepnya, ini sesuatu banget. Apa pun itu, jadi bermanfaat buat semua orang merupakan salah satu tujuan hidup (jadi ceramah :D).


Bahan:

500gr terigu protein tinggi (seperti Cakra)

3 kuning telur

85gr gula pasir

4sdm susu bubuk

120ml air hangat

120ml air es atau air suhu ruang

2sdt ragi instan

90gr butter atau margarin

1/4sdt garam


Bahan Isian:

Secukupnya keju parut


Cara membuat:

1.      Campur ragi dan 1sdm gula pasir bersama 120ml air hangat. Aduk rata dan tunggu sampai berbusa.

2.      Masukkan terigu, sisa gula pasir, susu bubuk, 120ml air dingin, kuning telur dan campuran ragi yang sudah berbusa. Uleni sampai rata.

3.      Masukkan butter dan garam. Uleni sampai kalis elastis. Olesi tangan dengan minyak, lalu bulatkan adonan. Tutup dengan lap bersih. Diamkan selama 1 jam sampai mengembang 2x lipat.

4.      Kempiskan adonan, uleni sebentar untuk membuang udaranya. Bagi seberat 30-35 gr untuk roti ukuran sedang. Diamkan 10 menit (boleh skip) dan langsung beri isian.

5.      Setelah diberi isian, bulatkan dan tata di loyang, sedikit diberi jarak, ya karena nanti adonan akan mengembang. Diamkan 1 jam atau sampai mengembang 2x lipat, jangan lupa tutup dengan lap bersih.

6.      Panaskan oven selama 10-15 menit sebelum digunakan. Saya pakai suhu 180’c panggang selama kurang lebih 20 menitan untuk roti sobek ini. Saya sarankan kenali oven masing-masing, ya. Karena setiap oven berbeda, bisa jadi 20 menit dengan merek oven lain justru gosong atau malah belum matang. Jadi, rajin coba-coba saja.

7.      Keluarkan dari oven, olesi atasnya dengan margarin. Sajikan atau masukkan plastik supaya tetap empuk, ya.

 
Note: Kenapa saya pakai 120ml air hangat dan 120ml air dingin? Sebenarnya pakai air hangat semua pun bukan masalah. Jadi, ragi dicampur air hangat dan gula, akan hidup dan cepat bekerja. Kenapa saya pakai air dingin juga? Sebab air dingin membuat proses mengembang jadi lambat dan ini bisa membuat pori-pori rotinya jadi lebih halus (cmiiw), pernah nonton video seorang pastry chef saat itu. Bahkan pastry chef itu memakai full air es. Sesuai selera saja, ya. 

 

500gr adonan menghasilkan 2 loyang berukuran besar dan 2 loyang berukuran kecil. Selamat mencoba!

Friday, November 10, 2017

Cerbung Tentang Kita Bag 12; Sunyi

Cerbung Tentang Kita Bag 12; Sunyi
Photo on Canva


Bagas mengetuk pintu rumah. Lengang. Tidak ada suara ribut anaknya. Begitu pun canda tawa Raina. Sejak kejadian kemarin, mereka berdua belum sempat membicarakan apa pun, termasuk keputusan Bagas untuk menikahi Sherly. Tapi, diamnya Bagas bukan karena dia tak ingin menyelesaikan masalah, dia hanya takut jika istrinya lebih terpuruk lagi mendengar apa pun tentang Sherly. Meskipun itu soal keputusan Bagas untuk tidak akan pernah menikahi wanita itu.


Masalah dalam rumah tangga, semakin berlarut, semakin berat. Dan itulah kenyataan yang harus dia jalani saat ini. Pagi tadi, Raina tak bicara sepatah kata pun. Bahkan mengatakan kecewa saja enggan. Menangis pun tak lagi dilakukannya. Gadisnya membisu. Seperti patung. Menatapnya dengan tatapan kosong. Bagas merasa ini bahkan terasa lebih menyakitkan ketimbang harus mendengar Raina memakinya.


Raina menyiapkan kemeja Bagas, menggantungnya di pintu lemari. Lalu meninggalkannya begitu saja. Padahal, biasanya gadis berlesung pipit itu selalu membantunya memasang kancing, bahkan tidak beranjak hingga dipastikannya penampilan Bagas sempurna. Dan pagi tadi, Bagas kehilangan semuanya.


Secangkir teh panas tersaji di meja makan, tidak ada yang berbeda. Tapi, wanita itu beranjak setelah mengoles satu sisi roti tawar dengan selai kesukaan Bagas. Bagas ingin sekali menarik pergelangan tangan istrinya dan memaksanya duduk di meja makan, bersama, seperti biasa, selama bertahun-tahun tanpa jeda. Nyatanya, dia bahkan tak mampu untuk sekadar mencegah Raina pergi. Pengecut!


Meskipun berkali-kali Bagas mengatakan tidak akan menikahi Sherly, tapi Raina tetaplah membisu. Perempuan yang belakangan terlihat lebih kurus itu tak menjawab ataupun membantah. Dia memperlakukan Bagas seolah tak ada. Dan itu jauh lebih menyakitkan baginya.


Bagas terpaku. Sesaat suara pintu berderit ketika Raina membukanya. Bagas berharap, istrinya sudah jauh lebih baik malam ini. Nyatanya, setelah mengambil tas milik Bagas, Raina pun segera berlalu meninggalkannya sendiri. Bagas menarik napas. Tidak ada yang mudah.


Bagas mulai lelah. Pikirannya kalut. Dia menghempaskan tubuhnya di atas sofa. Berpikir keras, bagaimana cara melelehkan hati Raina. Dulu, dia pernah berusaha keras untuk mendapatkannya. Kini, wanita itu justru telah membangun benteng baru yang lebih tinggi. Hingga Bagas pun sulit sekali melewatinya. Harusnya, dia bisa menyelesaikan masalah ini. Harusnya begitu.


Bagas beranjak, masalah tidak selesai dengan diam. Dia bergegas menuju kamar, mencari Raina. Dia harus segera bicara. Menyelesaikan persoalan yang sebenarnya tidak akan sulit jika Raina mau mendengarkannya.


Sayangnya, ketika pintu kamar dibuka, Bagas tak menemukan siapa pun di sana. Hanya ranjang dengan bantal serta selimut yang tertata rapi. Di mana Raina? Bagas mengepalkan sebelah tangan dan melemparkannya ke udara. Kesal! Seharusnya perempuan itu mau mendengarkan, jangan terlalu sibuk larut dalam kesedihan yang sebenarnya bahkan belum terjadi. Sekarang, apalagi yang harus dilakukannya? Diam tak menyelesaikan masalah. Kalimat itu terngiang cukup keras, berkali-kali menyentuh gendang telinganya.


***


Pagi ini,  Raina bangun seperti biasa. Menyiapkan kemeja Bagas dan menggantungnya di lemari. Tapi, saat masuk kamar, lelaki yang biasanya masih tertidur pulas itu justru tak ada di sana. Raina terhenyak. Ingin berteriak dan memanggil, sayangnya rasa sakit kemarin belum mengering. Raina mengurungkan niat, Bagas telah melukainya bahkan tidak memedulikan perasaannya. Lalu kenapa dia harus peduli? Suaminya bukan anak kecil, dia bisa mengurus dirinya sendiri. Ah, Raina ingin sekali mengatakan bahwa kejadian kemarin hanya mimpi. Perasaannya tak karuan. Tiba-tiba dia mual. Segera berlari ke kamar mandi. Menuntaskan rasa sakit di hati, dan melenyapkan segala himpitan perasaan yang tiba-tiba semakin menyakitkan saat perutnya tiba-tiba nyeri.


“Kamu sakit?”


Raina terperanjat ketika tiba-tiba Bagas telah muncul di balik pintu kamar mandi. Lekas-lekas Raina menggeleng. Dia baik-baik saja. Atau lebih tepatnya, dia harus terlihat baik-baik saja di depan suaminya. Raina tidak mau mengatakan apa pun. Sebab kemarin, yang membuatnya sakit juga Bagas sendiri. Begitu egoisnya lelaki behidung mancung itu hingga tak memedulikan perasaannya. Wanita mana yang mau berbagi cinta suaminya dengan wanita lain? Bahkan meski itu hanya sebuah permainan, Raina tak pernah rela melakukannya. Biarlah, Raina bisa mencari pintu surga lainnya, tidak harus dengan menjadi istri pertama.


“Masuk angin? Mau ke dokter?”


Ah, Bagas menepuk keningnya. Biasanya dia sendiri yang memeriksa istrinya, lalu kenapa dia menawarkan pergi ke dokter? Bodohnya!


Tapi Raina bergeming. Dia terlihat sibuk mengambil kemeja di dalam lemari, menggantungnya, seperti biasa.


“Istirahatlah, mas bisa melakukannya sendiri.”


Tapi, Raina tidak peduli. Dia tetap mempersiapkan keperluan Bagas seperti biasa. Seperti tak mendengar kalimat yang dilontarkan Bagas barusan. Bukan masalah, Bagas hanya perlu bersabar. Dia bahkan masih bersyukur, sebab Raina masih tetap di rumah. Bukan pergi ke rumah orang tuanya atau lebih buruknya meminta cerai. Tidak, kalimat itu semoga saja hanya mimpi yang mustahil terjadi dalam rumah tangga mereka.


Ah, rasanya bodoh sekali, kenapa Bagas bisa-bisanya melalukan perbuatan seburuk itu pada Raina. Meski istrinya penurut dan selalu baik, bukan berarti dia akan setuju ketika mendengar Bagas akan menikah lagi, apalagi jika wanita itu adalah Sherly.


“Rai!” Bagas memaksa Raina mendengarkannya, sebentar saja.


Raina mematung. Melihat kedua mata Bagas dengan tatapan tajam, penuh luka dan sakit hati. Raina tidak menangis, tapi kedua  kelopak matanya tampak bengkak. Tidak menangis detik ini, tapi semalam dan kemarin, dia menghabiskan seluruh air matanya. Dan yang lebih menyesakkan, gadis itu menangis hanya karena kebodohan suaminya sendiri.


“Rai, mas minta maaf. Kita harus selesaikan semua ini. Tidak boleh berlarut-larut,” ucap Bagas memelas.


“Raka sudah bangun. Raina harus memandikannya.”


Raina berlalu. Bagas ingin mengejar, tapi takut masalah mereka terlihat oleh Raka, putra mereka. Mungkin bukan kabar baik hari ini, tapi Raina sudah mau bicara padanya meski nyatanya itu juga merupakan sebuah penolakan.


Bagas mengambil kemeja, mengenakannya sendiri. Dan detik itu, dia merasa semakin kehilangan sosok istrinya.


 
***

Wednesday, November 8, 2017

Resep Chewy Brownies

Resep Chewy Brownies


Assalamualaikum…Alhamdulillah sedang kena serangan flu berat. Kemarin belum sempat posting resep satu ini karena saya pergi seharian dan memilih istirahat nggak begadang atau kondisi tubuh semakin drop kalau memaksa menulis malam-malam setibanya di rumah.

Kalau kondisi tubuh sedang tidak sehat, mending banyakin istirahat daripada malah semakin parah. Apalagi jika memaksa begadang, kan? Nggak bisa dipaksain walaupun masih banyak hal yang ingin dikerjakan. Mesti mengalah pada fisik dan kondisi tubuh, iya, tubuh juga punya hak buat istirahat. Jangan diforsir.


Kadang, kita gampang sakit juga karena terlalu capek dan males menjaga kesehatan. Saking banyaknya kerjaan, sampai lupa istirahat. Minimal tidur malam harus cukup. Karena tidur atau istirahat di malam hari nggak bisa digantikan dengan tidur di pagi atau siang hari.


Dulu, saya pikir, kalau begadang, siangnya bisa sekalian istirahat mengganti tidur malam yang kurang. No, nyatanya nggak boleh begitu. Semua harus dikerjakan seimbang atau kita sendiri yang rugi karena jadi lebih gampang sakit. Walaupun hanya sakit flu ringa, tetap saja sangat mengganggu jiwa dan raga...haha.


Daripada lama-lama, yuk ah cerita lagi resep yang mau saya share kali ini. Nah, beberapa hari kemarin sempat ramai foto-foto brownies yang ada shiny crust-nya. Penasaran banget pengen gigit satu aja, he. Sayangnya belum sempat membuat karena saya tidak punya stok coklat di rumah.


Saat belanja bulanan, sengaja saya mengambil coklat batangan buat dibikin brownies. Nah, kemarin akhirnya saya buat juga dan hasilnya alhamdulillah keluar shiny crust-nya. Cantik dan enak banget dimakan.


Katanya sih, si shiny ini bakalan muncul jika perbandingan gula dan coklatnya lebih banyak ketimbang tepung yang dipakai. Resepnya saya pakai milik ci Erlina Lim yang dishare oleh mbak Indry Hapsari di Cookpad. Saya juga menambahkan coklat batangnya lebih banyak sekitar 200gr dari resep asal hanya 150gr.


Penting perhatikan tips supaya shiny crust-nya keluar, ya.

·         Komposis DCC dan gula lebih banyak daripada tepung

·         Saat mengocok telur dan gula, gulanya harus benar-benar larut, ya.

·         Setelah adonan dituang ke dalam loyang, diamkan beberapa saat. Saya diamkan sekitar 5 menit sebelum dimasukkan oven.


Bahan:

150gr dark chocolate

50gr butter

40ml minyak goreng

2 butir telur

150gr gula halus


Campur rata:

100gr terigu serbaguna

35gr coklat bubuk


Cara membuat:

·         Lelehkan DCC, butter dan minyak dengan cara ditim. Saya merebus air dan menaruh piring di atasnya atau bisa juga dengan menaruh panci lebih besar di atasnya dan digunakan sebagai tempat melelehkan DCC.

·         Kocok telur dan gula sampai gula benar-benar larut dengan wisk. Kocok sampai lengan berotot..he.

·         Masukkan campuran DCC yang telah meleleh ke dalam kocokan telur, aduk rata. Masukkan juga terigu dan coklat bubuk sambil diayak. Aduk rata dan hasil adonan menjadi berat. Jangan over ngaduknya, ya. Yang penting rata.

·         Tuang adonan ke dalam loyang yang telah dioles margarin tipis kemudian diberi alas kertas roti di atasnya. Tuang adonan dan beri topping sesuai selera. Bisa memakai kacang panggang, almond slice, chocolate chip atau oreo. Diamkan sekitar lima menit sebelum dimasukkan ke dalam oven.

·       Sebelum memanggang, panaskan oven minimal 10 menit sebelumnya. Panaskan oven dengan suhu 150’C. Panggang adonan selama kurang lebih 25 menit atau sesuaikan dengan oven masing-masing. Saya juga kemarin agak lama, sekitar 35 menit. Semua tergantung dari ovennya masing-masing, yaa.

 
Alhamdulillah, shiny crust-nya keluar cantik. Tunggu dingin dan potong-potong, yaa. Rasanya pas banget di lidah. Selamat mencoba, semoga bermanfaat…^^

Monday, November 6, 2017

Cerbung Tentang Kita Bag 11; Menikah Lagi

Cerbung Tentang Kita Bag 11; Menikah Lagi
Photo on Canva


Tidak perlu menikahi seorang perempuan jika tujuannya ingin membantu. Sebab banyak lelaki yang katanya kasihan dengan nasib seorang janda, kemudian dia menikahinya, padahal sang lelaki sudah memiliki istri dan juga anak. Pernikahan pun harus dirahasiakan, kecuali memang pada akhirnya harus ketahuan. Jika memang tujuannya membantu, berikan saja mereka bantuan berupa uang dan dipenuhi kebutuhan hidupnya. Kecuali memang ada hal lain yang selalu dirahasiakan oleh banyak suami kepada istri pertamanya, termasuk yang saat ini dilakukan oleh Bagas kepada istrinya.

Raina tak mengerti dengan jalan pikiran suaminya. Baginya, membahagiakan orang tidak perlu dengan cara menikahinya apalagi jika dulunya Sherly pernah ada masalah dengan Bagas. Itu hal terbodoh yang akan membuat Raina benar-benar merasa sangat hancur.


Tidakkah Bagas mengerti, selama beberapa tahun sebelum pernikahan mereka digelar, dia telah memercayakan segalanya kepada Bagas. Masih lekat dalam ingatannya, ketika Bagas datang sore menjelang malam, bersama kedua orang tua yang jauh-jauh diajaknya dari Surabaya. Mereka, meminta maaf. Menceritakan semua kenyataan pahit yang pernah Bagas alami bersama Sherly. Meski awalnya ragu, tapi akhirnya Raina  memilih percaya dan menikmati kehidupan mereka yang baru.


Tidak pantas bagi Raina mempermasalahkan masa lalu Bagas, sebab kenyataannya lelaki itu telah berjanji akan menyelesaikan semuanya. Dan hingga bertahun-tahun pernikahan itu tumbuh dan menua, sosok Sherly memang tak pernah lagi muncul di hadapan mereka. Lalu, ketika tiba-tiba Rara datang dan memintanya menikahi Sherly, apakah Bagas akan menerima begitu saja?


Di mana janji-janji masa lalu yang disulamnya demi memohon kepercayaan Raina? Tidakkah Bagas tahu, dengan cinta atau tanpa cinta, menikahi wanita lain tetap terlihat seperti sembilu yang menusuk tajam hingga ke ulu hatinya. Raina masih mengeja lagi, di mana kesadaran lelaki yang telah mengambil separuh dari hatinya? Tidak adakah jalan lain yang lebih mudah diterima oleh akal pikiran manusia selain memutuskan untuk berpoligami?


Raina hanya diam. Air matanya bicara lebih banyak. Setelah siuman, dia masih bergeming. Bagas terus meminta maaf. Menyetuh lembut pergelangan tangannya yang terasa jauh lebih dingin ketimbang es. Tiba-tiba Raina muak dengan wajah tampan itu. Selama bertahun-tahun menikah, tidak pernah dia merasa sebenci ini kepada suaminya. Meski pertengkaran di antara mereka kerap terjadi, tapi Raina tak pernah merasa sesulit ini untuk memaafkan.


“Maaf, Rai. Maafkan.”


Suara Bagas berkali-kali menyentuh gendang telinga. Lelaki itu sejatinya menyesal, bahkan amat menyesal. Air matanya kini bak aliran sungai yang tenang. 


Raina tidak pernah melihat Bagas menangis hingga tampak kedua bahunya naik turun. Lelaki itu, meski pembawaannya tenang, tapi dia bukan lelaki cengeng. Raina tertegun, memerhatikan wajah suaminya yang basah. Menatapnya dengan tatapan kosong. Entah harus memaafkan atau membencinya, Raina hanya memikirkan satu hal, kabar baik yang belum disampaikannya kepada Bagas, yang kini telah berubah menjadi hujan air mata.


Tangan Raina mengusap perutnya pelan. Pernikahan? Benarkah suaminya akan menikah lagi? Tidakkah dia paham, Raina tengah berbahagia barusan, namun sayang, Bagas merusak semuanya. Membuat Raina enggan bicara. Bahkan mendiamkan lelaki itu terasa lebih menyenangkan. Dan Raina tahu, ini bukan dirinya.

 
***


Teman-teman bisa memaca cerita lainnya dengan memilih kategori Literasi dan pilih cerita yang disukai. Tetap semangat berlatih, tetap bahagia dan jangan lupa bersyukur. Semoga bermanfaat, dan selamat membaca, ya!

Salam hangat,

Friday, November 3, 2017

Resep Bika Ambon Ekonomis 2 Telur

Resep Bika Ambon Ekonomis 2 Telur


Assalamualaikum…Semoga nggak bosan ya, membaca resep-resep saya yang sangaat sederhana. Karena pada dasarnya saya bukan ahli cooking apalagi baking, jadi resep-resep saya juga biasanya nggak macam-macam, bahkan hampir semuanya hasil recook dari resep senior-senior di cookpad.

Nah, kali ini saya mau posting resep bika ambon yang ekonomis banget. Bikinnya juga ternyata mudah sekali, hanya saja harus lebih banyak bersabar, ya. Hampir seperti roti yang butuh proofing, kan? Eits, tapi ini nggak butuh otot buat bikin. Hanya saja butuh lebih banyak kesabaran dan tanggung jawab untuk menyelesaikannya *eaaa…he.


Resep ini saya dapat dari dapurVY di cookpad. Nah, cetakannya bisa pakai teflon kecil, teflon biasa, cetakan kue lumpur atau martabak mini, atau apa saja seperti saya malah pakai cetakan takoyaki…he. Nah, katanya sih kalau dipanggang di oven, pintu ovennya harus dibuka sedikit yah. Tapi saya nggak pernah. Dan menurut saya, dipanggang di kompor justru jauh lebih mudah.
 

Kuncinya supaya bersarang bagus, setelah dituang di cetakan, jangan ditutup dulu, ya. Tunggu sampai berlubang dan bersarang hingga bagian atasnya cukup kering. Setelah itu barulah ditutup sebentar. Kalau sebelum berlubang-lubang sudah ditutup, katanya malah nggak bersarang.


Ikuti step by stepnya, ya. Insya Allah ini nggak susah. Hanya butuh kesabaran, ingat, kesabaran dan tanggung jawab…he.


Bahan:

100gr tepung kanji atau tapioka

50gr tepung terigu serbaguna

80gr gula pasir

1/4sdt garam

1sdm margarin, cairkan

2 butir telur, kocok lepas

1sdt kunyit bubuk atau pewarna kuning secukupnya


Bahan santan (Rabus jadi satu, saring, ambil 200ml saja)

250ml santan (65ml santan instan + air)

10 lembar daun jeruk, buang tulangnya

2 lembar daun pandan

1 batang serai, geprek


Bahan biang:

50ml air hangat

1sdt ragi

1sdt gula pasir


Cara membuat:

·         Rebus bahan santan sampai mendidih dan biarkan sebentar. Matikan. Biarkan sampai dingin, saring. Masukkan kunyit bubuk, aduk rata.

·         Campur bahan biang. Aduk rata dan biarkan sampai berbusa sekitar 10 menitan.

·         Campur tepung tapioka, tepun terigu, gula pasir, garam, bahan biang, masukkan juga separuh dari santan yang telah disaring. Aduk dengan wisk sampai licin dan tidak bergerindil.

·         Masukkan telur yang telah dikocok lepas serta sisa santan. Aduk rata.

·         Masukkan margarin cair. Aduk rata dan diamkan satu jam sampai berbusa. Jangan lupa tutup dengan lap bersih.

·         Panaskan cetakan, tuang adonan dan jangan terlalu penuh, ya. Biarkan sampai adonan berlubang, dan permukaannya mulai kering. Tutup, tunggu sampai matang. Angkat.

·         Sajikan...

 Hasilnya pas banget. Kalau ingin rasa pandan, bisa ganti kunyit bubuk dengan pasta pandan, ya. Aromanya wangi, manisnya pas nggak bikin eneg. Dan yang pasti ini ekonomis banget. Hanya pakai 2 telur, kalau gagal pun tadi mikirnya nggak rugi-rugi amat..he. Alhamdulillah nggak gagal justru bakalan jadi resep favorit, nih!


Bikin Camilan Bareng Anak-anak


Kalau bikin camilan buat anak-anak sebisa mungkin memakai resep kue tradisional. Jadi, sekalian kita bisa mengenalkan makanan tradisional yang ada di Indonesia. Biar mereka juga tahu kalau negerinya kaya kuliner dan budaya. Biar nggak familiar sama ayam goreng krispi dan pizza saja...huhu.

Nah, anak-anak bisa sekalian diajak terlibat membuat kue atau camilan. Kita bisa pilih akhir pekan sehingga tepat waktunya seperti yang diinginkan, mumpung libur sekalian isi waktu luang sekaligus belajar.

Beri tugas kepada masing-masing anak. Biasanya, mereka antusias banget lho asal dikasih kesempatan. Misalnya, si sulung bagian menuang susu. Si bungsu menuang gula pasir. Mereka bisa bergantian mengaduknya.

Hmm, menyenangkan juga, kan? Yuk, dicoba juga :)