Pengaruh Peran Ayah dalam Perkembangan Anak

Monday, November 4, 2019

Peran ayah dalam perkembangan anak tidak bisa dinomorduakan. Tugas ayah bukan lagi sekadar memberikan nafkah kepada keluarga, lebih dari itu ayah juga punya peran penting dalam pengasuhan dan turut memberikan andil positif dalam pembentukan karakter anak.

Sebagian ayah masih merasa bahwa tugasnya hanya bekerja mencari nafkah saja. Hmm, sepertinya kita mesti berbenah diri jika selama ini merasa kurang perlu ikut campur dalam proses pengasuhan anak, ya? Padahal, peran seorang ayah dalam keluarga bisa dimulai bahkan sejak sebelum anak lahir ke dunia.

Saya jadi ingat, waktu kecil, Kai (panggilan untuk Bapak) bahkan mengantarkan saya sekolah mulai dari TK sampai SD. Parahnya, tiap diantar, saya tidak mau ditinggal...haha. Jadi, Kai harus duduk di sebelah saya, menahan malu karena seluruh orang tua murid yang datang mengantar hanya ibu-ibu saja.

Kai bukan hanya mengantar saya sekolah, beliau juga yang mengajarkan saya menggambar dan menulis. Saya masih ingat betul waktu beliau membantu saya memegang pensil. Sampai segitunya. Sedangkan Nyek (panggilan untuk Ibu), beliaulah yang mengajari saya mengaji. Meski rumah kami dekat mushola, namun Nyek selalu memilih mengajari saya sendiri, lho. Kayaknya Nyek lebih sreg mengajari putri bungsunya sendiri ketimbang diserahkan pada orang lain.

Setelah menjadi seorang ibu, apa yang diajarkan oleh orang tua saya pelan-pelan memang menurun tanpa saya sadari. Misalnya, sampai detik ini, saya lebih memilih mengajari anak-anak mengaji di rumah ketimbang mengirimkan mereka ke TPQ. Bukannya nggak pengen, tapi saya belum bisa mengantar mereka ke TPQ tiap sore...haha. Saya juga ingat bagaimana Nyek ngajarin saya di rumah. Alhamdulillah, qadarallah, anak-anak bisa belajar dengan baik bersama emaknya, meski disambi omelan juga, ya... :D

Anak-anak juga lebih banyak belajar di rumah sebelum masuk TK. Nggak ada yang mau masuk PAUD. Bersama saya, mereka belajar menggambar, menulis, dan membaca. Semua dipelajari tanpa kami sadari karena memang dikerjakan dengan sangat menyenangkan, sambil main, sambil cerita, dibantu dibacakan dongeng setiap malam menjelang tidur, hal itu secara tidak langsung bisa membantu mereka untuk belajar membaca dan mencintai buku.

Bagaimana dengan si ayah? Mau jujur atau nggak, nih? Semoga Mas nggak baca postingan ini, ya...haha. Mas termasuk ayah yang bertanggung jawab. Selama menikah, dia paling nggak suka ngerepotin orang tua. Saat saya hamil, dia rela pulang ke rumah waktu jam istirahat kantor supaya bisa menemani saya makan siang, tetapi saya selalu muntah-muntah setelahnya. Bukan menolak kebaikan dia, tapi memang saat hamil saya melalui masa morning sickness yang cukup parah.

Saat mau melahirkan, kami memilih menjalaninya berdua aja. Semua kami lakukan supaya orang tua nggak ikut panik dan stres. Pengalaman pertama menjadi calon ayah dan calon ibu, Mas termasuk orang yang super santuy. Saat saya kontraksi aja dia sempat ketiduran, lho. Saat saya melahirkan anak kedua, dia sempat bercanda dengan dokter kandungan di ruang bersalin. Gemas banget, kan? Kwkwk.

Masa-masa menjadi orang tua baru bukan hal mudah. Saya sempat demam hingga 39 derajat lebih karena proses laktasi kurang benar. Belum lagi begadang yang begitu melelahkan. Tapi, bersyukur banget Mas mengerti, baik diminta atau tanpa diminta, dia selalu bantu jagain bayi kami.

Tapi, setiap orang tua nggak ada yang sempurna. Baik saya atau suami, semuanya punya kekurangan dan kelebihan masing-masing. Dan kekurangan itu terlihat dari kedekatan dia dengan anak-anak.

Walaupun lumayan perhatian, tapi dia suka mati gaya kalau diajak main sama anak-anak di rumah. Bingung mau main apa, terus ketiduran...grrrr. Kebayang, kan, anak-anak sebal bukan main...kwkwk. Mas lebih cocok ngajak anak main di luar, bersepeda, ngajarin anaknya belajar naik sepeda, sekali belajar langsung bisa, naik motor kecil *yang menurut emaknya nggak banget :(

Dan akhirnya tugas main di rumah kebanyakan diserahkan kepada saya, emaknya, satu-satunya perempuan di rumah dan satu-satunya yang paling cerewet juga terutama kalau pagi-pagi *horor. Kita harus saling berbagi tugas.  Tugas menemani anak mengerjakan PR mudah bisalah diserahin ke emaknya, tetapi untuk soal-soal sulit apalagi matematika, saya pasrah dan saya lempar langsung ke Mas...haha.

Nggak mungkin mendapatkan pasangan yang seratus persen sempurna dan sesuai keinginan kita, terlebih yang namanya manusia selalu punya kekurangan di sana sini. Paling penting, sebagai orang tua harus mengerti kewajiban masing-masing. Bahwa tugas mendidik tidak sepenuhnya diserahkan kepada seorang ibu, karena peran ayah di dalam pengasuhan anak tidak kalah penting. Bahkan bisa menentukan karakter anak-anak kita juga.

Menurut salah seorang peneliti perkembangan sosial anak dari Universitas California, Ross D. Parke menjelaskan bahwa peran ayah dalam pengasuhan anak mampu membuat si kecil lebih berkembang dalam segala aspek, lho. Anak yang diasuh juga oleh sang ayah bisa tumbuh menjadi pribadi yang lebih percaya diri.

Karena itu, sangat disayangkan jika masih banyak ayah-ayah di luar sana yang masih merasa bahwa tugas mendidik bukan merupakan kewajibannya. Jangan mau hanya jadi mesin ATM, yang didekati ketika dibutuhkan uangnya saja *nah, lho.

Saling Bekerja Sama


Jika kita merasa peran ayah di dalam keluarga kurang maksimal, bantu pasangan kita supaya ikut aktif mendidik anak-anak dan membersamai tumbuh kembang mereka. Nggak usah gengsi bicara dan mintalah tolong secara langsung. Karena sebagian besar para lelaki itu tidak ‘peka’ alias susah banget diajak main kode-kodean....haha.

Berbagilah tugas bersama pasangan. Saya percaya, mereka akan dengan senang hati menerima asalkan kita beri mereka kepercayaan dan jangan membuat mereka illfeel, ya.

Kita memang sedang belajar menjadi orang tua, karenanya, tidak perlu banyak mengeluh tentang kekurangan pasangan. Lebih baik saling bekerja sama karena hasilnya bisa lebih positif terutama bagi perkembangan anak-anak kita.

Misalnya, saat hendak tidur, berbagilah tugas membacakan buku untuk anak-anak. Di akhir pekan, biarkan ayah mengajak mereka bermain di luar, sedangkan kita bisa me time *baca: nyuci, setrika, masak, ngepel.

Tidak Ada Orang Tua yang Sempurna


Jangan selalu merasa benar sendiri, karena baik kita atau suami selalu dikarunia kekurangan yang dengannya kita bisa saling melengkapi satu sama lain. Contohnya, di rumah, saya adalah tipe ibu yang banyak bicara dan cerewet. Sedangkan Mas, lebih pendiam dan jarang bicara, namun humoris dan kocak banget. Bayangkan jika kami berdua sama-sama suka bicara, bisa pecah dong rumah...haha. Disyukuri aja punya suami pendiam, kadang sifat pendiamnya justru menguntungkan, kok, di saat yang tidak kita duga...kwkwk.

Dalam mendidik, pastilah di antara kita dan pasangan masih banyak kekurangannya. Bantu mereka ikut memahami apa yang kita pikirkan dan inginkan dengan cara yang baik. Yups! Komunikasi yang tepat itu perlu. Karena, kebanyakan masalah jadi runyam karena komunikasi yang tidak tepat alias hanya kode-kodean.

Berilah Kepercayaan

 

Bukan hanya ayah, kita sebagai ibu juga akan sedih kalau terlalu sering disindir atau dianggap tidak mampu menjalankan tugas dengan baik. Jadi, jangan terlalu banyak menyindir pasangan misalnya dengan kalimat seperti ini,

“Tuh, kan, apa Bunda bilang. Jangan main hujan-hujanan. Jadinya basah semua. Padahal adek baru aja ganti baju...”

Yaiyalah, di mana-mana kalau main hujan-hujanan itu bakalan basah, Buk...haha. Akhirnya ayah nyolot, “Ya udah, besok-besok Bunda aja yang ngajakin main!”

Eaaa...Keributan kecil pun dimulai...haha. Kadang hal-hal semacam itu membuat pasangan kita enggan bekerja sama karena selalu dianggap salah. Salah mulu, jadinya, kan, bete banget. Ujung-ujungnya nggak akan mau berbagi tugas di rumah.

Kadang, pemakluman itu perlu, ya. Hanya saja, emak-emak memang suka drama duluan, sedangkan bapak-bapaknya slow dan super santuy!

Lantas, apa saja pengaruh peran ayah dalam proses pengasuhan serta perkembangan anak?


  • Sosok ayah bisa memberikan rasa aman dan nyaman. Peran ayah sangat dibutuhkan tidak bisa digantikan oleh peran seorang ibu dalam proses pengasuhan. Anak yang mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuanya bisa tumbuh menjadi anak yang bahagia. Itulah yang sangat kita inginkan.

  • Ayah bisa menjadi pemandu, membantu anak lebih aktif mengeksplorasi dunia sekitarnya. Ayah sekaligus bisa memberikan batasan bagi mereka.

  • Anak menjadi lebih percaya diri serta mandiri. Anak juga belajar banyak hal dari sang ayah, termasuk sikap tanggung jawab kepada orang lain.


Saya percaya, anak-anak yang mendapatkan kasih sayang utuh dari kedua orang tuanya mampu menjadi pribadi yang positif, bahagia, dan lebih percaya diri. Sosok ayah sebagai salah satu tempat aman dan nyaman bagi anak-anak jangan pernah diremehkan apalagi dinomorduakan. Sosok ibu tak akan tergantikan, begitu juga dengan sosok ayah di dalam proses pengasuhan anak. Karena itu, butuh kerja sama antara keduanya.

 

*Pict by Pexels.com

 

Comments

  1. Saya yang baca kok jadi ikut baper. Jadi iri, ingin segera melepaskan masa lajang alias masa kejombloan
    Peran ayah pastinya sangat penting
    Menurut teman saya yang jadi doktet, katanya. Jika ada lebih dekat dengan sang ayah akan memiliki kecerdasan yang lebih.

    ReplyDelete
  2. jadi kepingi kenalan dengan si emas, hihihi.
    kepingin lihat tulisannya juga, kali aja dapat info menari tentang menjadi ayah. sebagai suami juga sih,hahaha. Hal diatas lebih terasa lagi jika Ayah ldr an dengan keluarga, tapi pasti ada solusinyakan?
    Dengar-dengar juga perhatian Ayah dan keteladannya memberi pengaruh perkembangan anak dibidang "hukum".

    ReplyDelete
  3. Haha...semoga segera dipertemukan dengan jodohnya ya, Mas..aamiin.

    Bener, banyak hal positif bisa didapatkan jika anak bisa dekat dengan ayahnya..

    ReplyDelete
  4. Haha, iya...

    Ingat, Mas...yang penting bukan hanya kuantitas, tetapi juga kualitas...waktu bersama meski sedikit tapi kalau berkualitas bakalan lebih maksimal...

    ReplyDelete
  5. peran ayah memang sangat penting ya mbak.. semoga para ayah mau mengambil juga perannya dalam pengasuhan anak.. jadi seimbang antara ibu dan ayah..

    ReplyDelete
  6. Iya bener banget. Kalau disindir dan disalahkan itu ga enak banget buat semua orang, baik laki-laki atau perempuan, dewasa atau anak-anak. Dan ayah itu tugas utamanya bukan mencari nafkah. Ga jadi ayah atau ga jadi suami tetep kan harus nyari nafkah buat diri sendiri. Tugas ayah itu kata pakar parenting FBE adalah membentuk misi keluarga yang spesifik dan menuntun anggota keluarganya dalam menjalankan misi itu. Dan itu berat banget.. Kalau seorang ayah sudah ajeg misinya, katanya ga akan galau-galau lagi di usia 40 tahun.

    ReplyDelete
  7. Jadi baper baca ini, karena banyak hal.
    Yang pertama, pak suami aslinya seorang yang amat sangat berperan dalam perkembangan anak, meskipun ya pemikirannya masih kolot, sehingga seringnya pola asuh kami berbeda dan bikin anak bingung hahaha.

    Kedua, pak suami sekarang nggak bisa sering mendampingi anak, sungguh sedih, padahal anaknya dua-duanya cowok, tapi kondisi yang membuat kami harus merelakan hal tersebut huhuhu.

    *curcooll :D

    Btw thanks sharingnya mba, ada banyak hal yang jadi reminder buat saya, terutama memberi kepercayaan pada suami dalam mendampingi anak, setidaknya kami mendiskusikan persamaan pola asuh di belakang anak :)

    ReplyDelete
  8. Pengalaman masa lalu yang tumbuh tanpa figur sempat membuatku merasa aneh dengan perlakuan suamiku pada Najwa. Tapi sekarang aku justru semakin menyadari, bahwa porsi mengasuh untuk harus proporsional antara ayah dan ibu. Ya, kareena aku nggak mau juga anak-anak terlalu besar pengaruhnya dari aku.

    Untuk kebutuhan hajat hidup, jelas aku yang mereka cari. Tapi kalau mereka butuh solusi, aku berusaha mengarahkan pada ayahnya agar cara berpikirnya lebih logis. Habis aku baperan, sih.

    ReplyDelete