Khusus Pemula: 7 Tips Konsisten Menulis Setiap Hari

Wednesday, November 27, 2019

Hello! Apa kabar semangat menulis kamu hari ini? Detik ini? Apa? Saya mendengar kalimat penuh ragu. Kamu nggak pede? Nggak ada ide? Hmm, apalagi alasan kamu kenapa sampai detik ini masih enggan menulis lagi? Padahal, setiap ditanya tentang impian, kamulah yang paling menggebu menyebut profesi sebagai penulis adalah satu-satunya cita-cita besar yang belum terwujud. Tapi, lihatlah! Kamu justru sedang terang-terangan mengkhianati impianmu sendiri *Plakk!

Namanya juga manusia, ada bosan, capek, pengen udahan, apalagi kalau sampai beberapa bulan atau bahkan sampai hitungan tahun masih belum kelihatan juga hasilnya, kenapa masih begitu-begitu aja? Tapi, apa benar kamu ingin menyerah begitu saja? Yakin nggak iri lihat teman-temanmu update postingan baru di blognya hampir setiap hari? Yakin kamu nggak sakit hati melihat teman satu angkatan di kelas menulis online update status tentang buku terbarunya? :D

Fiuh...Sepertinya saya tidak benar-benar percaya kamu rela melihat semua itu, sedangkan kamu hanya bisa jadi penonton setia aja...hihi. Dan itulah yang saya rasakan ketika tiba-tiba ingin berhenti dan merasa capek. Tapi, setiap kali ingin udahan, ujung-ujungnya malah semakin serius masuk ke dunia literasi.

Bagi yang benar-benar ingin jadi penulis, mau nulis buku, blog, atau artikel, pasti ada perasaan kangen kalau sudah kelamaan nggak nulis. Dan keinginan itulah yang seharusnya dijaga nyalanya jangan sampai padam. Wajarlah kalau sekali dua kali kita ingin istirahat, kemudian berhenti beberapa saat. Tapi, bukan berarti kita harus menuruti keinginan itu seterusnya. Karena menulis adalah passion, sudah pasti kita mau aja dibuat berlelah lillah karenanya *eaa...haha.

Pada postingan kali ini saya mau berbagi tips supaya kamu bisa lebih konsisten menulis, kalau bisa minimal seminggu sekali atau dua kali, semakin keren jika bisa menulis setiap hari.

1. Kamu Benar-benar Suka Menulis


Bukan sekadar nyoba-nyoba, bukan sekadar gaya-gayaan supaya disebut penulis. Kesannya keren, kan? BUKAAAN! Kamu harus memastikan bahwa kamu memang benar-benar menyukainya. Sehingga setiap kali menulis, kamu merasa senang dan menganggap itu adalah me time yang tak tergantikan.

Meski capek, kamu tetap meluangkan waktu untuk menulis, karena kamu yakin benar-benar menyukainya. Nggak sekadarnya, nggak sesempatnya. So, masih layakkah kamu disebut penulis?

2. Perlu Dibiasakan


Nggak mungkin kita bisa menulis dengan lancar kalau tidak membiasakan diri melakukannya setiap hari.

“Tapi, males dan capek, nih! Aku juga nggak ada ide!”

Ah, itu alasan mereka yang tidak bersungguh-sungguh saja. Karena bagi yang serius, mau nunggu tengah malam pun dikerjakan supaya bisa menyalurkan kesenangannya. Karena kalau sudah suka, jalan berliku hingga berduri pun ditempuh.

Sebagai IRT tanpa ART, pengen banget banyak ngeluh capek, udah seharian ngerjain tugas rumah nggak ada habisnya, masih dikejar deadline menulis pula. Rasanya pengen banget udahan kalau inget begini. Tapi, setiap kali perasaan itu muncul, saya tanyakan lagi sungguh-sungguh dalam hati, memangnya kamu yakin mau berhenti? Nggak pengen seperti teman-temanmu yang lain yang meski sibuk banget, namun tetap bisa menulis?

Dan hati saya akan menolak melakukannya karena ingat saya nggak bisa melihat orang lain nerbitin buku atau ngeblog sedangkan saya hanya jadi pembaca...haha. Nggak ridha banget pokoknya...kwkwk.

Jadi, paksain supaya ada waktu untuk menulis sehingga terbentuklah kebiasaan yang nantinya memudahkan kita menyelesaikan tulisan. Begitu :)

3. Tugas Kita Menulis dan Menulis


Saya kurang setuju kalau penulis kebanyakan mikir apakah tulisannya layak dan bagus atau belum? Ya, karena perasaan semacam itu bisa menghambat keinginan kita dan usaha kita. Bikin kita jadi nggak pede. Akhirnya kita nggak pernah berani melanjutkannya lagi.

Saya mau katakan, semua orang yang sekarang pintar dan hebat, sudah pasti mengawalinya dari bawah. Dari tulisan bagus, pasti diawali yang biasa aja. Tere Liye katakan, nggak ada rumus khusus untuk menulis kalimat-kalimat indah. Semua itu terbentuk dari kebiasaan dan konsistensi selama bertahun-tahun sehingga mampu membuat kalimat sederhana menjadi istimewa.

Jadi, menulis dan menulislah dulu. Jangan pikirkan hasilnya dan jangan terlalu banyak dipertimbangkan apakah nantinya akan banyak yang suka atau malah cuma dikacangin. Percayalah, meski kacang bukan camilan mahal, tapi banyak disukai, kok *lol

4. Tulis dari Pengalaman


Nggak usah repot-repot menulis tentang tema susah, apalagi yang butuh riset panjang dan berat. Karena sejatinya hidup aja sudah berat, kenapa masih nyari yang susah, sih? Haha.

Saya akan ceritakan kisah inspiratif dan nyata terjadi. Baru tadi saya baca di grup whatsapp KJM (Komunitas Jago Menulis) yang saya buat setelah challenge SMB (Sebulan Menulis Buku). Salah satu anggota grup berkisah tentang pengalamannya memenangkan lomba menulis di perusahaannya. Dia hanya menulis true story tentang pengalamannya sendiri. Jadi mengalir saja nggak ada beban.

Dia juga tidak berharap bakalan menang. Tapi, apa yang terjadi? Ternyata tulisannya justru menang se-Asia Pasifik, lho. Sampai dibuatkan filmnya juga. Dialah mbak Winarsih yang merupakan agen AIA.

Meski mungkin tulisannya sederhana, tapi karena ditulis dari hati, itu justru ngena banget di hati pembacanya. Dan seperti itulah yang mesti penulis pemula kerjakan. Tulis saja dari pengalaman kamu, asal bermanfaat, isinya positif, tentu nggak ada yang perlu dikhawatirkan. Lama-lama kita bakalan dapat ritmenya. Lama-lama kita bakalan paham mesti gimana dan bagaimana.

5. Belajar Tiada Henti


Menulis nggak bisa hanya dikerjakan seadanya dan sekadarnya. Sekali-kali ikutlah kelas menulis, supaya kemampuan menulis kita semakin baik dan tentunya kita akan bertemu dengan orang-orang yang punya hobi serupa. Jadi lebih semangat, deh nanti.

Saya sendiri suka mengikuti kelas menulis hingga kelas editor pun ikutan. Karena kita nggak akan pernah rugi mengikuti semuanya meski nanti pada akhirnya nggak semua ilmu bisa dipraktikkan.

Atau, saya suka belajar dan mencari tahu sendiri lewat Google. Misalnya tentang cara membuat outline, ya jangan nunggu dijelaskan satu per satu oleh orang lain, coba cari sendiri dan langsung bikin biar lega hati kamu :D

6. Buat Jadwal Khusus


Kalau kamu masih kurang mampu mengatur waktu sehingga kesulitan meluangkan waktu untuk menulis, coba bikin jadwal supaya kegiatan kamu sehari-hari bisa lebih teratur. Masa seharian nggak ada waktu nulis sama sekali? Yakin? Jangan-jangan bukan waktu yang kurang, melainkan kamu yang nggak mau meluangkan waktumu untuk menulis.

Setelah ada jadwal, disiplinlah melakukannya. Jangan dilanggar. Percayalah, dari kerja kerasmu insya Allah akan ada ending keren setelahnya, insya Allah.

7. Share Tulisanmu!


Alhamdulillah! Kamu sudah menulis dan saatnya mempersilakan orang lain membacanya. Ngapain nulis capek-capek, tapi hanya disimpan sendiri? Share dong cerita atau tulisan kamu minimal di media sosial yang kamu punya. Biarkan orang lain yang menilainya.

Seperti saya katakan sebelumnya, masalah bagus atau nggak itu tidak jadi soal. Asalkan konsisten, insya Allah nanti tulisanmu bakalan bagus dengan sendirinya. Biarkan waktu yang menjawabnya. Percayalah :)

Dari sekian banyak tips yang saya jabarkan, mana yang belum bisa kamu kerjakan? Wajarlah jika sesekali kamu enggan menulis, tapi bukan berarti kamu boleh berhenti begitu saja kecuali kamu memang benar-benar tidak berniat menjadi penulis yang sebenarnya.

Karena menjadi aneh jika ada penulis yang malas nulis. Saya sendiri bingung mendengarnya...haha. Kamu penulis, tapi kerjaan kamu bukan nulis? Itu maksudnya apa coba? Kwkwk. So, luruskan lagi niat kamu. Benar-benar ingin jadi penulis atau sekadar ingin disebut penulis? Kamu sendiri yang bisa menjawabnya.

Salam hangat,

Pict by Pexels.com

 

Comments

  1. Aku lagi pengin nulis santai kayak tips-mu gini, Mbak. Biar bisa konsisten lagi. Tak pikir2 emang urip wis abot, ngapain aku nulis abot2. Wkwkwkw

    ReplyDelete
  2. Tips ini cocok banget buat saya saat ini yg semangat menulisnya lagi surut. Mungkin yg belum itu yg nomor 5. Saya belum pernah gabung di group atau komunitas menulis gitu. Ada referensi kah, mbak? Biar bisa ikutan juga. Makasih untuk sharing-nya.

    ReplyDelete
  3. Makasih mbak muyas atas tipsnya. Selama ini di WAG estrilook cuma nyimak aja..minder sama kalian2 yang sudah jago nulis. Aku harus lebih konsisten nulis..semangaatt..!

    ReplyDelete
  4. Aku dulunya gitu, pengen disebut penulis tapi jarang nulis. Hehe..
    Sekarang sih lagi mendisiplinkan diri untuk setiap hari nulis. Yang ringan-ringan aja biar gak males dan gak berat mikirnya 😆

    ReplyDelete
  5. Makasih remindernya mbak Muyyas 😊😍

    ReplyDelete
  6. Iya bener mbak, nulis itu kenapa gak yang gampang-gampang aja yah? Orang-orang ini pengen nulis tapi malah temanya khusus. Begitu mereka temakan khusus malah bingung mau nulis apa. Soalnya dia sendiri yang bikin border itu.

    Saya aja nulis kegiatan yang saya alami sendiri. Jadi ngalir tulisannya. Gak perlu pake mikir. Nanti pas nulis jadi berkembang sendiri kok tulisannya.

    ReplyDelete
  7. Kwkwk, bener, Mbak..hidup udah berat ngapain dibikin lebih berat lagi... :D

    ReplyDelete
  8. Komunitas menulis sekarang lumayan banyak seperti jamur di musim penghujan..hehe. Tapi, rata-rata yang saya tahu memang isinya perempuan kebanyakan..hehe

    ReplyDelete
  9. Mungkin saya termasuk golongan orang orang yang tak pantas disebut penulis tapi mengaku penulis, wkwkwk

    Soalnya nulisnya mood moodan. Sudah niat tobat mau konsisten nulis, sampe gabung ke berbagai grup nulis tapi tetap saja mbolos.

    Hiks mengenaskan
    Semoga besok ketularan rajin nulis
    Bismillah mau bikin jadwal jam nulis tiap hari :D

    ReplyDelete
  10. Makasih tipsnya mba...kalau saya sih punya blog udah lama, tapi nganggur. *malu
    Ini baru mau bangkit lagi. Kadang ada ide sih, tapi nunda-nunda...tau-tau udah sebulan ngga nulis...wkwk...
    Hadeeeh...moga deh bisa lebih produktif.

    ReplyDelete
  11. Ih, kenapa harus minder, Mbak? Kita sama-sama sedang belajar, kok. Semoga tetap semangat, yaa :)

    ReplyDelete
  12. Iyap, yang ringan justru kadang lebih asyik juga dibacanya, Mbak

    ReplyDelete
  13. Haha...ya emang begitu. Kadang ada orang yang memang suka nulis serius ya nggak masalah mungkin, tapi yang baru belajar supaya nggak mentok memang mending nulis yang ringan-ringan aja :D

    ReplyDelete
  14. Semangat, Mbak..cuma kamu sendiri yang bisa mengubah semuanya *eaa

    ReplyDelete
  15. Hihi...sebulan jadi nggak berasa kalau kita nggak mau usaha buat konsisten ya, Mbak..sayang banget lho... :)

    ReplyDelete