Tuesday, December 17, 2019

Cara Mengobati Luka Bakar Akibat Minyak Panas

Cara Mengobati Luka Bakar Akibat Minyak Panas



Sudah berapa hari tidak sempat update postingan di blog ini. Rasanya seperti hampir setahun...kwkwk. Kemarin sempat drop, nggak lama kemudian kena cipratan minyak panas waktu memasak, yang mengakibatkan luka bakar cukup parah di area lengan dan wajah. Untuk pertama kalinya saya merasa ini amat berat. Nangis bombay karena nggak tahan dengan rasa panas dan perihnya...huhu.

Jadi, ceritanya begini, Gaes. Sepulang dari kantor, Mas bawa pempek banyak banget. Anak-anak nggak sabar mau makan, akhirnya digorenglah beberapa. Si sulung ternyata sangat tidak sabaran, waktu menggoreng untuk terakhir kalinya, akhirnya saya sedikit besarkan apinya supaya lekas matang dan krispi. Nggak nyangka ternyata inilah awal dari petaka itu.

Waktu mau angkat pempek terakhir, ternyata dia meletus. Boooom! Atau Duaaaar! Atau lebih tepatnya Duuoooos! Kwkwk. Begitulah. Si pempek itu meledak dan memuntahkan minyak panas ke wajah dan sebagian besar lengan saya.

Pertolongan pertama saat terkena luka bakar bukan diberi pasta gigi atau odol, ya. Apalagi kecap, minyak, dan lain-lain. Langsung guyur aja dengan air mengalir. Biarkan agak lama. Kalau masih panas, bisa rendam atau kompres dengan handuk yang sudah dibasahi sebelumnya.

Cara itulah yang pertama kali saya lakukan. Nggak nyangka ternyata luka bakar yang saya alami lumayan parah juga sampai-sampai ketika ditiup saja panasnya luar biasa nggak nahan, perih minta ampun. Seluruh lengan bagian kanan memerah. Tanpa basa basi, Mas langsung ke apotek dan membeli salep untuk luka saya.

Bioplacenton Jadi Obat Luka Bakar Sejak Zaman Dulu


Sejak dulu, saya sering terkena panci panas, dan sebagainya, tapi nggak pernah separah sekarang ini. Bayangin aja, wajah terkena minyak panas sampai kelopak mata dan beberapa bagian di pipi, bahkan sampai di alis. Untungnya nggak sulam alis, kebayang kalau sampai sulam alis, sulamannya bisa brodol kali...kwkwk *lol.

Saya jarang berjerawat, kalaupun punya jerawat nggak berbekas juga. Jadi, pas kena minyak, wajah benar-benar kelihatan blontang blonteng-nya gitu, lho...kwkwk. Setiap cerita ini, saya sebenarnya merasa lucu, namun juga miris. Akhirnya tak jarang saya bercerita sambil bercanda begini, Gaes...haha. Padahal aslinya drama banget.

Karena nggak ada pengalaman memakai salep untuk luka bakar, akhirnya Mas berangkat tanpa resep. Langsung nanya aja sama apotekernya. Ternyata, dia bawa pulang Bioplacenton ini. Menurut informasi,  salep ini bisa membuat kulit yang kena luka bakar menjadi adem, dingin, nyaman, dan nggak perih (asal nggak ada luka terbuka).

Baru saya ketahui, ternyata salep ini sudah ada sejak zaman dulu banget. Teman-teman saya yang lain yang berpengalaman terkena luka bakar sudah memakainya, bahkan sejak zaman bokap mereka. Sedangkan saya pribadi baru banget mencoba obat ini sekarang.

Ketika dicoba, benar memang akhirnya jadi ademan. Sedikit lebih tenang, kemudian nggak lama mulai panas lagi, kasih lagi. Begitu aja seterusnya.

Untuk bagian lengan, yang menurut saya merupakan luka bakar terparah, pas dioles ngilu bukan main karena bagian kulitnya melepuh. Untuk hari pertama memang nggak berair. Tapi, dua hari kemudian, luka bakar bagian lengan semua berair dan menggelikan...huhu.

Nggak ada cara lain, akhirnya saya keluarkan cairannya dengan paksa supaya lekas kering dengan cara ditekan menggunakan tisu kering. Segera saya obati kembali. Jika masih muncul cairan, keluarkan lagi. Kira-kira seharian saya sibuk mencetin cairan ini, Gaes...kwkwk. Kondisinya pun nggak nyaman banget karena gatal parah, setelah diobati mulai mendingan.

Jadi, saya lakukan hal yang sama sampai ketika esoknya semua luka di bagian lengan benar-benar kering dan nggak basah lagi.

Untuk bagian wajah, di hari ketiga bahkan sudah mulai mengelupas. Tapi, kalau nggak mengelupas sendiri, sebaiknya jangan dipaksa. Karena meski awalnya nggak sakit, ternyata wajah saya belum benar-benar siap, ketika dikelupas, ada bagian yang masih perih dan saya nyesel setelahnya...haha.

Kandungan Bioplacenton


Tiap gram jelly dalam Bioplacenton ini mengandung:

  • Ekstrak plasenta

  • Neomycin sulfate

  • Jelly base


Ekstrak plasenta diketahui mengandung stimulator biogenik yang memiliki aksi stimulasi pada proses metabolik di dalam sel. Sedangkan Neomycin sulfate merupakan antibiotik topikal dengan potensi tinggi terhadap banyak strain bakteri gram positif dan negatif.

Betul banget, salep ini memang mengandung antibiotik yang sebenarnya mungkin nggak terlalu dibutuhkan banget untuk jenis luka seperti yang saya alami. Hanya saja, saya juga nggak ada banyak pilihan, sudah males mikir. Maunya cepet sembuh...huhu.

Cara Pakai Bioplacenton


Salep ini cukup dioleskan 3-5 kali sehari. Oleskan tipis-tipis saja. Jangan sampai mengenai mata, jadi mending nggak usah dioleskan jika terdapat luka bakar di sekitar area mata seperti yang saya alami. Luka bakar cukup parah memang terdapat di kelopak mata bagian atas dan bawah. Ini agak sulit diobati, karenanya saya hanya mengolesi bagian pinggirnya saja dan membiarkan bagian dekat mata karena khawatir kena mata.

Tekstur dan Aroma


Meskipun obat, tapi Bioplacenton ini punya aroma yang enak dan wangi gitu, Gaes. Seger aja ketika dihirup baunya. Teksturnya seperti jelly dan dingin ketika dioleskan. Warnanya bening dan mudah dipakai.

Setelah Memakai Bioplacenton Selama 5 Hari


Menurut teman-teman yang pernah mencoba, Bioplacenton  ini memang ampuh banget menyembuhkan luka bakar. Bahkan beberapa dari mereka mengatakan bahwa luka bakar yang mereka alami tidak meninggalkan bekas sama sekali.

Saya sendiri baru memakainya selama kurang lebih 5 harian. Dan merasa sangat nyaman dengan aroma dan hasilnya. Luka di bagian wajah sudah mulai mengering dan mengelupas. Sedangkan di bagian tangan sudah kering setelah beberapa kali dikeluarkan cairannya. Nggak merasa perih sama sekali karena memang luka bakar tetap menutup. Misal terbuka atau saya paksa dikelupas, pasti perih banget.

Sepertinya untuk hari kelima, saya hanya perlu menunggu sampai luka-luka bakar di lengan dan wajah benar-benar kering sempurna. Obat masih tetap saya gunakan hingga sekarang.

Selama beberapa hari nggak pede juga apalagi harus pergi ke luar kota, akhirnya di mana-mana selalu pakai masker. Selain memang karena flu dan batuk, saya juga malu dengan wajah yang penuh dengan luka bakar...huhu.

Semoga nggak kejadian lagi yang seperti ini. Bakalan berhati-hati banget saat menggoreng, kalau perlu dikukus ajalah semuanya...kwkwk. Semoga pengalaman ini menjadi pelajaran berharga, ya. Berhati-hati dan jangan ceroboh karena semua hal buruk bisa terjadi pada siapa pun.

Salam hangat,

 

Friday, December 13, 2019

Pentingnya Blogger Pemula Memiliki Blog TLD

Pentingnya Blogger Pemula Memiliki Blog TLD



Memenuhi salah satu permintaan sahabat di Instagram, kali ini saya mau langsung bahas tentang pentingnya blogger pemula memiliki blog TLD atau Top Level Domain. Kenapa kita harus punya blog dengan domain TLD? Emang yang gratisan nggak cocok atau gimana?

Dulu, waktu pertama kali memiliki blog, saya masih pakai blogspot dan belum berani membeli domain. Sekadar jalan, sekadar menulis, karena memang awalnya saya kurang mengerti seperti apa ngeblog yang seharusnya, yang lebih niat, dan lebih profesional. Akhirnya berjalan seadanya.

Hingga pada tahun 2017, saya memutuskan membeli domain muyass.com ini dan dipakai hingga sekarang. Kenapa saya beralih ke TLD? Banyak alasan yang melatar belakangi itu. Misalnya, supaya saya lebih niat ngeblognya, kalau pakai gratisan terus, saya khawatir nanti jadi seenaknya. Takut malas-malasan juga.

Kalau kita punya blog TLD, kita harus membayar setiap tahunnya. Karena ingat blog ini nggak dimiliki secara gratisan, akhirnya lebih serius mengurus dan mengelola. Lagian, Gaes, blog dengan domain TLD itu terlihat lebih profesional meskipun buat pemula memang benar ada baiknya menulis aja dulu yang rajin. Tapi, setelah itu, kamu bisa memutuskan membeli domain TLD supaya ngeblognya semakin serius dan nggak main-main mulu :D

Blog TLD Sebagai Branding


Hampir semua blogger memilih domain menggunakan namanya sendiri. Salah satu alasannya nggak lain ya buat branding, biar lebih mudah dikenal dan diingat. Saya pun memilih nama pendek sendiri, muyass.com, supaya semua orang bisa dengan mudah menemukan karya-karya saya di dunia maya.

Awalnya saya memang menginginkan nama panjang ‘muyassaroh’ sebagai domain di blog ini. Sayangnya, nama itu sudah dipakai untuk metode bahasa Arab. Akhirnya pakai nama pendek saja, dan memang mungkin keputusan saya nggak salah. Nama ini lebih mudah dibaca ketimbang nama panjang saya yang bahkan sering salah dieja dan disebut *miris...kwkwk.

Kalau kita memang benar-benar serius mau ngeblog, nggak ada salahnya segera beralih ke TLD dari sekarang. Untuk blogspot, kita nggak perlu membeli hosting juga, kan? Jadi, cukup membeli domain saja. Kamu bisa membayarnya per tahun. Nggak terlalu mahal, kok. Setahun nggak sampai 200 ribu.

Kalau dihitung-hitung, jika kamu sudah serius ngeblog, insya Allah per bulan bakal ada aja hasilnya. Dan itu sudah lebih dari cukup untuk membayar blog dengan TLD.

Terlihat Lebih Profesional dan Meyakinkan


Kalau kita pakai domain TLD, sudah jelas terlihat lebih profesional seperti yang saya jelaskan sebelumnya. Berbeda kalau kita masih pakai blogspot.com atau wordpress.com gitu, Gaes. Meskipun kita masih belajar, mengeja dan menerka dunia blogging, kayaknya nggak ada salahnya coba beli domain TLD.

Dengan TLD, blog kita bisa tampil lebih percaya diri dan meyakinkan. Bukan hanya kitanya yang percaya diri, blognya juga...kwkwk *lol.

Hitung-hitung Supaya Lebih Niat Ngeblognya


Alasan macam apa ini, ya? Haha. Meski nggak berlaku bagi semua blogger pemula, tetapi buat sebagian besar blogger pasti bakalan mikir ulang untuk berhenti ngeblog kalau dia sudah membeli domain TLD.

Sayang banget, kan? Udah bayar mahal-mahal, masa blognya dianggurin? Jadi, beli domain TLD hitung-hitung supaya kamu lebih serius aja ngeblognya, biar lebih niat, dan nggak sembarangan bilang malas dan capek!

Blog itu ibarat rumah kita. Rumah yang kita harus rawat dengan baik, kita isi dengan hal-hal baik, di mana kita ingin dikenal seperti apa oleh orang lain terutama pembaca?

Meski saya masih ngeblog sebatas menulis hal-hal sederhana, tapi jujur saja saya nggak pernah main-main ngerawat blog. Apalagi sejak saya migrasi, moles blog udah nggak tanggung-tanggung...kwkwk. Sadar ini adalah harta berharga yang saya miliki sebagai seorang penulis. Selain buku, blog adalah tempat di mana saya menyimpan banyak kenangan. Nggak mau seadanya. Harus benar-benar klik, mulai dari template, font, dan segalanya.

Kalau saya senang lihat blog saya, saya bakalan senang menulis. Kalau saya happy lihat ‘rumah’ saya, saya juga bakalan niat buat ngisi.

Karena itu, hitung-hitung punya blog TLD supaya kamu lebih niat ngeblognya, masa main-main dan sekadarnya terus?

Hampir Semua Blogger Profesional Berpenghasilan dari Blog TLD


Saya nggak bisa bilang semua, karena saya belum tahu semuanya. Sebagian besar blogger profesional yang saya kenal, yang mastah dan berpenghasilan dari blognya memang memakai blog TLD, Gaes. So, kalau kamu memang mau membangun blog kamu sejak dini, dari sekarang wajib dan kudu banget beli TLD.

Kecuali kamu mau ngeblog begini-begini aja terus. Ya, sutralah.

Untuk memilih domain TLD juga nggak bisa sembarangan atau asal-asalan, ya. Pilih nama yang mudah diingat, kalau bisa pakai nama kamu. Nggak perlu pakai nama alay segala, karena suatu saat nama itu bakalan kamu tertawakan sendiri *eh.

Gimana, sudah memutuskan mau pindah ke TLD? Nggak perlu pusing gimana bayarnya nanti, kamu bisa menyisihkan uang jajanmu mulai dari sekarang. Kalau ada niat, insya Allah ada jalan, kok. Tetap semangat, ya, ngeblognya!

Salam hangat,

Featured image: Photo by Tom Swinnen on Pexels

 

Thursday, December 12, 2019

Merencanakan Target Menulis Buku Dalam Sebulan, Per Hari Nulis Berapa Halaman?

Merencanakan Target Menulis Buku Dalam Sebulan, Per Hari Nulis Berapa Halaman?



Bagaimana buku setebal 300 halaman bisa selesai kurang dari sebulan? Bagaimana buku setebal hampir 400 halaman bisa selesai dalam dua minggu? Lho, kok malah makin tebal makin cepat? Kwkwk. Itu pengalaman saya waktu menulis buku 99 Great Ways to be Wonderful Muslimah dan Agar Suami Tak Mendua.

Kedua buku itu memang waktu pengerjaannya nggak terlalu berbeda jauh, kurang dari sebulan. Saya tidak akan katakan itu mudah, karena sempat mual-mual juga waktu menyelesaikan...kwkwk. Hanya saja, saya sudah membuat target dan saya juga punya janji pada editor akan menyelesaikannya tepat waktu, jadi, nggak pernah ada bayangan buat mundur, terus bilang kasih waktu dikit lagi atau sejenisnya. Karena sejak awal sebelum menjawab saya sudah menimbang-nimbang apakah mampu menyelesaikan atau tidak.

Jangan sampai editor menganggap saya plin plan. Dan nggak mau juga mereka kecewa berat, sebab editor sudah baik banget ngasih kesempatan seperti ini yang bisa jadi nggak mudah juga didapat oleh penulis lain.

Bicara soal target, saya selalu menghitung dengan cermat (meski saya nggak pandai berhitung...kwkwk). Apa yang akan saya bagikan ini insya Allah sangat praktis ditiru, sangat mudah diterapkan bahkan oleh pemula sekalipun. Ada beberapa hal yang perlu kita rencanakan dengan matang.

Target Jumlah Halaman


Sebelum mulai menulis, kamu harus tahu, kira-kira berapa tebal naskah kamu? Nggak boleh sekadar mengira-ngira gitu, Gaes. Harus cermat diperhitungkan, misal kurang pun nggak boleh jauh dari yang ditargetkan.

Misal, untuk buku 99 Great Ways to be Wonderful Muslimah, saya sudah menentukan bahwa naskah itu punya tebal minimal 200an halaman (sebelum dicetak). Dari jumlah yang direncanakan, saya harus menyusun bab-bab yang bisa mengisi keseluruhan naskah tersebut.

Saya juga harus memperhitungkan, berapa jumlah halaman pada setiap babnya? Karena dari judulnya saja sudah jelas ada 99 bab ditambah prolog dan epilog, maka setiap halaman cukup saya targetkan dua hingga tiga halaman saja. Naskah utuh nanti jumlahnya sekitar 202 halaman. Selesai.

Bagi Jumlah Halaman Sesuai Jumlah Hari yang Ditentukan


Kalau kamu sanggup selesaikan dua bulan, nggak masalah. Bagi jumlah halaman yang direncakan sesuai waktu yang kamu tentukan. Untuk buku 99 Great Ways to be Wonderful Muslimah, editor hanya memberi saya waktu sampai akhir bulan Agustus, sedangkan saat kami bertemu, sudah masuk hari kelima bulan Agustus kalau nggak salah. Jadi, saya hanya punya waktu kurang dari sebulan untuk menyelesaikan naskah setebal 200an halaman.

Jadi, saya membaginya sesuai hari yang ditentukan. Dalam sehari saya bisa menyelesaikan sekitar 10 halaman. Kadang kurang, kadang lebih. Seperti itu. Jangan segan mencatat target ini di buku, jika selesai, kamu bisa ceklis. Jujur saja cara ini sangat membantu.

Rencanakan Jumlah Halaman pada Setiap Bab


Sebelumnya ini sudah saya bahas, ya. Mau menekankan bahwa penulis yang bisa menyelesaikan naskahnya, namun tidak sesuai dengan target halaman yang ditentukan bisa jadi karena dia tidak merencakan dengan baik jumlah halaman pada setiap bab yang akan ditulis.

Saya selalu memperhitungkan, dalam setiap bab minimal ada berapa halaman. Apalagi jika bab-babnya seragam, pasti lebih mudah ditentukan. Jumlah halaman setiap bab ini juga harus kamu tentukan sesuai dengan kemampuanmu. Kalau kamu nggak sanggup menulis dalam jumlah banyak pada tiap babnya, jangan dipaksa daripada garing, kan? Mending buat bab-bab pendek dan tambahkan bab lagi supaya bisa sesuai target.

Buku yang bagus tidak selalu harus tebal, kok. Buku bagus itu karena isinya memang berkualitas. Jadi, jangan berpatokan bahwa buku akan semakin bagus jika semakin tebal. No, nggak begitu juga, Gaes.

Target Per Hari adalah Hutang yang Harus Kamu Bayar


Setelah kamu membuat target halaman per hari, disiplinlah dalam menulis. Karena jika kamu nggak disiplin, sudah pasti target kamu akan buyar semua, Gaes...kwkwk. So, jika pada tanggal 1 kamu hanya menulis 3 halaman, sedangkan target kamu 5 halaman, maka besoknya kamu harus membayar kekuranganmu itu ditambah target hari itu juga.

Karena itu, saran saya, usahakan selalu tepati target per harinya, karena yang namanya hutang itu nggak enak banget, Gaes. Sungguh bikin kepala puyeng...kwkwk. Kira-kira seperti inilah cara saya memaksa diri untuk tetap tepat waktu.

Jangan Ambil Job Terlalu Banyak Saat Menulis Buku


Bagi saya pribadi, ketika memutuskan menyelesaikan satu buku, jujur saja ada beberapa hal yang akhirnya saya tunda untuk dikerjakan. Misalnya, saya jadi jarang ngisi blog meskipun tetap update seminggu dua atau tiga kali.

Karena kalau saya harus mengerjakan semuanya dalam waktu bersamaan, yang ada target saya buyar semua. Ngeblog nggak bagus-bagus amat, nggak fokus juga. Nulis bukunya juga nggak kelar. Karena kemampuan saya sangat terbatas. Saya IRT, menyiapkan semua sendiri setiap hari. Pekerjaan seperti ini sangat menyita waktu, jadi kalau saya ambil pekerjaan terlalu banyak, akan ada banyak hal dikorbankan dan itu sama sekali nggak nyaman.

Jadi, mending ambil target yang manusiawi aja. Kita tidak sedang ingin mengejar siapa-siapa. Kita hanya sedang berusaha menaklukkan kemalasan diri, membuktikan bahwa kita bisa dan mau usaha. Jadi, nggak perlu terlalu ngoyo, karena kadang hasilnya justru nggak sesuai harapan jika dipaksakan.

Postingan ini lahir dari obrolan di salah satu grup kepenulisan yang saya pegang. Seseorang bertanya, maka saya menjawab sesuai dengan yang saya kerjakan sehari-hari. Jadi, target menulis per hari nggak akan sama antar buku satu dengan lainnya. Karena setiap buku punya target berbeda, jumlah halamannya selalu berbeda.

Penting memikirkan bahwa semua bisa kita kerjakan sesuai kemampuan, nggak bikin stres, apalagi sampai nggak makan dan nggak tidur. Jangaaan, ya! Semua harus berjalan seimbang. Kira-kira seperti itulah cara saya menyelesaikan buku, kenapa bisa kelar dalam waktu sebulan atau kurang dari itu. Semoga bermanfaat, ya :)

Salam hangat,

Featured Image: Photo by Lum3n.com on Pexels

 

Wednesday, December 11, 2019

Mempersiapkan Anak Masuk TK

Mempersiapkan anak masuk TK



Yeay!
Sebentar lagi si bungsu sekolah. Yups! Dia akan masuk TK setelah sebelumnya saya memutuskan bahwa dia nggak perlu masuk PAUD dulu disebabkan karena emaknya yang sok sibuk dan dianya yang sangat kurang tertarik sekolah di usia terlalu dini. Alhasil, semua semangatnya justru terkumpul sekarang.

Sebelum dia benar-benar sekolah Insya Allah tahun depan,  ada banyak hal yang saya persiapkan, terutama mental dia saat nanti akan berpisah dari saya. Otomatis dia akan masuk lingkungan baru, nggak bareng emaknya terus selama setengah hari, mandiri mulai dari makan sendiri hingga ke kamar kecil sendiri. Hal-hal semacam itu selalu menjadi fokus saya sebelum anak masuk sekolah.

Dan, ternyata untuk si bungsu, semua penuh dengan kejutan! Setiap anak perkembangannya unik dan berbeda antara satu dengan lainnya. So, mustahil juga dibanding-bandingkan. Apalagi saya juga berpikir, perbedaan itu juga bisa terjadi karena mental kita yang berbeda saat menghadapi mereka. Di mana ketika punya anak pertama semua terasa lebih sensitif, khawatiran, nggak santai sama sekali, bawaan horor aja kalau ada apa-apa sedikit...kwkwk.

Ujung-ujungnya, anak pun tumbuh dengan perasaan yang kurang lebih sama. Si sulung, selain orangnya kurang santai, dia juga lumayan lama belajar untuk mandiri. Wajar banget karena memang dia anak pertama di mana saya memperlakukan dia dan si bungsu pasti sangat berbeda. Dibilang dimanjain banget nggak juga, hanya saja nggak sesantai waktu mengurus si bungsu.

Sedangkan si bungsu, selain melihat dari orang tuanya sendiri, dia juga belajar dari kakaknya. Sehingga banyak hal bisa dia kerjakan tanpa perlu saya bantu. Misalnya yang paling mengejutkan soal membersihkan diri usai BAB. Pada suatu ketika, tiba-tiba dia masuk kamar mandi dan dikunci. Jujur saya khawatir, ngapain coba? Karena selama ini dia tidak pernah melakukan itu.

Dia juga cukup lama di dalam, sehingga saya yang di dapur akhirnya nanya juga, ngapain di dalam? Dia bilang sedang BAB. Tapi, kenapa dikunci? Pertanyaan itu berputar-putar di dalam kepala saya. Saya pikir dia sedang bermain-main air atau apalah...kwkwk.

Kemudian dia keluar kamar mandi dengan tiba-tiba, kaget dong. Kan, belum dibersihkan sama Bunda? Gimana kalau najis semua...kwkwk. Horor banget! Ternyata, dia sudah membersihkan diri dong, sendiri dan bersih pula.

Akhirnya sejak saat itu saya ajarkan lagi bagaimana cara membersihkan diri yang baik setelah BAB. Dan Alhamdulillah sampai detik ini dia bisa melakukannya dengan baik. Semua tertolong juga karena dia nggak terlalu jijikán, sedangkan kakaknya cenderung sangat jijik dengan hal-hal kecil. Itu ada baik dan buruknya.

Di satu sisi dia memang jadi pandai menjaga kebersihan, namun di sisi lain dia jadi susah belajar mandiri. Mau BAK di rumah orang aja bisa batal kalau kamar mandinya kurang bersih. Bahkan pernah di masa kelas satu dulu, si sulung menahan nggak mau BAK di sekolah karena jijik banget dengan kamar mandi, yaiyalah kan, kamar mandi umum. Akhirnya sampai dia ngompol di celana..huhu. Sedih banget kenapa dulu saya bisa menularkan hal itu pada dia. Tentu saja itu bukan kesalahannya karena dia belajar dari orang tuanya. Dan tahu siapa yang seperti itu sampai sekarang? Saya! :(

Keduanya, sekarang sudah belajar dengan baik soal kemandirian. Si sulung, mulai rajin mencuci piringnya sendiri, meski sesekali dia pura-pura lupa melakukannya...kwkwk. Sedangkan si bungsu, dia mulai terbiasa makan sendiri, mandi apalagi, hmm, dan tak lupa saya mengajarkan dia beberapa hal sebelum dia benar-benar masuk TK nanti.

Sekolah Tanpa Bunda


Sejak awal saya katakan bahwa saya tidak bisa menemani dia sekolah. Saya di rumah, dia di sekolah bersama gurunya. Guru adalah pengganti saya, di mana dia bisa meminta bantuan tentang apa pun dan tentu saja guru selalu bisa ia andalkan.

Sekolah adalah tempat yang menyenangkan, di mana dia bisa bertemu teman-teman baru, bermain dan belajar bersama. Saat waktunya pulang, dia akan dijemput, jadi, tidak perlu khawatir.

Lebih mudah juga ketika dia melihat kakaknya sendiri, di mana saat sekolah sejak awal memang tidak pernah saya temani. Hanya sehari saja pas baru masuk dan perkenalan, selebihnya dia bisa mandiri dan sangat tidak rewel. Bangga masya Allah dengan sulung yang tidak merepotkan karena saat dia masuk sekolah pertama kali, saya baru melahirkan anak kedua tanpa ART dan jauh dari orang tua juga.

Informasi ini harus kita sampaikan jauh-jauh hari pada anak-anak. Biarkan mereka merekam dan memahaminya. Hingga saat masuk sekolah, dia sudah tidak canggung lagi dan mengerti bahwa dia memang akan berpisah dari kita sementara waktu.

Jangan Berbohong!


Katakan dengan jujur bahwa kita hanya mengantarkan dia, misalnya. Tidak menunggunya di sekolah sampai waktu pulang. Ketika mereka tahu kita berbohong, bisa saja anak akan merasa ketakutan karena tahu dia ditinggalkan. Karena memang ada orang tua semacam ini, entah di zaman se-modern sekarang, masih adakah yang demikian?

Katakan saja bahwa dia akan baik-baik saja di sekolah. Bunda pulang dan akan datang tepat waktu untuk menjemputnya kembali. Biarkan anak-anak tahu apa yang seharusnya mereka ketahui. Insya Allah mereka akan sangat memahaminya.

Perkenalan dengan Alat Tulis


Ini bukan suatu paksaan. Tapi, minimal anak-anak senang corat coret di buku atau papannya di rumah. Minimal dia tahu cara memegang pensil yang benar meski akhirnya nanti di sekolah juga hanya bermain sambil belajar di mana nggak serius banget, kok.

Hanya saja, anak yang terbiasa pasti akan merasa lebih mudah nanti sehingga dia akan jauh lebih santai dan percaya diri. Si bungsu misalnya, karena sering melihat kakaknya belajar, dia jadi senang menulis dan menggambar juga. Dia belum bisa membaca, tetapi dia sudah rapi menulis dan bisa menuliskan namanya, masya Allah.

Dia juga pintar menggambar sama seperti si sulung. Dia belajar banyak dari saudaranya sendiri. Tanpa saya bantu, dia sudah bisa melakukan banyak hal hanya dari ‘melihat’ dan meniru’ saja.

Biasakan Melakukan Hal Sederhana Sendiri


Misalnya mandi, sikat gigi, BAK dan BAB, makan sendiri, mengambil minum sendiri, membereskan tempat makan, dan biarkan dia membantu kita saat di dapur sesekali dan tentu saja jika itu tidak membahayakannya.

Dia butuh belajar semua itu karena nantinya kita tidak bisa setiap saat mendampingi. Iya, kan? Kita tidak bisa terus menerus menjaga dan bersama dia. Ada saatnya dia harus melakukannya sendiri. Karena itu, nggak perlu terlalu khawatir membiarkan dia melakukan hal sederhana seorang diri karena sungguh itu nantinya akna sangat berguna.

Belajar Waspada


Dia hanya boleh bersama orang yang dia kenal dan percaya. Misal bersama guru dan teman-teman, bukan orang asing. Dia hanya boleh pulang ketika dijemput oleh bunda atau ayahnya. Tidak sembarang menerima barang atau makanan dari orang asing, apalagi tanpa sepengetahuan kita dan gurunya.

Dia harus belajar bahwa tidak semua orang bisa dipercaya dan tidak semua orang yang baik padanya boleh dia ikuti. Dia harus tahu bahwa memang di dunia ini ada orang-orang tertentu yang sengaja ingin menyakiti dia dengan berbagai macam alasan.

Cara sederhana untuk mengenalkan ini bisa dengan bercerita sambil digambarkan secara sederhana atau dengan membacakan buku cerita sambil memberikan contoh. Menurut saya ini penting sekali karena kita tidak bisa setiap saat bersama anak-anak.

Sampai sekarang, si bungsu masih seheboh si sulung saat pertama kali mau sekolah. Dia happy dan nggak merasa sedih sama sekali andai dia harus berpisah sementara waktu dengan emaknya. Antara sedih dan senang karena apa yang saya ajarkan ternyata dia pahami sepenuhnya dengan sangat baik.

Insya Allag, tahun depan dia akan masuk sekolah. Insya Allah, semua akan berjalan dengan baik dan menyenangkan, baik bagi dia ataupun saya. Bagaimana dengan teman-teman? Apa saja yang dipersiapkan sebelum anak masuk TK?

Salam hangat,

Feature Image: Photo by Milly Eaton on Pexels

 

Tuesday, December 10, 2019

Kangen Turki, Intip Keindahan Gunung Bersalju Uludag di Bursa

Gunung salju uludag turki



Sesekali bernostalgia nggak ada salahnya, kan? Mengenang kembali perjalanan saya saat berkunjung dan menikmati (lebih tepatnya memaksakan diri untuk menikmati) gunung bersalju, Uludag!

Orang Indonesia gitu, nggak terbiasa dengan salju, hawa dingin menusuk tulang, hingga rasanya mau ikut jadi es batu. Setiap mulai traveling, saya was-was, gimana pas turun dari bus? Karena di luar hawanya luar biasa dingin. Antara pengen menghangatkan badan di bus atau menikmati keindahan Turki yang kayaknya nggak habis-habis kalau dijelajahi.

Saat ke Turki, selain mengunjungi Hagia Sophia, masjid Biru, museum Topkapi Palace, naik kapal dan melihat selat Bosphorus, saya dan rombongan juga sempat mengunjungi gunung bersalju yang terletak di Bursa.

Untuk sampai ke Uludag, kami harus melakukan perjalanan menggunakan bus, baru kemudian naik teleferik semacam kereta gantung menuju puncak gunung. Butuh perjuangan juga buat sampai ke sana karena ternyata naik kereta gantung, terutama bagi yang takut ketinggian dan mudah panik, benar-benar bikin horor...kwkwk. Sempat mual juga, apalagi saat kereta gantung berhenti karena angin. Goyang sana sini, pikiran kacau ke mana-mana, khawatir terjun bebas. Sedangkan di bawah sebenarnya pemandangannya indah banget, hutan cemara bersalju. Namun, karena takut, jadinya yang indah-indah lewat gitulah, Gaes...kwkwk.

Selain Naik Teleferik, Kamu Juga Bisa Bermain Ski atau Naik Motor Salju



Kalau mau lebih menantang, kamu bisa mencoba bermain ski atau naik motor salju. Tentu saja itu bukan diperuntukkan bagi saya yang bahkan buat naik kereta gantung rame-rame aja gemeteran...haha. Apalagi bawa anak yang hidungnya meler semua karena kedinginan.

Gunung berlsalju ini memiliki tinggi sekitar 2.543 meter di atas permukaan laut. Konon katanya termasuk gunung tertinggi di wilayah Marmara. Wisata gunung Uludag memang begitu populer, Gaes. Lereng-lereng di Uludag bisa digunakan untuk ski bagi semua kalangan. Kecuali yang penakut seperti saya...haha. Mending tidur aja di hotel :D

Waktu ke sini, baik emak bapaknya, serta anak-anaknya senang bukan main. Tapi, ditutupi oleh rasa gengsi akhirnya sok kalem...haha. Aslinya pengen banget bawa sirup Marjan kemudian ambil salju di mangkuk, terus sekalian jualan es serut *lol.

Main lempar-lemparan bola salju, lari-larian sampai jatuh, kami lupa kalau di sini udaranya tak kalah dingin apalagi salju juga turun. Lebih ngeri, sih, kalau angin, ya. Kencang banget dan bbrrr. Meski seseru itu, kita nggak lama-lama, kok ada di sini. Karena sepertinya memang dikasih jatah waktu tertentu (cmiiw). Selesai main-main sebentar dan foto-foto, kita keluar dan menghangatkan badan dengan membeli minuman khas Turki semacam susu kental diberi bubuk kayu manis yang wangi banget. Entah apa namanya. Asli ini enak, sih :D

Hati-hati dengan Barang Bawaanmu


gunung salju uludag turki



Meskipun sekilas kita mengenal Turki sebagai negara Islam yang begitu populer, tapi jangan abai dengan keselamatanmu apalagi ketika berada di negeri asing. Nggak bermaksud berburuk sangka dengan orang lokal, hanya saja karena memang untuk menuju puncak dan ketika sampai suasannya begitu ramai, kita harus kekepin dompat dan barang berharga supaya jangan sampai terjadi hal yang tidak diinginkan.

Tour guide kami yang merupakan orang asli Turki selalu berpesan soal ini. Jangan mudah tertipu dengan orang lokal yang sok baik, ramah, kenalan, dan bla bla bla. Karena ternyata di sini juga banyak tindakan kriminal seperti penipuan atau copet gitu, Gaes.

Apalagi pada orang Indonesia yang terkenal ramah, mereka nggak segan-segan mendekati. So, tanpa bermaksud buruk sangka, kita harus tetap berhati-hati dalam setiap keadaan. Mau lagi jalan, belanja, atau sekadar foto-foto, tetap waspada saja.

Belanja Oleh-oleh



Di sini kamu juga bisa membeli oleh-oleh khas Turki. Banyak juga dijual jaket musim dingin. Kalau nggak ingat masih banyak yang mesti dikunjungi, pasti udah kalap :D

Hanya saja, biasanya tour guide kita bakalan ngasih informasi mana tempat-tempat yang menjual barang murah, bagus, dan berkualitas. Jadi, tinggal kitanya aja mau beli apa buat oleh-oleh keluarga di Indonesia.

Turki memang ngangenin banget. Entah karena memang jarang traveling jauh bareng anak-anak, rasanya pengalaman pas ke Turki seolah tak terlupakan. Meski jujur saja saat di Turki, kami selalu mengunjungi banyak tempat dalam waktu yang lumayan singkat. Demi mengejar waktu dan target lokasi yang mesti dikunjungi. Bahkan saat pertama tiba di bandara, kami langsung naik bus dan mulai traveling. Nggak ada jeda sebentar istirahat di hotel...kwkwk.

Atau, bisa jadi karena sebelumnya saya begitu mengagumi negara ini, pemimpinnya, dan sejarah-sejarah Islam di dalamnya, sehingga ketika benar-benar diberi kesempatan untuk datang ke Turki, bahagianya tak terkira. Orang kita nyebutnya ‘Lebay’ kwkwk.

Gimana, tertarik main salju di Uludag? Jangan lupa pakai jaket, topi, dan pelengkapan lainnya saat berkunjung ke sini, biar kamu nggak kedinginan dan bisa main dengan happy!

Salam hangat,

Gambar: Dok pribadi

 

Monday, December 9, 2019

Tips Melawan Rasa Malas Saat Menulis

tips melawan rasa malas saat menulis



Alasan sibuk, nggak ada waktu, kerjaan numpuk, dan sebagainya yang panjanganya melebihi jarak puluhan kilo meter sebenarnya tak lebih dari alasan atas pembenaran dari rasa malas yang kamu alami. Parahnya itu terjadi hampir setiap hari. Kemudian kamu membiarkannya berlarut-larut, nggak memaksakan diri untuk berubah, saya tak yakin beberapa bulan kemudian kamu masih layak disebut penulis, narablog, atau bukan?

Ketika kita terbiasa melakukan sesuatu, andai tiba-tiba aktivitas itu kita tinggalkan, sudah pasti setelahnya kita merasa sangat bersalah, pengen membayar kekurangan yang sudah ditinggalkan entah karena alasan darurat atau karena malas. Kebiasaan inilah yang harus dibangun mulai sekarang. Supaya suatu saat, ketika kamu mulai malas menulis, kamu selalu punya alasan  untuk kembali.

Kalau nggak suka banget, mustahil bisa betah berlama-lama menulis buku, membaca, dan ngeblog. Kalau bukan karena passion, hobi, suka, uang, dan sebagainya pasti hanya akan dikerjakan sekadarnya. Karena memang nggak ada alasan kuat buat kita kembali dan mengulang rutinitas yang sama setiap harinya.

Ditanya soal rasa malas, apa Mbak Muyass nggak pernah malas nulis? Kok, kayaknya idenya nggak habis-habis, ya?

Hoaam, tiba-tiba ngantuk...kwkwk. Karena pertanyaan itu sepertinya terlalu berlebihan terutama buat pemula seperti saya. Saya pun sering merasa malas, sebab kadang terlalu lelah, kerjaan rumah yang nggak pernah beres, anak-anak yang begitu ‘heboh’ sepanjang hari, tangisan, lengkingan, teriakan, sampai pada benjol kalau sudah baku hantam...kwkwk, semua itu kadang bikin saya pengen istirahat lebih lama, Gaes.
 

Sayangnya, saya kembali berpikir, untuk memulai semua ini sangat dan sangat tidak mudah. Saya pun berpikir kembali, andai saya meninggalkan passion ini lagi, belum tentu besok-besok saya bisa kembali pada keadaan sekarang.

Lantas, bagaimana saya mengatasi rasa malas saat menulis? Di mana tiba-tiba jadi bad mood, pengen nangis, pengen tiduran, main sosial media doang, atau pengen ngumpet di kolong meja? *lol.

Ingat Lagi Alasan Kenapa Kamu Menulis


Dulu, saat pertama kali berniat menjadi penulis, alasan apa yang melatar belakangi itu? Karena suka? Ngilangin stres dan suntuk? Nyari uang? Atau karena memang pengen banget jadi penulis, atau itu memang impian kamu sejak dulu?

Alasan itulah yang harus kamu bangkitkan kembali dalam memorimu. Alasan-alasan itulah yang bisa melecut kembali semangat menulismu hingga kamu segera kembali pada posisi yang seharusnya, nulis lagi, happy lagi buka laptop, nggak ogah-ogahan lagi, Gaes.

Kalau kamu nggak punya alasan kuat, bisa jadi besok kamu memang benar-benar akan berhenti. Maka, sejak saat ini, pikirkan alasan apa yang paling membuatmu bersemangat menulis.

Alasan saya menulis bisa bergantung pada banyak hal, bukan semata-mata tentang diri saya saja. Pertama, saya menulis karena ini adalah impian saya sejak dulu. Sekitar dua belas tahun yang lalu saya masih menulis tangan semua karya saya. Untuk menjadi seperti sekarang, saya butuh jatuh bangun berkali-kali, Gaes. Bahkan ada saatnya saya pernah berhenti.

So, mengingat itu saja saya merasa sangat ‘kurang ajar’ jika membiarkan impian melebur bersama waktu tanpa usaha sedikit pun. Merasa sangat berdosa kalau saya lepaskan semua ini begitu saja. Nggak boleh, karena itu saya harus tetap menulis meski saya sedang lelah.

Kedua, ternyata orang-orang terdekat termasuk orang tua sangat bangga ketika saya menulis buku. Sampai-sampai mereka menunjukkan kepada semua orang, setiap yang datang ke rumah, ini lho anakku jadi penulis. Meski terdengar sangat konyol, tapi saya terharu dengan perhatian itu. Karena mereka, saya berharap bisa mempertahankan apa yang telah saya bangun selama ini.

Ketiga, dapat penghasilan sendiri itu adalah hal luar biasa yang bisa dicapai oleh IRT yang nggak pernah kuliah seperti saya. Saya nggak pernah membayangkan bisa dapat uang dari menulis, satu artikel dibayar bisa sampai setengah juta, dapat penghasilan dari ini dan itu. Tanpa bermaksud sombong, saya happy ternyata hobi masa dulu bisa menghasilkan. Dan semua itu mampu membangkitkan rasa percaya diri saya. Yang awalnya merasa nggak berharga, kemudian rasanya menjadi lebih baik karena bisa meraih apa yang bisa dilakukan oleh orang lain. Hal-hal sepele semacam ini kadang juga menjadi alasan kenapa saya tetap bertahan.

Mungkin Kamu Nggak Akan Rela Jika Melepas Profesi Ini Selamanya


Ini saya banget, ya. Dibilang sempat pengen udahan, ujung-ujungnya malah semakin nggak rela kalau benar-benar berhenti. Masih suka iri ‘positif’ kalau ada teman bisa tetap menulis meski sedang sibuk. Saya nggak rela berhenti apalagi jika nantinya hanya bisa jadi pembaca atau penonton doang...kwkwk.

Jadi, saya harus mempertahankan ini supaya bisa tetap seperti yang lain, supaya bisa sehebat yang lain. Soal hasilnya belum sehebat siapa, yang penting saya tetap bergerak dan berusaha. Itulah inti dari apa yang mesti kita kerjakan.

Istirahat, Kembalilah Kemudian


Kamu merasa bosan, capek, lelah, dan ingin rehat? Istirahatlah sebentar, namun jangan benar-benar berhenti. Kembalilah setelah perasaanmu lega. Nggak masalah kita istirahat, saat itu kita bisa menghimpun kembali semangat yang telah berkurang. Kemudian kita bisa kembali dengan stamina yang lebih tinggi.

Jika kamu bergabung bersama komunitas menulis, nggak masalah curhat di sana, teman-temanmu akan berbagi tip juga. Kamu juga merasa lega, ternyata kamu nggak benar-benar sendirian. Kadang kita memang harus melalui fase semacam ini, insya Allah nanti bisa kita jadikan kenangan, ternyata dulunya kita juga pernah merasa malas dan lelah. Dan itu wajar serta manusiawi banget, kok.

Paksakan Meski Kamu Merasa Pengen Udahan


Paksa diri kamu tetap menulis, jangan sekali-kali berhenti selamanya. Kalau sedang malas, tulis saja hal-hal ringan supaya lekas selesai. Kamu juga bisa mengambil jeda dengan membaca banyak buku, biasanya itu dapat memberikan ide segar untuk kemudian bisa kamu kembangkan.

Kadang kita harus dipaksa supaya tetap konsisten, maka nggak heran kalau ada tantangan menulis justru banyak banget yang berhasil. Karena dipaksa. Kemudian setelah lepas dari tantangan itu, kita melempem lagi kayak rengginang kehujanan...kwkwk.

Kalau kamu pernah malas menulis, saya pun pernah merasakannya. Motivasi dari orang lain hanya akan jadi harapan palsu jika dari diri sendiri tidak pernah ada niat untuk menyudahi. Percuma dinasihati teman-teman yang lain kalau kita sendiri saja malas berbenah.

So, manusiawi jika kamu merasa lelah di suatu perjalanan, tetapi sangat tidak manusiawi jika pada akhirnya kamu memilih berhenti.

Salam hangat,

Featured Image: Photo by Kaboompics.com on Pexels


 

Friday, December 6, 2019

Bukan Sekadar Gaya-gayaan, Minum Jus Juga Bisa Atasi Ketergantungan Obat

Bukan Sekadar Gaya-gayaan, Minum Jus Juga Bisa Atasi Ketergantungan Obat



Sejak menjalankan diet yang bermacam-macam jenisnya, kemudian sempat gagal karena berbagai macam alasan yang tidak terlalu diperhitungkan, sampai saat ini yang paling saya pertahankan dalam pola makan sehari-hari adalah minum jus setiap hari. Mau pagi, siang, sore, terserah. Kadang pagi terlalu terburu-buru atau stok buah dan sayur habis, terpaksa bikin jus di sore harinya sekalian nunggu pasukan datang.

Karena selama ini, hal positif saat saya menjalankan diet adalah perubahan anggota keluarga yang juga dengan senang hati mau menelan jus. Suami sama anak-anak termasuk orang yang pemilih banget. Kalau nggak manis, bakal tersesat di tenggorokan jusnya, terus uwek...uwek...kwkwk.

So, tiap bikin jus harus diperhatikan banget komposisinya. Jangan asal semua jenis sayur dan buah dimasukkan kecuali yang minum tipe pemakan segala seperti saya ini...haha. Jadi, meski jus yang saya buat warnanya hijau (karena ditambah bayam, sawi, atau pokcoy), tapi karena menggunakan banyak buah juga, rasanya tetap oke. Beda kalau kita mengurangi jumlah buahnya, rasanya mungkin agak sulit diterima bagi mereka yang tidak terbiasa mengonsumsi jus.

Orang Tua Lebih Dulu Konsumsi Jus Untuk Menjaga Kesehatan di Masa Tua


Seperti kita tahu bersama, banyak di antara kita, keluarga dan kerabat dekat yang mengalami sakit tidak menular seperti hipertensi, diabetes, hingga obesitas. Termasuk ibu saya. Beliau adalah penderita hipertensi di usianya yang memang tidak muda lagi.

Dulu, beliau terbiasa konsumsi obat hipertensi hampir setiap hari. Beliau konsumsi obat kaptopril dan nggak pernah telat. Karena kalau telat suka kambuh dan ibu saya sangat trauma melihat banyak saudara yang terkena stroke akibat hipertensi ini.

Sekitar setahun yang lalu, ibu mencoba minum jus. Mulai dari kacang panjang, seledri, tomat, mentimun, wortel dan sedikit buah seperti apel. Hebatnya, beliau minum jus itu setiap hari plus ampasnya pula. Kebayang nggak nelennya gimana :(

Beliau membuat jus menggunakan blender, jadi harus ditambahkan sedikit air supaya semua bahan hancur rata. Sempat saya belikan juicer, namun sepertinya jarang dipakai karena ibu saya nggak perlu memisahkan ampas jus, sedangkan penggunaan juicer memang bertujuan untuk itu. Alhasil, sampai sekarang masih pakai blender.

Jus itu diminum setiap hari satu gelas atau sebotol kecil sekitar 500 ml. Karena nggak ingin repot serta ibu belanja hanya seminggu sekali, setiap membuat jus bikin banyak sekaligus kemudian disimpan di freezer. Setiap akan minum, beliau ambil satu per satu.

Saya melihat banyak sekali perubahan, mulai dari berat badan ibu saya yang turun dan sekarang jadi nggak berlebihan gemuknya, sampai hipertensi dan asam uratnya yang nggak kambuh. Padahal beliau konsumsi kacang panjang, kenapa bisa sembuh asam uratnya?

Beliau bilang, kacang panjang bisa perparah asam urat kalau dikonsumsi matang. Itu kata orang-orang juga, dan ibu saya membuktikan memang nggak ada masalah. Beliau minum jus sudah setahunan dan memang rutin banget karena sudah merasakan khasiatnya.

Kata ibu, minum jus jangan sekali dua kali. Nggak akan terasa hasilnya. Coba sebulan dua bulan, baru tahu manfaatnya seperti apa. Dan, saya sendiri pun sebenarnya merasakan banget manfaat minum jus setiap hari ini, Gaes. Dari badan lebih fit, anak-anak juga jarang kena batuk pilek nggak kayak dulu, misal sakit pun biasanya nggak separah yang lalu-lalu. Qadarallah itulah yang saya rasakan selama ini.

Tambahan Buah Bikin Jus Jadi Lebih Enak


Kalau kamu nggak suka minum jus sayur, jangan memaksanakan untuk minum jus yang isinya full sayuran karena benar-benar akan membuat kamu gagal total. Untuk menyiasati rasanya yang langu dan aneh, cobalah tambahkan beberapa jenis buah seperti apel, nanas, jeruk nipis, atau belimbing. Itu beberapa jenis buah yang menolong banget kalau menurut saya pribadi.

Selain itu, kamu bisa tambahkan sedikit madu ke dalamnya. Anak-anak dan suami selalu minum jus pakai madu karena mereka memang agak sulit minum jus tanpa itu. Jadi, nggak masalah toh madu juga bagus dan sehat, kan?

Minum Jus Bikin Kantong Jebol


Ya, bisa dikatakan memang menambah pengeluaran di luar yang biasa kita keluarkan. Karena memang kita harus beli buah lebih banyak, yang mahal buahnya ini memang. Tapi, kalau kita pintar-pintar memilih, kita bisa sedikit lebih berhemat. Misalnya jangan terpaku pada buah tertentu. Bisa pilih yang bagus, namun harganya lebih murah.

Misalnya, daripada beli apel, mending pakai belimbing. Okelah. Atau nggak mungkin kita pakai buah terlalu banyak, tambahkan tomat dan mentimun.

Saya pribadi wajib sehari satu kilogram tomat, beberapa butir apel atau pir, mentimun kadang, dan wortel. Kadang juga pakai sawi, pokcoy, dan bayam.

Kenapa bisa habis sebanyak itu? Karena yang minum bukan saya aja, ada suami, dan dua anak kami yang juga habiskan satu gelas jus per hari...haha. Saya bersyukur, semakin ke sini semua semakin terbiasa minum jus tanpa harus dipaksakan. Bahkan suami saya naik dong berat badannya meski hanya satu kilogram...kwkwk. Susu ‘penggemuk’ kalah, deh :D

Dari pengalaman menjalankan beberapa pola diet, nggak ada hal negatif yang terlalu berarti selain saya terlalu kurus beberapa waktu yang lalu. Sekarang udah balik normal dong 42 kg *kibas gamis...kwkwk.

Hal positif yang bisa diambil, memang menjaga pola makan itu sangat perlu karena memang hampir semua masalah kesehatan berawal dari berantakannya pola makan kita. Bukan sekadar gaya-gayaan menghindari nasi dan minum jus, buat yang obesitas dan sangat gemuk menurut saya itu hal yang perlu dicoba :)

Salam hangat,

Photo by Vlad Bagacian on Pexels