Thursday, June 15, 2017

Menolak Jatuh Cinta

Menolak Jatuh Cinta


Butuh waktu seribu tahun untuk mengurai rasa yang terlanjur singgah. Namun, hanya butuh mengenal kebiasaanmu untuk mulai jatuh hati. Kalimat itu sering diucapkannya ketika tanpa sengaja masuk dalam obrolan ringan bersama lelaki yang dulu pernah menjadi matahari. Lelaki dengan kamera DSLR yang menggantung mesra di leher. Dia dengan kaos oblong berwarna putih selalu menarik hati seorang wanita jelita bernama Sienna.


“Sampai kapan?” Tanya Galih sambil mengamati setiap lekuk cantik di wajah Sienna. Baginya, wajah mungil dengan kedua pipi kemerahan itu selalu istimewa. Meski tak lagi mampu menjelma matahari, setidaknya Galih masih bisa menemani, walau hanya dengan sedikit cahaya yang tersisa.


“Sampai aku tak lagi mengenalmu.” Sienna menyahut sambil mematut jilbab merah jambu di kepala.

Galih tertawa. Memalingkan wajah. Membuang setiap rasa yang berubah indah. Bukankah kemarin dia berjanji tak akan lagi jatuh cinta pada wanita penyuka red velvet itu?


“Lalu kenapa kita tidak menikah?” Tiba-tiba saja Galih melontarkan kalimat yang membuat perempuan dua puluh satu tahun itu terhenyak.


“Kita?” Sienna menegaskan. Jantungnya melompat, berdentum keras dan membuat suaranya berubah serak.


Galih tersenyum. Menyadari betapa dahsyatnya kalimat itu. Menatap sepasang bola mata indah yang membulat, mengarahkan pandangan serius penuh tanda tanya. Dia menangkap kegugupan dari Sienna. 


Sekali lagi Galih mengangguk. Sepasang bola mata yang bertemu, saling bertatap dan menimbulkan rindu. Keduanya sudah berjanji melupakan


“Galih, kita sudah berjanji tak akan membicarakan ini,” Sienna berpaling. Menyembunyikan resah yang tiba-tiba menyelinap. Merasa bersalah karena sudah mengulangi kesalahan yang sama. Jatuh cinta pada lelaki yang bukan miliknya. 


Galih memang tampil menawan, lelaki baik dengan wajah tampan. Kerap menghibur dan berkorban meski kenyataannya Sienna tak pernah menjadi kekasihnya. Sienna suka berlama-lama bicara dengannya. Bercerita tentang hobi dan hal paling disukai. Galih dengan senang hati menjadi pendengar setia. Sesekali, lelaki dua puluh lima tahun itu memberikan solusi atau ide brilian. Sienna sering dibuatnya kagum. Sosok sempurna untuk jadi pasangan.


Tapi, sepertinya waktu belum mengizinkan. Galih yang sejak lama memendam rasa, memilih segera bertandang ke rumah wanitanya. Meminta izin untuk mencinta, memulai hidup baru jika diizinkan, atau segera meresmikan hubungan dengan Sienna. Keinginan lelaki penyuka fotografi itu teguh. Tak main-main jika sudah mencintai seseorang. Sayangnya, ayah Sienna masih menganggap putri tunggalnya terlalu dini jika harus segera membina rumah tangga. 


Galih memilih diam dan pura-pura lupa akan keterpurukannya. Sienna betul menyukai lelaki berkacamata itu. Tapi mustahil menjalin hubungan di luar ikatan pernikahan. Tak perlu banyak berdalih, hatinya tetap menolak pacaran.


Galih mengerti, keduanya berjanji melupakan. Hanya berteman dan sesekali bertemu bersama yang lain. Tapi, rupanya tak mudah menepis cinta yang sudah tertambat di antara kedua hati. Butuh waktu lama menghilangkan rasa canggung. Butuh banyak kosa kata untuk bicara tanpa melibatkan perasaan. Itu sulit!


“Minggu depan aku akan ke Jakarta.”


Sienna menaikkan kedua alis, “Berapa lama?”


Gali tertawa. Dia tahu betul ada orang yang sedang mengharapkannya tetap di tempat yang sama, tak beranjak apalagi menjauh.


“Hanya tiga sampai enam bulan.”


“Hanya?” Sienna tertawa hambar. Tentu saja, lelaki itu boleh pergi kapan pun dia mau, bahkan selamanya. Toh, keduanya tak pernah terikat janji. Mungkin saja setelah ini, lelaki dengan kacamata bulatnya itu akan mengirimkan undangan pernikahan. Bukankah semua itu tak pernah mustahil terjadi? Dan dengan terpaksa, Sienna akan patah hati.


“Kenapa? Bukankah itu baik untuk kita berdua?”


Tentu saja, Sienna mengangguk. Tenggorokannya tiba-tiba tercekat. Menahan kedua sudut mata yang hampir basah.


“Apa ucapanku salah?” Galih bertanya, memastikan tak menyakiti perempuan di hadapannya.


Sienna memaksa tersenyum sambil menggeleng. Jujur saja, dia ingin mengatakan padanya, bahwa dirinya tak pernah siap kehilangan. Meski hanya sebagai teman, namun perasaan itu terlanjur tertanam dan subur. Terpaut usia yang cukup jauh, alasan dirinya yang masih menyelesaikan kuliah membuat semua rasa itu menguap, namun kenyataannya tak demikian. Selalu saja, setiap kali dia mengusir pergi, cinta itu justru  lebih kuat mendekap.


“Atau kamu mau ikut denganku?”


“Apa maksudmu?”


“Kita kawin lari saja,” Galih tertawa.


Sienna memaksa tergelak. Dalam hati dia berdoa, agar dijodohkan dengan Galih. Jika pun mereka tak berjodoh, semoga saja Tuhan menjodohkan keduanya. Doa yang terlalu memaksa. Tapi, apa salahnya? Bukankah Tuhan punya kehendak dan segalanya? Apalagi arti penolakan ayah kemarin jika Tuhan menghendaki mereka bersama, halangan sebesar apa pun tak akan berarti apa-apa.


“Kamu mau menunggu?”


Sienna terhenyak. Apakah itu sebuah janji? Apakah tak terlalu mustahil diwujudkan?


“Aku akan datang kembali,” Galih meyakinkan.


“Aku tak mau menunggu,” sahut Sienna. Pelan tapi cukup menyentuh gendang telinga lelaki di hadapannya.


Galih menyesap teh panas yang sudah berubah dingin. Seperti menelan duri. Bayangan bisa bersanding dengan Sienna menjelma mimpi. Wanita itu ragu dengan janjinya.


Sienna mengambil sweter, “Aku harap masih bisa berjodoh denganmu.”


Galih tersenyum, begitu juga dengan hatinya. Mengharap mimpi serupa. Keduanya berlalu.


Galih melajukan mobilnya kencang. Sienna menyandarkan tubuhnya di jok mobil. Belum ingin beranjak. Masih mengatur denyut jantung yang berubah sepi. Menatap langit yang mulai sembab. Berwarna gelap serupa kantung mata yang kerap menangis. Sienna menghapus sedikit basah di sudut mata.


Bukan hal baik jatuh cinta di waktu tak tepat. Sama saja menjatuhkan diri dari tebing curam. Harapan yang melambung akhirnya terjerembab. Butuh waktu seribu tahun melupakan. Tapi tak butuh waktu lama untuk jatuh cinta.


Sienna tak mau terbuai mimpi. Hidup harus terus berjalan. Jika berjodoh, Galih akan meresmikan. Jika tidak, untuk apa menunggu lelaki yang belum tentu miliknya?

Wednesday, June 14, 2017

Kisah Sepotong Roti

Kisah Sepotong Roti


“Kayaknya dalemnya nggak mateng, ya?”

Aku mengerutkan kening. Melihat mas Aji merobek donat yang baru saja kubuat. Lalu tanpa perasaan mencampakkannya kembali di atas piring. Berbaur bersama donat lain yang mulai dingin

“Kalau nggak suka jangan dimakan!” Sahutku ketus. Buru-buru kubawa piring ke dapur. Menaruhnya di atas meja. Lalu menutupnya. Memaksa melupakan kejadian barusan. Berharap ingatanku menguap seketika. Ah, sulit! Aku justru berbalik menatapnya. Mengambil sepotong donat dengan garis putih di tengahnya. Permukaannya lembut saat kupegang. Walaupun sudah mulai kering. Mungkin karena sudah dingin, pikirku.

            Aku pun menyobeknya. Lalu tampaklah adonan basah di tengah. Donatnya memang mentah. Tidak matang sempurna.

            Ah, mas Aji memang benar. Donat ini tak layak dimakan. Tapi, harusnya mas Aji menghargai kerja kerasku. Bisa saja dia berpura-pura memakannya. Rasanya tak terlalu buruk. Apalagi jika dimakan bersama butter cream dan taburan mesis. Lidahku masih menerima. Sekali lagi aku mendengus kesal.

            Susah payah bangun pagi. Selesai qiyamul lail langsung menimbang terigu di dapur. Memasukkan ragi dan beberapa bahan lainnya. Mengaduknya dengan tangan hingga pegal. Aku ingin mas Aji makan masakanku. Walaupun tak selalu sempurna, tapi aku tak pernah berhenti mencoba.

            Aku mengintip ke ruang tengah. Lelaki kesayanganku sedang tertawa menyaksikan sebuah tayangan komedi di televisi. Sedangkan aku justru sedang menahan isak. Memaksa berdiri dengan menopang tubuh pada meja makan. Aku tak ingin dia mendengar tangisku. Kuharap mas Aji mengerti tanpa harus kuberi tahu.

            Mas Aji memang pemilih soal makan. Sejak menikah, aku bahkan tak begitu hafal makanan kesukaannya. Bayangkan saja, dia bisa dengan lahap makan cumi-cumi bersantan yang dimasak oleh ibu. Dan menolak mentah-mentah ketika aku membuatnya. Sungguh menyakitkan!

 Dia pun susah sekali makan sayuran. Terlebih yang berwarna hijau. Jika aku membuat sayur sop, wortel dan beberapa sayuran pelengkapnya akan tersisa di piring. Seringkali aku jadi enggan memasak. Capek-capek tapi tak pernah dihargai. Kadang hanya dilihat lalu diendus sekilas. Lantas ditinggal pergi. Itu bukan hanya terasa menyayat hati, namun berserakan sudah perasaanku.

            Aku juga mengeluhkan soal kebiasaannya minum yang manis. Dia tak suka air putih. Padahal, aku mengkhawatirkan kesehatannya. Kakak iparku mengidap diabetes. Itu sebabnya aku berusaha memberikan air putih lebih banyak. Namun, hasilnya nihil. Dia hanya menyeruput sedikit. Jadi, terpaksa selalu kubuatkan teh manis atau kopi susu favoritnya.

            “Aji, kamu kok tambah kurus aja?” Celetuk salah satu saudara kami suatu hari ketika berkunjung ke rumah.

            Sungguh aku malu ketika ada orang menyindir tubuh mas Aji yang ramping. Mereka seolah menyebutku sebagai istri yang tak pandai melayani suami. Lihat saja, kebanyakan orang akan naik berat badannya hingga sulit direm saat sudah menikah. Sedangkan mas Aji, justru semakin terlihat kurus. Hanya tersisa kulit yang membungkus tulang.

            Napasku berat. Mata berkabut. Aku menyuap sepotong donat dengan paksa ke mulut. Mengunyah cepat. Separuhnya lagi kuremat. Permukaannya basah terkena air mata.

            Aku ingin menyalahkan mas Aji. Namun, aku sendiri rupanya memang tak pandai memasak. Semakin geram rasanya mengingat saat dia melempar sisa donatnya pagi ini. Padahal dia tahu, aku bekerja keras demi itu.

            Tiba-tiba terngiang ucapan teman dekatku. Ketika dia membuat kue brownis coklat sebagai kado ulang tahun suaminya. Kue berwarna gelap itu pun sukses dibuat. Namun sayang, hasilnya bantat. Lalu aku begitu heran dengan kalimat yang dia ucapkan selanjutnya.

            “Alhamdulillah punya suami neriman. Suamiku bilang dia akan menghabiskannya walaupun kuenya gagal,” dia tertawa tanpa beban.

            Ah, andai itu mas Ajiku. Tentu aku tak akan sesakit ini.

***

            “Hari ini kamu masak apa, Nad?” tanya mas Aji sambil mengintip ke dapur. Aku tersenyum hambar. Mengaduk sayur bayam. Lantas memasukkan potongan tomat ke dalamnya.

            “Tumben nggak bikin kue?”

            Aku menggeleng. Walaupun sangat ingin, aku akan memikirkannya seribu kali. Lelahnya memang tak seberapa. Namun, sakitnya akibat dihina itu sulit sekali disembuhkan. Memang akhir-akhir ini aku jadi malas ke dapur. Mas Aji mungkin merasakan itu. Aku hanya memasak menu sederhana. Itu pun makanan yang jelas-jelas akan mas Aji terima. Seperti sambal dan pindang goreng. Untuk kali ini aku enggan mencoba resep rumit. Salah sedikit bisa fatal akibatnya bagi perasaan.

            Tiba-tiba saja mas Aji menyodorkan mangkuk kosong padaku, “Aku lapar, Nad.”

            “Mas mau sayur bening?” tanyaku heran sambil menebak lekuk indah di wajahnya.

            Dia mengangguk. Mengambil satu piring kosong dan mengisinya dengan nasi panas. Entah harus tersenyum senang atau bahkan menangis. Perasaanku campur aduk melihat mas Aji makan dengan lahap. Lauk sederhana. Tempe goreng, sambal terasi serta sayur bening yang biasa dia tolak. Kali ini dihabiskan.

            Mas Aji tak suka memuji. Dia juga tak banyak bicara ketika bersamaku. Terkadang sikap diamnya bagiku adalah sebuah pujian. Jika suaranya keluar, pastilah hanya protes tajam yang menyentuh gendang telinga. Aku lebih suka dia diam. Itu lebih menenangkan.

            Sorenya aku memberanikan diri membuat roti. Kubayangkan aroma butter yang menyebar ketika roti baru keluar dari oven. Panas-panas aku bisa mencobanya. Mas Aji pasti senang jika aku bisa menyajikannya sore ini sebagai teman minum teh.      

            Terigu kutimbang hati-hati. Begitu juga dengan ragi, gula pasir serta butter. Roti ini kubuat dengan senang hati. Penuh senyum dan berdzikir tiada henti. Berharap tak ada masalah lagi.

            Tiga kali proofing. Roti mengembang cantik. Sambil menunggu dioven, aku pun mengerjakan pekerjaan lain yang belum sempat kuselesaikan. Menjemur baju. Aku pun terburu-buru saat menuruni anak tangga. Gawat! Rotiku belum kutengok sejak tadi.

            “Yah, gosong!” Celetuk mas Aji yang ikut nimbrung di belakangku. Rotinya memang mengembang cantik. Namun sayang over bake. Belum lagi permukaannya yang sedikit menghitam. Ah, mas Aji pasti akan menghabisiku setelah ini.

            “Rotinya agak pahit-pahit gitu, Nad.” Ucapnya sambil mengambil sepotong. Lalu mengembalikannya lagi.

            Benarkan? Aku sudah bilang. Bahkan beribu kali kuingatkan pada diri sendiri. Mestinya tak perlu capek-capek membuat roti. Biarkan saja mas Aji beli di supermarket dekat rumah jika mau. Kalau sudah begini, bagaimana aku bisa menyatukan hati yang berserak? Detik itu juga aku menangis dan menghambur dalam pelukannya. Aku sungguh tak tahan. Sekian lama memberikan kode supaya mas Aji lebih berhati-hati saat bicara padaku. Hasilnya tak pernah menggembirakan. Dia hanya bicara tentang apa yang ada di kepalanya. Mengabaikan soal hati. Membuang jauh rasa peka yang harusnya dia miliki.

            Mas Aji tertawa, “Ada apa, Nadia? Apa aku salah bicara?” tanyanya sambil melingkarkan kedua lengan pada tubuh mungilku.

            Tentu saja mas Aji salah bicara. Kenapa bicara terlalu banyak? Satu kalimat saja sudah menikam apalagi dua. Aku berteriak dalam hati.

            “Nad?” tiba-tiba lelaki tiga puluh tahun itu menarik daguku menghadap wajahnya. Aku melihat pelangi dalam hangat tatapnya. Dia tersenyum. Menyuruhku berhenti menangis. Tapi, perasaanku menentang.

            Aku memilih pergi. Berlari meninggalkan dapur yang masih berantakan. Sendiri dan menangis di dalam kamar. Mas Aji tak berusaha mengejar. Harusnya dia datang padaku dan meminta maaf. Itu yang aku butuhkan saat ini. Namun, sepertinya sinyal di rumahku cukup lemah. Sehingga membuat mas Aji tak pernah memahami apa yang sebenarnya aku inginkan. Seperti inikah rasanya disakiti?

***

            Langit masih gelap ketika mas Aji menyalakan motor dan bergegas ke kantor. Sebelumnya dia mencium keningku. Berpamitan lantas mengusap kepalaku pelan. Aku hanya bergeming. Masih terbawa rasa sendu kemarin sore.

            “Mas berangkat ya, Nad.”

            Aku menggangguk. Mengantarnya sampai pintu pagar dan membalas salamnya lirih.

            Kemarin memang mas Aji melakukan kesalahan. Ya, setidaknya aku merasa dia tak cukup peka untuk menerka perasaan dan sakit hatiku. Tapi, pagi ini justru sebaliknya. Mas Aji pergi bekerja tanpa sempat sarapan atau pun minum teh.

            Tiba-tiba air mataku meleleh. Karena terlalu banyak menangis, aku pun kesulitan memejamkan mata. Hingga larut malam aku masih terjaga. Imbasnya, aku bangun kesiangan dan mas Aji, seperti biasa tak pernah merasa ingin membangunkanku.

            Pukul lima tiga puluh aku menemukan mas Aji sudah berdiri rapi di depan cermin. Aku yang baru saja bangun dengan masih mengenakan mukena terlonjak kaget. Rupanya aku tertidur usai shalat fajar.

            “Kok aku nggak dibangunin?”

            “Aku nggak tega bangunin kamu, Nad. Kayaknya kamu capek banget.” Meleleh sudah semua kebekuan semalam. Tanpa protes apalagi marah. Kalimat yang datar tanpa sakit hati. Aku telah melakukan kesalahan besar dengan menyakiti suamiku sendiri.

            Kemarin aku menyalahkannya untuk banyak hal. Tentang sikapnya yang kurang peka. Tentang ucapannya yang menyakitkan. Bahkan tentang banyak hal yang sampai sekarang justru tak kulihat di mana letak kesalahannya.

            Sekelebat bayangan berhamburan di pelupuk mata. Isakku berlarian. Gemuruh di dada semakin membuat sesak. Aku melihat mas Aji tak pernah naik pitam ketika aku marah. Dia lebih banyak diam sehingga pertengkaran kecil di rumah selalu berakhir cepat. Aku membayangkan dia yang tak pernah memprotesku soal sarapan pagi yang sering terlewatkan. Padahal dia harus menempuh jarak puluhan kilo meter demi sampai ke tempat kerja. Mas Ajiku yang neriman. Tak meminta ganti menu ketika masakanku tak sesuai dengan keinginannya. Dia memilih menahan lapar. Tak makan hingga keesokan harinya.

            Kejadian itu bermunculan bagaikan slide-slide yang sedang menampar keras wajahku. Segera kuambil handphone yang tergeletak di meja kamar. Mengetik pesan singkat.

            “Maafkan aku, Mas…”

***

Sepotong Kue Bolu

Sepotong Kue Bolu



Pelan-pelan aku mulai menyadari jika memasak tidak hanya ditentukan oleh bakat. Mungkin saja ibu menurunkan kepandaian memasaknya padaku, tapi jika tak pernah mencoba, semua bakat akan serupa tumpukan pasir tak berharga. Bagiku, pengalaman selama bertahun-tahun menjajal hampir semua menu di dapur, membuat tangan jauh lebih terampil. Sesekali pernah gagal, tapi semangat tak pernah pupus.

Sejak SMA aku suka memasak. Akibat terlalu sering melihat kegiatan ibu di dapur. Kelihaian ibu membuat cake dan roti membuatku semakin penasaran bagaimana menaklukkan jajanan favorit keluarga di rumah. Sejak saat itulah, ibu mengajarkan banyak hal, mengaduk adonan cake, membuat roti lembut serta memasak menu lebaran. Apa pun yang ibu kerjakan, selalu jadi pemandangan menarik untukku saat itu.

Bagi beberapa orang, memasak adalah sesuatu yang membosankan. Padahal, bisa menyajikan sesuatu yang spesial dari tangan sendiri adalah bonus luar biasa. Angga termasuk yang senang mendapatkan bonus-bonus itu dariku.

Ah, sayanganya, tak lama lagi kami akan berpisah. Beberapa waktu lalu, Angga menemuiku. Tak seperti biasa. Dia mengetuk pintu kamar, meminta izin masuk. Aku yang tak terbiasa merasa ada yang janggal.

“Kamu yakin akan menikah?” Tanya Angga sambil menarik kursi di depan meja rias.
Aku tersenyum, mulai mengerti arah pembicaraan kami selanjutnya.

“Memangnya kenapa? Apa Khey masih terlihat seperti adik kecil bagimu, Bang?” Ucapku sambil mencubit lengan Angga. Menahan gemuruh yang tiba-tiba menghantam dinding di hati. Rasanya terlalu menyedihkan, mengingat kami hampir tak pernah berpisah. Angga adalah kakak yang baik. Dia bukan tipe cowok yang malas mengantar adik perempuannya. Berbeda dengan kedua kakakku yang lain. Perhatian Angga justru membuat kami sulit menerima kenyataan seperti ini.

“Nanti siapa yang akan memasak kue untukku, Khey?” Angga menunduk. Memerhatikan kedua kakinya yang sengaja digerakkan ke kanan dan kiri.

“Memangnya abang nggak mau nikah?” Aku tertawa. Lebih tepatnya memaksa tergelak meski terlihat hambar.

“Harusnya aku duluan yang menikah. Kenapa kamu cepat sekali tumbuh dewasa. Rasanya baru kemarin aku mengantarmu ke sekolah.”

Aku tersenyum. Kali ini tak lagi menahan tangis. Kedua sudut mata terlanjur basah. Angga menatapku lama. Menarik napas dan beranjak.

“Izinkan Kheyla menikah, Bang...”

Angga memalingkan wajah, bergegas meninggalkan kamar. Menyisakan ngilu di hati.

Apa yang membuat seseorang terlambat mengerti? Terlalu sayang? Atau karena tak suka sehingga malas memahami? Mungkin kedua alasan itulah yang sedang dialami oleh kakak sulungku. Entah karena terlalu sayang, sehingga membuatnya menolak mentah-mentah pertunanganku dengan Sandi. Atau karena dia tak menyukai Sandi sehingga sampai detik ini tak juga memahami perasaanku.
Beberapa kali kucoba jelaskan, adik bungsunya hanya akan menikah, tidak pergi ke mana-mana. Sesekali akan bertandang ke rumah, bahkan mungkin lebih sering karena Sandi pun mengkhawatirkan kondisi ibu yang semakin tua. Kami sepakat akan menjaga orantua, baik ayah dan ibu Sandi atau pun orangtuaku.

Rumah Sandi pun tak seberapa jauh. Hanya beberapa ratus meter dari tempat tinggal kami. Tentu saja itu tak menjadi alasan kuat bagi Angga untuk menolak pinangan lelaki yang sudah menyukaiku sejak SMA itu. Kami sama-sama sudah dewasa. Sandi sudah bekerja dua tahun lalu sejak dia berhasil menyelesaikan kuliahnya. Ayah dan ibu pun tak pernah mempermasalahkan. Hanya saja, Angga selalu mencari alasan baru. Semakin lama semakin tak kumengerti.

Sungguh terlalu rumit mengingat aku dan Sandi sudah resmi bertunangan sejak tiga bulan lalu. Meski tak setuju, Angga tak bisa berbuat apa-apa. Hanya sesekali menyindirku yang terkesan terburu-buru ingin menikah. Padahal, usiaku sudah dua puluh empat tahun. Harus menunggu usia berapa lagi?
Beberapa kali Angga tak menegur. Bagaimana aku bisa nyaman jika dalam rumah ada orang dekat namun sengaja mendiamkanku? Tanpa sebab yang jelas, tanpa alasan pasti. Kadang dia lebih ketus. Marah ketika aku terlambat pulang ke rumah. Padahal, Jakarta memang selalu macet. Bukan rahasia jika jalanan selalu padat terutama saat jam pulang kerja.

Tapi Angga selalu menemukan pembenaran untuk dirinya. Dengan berbagai macam alasan, dia merasa berhak memarahiku. Ah, kenapa abangku berubah? Aku bahkan hampir tak bisa mengenalinya.

“Kue bolu apa?” Sahutnya dari belakang ketika aku mengeluarkan kue bolu pandan yang baru matang dari oven.

“Rasa pandan. Ini kesukaan abang, kan?”

Angga mengangguk. Tersenyum lebar lalu kembali diam. Kali ini tidak lagi mendiamkanku.
“Abang minta jangan teruskan pertunanganmu, Khey.”

Aku yang tak siap mendengarkan kalimat itu, tersentak dan seketika menatapnya penuh tanya.
“Ada apa dengan abang? Bukankah Kheyla sudah berusaha jadi adik yang penurut? Kheyla juga ingin punya keluarga, Bang. Pernikahan Khey tak akan merusaka hubungan kita sebagai saudara. Kenapa harus dilarang?” suaraku dipenuhi isak. Sedikit mengenai kue bolu yang tergeletak di meja.
“Bagaimana kalau Sandi ternyata bukan orang yang tepat buat kamu?”

Kalimat Angga serupa sembilu menyayat. Angga bahkan lebih mengenal Sandi dari pada aku. Sandi teman satu angkatan saat SMA. Sama-sama menjadi remaja masjid. Tak mungkin jika Angga tak mengenal siapa calon suamiku.

“Ucapan abang sempurna membuat Kheyla sakit. Kheyla pikir abang adalah orang yang paling mengerti perasaan Khey.” Tangis tak lagi terbendung. Butuh waktu lama bagiku agar bisa bicara panjang lebar pada Angga. Sebab tangis menyumpal tenggorokan. Membuat suara tercekat.
Setiap perempuan mendamba pernikahan dengan sang pangeran. Menjadi istri dan seorang ibu adalah impian terindah. Namun, terkadang mimpi itu harus terseok bukan karena sang pangeran yang terlambat datang. Tapi karena halangan lain dari keluarga sendiri. Bagiku ini terlalu sulit. Menikah namun ada yang bimbang bahkan merasa pernikahan kami nanti justru tak bisa menuai bahagia. Dalam keadaan seperti sekarang, aku tak bisa mencari jalan keluar. Sandi sudah memutuskan akan melaksanakan akad dalam waktu dekat meski mengetahui Angga tak pernah setuju dengan hubungan kami. Dia tetap keukeuh ingin kami menikah. Aku masih ragu. Pada akhirnya, malas bicara dengan kedua lelaki itu.

Aku mengusap kedua mata yang basah. Segera memotong kue bolu yang telah dingin. Menaruhnya di meja makan, berharap Angga akan segera menghabiskannya seperti waktu-waktu sebelumnya.
Malam ini, ketika keluar dari kamar, aku menemukan Angga sedang duduk di meja makan sambil mengunyah beberapa potong bolu pandan buatanku. Dia tak memerhatikan kedatanganku. Hanya termangu sambil menatap televisi yang menyiarkan acara sepak bola.

Suasana lengang. Ibu sudah tidur di kamar. Begitu juga dengan ayah. Angga beranjak. Tak menoleh atau bahkan menyapa adik bungsunya ini. Ah, rasanya ingin menangis melihat kakak kesayanganku tak acuh seperti itu.
***

“Bang,” aku menyerahkan boks berisi kue bolu tape keju kepada Angga.

“Apa ini?” Tanyanya penasaran lalu mengambil alih kotak berwarna biru itu dari tanganku. Membukanya pelan sambil mencium aroma wangi yang menguar dari dalamnya.

“Meski sudah menikah, Khey nggak akan lupa membuatkan abang kue bolu. Khey janji akan datang lebih sering,” ucapku sembari tersenyum.

Angga terperangah lantas merangkulku.

"Jaga adikku baik-baik," ucapnya lagi sambil menepuk bahu Sandi, suamiku.

Sunday, June 11, 2017

Raina Dan Luka

Cerpen Raina dan Luka


(Terkadang cinta justru datang menikam dengan sadisnya…)

Seorang wanita dengan pasmina merahnya tampak terburu-buru meninggalkan sebuah kafe. Ada gurat kesedihan yang sengaja ia sembunyikan. Namun, seorang lelaki yang sejak awal memerhatikan tampak terkejut dan segera menyusul.

“Kenapa buru-buru?”

Raina memalingkan wajah, tak mengacuhkan pertanyaan dari orang yang amat dikenalnya.

“Aku antar?”

Raina bergeming. Sepasang bola matanya menyapu jalan. Belum ada taksi lewat. Dia harus bergegas. Waktunya hanya sedikit. Ajakan lelaki berkemeja rapi di sebelahnya adalah sebuah jawaban. Namun, wanita dua puluh tujuh tahun itu enggan mengiyakan. Ada sesak yang mengganjal. Dia tak mungkin menerima tawarannya.

“Raina, aku akan antar,” sekali lagi suara itu tampak lebih tulus terdengar. Raina bahkan tak menitipkan seulas senyum sebagai jawaban. Tak ada gelengan kepala atas sebuah penolakan. Wanita dengan long cardigan abu-abu itu justru lebih serius menatap smartphone sambil memesan sebuah taksi online.

“Rai, kamu masih marah?”

Lelaki itu memaksa menguak sebuah luka lama. Luka yang sebenarnya masih belum kering sempurna. Bagaimana bisa dia bertanya sedangkan sejak awal Raina tak pernah memaafkan? Sudah lupakah bagaimana dia dengan amat menyakitkan memperlakukan wanita berperawakan tinggi itu? Sudah hilangkah bayangan penuh hujan yang kemarin bergetar dan memohon sebuah keputusan? Dan lelaki dengan dasi merah marunnya tiba-tiba bertanya tentang perasaan yang telah sengaja dikoyak. Bagaimana rasanya?

Tentu saja Raina tak merasa perlu memedulikan apalagi menjawab semua pertanyaan itu. Dia amat mengenalnya. Namun tak pernah disangka, sakit hati justru datang dari lelaki itu. Kenapa dia tega?

“Rai, aku minta maaf,” kali ini terdengar memaksa. Tangan kukuhnya menarik pergelangan Raina. Dengan keterkejutan luar biasa, sontak wanita berparas ayu itu menghempas dengan mata terbeliak.

“Di antara kita tak ada hubungan apa pun. Jadi tak pantas bicara berdua seperti ini.”

Lelaki di sebelahnya menyesal. Menangkupkan kedua tangan dan meminta maaf berkali-kali. Dia seolah mengemis belas kasih, tapi Raina tetap tak ingin mengangguk apalagi mengiyakan. Luka itu bahkan terasa lebih perih sekarang.

***

Ibu masih terlelap. Tekanan darahnya berangsur normal. Raina tergugu. Wanita enam puluh tahun itu kini dipenuhi guratan usia. Kelopak mata dan keningnya tampak lebih keriput. Lelah dan beban pikiran terasa amat menyiksa. Raina memang sudah berhasil menyelesaikan kuliah di fakultas kedokteran, sebuah cita dan asa orangtua serta keinginannya yang melambung sejak usia dini. Namun, nyatanya hidup senantiasa menghadirkan kisi-kisi lain. Selalu ada bahagia di antara duka. Begitu pun sebaliknya.

Ketika keberhasilannya menjadi dokter teramat memikat, maka pernikahan dan menjadi seorang istri adalah impian berikutnya. Dan Tuhan telah menurunkan kebahagiaan beruntun, lelaki dengan wajah tampan yang sejak lama menjadi teman kuliah, memutuskan melamar meski keduanya tak pernah menjalin hubungan istimewa.

Diam-diam lelaki berkacamata minus itu menyukai Raina meski tak sekalipun mengungkapkan. Dia menunggu meski nyatanya tak selalu mudah. Berhadapan dengan wanita behidung mancung itu membuatnya selalu gugup. Dia bertingkah aneh demi menutupi resah yang selalu datang tanpa diminta.

Satu, dua, hingga tiga tahun berikutnya, rasa itu tak berkurang, justru semakin sempurna. Cinta yang bagi sebagian orang terasa lebih indah, kini justru menyiksa. Pada akhirnya, Faris memberanikan diri melamar Raina. Datang ke rumah wanita cantik itu dengan kedua orangtua. Menyatakan cinta serta berharap bisa menikahinya.

Raina yang baru saja menyulam bahagia, tiba-tiba berbunga. Faris muncul sebagai seorang teman yang selalu siap membantu. Baginya itu istimewa meski tak pernah berharap lebih. Nyatanya, lelaki itu menyimpan rasa. Raina menerimanya penuh haru. Faris tertunduk sambil mengusap keningnya yang basah.

Lamaran dilaksanakan sebulan setelahnya. Pertemuan kedua keluarga. Hanya dihadiri orang-orang terdekat. Penetapan tanggal pernikahan dan tak ada lagi selain senyum menyembul dari kedua orang yang sedang jatuh cinta.

Sepertinya Tuhan sedang menghujani mereka dengan kebahagiaan. Tapi badai dan petir itu tiba-tiba saja datang tanpa diundang. Pernikahan yang tinggal beberapa pekan, undangan yang disebar ramai berubah jadi malapetaka.

Raina mengusap kedua sudut matanya yang basah. Ibu menarik selimut. Membuyarkan lamunannya. Cepat-cepat Raina membantu. Wanita yang rambutnya mulai beruban itu kembali terlelap. Tak menyadari sejak tadi ada Raina di sampingnya.

Pukul sembilan malam, Raina beranjak. Masuk ke kamar dengan perasaan kalut. Pertemuan sore tadi dengan Faris membuatnya terpaksa mengingat kelamnya masa lalu. Cinta yang masih tersisa namun harus segera pupus sebab takdir tak menghendaki keduanya bersama. Bagi Raina, keadaan saat itu amat menyakitkan. Perlakuan Faris yang tak sesuai harapan membuatnya sulit memaafkan. Jika memang tak bisa memperjuangkan, lantas kenapa dengan antusias menyatakan cinta?

Telepon berdering. Sebuah panggilan dari orang yang baru saja menyelinap dalam pikirannya. Sudah  tiga tahun, Faris seolah menghilang. Pernikahan serta resepsi megah yang dibatalkan dengan tiba-tiba membuat keduanya menjaga jarak.

Raina ragu. Mengambil handphone dan menaruhnya lagi. Dering ketiga, Raina mulai tak mampu. Dia meringkuk di ujung tempat tidur. Menangis. Suara dering telepon tak mau berhenti. Entah apa yang ada di dalam pikiran Faris. Seharusnya cukup sakit dan luka kemarin, tak perlu menambah apalagi menabur harapan baru yang mustahil diwujudkan.

Raina mengusap kedua matanya yang basah. Lelaki itu masih berusaha dan enggan berhenti. Raina mengumpulkan sisa keberanian, mengangkat telepon, dan suara itu memecah hening.

“Raina, aku ingin bicara.”

“Tentang apa?” Raina duduk di depan meja rias. Tubuhnya lemas seketika.

“Tentang kita,” Faris terdengar menarik napas dalam.

Apa yang akan dibicarakan lagi? Rasa malu atas pernikahan yang gagal digelar? Atau tentang rasa yang berubah semburat penuh luka? Raina mengerutkan kening.

“Aku tak punya banyak waktu.”

“Raina, aku minta maaf karena dengan tiba-tiba membatalkan pernikahan. Bukan aku yang mau. Ibu tiba-tiba saja menolak dan ingin menikahkanku dengan sepupu yang baru datang dari Malaysia. Sejak lama ibu mengharapkan dia menjadi menantu…”

Raina termangu. Kalimat-kalimat itu seolah dusta. Sejak kapan ada seorang ibu yang rela merusak bahagia putranya? Apakah Faris sebodoh itu hingga tak mampu menolak? Lantas, bagaimana dengan udangan yang disebar dan pernikahan yang hanya sebentar lagi digelar? Apakah Faris sudah berbohong? Tapi, lelaki yang selalu tersenyum ramah itu hampir tak pernah melakukannya. Sejak kedatangannya terakhir ke rumah Raina, dia tak lagi muncul dan tak pernah memberikan alasan. Seolah dialah orang paling bertanggung jawab atas batalnya pernikahan mereka.

Sekarang, tiba-tiba saja Faris muncul dan membuat kejutan luar biasa. Ada apa ini? Raina menghapus resah. Tiba-tiba saja kepalanya pening.

Faris percaya ini akan sia-sia. Dua hari yang lalu, dia baru kembali ke tanah air. Sekian lama menghilang demi menghindari perjodohan yang tak pernah diinginkan. Sekuat tenaga mencari alasan supaya sang ibu tak terluka. Berniat melanjutkan kuliah spesialis di luar negeri. Berjanji akan kembali dan menyembuhkan luka orang terkasihnya.

Pertemuan tanpa sengaja di kafe sore tadi membuat semua rencana Faris berantakan. Awalnya, dia hanya berniat bertemu sahabat lama. Tak disangka, di sana ada Raina yang ternyata masih menyimpan luka atas kejadian bertahun silam.

Faris menyesal dan segera menyusul ketika Raina tiba-tiba beranjak tanpa menyentuh segelas cappucino yang sudah dipesannya.

Raina mengaku kecewa telah datang sore itu. Bukan hanya karena pertemuan tanpa diduga dengan mantan tunangannya, tapi lebih berat meninggalkan ibu dengan kondisi yang sedang memburuk. Sebuah pesan singkat dari adik bungsu membuatnya segera beranjak. Beberapa pasang mata yang melihat merasa ikut bersalah karena sudah mengajak keduanya hadir. Pertemuan penuh luka.

Usia ibu memang tak lagi muda. Namun sakit itu muncul sejak pernikahan putri sulungnya yang batal dilaksanakan. Raina merasa amat bersalah, kenapa harus menerima pinangan Faris. Sesal yang selalu datang di akhir.

“Rai,” tiba-tiba suara Faris mengejutkannya.

“Iya,” Raina mencoba berdamai. Tak baik menyimpan sakit hati terlalu lama. Itu hanya akan menghambat bahagia.

“Aku ingin kita menikah.”

Terasa disayat sembilu. Lelaki itu dengan mudahnya mengucap kalimat yang sama berulang kali.

“Faris, aku harus segera tidur.”

Raina memutus telepon sebelum lelaki itu sempat menolak. Dia bergegas merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Bergelung dalam selimut. Menangis sejadinya. Gemuruh dalam dada yang membuncah, rindu dan sakit yang berjejalan. Ada apa ini? Kenapa rasanya begitu sakit?

Raina menarik napas dalam. Satu jam kemudian tak juga mampu memejamkan mata. Sementara lelaki di seberang sana merasakan kekalutan serupa. Raina beranjak, mengambil wudhu dan menggelar sujud panjang. Ribuan duri yang menusuk dilepaskannya pelan.

Tanpa disadari, lelaki yang dulu amat dicintai sedang melakukan hal serupa. Sujud serta doa mereka menghentak ketenangan langit. Tangis keduanya menghadirkan ribuan cahaya. Malam yang semakin beranjak, hati yang mulai luluh dan ikhlas. Raina mencoba memaafkan meski terlalu sakit. Faris mencoba mengikhlaskan walau kenyataannya, perasaan itu tak berkurang meski hanya sejengkal saja.

***

Raina terhenyak mendapati seorang perempuan paruh baya sedang berdiri di depan pintu. Dia begitu mengenalnya. Tiba-tiba saja wanita itu merengkuhnya dengan suara isak yang terdengar putus-putus. Dengan ragu, Raina membalas pelukannya. Mencoba menerka apa yang akan disampaikan.

“Maafkan ibu. Selama ini ibu egois. Ibu sudah melukai kamu dan keluargamu.”

Raina tergugu. Rasanya seperti mimpi. Wanita yang dulu menolak pernikahannya kini datang dan meminta maaf. Faris membuktikan ucapannya, kalimatnya semalam bukan dusta.

 Tiba-tiba saja Raina ingin menangis mengingat bagaimana ibunya jatuh sakit dan dirawat hingga berkali-kali sejak batalnya pernikahan itu. Ada banyak luka yang tak akan sembuh hanya dengan kata maaf. Ada banyak kejadian menyakitkan yang tak bisa dihapus hanya dengan kalimat sederhana itu. Tapi hati yang ikhlas tentu tak mengharapkan semua luka itu menguap. Raina selalu percaya, tak ada kejadian tanpa kehendak Tuhan.

“Ibu ingin kalian menikah. Ibu tak akan menghalanginya lagi.”

Raina termangu. Kedua bola matanya membulat. Kristal bening bergulir. Raina menemukan lelaki berkamata minus itu sedang tersenyum di hadapannya sebelum sempat dia menghapus tangis. Faris kembali, menunaikan janji yang sudah terpatri di dalam hati. Menikahi bidadarinya, menyembuhkan lukanya.

Thursday, June 8, 2017

Sepasang Bola Mata

Cerpen sepasang bola mata


Sekar tergugu menatap sepasang bola mata mungil yang biasa berpijar namun kini nampak suram. Apa yang sedang kamu pikirkan, Nak?

Beberapa hari yang lalu, Bhumi masih berlarian. Mengitari ruang tamu, menuju dapur dengan tergesa sambil membawa beberapa lego yang sudah dirangkai, memanggil nama Sekar dengan panggilan kesayangan, menyodorkan mainan yang katanya adalah sebuah kamera. Dengan hangat Sekar memeluk putra bungsunya, “Bagus, Bhumi hebat!”

Di lain waktu, gelaknya bersama sang kakak terdengar tanpa henti. Biasanya Bhumi sedang bermain petak umpet sambil cekikikan. Sekar dengan senang menatap kedua putranya sambil mengelus dada. Terkadang mereka terjerembab. Tak terlalu hati-hati. Jika dilarang, mereka mengacuhkan sebab terlalu asyik bermain. Sekar selalu was-was melihat tingkah laku mereka. Melarang bukan hal baik, tapi membiarkan serasa jantung mau copot.

Sang kakak tak kalah aktif, naik ke atas kursi dan melompat tinggi-tinggi tanpa rasa takut. Sekar sering gelagapan melihatnya dari jauh. Memekik dan dibalas tawa renyah tanpa rasa bersalah. 

Memiliki dua anak laki-laki bukanlah hal mudah. Terlebih saat dia harus mengurus semuanya sendiri tanpa bantuan asisten rumah tangga. Kakek dan nenek pun terlampau jauh untuk dimintai tolong. Lagi pula, ini sudah jadi keputusan Sekar sejak awal, mengurus semuanya sendiri.

Bukannya tak pernah mengeluh, hanya saja wanita dua puluh lima tahun itu masih merasa mampu melewati semuanya dengan baik. Meskipun dengan kerja keras. Ya, setidaknya dia merasa lebih puas bisa mengawasi dan melihat tumbuh kembang buah hatinya.

Namun, kejadian sore itu benar-benar menyentak. Kedua kakinya tiba-tiba lemas. Lengkingan tangis dari suara yang sangat dia hafal. Dia bergegas menuju tempat di mana kedua putranya bermain sejak sore itu.

Si sulung bergeming. Menggeleng meski tak seorang pun bertanya. Dia memaksa menjawab walaupun tak seorang pun ingin mendengar karena kekhawatiran lain jauh lebih besar ketimbang hanya sebuah jawaban atau anggukan kecil.

Terlambat! Sekar terlambat hadir di antara rinai tawa yang baru saja terdengar. Seketika berubah derai tangis memilukan.

“Jika bisa, biarkan bunda yang menanggung sakitmu, Nak!” Pekik Sekar sambil memeluk tubuh bungsunya.

Anak dua tahun itu bergeming. Setelah menangis, dia tak banyak bersuara. Menggigit bibir bawah sambil menahan sakit yang amat menyayat. Siapa yang bertanggung jawab atas kejadian malang sore itu?

Tentu saja Sekar adalah orang pertama yang menyalahkan dirinya sendiri. Harusnya dia menjaga anak-anaknya dengan baik bukan malah sibuk di dapur. Dia pikir, mereka akan tetap aman. Toh selama ini mereka sering melakukannya. Namun, musibah datang tanpa diduga. Memaksa siapa pun seketika siap meski rasanya raga tak lagi menyentuh tanah.

Apa yang harus dia lakukan? Tak ada dokter yang praktek saat tanggal merah. Sekar memilin perasaan sambil mengusap matanya berkali-kali. Dia bahkan lebih sering menangis ketimbang si bungsu. Merasa menjadi orang paling jahat di dunia. Bagaimana bisa kejadian itu menimpa anaknya?

Semakin merintih ketika wanita bertubuh mungil itu menatap Bhumi yang sedang duduk di lantai dengan pasrah. Mengaduk-aduk segelas es buah yang hendak disajikan untuk berbuka namun akhirnya berakhir duka. 

“Buka mata, Nak!” 

Bhumi tak merespon. Satu kedipan saja akan membuat matanya amat sakit. Dia menahan kuat supaya kelopak mata tak bergerak. Menggigit bibir dan menarik napas panjang. Suara tangis terdengar berkali-kali, mengeluh sakit dan kebingungan yang sama di hati Sekar serta suaminya. Apa yang harus mereka lakukan? Hanya menunggu dan diam? Bukankah menatap buah hati yang kesakitan tak jauh berbeda dengan melukai diri sendiri?

Sepasang bola mata itu, kemarin masih berbinar ketika melihat ayahnya datang di senja yang semakin pudar. Tawanya menghangatkan seisi rumah. Langkah kecilnya terdengar menghentak berkali-kali. Sekarang, pemiliknya hanya duduk dan diam. Mengeja satu demi satu rasa sakit yang datang tanpa henti.

Berkali-kali Sekar meminta maaf, namun semua itu tak membawa kembali waktu yang sudah lewat. Rasanya ingin marah, kenapa dia mengizinkan kedua anaknya bermain pasir di taman dalam rumah? Ruangan kecil yang menembus langit itu selalu menjadi tempat favorit. Tapi, sore itu bukan hal baik mengizinkan Bhumi yang sedang sakit mata bermain di sana bersama kakaknya.

Cipratan serpihan pasir mengenai kedua mata bungsunya. Siapa yang salah? Si sulung tentu tak mau disalahkan karena dia merasa tak melakukan apa pun. Sedangkan Bhumi? Apa yang mau ditanyakan pada bocah dua tahun itu? Dia bahkan malas mengingatnya.

Serpihan pasir membuat matanya susah dibuka. Alasan tanggal merah membuat orangtuanya urung membawa ke rumah sakit. Sepanjang malam, bocah yang biasanya selalu tertawa itu hanya merintih, menyusu dan lebih banyak terbangun.

Sekar beberapa kali menyeka ujung mata Bhumi. Sedikit pasir tersisa di ujung tisu. Lama-lama ibu rumah tangga itu mual. Matanya bahkan langsung berair ketika terkena debu, lalu bagaimana dengan Bhumi yang terkena pasir? Apalagi dengan kondisi mata bengkak karena konjungtivitis sejak beberapa hari lalu. Itu pasti sangat menyakitkan. Sekar hampir tak lelap hingga fajar tiba.

Pagi-pagi sekali, wanita dua anak itu tergesa menuju UGD rumah sakit terdekat. Menjelaskan dengan terbata pada pegawai rumah sakit. Dijawab dengan keterkejutan serupa. Mereka angkat tangan dan merujuknya ke dokter spesialis mata. Itu artinya, Bhumi harus menunggu lebih lama lagi karena dokter baru praktik pukul sembilan pagi. Terlalu lama, batin Sekar.

Namun, tak ada pilihan lain. Dia akhirnya duduk di ruang tunggu setelah menyelesaikan pendaftaran dan mengurus asuransi. Tak ada yang bisa dilakukan selain menangis. Berkali-kali wanita bermata sembab itu mengusap kedua matanya. Menyembunyikan kepedihan dari tatapan beberapa orang yang berada di dekatnya. Bhumi menahan kedipan mata, sesekali menangis kesakitan. Waktu terasa amat lambat. Hingga akhirnya, nama putra bungsunya pun disebut.

Ruang dokter yang jauh dari lengang. Beberapa dokter praktik ikut mendengarkan cerita memilukan itu. Dokter mata segera mengambil tindakan. Memeriksa dan menarik kelopak bagian dalam. Pasir-pasir mulai terlihat. Dan detik itulah, lengkingan tangis Bhumi terasa lebih menyakitkan ketimbang goresan sebuah pedang.

Tak ada perubahan berarti selain kedua mata yang semakin bengkak setelah tindakan. Dokter itu berpesan, jika belum membuka mata, bisa dipastikan masih tersisa pasir di dalamnya. Ah, harusnya sudah bersih. Kenapa harus bersisa? Apa tak bisa dilakukan sekali saja? Bukankah itu sangat menyakitkan terlebih untuk anak usia dua tahun?

Namun, harapan untuk kembali melihat seolah diperlambat waktu, esoknya pun belum ada tanda-tanda Bhumi membuka mata. Apa harus kembali ke dokter lagi? Sekar mulai ragu. Rasanya tak sanggup mengulang kejadian yang sama di ruang dokter kemarin. Bhumi dipegangi beberapa orang. Berontak dan menangis keras. Sekar merasa tak mampu melakukannya lagi.

Tapi, anak itu masih terlihat kesakitan saat berkedip dalam gelap. Sesekali dia menangis dan mengeluh sakit. Sekar mencoba menata hati. Ini bukan keputusan mudah, sebab menyangkut organ penting dalam tubuh bungsunya. Sore itu, dia memutuskan kembali. Dan benar saja, beberapa pasir belum juga meninggalkan mata bungsunya.

Lima hari bukan waktu sebentar melihat sepasang bola mata lebam dan bengkak selalu tertutup. Di mana pandangan penuh binar itu, Nak? Apa yang sedang kamu pikirkan? Kenapa tak juga membuka mata? Apakah masih ada pasir atau trauma berlebih dalam dirimu? Sekar terlalu banyak menangis, menahan gemuruh penuh kepedihan yang sulit sekali disingkirkan. Setiap kali melihat sepasang bola mata terkatup, dia pun menyusulnya dengan gerimis yang semakin deras. Sampai kapan dia menunggu? Setiap pagi, dia menaruh harapan setinggi langit, berharap sepasang bola mata itu kembali berpijar dengan indahnya. Tapi, hingga hari kelima, harapan itu semakin menguap. Tak terjawab.

Pagi itu, Bhumi tampak lebih pendiam. Hanya memeluk guling kecil sambil sesekali bernyanyi. Keriangan sedikit muncul. Tapi, sepasang bola mata itu tetap terkancing rapat. Sekar tanpa sabar sudah menelepon rumah sakit terdekat yang sudah dua kali dikunjunginya bersama Bhumi. Harapan bisa segera kembali pada dokter akhirnya pupus. Dokter praktik sore hari itu. Sekar menarik napas. Bagaimana dia bisa berdiam menunggu sore sambil melihat kegelisahan yang tak kunjung usai setiap kali melihat bungsunya?

Sebuah keinginan besar tentu akan berbuah manis. Letupan rasa bersalah dan keinginan segera mengobati Bhumi membuat wanita itu akhirnya mendapatkan kabar baik. Sebuah rumah sakit mata bertaraf internasional yang berada di kawasan Mentang dihubungi. Benar saja, dia sudah bisa datang hari itu meskipun dokter spesialis mata anak sedang kosong. Terlalu lama menunggu esok, pikirnya. Dia bergegas dengan sisa harapan yang mulai melambung. Dia yakin, anaknya akan baik-baik saja.

Hampir satu jam perjalanan, Sekar dan putra bungsunya disambut seorang satpam ramah. Dia bergegas masuk dan mengisi pendaftaran serta mengurus asuransi. Rasanya, tak sabar segera masuk ke ruang dokter. Hanya saja, sikap Bhumi yang tiba-tiba berubah membuat wanita itu lunglai seketika. Bhumi tak ingin menunggu, bahkan dengan mata tertutup dia menolak duduk. Memanggil ayah dan ayah. Menangis tiba-tiba. Dia trauma luar biasa dengan suasana rumah sakit yang bahkan sejak kemarin tak bisa dilihat namun sangat tajam diingat.

Nak, apa yang kamu rasakan? Sekar menunduk dan memerhatikan sepasang bola mata yang masih terkatup. Mata itu masih saja memilih bungkam. Tak ingin tersenyum sedikit pun. Meski dokter terakhir memastikan kedua matanya sudah bersih, namun goresan dan rasa sakit masih tersisa. Itu menjadi sebab kenapa putra bungsunya masih tergugu dalam gelap.

Bhumi tak banyak bergerak. Hanya tidur di kasur atau sekadar bernyanyi ria. Meskipun dalam pandangan terbatas, anak lelaki itu tetap sumringah, merasa matanya tak lagi sakit. Hanya saja, menunggu sembuh bagi Sekar terasa lebih lama ketimbang waktu dia hamil serta membesarkan putra bungsunya selama ini.

Menjadi seorang ibu tak bisa hanya memiliki naluri, harus bermental baja dan melambungkan harapan penuh kebaikan setinggi langit. Jika tak ingat dia seorang ibu, mungkin sejak lama Sekar menyerah.

Monday, June 5, 2017

Cincin Kawin

Cerpen Cincin kawin


Lelaki berkacatama itu tersenyum hambar. Melihat wajah istrinya yang sembab, lantas menarik kedua bahu mendekat. Cukup kesedihan pagi ini. Matahari pun terlihat enggan menampakkan diri sebab rumah mungil yang baru saja berbinar itu tiba-tiba menangis.


“Cincinku hilang, Mas.” Ucap seorang perempuan bertubuh mungil. Wajahnya dipenuhi hujan.


Lelaki yang tak lain adalah suaminya, mengangkat kedua alis. Mempertanyakan hal yang bisa ditebak bahkan oleh semua orang, “Kenapa bisa hilang? Kamu lupa menaruhnya?”

Wanita yang ditanya menggeleng cepat. Dia sudah bersusah payah mencari, mulai dari kamar mandi, di dapur dekat tempat mencuci piring, di kolong kasur hingga di bawah meja rias. Tak ada kemilau cincin emas yang tampak. Benda berharga itu seolah lenyap ditelan bumi.

“Aisha, bukankah sudah mas peringatkan, jaga baik-baik. Mas membelinya dengan susah payah untuk mahar pernikahan kita.”

“Maafin Aisha, Mas. Aisha nggak sengaja,” isaknya patah-patah. Dia berhambur memeluk Arif, suaminya.

Arif termangu. Lelaki itu kaget bukan main menerima pelukan istrinya. Belum lagi tangisnya yang keluar dengan napas tersengal. Dia menyesali perlakuannya barusan. Cincin itu memang berharga, dia membelinya dengan tabungan selama dua tahun. Pekerjaannya sebagai penjaga toko membuatnya sedikit lebih keras berusaha. Gajinya tak terlalu banyak, namun cukup untuk memberi nafkah ibu dan kedua adiknya yang masih sekolah. Sisanya, sedikit demi sedikit ditabung demi membayar mahar bagi calon istrinya.

Dan sekarang, wanita yang dulu begitu ia cintai, bahkan mengalahkan seribu bidadari harus menahan sakit karena dianggap tak lebih berharga dari sebuah cincin emas yang beratnya hanya beberapa gram saja?

Selain merasa telah mengecewakan suami, Aisha juga sangat kehilangan. Dia menjaganya sepenuh hati. Mendengar cerita panjang demi memperolehnya membuat Aisha lebih berhati-hati. Namun malang tak bisa ditolak. Cincin itu hilang, dia baru sadar saat memasak nasi goreng untuk sarapan Arif di dapur.

Biasanya, Aisha melepasnya ketika hendak mandi, menaruhnya di dekat tempat sabun, namun, hingga berkali-kali ia datangi, tempat itu masih tetap kosong. Tak ada cincin di sana.

Arif pun pada akhirnya merasa iba. Melingkarkan lengannya demi merengkuh Aisha, “Sudahlah, cincin itu tak lebih berharga dari kamu. Nggak usah ditangisi. Kalau memang rezeki, insya Allah akan ketemu.”

“Tapi Mas sudah membelinya dengan susah payah.”

Arif menggeleng, “Biarlah, nanti kalau ada rezeki, kita bisa membeli yang baru.”

Arif menemukan binar di mata Aisha. Lelaki dua puluh lima tahun itu meninggalkan kecupan kecil di kening istrinya. Apa yang lebih berharga dari seorang istri shalihah? Cincin bisa dibeli dan dicari lagi, sedangkan rona bahagia di dalam rumah tangganya tak mudah ditemukan.

Diam-diam Arif memuji istrinya berkali-kali. Wanita itu, meski terlahir dari keluarga kaya dan selalu dimanja, namun seketika berubah mandiri ketika tinggal bersama Arif. Rumah sederhana, tak banyak perabot di dalamnya. Hanya sebuah kamar, dapur kecil yang terletak di samping kamar mandi, ruang tamu yang tak seberapa dengan karpet merah marun yang tergelar rapi di sana. Bagi Aisha, semua itu sudah lebih dari cukup.

Mimpinya menjadi istri tak semegah bayangan wanita lain di luar sana. Meskipun kehidupannya dulu terlampau mewah, namun bahagia yang diterima saat ini jauh lebih istimewa ketimbang semua barang dan perabot mahal di rumah orangtua. Aisha bersyukur dan tak banyak mengeluh.

Dia juga tak pernah menyentuh dapur sebelumnya, kecuali hanya membereskan piring sisa makan malam bersama orangtua. Saat menikah dengan Arif, dia terbata menyiapkan sarapan, mencuci piring hingga tersentak saat menggoreng telur ceplok.

Arif kira wanita itu akan menyerah, namun tak sekalipun keluh keluar dari bibir merahnya. Dia bahkan selalu terlihat antusias membaca resep di smartphone. Mencoba mengeja masakan baru yang mungkin bisa dihidangkan esoknya untuk Arif.

Lalu, kejadian pagi ini membuat semua kebahagiaan yang berjalan beberapa bulan itu seolah luruh. Menduga Aisha yang lalai dan tak peduli, rupanya membekas sebuah penyesalan dalam benak lelaki itu. Harusnya sejak awal dia memaafkan, tak perlu bertanya macam-macam, toh Aisha tampak jauh lebih bersedih ketimbang dirinya. Semestinya dia tahu sejak awal jika perempuan pilihannya itu selalu tulus, tidak mengada-ada.

Dan pagi itu, rumah mungil beraroma jambu, berpijar dengan hangatnya. Bukan karena sebuah cincin kawin, namun karena sang pemilik istana sudah menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya.

 

Thursday, June 1, 2017

Mimpi

Cerpen mimpi


(Ketika aku mulai memintal mimpi, kamu gagak yang meremukkannya lekas.)

“Aku minta maaf,” sambil menahan sesak, sepotong kalimat tanpa hati kulontarkan pelan. Sayup-sayup namun mampu membuatnya beralih menatap wajah sembabku.

“Aku hampir saja berpikir akan menceraikanmu,” katanya dengan tatapan tajam menghunjam. Akhirnya dia ucapkan kalimat itu.

Tanganku merengkuh perut yang mulai membesar. Tangis semakin menjadi. Menahan hanya membuat letupan isak yang melompat-lompat tanpa aturan. Aku hampir kehilangan napas. Berusaha menenangkan diri dan tak terpancing dengan keributan kecil barusan.

Dia, lelaki yang menikahiku atas nama cinta, kini sedang berdiri dan mencengkeram pergelangan tangan kananku. Sekuat tenaga ingin kuhempas, namun sekuat itu pula dia menarik dan meremat penuh kebencian. Aku hampir tak percaya jika dia adalah orang yang sama dengan lelaki yang berlutut di hadapanku, membawa setangkai mawar merah dengan sebuah cincin tergantung manis di tangkainya.

Mas Rio, dia memintaku menjadi pendamping hidupnya, menghabiskan masa senja dengan penuh kehangatan dan cinta. Janji-janji manis itu pada akhirnya meluluhkan hati seorang perempuan sepertiku. Mengangguk dan mengiyakan. Tanpa tahu, ternyata ada seorang perempuan yang selalu resah menunggunya pulang.

Pernikahan tanpa pesta, hanya undangan beberapa, dan sejak saat itu aku resmi masuk dalam kubangan penuh kepedihan.

Lelaki selalu bermulut manis, pembuktian tak jarang berakhir pahit. Jika saja sejak awal aku menunda, mungkin tak sepilu ini kejadiannya. Sebulan paska pernikahan, aku bahagia penuh haru, menggamit lengan mas Rio dan dengan tatapan berbinar, kusampaikan kabar bahagia itu.

“Aku hamil, Mas!” Sahutku sambil menunjukkan testpack dengan dua garis merah.

Mas Rio tersenyum sinis, lantas buru-buru melepaskan tanganku.

“Harusnya kamu tunda dulu kehamilanmu! Bukankah dari awal aku menyuruhmu minum pil. Mas belum siap punya anak.”

Aku salah. Dia tak berbahagia atas janin yang sedang meringkuk di dalam rahimku. Pernikahan tanpa seorang anak bukankah terlalu hambar? Setiap pasangan akan merasa kesepian ketika di rumah tak tedengar lengkingan tangis bayi. Rumah seolah gersang tanpa rinai tawa anak-anak yang berlarian. Apa sebenarnya yang sedang kamu pikirkan, Mas? Bukankah pernikahan kita diawali sebuah harap dan janji kebahagiaan? Lantas apa yang sekarang aku dapat?

“Gugurkan saja!”

“Apa?” Tanyaku tak percaya, “aku tak mau!” Balasku cepat.

“Kenapa tidak? Usianya baru beberapa minggu. Apa susahnya?”

Aku beralih menatapnya, “Aku ibunya, tentu aku berhak atas janin dalam rahimku!”

“Ah, kamu hanya merepotkan saja!” Pekiknya sambil berlalu dan meninggalkan ngilu.

Setelahnya, hanya keributan dan tangis yang memenuhi rumah kecil kami. Mas Rio yang sejak awal selalu uring-uringan, kini semakin buruk saat aku mulai mengandung. Aku tak memahami, kenapa mas Rio selalu menertawakan mimpi yang susah payah aku sulam.


Menjadi seorang ibu adalah hal sempurna yang dirasakan seorang perempuan sepertiku. Lantas laki-laki dengan wajah sinis itu mematahkannya begitu cepat. Ah, menyesal memang selalu di akhir. Dulu, ibulah yang paling keukeuh menolak pernikahan kami. Katanya mas Rio terlalu terburu-buru, pembuktian dan jati dirinya belum jelas dan sulit sekali ditebak. Sedangkan pernikahan butuh seorang lelaki yang bertanggung jawab, bukan hanya mengobral janji dan rayu.


Namun, keinginanku jauh lebih kuat, hingga akhirnya ibu pun luluh. Mas rio resmi mempersuntingku. Lelaki yang muncul sebagai rekan kerja di perusahaan tempatku bekerja akhirnya menjadi partner dalam kehidupanku. Tapi, secuil mimpi dan harap itu pun berkeping. Hancur dan menyisakan sesak setiap malam.
 

Sejak hamil, aku memutuskan untuk resign dari kantor. Dan saat itu pula, mas Rio seolah menghilang dari pandangan. Hampir bisa dihitung berapa malam dia menginap di rumah. Selebihnya memilih lembur di kantor. Aku hampir tak percaya sebab sebelumnya, lelaki itu selalu pulang tepat waktu. Pekerjaan yang dia sebut sebagai alasan bagiku tak masuk akal. Namun, mengeluh hanya membuatnya semakin geram dan naik pitam. Aku menyerah. Lebih banyak diam dan mengajak janinku bicara.

 

*****


Keributan kecil hari ini terjadi tanpa disengaja. Mas Rio yang jarang pulang, tiba-tiba menggedor pintu pagi-pagi sekali. Aku terhenyak dan segera menatap lunglai wajahnya. Dia memaki, menghentak ketenangan. Seharusnya aku yang marah, kenapa dia tak lagi memedulikan keadaanku. Kondisi kehamilan yang semakin besar, butuh perhatian dan kasih, dia abaikan begitu saja. Aku menahan emosi, sekuat tenaga menarik kemarahan yang sebenarnya sudah di ubun-ubun.


“Kenapa kamu nggak bilang kalau Arka datang ke sini?!” Pertanyaan bernada ancaman.


“Aku pikir kamu sudah tahu, Mas.”


Dan setelahnya, tak terelakkan perlakuan kasar serta makian dia tujukan padaku. Siapalah aku, Mas. Hanya bisa diam sambil memegangi perut. Khawatir bayi kita menangis dan ikut merasa pedih di dalam sana. Bagaimana aku bisa bicara sedangkan hati tak lagi utuh?

 
Sore itu, seorang remaja tujuh belas tahun muncul di depan pagar rumah. Wajahnya pasi ketika meminta izin masuk dan ingin membicarakan sesuatu. Aku tak bisa menebak siapa dan dengan maksud apa dia bertandang. Hanya saja, naluriku mengatakan harus menerima kedatangannya. Memberi kesempatan remaja bertubuh tinggi itu bicara.


Dengan hati-hati dia bertanya tentang mas Rio. Aku  menjawab datar, mengiyakan jika aku adalah istri resmi mas Rio meski hanya disahkan agama. Lalu mengalirlah cerita memilukan. Tanpa sengaja aku melukai perempuan lain di sana. Perempuan yang meringkuk dan merindukan lelakinya pulang. Aku tak menyangka, hampir saja hilang kesadaran saat mendengar kalimat itu, “Aku istri kedua?”


Arka, remaja yang sedang duduk gugup di hadapanku menggangguk pelan.


Mimpi-mimpi yang sengaja aku rangkai hati-hati sejak kehadiran cabang bayi, kini sempurna berserak. Salah apa aku hingga mas Rio tega membohongi?


Arka meminta kami berpisah. Aku sedang hamil, mendengar kalimat itu seolah terjerembab ke dalam jurang dalam. Menyakitkan dan sangat menyayat.


“Aku akan memikirkannya.” Ucapku cepat sambi mempersilakannya pulang.
 

Dan hari ini, mas Rio datang memaki. Bukankah harusnya aku yang marah? Sebagai seorang perempuan, aku sudah terlalu lama menahan sakit. Lantas mengetahui mas Rio sebenarnya sudah menikah, membuatku kehilangan sebagian nyawa. Aku duduk dan menahan ngilu. Perutku tiba-tiba saja kontraksi.


“Aku minta maaf,” ucapku pelan. Berusaha meredam amarahnya yang meletup-letup.


Dia melengos. Tak memedulikan keadaanku yang sedang limbung karena bentakan kerasnya. “Aku bahkan berpikir akan menceraikanmu.”

 
DEG!


Lelaki itu sempurna membuat gemuruh hujan berjatuhan. Aku menahan sesak. Kenapa dia tak peduli dengan perasaanku? Sudah sakit karena perlakuan kasarnya, kini harus menanggung beban sebagai istri kedua. Jika bukan karena janin dalam rahim, sudah kuputuskan bercerai darinya.


Lengkingan bantingan daun pintu menyentak. Mas Rio pergi dengan kemarahan masih tersisa. Lelaki itu, bukankah dia yang dulu menawarkan mimpi indah? Lantas, kenapa dia pula yang mematahkannya?

 
Aku mulai merindu. Sejak menikah, belum pernah pulang dan menemui orangtua. Mas Rio selalu melarang dengan banyak alasan. Aku menurut.

 
Bagaimana keadaan ibu? Kemarin baru saja kudengar jika kabarnya baik, apakah hari ini juga? Bagaimana jika ibu tahu putri semata wayangnya sedang menangis sendirian di sini? Ah, aku rindu dan ingin memeluknya. Bulir bening sempurna jatuh di pipi. Aku menyekanya pelan. Tak boleh jadi perempuan cengeng. Enam bulan menempa. Harus bertahan dalam pernikahan yang jauh dari bahagia. Demi seorang bayi perempuan yang sedang terlelap di dalam rahim. Ingin rasanya melahirkan ditemani suami, lantas dialah yang menggetarkan langit dengan suara adzan. Apakah mimpi ini terlalu tinggi?
 

Aku membereskan sisa gelas yang berserak di lantai. Mas Rio membantingnya sebelum akhirnya mendengarkan permintaan maaf dariku.


“Auw!”


Aku meringis menahan jemari yang tergores. Pecahan beling itu menyayat jari telunjuk. Tidakkah cukup luka yang selama ini aku terima?


Bayangan perempuan lain menari-nari di kepala. Mungkin, aku sudah berdosa telah menerima pinangan suami orang. Tiba-tiba perasaan iba muncul begitu saja. Bagaimana jika perempuan itu aku?


Tanpa peduli luka berdarah, aku bergegas meninggalkan rumah. Perempuan itu harus tahu kalau aku tak pernah berniat melukai siapa pun. Dengan langkah limbung, aku berlari kecil sambil meraba jalan yang masih petang. Secarik kertas berisikan alamat rumah Arka berada di tangan. Aku berjanji akan meminta cerai setelah melahirkan, sungguh. Hanya saja, keinginan itu urung saat tidak sengaja kakiku terpeleset di pinggir jalan, tanpa kesiapan aku jatuh terpental dengan perut membentur aspal. Kepala terasa berkunang-kunang. Aku merasakan sesuatu mengalir sebelum tiba-tiba mataku sempurna terpejam.