Thursday, April 27, 2017
Aisha
![]() |
Aisha melangkahkan kaki ringan. Sesekali angin meniup lembut ujung jilbabnya. Gaun putih yang ia kenakan melambai seolah sedang menari di antara musim bunga. Ada senyum menyembul dari kedua ujung bibirnya yang merah. Langit biru dihiasi gumpalan kapas putih yang menawan. Sesekali mereka terlihat berkejaran. Musim semi tiba. Bunga-bunga tersulur di antara dinding-dinding rumah. Lihat saja, rumah-rumah bertingkat dengan warna catnya yang cerah tampak dipenuhi pelangi. Bunga-bunga berdesakan di antara jeruji pagar loteng. Beberapa di antaranya tergolek cantik di dalam pot berwarna biru. Bunga-bunganya menyembul ramai. Kota dipenuhi kelopak bunga berwarna indah.
Musim semi datang lebih cepat di belahan bumi bagian utara. Ketika itulah Aisha bisa menikmati kebun bunga bermekaran di mana-mana. Di salah satu dinding rumahnya, tepat di bawah terpaan hangat matahari, bunga-bunga berwarna merah merambat hingga ke jendela kamarnya. Pot-pot bunga berwarna ungu serasi dengan kelopak bunga merah muda. Siapa pun tak bisa menahan pesona musim semi.
Ini hari ketiga di mana ribuan kelopak bunga merekah sempurna. Kemarin dia tak tahan ingin menyusuri kota. Sendiri. Lantas, hari ini ketika matahari mulai berpendar indah, dia pun kembali membayangkan hal serupa. Pergi menyusuri kota untuk kesekian kali hanya demi menatap ribuan bunga yang sedang tersenyum beramai-ramai ke arahnya.
Aisha juga senang berlama-lama di depan jendela kamarnya. Aroma musim semi. Teduhnya matahari dan sapaan mesra dari setiap orang yang lewat dan mengenalnya sungguh jadi hal paling membahagiakan.
“Turunlah, Aisha! Jangan hanya membuang waktu di kamar.” Teriak salah seorang tetangga yang biasa dia sebut paman.
Aisha tersenyum dan melambaikan tangan. Tentu saja dia akan segera turun dan menyusuri kota yang kini sudah berubah menjadi hutan bunga.
Gadis berwajah ayu itu segera menuruni anak tangga, setengah tergesa lantas duduk di bangku depan rumah. Siang itu, awan-awan serupa kapas mulai berserak. Langit membiru. Kota yang kini dipenuhi bunga mulai menghangat. Wajah Aisha mulai memerah karena kepanasan. Ia melirik jam tangan abu-abu di tangannya. Lima menit sudah waktu dilewatkan begitu saja oleh orang yang saat ini sedang ia tunggu. Jika satu menit lagi dia tak menampakkan batang hidungnya, maka Aisha berjanji akan membatalkan janji hari itu.
Sayanganya lamunan itu pun buyar ketika dari kejauhan nampak seorang anak lelaki mengayuh sepeda sambil melambaikan tangan.
“Uta! Sungguh kamu menyebalkan!”
Uta yang baru saja turun dari sepeda menahan omelan Aisha sambil mengacungkan telapak tangannya. Napasnya masih tersengal. Dia ingin bicara namun Aisha justru mendahuluinya.
“Sudah lima menit aku menunggu. Lima menit adalah waktu yang berharga. Jika aku tahu kamu datang terlambat, lebih baik aku menunggu di kamar saja dan menghabiskan sisa buku yang belum kubaca semalam,” Aisha bicara panjang lebar dengan mata mendelik. Membuat Uta mendorong tubuhnya sendiri ke belakang. Seram sekali Aisha ketika sedang marah, pikirnya.
“Apa kamu sudah selesai bicara?” tanya Uta lalu menarik kedua ujung bibirnya melengkung ke atas.
Dengan ketus Aisha menjawab, “Aku akan melanjutkan setelah mendengar alasanmu.”
Uta tertawa dan memandang gadis manis di depannya. Sungguh Aisha tak pernah berubah. Dari kecil hingga kini ketika mereka beranjak remaja, gadis itu tetap lebih banyak bicara daripada melakukan hal lain ketika bersamanya. Uta bahkan terheran-heran. Sebab di sekolah, Aisha tak seceriwis itu. Hanya ketika sedang bersama Uta, isi hatinya buncah tak terbendung. Semua yang melintas di kepala ia sebutkan meskipun tak ada gunanya.
Coba pikir, apa gunanya berdebat tentang jatuhnya daun kering dari ranting pohon? Atau mempermasalahkan kupu-kupu yang memilih hinggap di bunga ketimbang di jemarinya? Ah, Aisha selalu meributkan hal-hal kecil. Termasuk ketika dia menuntut lima menitnya yang terlewat sia-sia karena Uta.
“Aku harus mengantarkan ibu ke dokter. Apa kamu masih marah padaku?”
Sejurus kemudian, wajah Aisha berubah sendu, “Ibu kamu sakit apa?”
Uta sudah memaafkan kecerobohan Aisha yang sudah memarahinya. Ketika nada bicara Aisha melemah, itulah isyarat sebuah permintaan maaf. Maaf karena sudah menuduh dan memarahinya.
Uta sekali lagi tersenyum, “Ibu hanya meriang.”
“Lalu kamu meninggalkannya sendirian sekarang?” Tanya Aisha khawatir.
“Aku lebih memilih dimarahi ibu ketimbang dimarahi naga dengan pipi semerah tomat,” jawabnya konyol.
Bibir merah Aisha seketika manyun, “Jadi kamu merasa aku lebih cerewet daripada ibumu?”
Uta menggeleng, “Aku tak membicarakanmu. Aku sedang bicara tentang seekor naga,” jawabnya singkat sambil menirukan suara naga yang mengerang geram.
Aisha memukul lengan sahabatnya itu keras, “Aku menyesal karena sudah menunggumu!” Sahut Aisha geram.
“Memangnya ada orang lain lagi selain aku yang bisa kamu tunggu?” timpal Uta sambil tertawa.
***
[Uta]
Hari ini aku mengunjungi Aisha untuk terakhir kalinya. Aku rela berlama-lama dengannya sebab sore nanti ketika senja menghilang, aku dan ibu akan segera pindah meninggalkan kota ini.
Aisha tentu tak akan menerima jika mendengar berita ini keluar dari mulutku. Sengaja aku pun merahasiakan semuanya. Termasuk alasan kenapa kami harus pindah.
Aku yakin Aisha akan mengerti. Keadaanku jauh berbeda dengannya. Serba berkecukupan. Sedangkan aku? Ibu harus banting tulang seorang diri. Membiayai sekolahku yang sebenarnya sudah kupaksa berhenti. Namun, ibu selalu menolaknya dengan bermacam-macam alasan.
Di kota seindah ini, aku merasa tak lagi berarti. Aku memang masih bocah ingusan, lima belas tahun belum bisa membantu ibu rupanya jadi tamparan menyakitkan. Ibu masih menganggapku anak kecil. Sedangkan aku merasa sudah lebih dari sekadar siap untuk jadi tulang punggung. Pekerjaan di kota ini memang tak selalu mudah. Namun bukannya tak mungkin aku bisa mengerjakan beberapa pekerjaan sederhana yang bisa diselesaikan oleh anak kecil sepertiku.
Siang itu ibu memutuskan satu hal penting. Sambil menahan gigil tubuhnya, ibu menarikku mendekat, “Kita harus pindah,” ibu tak melanjutkan. Matanya berkabut. Sedetik kemudia butiran bening bergulir melewati pipinya yang berkerut.
“Besok kita harus pergi. Ibu akan menumpang sementara di rumah pamanmu. Di sana ibu bisa merasa lebih ringan sebab tak perlu repot memikirkan uang sewa rumah.”
Hatiku mencelos. Selama ini ibu menyimpan semua lukanya sendiri. Ibu tak membiarkan aku tahu kenapa ayah tiba-tiba menghilang saat usiaku masih belum genap dua tahun. Sejak saat itulah ibu berjanji akan memenuhi semua kebutuhanku sendiri. Usiaku yang masih terlalu kecil membuatku sulit mengerti tentang keadaan yang sedang menimpa kami.
Ketika ibu memutuskan pindah, tentu aku tak bisa lagi menahannya. Aku tak punya kekuatan untuk melawan sebab kenyataannya, aku tak pernah meringankan secuil pun beban ibu.
Ada di sini ataupun di kota lain sama saja bagiku. Hidup terasa semakin sesak menghimpit. Ketika banyak orang tertawa, aku justru sedang melawan tangis. Ketika semua orang berfoya, aku justru sedang menahan lapar. Menyiksa sekali namun kekuatan ibu menolak kelemahanku.
Dan hari ini aku harus mengucapkan kalimat perpisahan kepada seorang gadis yang sudah sejak kecil menganggapku sahabat. Aisha. Pagi ini aku sudah berjanji akan menemuinya. Untuk terakhir kalinya, aku ingin mengajak dia menyusuri kota yang saat ini sedang dipenuhi kelopak bunga berwarna warni.
Esoknya aku sudah tak bisa lagi ia temui. Menghilang. Meninggalkan kesedihan. Terbayang sudah wajah Aisha yang cerewet berubah sendu setelah kepergianku. Ah, aku mungkin terlalu percaya diri. Aisha pasti tak akan sesedih itu. Dia punya lebih banyak teman ketimbang aku yang memang selalu sendiri.
“Aisha, suatu saat aku akan kembali dan menemuimu untuk meminta maaf..."
[Aisha]
Aneh sekali. Uta datang dan menemuiku lebih lama. Aku mencium ada gelagat yang tak baik. Jangan-jangan dia sedang merencakan sesuatu.
Sebenarnya aku masih kesal. Dia sudah membuang lima menitku yang amat berharga. Kalian bisa bayangkan, berapa banyak hal yang bisa kuselesaikan dengan hanya lima menit? Aku bisa membaca sepuluh halaman buku yang baru kubeli kemarin. Aku pun bisa mengetik tugas yang harus dikumpulkan esok. Lima menit bagiku terlalu berharga bila dilewati hanya dengan duduk di depan rumah. Tapi, aku sungguh tak tega ketika melihat Uta sesak sambil mandi keringat. Lantas aku pun tak mampu berlama-lama memarahinya. Sebab alasannya jauh lebih masuk akal ketimbang omelanku.
Pagi menuju siang yang terik, akhirnya aku pun menghabiskan waktu dengan menyusuri kota. Tiang-tiang lampu berdiri tegak di sepanjang jalan. Di kanan dan kirinya, bunga-bunga indah berwarna ungu menyembul. Kelopaknya merekah sempurna.
Jujur saja ada yang hilang hari ini, ketika Uta berubah jadi lebih pendiam. Ketika aku bicara panjang lebar, dia hanya mengangguk dan tak banyak protes. Aku menangkap kebohongan yang berusaha dia simpan mati-matian.
Uta, kita ini berteman sejak kecil. Ayah dan ibuku mengenalmu sejak lama. Bahkan mereka sudah menganggapmu sebagai anak kandung sendiri. Ibuku juga tak segan datang ke rumahmu ketika beberapa hari ibumu tak muncul di rumah. Ibu tak pernah mempermasalahkan soal cucian yang tak bisa diselesaikan oleh ibumu. Ibuku lebih mengkhawatirkan kesehatan ibumu yang belakangan semakin memburuk.
Aku pun merasa iba, namun sedikit pun kamu tak pernah menampakkannya di hadapanku.
“Bacalah surat ini setelah kamu sampai di rumah.” Katamu sambil menyerahkan sebuah amplop berwarna ungu. Aku terbelalak dan hampir saja menertawaimu andai saja tak kutangkap ekspresi sendu yang tiba-tiba muncul di wajahmu. Maaf. Aku terbiasa banyak bicara serta tertawa ketika bersamamu, Uta. Aku tak bermaksud mengejekmu.
"Uta? Apa kamu baik-baik saja? Kamu tak sedang mengisyaratkan selamat tinggalkan?” tanyaku penasaran.
Uta tersenyum hambar. Dan detik itu juga segera mengajakku pulang. Belum habis rasa penasaranku, kamu sudah menambahnya dengan ucapan penuh tanda tanya.
“Aisha, aku harus pergi untuk waktu yang lama.”
Aku terbelalak dan mencari kesungguhan lewat tatapanmu yang tenang serupa telaga.
“Kamu akan pergi kemana?” tanyaku dengan kekhawatiran memenuhi kepala.
“Aku masih di tempat di mana kamu berpijak.”
Ah, apa yang sedang kamu bicarakan? Akhirnya kamu memutuskan pamit tanpa mau menjelaskan apa pun.
Perasaanku tiba-tiba saja sendu. Menatapmu menghilang di ujung jalan membuat sesak memenuhi rongga dada. Apa kamu memang benar-benar akan pergi. Kemana?
Di sudut kamar, aku meringkuk sendiri. Setelah sampai di rumah dan berpisah denganmu, aku segera berlari ke kamar. Menutup jendela dan mengunci pintu. Entahlah, aku merasa harus melakukannya setelah melihat punggungmu semakin menjauh dan menjauh. Hingga tak lagi nampak. Sepertinya aku pun merasa kamu tak akan kembali lagi menemuiku.
Sebuah amplop yang tadi kamu serahkan, kubuka perlahan. Bukan Uta yang biasa. Selama lebih sepuluh tahun, baru kali ini kamu memberiku sebuah surat.
Tulisan tanganmu memenuhi satu sisi dari kertas berwarna senada dengan amplop yang sudah kurobek ujungnya.
Aku berusaha mencerna setiap kalimat yang kamu tuliskan. Beberapa kali aku membacanya mundur. Tak percaya dengan yang sedang kubaca. Apa? Kamu menyebutkan perpisahan? Kita? Apa kamu sedang bercanda?
Entah kenapa dadaku tiba-tiba dipenuhi gemuruh. Mata berkabut. Ada rinai hujan di kedua pipiku. Turun sendu dan semakin lama semakin deras.
Bersambung…
Salam hangat,
Tuesday, April 25, 2017
Luka di Hati Ibu
“Mba, aku serius,” tatapanku berubah tajam.
Sepertinya mba Indri memang tak main-main dengan ucapannya. Aku bahkan bisa menangkap ketakutan dari wajah ayunya itu.
“Maafin mba Indri, Son,” mba Indri mendekat. Menarik lengan kemejaku cepat. Seperti gerakan bayi merengek meminta sesuatu. Matanya berkabut.
Aku hampir tak percaya dengan ucapannya barusan. “Ibu cuma punya mba Indri. Lalu kenapa mba tega melakukan semua itu?!” ucapku setengah berteriak. Melempar tatapan murka ke arah kakak kandungku sendiri. Mba Indri hanya bergeming.
Aku beranjak. Menghempas tubuh mungil mba Indri yang sejak tadi mengapit lenganku erat. Aku tak habis pikir, kemana akal sehatnya?
“Sony,” panggil mba Indri memelas. Dia memaksa menyeret tubuhnya di lantai. Meminta maaf tanpa henti. Tangisnya pun pecah seketika. Jika saja kutahu sejak awal, mungkin tak akan sesakit ini.
Aku meraih ransel hitam yang tegeletak di sofa. Mengacuhkan mba Indri yang terus menghujaniku dengan kata maaf. Terpaksa kulumat semua rasa kasihan. Kerinduan berubah ngilu. Satu tahun tak bertemu Ibu, kepulangan pertamaku dari Jakarta justru menusuk dan menghujam.
Sejak sebulan terakhir aku tak bisa lagi mendengar suara ibu. Setiap kali kutelepon, mba Indri mengalihkan. Katanya Ibu istirahat atau bahkan baru tertidur. Aku pun tak memaksanya. Mungkin saja ibu terlalu lelah.
Sungguh, aku tak pernah menaruh curiga. Rasa percayaku pada mba Indri melebihi janji matahari pada bumi. Selalu datang dan menghangatkan. Bagaimana bisa aku menuduh saudaraku melakukan hal yang diluar batas akal sehat? Kami pun\ sama-sama mengerti bagaimana caranya berbakti. Ah, ibu. Bagaimana keadaanmu sekarang?
Tiba-tiba mataku basah. Aku tak bisa membayangkan bagaimana ibu melewati hari-harinya. Menahan sakit akibat dicampakkan. Kesepian adalah hal paling menakutkan yang menimpa setiap orang dimasa tuanya. Lalu bagaimana ibu bisa melewatinya sendirian?
Harusnya aku berada di dekatnya. Menghangatkan setiap paginya. Melindungi dia dari rasa takut yang selalu muncul setiap mengingat kematian. Sungguh bodohnya aku, Bu. Tak sempat meluangkan waktu sedikit saja untukmu. Pekerjaanku memang menumpuk. Tapi itu bukan alasan bagiku untuk melupakanmu. Aku kecewa, bukan hanya karena mba Indri telah menyakitimu. Namun juga karena diriku yang terlalu mudah melupakanmu.
Aku merasa semua baik-baik saja. Mba Indri bukan orang asing dalam keluarga kita. Dia juga tumbuh dan lahir dari rahimmu. Jadi mustahil aku berpikir buruk tentangnya. Kupercayakan seluruhnya kepada mba Indri sejak kepergianku. Bukan hanya karena bapak yang telah lama meninggal, namun juga karena rasa beratku meninggalkan ibu sendirian.
“Sony, mba minta maaf…” suara itu terus terdengar meski telah kupalingkan. Kepalaku berat. Himpitan rasa bersalah dan perasaan sakit menoreh hatiku dalam. Aku bahkan tak malu lagi menangisinya.
Kuhentikan sebuah taksi. Dengan gontai kutinggalkan mba Indri. Mobil berwarna biru itu melesat cepat. Aku ingin segera sampai. Aku tak mau berlama-lama menahan kekhawatiran yang berubah menyesakkan sejak pertemuanku dengan mba Indri barusan.
Taksi berhenti di depan sebuah rumah sederhana berpagar besi. Rumah model lama dengan warna putih kusamnya. Aku membayar taksi itu dan meninggalkan kembaliannya. Tiba-tiba saja gemuruh meraung di dada ketika kuinjakkan kaki di tanah dengan rumput dan dedaunan kering yang berserak. Di tempat inikah ibu tinggal?
Langkahku pelan. Tatapku menyapu pemandangan yang sungguh menyesakkan. Tiba-tiba wajah Ibu berubah potongan slide yang memenuhi penglihatanku. Wajah itu, mungkin sedang terisak sekarang. Tangan itu, mungkin sedang memangku doa untukku. Hati itu, mungkin sedang terluka dan sulit disembuhkan.
Mataku berubah panas. Sungguh tak kutahan tangis meski aku seorang lelaki. Aku bersegera mendekati rumah itu. Pintu berderit saat kubuka. Aroma kesepian terasa menyengat. Rumah itu serupa kelam. Tak ada cahaya di sana. Sepi dan hanya sepi!
Seseorang yang entah siapa akhirnya mengantarkanku. Beberapa renta tampak menatap langit dengan pandangan kosong. Betapa sulitnya meminang nasib baik. Di mana anak-anak mereka? Pertanyaan yang berubah menyerangku. Di mana aku saat ibu mendekap sepi di sini?
Langkahku terhenti. Menatap pasi seorang perempuan berusia delapan puluh tahun yang sedang duduk di tepi ranjang sebuah kamar. Rambutnya tergelung rapi. Tangannya memegang butiran tasbih yang terjuntai menyentuh lutut. Bibirnya bergerak tak henti. Dadaku kembali sesak. Dentuman kesedihan itu tak bisa lagi kutahan.
“Ibu...”
Wajah Ibu masih mengeja kedatanganku. Tertegun lantas tersedu. Aku tersungkur memeluk kaki Ibu. Detik itu juga kami tak lagi menahan tangis. Entah rindu atau sendu.
“Bagaimana kabarmu, Nak?”
Aku tak bisa berkata. Tenggorokanku tercekik. Isak-isak berjejalan keluar. Serupa anak kecil yang kehilangan mainan. Aku merasakan tangan Ibu menghangat di pipi. Telapak tangan penuh guratan. Raut teduh dan senyuman serupa setahun silam. Semua masih sama kecuali hatinya, aku tak tahu.
“Pulanglah, Bu.”
Aku menunggu dengan hati tegang. Wajah ibu berubah sendu. Mengalihkan pandangan dariku. Tatapan kosong. Rasa kesepian dan sakit menggurat jelas di wajahnya. Tak ada yang benar-benar sembuh meski ibu berusaha tersenyum saat melihatku.
“Bu,” aku meraih tangannya yang kering. Tergolek lunglai menyisakan kulit dan tulang. Ibu menatapku. Mengusap bahuku dan kembali tersenyum. Aku menarik napas. Tak ingin mendengar Ibu menolak. Namun, pelan-pelan ibu mengangguk. Menyembulkan kelegaan dalam hati. Aku merangkulnya. Memeluk Ibu lama sekali.
“Jangan menangis, Nak.”
Aku menggeleng. Sungguh rindu aku melihatmu, Bu. Sayang sekali kita harus bertemu dalam perasaan yang terluka.
Aku pun segera mengemas pakaian ibu. Ibu harus segera kembali mencecap kebahagiaan bersamaku. Aku masih sanggup mengurusnya. Ibu adalah tanggung jawabku.
“Mari, Bu.”
Aku memapah Ibu segera setelah mengurus semuanya. Langkah kami melemah. Pelan- pelan Ibu menoleh ke belakang. Melihat papan bertuliskan “Panti Jompo Nirmala”. Rumah itu selamanya akan jadi kenangan pahit untuk Ibu. Meski tak mengeluh, aku tahu hatinya terluka parah.
Ibu mencengkeram lemah lenganku, lantas tersenyum, “Terima kasih, Son.”
***
Awalnya ini ada cerita mini yang pernah saya kirimkan ke web pesantren penulis pada 2014 silam. Entah mengapa saya tak menemukan webnya sekarang. Saya merevisi hampir separuhnya dan kembali menampilkan cerita sendu ini di blog saya. Semoga tak ada lagi ibu yang menangis....
Salam hangat,
Aku beranjak. Menghempas tubuh mungil mba Indri yang sejak tadi mengapit lenganku erat. Aku tak habis pikir, kemana akal sehatnya?
“Sony,” panggil mba Indri memelas. Dia memaksa menyeret tubuhnya di lantai. Meminta maaf tanpa henti. Tangisnya pun pecah seketika. Jika saja kutahu sejak awal, mungkin tak akan sesakit ini.
Aku meraih ransel hitam yang tegeletak di sofa. Mengacuhkan mba Indri yang terus menghujaniku dengan kata maaf. Terpaksa kulumat semua rasa kasihan. Kerinduan berubah ngilu. Satu tahun tak bertemu Ibu, kepulangan pertamaku dari Jakarta justru menusuk dan menghujam.
Sejak sebulan terakhir aku tak bisa lagi mendengar suara ibu. Setiap kali kutelepon, mba Indri mengalihkan. Katanya Ibu istirahat atau bahkan baru tertidur. Aku pun tak memaksanya. Mungkin saja ibu terlalu lelah.
Sungguh, aku tak pernah menaruh curiga. Rasa percayaku pada mba Indri melebihi janji matahari pada bumi. Selalu datang dan menghangatkan. Bagaimana bisa aku menuduh saudaraku melakukan hal yang diluar batas akal sehat? Kami pun\ sama-sama mengerti bagaimana caranya berbakti. Ah, ibu. Bagaimana keadaanmu sekarang?
Tiba-tiba mataku basah. Aku tak bisa membayangkan bagaimana ibu melewati hari-harinya. Menahan sakit akibat dicampakkan. Kesepian adalah hal paling menakutkan yang menimpa setiap orang dimasa tuanya. Lalu bagaimana ibu bisa melewatinya sendirian?
Harusnya aku berada di dekatnya. Menghangatkan setiap paginya. Melindungi dia dari rasa takut yang selalu muncul setiap mengingat kematian. Sungguh bodohnya aku, Bu. Tak sempat meluangkan waktu sedikit saja untukmu. Pekerjaanku memang menumpuk. Tapi itu bukan alasan bagiku untuk melupakanmu. Aku kecewa, bukan hanya karena mba Indri telah menyakitimu. Namun juga karena diriku yang terlalu mudah melupakanmu.
Aku merasa semua baik-baik saja. Mba Indri bukan orang asing dalam keluarga kita. Dia juga tumbuh dan lahir dari rahimmu. Jadi mustahil aku berpikir buruk tentangnya. Kupercayakan seluruhnya kepada mba Indri sejak kepergianku. Bukan hanya karena bapak yang telah lama meninggal, namun juga karena rasa beratku meninggalkan ibu sendirian.
“Sony, mba minta maaf…” suara itu terus terdengar meski telah kupalingkan. Kepalaku berat. Himpitan rasa bersalah dan perasaan sakit menoreh hatiku dalam. Aku bahkan tak malu lagi menangisinya.
Kuhentikan sebuah taksi. Dengan gontai kutinggalkan mba Indri. Mobil berwarna biru itu melesat cepat. Aku ingin segera sampai. Aku tak mau berlama-lama menahan kekhawatiran yang berubah menyesakkan sejak pertemuanku dengan mba Indri barusan.
Taksi berhenti di depan sebuah rumah sederhana berpagar besi. Rumah model lama dengan warna putih kusamnya. Aku membayar taksi itu dan meninggalkan kembaliannya. Tiba-tiba saja gemuruh meraung di dada ketika kuinjakkan kaki di tanah dengan rumput dan dedaunan kering yang berserak. Di tempat inikah ibu tinggal?
Langkahku pelan. Tatapku menyapu pemandangan yang sungguh menyesakkan. Tiba-tiba wajah Ibu berubah potongan slide yang memenuhi penglihatanku. Wajah itu, mungkin sedang terisak sekarang. Tangan itu, mungkin sedang memangku doa untukku. Hati itu, mungkin sedang terluka dan sulit disembuhkan.
Mataku berubah panas. Sungguh tak kutahan tangis meski aku seorang lelaki. Aku bersegera mendekati rumah itu. Pintu berderit saat kubuka. Aroma kesepian terasa menyengat. Rumah itu serupa kelam. Tak ada cahaya di sana. Sepi dan hanya sepi!
Seseorang yang entah siapa akhirnya mengantarkanku. Beberapa renta tampak menatap langit dengan pandangan kosong. Betapa sulitnya meminang nasib baik. Di mana anak-anak mereka? Pertanyaan yang berubah menyerangku. Di mana aku saat ibu mendekap sepi di sini?
Langkahku terhenti. Menatap pasi seorang perempuan berusia delapan puluh tahun yang sedang duduk di tepi ranjang sebuah kamar. Rambutnya tergelung rapi. Tangannya memegang butiran tasbih yang terjuntai menyentuh lutut. Bibirnya bergerak tak henti. Dadaku kembali sesak. Dentuman kesedihan itu tak bisa lagi kutahan.
“Ibu...”
Wajah Ibu masih mengeja kedatanganku. Tertegun lantas tersedu. Aku tersungkur memeluk kaki Ibu. Detik itu juga kami tak lagi menahan tangis. Entah rindu atau sendu.
“Bagaimana kabarmu, Nak?”
Aku tak bisa berkata. Tenggorokanku tercekik. Isak-isak berjejalan keluar. Serupa anak kecil yang kehilangan mainan. Aku merasakan tangan Ibu menghangat di pipi. Telapak tangan penuh guratan. Raut teduh dan senyuman serupa setahun silam. Semua masih sama kecuali hatinya, aku tak tahu.
“Pulanglah, Bu.”
Aku menunggu dengan hati tegang. Wajah ibu berubah sendu. Mengalihkan pandangan dariku. Tatapan kosong. Rasa kesepian dan sakit menggurat jelas di wajahnya. Tak ada yang benar-benar sembuh meski ibu berusaha tersenyum saat melihatku.
“Bu,” aku meraih tangannya yang kering. Tergolek lunglai menyisakan kulit dan tulang. Ibu menatapku. Mengusap bahuku dan kembali tersenyum. Aku menarik napas. Tak ingin mendengar Ibu menolak. Namun, pelan-pelan ibu mengangguk. Menyembulkan kelegaan dalam hati. Aku merangkulnya. Memeluk Ibu lama sekali.
“Jangan menangis, Nak.”
Aku menggeleng. Sungguh rindu aku melihatmu, Bu. Sayang sekali kita harus bertemu dalam perasaan yang terluka.
Aku pun segera mengemas pakaian ibu. Ibu harus segera kembali mencecap kebahagiaan bersamaku. Aku masih sanggup mengurusnya. Ibu adalah tanggung jawabku.
“Mari, Bu.”
Aku memapah Ibu segera setelah mengurus semuanya. Langkah kami melemah. Pelan- pelan Ibu menoleh ke belakang. Melihat papan bertuliskan “Panti Jompo Nirmala”. Rumah itu selamanya akan jadi kenangan pahit untuk Ibu. Meski tak mengeluh, aku tahu hatinya terluka parah.
Ibu mencengkeram lemah lenganku, lantas tersenyum, “Terima kasih, Son.”
***
Awalnya ini ada cerita mini yang pernah saya kirimkan ke web pesantren penulis pada 2014 silam. Entah mengapa saya tak menemukan webnya sekarang. Saya merevisi hampir separuhnya dan kembali menampilkan cerita sendu ini di blog saya. Semoga tak ada lagi ibu yang menangis....
Salam hangat,
Saturday, April 22, 2017
Tiga Puluh
![]() |
| Photo by Dila Ningrum on Unsplash |
Senja merona. Awan-awan serupa kumpulan kapas. Berjalan beriringan. Sesekali bersenggolan ditiup angin. Aku merasa perasaanku pun tak berbeda dengan gerakan angin yang sesekali menerbangkan dedaunan kering dari ranting pohon. Meliuk mengikuti arah yang sudah digariskan. Tak memaksa melawan. Apalagi membencinya.
Ibu dan bapak pasti sudah ribut di dalam rumah. Aku bahkan tak berani masuk. Jika selangkah saja aku menunjukkan batang hidung, mereka akan bertanya dan terus bertanya hingga jawaban itu pun muncul tanpa perlu diucapkan.
Tanggal lima April kemarin, usiaku genap tiga puluh tahun. Usia yang tak bisa lagi dikatakan muda apalagi remaja. Untuk beberapa orang mungkin bukan masalah. Bahkan semakin bertambah usia, semakin matang pula mereka menempuh sebuah proses dalam hidup. Hanya saja itu tak berlaku untukku.
“Kamu udah nggak muda lagi, May. Tetangga kanan kiri sudah sewot nanyain. Mereka juga selalu membicarakanmu di belakang ibu.”
Ibu terlihat cemas. Menatapku penuh harap. Kerutan halus di sudut matanya semakin membuatku resah.
“Bu, May nggak masalah dengan omongan tetangga. Yang penting ibu sehat. May sudah senang.”
“Bagaimana kamu bisa bicara seperti itu, May? ibu tak bisa tenang kalau setiap hari mereka berbisik-bisik di belakang ibu.” Ibu membuang tatapannya ke jalan. Memandang teras rumah yang dipenuhi daun rambutan berguguran.
Aku menarik napas. Menatap wajah ibu sekali lagi. Sendu. Matanya pun terlihat sembab. Akhir-akhir ini ibu lebih suka di dalam rumah. Tak tertarik belanja di warung sayur langganannya. Jika ada tetangga lewat, ibu justru segera masuk dan menghindar. Lama-lama aku jadi semakin merasa bersalah. Selama ini aku terlalu asyik mengejar mimpi, aku pun lupa dengan cita-cita ibu dan bapak.
Orangtua ingin melihatku segera menikah. Bapak yang biasanya santai, kali ini pun tak mampu lagi menutupi kegundahannya.
“Apa kamu nggak punya teman atau kenalan?” Tanya bapak suatu kali tanpa basa basi. Seolah lelah dengan nasib yang menimpaku.
Tiga puluh tahun bagiku bukan masalah. Disibukkan dengan pekerjaan sebagai dosen di salah satu universitas ternama di kota Malang, membuatku tak sempat memikirkan hal sepele seperti cinta. Jangankan menikah, jatuh cinta pun aku sudah lupa rasanya.
Namun, lahir di tengah keluarga berdarah Madura membuat tiga puluh tahun menjadi bisul yang menyakitkan bagi ibu. Setiap saat, entah tetangga atau pun saudara selalu menanyakan kapan aku menikah dan berkeluarga. Beberapa sepupuku sudah menikah saat mereka tamat SMA. Sedangkan aku? Hingga usia setua ini belum juga menyebarkan undangan pernikahan. Jelas saja mereka menganggap aku perawan tua yang tak laku. Lebih sadisnya sudah terlewat jodohnya. Benarkah seburuk itu?
Awalnya aku menganggapnya biasa saja. Bukan masalah mereka meledek dan menyindirku. Namun, rupanya ibu jauh lebih khawatir ketimbang aku yang menjalaninya. Ah, ibu. Ucapan orang terkadang lebih tajam daripada sebilah pedang. Mereka selalu mencari-cari kesalahan kita. Sedikit cela akan nampak jelas bagi mereka. Dan setiap hari, bahkan hingga beranjak tidur pun, selalu kita yang ada dalam pikiran mereka. Orang-orang itu bahkan merasa lebih tahu ketimbang aku yang menjalaninya. Tuhan pun mereka anggap tak lebih mengerti.
Sayangnya, ibu tak sependapat denganku. Beberapa hari ini tensi ibu naik. Bukan karena terlalu banyak makan daging kambing atau berlebihan mengonsumsi garam, justru sebab ibu terlalu memikirkanku membuat kesehatannya tak stabil.
Aku pun cemas dan berusaha mengiyakan semua permintaan ibu. Termasuk menerima siapa pun yang datang ke rumah dan ingin melamarku. Aku belum bisa membayangkan, bagaimana bisa kuhabiskan sisa usia dengan orang yang tak kukenal atau bahkan lebih buruknya tak kucintai?
Hanya demi orangtua, aku rela menindih semua keinginan. Menenggelamkan mimpi yang selama ini hampir kulupakan.
Gayung pun bersambut. Seorang lelaki yang masih saudara jauh, datang dan hendak meminangku. Perkenalan singkat dan diakhiri dengan menetapkan tanggal pernikahan. Ibu pun tak lagi canggung ketika terpaksa berpapasan dengan tetangga. Ketika saudara datang berkunjung, ibu pun merasa haru menceritakan rencana pernikahanku.
Namun, percayalah. Manusia memang hanya bisa merencakan. Pada akhirnya Allah juga yang menentukan. Lelaki yang kusebut Ali itu dengan tergesa dan tanpa alasan jelas membatalkan pertunangan kami.
PLAK! Seperti ditampar petir di siang bolong. Ibu dan bapak yang sudah bergembira, pada akhirnya harus menelan kecewa. Aku yang seharusnya lebih sakit, justru merasa lebih butuh menenangkan ibu. Aku abaikan perih yang menyayat.
Sejak saat itu, ibu semakin jarang berbaur dengan tetangga. Lebih banyak di dalam rumah. Menonton siaran televisi yang hanya itu saja. Atau bahkan duduk di dipan yang terletak di ruang tengah. Beberapa kali aku sempat memergoki ibu menatap kosong ke luar jendela. Matanya dipenuhi hujan. Harusnya aku yang menangis. Namun pernahkah kamu mendengar, saat seorang anak sedang sakit, maka ibunya justru merasakan sakit yang lebih ketimbang anaknya? Dan aku merasa kalimat itu benar terjadi padaku.
Ah, ibu. Seharusnya ibu percaya bahwa jodoh itu sudah ditentukan oleh Tuhan. Mereka yang sudah menyakiti kita tak pernah tahu sedikit pun tentang itu. Hanya omongan-omongan tajam yang kemudian menoreh luka di hati kita.
“Bu, jangan menangis lagi,” ucapku suatu kali ketika ibu tersedu usai sholat.
“Ibu akan selalu berdoa untukmu, May.”
Ibu tentu boleh menangis karena mendoakanku. Tapi jangan menangisi nasibku. Sebab aku sudah meluruhkan setiap rasa sakit karena ucapan tetangga ataupun sikap Ali yang tiba-tiba memilih pergi.
“Ibu tak akan memaksamu lagi, May.”
Aku berhambur ke pelukan ibu. Mengeluarkan sesak yang selama ini tertahan. Tangan ibu yang mulai keriput mengusap basah pipiku. Aku melihat ibu jauh lebih legowo. Tak banyak beban memenuhi lekukan wajahnya.
Untuk beberapa hari ini aku merasa semua berjalan lebih ringan. Jika jodoh tak lari ke mana. Tiga puluh tahun bukan berarti tak dapat jodoh. Mungkin saja jodohku masih tertunda sebab menunggu dia pantas untukku ataupun sebaliknya.
Ponselku berdering. Sebuah panggilan dari seorang teman di kampus tempatku mengajar. Abi.
Beberapa saat dia memulai pembicaraan. Basa basi lantas mulai bicara serius.
“Ada teman yang ingin menjalin hubungan serius denganmu, May.”
Aku tertawa, “Kamu nggak salah orang, kan? Maksudku, sudah beberapa orang yang mengatakan hal itu, namun akhirnya mereka pergi tanpa kepastian.” Aku menarik napas dalam.
“Aku serius, May.” Tiba-tiba saja hening.
“Kamu yang serius atau temanmu?” Aku kembali tertawa.
Terdengar suara terkekeh dari seberang telepon, “Maksudku temanku.”
Abi bukan orang asing bagiku. Aku mengenalnya sebagai pribadi yang santun. Hampir setiap hari kami bertatap muka. Dari pagi ketika baru sampai di kampus hingga sore ketika kami hendak pulang. Dia mengajar hampir setiap hari. Jadi, tak heran jika kami sering bertemu.
Abi jarang bicara serius. Hampir setiap omongannya bisa dipastikan hanyalah sebuah guyonan. Lelaki yang terpaut lima tahun di atasku itu selalu menyindirku soal undangan pernikahan. Padahal, dia saja masih bujangan. Aku juga heran, kenapa lelaki sebaik dia belum juga menikah?
“Gimana, May?”
Aku menimbang keputusan. Kejadian kemarin masih terekam jelas. Pertemuan dua keluarga. Kebahagiaan ibu dan bapak yang tiba-tiba menguap. Serta rasa sakit yang kupaksa menjauh. Jika saja terulang, mungkin aku tak mampu lagi melanjutkan.
“Abi, aku tak ingin bermain-main soal pernikahan. Jadi…”
Abi menyela, “May, dia serius.”
“Siapa yang bisa menjamin sedangkan kami tak pernah saling kenal?” Sanggahku cepat.
“Aku yang jamin! Percayalah…”
Baru kali ini Abi bicara serius padaku. Dan sesaat aku bisa mempercayai ucapannya.
Empat puluh menit sudah aku berdiri di teras rumah. Sesekali membenarkan jilbab hijau pupus di kepala. Gamis menjuntai ke tanah. Membuatku kesulitan melangkah. Aku menatap langit. Senja masih merona. Langit pun belum kehilangan birunya. Aku tersenyum dan menghapus resah.
Tiba-tiba terdengar deru mobil memasuki pelataran rumah. Aku terperanjat. Lihatlah, dia sudah datang, May! Ya, pria yang berniat melamarku sudah tiba.
Ibu dan bapak segera menyusul ke teras. Kulihat lelaki seusia bapak keluar dari pintu mobil bagian depan. Seorang wanita tersenyum hangat pada ibu. Di belakangnya dua orang gadis cantik menyusul sambil menyapa ramah.
Aku belum menemukan laki-laki yang dimaksud Abi dalam teleponnya kemarin. Dia tak nampak dalam rombongan. Apa mereka membawa mobil lain? Entahlah.
Seorang wanita yang tak lebih tua dari ibu menyebut namaku. Aku mencium tangannya. Lantas balas tersenyum. Belum juga usai rasa penasaranku, tiba-tiba tanpa sengaja aku melihat Abi turun dari mobil dengan kemeja batiknya yang rapi.
Mata kami saling bertemu. Buru-buru aku menghindar dan segera masuk menyusul yang lain.
Tiga puluh tahun yang menyesakkan ini akan segera berakhir. Pikirku. Aku menunggu dan mengira-ngira lelaki mana yang akan meminangku. Apakah dia sudah kabur terlebih dahulu sebab sejak tadi tak nampak yang lain selain mereka yang sudah kutemui? Ah, May. Jangan berpikir negatif. Mungkin saja mobilnya akan menyusul di belakang.
Abi tampak santai berbincang dengan bapak. Begitu juga yang lain. Basa basi beberapa menit. Saling memperkenalkan diri. Bercerita sedikit tentang keluarga masing-masing hingga sesekali tertawa.
Lantas, lelaki yang kukira calon bapak mertua mulai bicara serius tentang pernikahan. Aku tak fokus mendengarkan sebab yang kunanti tak juga muncul. Bagaimana mereka bisa melanjutkan sedangkan aku belum tahu siapa calon suamiku?
“Kami datang ke sini untuk melamar Maysaroh. Putera kami serius ingin menikahinya.”
Aku menunduk pasrah. Bagaimana aku bisa menjelaskan pada ibu dan bapak tentang laki-laki yang sebenarnya tak ada di hadapan kami?
“Abi sudah mengenal May sejak lama. Sebenarnya dia sudah lama menceritakannya pada kami. Namun, baru hari ini Abi berani datang dan melamar.”
“Abi?” Aku menoleh ke arah Abi yang tanpa sengaja sedang mengarahkan pandangannya padaku. Aku tertegun sesaat. Lantas buru-buru kuhapus basah di sudut mata.
Allah, sungguh indah rencana-Mu.
****
Tanggal lima April kemarin, usiaku genap tiga puluh tahun. Usia yang tak bisa lagi dikatakan muda apalagi remaja. Untuk beberapa orang mungkin bukan masalah. Bahkan semakin bertambah usia, semakin matang pula mereka menempuh sebuah proses dalam hidup. Hanya saja itu tak berlaku untukku.
“Kamu udah nggak muda lagi, May. Tetangga kanan kiri sudah sewot nanyain. Mereka juga selalu membicarakanmu di belakang ibu.”
Ibu terlihat cemas. Menatapku penuh harap. Kerutan halus di sudut matanya semakin membuatku resah.
“Bu, May nggak masalah dengan omongan tetangga. Yang penting ibu sehat. May sudah senang.”
“Bagaimana kamu bisa bicara seperti itu, May? ibu tak bisa tenang kalau setiap hari mereka berbisik-bisik di belakang ibu.” Ibu membuang tatapannya ke jalan. Memandang teras rumah yang dipenuhi daun rambutan berguguran.
Aku menarik napas. Menatap wajah ibu sekali lagi. Sendu. Matanya pun terlihat sembab. Akhir-akhir ini ibu lebih suka di dalam rumah. Tak tertarik belanja di warung sayur langganannya. Jika ada tetangga lewat, ibu justru segera masuk dan menghindar. Lama-lama aku jadi semakin merasa bersalah. Selama ini aku terlalu asyik mengejar mimpi, aku pun lupa dengan cita-cita ibu dan bapak.
Orangtua ingin melihatku segera menikah. Bapak yang biasanya santai, kali ini pun tak mampu lagi menutupi kegundahannya.
“Apa kamu nggak punya teman atau kenalan?” Tanya bapak suatu kali tanpa basa basi. Seolah lelah dengan nasib yang menimpaku.
Tiga puluh tahun bagiku bukan masalah. Disibukkan dengan pekerjaan sebagai dosen di salah satu universitas ternama di kota Malang, membuatku tak sempat memikirkan hal sepele seperti cinta. Jangankan menikah, jatuh cinta pun aku sudah lupa rasanya.
Namun, lahir di tengah keluarga berdarah Madura membuat tiga puluh tahun menjadi bisul yang menyakitkan bagi ibu. Setiap saat, entah tetangga atau pun saudara selalu menanyakan kapan aku menikah dan berkeluarga. Beberapa sepupuku sudah menikah saat mereka tamat SMA. Sedangkan aku? Hingga usia setua ini belum juga menyebarkan undangan pernikahan. Jelas saja mereka menganggap aku perawan tua yang tak laku. Lebih sadisnya sudah terlewat jodohnya. Benarkah seburuk itu?
Awalnya aku menganggapnya biasa saja. Bukan masalah mereka meledek dan menyindirku. Namun, rupanya ibu jauh lebih khawatir ketimbang aku yang menjalaninya. Ah, ibu. Ucapan orang terkadang lebih tajam daripada sebilah pedang. Mereka selalu mencari-cari kesalahan kita. Sedikit cela akan nampak jelas bagi mereka. Dan setiap hari, bahkan hingga beranjak tidur pun, selalu kita yang ada dalam pikiran mereka. Orang-orang itu bahkan merasa lebih tahu ketimbang aku yang menjalaninya. Tuhan pun mereka anggap tak lebih mengerti.
Sayangnya, ibu tak sependapat denganku. Beberapa hari ini tensi ibu naik. Bukan karena terlalu banyak makan daging kambing atau berlebihan mengonsumsi garam, justru sebab ibu terlalu memikirkanku membuat kesehatannya tak stabil.
Aku pun cemas dan berusaha mengiyakan semua permintaan ibu. Termasuk menerima siapa pun yang datang ke rumah dan ingin melamarku. Aku belum bisa membayangkan, bagaimana bisa kuhabiskan sisa usia dengan orang yang tak kukenal atau bahkan lebih buruknya tak kucintai?
Hanya demi orangtua, aku rela menindih semua keinginan. Menenggelamkan mimpi yang selama ini hampir kulupakan.
Gayung pun bersambut. Seorang lelaki yang masih saudara jauh, datang dan hendak meminangku. Perkenalan singkat dan diakhiri dengan menetapkan tanggal pernikahan. Ibu pun tak lagi canggung ketika terpaksa berpapasan dengan tetangga. Ketika saudara datang berkunjung, ibu pun merasa haru menceritakan rencana pernikahanku.
Namun, percayalah. Manusia memang hanya bisa merencakan. Pada akhirnya Allah juga yang menentukan. Lelaki yang kusebut Ali itu dengan tergesa dan tanpa alasan jelas membatalkan pertunangan kami.
PLAK! Seperti ditampar petir di siang bolong. Ibu dan bapak yang sudah bergembira, pada akhirnya harus menelan kecewa. Aku yang seharusnya lebih sakit, justru merasa lebih butuh menenangkan ibu. Aku abaikan perih yang menyayat.
Sejak saat itu, ibu semakin jarang berbaur dengan tetangga. Lebih banyak di dalam rumah. Menonton siaran televisi yang hanya itu saja. Atau bahkan duduk di dipan yang terletak di ruang tengah. Beberapa kali aku sempat memergoki ibu menatap kosong ke luar jendela. Matanya dipenuhi hujan. Harusnya aku yang menangis. Namun pernahkah kamu mendengar, saat seorang anak sedang sakit, maka ibunya justru merasakan sakit yang lebih ketimbang anaknya? Dan aku merasa kalimat itu benar terjadi padaku.
Ah, ibu. Seharusnya ibu percaya bahwa jodoh itu sudah ditentukan oleh Tuhan. Mereka yang sudah menyakiti kita tak pernah tahu sedikit pun tentang itu. Hanya omongan-omongan tajam yang kemudian menoreh luka di hati kita.
“Bu, jangan menangis lagi,” ucapku suatu kali ketika ibu tersedu usai sholat.
“Ibu akan selalu berdoa untukmu, May.”
Ibu tentu boleh menangis karena mendoakanku. Tapi jangan menangisi nasibku. Sebab aku sudah meluruhkan setiap rasa sakit karena ucapan tetangga ataupun sikap Ali yang tiba-tiba memilih pergi.
“Ibu tak akan memaksamu lagi, May.”
Aku berhambur ke pelukan ibu. Mengeluarkan sesak yang selama ini tertahan. Tangan ibu yang mulai keriput mengusap basah pipiku. Aku melihat ibu jauh lebih legowo. Tak banyak beban memenuhi lekukan wajahnya.
****
Untuk beberapa hari ini aku merasa semua berjalan lebih ringan. Jika jodoh tak lari ke mana. Tiga puluh tahun bukan berarti tak dapat jodoh. Mungkin saja jodohku masih tertunda sebab menunggu dia pantas untukku ataupun sebaliknya.
Ponselku berdering. Sebuah panggilan dari seorang teman di kampus tempatku mengajar. Abi.
Beberapa saat dia memulai pembicaraan. Basa basi lantas mulai bicara serius.
“Ada teman yang ingin menjalin hubungan serius denganmu, May.”
Aku tertawa, “Kamu nggak salah orang, kan? Maksudku, sudah beberapa orang yang mengatakan hal itu, namun akhirnya mereka pergi tanpa kepastian.” Aku menarik napas dalam.
“Aku serius, May.” Tiba-tiba saja hening.
“Kamu yang serius atau temanmu?” Aku kembali tertawa.
Terdengar suara terkekeh dari seberang telepon, “Maksudku temanku.”
Abi bukan orang asing bagiku. Aku mengenalnya sebagai pribadi yang santun. Hampir setiap hari kami bertatap muka. Dari pagi ketika baru sampai di kampus hingga sore ketika kami hendak pulang. Dia mengajar hampir setiap hari. Jadi, tak heran jika kami sering bertemu.
Abi jarang bicara serius. Hampir setiap omongannya bisa dipastikan hanyalah sebuah guyonan. Lelaki yang terpaut lima tahun di atasku itu selalu menyindirku soal undangan pernikahan. Padahal, dia saja masih bujangan. Aku juga heran, kenapa lelaki sebaik dia belum juga menikah?
“Gimana, May?”
Aku menimbang keputusan. Kejadian kemarin masih terekam jelas. Pertemuan dua keluarga. Kebahagiaan ibu dan bapak yang tiba-tiba menguap. Serta rasa sakit yang kupaksa menjauh. Jika saja terulang, mungkin aku tak mampu lagi melanjutkan.
“Abi, aku tak ingin bermain-main soal pernikahan. Jadi…”
Abi menyela, “May, dia serius.”
“Siapa yang bisa menjamin sedangkan kami tak pernah saling kenal?” Sanggahku cepat.
“Aku yang jamin! Percayalah…”
Baru kali ini Abi bicara serius padaku. Dan sesaat aku bisa mempercayai ucapannya.
****
Empat puluh menit sudah aku berdiri di teras rumah. Sesekali membenarkan jilbab hijau pupus di kepala. Gamis menjuntai ke tanah. Membuatku kesulitan melangkah. Aku menatap langit. Senja masih merona. Langit pun belum kehilangan birunya. Aku tersenyum dan menghapus resah.
Tiba-tiba terdengar deru mobil memasuki pelataran rumah. Aku terperanjat. Lihatlah, dia sudah datang, May! Ya, pria yang berniat melamarku sudah tiba.
Ibu dan bapak segera menyusul ke teras. Kulihat lelaki seusia bapak keluar dari pintu mobil bagian depan. Seorang wanita tersenyum hangat pada ibu. Di belakangnya dua orang gadis cantik menyusul sambil menyapa ramah.
Aku belum menemukan laki-laki yang dimaksud Abi dalam teleponnya kemarin. Dia tak nampak dalam rombongan. Apa mereka membawa mobil lain? Entahlah.
Seorang wanita yang tak lebih tua dari ibu menyebut namaku. Aku mencium tangannya. Lantas balas tersenyum. Belum juga usai rasa penasaranku, tiba-tiba tanpa sengaja aku melihat Abi turun dari mobil dengan kemeja batiknya yang rapi.
DEG!
Mata kami saling bertemu. Buru-buru aku menghindar dan segera masuk menyusul yang lain.
Tiga puluh tahun yang menyesakkan ini akan segera berakhir. Pikirku. Aku menunggu dan mengira-ngira lelaki mana yang akan meminangku. Apakah dia sudah kabur terlebih dahulu sebab sejak tadi tak nampak yang lain selain mereka yang sudah kutemui? Ah, May. Jangan berpikir negatif. Mungkin saja mobilnya akan menyusul di belakang.
Abi tampak santai berbincang dengan bapak. Begitu juga yang lain. Basa basi beberapa menit. Saling memperkenalkan diri. Bercerita sedikit tentang keluarga masing-masing hingga sesekali tertawa.
Lantas, lelaki yang kukira calon bapak mertua mulai bicara serius tentang pernikahan. Aku tak fokus mendengarkan sebab yang kunanti tak juga muncul. Bagaimana mereka bisa melanjutkan sedangkan aku belum tahu siapa calon suamiku?
“Kami datang ke sini untuk melamar Maysaroh. Putera kami serius ingin menikahinya.”
Aku menunduk pasrah. Bagaimana aku bisa menjelaskan pada ibu dan bapak tentang laki-laki yang sebenarnya tak ada di hadapan kami?
“Abi sudah mengenal May sejak lama. Sebenarnya dia sudah lama menceritakannya pada kami. Namun, baru hari ini Abi berani datang dan melamar.”
“Abi?” Aku menoleh ke arah Abi yang tanpa sengaja sedang mengarahkan pandangannya padaku. Aku tertegun sesaat. Lantas buru-buru kuhapus basah di sudut mata.
Allah, sungguh indah rencana-Mu.
Friday, March 31, 2017
Ketika Virus Datang
Ketika Virus datang, bukan ketika cinta datang, ya? Hihi. Musim hujan yang tak menentu. Panas, terik lantas berubah hujan lebat semalaman. Awalnya Ayah yang batuk usai pulang dari kantor. Besoknya anak-anak ikutan batuk kompak.
Siapa pun tak nyaman dengan kondisi meriang, tenggorokan sakit dan gatal, bahkan si kakak selalu mengeluh hidung mampet. Tapi, gejala itu akan membaik dalam beberapa hari hingga dua minggu. Masalahnya, saat ini, sudah bukan hitungan hari atau minggu tapi sudah sebulan mereka kena common cold. Setiap pagi minum hangat diberi madu dan jeruk nipis. Cukup melegakan dan bisa membantu mengencerkan dahak.
Saya bukan anti obat sehingga malas ke dokter atau sekadar membeli obat batuk di apotek. Masalanya, dari WHO saja sudah dijelaskan bahwa batuk dan flu memang tak perlu obat selain cairan yang banyak. Obat-obat yang beredar di pasaran rupanya tidak lebih banyak memberikan manfaat. Justru lebih banyak efek sampingnya. Lalu, kenapa kita harus meminum obat batuk setiap hari bahkan hingga sebulan begini? Apalagi anak-anak, kalau ke dokter obatnya bahkan lebih banyak ketimbang emak dan bapaknya. Mirisnya. Ada puyer, masih obat pelega napas, anti virus, antibiotik dan vitamin seabrek. Lebaykah saya? Ini hanya pengalaman saya saja selama ini.
Belum lagi diagnosa yang ‘ngalor ngidul’. Masyaallah, jika yang datang pasien yang benar-benar sulit keuangannya dan merasa dokternya bicara benar, bagaimana jadinya? Obatnya nggak cukup seratus ribu lho, biasanya sekitar 300 sampai 500 ribu. Saya nggak tega aja kalau lihat pasien yang begini.
Mestinyakan beberapa dokter yang belum rasional (Saya sebut beberapa karena tidak semua dokter demikian) itu mengedukasi pasiennya. Bukan jualan obat, ya? Kalau saya yang mengerti bisa hanya memastikan diagnosa dan memilih obat-obat yang dirasa perlu saja untuk ditebus.
Misalnya saja saat kakak kejang januari lalu, tepat diusianya yang keenam. Setelah dua tahun tidak kejang demam, qadarallah dia kejang hingga menggigit lidah dan mengompol. Saya yang sudah hafal penanganannya tetap saja shock berat. Meskipun setelahnya saya tidak akan buru-buru ke dokter juga apalagi sampai dirawat inap karena kondisi setelah kejang nampak baik-baik saja.
Saya selalu sedia stesolid rektal di rumah, menghafal semua tanda gawat daruratnya serta berusaha nggak panik. Karena ketika panik yang berlebih, otak kita nggak akan jalan. Kakak kejang demam tak sampai satu menit. Kejangnya pun seluruh tubuh. Setelah masuk stesolid, ia lemas dan tertidur. Tak beberapa lama dia bangun untuk minum.
Bulan berikutnya saya membawa Alby ke dokter walaupun keadaannya hanya batuk pilek dan hampir sembuh. Saya tidak sedang meminta obat batuk pilek sebab common cold hanya disebabkan oleh virus yang hanya bisa sembuh dengan daya tahan tubuh. Jadi mau ngapain? Mau coba kartu asuransi baru..hihi. Nggak mungkin, ya. Jadi saya butuh stesolid untuk stok di rumah. Dan obat ini nggak bisa dibeli bebas diluar sana. Jadi harus minta resep sama dokter.
Oke, ada dokter baru di rumah sakit. Saya mau coba dan mendaftar karena tiga dokter lain sudah menyakiti hati saya dengan diagnosa nggak pasti serta overtreatment. Teganya! Lebay nggak, sih? Memang faktanya, tidak semua orang yang pergi ke dokter butuh obat apalagi diagnosa yang tidak perlu. Ada yang pengin konsultasi dan memastikan apakah penanganan yang dilakukan di rumah sudah tepat atau belum? Kalau sekadar common cold, ya nggak perlu dikasih antibiotik segala, kan? Terlalu berlebihan pokoknya.
Alhamdulillah, ada dokter spesialis anak baru, dokter Leny namanya. Cukup komunikatif dan memberikan treatment yang lumayan masuk akal soal kejangnya Alby. Tapi, tetap ya dapat obat batuk dan pilek serta antibiotik yang nggak saya tebus. Saya juga nggak mencoba mendebatnya. Udah capek sih..hihi. Biasanya saya selalu bilang bahwa, “Kenapa anak saya diberi AB? Bukannya common cold sebabnya hanya virus yang nggak perlu obat?” dan berbagai debat menyakitkan lainnya. Nggak banget, ya. Lama-lama capek juga.
Jadi, kesimpulannya, Alby kejang demam usia enam tahun masih dikategorikan normal apalagi saya juga ada riwayat kejang demam. Normal hingga usianya tujuh tahun. Semoga ini yang terakhir, ya. Kalau saya baca di web resmi seperti kidshealth atau AAP dan milis sehat, normalnya terjadi sampai usia lima tahun. Tapi, dokter Leny justru berbeda dan membuat saya bisa bernapas lega. Alhamdulillah.
Saya bukan anti obat sehingga malas ke dokter atau sekadar membeli obat batuk di apotek. Masalanya, dari WHO saja sudah dijelaskan bahwa batuk dan flu memang tak perlu obat selain cairan yang banyak. Obat-obat yang beredar di pasaran rupanya tidak lebih banyak memberikan manfaat. Justru lebih banyak efek sampingnya. Lalu, kenapa kita harus meminum obat batuk setiap hari bahkan hingga sebulan begini? Apalagi anak-anak, kalau ke dokter obatnya bahkan lebih banyak ketimbang emak dan bapaknya. Mirisnya. Ada puyer, masih obat pelega napas, anti virus, antibiotik dan vitamin seabrek. Lebaykah saya? Ini hanya pengalaman saya saja selama ini.
Belum lagi diagnosa yang ‘ngalor ngidul’. Masyaallah, jika yang datang pasien yang benar-benar sulit keuangannya dan merasa dokternya bicara benar, bagaimana jadinya? Obatnya nggak cukup seratus ribu lho, biasanya sekitar 300 sampai 500 ribu. Saya nggak tega aja kalau lihat pasien yang begini.
Edukasi Pasien atau Konsumen Kesehatan
Mestinyakan beberapa dokter yang belum rasional (Saya sebut beberapa karena tidak semua dokter demikian) itu mengedukasi pasiennya. Bukan jualan obat, ya? Kalau saya yang mengerti bisa hanya memastikan diagnosa dan memilih obat-obat yang dirasa perlu saja untuk ditebus.
Misalnya saja saat kakak kejang januari lalu, tepat diusianya yang keenam. Setelah dua tahun tidak kejang demam, qadarallah dia kejang hingga menggigit lidah dan mengompol. Saya yang sudah hafal penanganannya tetap saja shock berat. Meskipun setelahnya saya tidak akan buru-buru ke dokter juga apalagi sampai dirawat inap karena kondisi setelah kejang nampak baik-baik saja.
Saya selalu sedia stesolid rektal di rumah, menghafal semua tanda gawat daruratnya serta berusaha nggak panik. Karena ketika panik yang berlebih, otak kita nggak akan jalan. Kakak kejang demam tak sampai satu menit. Kejangnya pun seluruh tubuh. Setelah masuk stesolid, ia lemas dan tertidur. Tak beberapa lama dia bangun untuk minum.
Bulan berikutnya saya membawa Alby ke dokter walaupun keadaannya hanya batuk pilek dan hampir sembuh. Saya tidak sedang meminta obat batuk pilek sebab common cold hanya disebabkan oleh virus yang hanya bisa sembuh dengan daya tahan tubuh. Jadi mau ngapain? Mau coba kartu asuransi baru..hihi. Nggak mungkin, ya. Jadi saya butuh stesolid untuk stok di rumah. Dan obat ini nggak bisa dibeli bebas diluar sana. Jadi harus minta resep sama dokter.
Second Opinion
Oke, ada dokter baru di rumah sakit. Saya mau coba dan mendaftar karena tiga dokter lain sudah menyakiti hati saya dengan diagnosa nggak pasti serta overtreatment. Teganya! Lebay nggak, sih? Memang faktanya, tidak semua orang yang pergi ke dokter butuh obat apalagi diagnosa yang tidak perlu. Ada yang pengin konsultasi dan memastikan apakah penanganan yang dilakukan di rumah sudah tepat atau belum? Kalau sekadar common cold, ya nggak perlu dikasih antibiotik segala, kan? Terlalu berlebihan pokoknya.
Alhamdulillah, ada dokter spesialis anak baru, dokter Leny namanya. Cukup komunikatif dan memberikan treatment yang lumayan masuk akal soal kejangnya Alby. Tapi, tetap ya dapat obat batuk dan pilek serta antibiotik yang nggak saya tebus. Saya juga nggak mencoba mendebatnya. Udah capek sih..hihi. Biasanya saya selalu bilang bahwa, “Kenapa anak saya diberi AB? Bukannya common cold sebabnya hanya virus yang nggak perlu obat?” dan berbagai debat menyakitkan lainnya. Nggak banget, ya. Lama-lama capek juga.
Jadi, kesimpulannya, Alby kejang demam usia enam tahun masih dikategorikan normal apalagi saya juga ada riwayat kejang demam. Normal hingga usianya tujuh tahun. Semoga ini yang terakhir, ya. Kalau saya baca di web resmi seperti kidshealth atau AAP dan milis sehat, normalnya terjadi sampai usia lima tahun. Tapi, dokter Leny justru berbeda dan membuat saya bisa bernapas lega. Alhamdulillah.
Tahu Kapan Harus ke Dokter
Oke, kembali lagi ketika sebulan ini semua common cold, saya hanya memberikan banyak minum dan makan yang benar. Buah yang banyak, jus buah, sup hangat. Karena sepertinya di rumah terjadi ping pong satu sama lain. Satunya sehat, satunya baru sakit, ketularan lagi. Dan begitulah seterusnya hingga Allah yang akan menghentikan. Hanya saja, meskipun ini hanya virus, kita juga harus waspada dengan tanda gawat darurat. Misalnya saja sesak, dehidrasi berat dan anak tidak sadarkan diri karena lemas berlebihan. Segera ke dokter. Karena sesak bisa saja mengarah ke pneumonia, yaitu komplikasi yang disebabkan virus atau bisa juga bakteri.
Saya nggak takut buat pergi ke dokter. Sama sekali nggak takut. Apalagi jika itu memang diperlukan. Hanya saja, jika tidak dibutuhkan kenapa juga harus ke dokter yang ‘kenyataannya’ lebih banyak mengundang penyakit ketimbang sehat? Why? Rumah sakit jelas rumahnya orang sakit. Anak-anak dan dewasa datang dalam keadaan sakit dan bisa menularkan kita juga.
Jadi, virus datang dan akan pergi sendiri tanpa diundang. Ratusan jenisnya membuat kita nggak ada habisnya melawan dan membentuk antibodi baru. Kalau anak sering batpil apalagi saat masuk sekolah, itu sangat wajar. Sebab, daya tahan tubuhnya sedang bekerja dan lingkungan sekolah pun nggak pernah steril, ya.
Bersyukurnya, saya lumayan mengerti setidaknya tentang apa yang mesti dilakukan dan tidak ketika anak sakit. Tahu cara penangangan pertama ketika salah satu mulai nggak enak badan. Tahu kapan mesti ke dokter atau menanganinya di rumah.
Perjalanan ini tidak mudah bagi saya, karena banyak sekali perbedaan baik dari pasangan serta anggota keluarga. Namun, saya memang termasuk kukuh sekali setelah banyak belajar dari milis sehat. Nggak mau ngasih obat yang tidak tepat hanya demi menenangkan saya sebagai orang tua sedangkan anaknya malah rugi karena salah konsumsi obat.
Sabar, setiap penyakit ada perjalanannya sendiri. Insyaallah, makin besar usia anak, makin jarang juga mereka sakit. Sekarang? Dinikmati aja :)
Salam hangat,
Salam hangat,
Subscribe to:
Posts (Atom)
Hey there!
Part of




