Luka di Hati Ibu



“Mba, aku serius,” tatapanku berubah tajam. 

Sepertinya mba Indri memang tak main-main dengan ucapannya. Aku bahkan bisa menangkap ketakutan dari wajah ayunya itu. 

“Maafin mba Indri, Son,” mba Indri mendekat. Menarik lengan kemejaku cepat. Seperti gerakan bayi merengek meminta sesuatu. Matanya berkabut.

Aku hampir tak percaya dengan ucapannya barusan. “Ibu cuma punya mba Indri. Lalu kenapa mba tega melakukan semua itu?!” ucapku setengah berteriak. Melempar tatapan murka ke arah kakak kandungku sendiri. Mba Indri hanya bergeming.

Aku beranjak. Menghempas tubuh mungil mba Indri yang sejak tadi mengapit lenganku erat. Aku tak habis pikir, kemana akal sehatnya?

“Sony,” panggil mba Indri memelas. Dia memaksa menyeret tubuhnya di lantai. Meminta maaf tanpa henti. Tangisnya pun pecah seketika. Jika saja kutahu sejak awal, mungkin tak akan sesakit ini.

Aku meraih ransel hitam yang tegeletak di sofa. Mengacuhkan mba Indri yang terus menghujaniku dengan kata maaf. Terpaksa kulumat semua rasa kasihan. Kerinduan berubah ngilu. Satu tahun tak bertemu Ibu, kepulangan pertamaku dari Jakarta justru menusuk dan menghujam. 

Sejak sebulan terakhir aku tak bisa lagi mendengar suara ibu. Setiap kali kutelepon, mba Indri mengalihkan. Katanya Ibu istirahat atau bahkan baru tertidur. Aku pun tak memaksanya. Mungkin saja ibu terlalu lelah.

Sungguh, aku tak pernah menaruh curiga. Rasa percayaku pada mba Indri melebihi janji matahari pada bumi. Selalu datang dan menghangatkan. Bagaimana bisa aku menuduh saudaraku melakukan hal yang diluar batas akal sehat? Kami pun sama-sama mengerti bagaimana caranya berbakti. Ah, ibu. Bagaimana keadaanmu sekarang?

Tiba-tiba mataku basah. Aku tak bisa membayangkan bagaimana ibu melewati hari-harinya. Menahan sakit akibat dicampakkan. Kesepian adalah hal paling menakutkan yang menimpa setiap orang dimasa tuanya. Lalu bagaimana ibu bisa melewatinya sendirian?

Harusnya aku berada di dekatnya. Menghangatkan setiap paginya. Melindungi dia dari rasa takut yang selalu muncul setiap mengingat kematian. Sungguh bodohnya aku, Bu. Tak sempat meluangkan waktu sedikit saja untukmu. Pekerjaanku memang menumpuk. Tapi itu bukan alasan bagiku untuk melupakanmu. Aku kecewa, bukan hanya karena mba Indri telah menyakitimu. Namun juga karena diriku yang terlalu mudah melupakanmu.

Aku merasa semua baik-baik saja. Mba Indri bukan orang asing dalam keluarga kita. Dia juga tumbuh dan lahir dari rahimmu. Jadi mustahil aku berpikir buruk tentangnya. Kupercayakan seluruhnya kepada mba Indri sejak kepergianku. Bukan hanya karena bapak yang telah lama meninggal, namun juga karena rasa beratku meninggalkan ibu sendirian.

“Sony, mba minta maaf…” suara itu terus terdengar meski telah kupalingkan. Kepalaku berat. Himpitan rasa bersalah dan perasaan sakit menoreh hatiku dalam. Aku bahkan tak malu lagi menangisinya. 



Kuhentikan sebuah taksi. Dengan gontai kutinggalkan mba Indri. Mobil berwarna biru itu melesat cepat. Aku ingin segera sampai. Aku tak mau berlama-lama menahan kekhawatiran yang berubah menyesakkan sejak pertemuanku dengan mba Indri barusan.

Taksi berhenti di depan sebuah rumah sederhana berpagar besi. Rumah model lama dengan warna putih kusamnya. Aku membayar taksi itu dan meninggalkan kembaliannya. Tiba-tiba saja gemuruh meraung di dada ketika kuinjakkan kaki di tanah dengan rumput dan dedaunan kering yang berserak. Di tempat inikah ibu tinggal?

Langkahku pelan. Tatapku menyapu pemandangan yang sungguh menyesakkan. Tiba-tiba wajah Ibu berubah potongan slide yang memenuhi penglihatanku. Wajah itu, mungkin sedang terisak sekarang. Tangan itu, mungkin sedang memangku doa untukku. Hati itu, mungkin sedang terluka dan sulit disembuhkan. 

Mataku berubah panas. Sungguh tak kutahan tangis meski aku seorang lelaki. Aku bersegera mendekati rumah itu. Pintu berderit saat kubuka. Aroma kesepian terasa menyengat. Rumah itu serupa kelam. Tak ada cahaya di sana. Sepi dan hanya sepi!

Seseorang yang entah siapa akhirnya mengantarkanku. Beberapa renta tampak menatap langit dengan pandangan kosong. Betapa sulitnya meminang nasib baik. Di mana anak-anak mereka? Pertanyaan yang berubah menyerangku. Di mana aku saat ibu mendekap sepi di sini? 

Langkahku terhenti. Menatap pasi seorang perempuan berusia delapan puluh tahun yang sedang duduk di tepi ranjang sebuah kamar. Rambutnya tergelung rapi. Tangannya memegang butiran tasbih yang terjuntai menyentuh lutut. Bibirnya bergerak tak henti. Dadaku kembali sesak. Dentuman kesedihan itu tak bisa lagi kutahan. 

“Ibu...” 

Wajah Ibu masih mengeja kedatanganku. Tertegun lantas tersedu. Aku tersungkur memeluk kaki Ibu. Detik itu juga kami tak lagi menahan tangis. Entah rindu atau sendu.

“Bagaimana kabarmu, Nak?” 

Aku tak bisa berkata. Tenggorokanku tercekik. Isak-isak berjejalan keluar. Serupa anak kecil yang kehilangan mainan. Aku merasakan tangan Ibu menghangat di pipi. Telapak tangan penuh guratan. Raut teduh dan senyuman serupa setahun silam. Semua masih sama kecuali hatinya, aku tak tahu. 

“Pulanglah, Bu.” 

Aku menunggu dengan hati tegang. Wajah ibu berubah sendu. Mengalihkan pandangan dariku. Tatapan kosong. Rasa kesepian dan sakit menggurat jelas di wajahnya. Tak ada yang benar-benar sembuh meski ibu berusaha tersenyum saat melihatku. 

“Bu,” aku meraih tangannya yang kering. Tergolek lunglai menyisakan kulit dan tulang. Ibu menatapku. Mengusap bahuku dan kembali tersenyum. Aku menarik napas. Tak ingin mendengar Ibu menolak. Namun, pelan-pelan ibu mengangguk. Menyembulkan kelegaan dalam hati. Aku merangkulnya. Memeluk Ibu lama sekali. 

“Jangan menangis, Nak.” 

Aku menggeleng. Sungguh rindu aku melihatmu, Bu. Sayang sekali kita harus bertemu dalam perasaan yang terluka. 

Aku pun segera mengemas pakaian ibu. Ibu harus segera kembali mencecap kebahagiaan bersamaku. Aku masih sanggup mengurusnya. Ibu adalah tanggung jawabku. 

“Mari, Bu.” 

Aku memapah Ibu segera setelah mengurus semuanya. Langkah kami melemah. Pelan- pelan Ibu menoleh ke belakang. Melihat papan bertuliskan “Panti Jompo Nirmala”. Rumah itu selamanya akan jadi kenangan pahit untuk Ibu. Meski tak mengeluh, aku tahu hatinya terluka parah.

Ibu mencengkeram lemah lenganku, lantas tersenyum, “Terima kasih, Son.” 
                                                                                  *** 

Awalnya ini ada cerita mini yang pernah saya kirimkan ke web pesantren penulis pada 2014 silam. Entah mengapa saya tak menemukan webnya sekarang. Saya merevisi hampir separuhnya dan kembali menampilkan cerita sendu ini di blog saya. Semoga tak ada lagi ibu yang menangis....

0 comments:

Post a Comment