Saturday, August 23, 2025

Kisah Teladan Rasulullah SAW: Kasih Sayang Kepada Buah Hati

 

Kisah Teladan Rasulullah SAW: Kasih Sayang Kepada Buah Hati
Photo by Omar Lopez on Unsplash


“Dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mencium Hasan bin Ali, sedangkan di sisinya ada Al-Aqra’ bin Habis at-Tamimi yang sedang duduk. Al-Aqra’ berkata: ‘Aku memiliki sepuluh orang anak, namun aku tidak pernah mencium seorang pun dari mereka.’ Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memandangnya lalu bersabda: ‘Barang siapa tidak menyayangi, ia tidak akan disayangi.” (HR. Muslim) 

Anak-anak butuh perhatian dan kasih sayang dari pengasuhnya, terutama orang tua. Hubungan antara orang tua dan anak merupakan hubungan pertama yang mestinya berjalan sukses, tapi tidak jarang hubungan ini menjadi trauma yang dibawa hingga dewasa akibat orang tua yang melakukan kekerasan baik fisik maupun verbal. 

Mendidik anak-anak tidak bisa dilakukan dengan kekerasan. Kita tidak bisa juga menyamakan antara kekerasan dengan tegas. Sebagai orang tua, kita mesti mendidik anak dengan konsisten, tapi tidak berarti harus berbuat kasar, baik dengan memukul, mengurung mereka di kamar gelap setelah melakukan kesalahan, apalagi memaki mereka hingga menangis. 

Paparan verbal abuse dari orang tua kepada anak berusia 13 tahun meningkatkan risiko depresi dan masalah perilaku remaja usia 13-14 tahun. Hal ini merupakan hasil dari study Longitudinal pada 976 keluarga. Selain itu, kekerasan pada anak bisa merusak relasi keluarga yang tentu saja itu merugiakan kita sebagai orang tua. 

Islam telah mengajarkan betapa pentingnya kasih sayang dan ketulusan kepada buah hati. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan banyak contoh kedekatannya kepada anak kecil supaya umat Islam meneladani akhlak beliau. Rasulullah pernah membiarkan cucunya menaikinya ketika sujud, Rasul juga begitu humble dan suka bercanda dengan anak-anak yang pernah ditemuinya. 

Akhlak mulia yang Rasulullah contohkan selaras dengan banyak penelitian yang membuktikan bahwa kelekatan emosional yang baik antara orang tua dan anak bisa memberikan rasa aman. Ketika anak memiliki rasa aman, maka ia akan memiliki kemampuan untuk berkembang secata optimal dalam semua aspek kehidupan. John Bowlby yang merupakan psikolog Inggris menggambarkan bahwa kelekatan sebagai hubungan psikologis yang berkesinambungan di antara manusia. Kelekatan merupakan hubungan yang dipelajari dari lingkungan, pengasuh, serta semua orang yang berkaitan dengan anak. 

Kelekatan muncul ketika kita merespon kebutuhan anak dengan baik. Saat bayi menangis, kita mengerti bahwa dia sedang lapar, ingin digendong atau dipeluk, butuh ditemani, atau mungkin haus. Menjadi orang tua baru memang melelahkan, apalagi setelah melahirkan. Fisik yang masih lelah, kurang tidur, juga buah hati yang sering menangis membuat banyak ibu baru mudah stres. Inilah pentingnya peran ayah dalam membantu meringankan beban istrinya. Hal ini juga membantu membentuk bonding atau kelekatan antara anak dan ayahnya. 

Betapa sulitnya menjadi orang tua, tapi kita telah melihat banyak contoh dari Rasulullah yang begitu sabar menghadapi anak-anak. Kesabaran kita kepada buah hati bukan hanya akan menguatkan ikatan emosional, tetapi juga menjaga relasi kita dengan mereka supaya tetap stabil. 

Ketika melihat anak yang ‘bermasalah’ di sekolah, baik karena ia suka membully temannya, suka mencuri, berbohong, atau bahkan terlalu pendiam, sebenarnya kita bisa melihat bagaimana pola asuh orang tuanya di rumah. Anak tidak serta merta menjadi pintar setelah lahir. Ia melihat bagaimana lingkungan dan pengasuhnya merespon kebutuhannya. 

Ketika mereka sering melakukan hal-hal ‘menyebalkan’, tidak berarti mereka nakal. Bisa jadi, mereka hanya butuh perhatian dari orang-orang di sekitarnya. Dia hanya butuh dipeluk dan mendapatkan tempat aman. 

Anak-anak bukan orang dewasa. Beberapa hal tidak bisa diceritakan secara terang-terangan sehingga ia menyimpan rasa takut dan kebingungannya sendiri. Ketika ada anak bermasalah, jangan buru-buru menyalahkan si anak, tapi mari evaluasi pola asuh kita selama ini. Anak adalah cerminan orang tuanya. Mereka adalah ‘kita’ dalam versi sachet. Ucapan serta perilakunya tidak jauh-jauh dari adab orang tuanya.  

Anak yang diperlakukan dengan baik, penuh kesabaran, dan kasih sayang akan tumbuh menjadi anak yang percaya diri, mudah bergaul, dan sayang kepada orang-orang di sekelilingnya. Berbeda dengan anak yang sering dibentak, dimarahi karena kesalahan sepele, dihukum terlalu keras, maka ia cenderung mencari cara untuk melindungi dirinya dari kemarahan orang tuanya, misalnya dari salah satu kasus yang saya temukan, anak yang terlalu takut kepada orang tuanya jadi suka berbohong supaya orang tuanya tidak memarahinya. Ia juga kerap melampiaskan kemarahannya kepada teman sekelasnya. Menjadi sulit ketika orang tua merasa anaknya baik-baik saja sehingga sering kali mereka menyalahkan anak lain dan mencari kambing hitam dibanding mengevaluasi diri. 

Nabi Muhammad SAW selalu mengajak anak bermain dan berlemah lembut kepada mereka


Kisah Teladan Rasulullah SAW: Kasih Sayang Kepada Buah Hati
Photo by Baby Natur on Unsplash


Sahabat Anas rhadiayallhu ‘anhu bercerita, 
“Terkadang, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (mencandaiku dengan) memanggilku, ‘Wahai Dzal Udzunain (si pemilik dua daun telinga).’ Abu Usamah (salah satu periwayat hadis) mengatakan, ‘Beliau bermaksud untuk bersenda gurau dengannya.'” (HR. Tirmidzi) 

Banyak hadis yang meriwayatkan betapa Rasulullah menyayangi anak kecil di sekelilingnya. Beliau pernah terkena kencing seorang bayi dalam gendongannya, tapi tidak mempermasalahkan itu. Ketika berbicara dengan anak kecil, beliau mensejajarkan posisinya sebagai bentuk sayang dan menghargai lawan bicaranya. masya Allah. Betapa indahnya akhlak beliau.

Menurut saya pribadi, tidak ada yang namanya kebaikan yang bisa diterapkan dengan melakukan sikap dan perilaku buruk. Misalnya, demi mendisiplinkan anak, kita terpaksa memukul, mendiamkan, dan membentak anak-anak. Hal semacam ini hanya menimbulkan luka dan rasa takut, bukan kesadaran untuk patuh kepada aturan. 

Makanya, tidak heran banyak anak-anak yang dibesarkan dengan kekerasan atau pengabaian cenderung melakukan hal buruk di belakang orang tuanya. Tidak penting seberapa banyak waktu kita buat anak-anak karena tidak semua orang tua bisa stand by di rumah setiap waktu, tapi ketika bersama, berikan waktu kita kepada mereka tanpa teralihkan oleh pekerjaan atau hal lain. 

Saya percaya, anak-anak yang dibesarkan dengan kasih sayang tanpa mengesampingkan kedisiplinan akan mengerti kondisi orang tuanya. Tidak selalu menuntut, tidak selalu manja, bahkan mereka cenderung mandiri dan survive ketika harus tinggal jauh dari kita. 



Salam hangat,

Thursday, August 21, 2025

Review Buku Hidup Damai Tanpa Berpikir Berlebihan

 

Review Buku Hidup Damai Tanpa Berpikir Berlebihan
Photo: Dok pribadi

Adakah di antara teman-teman di sini yang suka membaca buku-buku yang ditulis oleh konselor, psikiatri, atau psikolog? Terlebih buku-buku terjemahan seperti yang akan saya review ini. Beberapa buku terjemahan isinya cukup berat, tapi untuk buku ini benar-benar ringan dan enak dibaca. Jumlah halamannya tipis, tidak makan waktu banyak, dan yang pasti isinya sangat menarik. 

Salah satu alasan kenapa saya akhirnya meminang buku ini tidak lain karena saya termasuk orang yang suka berpikir berlebihan alias overthingker. Setiap kali ada hal-hal yang di luar keinginan atau rencana, saya merasa suntuk, stres, pengin nangis, dan akhirnya susah tidur nyenyak. Kenapa ada orang-orang sensitif dan overthinking seperti kita di dunia ini? 

Sejauh yang saya pelajari, kehidupan kita yang sekarang, seperti apa kita di masa dewasa tidak jauh dari pengaruh saat kita dibesarkan. Saya bukan ingin mengkambinghitamkan orang tua dan pola asuhnya. Rasanya tidak dewasa serta tidak pantas selalu mengahakimi cara mereka membesarkan anak-anaknya, tapi dalam penelitian pun memang disinggung hal yang sama. Ibaratnya, kita nggak akan tahu obatnya apa kalau kita sendiri nggak mencari tahu penyakitnya. Inilah yang saya lakukan sebagai upaya untuk menyembuhkan diri dan membantu agar saya kembali utuh setelah banyak hal dilewati hingga sedewasa ini. 

Selalu menarik berbicara tentang pola asuh, kesehatan mental, hingga trauma pengasuhan karena mungkin sedikit banyak saya mengalaminya. Itu juga sebenarnya yang melatarbelakangi saya akhirnya melanjutkan pendidikan dan mengambil jurusan Psikologi Islam. Membaca buku kesehatan mental tidak seberat membaca modul-modul kuliah, ya. Kwkwk.  

Sebagian adalah koleksi buku lama sebelum saya memutuskan melanjutkan pendidikan. Kenapa bisa suka buku-buku seperti ini? Ada salah satu buku dari seorang konselor Jepang (kalau tidak salah ingat) yang isinya benar-benar relate dengan kehidupan saya saat menjadi orang tua baru. Kamu bisa baca ulasan bukunya di sini.

Masa-masa mengasuh anak saat mereka masih kecil benar-benar membuat saya cukup sering menarik napas panjang. Dulu, saya nyaris menyerah, tapi Allah masih sayang kepada saya. Allah baik banget karena telah membantu saya sembuh. Apakah ini mudah? Nggak sama sekali. 

Dengan latar belakang pola asuh ala VOC, rasanya wajar jika setelah dewasa ada hal-hal di luar kendali diri dan kadang bikin nangis nggak habis-habis. Ternyata, pola asuh itu berpengaruh begitu besar kepada kehidupan kita, kehidupan anak-anak kita bahkan dari sebuah teori kelekatan menyebutkan,

Ikatan paling awal yang dibentuk oleh anak dengan ibu/pengasuhnya memiliki dampak luar biasa yang terus berlanjut sepanjang hidup. 

Bisa kamu bayangkan, jika ikatan emosional itu tidak berjalan sukses, seumur hidup kita akan menanggung beban itu hingga dewasa. Berat, ya? Hu hu. Dan, buku ‘Hidup Damai Tanpa Berpikir Berlebihan’ mungkin bisa sedikit membantu pola pikir kita yang suka overthinking dan cemas dengan hal-hal yang ada di luar kendali akibat pola asuh yang kurang ‘tepat’ saat kecil. 

Anak-anak melihat bagaimana orang tuanya merespon suatu masalah. Apakah ayahnya membanting barang ketika kesal dan tidak berhasil melakukan sesuatu? Apakah ibunya mencubit dan menyakiti anaknya ketika mereka tidak bisa diatur? Apakah ibunya cukup pemalu saat bertemu banyak orang? Hal-hal semacam itu dicontoh oleh anak-anak tanpa kita sadari. 

Bagaimana anak-anak saya terlalu menutup diri dalam lingkungan sosial di rumah, betapa mereka merasa kesal kalau diminta keluar rumah dan berkumpul dengan tetangga saat ada acara di sana, dan hal-hal itu saya yakin diadaptasi dari ibunya...kwkwk. Well, sejujurnya akhir-akhir ini, saya sudah merasa jauh lebih baik sebagai manusia. Saya bukan lagi manusia yang nggak enakan, saya bisa memberi batasan, dan pelan-pelan tidak terlalu peduli dengan komentar orang. Membaca buku yang ditulis oleh dokter Tsuneko dan dokter Hiromi ini benar-benar membuka mata saya bahwa hidup tuh nggak perlu dipikirin berat-berat dan capek. Kita tidak selalu harus punya hubungan dekat dengan seseorang jika akhirnya hanya saling menyakiti. Kita tidak harus selalu berambisi mencapai ini dan itu jika hidup seperti sekarang saja sudah baik dan cukup. Buku ini benar-benar menampar saya. Kenapa kita terlalu keras kepada diri sendiri?  

Hidup Tidak Selalu Memberi Kita Pilihan 


Review Buku Hidup Damai Tanya berpikir berlebihan
Photo: Dok pribadi

Saat menyadari bahwa kita tidak lahir dari keluarga berada dan cukup, rasanya tidak ada hal paling tepat selain jalani aja sampai selesai. Karena kita tidak bisa menukar tempat dan posisi dengan orang lain, sedangkan mengeluh dan berangan terlalu jauh sering membuat kita kehilangan arah dan tujuan hidup. Kenapa sih kita nggak jadi Maudy Ayunda yang hidupnya serba sempurna? Punya keluarga harmonis dan berada, bisa sekolah ke luar negeri, dan menikah di usia muda dengan orang yang tepat. 

Dokter Tsuneko tidak punya pilihan ketika harus melanjutkan sekolah kedokteran. Di masa perang, dia ikut keluarganya yang bersedia membiayai pendidikannya. Katanya, itu bukan hal yang dia inginkan, tapi dia tidak punya pilihan. Karena tetap tinggal bersama orang tuanya yang pas-pasan hidupnya akan menyulitkan diri dan keluarganya di masa depan. 

Ketika ditanya apakah beliau sangat mencintai pekerjaannya? Kenapa bisa dikerjakan hingga 70 tahun lebih? Dia bilang, tidak juga. Ha ha. Dia nggak secinta itu sama pekerjaannya. Hu hu. Namun, jika ditanya apakah dia suka? Ya, dia memang suka menjalaninya meski telah bekerja puluhan tahun lebih di rumah sakit. Amazing banget, kan? 

Kalau dari yang saya pahami, dokter Tsuneko tipenya nggak terlalu berambisi dengan hal apa pun. Ketika bekerja di rumah sakit, dia tidak mengejar jabatan tinggi, tapi lebih menikmati kariernya sebagai psikiatri dan berhubungan baik dengan semua orang. Apakah beliau tidak pernah punya masalah dengan orang lain? Jawabannya nggak. Kenapa bisa seaman itu hidupnya? Sebenarnya, mungkin karena beliau orangnya bijak dan nggak gampang emosi. Ketika dia berdebat dengan dokter lain mengenai suatu hal, dia tidak membesar-besarkan masalah itu dan kembali berbaikan keesokan harinya. Dokter Tsuneko bakalan minta maaf meski dia nggak salah. Semua itu membuat hidupnya berjalan baik. 

Tidak Membenci ataupun Menyukai Orang Lain 


Review Buku Hidup Damai Tanya berpikir berlebihan
Photo: Dok pribadi

“Saat orang lain memerhatikan kita, ucapkan terima kasih dengan tulus. Dan, terimalah kasih sayang yang diberikan dengan gembira. Sebaliknya, ketika orang lain pergi menjauh, biarkan ia menjauh. Sikap “berterima kasih untuk apa yang datang, dan tidak mengejar apa yang pergi” pada akhirnya paling meringankan bagi kedua belah pihak.” (Hal. 29) 

Dalam sebuah hubungan, terutama dalam pertemanan atau bahkan hubungan keluarga, sering kali kita menjadi dekat, tapi di kemudiah hari menjadi bermusuhan atau saling menjauh. Salah satu ilmu yang bisa dipelajari dari dokter Tsuneko tentang hubungan dengan manusia adalah memutuskan untuk tidak membenci siapa pun, tapi tidak juga menyukai mereka (atau menjadi dekat). 

Jadi, kita bisa memperlakukan seseorang sewajarnya. Toh setelah dewasa, kita hanya butuh kepada anak-anak ataupun pasangan (keluarga inti) dibanding orang lain. Melihat mereka baik-baik saja, bisa kita ajak bicara, dan tertawa bersama merupkan hal yang lebih dari cukup. Kenapa baru baca buku ini sekarang setelah sekian banyak hubungan pertemanan menjadi asing di kemudian hari? Hu hu.

Dokter Tsuneko tetap baik dan humble kepada semua pasiennya, tapi beliau bisa memberikan batasan supaya tidak terlalu dekat. Beliau juga sering berbagi cerita dengan pasiennya karena menurutnya, hal itu bisa menghilangkan stres atau mengurangi beban pikiran. 

Ketika suaminya sering mabuk-mabukan, dokter Tsuneko memutuskan tidak minta cerai, tapi memilih mengurangi stresnya dengan berbagi cerita menjengkelkan tentang pasangannya kepada pasien. Jujur, ini bagian yang lucu, tapi suaminya sebenarnya memang baik sehingga masih layak dipertahankan. Beliau mementingkan keutuhan hati buah hatinya dibanding menuruti egonya. 

Ketika dokter Tsuneko sangat kesal kepada sang suami, beliau membuat target pendek seperti dia akan mempertahankan pernikahannya sampai kedua anaknya menikah. Setelah itu, dia ingin bercerai. Namun, setelah waktu terlewati, dia menemukan suaminya sudah menjadi lebih baik dan akhirnya mengurungkan niatnya untuk berpisah. Alasannya? Karena mengurus perceraian juga merepotkan katanya. Ha ha. Lawak sekali ya, beliau ini.

“Pada dasarnya manusia makhluk yang kuat. Mungkin terlihat kembali ke titik nol, tapi sebenarnya itu adalah titik permulaan. Pada gilirannya, manusia terlahir kembali seperti burung phoenix, lalu berpikir “Mengapa sebelumnya saya merisaukan soal itu?” atau “Ternyata sekarang saya sudah lebih kuat.” dan kemudian menjalani hidup dengan ringan. Apa pun yang terjadi, sebagian besar akan bisa diatasi. Atau lebih tepatnya, hidup akan mencari jalannya sendiri.” (Hal. 71) 

Kunci dari hidup tenang adalah sewajarnya memberikan porsi kepada hal apa pun, baik itu kepada pekerjaan, keluarga, juga manusia. Dokter Tsuneko juga menjaga privasi anak-anaknya setelah mereka menikah. Dia bahkan memilih tinggal seorang diri setelah suaminya meninggal dibanding harus tinggal bersama anaknya. Katanya, kenapa harus takut mati? Bukankah itu hal alamiah yang pasti terjadi? Justru kalau kita mati sendirian di rumah, kita tidak akan merepotkan keluarga atau anak-anak. 

Makanya, meski sudah berusia 90 tahun lebih, beliau tetap bekerja di rumah sakit supaya tidak ada banyak waktu melamun di rumah. Waktu luang di rumah bisa memicu pikiran kita untuk berpikir berlebihan atau memikirkan hal-hal yang tidak penting. Menurut saya, pendapat ini benar adanya. Ibu saya juga jarang sekali berkegiatan di luar rumah. Beliau tidak punya teman kajian karena kesulitan pergi ke mana-mana seorang diri. 

Tinggal di rumah tanpa kegiatan berarti dan dengan kondisi suka berpikir berlebihan benar-benar menjadi komposisi sempurna untuk menimbun beban stres di kepala. Hingga kemudian, Ibu akhirnya tidak sadarkan diri sampai berhari-hari. Dokter pernah bilang, mungkin Ibu tidak depresi, tapi kalau stres sih kemungkinan besar iya. Saya pun yakin Ibu stres karena sering menyimpan banyak beban, bahkan yang sudah berlalu bertahun-tahun silam. 

Hidup itu pilihan. Mau bagaimana dan dengan cara seperti apa kita melewatinya? Sebagai seorang perempuan, sangat penting untuk memiliki kegiatan di rumah, bukan sekadar pekerjaan sehari-hari sebagai Ibu Rumah Tangga. Kita mesti punya hobi, hal-hal sepele yang bisa dikerjakan bersama teman, bisa datang kajian supaya energi kita terisi kembali meski akhirnya harus naik turun lagi. Hal-hal seperti ini saya yakin bisa menjadi hiburan bagi masa tua kita nanti. 


Salam hangat,

Tuesday, August 19, 2025

Hak-Hak Anak Dalam Islam

 

Hak ancak dalam Islam
Photo by Aldin Nasrun on Unsplash

Anak merupakan anugerah yang orang tua harapkan kehadirannya setelah menikah. Di dalam Islam, hak-hak anak diatur dengan sedemikian detail sehingga diharapkan tidak ada lagi anak-anak yang terzalimi sebagaimana terjadi pada zaman jahiliyah ribuan tahun silam. Namun, saat ini, masih banyak orang tua yang belum menunaikan hak anaknya disebabkan ketidaktahuan mereka atau sengaja mengabaikan aturan yang telah banyak disebutkan, terutama di dalam hadis-hadis Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka lebih fokus menuntut hak sebagai orang tua yang mesti dihormati dan tidak boleh dibantah sedikit pun. 

Jauh sebelum anak lahir, seorang calon suami atau istri hendaknya mencarikan calon ayah atau ibu yang baik bagi anak-anaknya nanti. Di dalam Islam, ada poin-poin yang mesti diperhatikan sebelum memilih pasangan. Kriteria ini hendaknya dijadikan pegangan terutama bagi umat Islam yang hendak menikah.

1.Pilihlah pasangan yang baik agamanya 

Dijelaskan bahwa orang yang baik agamanya berarti ia mampu memahami ajaran Islam yang lurus, menjalankan syariat agama dengan baik, serta memiliki adab, dan ilmu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, 

“Perempuan itu dinikahi karena empat faktor yaitu agama, martabat, harta, dan kecantikannya. Pilihlah perempuan yang baik agamanya. Jika tidak, niscaya engkau akan menjadi orang yang merugi”. 
(HR. Bukhari dan Muslim) 

Menikah dengan orang yang keliru bisa menyebabkan kerusakan dalam rumah tangga. Bagi kita, sulit mengubah orang yang sudah dewasa dan tumbuh dalam lingkungan yang buruk. Tidak mudah mengubah seorang lelaki atau perempuan yang terbiasa meninggalkan salat. Tidak mudah juga mengajari apa itu sabar kepada lelaki yang tempramen. Jika kita keliru memilih pasangan, rumah tangga pun akan berantakan. Hal ini juga turut memberikan pengaruh buruk kepada anak-anak kita nanti. Itulah sebabnya, jauh sebelum mendidik anak, kita harus memilih calon pasangan yang sesuai dengan aturan syariat Islam. Jangan hanya termakan janji manis, tapi pastikan ia juga termasuk orang-orang yang mengamalkan agamanya dengan baik. 

2. Pilihlah pasangan dari latar belakang keluarga yang baik 

Riset genetika membuktikan bahwa anak mewarisi sifat-sifat moral, fisik, hingga intelektual orang tuanya. Karena itulah Islam menganjurkan kita supaya memilih pasangan dari nasab yang baik dengan harapan anak-anak yang lahir bisa tumbuh menjadi pribadi yang bertakwa serta bermoral. 

3. Jangan memilih pasangan dari keluarga dekat 

Islam menganjurkan supaya kita tidak memilih pasangan dari keluarga dekat seperti sepupu. Bukan tanpa alasan, hal ini menyimpan hikmah yang sangat baik di antaranya dapat melahirkan keturunan yang cerdas, menghindari penyakit menurun, serta memperluas hubungan keluarga. 

4. Pilihlah perempuan yang masih gadis serta subur 

Ada alasan kuat di balik anjuran memilih pasangan yang masih gadis, salah satunya demi menjaga keintiman dalam hubungan suami istri. Perempuan yang belum menikah diharapkan bisa mencintai pasangannya tanpa membandingkan dengan pasangan sebelumnya. Namun, bukan berarti seorang janda tidak dihormati di dalam Islam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menikahi sayyidah Khadijah disebabkan nasab serta kemuliaannya. 

Selain itu, Islam juga memerintahkan supaya seorang calon suami menikahi perempuan subur yang diharapkan dapat memberikan keturunan. Hal ini juga sejalan dengan harapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang ingin melihat umatnya dalam jumlah banyak. 

Hak-Hak Anak Dalam Islam 

Hak-hak ancak dalam Islam
Photo by Aldin Nasrun on Unsplash

Ada beberapa hak anak yang mesti ditunaikan oleh orang tua. Beberapa di antaranya, 

  • Memilihkan calon ibu yang baik. Ibu merupakan sekolah pertama bagi anak-anak kita. Hampir seluruh waktu mereka habiskan bersama ibunya. Mereka belajar adab dan ilmu dari ibunya sebelum belajar di sekolah. Karena itulah, Islam menganjurkan supaya calon suami mencarikan ibu yang baik karena itu juga menjadi hak anak bahkan meski ia belum dilahirkan ke dunia. 
  • Mendoakan anak-anak kita supaya menjadi generasi saleh dan senantiasa dekat dengan Al-Qur'an. Tidak ada doa yang lebih mustajab selain doa orang tua kepada anaknya. Doa yang baik akan mengantarkan anak-anak ke jalan yang baik. Karena itu, hendaklah orang tua menjaga emosinya supaya tidak mudah berkata kasar ataupun mendoakan keburukan bagi anak-anaknya. 
  • Berikan nama anak-anak kita dengan nama yang baik. Nama yang baik akan menjadi panggilan serta doa yang akan ia bawa sampai mati. Kita boleh menamainya dengan Abdurrahman, Abdullah, atau Aisyah, serta Fatimah. 
  • Orang tua harus memberikan teladan serta contoh yang baik kepada anak-anaknya. Seorang anak berhak melihat kebaikan dalam keluarganya karena ia akan mencontoh dan meneladani orang-orang terdekatnya sebelum teman-temannya. Itulah kenapa ada kalimat yang menyebutkan bahwa mendidik anak sama dengan mendidik diri sendiri. Sebelum mendidik mereka, hendaklah kita memperbaiki amal serta adab diri karena semua itu akan dicontoh oleh mereka. 
  • Mendidik anak-anak kita dengan aqidah yang lurus sehingga mereka terjaga imannya serta dijauhkan dari perbuatan syirik. Pendidikan agama merupakan tanggung jawab orang tua karena fitrah seorang anak sejatinya beriman kepada Allah. Orang tuanyalah yang membawanya kepada agama lain selain Islam. 
  • Mengajarkan dan mencontohkan anak supaya mengerjakan salat fardhu. Berdasarkan pengalaman penulis, anak-anak tidak serta merta hanya diperintahkan untuk salat, tapi juga diajak salat bersama, dicontohkan sejak kecil dengan rajin membawanya ke masjid untuk salat berjamaah, dan memilihkan sekolah Islam yang mengajarkan mereka hal yang sama. Hal ini benar-benar memudahkan mereka supaya istikamah melaksanakan salat tanpa harus dipaksa setiap harinya.
  • Memperlakukan anak-anaknya dengan adil. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melarang seseorang memberikan sesuatu hanya kepada salah seorang anaknya, sedangkan yang lainnya tidak. Maka, Rasul dengan tegas melarang hal itu. Selain tidak adil, hal ini juga dapat menimbulkan kecemburuan di antara mereka sehingga muncullah masalah yang bisa merenggangkan hubungan keluarga. 
  • Jangan membedakan antara anak perempuan dan anak lelaki sebagaimana kaum kafir Quraisy yang suka mengubur bayi perempuannya hidup-hidup. Saat ini, masih banyak orang tua yang mengagungkan anak lelakinya dan menganggap rendah anak perempuannya. Hal ini sangat bertentangan dengan ajaran Islam yang telah dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  • Berikan pendidikan yang baik bukan hanya baik dari sisi akademik, tapi juga agamanya. Hal ini merupakan bagian dari tanggung jawab orang tua dalam mendidik putra putrinya yang mesti ditunaikan supaya mereka memiliki adab serta ilmu sesuai dengan ajaran Islam yang lurus. 

Anak merupakan doa serta permintaan orang tua kepada Allah. Membesarkan anak serta mendidiknya dengan baik merupakan tanggung jawab orang tua dan tidak seharusnya menjadikannya sebagai beban. Kebaikan orang tua kepada anak-anaknya bukanlah pekerjaan yang mesti dibalas dengan harga yang sama. 

Orang tua punya kewajiban berbuat baik kepada anak-anaknya, sedangkan anak-anak tetap dibebankan kewajiban untuk berbakti kepada orang tuanya. Seiring berjalannya waktu, masih banyak orang tua yang meminta imbalan balas jasa kepada anaknya dan sering mengungkit pemberiannya seolah anaklah yang meminta dilahirkan ke dunia. 

Menurut saya, hal ini tidak seharusnya terjadi mengingat baik orang tua ataupun anak sama-sama memiliki tanggung jawab serta kewajiban yang mulia di sisi Allah. Menjalankan kewajiban kita masing-masing membuat hubungan antara orang tua dan anak menjadi harmonis dan tidak saling menzalimi satu sama lain. Itulah kenapa, sebagai seorang muslim kita harus belajar ilmunya sehingga bisa mengamalkan tanpa harus menyakiti siapa pun. 


Salam hangat,

Wednesday, July 2, 2025

Pesantren dan Pendidikan Seksual Sejak Dini

 

Pendidikan seksual sejak dini
Photo by Budi Gustaman on Unsplash



Banyak orang tua berharap bahwa menyerahkan anak-anaknya ke pesantren bisa menjadi solusi kenakalan mereka selama berada di rumah. Padahal, pesantren bukan bengkel. Pesantren tidak didesain semata-mata untuk membenahi kekeliruan pada anak yang disebabkan karena kesalahan pengasuhan selama di rumah. Meski anak kita telah mengenyam pendidikan di pesantren, bukan berarti mereka menjadi saleh dan mendapatkan lingkungan yang steril. No, pesantren tidak memberikan jaminan itu. Bahkan beberapa pesantren terlibat dalam kasus pelecehan seksual yang dilakukan oleh ustadz atau pengasuhnya sendiri.

Makin ke sini, kita makin sadar bahwa di pesantren juga banyak terjadi kasus bullying hingga pelecehan. Di pesantren, juga ada kasus anak bunuh diri karena merasa tertekan. Di pesantren juga, kita bisa melihat kondisi lingkungan yang tidak sebaik seperti yang kita bayangkan selama ini. Di sana, di tempat yang kita pikir steril dan aman, banyak juga terjadi kasus L*BT. Bahkan saat saya mengenyam pendidikan di pesantren sejak belasan tahun lalu, hal semacam ini sudah ada. 

Kaget? Sebenarnya nggak terlalu kaget mengingat saat ini, dunia maya bisa diakses lebih mudah dan memberikan banyak informasi yang lebih luas, lebih bebas, dan tentu lebih liar jika kita tidak mengendalikan diri. Bagaimana dengan anak-anak kita? 

Saat ini, banyak anak usia dini sudah punya HP sendiri. Jangan heran, di usia 12 tahun, hampir semua anak sudah diberi kebebasan untuk membeli ataupun memiliki HP sendiri. Nggak masalah, tapi apakah benar mereka sudah tahu baik dan buruknya penggunaan media sosial dan sejenisnya? Apakah mereka tahu bahwa di dalam permainan atau games yang mereka mainkan terdapat bahaya yang mengintai? Apakah mereka tahu bahwa pornografi bisa diakses dengan mudah, tapi risikonya bisa merusak otak anak? Apakah mereka tahu bahwa menghilangkan kecanduan pornografi dan games tak semudah seperti yang mereka bayangkan? Apakah mereka bisa mengendalikan dirinya ketika sudah kecanduan games? Apakah mereka tahu bahwa anak seusia mereka sering kali kesulitan menyaring informasi sehingga semua hal akhirnya mereka lihat dan tonton? 

Cukup disayangkan ketika saya mendengar putra saya bercerita tentang lingkungan pesantrennya di mana banyak anak dengan santainya ngobrolin tentang pornografi tanpa seorang pun menegur mereka. Bahasa yang kasar dan vulgar bahkan lebih kentara dibanding yang sering didengarnya di luar. Kaget dan kecewa banget karena pihak pesantren kurang banget memberi pengawasan dalam hal ini. Para ustaznya bahkan tidak tahu tentang masalah ini. 

Jika dulu di asrama saya, seorang ketua kamar benar-benar merasa bertanggung jawab terhadap adik kelasnya, lain lagi di sini. Ketua kamar atau musrifnya ternyata cuek banget sampai-sampai dia nggak memberikan aturan kepada adik kelasnya. Hal inilah yang membuat kondisi asrama menjadi bebas dan ‘liar’. 

Seharusnya, setiap musrif menjalankan aturan yang sama dari kepala asrama. Jangan sampai di asrama ada anak yang bicaranya kasar, dipinjamkan HP dengan bebas tanpa kenal waktu, dan sebagainya. Bukankah tugas ini juga jadi tanggung jawab pesantren untuk mengawasi para santri? Dengan waktu 24 jam dalam sehari, anak-anak bisa lebih banyak berinteraksi dengan teman-temannya dibanding saat berada di rumah. Andai anak-anak kita bersekolah di rumah, mereka hanya bertemu teman-temannya paling lama hanya sampai siang atau sore. Sedangkan di pesantren, mereka bisa sehari semalam bertemu dan ngobrol. Kebayang nggak sih kalau lingkungan di pesantren ‘sekotor’ itu? Apa dampaknya buat anak-anak yang berusaha baik dan menjaga dirinya? 

Dari awal, saya dan suami tidak mengatakan bahwa pesantren itu steril karena kami sama-sama berasal dari latar belakang pendidikan yang sama. Kami tahu isinya pesantren itu seperti apa. Jadi, menyekolahkan anak-anak di sana bukan karena ikut-ikutan orang, bukan mau mendidik anak secara instan, tapi hasil dari kesepakatan kami dan juga anak-anak. 

Anak-anak yang di rumah sudah dididik dengan baik, saya yakin tidak akan mudah terbawa arus pergaulan negatif, tapi bukan berarti mereka akan aman, ya. Jika di sana tidak bisa memilih teman yang baik, bisa jadi mereka akan ikut-ikutan melakukan hal yang bukan-bukan disebabkan usia mereka juga sedang ada di fase mencari jati diri. 

Jadi, mesti gimana dong? Sering-sering ajak anak-anak kita ngobrol. Jangan sampai kita memiliki jarak, jangan sampai mereka lebih memilih teman dibanding orang tuanya. Jaga komunikasi dan dengarkan ketika anak-anak kita bercerita. Dengan begitu, mereka merasa punya tempat pulang, tempat bercerita yang aman, dan tidak mencari orang lain supaya didengarkan. 

EDUKASI ANAK-ANAK TENTANG PENGGUNAAN GADGET 

Pendidikan seksual sejak dini
Photo by Sajad Nori on Unsplash


Berapa banyak orang tua yang abai dengan masalah ini. Tidak mengedukasi anak-anaknya, tapi memberikan akses sosial media dengan bebas. Anak-anak yang terlalu kecil belum bisa mengerti dan memahami pendidikan sesksual sehingga mudah bagi mereka ikut-ikutan teman dan melihat konten-konten yang tidak pantas. Pornografi itu bisa merusak anak-anak kita. Ketika mereka tidak tahu menahu soal pornografi, tapi diajak temannya yang lebih besar atau teman-teman sebayanya untuk melihat video yang tidak pantas, mereka akan bersenang-senang tanpa merasa bersalah. Tak sadar jika hal itu bisa merusak masa depan mereka sendiri. 

Pliss, sebelum memberi HP ke anak, edukasi mereka tentang penggunaan media sosial dan sejenisnya. Jangan sampai anak-anak kita juga jadi perantara keburukan terhadap anak-anak yang lain. 

Jangan merasa tabu dengan hal ini. Jangan merasa terlalu dini untuk mengenalkan pendidikan seksual sesuai usia mereka sebab di luar sana, mereka bisa tahu lebih cepat dibanding yang kita bayangkan. Andai mereka mau bercerita kepada kita sebagai orang tua, maka ini jauh lebih baik, tapi bagaimana jika mereka justru tidak bercerita dan mengakses konten-konten pornografi dengan teman-temannya dalam waktu yang lama? 

Nggak bisa dibayangkan kerusakan sebanyak apa yang akan anak-anak kita dapatkan. Ngobrolin hal semacam ini bisa dimulai dari hal-hal sederhana. Sebagaimana Islam juga telah mengajarkan supaya kita tidak sembarangan membuka, melihat, dan menyentuh aurat orang lain. Misalnya, jangan mau ya disentuh bagian tubuh kita oleh orang lain bahkan meski itu teman dekat atau kerabat sekalipun. Jangan mau ya main dokter-dokteran dan membuka area di bawah perut dengan alasan mau memeriksa. Jangan mau ya main tidur-tiduran bareng siapa pun. Banyak sekali edukasi sederhana yang bisa kita ajarkan kepada anak-anak kita di rumah. 

Jangan menunggu terlambat. Jangan menunggu anak-anak kita tumbuh besar, sebab mereka bisa mendapatkan informasi yang lebih ‘liar’ di luar sana tanpa pernah bisa kita prediksi. Kenapa saya bisa bicara seperti itu? Pengalaman punya dua anak laki-laki dan sama-sama mengalami hal yang mirip. Ada temannya yang masih kelas 1 SD bercerita tentang pornografi di kelas, ada temannya yang masih kelas 3 SD bermain permainan yang mengarah pada tindakan s*d*mi. Kasus-kasus ini bisa dilaporkan dan diselesaikan karena anak-anak mengerti bahwa itu tindakan tidak wajar dan sangat berlebihan. Mereka bisa bercerita karena kami sering berdiskusi tentang ini. Mereka bisa lapor tanpa merasa takut karena mereka tahu tindakan itu tidak baik dan mesti diedukasi supaya teman-temannya bisa berhenti. 

Mau di mana pun, anak-anak itu tanggung jawab orang tuanya. Meski mereka sekolah di SDIT ataupun pesantren, orang tua tetap punya peran dan bertanggung jawab terhadap pendidikan mereka. Jangan karena telah memasukkan anak ke pesantren, orang tua jadi lepas tangan. Bisa jadi, kesalahan mereka berawal dari pendidikan di rumah. Sudahkah kita melakukan tugas dan kewajiban sebagai orang tua dengan baik? 




Salam hangat,

Sunday, April 20, 2025

Viral Film Jumbo, Benarkah Telah Menyentuh Batas Akidah?

Viral Film Jumbo, Benarkah Telah Menyentuh Batas Akidah?


Film Jumbo merupakan karya anak bangsa yang belakangan sedang hangat diperbincangkan diperdebatkan. Sebelum Jumbo, kita juga punya film Nusa dan Rara yang animasinya tak kalah bagus. Namun, Jumbo ini berbeda. Beberapa orang memperdebatkan isi ceritanya yang dinilai telah menyentuh batas akidah. Benarkah?


Saya nonton Jumbo bersama anak-anak. Jujur saja nggak expect akan ada yang kontra berlebihan setelah nonton film ini. Karena sejak awal saya juga sudah menyadari bahwa Jumbo ini merupakan film universal. Tidak seperti Nusa dan Rara yang islami, Jumbo nggak begitu.


Ketika saya nonton bersama anak-anak, mereka menikmatinya dan sama sekali nggak berpikir soal ‘minta-minta’ kepada selain Allah karena sadar betul Jumbo merupakan film fantasi. Memang ada hantunya, tapi kami nggak berpikir sejauh itu karena datang ke bioskop niatnya memang cari hiburan. Gimana ya, seperti Casper, Jin dan Jun, ada lagi? Waktu kecil kita juga sering menikmati film hantu, kan? Yes, sesederhana untuk mencari hiburan saja.


Ketika Imajinasi Menyentuh Batas Akidah

“Ya kali anakku kan belajar akidah juga di rumah. Masa nonton begituan?”


Anak saya juga belajar tentang akidah, bahkan yang sulung sudah masuk pesantren. Ketika saya berdiskusi dengannya, sama sekali nggak kepikiran soal minta-minta sama hantu ‘Meri’ itu sudah menyentuh batas akidah kita sebagai muslim. Apalagi Jumbo bukan film islami. Saya justru mengambil pelajaran bahwa ketika kita punya janji, ya harus banget ditepati, nggak mau enaknya sendiri, hanya mau didengar, tapi nggak peduli dengan temannya yang sedang kesulitan seperti yang awalnya dilakukan Jumbo kepada Meri.


Kalau teman-teman pernah nonton Ipin Upin, ada juga lho versi sihir-sihir gitu. Nenek Kabayan juga pernah melawan Atok dengan kekuatan sihir mereka. Nggak ada yang komplain soal itu, kan? Kalian menikmati dan ngasih ke anak-anak. Sadar betul itu bentuk imajinasi yang sebenarnya nggak bersentuhan dengan keyakinan kita sebagai muslim.


Jika teman-teman khawatir akidah anak-anak oleng, coba dipertimbangkan lagi tontonan mereka. Karena anak-anak merupakan tanggung jawab kita sebagai orang tua. Saya pribadi lebih senang mengedukasi anak-anak secara pribadi (dalam hal ini) dengan pertimbangan bisa merugikan orang lain yang sudah bekerja keras membuat film luar biasa di negeri kita. Nggak mudah lho bikin film kartun. Butuh waktu bertahun-tahun dan melibatkan banyak orang, juga dana yang besar. Makanya, nggak banyak kan film kartun yang kita punya? Kalaupun ada, kualitasnya nggak banget. Hanya satu dua saja yang bisa kita nilai bagus.


Film Jumbo, Kok Menampilkan Produk Boikot?

Ketika nonton Jumbo, kita akan salfok sama beberapa produk boikot yang muncul di dalam film ini. Pembuatan film kartun itu nggak murah, mereka butuh support bukan hanya doa dan dukungan, tapi juga materi. Bisa jadi, waktu itu hanya mereka yang bisa bantu dan tentu saja waktu itu belum ada ajakan boikot. Pembuatan film ini memakan waktu 4-5 tahun yang artinya belum bergaung ajakan memboikot produk-produk yang terafiliasi.


Perjanjian kerja juga tidak bisa seenaknya dihentikan. Dulu sudah dibantu, kok tiba-tiba mau menarik produk itu dari filmnya. Kira-kira bisa, nggak? Perjanjian nggak mungkin semudah itu dibatalkan kecuali belum terjadi kesepakatan kerja.


Bantu anak-anak mengerti dan memahami mengapa masih ada produk boikot dalam film ini. Jangan langsung benci sepihak. Ini film lokal yang membanggakan banget lho animasinya. Sejauh ini, animasi Jumbo keren banget meski ceritanya mungkin nggak sesuai harapan beberapa orang. 


Banyak Pelajaran ‘Baik’ Dari Film Jumbo

Don atau Jumbo punya karakter pantang menyerah, suka mendongeng, optimis, ceria, dan penuh semangat. Penampilan yang berbeda tidak menunjukkan kita lebih baik atau sebaliknya. Don punya teman-teman yang sangat mendukung mimpinya. Mereka saling bantu tanpa pamrih. Mereka bersemangat dan mau mencoba banyak hal baru.


Dari sisi mana pun, film ini tetap menawarkan pelajaran baik buat anak-anak, termasuk kepada kita sebagai orang tua. Orang tua Don sayang banget kepada putranya, begitu juga neneknya. Meski akhirnya kedua orang tuanya meninggal, Don tetap hidup dengan baik. Karakter orang tua Don wajib kita contoh. Memberi perhatian dan kasih sayang itu hak anak-anak kita. Sesibuk apa pun, anak-anak adalah prioritas. 


Dalam kehidupan nyata, sudah banyak saya lihat anak-anak yang kurang perhatian cenderung tidak tumbuh dengan baik. Kalau anak kita bermasalah, harus banget kita menengok sikap kita kepada mereka alih-alih memarahi dan selalu menyalahkan mereka.


Dari awal saya katakan, film Jumbo animasinya bagus banget karena kita belum pernah punya film kartun yang animasinya sekeren ini. Perlu dingat, film Jumbo bukan film islami sehingga tidak bisa kita jadikan sebagai film edukasi muslim buat anak. Jika ke bioskop untuk mencari hiburan, boleh kita nonton film ini. Jika mau belajar agama, sebaiknya cari tontonan islami yang sesuai seperti Nusa dan Rara mungkin.


Jangan menggiring opini negatif terlebih di zaman sosial media seperti sekarang. Apa susahnya mengapresiasi karya anak bangsa? Kapan kita akan berkembang jika setiap karya selalu mendapat perlakukan seperti ini? 


Salam hangat,


Saturday, March 15, 2025

Pengalaman Mengikuti EBTAQ 2025

Laporan Tahunan EBTA 2025
Photo by Madrosah Sunnah on Unsplash


EBTAQ merupakan singkatan dari Evaluasi Belajar Tahap Akhir Qiraati. Zaman dulu, kita mengenalnya dengan sebutan IMTAS.


Qadarullah , tahun ini, giliran si bungsu mengikuti EBTAQ di sekolahnya. Lumayan deg-degan, ya karena materinya lumayan banyak atau bahkan memang banyak banget. Sejak awal sudah bisa ditebak bakalan ada nangisnya walaupun hanya sedikit…kwkwk. 


Gurunya pernah khawatir karena si bungsu sempat berkaca-kaca saat try out . Sebenarnya, tidak ada masalah. Nilainya juga masih terbilang lumayan, tapi anaknya terlalu khawatir meski kami tidak menuntut hasilnya harus selalu bagus.


Kedua anak saya tipenya suka belajar. Hobi mereka membaca buku. Nggak ada aplikasi games di gadget bukan berarti nggak pernah main games di rumah . Mereka bebas menggunakan laptop ataupun tablet sesuai kebutuhan. Misalnya, pakai tablet untuk membaca buku di Ipusnas, buka Google untuk mendapatkan informasi atau mencari gambar, dan pakai laptop untuk membuat permainan, dll. Sejauh ini, mereka tidak pernah memakai lebih dari itu apalagi tanpa izin.


Banyak orang berpikir bahwa hidup kami terlalu serius. Kalau nggak main HP, lalu ngapain saja di rumah? Pertanyaan itu sering banget dilontarkan dan saya pribadi malah bingung, memangnya anak orang ngapain setiap hari? Kwkwk. 


Suatu hari, ketika ambil rapot, wali kelas anak saya berkomentar yang menurut saya tidak mendesak  untuk disampaikan terutama di depan anaknya langsung:


“Nilai adek sudah bagus ya, tapi bukan peringkat pertama.”


Saya bahkan tidak pernah menanyakan peringkat anak-anak di sekolah kecuali gurunya menyampaikan langsung. Jika ada nilai yang kurang, kami evaluasi dengan melihat lembar soal yang sudah dibagikan. Masalah pada anak saya biasanya kurang teliti. Itu juga yang saya dapatkan dari hasil psikotes ketika masuk sekolah.


Saya mengasuh anak-anak tanpa bantuan siapa pun kecuali pasangan. Jadi, saya sangat tahu bagaimana mereka sehari-hari. Bagaimana usaha mereka ketika ujian, ketika menghafal, ketika murajaah, dan betapa disiplin mereka tanpa diminta.


Allah itu tidak menuntut hasil, tapi meminta kita untuk berusaha. Namun, hampir selalu terjadi, ketika usaha kita maksimal dan sungguh-sungguh, maka hasilnya juga akan selalu baik. Itulah yang saya lihat dan ajarkan kepada anak-anak.


Karena saya tahu betapa besar usaha mereka ketika mau ujian dan mengerjakan tugas, saya bahkan tidak menunggu pembagian rapot hanya untuk memberikan reward . Setiap mau menjemput kakaknya ke pesantren, saya sudah menyiapkan reward  untuk dia yang orang sangka itu kado ulang tahun. Kwkwk. Begitu juga dengan adiknya. Jadi, hidup kami tidak seserius itu, kok. Nggak ada paksaan harus belajar sampai capek demi mendapat peringkat pertama karena saya sendiri tahu rasa nggak enaknya ketika nggak diapresiasi hanya karena menjadi nomor dua.


Ketika awal-awal belajar untuk persiapan EBTAQ, si bungsu sempat nangis karena merasa capek dan merasa tidak mampu. Saya minta dia berpikir baik-baik apakah mau melanjutkan atau mundur. Jika mau lebih lanjut, kita harus berusaha dulu dan jelas itu akan capek banget. Kalau ragu, mending mundur dan menunggu siap.


Akhirnya, dia memilih melanjutkan. Kalau mau lebih lanjut, saya minta untuk tidak setengah-setengah ketika belajar. Kenapa? Karena mau malas ataupun serius akan sama-sama capeknya. Setelah dapat ritmenya, dia mulai lebih santai dan qadarullah semua materi dia bisa hafal.


Sebenarnya, saya merasa terbantu banget dengan pengendalian dirinya dan rasa tanggung jawabnya yang luar biasa. Ketika sudah capek, saya suruh dia berhenti belajar. Istirahat dulu. Nanti bisa dilanjutkan lagi. Kadang, agak merepotkan ketika dia mau hafalan terus padahal kondisinya sudah capek banget. Ujungnya nggak bisa belajar dengan baik dan susah menghafal.


Saya mempelajari hal yang sama dari kebiasaan para ulama salaf. Ketika jenuh, mereka mengubah posisi atau mencari angin segar dibandingkan memaksa terus belajar. Buat saya, hal seperti ini sangat membantu supaya anak nggak gampang stres.


Gagal Merupakan Bagian dari Proses Belajar

Materi tentang EBTAQ bisa teman-teman pelajari sendiri. Materi yang diujikan biasanya tentang wudu dan salat, tajwid, gharib, serta doa-doa harian. Saya lebih tertarik membahas lebih jauh tentang cara menyikapi dan menerima kegagalan pada anak-anak kita.


Hidup tidak melulu tentang kesuksesan dan jalan yang semulus tepung. Gagal juga bagian dari proses yang harus dilalui. Ketika anak-anak kita ternyata gagal, gak lulus, tolong jangan patahkan hati mereka dengan menyalahkan, berkomentar buruk, atau mendiamkannya. Terpilih menjadi peserta EBTAQ saja sudah hebat banget lho. Nggak semua anak terpilih. Prosesnya juga berat banget, bahkan orang tuanya saja belum tentu mampu.


Ketika gagal, mereka sudah patah hati duluan bahkan sebelum kita berkomentar. Bayangkan setelah capek-capek berusaha, ternyata hasilnya tidak sesuai harapan? Mereka pasti pengin dirangkul dan didengar, bukan dihakimi apalagi diomeli.


Gagal juga bukan aib, kok. Nggak harus malu dengan hasil yang telah dicapai apalagi jika kita tahu proses mereka juga tidak mudah. Belajarlah untuk menerima agar anak kita juga merasa dikuatkan.


Persiapan EBTAQ saat ini memang jauh lebih matang dibandingkan zaman kakaknya dulu. Ujiannya juga dilaksanakan sampai dua kali. Lebih capek, tapi ternyata jauh lebih siap.


Sudah tahu kan kalau ini capek banget. Jadi, kalau hasilnya tidak sesuai harapan, gapapa banget, kan diterima karena anak-anak kita sudah berusaha mati-matian?


Tips Belajar Untuk Persiapan EBTAQ

Usahakan setiap hari ada materi yang dihafalkan dan dimurajaah. Kuncinya sering latihan dan menghafal. Orang tua harus banyak membantu di rumah. Jangan memaksa anak untuk belajar terus karena mereka pasti jenuh. Beri pengertian agar mereka bisa disiplin. Tahu kapan waktunya belajar, tahu kapan waktunya istirahat dan bermain.


Waktu saya dan si bungsu ngobrol, sempat saya tanya, pengin dikasih apa setelah ujian nanti? Tolong digarisbawahi, pengin dikasih apa setelah ujian , bukan setelah lulus, ya…kwkwk. Dia minta dibelikan hewan peliharaan, tapi bundanya nggak mau kalau hewannya besar-besar…kwkwkw. Jadi, kami memilih hamster.


Saat belajar, entah kenapa saking penginnya, dia sering membayangkan mengelus hamster…kwkwk. Nggak tega, diam-diam saya belikan hamster sak kandang-kandangnya kwkwk. Ternyata, malah jadi jeda yang bagus banget buat dia ketika jenuh. Setelah ada hewan kecil ini, dia kayak bahagia terus. Kalau capek lari ke hamsternya. Main-main kemudian belajar lagi.


Ketika ujian, dia sempat sakit bahkan muntah-muntah, tapi anaknya bahagia. Akhirnya pasrah saja, toh sudah belajar, kan?


Alhamdulillah hasilnya sesuai harapan. Capeknya terbayar. Stresnya juga hilang. 


Capek ikutan EBTAQ? Capek banget walaupun yang ujian cuma anaknya…kwkwk. Tidak ada usaha yang sia-sia. Nggak lulus pun tetap banyak manfaatnya. Sudah punya ilmunya yang nantinya akan dipakai sampai tua…huhu.


Berterima kasih dan meminta maaf kepada anak-anak tidak akan mengurangi wibawa kita sebagai orang tua. Justru anak akan belajar untuk menghargai dirinya sendiri jika sering diapresiasi. Hidup ini tidak mudah, jadi jangan lemahkan anak-anak kita dengan merusak  mental mereka. Kita juga pernah menjadi anak-anak, tapi mereka belum pernah menjadi orang tua. Apa salahnya jika kita belajar memahami mereka dibandingkan meminta mereka selalu memahami kita?


Salam hangat,

Thursday, January 23, 2025

Review Buku We’re Family But We’re Strangers

Review Buku We’re Family But We’re Strangers
Photo: Dok. pribadi


Kita keluarga, tapi kita asing satu sama lain. Kita keluarga, tapi tidak saling peduli satu sama lain. Ternyata, ada ya keluarga yang begini. Ketika anaknya butuh dibantu, orang tuanya tidak peduli. Ketika anaknya butuh dirangkul, orang tua malah menganggapnya hanya beban.


We’re Family But We’re Strangers saya beli tanpa sengaja ketika main ke Gramedia. Buku-buku berkisah tentang trauma pengasuhan belakangan selalu menarik minat saya. Buku ini salah satunya.


Ditulis oleh Won Jung Mee yang merupakan seorang konselor, buku ini berkisah tentang pengalaman hidupnya, tentang ia dan keluarganya, tentang ia dan traumanya, tentang ia dan prosesnya sembuh dari luka masa kecilnya.


Buku setebal 251 halaman ini ditulis dengan bahasa yang nyaman dan mudah dimengerti. Sebagai orang awam, saya jadi tahu kalau trauma pengasuhan itu memang ada dan memengaruhi diri kita ketika sudah dewasa, terutama setelah menjadi orang tua.


Won Jung Mee mengatakan bahwa rasanya tidak nyaman jika harus menceritakan pengalaman masa kecilnya karena secara tidak langsung ia juga telah menelanjangi kedua orang tuanya sendiri, tapi mengingat buku ini akan bermanfaat bagi pembaca dengan pengalaman serupa, dia pun memutuskan untuk menuliskannya.


Bercerita tentang trauma pengasuhan sebenarnya cukup sulit. Terkadang, itu membuat kita jadi serba salah karena tidak mungkin rasanya menyalahkan pola asuh orang tua yang menyebabkan kita sakit. Terlebih di dalam Islam, seorang anak sudah seharusnya berbakti, berterima kasih, dan tidak mencari kesalahan orang tuanya apalagi membandingkannya dengan diri kita.


Namun, trauma pengasuhan itu nyata. Jika kita tidak mau mempelajari ini, saya pribadi berpikir mungkin akan sulit menyembuhkan luka masa kecil yang dampaknya sangat luar biasa bagi anak-anak kita nanti. Ibaratnya, mana mungkin kita bisa menyembuhkan sakitnya jika kita saja tidak tahu sedang sakit apa.


Apa alasan saya menjadi sangat pemalu, takut muncul, dan berbicara di depan banyak orang? Apa alasan saya bahkan tidak bisa menerima diri saya sendiri? Merasa tidak cukup baik, tidak berharga, tidak enakan dengan semua orang, bahkan menganggap kebahagiaan orang lain adalah tanggung jawab saya?


Kenapa ada orang tua yang begitu marah ketika anaknya melakukan satu kesalahan kecil, sedangkan orang tua lainnya bisa santai seperti di pantai? Kenapa ada orang tua harus berteriak dan memukul ketika marah? Semua itu ada alasan dan penyebabnya. Bukan semata-mata karena dia tidak bisa menahan diri, tapi;


“Pewarisan kekerasan pada anak ibarat tabrakan lima kali beruntun. Diawali dengan insiden yang entah dari mana asalnya, diikuti dengan dorongan tiba-tiba dari mobil di belakangnya, dan berakhir dengan tabrakan mobil di depannya.” (Hal. 146)


“Di dalam diri anak-anak yang sering mengalami penindasan dan kontrol berlebih di masa kecil, tersimpan banyak rasa tidak adil dan kemarahan. Apabila tidak ditangani dengan benar, kemarahan itu pada akhirnya akan meledak di sembarang tempat. Saat seseorang menarik pelatuk amarah beserta rasa tidak adil milik si inner child, saat itulah emosi akan meledak. Pelatuk ini biasanya ditarik oleh orang-orang terdekat. Jika itu terjadi, kemarahan akan dilampiaskan pada orang-orang yang kamu anggap tak berdaya, yakni anak dan pasangan.” (Hal. 154)


Sebagai penyintas, saya tahu rasanya ketika sudah nyaris putus asa dan berharap anak kita mati. Saya tahu betapa kebingungannya ketika menghadapi fase ini dan tak seorang pun memahami apa yang kita rasakan.


Namun, sebanyak apa pun orang membantu, saya percaya bahwa kitalah yang memegang peran penting dalam proses penyembuhan luka masa kecil itu. Sebagaimana juga ditulis oleh Won Jung Mee, konselor itu hanya membantu mengarahkan, selebihnya kendali itu ada pada diri kita.


Sebagai manusia normal, mustahil kita mengharapkan keburukan terjadi kepada anak kita. Jangankan disakiti, diomelin bapaknya saja kita kesal bukan main. Rasanya tidak masuk akal ketika ada seorang ibu menyakiti anaknya jika tidak ada penyebab serta trauma pada dirinya.


Pernah mendengar kisah seorang ibu yang membunuh anak-anaknya kemudian ia menyusul bunuh diri? Kebayang nggak sih betapa berisik isi kepalanya sampai-sampai ia berani menghabisi nyawa buah hatinya?


Orang-orang awam sering men-judge hanya dari satu sisi saja. Tidak mau memvalidasi serta mengabaikan orang yang jiwanya terluka.


“Kenapa kamu tidak menerima bahwa semua itu sudah jadi takdir Allah? Kenapa tidak banyak ibadah dan sabarin saja? Hidup sudah enak, tinggal nurut saja sama orang tua, apa susahnya?”


Kalian berharap orang-orang yang jiwanya terluka ini neriman sama takdir Allah, ngaji yang betul, belajar agama yang banyak, tapi kalian lupa bahwa buat makan saja, terkadang mereka kesulitan, gimana mau datang kajian? Bahkan dengan fasilitas yang serba ada, orang tua yang paham agama, seorang anak bisa kabur berkali-kali karena sering disiksa dan dikurung sama orang tuanya. Mereka masih hidup dan nggak berniat bunuh diri saja sudah Alhamdulillah.


Kita sering gagal berempati kepada orang-orang yang hidupnya penuh dengan trauma. Untuk sampai pada fase menerima, mereka mati-matian menjaga kewarasan dirinya. Kita nggak ada di posisi mereka. Jadi, berhentilah menertawakan dan menyebut mereka lebay.


“Emosi harus keluar dan dialirkan. Awal dari kesembuhan akan tampak saat semua emosi yang tak bisa diungkapkan oleh diri yang terluka di masa lalu mulai keluar. Proses ini terbilang sakit dan menakutkan, karena kita diharuskan untuk memanggil kembali ingatan-ingatan masa lalu yang sarat akan penderitaan dan kesulitan…” (Hal. 164)


Betapa tidak mudahnya berdamai dengan trauma masa kecil. Sebagian besar justru tidak akan pernah tahu jika tidak mempelajarinya. Mereka memilih memendamnya dan menjalani hidup sebagaimana air mengalir hingga akhirnya tanpa sengaja telah mewariskan trauma kepada anak-anaknya.


Perbandingan dan Diskriminasi

Review Buku We’re Family But We’re Strangers
Photo by Isaac Quesada on Unsplash


Pada halaman 43, penulis menceritakan tentang sikap neneknya yang sering membedakan ia dan kakak lelakinya. Diskriminasi gender sudah ada sejak zaman jahiliyah. Ketika itu, kaum kafir Quraisy sengaja mengubur anak perempuannya hidup-hidup karena dianggap aib dan hina. Ketika Islam hadir, kaum perempuan diangkat derajatnya dan dihormati haknya.


Dulu, anak lelaki di keluarga besar kami tidak seharusnya mencuci piring di dapur. Tugas mencuci piring adalah tugas anak perempuan, begitu juga tugas memasak dan membersihkan rumah. 


Bapak, sudah sejak lama mengharapkan anak lelaki lahir dari rahim Ibu. Jadi, ketika saya lahir, Bapak penasaran dengan jenis kelamin anaknya. Bidan bilang, anak Bapak perempuan (lagi). Bapak tidak percaya dan meminta bidan memeriksanya sekali lagi.


Setelah saya lahir, Bapak masih menginginkan anak lelaki. Makanya, Bapak mendandani saya dengan pakaian lelaki, rambut sangat pendek, pakai celana, dan ke mana-mana dipakaikan peci. Anak bungsu Bapak ini sering mengadu karena teman-teman suka mengatai rambutnya yang tidak seperti anak perempuan pada umumnya, tapi Bapak selalu bilang, mereka hanya iri. Rambutmu keren! Maka, saya tersenyum bangga dan berusaha melupakannya.


Setelah menjadi orang tua, pernah suatu hari, anak sulung saya bertanya, apa Bunda tidak kecewa punya anak lelaki? Karena sebelum melahirkan, dokter selalu bilang kalau anak pertama kami berjenis kelamin perempuan.


“Buat Bunda, lelaki dan perempuan sama saja. Hal yang paling penting, kami bisa menjaga dan mendidikmu dengan baik.”


Makanya, kami tidak memusingkan pengin anak perempuan. Anak-anak kami telah tumbuh dengan baik dan itu sudah lebih dari cukup. Saya pribadi merasa cukup terganggu dengan ucapan orang-orang yang mengatakan, "Kalian harus nambah anak satu lagi biar lengkap. Kalau hanya anak lelaki, itu kurang (bahagia)."


Saya memikirkan perasaan anak lelaki kami yang dianggap tidak cukup membahagiakan kedua orang tuanya. Mungkin, saya terlalu perasa. Saya takut mereka kecewa mendengarnya. Sehingga setiap kali harus mendengarkan itu, saya selalu bilang kepada anak-anak, kalian lebih dari cukup!


“Secara naluriah, manusia memang cenderung suka membandingkan. Anak kecil yang belum bisa bicara pun akan meraih potongan kue yang lebih besar dan memilih mainan yang tampak lebih mencolok. Akan tetapi, seorang anak tidak serta merta bahagia hanya karena memiliki sesuatu yang lebih bagus atau besar. Aku merasa bahagia saat memiliki sesuatu yang kubutuhkan dan kuinginkan. Karenanya, aku bertekad untuk menghentikan segala bentuk perbuatan membandingkan, baik pada diriku maupun kepada orang lain.” (Hal. 44)


Kecemasan Tidaklah Selalu Buruk

Review Buku We’re Family But We’re Strangers
Photo by Michal Bar Haim on Unsplash


“Berulang kali aku mencoba menyembunyikan sekaligus memperbaiki kepribadianku yang pemalu dan mudah cemas. Namun, kini aku tahu. Tahu bahwa kecemasan bukanlah penyakit, melainkan naluri manusia.” (Hal. 190)


Capek rasanya menjadi orang yang mudah cemas. Saya tidak terbiasa pergi ke mana-mana sendiri karena saya terlalu takut melakukannya. Ketika suatu hari saya dan suami harus berbeda gerbong kereta, saya merasa takut dan khawatir akan banyak hal sampai-sampai saya menangis di stasiun. 


Namun, akhir-akhir ini, saya pergi bertemu editor di salah satu penerbit hanya seorang diri hingga beberapa kali menjadi pembicara di depan banyak orang. Perubahan bukan hal mudah bagi orang seperti kita, tapi saya belajar untuk mencobanya. Kata orang, manusia yang tidak percaya diri justru adalah orang yang terlalu percaya diri. Dia kira, semua orang memerhatikannya terus menerus sehingga ketika kita salah bicara, orang lain akan mengingat itu selamanya. Padahal, tidak lama, mereka akan lupa. Seperti mereka bilang, dunia ini bukan hanya tentang kamu :)


Tentu saja saya tetap tidak berani belajar naik motor. Saya merasa lebih aman jika tetap di rumah dan menikmati waktu dengan hal-hal yang saya suka. 


“Aku masih merasa aman saat berdiri tegak di atas tanah dengan kedua kakiku. Sebagai gantinya, aku merasakan kegembiraan setiap kali mendapat pengalaman dan pemahaman baru melalui buku, mengembangkan imajinasi dengan menggambar, memperdalam hubungan dengan orang-orang dekat, dan menghibur serta berkomunikasi dengan orang-orang melalui tulisan yang kubuat. Karena sesungguhnya, kita semua tidak perlu hidup dengan menyukai hal yang sama.” (Hal.192)


Relate sekali dengan apa yang saya kerjakan saat ini. Ketika ada orang yang menyesali ketidakmampuan saya mengendarai sepeda ataupun motor, saya katakan, saya bisa mengerjakan hampir seluruhnya kecuali satu dua hal itu. Buat saya, itu bukan masalah yang harus dibesar-besarkan. Jika mau yang jago naik motor, kita bisa panggil kang ojol…kwkwk. Saya tidak mau dianggap sebagai orang yang tidak berguna hanya karena tidak mampu melakukan satu hal. Saya berharga dan mencintai diri saya sendiri. Saya tidak harus seperti orang lain dalam semua hal, kan? :)


Memaafkan Sambil Menjaga Jarak

Review Buku We’re Family But We’re Strangers
Photo by Jornada Produtora on Unsplash


“….Setelah itu, Ibu selalu meminta maaf dan selalu menangis setiap kali menerima panggilan teleponku….


Akan tetapi, Ayah tidak seperti itu. Aku sudah menangis sambil berteriak di depan Ayah, memintanya untuk memahami apa yang aku dan kakakku rasakan di masa kecil. Namun, sayang, beliau tidak mampu membaca hati kami. …. Meneriaki Ayah yang minim empati hanya akan membuat hatiku semakin menderita. Sebagai gantinya, aku memutuskan untuk menerima Ayah sebagai orang yang punya kekurangan dan belum dewasa.” (Hal. 172-173)


Hubungan kita dengan orang tua tidak selalu berjalan baik. Terkadang, kita sakit karena orang terdekat, termasuk karena orang tua kita sendiri. Makanya, cobalah untuk melihat masalah dari dua sisi. Bukan hanya dari sisi orang tua, tapi juga dari anak.


Hubungan dengan Ayah cenderung terasa lebih sulit. Bagaimana rasanya tinggal jauh, tapi nggak pernah ditanyakan kabarnya? Apa kamu sehat? Apakah kamu baik-baik saja? Cucuku sudah bisa apa? Sedangkan Ayah yang lain begitu perhatian dan penuh empati kepada anak perempuannya.


Kita tidak bisa selalu menuntut orang tua mengerti dan memahami kita, terutama di usia mereka yang sudah lanjut. Kita bisa membaca dan mempelajari buku-buku parenting, tapi orang tua kita tidak akan sempat. Mereka sudah bergelut dan kesulitan di waktu kecil dengan pola asuh yang mungkin jauh lebih buruk, berjuang membesarkan kita dengan kondisi ekonomi yang tidak stabil. 


Makanya, bereskan luka masa kecil kita supaya bisa menerima dan berdamai dengan semuanya. Jika terlalu sulit, saya memilih untuk menjaga jarak dibanding harus berkonflik dengan orang tua sendiri. Bagaimanapun, mereka tetap orang tua yang harus kita hormati. Seperti itu juga yang dilakukan oleh Won Jung Mee kepada ayahnya.


Karena merasa hubungan mereka tidak membaik seiring berjalannya waktu, ia memilih untuk menjaga jarak. Pilihan yang bijak dibanding harus saling menyakiti satu sama lain. 


Buku ini membicarakan banyak hal, tapi beberapa poin membuat saya menangis karena isinya cukup relate. Tidak bermaksud menyalahkan pola asuh orang tua kita di zaman dulu, tapi dari pengalaman itulah kita belajar untuk membenahi pola asuh kita yang sekarang dan tidak mewariskan trauma. 


Anak-anak tidak bisa memilih dari rahim siapa ia dilahirkan dan dari Ayah seperti apa ia dibesarkan, tapi kita bisa setidaknya membuat mereka tumbuh sesuai fitrahnya dengan terus belajar bagaimana cara menjadi orang tua yang baik.


Buku-buku parenting tidak selau membantu karena setiap anak itu berbeda dan unik. Kitalah yang paling tahu bagaimana cara mencintai mereka. Hal yang ingin saya garisbawahi, mencintai dan menyayangi anak-anak harus dilakukan dengan penuh empati dan kasih sayang. Ketika tangki cinta mereka penuh, mereka bisa membahagiakan orang-orang di sekitarnya, termasuk keluarganya nanti.


Salam hangat,