Pengalaman dan Tip Melahirkan Normal

Tuesday, May 5, 2020

Melahirkan normal? Gimana rasanya dan apa alasan memilih melahirkan normal? Curhat panjang setelah anak-anak sudah besar, ya...hihi. Sejak menikah, saya ikut suami dan pindah ke Jakarta. Saya tinggal di sini sejak 2009 sampai sekarang. Hampir 11 tahun hidup mandiri jauh dari orang tua.

Awalnya, nggak kebayang bisa menetap di Jakarta. Sebagai anak bungsu, maunya tinggal dekat dengan orang tua. Begitu juga kemauan orang tua dulu. Namun, setelah menikah, rasanya mustahil memaksakan keinginan itu. Masa iya suami dibiarin balik sendirian ke Jakarta? Ini nikah apa pacaran? Kwkwk.

Jadi seorang ibu, mengurus bayi, jauh dari orang tua, rasanya nggak pernah kebayang sebelumnya. Tapi, setelah dijalani, sejujurnya kita jadi ‘terpaksa’ membiasakan untuk selalu serba bisa. Nggak mungkin lagi tergantung sama orang lain, bahkan pada suami yang setiap harinya harus pergi bekerja.

Keguguran pada Kehamilan Pertama


Akhir tahun 2009, saya mengalami keguguran. Usia kandungan masih terhitung beberapa minggu. Jadi, lagi happy banget baru tahu hamil dan doyan nyemilin mangga muda...kwkwk. Tapi, saya tahu Allah mengerti keadaan saya, mungkin saat itu belum sepenuhnya siap. Saya nggak menyesali apa pun, karena memang saya nggak ngapa-ngapain, tiba-tiba aja pendarahan.

Sudah coba dipertahankan, tapi akhirnya gagal. Saya pun menjalani kuretase dengan bius total. Jadi, jangan tanya gimana rasanya saat dikuret, ya. Nggak sakit, karena memang nggak sadar...kwkwk.

Ada sebagian calon ibu yang nggak dibius total, katanya sakit. Tapi, pengalaman saya, karena bius total, benar-benar nggak berasa apa-apa bahkan setelahnya juga. Saya setengah sadar menangis sesenggukan. Nggak tahu tiba-tiba nangis aja kenceng, kayak kecewa kenapa harus keguguran... :(

Tapi, setelah berjalannya waktu, saya tahu rencana Allah itu adalah yang terbaik.

Kehamilan Kedua, Heboh Nggak Bisa Makan Apa-apa



Kata orang, kalau habis dikuret, mau hamil lagi bisa makan waktu lama. Kita harus percaya bahwa semua hal terjadi di dunia ini karena izin dan kehendak Allah. Bukan karena abis dikuret, bukan karena makan tauge jadi cepet hamil dan sebagainya. Intinya, kita yakin dulu nih pada Allah.

Saya pun pasrah andai harus menunggu lama setelah proses kuretase tersebut. Tapi, Allah berkehendak lain, nggak lama setelah masa istirahat mengosongkan rahim, saya pun hamil kembali. Kehamilan kedua yang disambut penuh syukur. Alhamdulillah.

Kalau diingat, agak trauma sebenarnya. Karena setiap hamil, saya selalu mengalami mual muntah yang cukup serius. Parah banget pokoknya. Sampai-sampai denger suara tukang gorengan lewat aja saya kesel karena setelahnya saya muntah-muntah...kwkwk. Bukan salah abangnya padahal, ya?

Pagi-pagi suami pasti masak nasi dulu di kompor sebelum berangkat kerja. Karena saya nggak suka bau nasi dari ricecooker*manja banget. Tapi, itu pun nggak akan dimakan karena tiap masuk sesuatu pasti keluar lagi. Subhanallah, perjuangan banget untuk masa kehamilan kedua ini.

Rasanya sampai 'tahu' kalau orang mikir saya lebay banget...haha. Pasti orang bilang nggak wajar ini. Masa apa-apa bau semua...kwkwk. Tapi, itulah kenyataannya. Nggak ada yang dibuat-buat. Mending makan enak daripada harus begini, kan?

Setelah usia kandungan cukup besar, saya baru bisa bernapas lega dan bisa makan dengan normal, meskipun kadang masih muntah. Udah mau lahiran masih muntah-muntah, lho. Benar-benar luar biasa rasanya. Inilah yang kadang bikin trauma tiap mau hamil lagi. Malah horornya di sini, bukan saat proses persalinan.

Persalinan Putra Pertama


Waktu mau melahirkan, saya memutuskan tetap melahirkan di Jakarta ditemani suami. Nggak pengen ngerepotin orang tua. Dan suami pun setuju. Nggak perlu ngasih tahu orang tua dulu kalau mau lahiran. Cukup kita berdua aja yang ngerasain paniknya kayak apa. Nanti setelah lahir, baru telepon orang tua.

Jadi, sebelum melahirkan, saya sudah punya dokter kandungan yang pro normal. Sebisa mungkin melahirkan normal kecuali ada kendala tertentu. Bahkan beliau menyarankan saya melahirkan di bidan aja kalau nggak ada masalah. Hanya saja, mana mau tiba-tiba lahiran di tempat lain, kan?

Mendekati hari H, dokter kandungan selalu menyarankan untuk ‘berhubungan’. Ngomongnya memang sambil ketawa dan bercanda, tapi beliau serius banget, kok. Kalau mau lahiran normal, kalau mau melahirkan tanpa induksi, silakan lakukan dengan rutin meskipun berat. Kalau sayang sama istri, coba dibantu istrinya. Kalau nggak mau istri tersiksa kebangetan saat lahiran, coba usaha sama-sama. Ini bisa dilakukan jika kondisi kandungan aman-aman saja, ya. Nggak ada risiko ini itu.

Pengalaman Pertama Melahirkan Normal


Saat hari H, kontraksi semakin terasa. Tapi, saya tahan dulu untuk tetap di rumah. Sambil nunggu suami pulang ngantor, saya banyakin makan telur rebus, susu, dll. Pokoknya, jangan sampai kelaparan pas mau bersalin.

Pesan ini diulang-ulang oleh Ibu karena pengalaman beliau ketika melahirkan anak pertama begitu sulit akibat kurang tenaga. “Pokoknya nanti kalau mau melahirkan, makan telur rebus dan apa pun supaya kuat waktu mengejan.”

Nasihat itu saya kerjakan betul-betul. Sebelum benar-benar kesakitan, saya makan dulu yang banyak biar berselera. Jangan nunggu kesakitan baru makan, mana bisa nelen...hihi.

Saat tiba di rumah sakit, setelah mendapatkan kamar dan selesai diperiksa, saya dan suami memutuskan jalan-jalan dulu. Biar cepet bukaannya. Nggak tahunya malah bablas sampai dicariin suster...kwkwk.

Saya lupa tepatnya, kalau nggak salah sampai rumah sakit bukaan 3, kemudian saya dan suami jalan-jalan di lorong rumah sakit sampai jam 10 malam (tiba di rumah sakit saat Magrib). Setelah nggak tahan jalan dan dicariin suster, barulah saya masuk ruang bersalin dan ganti pakaian. Nggak lama sudah berasa harus mengejan.

Saking sakitnya, yang ada di kepala waktu udah mau lahiran justru pengen operasi ajalah...kwkwk. Bayangan gila, ya. Nggak bisa teriak, nggak bisa berisik, cuma isi kepala teriak-teriak nggak kuat rasanya...haha.

Mengejan nggak cukup sekali, pinggang rasanya mau patah. Benar-benar, ya. Itulah kenapa surga ada di telapak kaki ibu, karena perjuangan melahirkan memang antara hidup dan mati. Masya Allah.

Proses lahiran ini nggak lama, karena bayi saya juga nggak gede-gede banget beratnya. Dokter sudah bilang, yang wajar aja gedenya. Kasihan nanti waktu mengejan. Alhamdulillah, sebelum jam 12 malam, si sulung lahir ke dunia dengan kondisi sehat dan tidak kekurangan sesuatu apa pun.

Dijahit nggak, Mbak? Diobras malah, ya...haha. Dua kali melahirkan normal, selalu dijahit karena sudah pasti ada robekan. Dan proses sembuhnya ini agak lama karena saya penakut banget :(

Kehamilan Ketiga, Lebih Santai dan Doyan Makan



Alamak, doyan makan? Haha. Saya masih ingat betul, saat kontrol ke rumah sakit, saya pasti mampir ke kantin rumah sakit untuk makan semangkuk mie ayam atau bakso plus es teh manis. Ini benar-benar jadi hobi baru. Mie ayam dan baksonya emang enak banget, tanpa MSG pula. Siapa yang nggak tergoda coba? Kwkwk.

Tapi, bukan itu aja alasannya. Saya beryukur, ketika hamil ketiga, makan tetap berselera, habis makan, barulah muntah-muntah. Itu nggak masalah ketimbang nggak bisa makan sama sekali. Minimal ada yang masuk, walaupun akhirnya keluar lagi...haha.

Waktu hamil anak kedua, banyak tantangannya. Waktu itu, dengan kondisi berbadan dua, suami harus rawat inap karena dehidrasi. Kondisi kehamilan lagi nggak bener, plasenta di bawah, tapi beberapa hari harus bolak balik RS untuk jagain suami.

Tanpa orang tua di dekat saya, rasanya itu berat. Tapi, kalau dilakoni, semua selesai juga, kan? Itulah kenapa kita harus percaya, setiap ujian dan cobaan sudah ditakar sesuai kemampuan masing-masing. Nggak boleh bilang nggak kuat. Jalanin dulu, Allah mudahkan, Insya Allah.

Persalinan anak kedua bukan berarti mudah dan secepat kilat, ya. Malah sakitnya ampun-ampunan...kwkwk. Bukan bermaksud menakuti, setiap orang punya kekuatan berbeda untuk menahan rasa sakit. Buat saya, ketika mau melahirkan anak kedua, jalan-jalan aja udah nggak sanggup. Karena sakitnya datang lebih cepat nggak sesuai sama prediksi. Bayangannya bakalan kayak anak pertama dulu. Nyatanya? Nggak.

Belum lagi saya harus diinfus karena waktu CTG, hasilnya nggak bagus. Nangis dong waktu diinfus saking takutnya kwkwk. Bukaan berjalan lebih cepat. Qadarallah saya nggak pernah induksi. Tapi, karena sakit banget, akhirnya hanya bisa berbaring. Benar-benar nggak kuat jalan.

Untuk anak kedua, ketuban harus dipecah oleh suster. Jadi, ada ya kasus begini. Beda dengan anak pertama yang pecah sebelum mengejan. Alhamdulillah, dua kali melahirkan proses normal. Bersyukur meski ada dramanya masing-masing.

Berdamai dengan Rasa Takut


Bukan saya pemberani sehingga bisa melahirkan secara normal dengan kondisi cukup tenang, tapi keberanian itu memang akhirnya muncul dengan sendirinya. Saya penakut sekali, saat diinfus aja nangis, lho. Tapi, waktu mau melahirkan, rasa senang demi bertemu buah hati mengalahkan segalanya.

Suami saya bilang, wanita memang diciptakan untuk bisa melahirkan. Jadi, nggak usah ngebayangin macam-macam karena nanti semua itu akan terjadi dengan sendirinya. Berdamai dengan rasa takut kayaknya memang jadi salah satu hal yang tepat. Saat mendekati hari H, kita bakalan dag dig dug nggak karuan rasanya. Bayangannya ke mana-mana.

Jangan juga kecewa ketika harus melahirkan sesar. Kalau itu memang jalan terbaik, kenapa mesti menolak? Utamakan keselamatan kita dan si bayi. Melahirkan dengan cara apa pun sama-sama beratnya, sama-sama berjuangnya.

Memang, kondisi mental harus siap dalam keadaan apa pun. Semua kemungkinan bisa saja terjadi. Ada yang sudah mau operasi, malah lahiran normal. Ada yang sudah berjuang berjam-jam, malah akhirnya sesar. Bayi punya cara masing-masing untuk lahir ke dunia.

Tip Melahirkan Normal


  • Pastikan bahwa kondisi kita siap melahirkan normal, artinya nggak ada masalah yang mengharuskan kita melakukan persalinan sesar.

  • Pilihlah rumah sakit dan dokter pro normal. Karena poin kedua ini sangat membantu sekali, lho. Pengalaman waktu keguguran, dokternya nggak pro normal. Waktu periksa di trimester pertama aja beliau sudah bilang, “Kalau mau lahiran normal, bayinya jangan gede-gede.” Mendengar itu, perasaan saya gimana? Ambyar...kwkwk.

  • Rutin berhungan dengan pasangan di usia kandungan siap melahirkan. Konsultasikan dulu dengan dokter dan pastikan nggak ada masalah.

  • Positif thinking. Mikir yang baik-baik dan berdoa yang banyak. Berharap yang baik-baik dan ajak ngobrol janinnya. Dia paham, kok. Dia mengerti dan akan bekerja sama :)

  • Banyak gerak. Meskipun saya nggak serajin apa juga geraknya...kwkwk. Senam hamil aja sering banget ketiduran, lho *gubrak...kwkwk.

  • Pastikan kita punya tenaga saat proses bersalin. Makan dulu sebelum berangkat ke rumah sakit, minum susu, dll. Karena melahirkan itu sangat melelahkan. Jadi, usahakan kita tetap makan biar punya stok energi yang cukup untuk mengejan.

  • Berdamai dengan rasa takut. Percayalah, melahirkan itu pasti sakit. Tapi, kalau kita menerima, insya Allah nggak akan seberapa menyiksa.


Sudah siapkah bertemu buah hati? Semoga tipnya bermanfaat dan persalinanmu lancar, ya.  Jangan lupa tetap berpikir positif, insya Allah semua akan baik-baik saja :)

Salam hangat,

Featured image: Photo by Dominika Roseclay on Pexels

 

Comments

  1. Saya dua kali hamil, dua kali melahirkan semuanya normal. Dengan cerita kehebohannya masing-masing. Soal tenaga memang harus dipersiapkan banget ya mbak, melahirkan anak pertama aku hampir kehabisan tenaga dan hiks anak pertamau sampe harus disedot. bersyukur kepalanya tidak ada masalah.

    ReplyDelete
  2. Kondisi kehamilan setiap anak berbeda-beda ya hehe.
    Saat baca bagian ini
    nggak suka bau nasi dari rice cooker

    Saya jadi ingat teman, dulu masih tinggal di mess waktu pengantin baru, teman di kamar sebelah lagi hamil muda, begitu juga, gak tahan dengan bau nasi jadi saya sempat masakin satu kali. Mungkin waktu itu suaminya gak sempat masakin sudah keburu ke kantor. Kalau sekarang diingat-ingat ... koq bisa ya hehehe.

    ReplyDelete
  3. Saya sudah merasakan lahiran normal, lahiran pakai pemicu, plus lahiran secara cesar. MasyaAllah mereka punya cerita masing-masing. Selama hamil pertama hingga ketiga, saya juga enggak suka bawa nasi rice cooker dan bau bahan masakan mentah jadilah untuk lauk pauk beli ke warteg selama kehamilan. Paling di rumah masak telur saja, sama tempe tahu, nasi masih masak juga tapi begitu buka rice cooker lari dulu jauh-jauh sebelum mual melanda. Ayo bun muy, hamil lagi biar dhigda punya adik #eh

    ReplyDelete
  4. Kelahiran setiap anak berbeda-beda ya mbak, berdamai dengan rasa takut itu kuncinya ya. Penuh perjuangan seorang Ibu demi buah hatinya :)

    ReplyDelete
  5. Wah seru juga ceritanya. Harus sabar2 nanti kl istri saya hamil hehe
    Tq tips2 nyaa

    ReplyDelete
  6. Alhamdulillah, sudah pernah merasakan hamil dan dua kali persalinan normal. Keduanya harus diinduksi. Pokoknya dua hari itu adalah hari di mana saya teriaknya super kenceng. Agak mikir sih, orang-orang di luar ruangan denger nggak ya? wkwkwk ...

    Anak pertama dijahit lumayan banyak. Anak kedua nggak dong, padahal bayinya lebih gede. Kata dokternya, pasien pinter ini. Wkwkwk ... Pokoknya kepala saya udah berdenging-denging, "Jangan angkat pantat, jangan angkat pantat. Nanti dijahit, loh." Wkwkwk ..

    ReplyDelete
  7. Bener banget perjuangan seorang ibu yang melahirkan normal itu butuh tenaga. Anak pertama dulu aku lemes karena seminggu sebelumnya udah gak doyan makan. Alhamdulillah pengalaman anak pertama jadi pelajaran buat lahiran anak kedua. Bayinya lebih gede tapi karena udah siap jadi lancar

    ReplyDelete
  8. saya malah rewel sewaktu mengandung anak terakhir
    sakit inilah itulah, padahal waktu mengandung kakak2nya lancar jaya
    Tapi, setiap perempuan memang berbeda

    ReplyDelete
  9. Nggak suka bau nasi atau mual karena bau-bauan tertentu, bukan karena manja kok. Jangan ngerasa bersalah :) Waktu hamil anak pertama (sekarang udah mau kuliah), aku nggak bisa makan nasi. Untungnya bagiku makan memang nggak mesti nasi.

    ReplyDelete
  10. Baru pertama kali melahirkan kemarin, jadi, ya, sekarang agak santai, enggak khawatir ini itu karena pernah mengalami kehamilan pertama. Inget persalinan Dzaky pas baca ini, memang bakal butuh tenaga besar buat melahirkan, tapi dulu engga bisa banyak makan, sih. Makasih sharingnya Mbak Muyass, di kehamilan kedua ini saya berusaha lebih santai dan enggak terlalu banyak khawatir ini dan itu. Beraktivitas pun dibawa kayak biasa aja. Cuman kalau udah agak lemes atau kleyengan, ya, rebahan aja. Belajar menikmati keadaan yang masyaallah membahagiakan

    ReplyDelete
  11. Waktu saya melahirkan anak pertama normal, kedua Caesar dan yang ketiga normal lagi. Padahal sudah persiapan Caesar tapi Alhamdulillah Allah berkehendak lain, si baby lahir sebelum HPL

    ReplyDelete
  12. setiap perempuan mempunya pengalaman berbeda satu sama lain, bahkan berbeda anak ke satu dan kedua

    ReplyDelete
  13. MasyaAllah membaca ini jadi kangen hamil lagi. Bismillah lagi promil nih, doain berhasil ya Mba. Terima kasih sharingnya

    ReplyDelete
  14. MasyaAllah Kak, sudah 3 kali melahirkan?
    Semoga kami segera menyusul anak ke 3 ya, masih 2 nih.

    Btw aku suka poin ini:
    "Pastikan bahwa kondisi kita siap melahirkan normal, artinya nggak ada masalah yang mengharuskan kita melakukan persalinan sesar"
    ~~
    Alhamdulillah kesiapan melahirkan membuat 2 anak kami lahir dengan normal semua, tentu berkat ridho Allah SWT juga.

    ReplyDelete