Dakwah Itu: Ngajak Bukan Nyuruh

Saturday, May 9, 2020

Dakwah itu ngajak bukan nyuruh



Dakwah itu sebenarnya simpel. Dakwah itu ngajak, bukan nyuruh, atau menghakimi. Karena dakwah itu kaidahnya; “Perbaiki dirimu sebagai pendakwah sembari mengajak orang untuk sama-sama memperbaiki diri sama seperti kamu.”


Jadi, bukan menjadikan standar kita lebih tinggi daripada objek dakwah atau menjadikan standar objek dakwah hina sekali di depan kita. Nggak. Yang harus kita lakukan adalah jalan bareng, saling memperbaiki diri.

Jadi, dakwah itu bukan AKU SUCI DAN KALIAN PENUH DOSA, atau sebaliknya. Bukan kayak gitu. Kita harus sama-sama merasa bahwa kita salah sebagai manusia. Karena kita sama-sama manusia, maka kita butuh dukungan, butuh saling menasihati, untuk sama-sama masuk ke surganya Allah swt.

(Ust. Zaky @prouchannel)

Pagi ini, nggak sengaja jalan-jalan di Instagram dan menemukan akun Pro U dengan postingan seperti bisa kamu baca di atas. Kira-kira, kurang lebihnya seperti itulah yang disampaikan oleh Ustadz Zaky dalam salah satu postingan @prouchannel.

Beliau menjabarkan dengan sangat baik devinisi dakwah yang sebenarnya itu kayak apa. Bukan dakwah jika kita hanya nyuruh orang buat berubah, sedangkan kitanya malah males-malesan. Bukan dakwah kalau kita menjadi selalu sok sempurna, sok beriman, sok paling salehah, sok paling pandai menjaga diri dan kehormatan, sampai-sampai mengatakan objek dakwahnya penuh dosa dan nggak punya malu. Subhanallah.

Bukan dakwah namanya kalau kita merasa ‘paling’ sedangkan orang lain lebih rendah daripada kita. Mungkin itu lebih tepat disebut nyindir kali, ya? Kedengerannya pun sangat nggak enak, bukan malah berubah, orang-orang jadi ilfil parah setelah mendengar ajakan itu.

Manusia Tempatnya Salah, Bukan Dakwah Namanya Jika Senang Menghakimi


Kita itu, senang melihat penampilan orang dari luarnya saja, kemudian menghakimi sesuka hati kita tanpa mau tahu lebih jauh, apalagi di zaman secanggih sekarang, di mana orang bebas saja mengutarakan pendapatnya di sosial media.

Boleh saling mengingatkan, karena itulah hakikat dakwah yang sebenarnya. Nggak harus selalu berdiri di mimbar dan mengajak orang-orang beriman. Dakwah merupakan kewajiban setiap manusia yang memiliki iman, untuk mengajak orang lain lebih dekat dengan Allah, tapi tentu dengan cara yang baik.

Sebab penerimaan setiap orang berbeda-beda. Kita ngomong baik-baik saja, kadang ada orang yang nggak bisa menerima, apalagi jika disampaikan dengan cara yang salah. Niat baik untuk mengingatkan, hal baik yang ingin disampaikan, justru akhirnya nggak pernah ngena karena caranya salah. Malah yang terjadi, justru orang-orang jadi menjauh dan enggan mendengar. Itulah kenapa, kadang kita harus berhati-hati sekali saat hendak mengingatkan seseorang *sambil nunjuk muka sendiri yang masih suka sembarangan :(

Saya pernah mengalami kejadian kurang mengenakkan setelah tinggal dan menetap di Jakarta. Saya nggak menyesali kejadian dulu, karena dengan cara itulah Allah menegur saya. Sedih banget, marah sempat, tapi setelahnya saya paham bahwa memang itulah cara yang Allah pilih untuk mengingatkan saya yang dulu sempat khilaf. Karena apa? Karena saya belum benar menutup aurat, hijab nggak pernah sampai menutup dada, kaki selalu terbuka.

Cara-cara orang terdekat untuk mengingatkan saya terasa sangat menyakitkan...kwkwk. Bukan lebay dan membesar-besarkan, tapi siapa sih yang tahan disindir di depan umum sambil ditertawakan sama-sama? Gue salah nih, tapi nggak gini juga caranya, kan? Kwkwk.

Tapi, saya menerima setelah sekian lama berusaha memahami, iya, Allah itu paham mana yang terbaik buat kita. Tapi, karena saya tahu rasanya sangat sakit, semoga ke depannya saya nggak pernah memperlakukan orang dengan cara yang sama.

Aku Suci dan Kalian Penuh Dosa, Dakwah atau Sombong?



Eh, minggir, ya. Minggir buat kalian yang masih suka main Tiktok dan ikutan challenge. Seharusnya muslimah itu memelihara rasa malu dan berusaha menutupi dirinya, bukan menampakkannya. Beruntung dan bersyukurlah kita yang masih punya rasa malu sehingga nggak mau ikut-ikutan hal kayak gitu.

Cara kita menyampaikan sesuatu kepada orang lain ternyata cukup berpengaruh pada penerimaan seseorang. Sama-sama mengingatkan supaya muslimah menjaga rasa malu, karena hakikat hijab adalah menutupi, bukan menunjukkan apalagi pamer-pamer kecantikan, tapi kalau ditunjukkan dengan cara seperti saya contohkan di atas, kayaknya auto bubar yang mau hijrah...kwkwk.

Kamu dakwah atau sombong? Nggak masalah saling mengingatkan, tapi memang caranya perlu diperhatikan. Karena tidak semua orang punya pemahaman sama seperti kita. Bahkan mungkin ada di antara kita yang sudah lama berhijab, tapi nggak paham hakikat hijab itu sebenarnya buat apa.

Seperti saya misal, meskipun lama banget menjadi santri, nggak berarti saya selalu benar dalam berislam. Ada aja kesalahan yang sering saya lakukan, terutama karena itu sudah membudaya di tempat saya tinggal. Kayak susah banget diubah dan diluruskan meskipun sejatinya itu salah.

Kalau semua pendakwah selalu merasa paling suci dari dosa, merasa paling benar, maka sulit ngajakin anak punk buat beriman dan berislam yang benar. Faktanya, memang nggak semua pendakwah pandai mengajak mereka berubah. Hanya orang-orang tertentu saja yang mampu melakukannya. Sampai-sampai ada anak punk yang bisa menghapal surat Ar-Rahman. Kalau caranya salah, saya yakin mereka nggak akan mau luluh.

Bayangkan, gimana para pendakwah mendekati mereka? Pastinya dengan cara yang sangat baik, sehingga mereka merasa diterima dan dihargai.

Mengingatkan Jangan Sampai Menyakiti



Niat baik yang disampaikan dengan cara yang salah justru akhirnya membuat hal baik itu nggak pernah sampai tujuan. Kita pengen si A berhijab, tapi setiap hari kita jauhin dia dan merasa risih di dekatnya, kita ingatkan dia sambil disindir dan permalukan di depan umum, kita sebut dia banyak dosa karena setiap hari umbar aurat.

“Mbak, wanita salehah yang masuk surga itu nggak ada yang model kayak mbak, lho. Semoga mbak lekas tobat, ya. Semoga Allah ampuni dosa-dosa mbak.”

Kira-kira si A mau berhijab atau malah ilfil? Bisa aja dia berubah, tapi sambil merasa sangat sakit. Atau justru dia langsung keluar dari hidup kamu. Aih, jangan sampai kita menjadi orang yang merasa diri paling benar dan menganggap orang lain penuh dosa. Naudzubillah.

Saya pernah membaca sebuah kisah menarik, di mana ada seorang alim yang saleh dan rajin sekali beribadah, namun sayangnya dia meninggal dalam keadaan sombong. Sehingga surga bukanlah tempat dia tinggal.

Kemudian, ada orang yang hidupnya nggak baik-baik amat, saleh pun bisa dikatakan nggak, tapi kemudian dia hijrah dan terus memohon ampun kepada Allah. Sadar dia banyak salah. Sehingga di akhir kehidupannya, Allah memasukkannya ke surga.

Kok, bisa? Karena orang alim itu merasa dirinya sudah baik, sudah sempurna sekali imannya, sehingga dia terjerumus dalam sifat sombong yang sangat dibenci oleh Allah. Dia anggap orang lain nggak lebih baik daripada dia. Padahal, dia belum tahu, jika orang lain yang di matanya sangat hina, justru siang malam sedang berusaha memperbaiki diri, berusaha berbenah, dan bertobat kepada Allah.

Allah itu, kan nggak melihat hasil, Allah melihat proses dan usaha kita. Dan siapa sih yang bisa menebak nantinya kita dimatikan dalam keadaan seperti apa? Kalau ada orang yang sudah membunuh banyak jiwa akhirnya mati dalam keadaan bertobat dan tobatnya diterima, maka apa masih bisa kita sebut dia nggak akan masuk surga? Itu hak Allah, bukan kita yang tahu.

Dulu kita pernah salah, itu wajar. Dulu kita penuh dosa, nggak semua suci memang. Tapi, jika kita mau bertobat dan memohon ampun kepada Allah, rahmat dan kasih sayang Allah itu luas. Itulah kenapa kita harus berbaik sangka kepada Allah, karena Allah itu Maha Pengampun.

Belajar lagi, membenahi diri lagi, itulah yang harus saya lakukan. Memang benar, gajah di depan mata nggak kelihatan, kita justru merasa lebih mudah melihat semut di seberang lautan. Artinya, dosa kita nggak pernah kelihatan, padahal kalau dihitung entah gimana ngerinya, tapi kalau melihat orang lain, rasanya mudah sekali menebak salahnya. Eh, padahal kita dekat pun nggak, ya?

Salam hangat,

Featured image: Photo by Rahul Pandit on Pexels

 

Comments

  1. Aku salute org yg memilih jalan dakwah dengan menginspirasi bukan memaksa. Menginspirasi dari tingkah laku dan kehidupan nyata

    ReplyDelete
  2. Niat baik harus disampaikan dengan cara yang baik juga. Jangan sampai menghakimi atau bahkan menyakiti dengan tutur kata sendiri. Setuju banget seperti ini.

    ReplyDelete
  3. Betul banget, dakwah itu mengajak, ibaratnya jika masih ada perbuatan yang kurang baik, ditegor dan dinasehatin. Toh niatnya menuju kebaikan

    ReplyDelete
  4. Dakwah itu banyak ragam dan caranya. Metode penyampaikan dakwah harus kita pahami audiens kita. Namun dakwah yg paling baik adalah mengajak untuk bersama-sama berlomba-lomba untuk kebaikan. Dakwah dengan hikmah itulah yg terbaik.

    ReplyDelete
  5. Suka bnget kak Sana kalimat Manusia Tempatnya Salah, Bukan Dakwah Namanya Jika Senang Menghakimi iya pdh rosul sdh mncobtohkn y bgmn carany

    ReplyDelete
  6. Setuju banget, Mbak. Kita aja lebih senang dengan sebuah ajakan bukan suruhan. Dan, tentu saja orang lain pun sama, kebanyakan orang itu nggak mau diceramahin, dipaksa apalagi dihakimi. Bisa jadi niat kita baik, tapi kalau penyampaiannya salah, ya nggak sampai juga :)

    ReplyDelete
  7. Masya Allah, kalimat ini .... mengena bener..

    Allah itu, kan nggak melihat hasil, Allah melihat proses dan usaha kita. Dan siapa sih yang bisa menebak nantinya kita dimatikan dalam keadaan seperti apa? Kalau ada orang yang sudah membunuh banyak jiwa akhirnya mati dalam keadaan bertobat dan tobatnya diterima, maka apa masih bisa kita sebut dia nggak akan masuk surga? Itu hak Allah, bukan kita yang tahu.

    ReplyDelete
  8. Aku juga suka sedih, lho, kalau ada yang mengajak kajian tapi saat melihat pakaian yang kita kenakan, tatapan matanya auto merendahkan. Apalagi ditatap dari ujung kepala sampai ujung kaki. Sayang banget. Padahal orang-orang yang sudah mau datang ke kajian semestinya dirangkul supaya tetap betah belajar bareng. Sambil diajak perlahan untuk menutup aurat secara benar.

    Dulu banyak teman yang mundur dari kajian karena merasa mendapat perlakuan berbeda. Subhanallah, aku pun masih jauuuh sekali dari muslimah yang berpakaian syar'i. Tapi mohon doanya agar senantiasa terus memperbaiki diri ya, Mbak.

    ReplyDelete
  9. ih iya gemes banget dengan dengan orang yang sok suci
    Ngelihat dari atas sampai bawah buat nyari nyari kesalahan
    Tapi orang yang mencari pembenaran juga nyebelin
    Dia bilang yang penting jilbab hati daripada pakai jilbab tapi hatinya busuk
    Yeee ..... bukankah harus dijilbab keduanya, bukan salah satu :D

    ReplyDelete
  10. Yang suka nyinyir memang lebih pintar daripada yang hanya menunduk diam. Padahal tidak ada yang tahu bagaimana isi hati manusia. Memberi teladan itu teramat susah tapi ampuh daripada memberi perintah yang hanya diturut saat berada di depan yang bersangkutan

    ReplyDelete
  11. Klo menurut aku Dakwah pakai hati biar nyampe ke hati juga, jadi touchings heart.

    ReplyDelete
  12. Meilia WuryantatiMay 9, 2020 at 10:58 PM

    Iya dakwah seharusnya ngajak bukan nyuruh. Tapi terkadang saat kita mendengar dakwah , seolah kita harus benar2 wajib menjalankan. Ya memang wajib sih.. tapi bukan saklek saat itu juga harus dilakukan . semua ada proses nya. Malah jadinya buat orang yang lagi belajar kayak aku juga nih... Jadi males mendengar kan dakwah.. astaghfirullah

    ReplyDelete
  13. Di satu sisi saya senang sekarang semakin banyak pendakwah di sekitar kita. Kuping-kuping kita seperti 'dicuci' setiap hari dengan kata-kata motivasi. Di sisi lain, saya juga sedih karena sebagian yang berdakwah kesannya ya itu, menganggap obyek yang didakwahinya adalah obyek penderita. Hahahaha. Makanya kalo mau dengerin ceramah ustaz, saya pilih-pilih ustaznya. Ingin balik lagi ke zaman 90-an dulu di mana kita punya ustaz kondang yang benar-benar mengayomi, seperti Almarhum Zainuddin MZ dan Quraish Shihab. Istilahnya dai sejuta umat. Hehehe. Saya masih akrab dengan istilah itu.

    ReplyDelete
  14. Dakwah itu harusnya ramah, bukan marah-marah :))
    Makanya aku males nyimak ustaz yang dakwahnya ngegas. Orang butuh ditenangkan loh, bukannya digaspol.

    ReplyDelete
  15. Daku suka artikelnya, karena memang bukan nyuruh, ndak bijak juga. Bila disampaikan dengan baik dengan saling nasehat menasehati mungkin akan lebih bermakna.

    ReplyDelete
  16. Bener banget, cara penyampaian akan ngaruh ke personal yang dikasih tau. Kalau terlalu ngegas dan menggurui bukannya orang respect malah jadi ga suka dengan saran atau masukan yang dikasih karena penyampaiannya :"

    ReplyDelete
  17. Benar sekali mbak, mengajak akan lebih mengena..
    Apalagi klo dakwah, harus mengajak dgn baik baik

    ReplyDelete
  18. aku suak dakwah yg tdk menggurui tapi memberi teladan, tersu hrs smooth, kita gak seperti disuruh

    ReplyDelete
  19. Ya ampun, dari judulnya aja sudah mantap sekali. Aku 100% setuju dan hal ini memang perlu ditekankan lagi ke orang-orang. Aku pernah punya teman, dia ini orang baik dan berilmu. Aku selalu terbuka dengan segala opini, saran dan nasehatnya tapi lama-lama dia menyampaikan dengan nada yang keras dan itu sudah masuk ke "menyuruh" bahkan ada nada sindiran juga.

    ReplyDelete
  20. Saya juga liat kontennya Ust. Zaky. Reminder banget buat para aktivis dakwah.

    Ya, kayaknya saya masih ada di tahap ini. Masih belum bener dalam menyampaikan dakwah. Tapi bukan berarti jadi berhenti dan meninggalkan aktivitas dakwah. Harus terus belajar, banyak main biar asik, dan tetep sabar. Hehehe

    ReplyDelete
  21. Lihat foto-fotonya, jadi ingat lagu lilin putih

    ReplyDelete
  22. Uwww berasa diingatkan bgt baca artikelmu mbak. Memang kudu rendah hati trs yaa, introspeksi diri, trs yg pling penting jgn merasa diri kita lebih 'suci' dr org lain, eh kl aku apa jg yg mau dibanggakan. Ibadah aja jarang. Hhhh

    ReplyDelete