Top Social

Peran Keluarga dan Masyarakat dalam Menumbuhkan Budaya Literasi Sejak Dini

Peran keluarga dalam menumbuhkan budaya literasi pada anak-anak harus dimulai sejak dini (Foto: Pexels.com)

Budaya literasi yang mencakup kegiatan membaca dan menulis saat ini memang sudah semakin sulit ditemukan dalam lingkungan keluarga ataupun masyarakat. Sebagian besar aktivitas kita sehari-hari justru didominasi oleh gawai ketimbang buku. Kamu bisa melihat di sekelilingmu, betapa sulitnya menemukan penumpang KRL (kereta rel listrik) yang membaca buku. Sebagian besar dari mereka terpaku menatap gawai di sepanjang perjalanan, bisa jadi termasuk kita sendiri.

Tapi, apakah lunturnya budaya literasi di rumah ataupun di masyarakat seratus persen disebabkan oleh gawai? Saya pribadi tidak sepakat dengan itu meskipun kemunculan gawai pada zaman sekarang memang cukup mempengaruhi budaya baca dan menulis seseorang. Kita tidak bisa sepenuhnya menyalahkan gawai, sebab, kemunculan gawai juga nyatanya bermanfaat jika digunakan dengan baik dan efisien.

Munculnya gawai juga berpengaruh pada budaya literasi pada anak-anak kita. Kebanyakan anak-anak zaman sekarang memang lebih senang bermain gawai ketimbang membaca cerita dongeng. Tapi, bukan berarti semua anak bisa disamaratakan. Masih banyak anak-anak yang suka membaca buku, berlama-lama di perpustakaan daerah, atau gemar menulis cerita mereka sendiri.

Anak-anak yang senang membaca atau menulis tidak muncul begitu saja, lho. Ada peran orang tua di rumah serta masyarakat yang turut andil besar dalam menumbuhkan budaya literasi bagi mereka. Sebagai orang tua, saya pribadi melakukan banyak cara supaya anak-anak suka membaca sejak usia dini. Hal semacam ini tidak bisa dilakukan dengan tiba-tiba. Tapi, harus ditumbuhkan pelan-pelan dan tentu saja dengan cara yang menyenangkan.

Kita tidak hanya ingin anak-anak pandai membaca, tetapi juga menyukai dan mencintai aktivitas tersebut. Lantas apa saja yang bisa kita lakukan sebagai orang tua untuk menumbuhkan budaya literasi dalam lingkungan terkecil yakni keluarga?

1. Perkenalkan Buku pada Anak-anak Sejak Usia Dini

Perkenalkan buku pada anak-anak sejak usia dini (Foto: Pexels.com)
Membelikan buku cerita atau dongeng untuk anak-anak jangan menunggu mereka masuk sekolah. Saya bahkan sudah membeli buku cerita untuk anak-anak sejak si sulung masih di dalam kandungan. Sebenarnya, agak terdengar konyol juga, tetapi saya meyakini bahwa bayi di dalam rahim kita juga mendengar ketika kita membacakannya buku.

Setelah anak-anak lahir, saya semakin sering membelikan buku bacaan untuk mereka. Meskipun mereka belum pandai membaca, bahkan hanya sekadar dimainkan dan dibuka tutup saja. Fokus saya hanya ingin membuat mereka akrab dengan buku. Tidak ada target lebih.

2. Bacakan Buku Sebelum Anak-anak Beranjak Tidur

Bacakan buku setiap anak hendak tidur (Foto: orami.co.id)
Sebelum tidur, ada baiknya kita membacakan mereka buku cerita. Meskipun mereka belum bisa membaca. Usia 2-3 tahun, anak-anak saya bahkan sudah bisa menghapal satu buku jenis picbook berseri. Mereka belum bisa membaca, tetapi hapal seluruh kalimat dalam buku yang biasa saya bacakan setiap hari menjelang tidur.

Ketika saya membuka halaman pertama, anak-anak akan melihat gambar dan membaca dengan spontan kalimat yang selalu didengarnya setiap hari. Tidak hanya sekadar membacakan, saya juga sering menceritakan ulang apa yang sudah saya bacakan untuk mereka. Kegiatan sederhana ini semakin membuat mereka mengerti isi dari cerita tersebut.

Terdengar sangat sepele, tetapi aktivitas sederhana seperti ini buat saya tidak hanya membantu mereka mencintai buku, menumbuhkan budaya literasi, tetapi juga menjaga bonding antara orang tua dan anak.

3. Jadikan Buku Sebagai Hadiah yang Paling Anak-anak Sukai

Jadikan buku sebagai hadiah atas prestasi yang telah dicapai oleh si kecil (Foto: moneysmart.id)
Bagi anak-anak, hadiah paling bagus tidak hanya berupa mainan saja, lho. Kebiasaan masyarakat kita yang lebih sering membelikan mainan daripada buku memang berpengaruh juga pada cara pandang si kecil. Apakah setiap anak-anak berprestasi harus selalu diberikan hadiah berupa mainan? Saya rasa tidak.

Setiap bermain ke mal, saya selalu mampir ke toko buku dan mencari buku-buku yang saya inginkan. Saya beri kesempatana kepada anak-anak untuk memilih satu buku yang mereka sukai. Jika mereka inginkan lebih, mereka bisa membeli menggunakan uang tabungannya. Kegiatan seperti ini selalu kami lakukan setiap bulan. Hampir tidak pernah melewatkan toko buku setiap kali main ke mal. Dan reaksi mereka? Alhamdulillah senang sekali.

Apakah anak-anak tidak meminta mainan setiap kali pergi ke mal? Sekali dua kali mereka meminta mainan, tetapi tidak selalu saya mengabulkan keinginan itu. Anak-anak saya juga sama seperti anak-anak yang lain. Pernah mematung di depan mainan yang dipajang dalam etalase toko, pernah menangis meminta mainan, tetapi saya dan suami selalu konsisten menolak jika memang dirasa berlebihan.

Alhamdulillah, ke depannya mereka semakin paham, bahwa tidak semua yang mereka inginkan harus dibeli dan dibawa pulang. Wajar saja mereka menyukai mobil-mobilan yang dijual dan dipajang di toko, tetapi mereka hanya sekadar bilang suka, mengatakan bagus, tidak lebih.

Karena sejak awal saya lebih sering mengajak mereka membeli buku, mereka pun jadi paham, bahwa yang menyenangkan bagi mereka tidak selalu berupa mainan. Buku pun tak kalah menariknya.

4. Mencari Buku Harga Diskon atau Main ke Perpustakaan

Optimalkan peran perpustakaan untuk menumbuhkan budaya literasi (Foto: Pexels.com)
Buku untuk anak-anak harganya memang mahal. Satu buku untuk si bungsu atau si sulung bisa mencapai Rp. 50-100 ribu bahkan lebih. Nggak heran, ditambah belanjaan buku milik ibunya, jumlahnya bisa mencapai ratusan ribu. Karena itulah, saya dan anak-anak membiasakan diri menabung sebelum membeli buku.

Jadi, solusinya apa supaya kita tetap bisa membaca buku baru tanpa harus merogoh kocek terlalu dalam? Kita bisa membeli buku harga diskon yang dijual di beberapa tempat. Kalau di toko buku, kita tidak bisa mendapatkan harga diskon. Di sana hanya dijual buku-buku yang baru terbit. Saya sering membeli buku di sekolah si sulung ketika ada event atau seminar parenting. Di sana, ada seorang penjual buku yang menjual buku anak-anak harga diskon. Masih segel, tetapi memang terbitan lama. Harganya bisa setengahnya, lho.

Jika tidak berminat membeli buku baru, kita bisa ajak anak-anak bermain ke perpustakaan yang saat ini semakin mudah dijumpai. Di Jakarta misalnya, sudah ada RPTRA terdekat dari rumah yang juga memiliki fasilitas berupa perpustakaan untuk anak-anak. Meskipun masih terbilang kecil, tetapi adanya perpustakaan ini bisa menjadi cara masyarakat menumbuhkan budaya literasi bagi anak-anak yang tinggal di sekitarnya. Anak-anak tidak hanya diberi fasilitas berupa taman bermain, tetapi juga disuguhkan taman memabaca yang bersih dan juga nyaman.

5. Membuat Buku Sendiri

Ajak anak membuat buku sendiri (Foto: birdandlittlebird.com)
Sejak si sulung masuk TK, saya sering iseng membuat buku sendiri. Saya ketik ceritanya dan saya gambar manual ilustrasinya. Sederhana memang, tetapi anak-anak tidak peduli sebagus apa buku itu, yang mereka sukai adalah isi ceritanya.

Kita bisa membuat cerita sendiri berdasarkan pengalaman atau keinginan anak-anak. Cerita yang sudah kamu ketik bisa di-print dan dijilid. Tawarkan mereka untuk membuat ilustrasi sendiri, biarkan mereka mewarnai gambarnya, berikan kesempatan untuk mereka supaya bisa terlibat langsung. Gambar mereka memang tidak sebagus ilustrasi dalam buku yang dibeli di toko buku, tetapi mereka akan bangga dengan apa yang mereka buat sendiri. Sesimpel itu, kok.

6. Tempel-tempel dan Gunting

Manfaat majalah bekas atau koran untuk membuat buku baru (Foto: Pexels.com)
Anak-anak senang sekali menempel stiker di buku. Hmm, sekali-kali cobalah mencari gambar di majalah bekas dan tempelkan di buku kosong. Bantu mereka membuat cerita sesuai dengan gambar. Biaya untuk memiliki buku sendiri tidaklah mahal jika kita mampu memanfaatkan barang-barang tak terpakai yang ada di sekitar kita.

Kita bisa membantu menggunting gambarnya, biarkan mereka menempel. Jika mereka sudah pandai membaca dan menulis, biarkan mereka menulis ceritanya sendiri.

7. Beri Sugesti Positif pada Anak-anak dengan Bercerita Sambil Menggambar

Jadikan bercerita dan menggambar sebagai budaya sekaligus cara menanamkan pendidikan budi pekerti (Foto: Pexels.com)
Saya punya kebiasaan aneh di rumah bersama anak-anak. Salah satunya adalah mengajarkan mereka tentang banyak hal lewat cerita dan menggambar. Jangan dibayangkan gambar buatan saya rapi dan bagus. Tidak. Gambar saya sangat sederhana, sekadar bisa menggambarkan apa yang ingin saya sampaikan kepada mereka.

Misalnya ketika si sulung belum masuk TK, saya sering bercerita sambil menggambar langsung tentang bagaimana dia di sekolah nanti, dengan siapa dia, siapa yang akan menjemputnya pulang, meyakinkan dia berani di sekolah tanpa saya, dan banyak hal yang ternyata lebih disukai anak-anak ketimbang sekadar dinasihati.

Saya pikir, cara seperti ini bisa dilakukan sambil menanamkan sugesti positif bagi mereka. Misalnya dengan kalimat seperti ini,

“Di sekolah nanti, Bunda tidak bisa ikut menemani, ya?” sambil menggambar ilustrasi si sulung di sekolah bersama guru dan teman-teman barunya.“Kamu akan bersama Ibu guru dan teman-teman barumu. Nanti, saat pulang sekolah, Bunda akan datang menjemputmu lagi. Jangan khawatir, ya.” Sambil menggambar Bunda datang ke sekolah dan menjemputnya.

Kegiatan seperti ini selalu saya ulang-ulang setiap hari, sampai dia hapal dan mengerti. Ajaibnya, saat masuk sekolah pertama kali, dia dengan santai dan senang hati berbaur dengan teman-teman barunya. Besoknya, saya sudah tidak lagi mengantarnya ke sekolah. Masya Allah.

8. Jadilah Contoh

Jadilah contoh bagi anak-anak (Foto: Pexels.com)
Anak-anak lebih senang melihat contoh ketimbang mendengarkan nasihat orang tuanya. Jadi, saya pribadi lebih senang memberikan contoh kepada mereka ketimbang hanya menyuruh mereka sering membaca buku. Anak-anak akan menyontek kebiasaan kita, termasuk kegemaran kita membaca buku.

Qadarallah, karena saya seorang penulis buku islami dan buku anak-anak, akhirnya di rumah selalu dipenuhi tumpukan buku di mana-mana. Saya butuh membaca sebagai referensi dan anak-anak melihatnya sebagai sesuatu yang menyenangkan dan patut ditiru. Selama ini, saya merasa tidak terlalu sulit menumbuhkan budaya membaca pada anak-anak. Semua berjalan alami dan menyenangkan.

Ketika kita menginginkan anak-anak suka membaca, kita sendiri perlu membiasakannya juga, jangan hanya sekadar pandai berkata, tetapi malah malas praktiknya. Jika begitu, mereka hanya akan menertawakan kita ‘kan?

9. Main Gawai Sambil Membaca Buku di Perpustakaan Digital

Manfaatkan gawai untuk kegiatan positif (Foto: Pexels.com)
Saya tidak melarang anak-anak bermain gawai asalkan mereka tahu waktu dan pastinya bermain sewajarnya. Mereka juga harus tahu teknologi, mereka juga harus paham bahaya yang bisa mereka temukan dalam dunia secanggih dan sehebat saat ini. Jika dipergunakan dengan baik, gawai akan memberikan mereka manfaat, tetapi jika salah digunakan, tentu saja akan merugikan.

Anak-anak juga harus punya kegiatan lain selain hanya bermain gawai. Misalnya saja bersepeda, bermain bola, berlarian di halaman rumah, bermain dengan teman-teman sebayanya, atau membaca buku.

Nah, saat ini kita juga bisa membaca buku di perpustakaan digital yang bisa diakses dengan mudah lewat gawai. Tapi, membaca di perpustakaan digital harus dibatasi karena tentu saja mempengaruhi kesehatan mata mereka.

10. Biarkan Anak-anak Menulis Ceritanya Sendiri

Beri kesempatan mereka menulis ceritanya sendiria atau berikan buku harian (Foto: Pexels.com)
Ternyata, tidak hanya senang membaca, mereka yang mencintai buku juga bisa menulis cerita sendiri, lho. Ini terbukti pada si sulung yang sekarang sudah duduk di bangku Sekolah Dasar. Dia sering membuat komik atau menulis cerita pendek tentang petualangan monster serangga atau banyak cerita seru lainnya.

Berikan mereka kesempatan untuk menuliskan cerita mereka sendiri, jangan lupa berikan apresiasi dan pujian atas kerja keras mereka. Jangan selalu fokus pada hasil yang mereka capai, tetapi hargai prosesnya juga.

Kira-kira itulah yang saya terapkan selama ini pada anak-anak. Alhamdulillah, si sulung sekarang sudah berusia 8 tahun, sedangkan si bungsu hampir 4 tahun. Keduanya sama-sama senang  bermain seperti anak seusianya, mereka juga mengenal gawai, tetapi yang paling membuat saya senang, mereka juga senang sekali membaca dan dibacakan buku. Budaya literasi seperti ini tidak bisa kita tunggu sampai mereka masuk sekolah, pastinya harus sejak dini diajarkan terutama dalam lingkungan terdekat yakni keluarga.

Lantas bagaimana peran masyarakat dalam menumbuhkan budaya literasi?

1. Buatlah Taman Membaca Sebanyak Mungkin

Peran penting taman membaca (Foto: Pexels.com)
Untuk menumbuhkan budaya literasi sejak dini, kita harus membuat taman membaca sebanyak mungkin supaya bisa lebih mudah diakses oleh masyarakat. Saat ini, jumlah taman membaca atau perpustakaan di sekitar kita sangatlah sedikit. 

Selain itu, kita perlu mengedukasi masyarakat tentang pentingnya budaya literasi. Kebanyakan dari mereka tidak peduli bahkan tidak mengerti manfaat dari membaca bagi anak-anak.

Membuat taman membaca tidak perlu lahan besar dan luas, lho. Cukup pinjamkan sedikit saja ruang yang kita miliki untuk anak-anak di sekitar kita. Kita bisa menata koleksi buku di teras rumah dan biarkan anak-anak membacanya dengan senang hati setiap akhir pekan. Sederhana, tetapi jika banyak masyarakat yang mau berperan aktif melakukannya, manfaatnya tentu saja sangat besar.

2. Mendampingi Anak-anak Membaca Buku

Dampingi anak-anak membaca buku atau bacakan buku untuk mereka (Foto: Pexels.com)
Di Jakarta, terdapat program Baca Jakarta yang dilaksanakan selama sebulan penuh. Program ini dilaksanakan dengan tujuan mendampingi anak-anak supaya  mampu menyelesaikan tantangan 30 hari membaca. Ternyata adanya 800-an relawan dalam program membaca ini sangat membantu sekali dalam proses tumbuhnya budaya literasi di dalam masyarakat, lho.

Tanpa pendamping, buku-buku yang banyak kita sumbangkan hanya menumpuk tanpa arti. Buat saya, pendampingan ini sangat penting karena anak-anak juga sangat butuh ditemani dan didengarkan.

Itulah peran keluarga dan masyarakat yang bisa dilakukan untuk menumbuhkan budaya literasi di sekitar kita. Budaya membaca dan menulis tidak bisa tumbuh dengan tiba-tiba, butuh peran keluarga yang menjadi sekolah pertama bagi anak-anak serta peran aktif masyarakat di sekitar kita. Lakukan semuanya dengan menyenangkan tanpa memaksa. Yuk, jadi #SahabatKeluarga dan bangun budaya #LiterasiKeluarga di rumah!

Salam,
23 comments on "Peran Keluarga dan Masyarakat dalam Menumbuhkan Budaya Literasi Sejak Dini"
  1. Alhamdulillah, sejak kelas 2 sD Lubna mulai suka buku. Padahal dlu belum nyantol.
    Sekarang sukanya ke perpustakaan daerah Yogya yg mirip taman bermain. Udah nggak pernah ke mall lagi minta yg aneh² :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Senangnya ya bun bisa main ke perpustakaan...saya pengen banget ngajakin si sulung ke perpusnas..tapi belum kesampean nih...lumayan juga jaraknya dari rumah..hiks

      Delete
  2. Jadi ingat, saya mulai suka baca tulis jg karena cara ortu saya membiasakan utk belanja buku bulanan di gramed waktu kecil dulu. Akhirnya dr kecil emang suka banget baca komik, sampe skrng jd suka baca apa saja. Dulu masih kecil jg langganan majalah bobo di rumah.
    Memang peran orang tua itu sanga penting ya, Mba.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar sekali, Mas. Apa yang ditanamkan oleh orang tua sejak kita kecil akan melekat banget meskipun setelahnya kita tinggal di tempat lain..

      Delete
  3. Poin nomor 8 biasanya ampuh sih bund. Jadi contoh, sebab anak adalah peniru ulung

    ReplyDelete
  4. Wah bener banget tips yang sudah dipaparkan diatas. Meskipun ibu saya tidak mengajari secara langsung literasi sejak kecil, tapi sejak kecil saya sering dibelikan buku buku yang berhubungan pelajaran seperti kamus bergambar, rumus matematika.

    ReplyDelete
  5. Memang peran orang tua besar sekali dalam menerapkan kebiasaan baik bagi anak. Orang tua seharusnya menjadi contoh dan teladan bagi anak.

    ReplyDelete
  6. Alhamdulillah dulu saya suka baca buku karena ngga punya TV, sekarang anak2 saya suka baca buku karena TV hanya boleh di tonton maksimal dari jam 7- jam 9malem hehehe

    ReplyDelete
  7. Alhamdulillah sampai skrng anak-anak kalau ke toko buku masih suka kalap Bun hehehe... Makanya ini baru cari jalan keluar cari buku diskonan. Bunda ada referensi tempatnya? Biar anak-anak sekalian lari-lari

    Maksudnya biar enggak beli online terus sekali-kali jalan-jalan lah hehehe

    Terima kasih atas inspirasinya selalu ya Bunda ☺

    ReplyDelete
  8. Alhamdulillah, kami kenalkan buku sjk anak2 kelas 1 SD dan TK. Ada jdwl khusus membeli buku , dan tiap malam, meski kadang ada bolongnya sama2 membaca dan membacakan, hehehe. Minat baca anak sy yg pertama alhamdulillah tinggi bun, malah suka nagih dibeliin buku baru klo yg lain sdh diselesai dibc

    ReplyDelete
  9. Saya selalu suka kalo ada yg mendukung budaya literasi sejak dini di rumah, karena saya sedang berusaha bisa melakukannya juga, jadi berasa punya temen dan jadi banyak referensi gitu. HIHI

    Alhamdulillah saya udah menyiapkan buku sejak anak sulung saya belum 1tahun, sekarang si sulung udah 6 tahun, udah bisa baca. Waktu saya dengar cara dia membaca buku2nya, ekspresi nya hampir sama saat saya membacakan buku itu ke dia tiap mau tidur waktu masih kecil dulu.

    Saya takjub sekali mendengarnya mba muyass, memang benar kalau kita mengenalkan buku ke anak lebih dini akan membuat mereka gemar membaca, saya membuktikan sendiri.

    ReplyDelete
  10. Artikel yang superb mbak Muyass.. Ini juga yg nanti InsyaAllah aku dan suami tanam kan ke Julio. Kami sampai udah niat bikin mini library dan Reading corner di rumah biar anak makin betah belajar dan membaca di sana. Nggak sabar pingin jadi nyata hehe

    ReplyDelete
  11. Noted dengan semua poin yang mbak jabarkan di atas. Bisa jadi acuan juga buat saya nih dalam menumbuhkan budaya cinta literasi untuk si kecil. Apalagi sebagai seorang ibu yang tentu punya peran lebih besar untuk mengajarkan dan membiasakan anak jadi dekat dengan buku2 dan cinta membaca.

    ReplyDelete
  12. aku senang membaca buku mbak dan harapanku anak-anakku juga suka membaca buku, namun aku nya yang gak konsisten mendampingi mbak..hiks

    ReplyDelete
  13. Wah anak-anak saya kalau diajak ke Gramedia ikut-ikutan mau beli buku yang mereka mau, terkadang harganya lebih mahal daripada buku saya sendiri. Hahahaha,....kadang pusing..dan akhirnya keputusannya semua sama rata beli satu buku saja. padahal saya niatnya mau beli 3 buku.Anak saya yang sulung saja yang ngikutin emaknya suka baca buku.

    ReplyDelete
  14. Setuju banget Mbak! Lingkungan memang membawa pengaruh yang sangat erat bagi seseorang, apalagi anak yg gampang menyerap keadaan sekitar. Dan keluarga adalah lingkungan yg dekat dengan anak.
    Saya suka dengan ide DIY mbak Muyas untuk bikin buku sendiri. Kayaknya boleh dicoba nihh sambil mengasah kreatifitas. Bikin buku yg bergambar, dan nanti diselipkan gambar tanpa warna untuk diwarnai.
    Soal gawai, hmm agak sulit ya mbak... Tapi yg penting si anak tetap suka baca, dan tidak memforsir diri dg kegiatan lain di gawainya. Walau gawai semacam kindle itu juga sama aja dg buku jatohnya. Meskipun beda juga feelnya. Ya, ada plus minusnya lah sama buku fisik.
    Semoga suatu saat jika diberi kesempatan, saya bisa memiliki keluarga yg harmoni, cinta baca, dan punya perpustakaan di rumah. Cita2 saya bgt nihh. Mohon doanya mbak. hihihihi

    ReplyDelete
  15. Benar keluarga adalah tiang utama menumbuh kembangkan jiwa literasi ya mbak

    ReplyDelete
  16. Betul banget mb. Alhamdullilah anak saya yg sulung suka baca mb. Dan benar ortu harus terus kenalkan buku ke anak. Makasih ya mb. Kerenn ilmunya.

    ReplyDelete
  17. Betul mba peran keluarga yanh penting dalam menumbuhkan minat baca anak. Mudah-mudahan anakku nantinya terbiasa baca buku jika sudah di atas 3 tahun karena sekarang dibeliin buku senangnya disobek-sobek mba. Hiks.

    ReplyDelete
  18. Lengkap sekali pemaparannya. Budaya literasi memang harus kita mulai sejak dini. Paling bagus memang memberi contoh, ya. Karena contoh dengan tindakan akan lebih tertanam di benak anak-anak kita.
    PR banget sih untuk membuat anak-anak sekitar suka membaca spt anak-anak kita. Biasanya sih saya persilakan si sulung pinjamin buku bacaannya ke teman (tapi harus balik, hehe). Di masyarakat sekitar saya, buku masih dianggap barang mahal dan ga penting2 amat. Tapi perpus juga tergolong sepi padahal gratis. Hiks

    ReplyDelete
  19. Saya sudah kenalkan buku pada babyZril sedari dia bayi. Bukunya dulu dari kain jadi enak dipakai bantal juga. Lalu di usia 11 bulan, Zril bisa pilih buku sendiri di toko buku

    ReplyDelete
  20. peran orang tua memang penting bgt kak. ditengah maraknya pengguna hp jaman skrg. teman saya saja anaknya malah sering dikasi gadget buat nonton youtube daripada buku.

    ReplyDelete
  21. Adanya contoh ini yang penting banget dari para ortu. Khususnya, dalam menghidupkan kebiasaan literasi itu sendiri di rumah. Setuju banget mba sama isi artikelnya, mesti sabar intinya. Lama kelamaan, habit ini pun pasti juga akan terbentuk

    ReplyDelete

EMOTICON
Klik the button below to show emoticons and the its code
Hide Emoticon
Show Emoticon
:D
 
:)
 
:h
 
:a
 
:e
 
:f
 
:p
 
:v
 
:i
 
:j
 
:k
 
:(
 
:c
 
:n
 
:z
 
:g
 
:q
 
:r
 
:s
:t
 
:o
 
:x
 
:w
 
:m
 
:y
 
:b
 
:1
 
:2
 
:3
 
:4
 
:5
:6
 
:7
 
:8
 
:9

Custom Post Signature

Custom Post  Signature