Pengalaman Terbaik Bersama Jakarta Eye Center

July 05, 2017

sumber



Sebelumnya nggak pernah mendengar apalagi kenal dokter-dokter di rumah sakit mata Jakarta Eye Center atau JEC. Meski ternyata rumah sakit dengan fasilitas yang sudah bertaraf internasional ini memang cukup banyak didengungkan baik di beberapa komunitas atau pun media. Salah satunya ketika seorang penyidik KPK, Novel Baswedan mengalami musibah penyiraman air keras oleh pihak yang nggak bertanggung jawab. Beliau sempat ditangani di JEC sebelum akhirnya dipindahkan ke Singapura. Beberapa artis papan atas seperti Rhoma Irama pun sempat melakukan operasi mata di JEC. Tapi, meski banyak yang menyebut JEC adalah salah satu rumah sakit terbaik dan pernah mendapatkan penghargaan dari MURI, saya nggak pernah tahu hingga suatu hari, musibah menyesakkan itu datang tanpa mau menunggu.

Adik bermain pasir bersama kakak di salah satu ruangan terbuka di rumah. Biasanya saya nggak mengizinkan mereka bermain hingga menyentuh pasir. Bahkan taman di dalam rumah itu sengaja kami beri pagar pembatas supaya anak-anak tidak sampai bermain di sana. Sayangnya, adik yang sebelumnya memang sudah sakit mata karena tertular ayahnya, saya izinkan dengan enteng dan mudahnya bermain  bersama kakaknya di sana. Alasannya karena ada ayah yang menemani.

Tapi, sekali lagi musibah itu nggak pernah mau menunggu apalagi mengucap permisi. Nggak lama suara tawa berubah lengkingan tangis yang nggak bisa berhenti. Ayah segera membopong adik ke kamar mandi. Mencuci mata dan kepala yang sudah dipenuhi pasir. Nggak nyangka kejadian itu sungguh jadi mimpi buruk buat saya dan keluarga.

Adik belum juga berhenti menangis. Setiap kelopak matanya yang bengkak karena sebelumnya sakit mata bergerak sedikit saja, spontan suara tangisnya keras terdengar. Saya pikir itu hanya seperti kemasukan debu karena mata memiliki bulu mata yang bisa melindungi. Jadi nggak kebayang kalau sampai masuk ke dalam dan membuat dia susah melihat. Hari itu, kamis, tanggal merah. Sore hari yang menyayat dan begitu lekat dipenuhi kesedihan. Nggak ada dokter spesialis yang praktik di rumah sakit. Suami enggan membawa ke UGD. Menurut paksu, pasirnya pasti bisa keluar sendiri ketika dia bekedip-kedip.

Tapi, sampai beberapa jam, dia masih saja terpejam dan sesekali menangis kesakitan. Saya melihat dia makan dengan meraba gelas berisi es buah yang saya siapkan untuk berbuka puasa. Ngilu dan perih menatap anak sendiri tiba-tiba nggak bisa melihat. Bayangan-bayangan buruk berkelebat. Sejak saat itu, sayalah orang yang paling banyak menangis meski adik sama sekali nggak banyak merepotkan. Seperti namanya, Dhigdaya, kami harapkan dia jadi anak kuat seperti nama yang kami berikan.

Malam berlalu tanpa perubahan berarti. Setiap saya menyeka matanya dengan tisu, butiran pasir halus ikut menempel. Saya yakin itu sangat menyakitkan meski adik jarang sekali menangis. Mata kemasukan debu saja perihnya bukan main, kali ini pasir yang meski terlihat lembut tapi kenyataannya memiliki bentuk kasar dan bisa menggores lapisan halus di mata.

Pagi-pagi saya melarikan adik ke UGD rumah sakit terdekat. Tenaga medis di UGD langsung merujuknya ke spesialis mata yang artinya saya harus menunggu lebih lama karena waktu praktik masih 3 jam lagi. Saya menangis di ruang tunggu. Adik hanya menyusu dan sesekali menangis lalu tertidur. Kelopak matanya semakin bengkak dan membiru. Itu hal paling menyakitkan. Semakin melihat, semakin rasa bersalah menikam tanpa ampun. Ini pelajaran berharga buat saya. Nggak seharusnya mengizinkan anak-anak bermain tanpa pengawasan orang tua. Belum lagi si sulung yang sama sekali belum paham bahayanya melempar pasir. Dan itu sama sekali luput dari pikiran saya saat itu.

Dokter spesialis mata sempat mengerutkan kening. Kayaknya nggak percaya dengan apa yang terjadi dan menimpa anak saya. 3 sampai 4 dokter muda serta beberapa suster ikutan heboh memegang adik yang mulai menjerit kesakitan saat matanya dibuka dan dibersihkan. Saya hanya diam dan duduk, tak berani mendekat apalagi melihat. Selesai drama menakutkan itu, adik diam dan tertidur di pangkuan saya. Tapi, kenyataannya, adik belum juga bisa membuka mata meski dokter sudah mengatakan telah membersihkan banyak pasir di matanya. Itu artinya  masih tersisa pasir, begitu menurut dokter. 

Keesokannya saya kembali membawa adik ke dokter yang sama. Meski dengan perasaan yang mustahil tenang. Saya sendiri merinding dan enggan kembali ke dokter tapi adik belum juga bisa melihat. Pikiran-pikiran buruk melesat begitu cepat di dalam kepala. Saya nggak bisa membiarkan adik dalam kondisi seburuk ini terlalu lama. Jadi, saya putuskan kembali. Adegan menyebalkan itu terulang. Luar biasa. Saya merasa jadi orang tua paling jahat sedunia sebab telah menyakiti putra sendiri. Serasa disayat sembilu, tanpa ampun saya terus saja menyesali kejadian kemarin yang kini begitu sulit dimaafkan.

Dua hari menjelang, adik belum juga mampu membuka mata. Apakah itu tandanya masih ada pasir di mata adik? Bukankah sampai dua kali dibersihkan? Kondisi kelopak matanya sempurna bengkak dan lebam seperti habis dihantam kepalan tangan. Nggak tega, hampir setiap melihatnya, saya pun menangis tanpa bisa ditahan.

Lima hari berikutnya saya menelepon dan mendaftarkan nama adik di rumah sakit yang sama. Sayangnya, dokter spesialis mata yang menangani hanya praktik sore hari. Menunggu dan melihat adik yang hanya diam dan lebih banyak tidur membuat saya berpikir keras. Akhirnya saya browsing dan menemukan sebuah komunitas perempuan yang sedang membahas dokter mata terbaik di Jakarta. Kebanyakan dari mereka menyebut JEC. Belum paham dan mengerti tapi saya segera mengetik nama yang sama di Google. Dan muncullah Jakarta Eye Center. Tanpa berpikir panjang, saya pun menelepon ke JEC Menteng.

sumber

Alhamdulillah, pagi itu saya bisa terdaftar meski belum punya kartu berobat. Dokter yang saya pilih saat itu adalah dokter spesialis mata dewasa, dokter Ginting. Pihak JEC sebelumnya telah mengatakan bahwa sebenarnya di sana menyediakan klinik mata khusus anak yang artinya ada dokter spesialis yang menangani mata anak. Tapi, kondisi darurat seperti ini sudah seharusnya saya bergerak cepat. Jika memang diperlukan, nanti pasti akan dirujuk ke sana. Akhirnya saya tetap datang pagi itu, dengan perasaan cemas mulai berkurang.

Pertama kali tiba di Jakarta Eye Center, seorang perempuan cantik berseragam rapi membantu proses pendaftaran. Prosesnya nggak lama meski rumah sakit itu lumayan penuh. Adik yang sepertinya sudah trauma dan merasakan keberadaannya di mana, menangis dan memanggil ayahnya. Ruang tunggu pasien jadi nggak nyaman karena adik menolak duduk dan sulit sekali ditenangkan. Nggak lama kemudian, kami masuk ke ruang dokter. Pelayanan yang ramah dan sangat ramah dengan dokter Ginting yang sangat menghargai dan berkali-kali meminta maaf saat akan memeriksa adik. Pertama beliau mengatakan ingin memastikan kornea matanya baik-baik saja. Sebuah alat mirip kawat dipakai untuk tetap menyangga mata supaya terbuka. Mirip seperti alat yang dipakai untuk membuka mulut saat melakukan perawatan gigi. Saya sendiri nggak berani melihat saat itu. Tapi, keadaan jauh lebih tenang. Dokter Ginting bahkan membiarkan adik tetap dalam pangkuan saya. Beliau malah amat ‘melayani’ sebagai seorang dokter. Nggak lupa membersihkan tangan sebelum memeriksa. Proses yang nggak saya temukan di rumah sakit sebelumnya.

Mata adik semerah api. Pasir masih sedikit tersisa tapi hal utama yang membuatnya enggan membuka mata adalah kondisi matanya yang penuh goresan dan radang. Beliau mengatakan itu sangat menyakitkan. Karena merasa tidak seharusnya menangani pasien anak, akhirnya dokter Ginting merujuk kami ke dokter spesialis mata anak.

Alhamdulillah, kornea masih baik dan artinya adik insya Allah bisa melihat lagi jika keadaannya membaik. Lega? Tentu saja. Dan mungkin sikap dokter seperti ini sangat membantu, serta komunikasi yang baik membuat saya merasa jauh lebih tenang.

Dua hari setelahnya adik memang sudah membaik, tidur lebih anteng, suhu badannya normal kembali setelah sebelumnya sempat panas dan membuat saya lemas seolah roh lepas dari badan. Terbayang sakitnya adek sampai badannya panas, itu berarti sedang ada radang atau infkesi. Semalaman saat adik suhunya naik, saya nggak bisa tenang.

Hari ke-8 saya kembali ke JEC menemui dokter spesialis mata anak. Dokter Florence yang profilnya sudah saya baca sebelumnya di web resmi JEC. Beliau menangani bahkan bayi-bayi prematur. Pas masuk ruangan, nggak kebayang sebelumnya kalau dokter Florence ternyata cantik dan ramah banget. Menjelaskan detail dan nggak pelit. Beliau bahkan menenangkan dan berkali-kali bilang bahwa darah yang keluar saat membersihkan mata adik bukan masalah. Nanti akan berhenti sendiri. Beliau juga memberikan beberapa video dengan kasus yang sama.

Mata adik dipenuhi goresan kecil. Yang jadi masalah selain rasa sakit adalah benteng berupa lendir yang menutupi seluruh permukaan mata sehingga membuat dia susah sekali membuka kelopak matanya. Dokter Florence harus mengambilnya. Adik hanya dipangku ayah dan saya hanya memegang kedua kaki. Nggak pakai acara keroyokan segala, kok. Perawat hanya ada satu di setiap ruang dokter. Tidak ramai-ramai seperti rumah sakit sebelumnya. Peralatan super canggih dan lengkap sekali. Jadi, pasien nggak perlu dirujuk ke tempat lain sebab JEC sudah menyiapkan semuanya.

Dokter Florence menyebutkan jika benteng berupa lendir itu dibuat oleh kuman karena selama beberapa hari ini, obat tetes mata nggak masuk dengan benar. Antibiotik minum nggak diperlukan. Hanya disarankan makan-makanan bergizi dan buah yang mengandung vitamin C supaya goresan di matanya lekas menutup. Jika perlu boleh dengan minum vitamin C.

Di sana saya juga diajarkan bagaimana meneteskan obat mata yang benar. Selain itu beliau juga menjelaskan obat apa yang sebaiknya digunakan oleh anak-anak. Tidak seperti orang dewasa yang mau diberi obat apa saja seperti salep atau yang lain. Berbeda dengan anak-anak. Mereka cenderung nggak cocok dengan obat mata jenis salep karena lengket dan membuat pandangan buram. Obat tetes mata dalam kemasan botol juga nggak disarankan karena cenderung perih di mata. Sebab mengandung pengawet yang jumlahnya mungkin jauh lebih besar ketimbang obat tetes mata yang kemasan kecil dan harus dibuang dalam waktu 3 hari setelah dibuka.

Jadi, obat-obat kemasan berupa tabung kecil itulah yang cocok buat anak-anak sebab tidak terlalu perih di mata. Caranya pun harus pintar-pintar. Nggak sembarangan masuk, nangis, akhirnya obatnya terbuang.

Setelah lendir di mata dibersihkan, itulah saat yang tepat buat mengobati supaya kuman-kuman (Sebelumnya adik memang sudah sakit mata) bisa mati. Asal diobati dengan benar, insya Allah nggak perlu waktu lama buat sembuh.

Caranya? Teteskan obat pada sudut mata anak, lalu Tarik kelopak bagian bawah. Sebentar aja nggak perlu heboh-heboh sampai dipegangin. Alhamdulillah, cara seperti ini berhasil dan lebih mudah diterapkan ketimbang memegangi adik sampai nangis tapi akhirnya obatnya keluar sia-sia.

Dokter Florence begitu cekatan saat menangani adik. Dia berkali-kali bicara banyak hal dan menjelaskan tanpa henti. Selain itu, beliau juga memberikan kartu nama dan nomor handphone. Bisa dihubungi sewaktu-waktu jika dibutuhkan. Saya kira, dialah dokter terbaik yang pernah saya temui selama ini. Nggak banyak dokter yang bisa senyaman itu bercanda, bicara dan mengedukasi. Nggak banyak. Langka banget.

Alhamdulillah, proses itu berjalan baik. Saya mengambil obat di apotek. Mengurus administrasi dengan mudah di lantai dasar. Soal biaya? Memang di JEC biayanya jauh lebih mahal ketimbang rumah sakit lain. Saya sendiri kurang tahu sebab saya memakai asuransi dari kantor. Tapi, sejauh pengetahuan saat saya browsing, biaya konsultasi dokter saja mencapai 500 ribu ke atas. Belum tindakan dan obat-obatan. Tapi, harga yang mahal diimbangi oleh kualitas pelayan yang amat bagus, membuat saya nggak pernah menyesal telah berkunjung ke sana. Masalahnya, mata termasuk indra penting bagi manusia. Rasanya kejadian itu melucuti semua harapan saya. Alhamdulillah, qadarallah Allah mudahkan semua proses penyembuhan adik meski harus melalui banyak hal menyakitkan.

Keesokan harinya, pagi-pagi adik pelan mulai membuka mata. Begitu girangnya saya sampai menangis menatap kedua matanya yang masih menyisakan sembab, bengkak dan sedikit kebiruan. Nggak percaya, bersyukur dan senang melihat adik akhirnya kembali membuka mata dan melihat wajah saya. Masya Allah, Nak. Sesuai namamu, Dhigdaya, sekuat nama yang telah ayah berikan. Allah kuatkan dan Allah lindungi kamu, insya Allah.

Tapi, semua kejadian itu membekas trauma mendalam di hati adik. Saat kembali kontrol, dia bahkan menarik napas panjang ketika berada di ruang dokter dan mulai diperiksa kembali. Alhamdulillah, semua goresan di mata sudah bersih, warna bercak putih-putih yang sebelumnya ada sudah hilang. Tinggal pemulihan saja.

Beberapa hari setelahnya, kedua matanya sudah membaik dan kembali seperti sedia kala. Saya sebagai ibu merasa amat bersalah dan selalu menangis setiap melihat wajah adik. Belum lagi sikap adik yang seolah enggan merepotkan, nggak suka digendong-gendong padahal matanya belum bisa melihat saat itu, sakit yang dideritanya dia terima sendiri.

Alhamdulillah, pengalaman terbaik yang saya rasakan ketika berobat ke Jakarta Eye Center. Ayah yang waktu itu ikut periksa mata sebab sembab di matanya nggak hilang-hilang, ikutan happy. Biasanya ayah jarang banget memuji dokter. Kebanyakan protes karena beberapa dokter sebelumnya nggak suka ditanya, cenderung marah-marah dan nggak ramah. Paling nggak enak, nggak ramahnya ini. Hihi. Sedangkan saat ke JEC, dokternya super ramah, nggak pelit saat ditanya, bahkan saya yang sebelumnya sempat membawa catatan pertanyaan jadi urung bicara karena dokter Florence sudah menjabarkan semua.


Alhamdulillah, semoga kejadian seperti ini nggak akan terulang lagi di lain waktu. Insya Allah anak-anak dan kami bisa sehat, menikmati kebersamaan dan ingat selalu bahwa anak-anak selalu butuh kita sebagai teman bermain dan berbagi.

No comments:

Powered by Blogger.