Friday, February 23, 2018

Tentang Rendi dan Pengantin Wanita yang Terluka pada Malam Pertama



Pixabay.com


Rupanya menunggu itu sunyi, menunggu itu sepi, dan menunggu kamu serupa mimpi yang tak pernah ada ujungnya…

Sinta belajar dari masa lalu, bahwa hidup tak selamanya memihak meski telah dikejar dan diperjuangkan setengah mati. Seharusnya hari ini dia duduk di pelaminan, bersama lelaki bernama Rendi yang sempat menyematkan sebuah cincin emas berukuran sedang di jari manisnya.

Tetapi, apa yang dia harapkan pada akhirnya tak pernah berujung nyata. Sinta duduk di bibir ranjang yang mulai berderit karena dimakan usia. Menatap jendela yang menganga serta menampakkan senja di ujung peraduannya. Kedua matanya terbuka tanpa embun. Kosong.

Begitukah hidup? Selalu membuat hari-harinya suram. Undangan yang disebar hingga kampung sebelah, rupanya tak juga membuat impiannya terwujud. Sudah sejak lama dia ingin menikah. Tepat pada usia ketiga puluh, ketika semua orang mulai panik menyebutnya perawan tua, dan ibu serta bapak mulai kalang kabut mencarikan jodoh, lelaki bertubuh tegap itu datang tanpa diminta.

Seolah malaikat penyelamat, dia bersedia menikahi Sinta tanpa syarat apapun. Katanya dia sudah jatuh hati sejak pertemuan tanpa sengaja di madrasah, tepat saat Sinta mengantar kue basah untuk para guru yang sedang mengadakan rapat. Dan seorang guru matematika pengganti berwajah teduh itu menyapanya tanpa alasan. Tiba-tiba dan tentu tanpa diminta.

Sinta sempat tergagap dan tidak bisa berkata. Lelaki tampan itu sopan dan berkenalan dengan santun. Menyebutkan nama tanpa mengulurkan tangan. Tidak bertanya alamat apalagi status. Segera berlalu meninggalkan debar tak keruan di hati Sinta.

Begitukah cinta?

Datang dan pergi serupa angin. Meninggalkan duka atau suka siapa yang peduli? Sinta menarik selimut yang sempat menutupi kedua kakinya, beranjak demi menutup jendela, sebab malam mulai menjemput, dan masa lalu yang kelam itu tak kunjung hilang dari ingatannya.

Rendi adalah cinta pertama. Lelaki baik hati yang bersedia mencintai tanpa pernah meminta apapun padanya, termasuk menerima keinginan Sinta untuk tetap tinggal di rumah orang tua. Ibu dan bapak sudah tua, sendiri mereka pastinya tak akan sanggup. Maka Sinta meminta Rendi untuk ikut tinggal setelah pernikahan mereka resmi digelar.

Tetapi, sehari sebelumnya, lelaki itu datang dan berpamitan akan pergi sebentar ke kampung sebelah. Membeli sesuatu yang katanya bisa membuat permaisurinya gembira. Tetapi hingga keesokan harinya, lelaki yang disebut sebagai pemuda pemalu itu tak kunjung kembali. Keluarga kalang kabut menanti, mencari ke sana dan ke sini. Bukan lagi soal hati Sinta yang ngilu, tetapi ini tentang pernikahan dan resepi yang akan kehilangan mempelai prianya.

Apa kata orang nanti? Kasak kusuk di belakang Sinta membuat luka semakin menganga. Katanya Rendi pergi bersama wanita lain, tetapi gadis tiga puluh tahun bermata indah itu tak bergitu saja memercayainya. Rendi adalah orang baik, tidak mungkin kabur setelah semua ikrar cintanya di depan bapak dan ibu. Mustahil! Pasti sedang terjadi sesuatu yang buruk padanya.

Maka firasat itu terus mengembang serupa semak belukar merusak dan mencabik hingga ulu hati. Tak ada yang benar-benar tiba, sama seperti tak pernah ada yang hilang sejak kepergiannya. Sinta menutup jendela kamar, jantungnya berdetak lebih cepat. Entah kenapa, senja begitu menyayat hati. Ada yang hilang, meski yakin lelaki itu akan kembali, tetapi pikiran buruk mengoyak tanpa ampun.

Saat Sinta berbalik, ibu sudah berdiri di depan pintu kamar dengan mata sembab. Mengucapkan dua patah kata. Dan pertanyaan selanjutnya sungguh menyayat.

“Bagaimana Rendi bisa mati?!”

Tak ada yang bisa menjawab. Lelaki itu memilih pergi, dan meninggalkan luka menganga yang tak tahu kapan bisa disembuhkan. Sinta tersungkur bersimbah tangis. Tak ada yang benar-benar memihak. Dia kehilangan semuanya, termasuk rencana bahagia untuk berumah tangga.

Seperti inilah hidup, datang dan pergi serupa mimpi. Luka dan suka seolah tak berarti. Meski telah kehilangan, selalu saja ada banyak hal yang bisa disyukuri. Termasuk kesempatan untuk bertemu lelaki yang telah mencintainya setulus hati...

Saturday, February 17, 2018

Tentang Kehilangan...



pixabay.com


Sebelumnya saya tak pernah membayangkan jika suatu saat saya harus kehilangan orang-orang terdekat. Mungkin sekilas ada pikiran seperti itu mengingat kematian siapa yang tahu. Tetapi menghadapinya secara tiba-tiba rasanya membuat hati jadi ngilu.

Tanggal 8 Februari kemarin, berita duka datang dari keluarga suami. Bapak mertua yang sebelumnya memang dikabarkan sakit akhirnya meninggal dunia. Sebelumnya, suami sudah memesan tiket untuk segera pulang, tetapi belum sampai dia bertemu Bapak, kematian sudah menjemput terlebih dulu.

Kaget? Pastinya. Dan lebih menyesal karena tidak sempat bertemu untuk terakhir kalinya. Tidak menunggu waktu lama, karena sulit memesan tiket pesawat secara online, akhirnya paksu segera mengajak kami berangkat. Belum selesai mengemas pakaian di dalam koper, taksi sudah menunggu dan siap mengantar ke bandara.

Terbayang betapa kalang kabutnya saat itu, tidak tahu akan pulang berapa lama, bahkan tidak tahu akan berangkat kapan karena nekat ke bandara tanpa tiket. Sampai di bandara, suami segera mencari tiket, sayangnya untuk penerbangan hari itu menuju bandara Abdurrahman Shaleh sudah ditutup. Telat. Suami duduk dengan pikiran tak keruan. Pemakaman Bapak tidak boleh menunggu kami datang. Alhamdulillah, disegerakan bahkan sebelum kami memiliki tiket.

Tiba-tiba terlintas untuk turun di bandara Juanda, Surabaya. Saya pun mengiyakan, meskipun jarak setelahnya menuju kampung halaman bisa jauh lebih lama ketimbang perjalanan naik pesawat menuju Surabaya. Alhamdulillah, hari itu juga kami bisa berangkat beberapa jam setelahnya, tepat sekitar pukul empat sore hari.

Perjalanan menuju Surabaya hanya menghabiskan waktu selama satu seperempat jam saja. Tetapi perjalanan dari bandara menuju rumah suami butuh berjam-jam. Kami baru sampai di rumah sekitar pukul 10 malam. Ketika semuanya sudah mulai sepi, dan entah kenapa bayangan Bapak menyelinap tiada henti di dalam pikiran saya.

Bertemu ibu mertua yang sudah sakit-sakitan, terlihat lelah tapi sama sekali tidak menangis. Beliau bilang, Bapak memang sudah tua, jadi biarkan saja. Mungkin Ibu juga sudah tidak tega melihat Bapak yang beberapa minggu terbaring sakit sampai hanya tersisa tulang dan kulitnya saja.

Bukan untuk pertama kalinya, ketika kami datang, Ibu atau Bapak biasanya tidur bersama kami. Karena melihat kondisi Ibu yang terlihat kesulitan dan memaksa bangun dan bangkit dari duduknya, akhirnya saya meminta beliau segera berbaring ditemani anaka-anak. Dan benar saja, keesokan harinya masalah tulang belakang yang sempat membuat Ibu terbaring, kini kambuh lagi. Dua hari setelah saya datang, beliau sempat mengeluh tiada henti saking sakitnya dan tidak bisa bergerak. Bahkan untuk batuk saja terasa sakit.

Mungkin saya cengeng, jadi selalu saja mata panas melihat kejadian itu. Sempat sampai menangis tak keruan ketika Ibu kesakitan dan semua orang mulai menyebut nama Allah berkali-kali. Alhamdulillah, setelah diperiksa, kondisi Ibu semakin membaik dan dipaksa tidak boleh turun dari ranjang.

Inilah alasan kenapa beberapa hari kemarin saya tidak lagi posting di blog. Kejadian tak terduga membuat semuanya buyar, tidak ada yang benar-benar siap jika bicara soal kematian. Meskipun kami tahu Bapak telah sepuh, tetap saja kehilangan membuat lubang dalam yang tak pernah habisnya menguras air mata.

Almarhum Bapak itu, tidak pernah meminta apa-apa, tidak pula mudah sakit hati dan selalu sederhana. Beliau memang perokok berat, tetapi selama ini tak ada keluhan selain hanya pegal. Sebelum beliau sakit, suami sempat membelikan kambing untuk dirawat, supaya beliau ada kegiatan dan tidak bosan di rumah, setelah kambing beliau mulai beranak dan gemuk, beliau jatuh sakit. Sedih mengingat hal-hal semacam itu.

Saat mengunjungi makam beliau, sedih sekali mengingat semuanya harus berakhir secepat ini. Padahal saya masih ingin bertemu Bapak dalam keadaan sehat. Tetapi justru sebaliknya, kami terlambat pulang dan tak bisa bertemu bahkan untuk terakhir kalinya dalam kondisi beliau yang sudah sakit.

Saya pernah ingat, ketika kami pulang menjelang lebaran beberapa tahun lalu, Bapak menginap di rumah kakak perempuan suami saya, bukan hanya menginap, tetapi juga menjaga rumah karena kebetulan pemiliknya sedang sakit dan dirawat. Saat suami saya menjemputnya ke sana, apa yang beliau lakukan menjelang buka puasa? Mengukus buah pepaya sebagai sajian berbuka. Antara lucu dan miris, sebab seharusnya beliau sudah tidak direpotkan lagi dengan hal semacam itu. Akhirnya suami membawa Bapak pulang dan kami berbuka puasa di rumah. Besoknya Bapak masih memaksa kembali lagi, lho. Tetapi kali ini dengan membawa bekal untuk sahur dan berbuka. Sesederhana itulah beliau.

Saat malam pertama setelah kepergian beliau, saya tak bisa tidur karena terbayang Bapak yang muncul dari pintu kamarnya dan menyapa. Pukul dua malam anak-anak baru terlelap, dan saya tak bisa tidur walaupun capek. Tak lama kemudian terdengar suara langkah kaki, bayangan Bapak berkelebat tiada henti. Tetapi, jujur saja saya tak berani membuka mata, hingga untuk kesekian kalinya suara langkah itu kembali datang. Ketika menoleh, ternyata itu suara kakak ipar saya yang tak bisa tidur juga…he. Kebetulan saya dan anak-anak tidur di ruang tengah, jadi siapa yang lewat bikin kaget bukan main.

Jadi, begini rasanya kehilangan. Hidup dan mati hanya menunggu berganti. Tidak ada yang benar-benar abadi selain yang menciptakan. Dan kematian menjadi sesuatu yang pasti tetapi selalu saja tak pernah siap dihadapi oleh siapa pun, termasuk bagi mereka yang akan merasa kehilangan.

Monday, February 5, 2018

Cerbung Tentang Kita; Menjaga Hati


pixabay.com


Ini bukan tentang seberapa tampan dirimu saat lima puluh tahun setelah kita resmi menikah. Ini bukan tentang seberapa gagah dirimu setelah masa tua menjemput. Ini tentang bagaimana kita berdua mampu menjaga hati, meski sampai wajah ini tak lagi nyaman dipandang sebab kerutan dan rambut memutih menjadi pemandangan yang membosankan. Bukankah begitu, Mas? Dan jiwa yang telah terikat dan tertambat seharusnya tak memusingkan masalah fisik. Sebab siapa pun yang kamu pilih kelak, dia pun akan mengalami hal yang sama. Tetapi hati yang suci tak akan berubah meski masa telah tenggelamkan banyak ingatan tentang indahnya kebersamaan kita…
(Raina)

Mengingat banyak hal tentang kebersamaan kita memang bukan hal mudah. Terlebih itu tentang setia yang dulu selalu kamu agung-agungkan. Memang terpikat wanita lain tak selalu karena salah dia, bisa jadi aku memang kurang bersyukur memiliki pasangan sebaik dirimu sehingga Allah menegurku. Kadang kita harus kehilangan dulu supaya tahu betapa berartinya seseorang dalam hidup kita.

Tapi, jika harus menunggu luka, rasanya terlalu menyesakkan. Aku tak pernah benar-benar ingin meninggalkanmu, Mas. Masalah bertubi yang datang menghantam biduk rumah tangga kita membuat segalanya jadi aneh, entah kenapa meski kesal dan benci, aku sering merindukanmu diam-diam.

Setelah menikah, memang bukan masalah siapa aku dulu, dan siapa kamu kemarin, yang terpenting adalah siapa kita saat ini. Dan masa lalumu itu memang cukup rumit, Mas. Dan ternyata tak semudah yang aku bayangkan bisa memaafkan semua itu, terlebih ketika orang lain dalam kehidupanmu dulu tiba-tiba saja muncul. Apa yang harus aku katakan terlebih ketika melihat kamu bercengkerama berdua dengannya? Aku memang cengeng, tak bisa menahan sesak yang tiba-tiba menghantam. Suamiku tertawa lepas bersama wanita lain. Kenyataan yang tak pernah membuat hati baik-baik saja.

Menyalahkan dia sebagai penyebab semua ini rasanya terlalu jauh. Aku belajar untuk tidak mengkambinghitamkan siapa pun, termasuk perempuan itu. Masalah ini bisa jadi kita berdua memang sudah memulainya lebih dulu, dan dia masuk di antara celah kecil yang telah kubuka.

Selama beberapa hari menjaga buah hati kita di rumah sakit, kamu selalu menunjukkan penyesalan yang pada akhirnya membuatku luluh. Sayangnya, luka itu memang bisa dengan mudah sembuh tetapi akan sangat sulit sekali dilupakan. Jika saja kamu tahu, hal semacam ini sebenarnya tak banyak merubah keadaan kita. Atau memang aku saja yang sulit memaafkan?

Ketika kamu tertidur pulas di sofa berwarna abu-abu itu, aku merasakan ada banyak penat menggelayuti wajahmu, Mas. Sepertinya kita terlalu lama berkonflik sampai tak tahu jika kebersamaan kita saat ini adalah kebahagiaan yang tak terkira. Ketika diam-diam aku menatap wajahmu lekat, sepasang mata itu terbuka, kemudian tersenyum. Aku bisa meraba jantungku yang sempat lepas kendali dan segera berpaling, pura-pura mengantuk dan tertidur. Tetapi diam-diam kamu menatapku. Balasan yang tak pernah kusangka sejak terjaga satu jam sebelumnya.

Karena merasa risih diperhatikan terlalu lama, aku pun memberanikan diri membuka mata dan memelototimu, kamu balas tertawa. Dan enyah sudah rasa sakit yang kemarin serupa batu besar menghantam hati. Sesederhana itulah penyelesaian dalam hubungan kita. Ketika gunung es sudah mencair, apapun akan terasa lebih ringan. Bukan begitu, Mas?

Ini bukan tentang seberapa cantik dirimu setelah usia setengah abad pernikahan kita, tetapi seberapa kuat aku menahan diri untuk tidak berpaling kepada perempuan lain. Menjadi bagian dari keluarga kecil kita sejatinya sudah merupakan hadiah tak terkira, tetapi dalam beberapa keadaan, aku sering lupa dan mengabaikan apa itu setia. Aku rindu bersitatap denganmu, aku rindu mendengar omelanmu setiap pagi, ketika kamu merapikan kancing kemejaku dan bersiap menyiapkan sarapan. Bukankah kamu memang istri yang sangat cerewet? Setidaknya karena itulah aku masih bertahan di sini, Rai. Jangan lelah menemaniku, mungkin suatu saat aku akan membuatmu kesal lagi, tetapi jangan pernah habis memaafkan semua kesalahanku, sebab kenyataannya aku tak pernah bisa berpaling.
(Bagas)


-Tamat-

Sunday, February 4, 2018

Memilih Sekolah yang Tepat Untuk Buah Hati


sumber


Apa yang paling berkesan saat teman-teman masuk Sekolah Dasar? teman-teman yang kocak?  guru super killer yang bisa menyayat hati atau teman sebangku yang tak terlupakan?

Buat saya, sekolah memang haruslah dijalani dengan bahagia. Sejak masuk Sekolah Dasar, saya termasuk anak yang penakut banget masuk kelas. Nggak terlalu mudah bergaul, dan cengeng pula. Sekolah kadang menjadi salah satu hal menakutkan, sih. Pernah ingat juga bagaimana teman-teman suka mengolok, termasuk memanggil nama saya dengan nama orang tua. Ya, terbahak sambil mau nangis..kwkwk.

Saya pun termasuk anak yang nggak mau sekolah hanya di tempat yang sama. Sejak masuk SMP, saya sudah minta pindah. Padahal saya bukan pemberani, cuma pengen pendidikan yang kualitasnya jauh lebih baik sudah mulai terasa aja saat itu. Kebayang aja sih pas SD, ada guru yang sukanya bilang, “Yuk, pulaang,” senang sih senang, tapi pada akhirnya sering pulang cepat dan nggak dapat materi pelajaran memuaskan lama-lama menyulitkan kita juga, ya.

Beruntungnya saat SMP saya sudah pindah ke sekolah lain dengan keberanian dikerahkan sepenuhnya, mulai mengurangi tingkat kecengengan serta hemat jajan karena harus naik angkot sedangkan orang tua nggak bisa ngasih uang saku lebih. Akhirnya setiap hari hanya jajan permen beberapa bungkus saja…hihi..Saya nggak merasa kurang suatu apapun saat itu meskipun kebanyakan diam di kelas bukan karena nggak suka jajan ketika jam istirahat tetapi lebih karena uang jajan nggak cukup walaupun hanya buat beli satu buah gorengan. Dan hal yang paling aneh, saya dan beberapa teman saya justru dijuluki anak yang rajin karena setiap jam istirahat hanya di kelas, buka LKS, bahas soal…hihi. Mereka nggak tahu sebagian di antara kami sebenarnya nggak bisa bayar kalau sampai nyomot gorengan di kantin… :D

Alhamdulillah, meskipun banyak hal harus diperjuangkan, tetapi saya membuktikan bahwa semua itu bukan jadi halangan buat berpestasi. Ngejar peringkat satu bukan satu-satunya alasan karena ingin jadi terbaik, lho. Justru itu saya kejar sekuat tenaga karena ingin meringankan beban orang tua. Dulu, kalau dapat peringkat pertama, kita tak perlu bayar SPP sampai setengah tahun. Kan lumayan banget buat orang tua saya yang penghasilannya pas-pasan.

Dan memang kerja keras pastilah membuahkan hasil yang manis meskipun kadang kita tak pernah tahu kapan itu akan bisa diraih.

Belajar dari masa lalu, kadang tak semua sekolah yang terlihat ‘WAH’ dari luar juga tampak sama di dalamnya. Saat menikah dan tinggal di Jakarta, saya tentu tak punya banyak kenalan dan pengalaman, nggak banyak tahu sekolah yang baik dan murah di mana. Yang ada justru mahal banget..hehe.

Yang jelas, saya memilih sekolah islam karena memang saya dan suami memang alumni sebuah pesantren dan materi agama yang lebih banyak tentu menjadi salah satu keutamaan yang kami kejar. Memang ada banyak sekali TKIT ataupun SDIT yang mahal dan mentereng, tetapi bukan berarti semuanya bagus setidaknya sependek yang saya tahu dan berdasarkan pengalaman teman-teman baru saya di sini.

Saya dan suami memang belum menghafal Al-Quran, tapi saya ingin anak-anak bisa hafal. Setidaknya mereka bisa mencobanya di sekolah. Nah, keberuntungan itu pun akhirnya kami dapatkan ketika menemukan sekolah buat si sulung. Alhamdulillah, di sana tenaga pengajarnya sangat ramah, baik serta sopan. Sedangkan materi untuk TK sangat sesuai. Nggak pernah pulang bawa PR sebab sy juga tahu anak TK sebaiknya tidak mendapatkan pekerjaan rumah itu.

Di sana juga anak-anak dilatih membaca sesuai tahap usianya, nggak memberatkan bagi anak-anak. Saya bersyukur, memang apa yang saya cari sudah sangat terpenuhi hampir seluruhnya di sekolah tersebut, barakallah.

Tahun ini merupakan tahun pertama bagi si sulung melanjutkan pendidikan Sekolah Dasar. Alhamdulillah, setelah melakukan serangkaian tes, dia berhasil masuk SDIT di yayasan yang sama yang dia suka dan dia inginkan.

Dalam serangkain tes, setahu saya, nilai IQ bukan jadi patokan mereka diterima atau tidak. Tetapi justru kematangan serta kesiapan mereka itulah yang menentukan. Misalnya saja ketika psikotes ada sebagian yang nggak bisa mengikuti perintah gurunya, nangis nggak mau ngapa-ngapain sampai dengan suka-suka dia aja. Nah, kebanyakan yang seperti inilah yang akhirnya nggak lolos.

Untuk masuk sekolah juga ditentukan minimal usia berapa. Saat itu, si sulung sudah masuk 6,5 tahun. Tidak terlalu kecil dan juga tidak terlalu besar. Setelah tes, mereka pun akan dikelompokkan dalam dua kelas berbeda. Di mana pemisahan kelas ini sebenarnya ditujukan untuk mempermudah proses belajar mereka. Kenapa harus begitu? Karena setiap anak punya gaya belajar yang tidak sama. Dari hasil psikotes itulah juga ditemukan setiap anak memiliki gaya belajar apa dan lebih condong ke mana.

Misalnya saja si sulung, dia termasuk visual dan audio. Tetapi memang dia lebih condong visual. Anak-anak tipe visual tentu tidak sama gaya belajarnya dengan anak tipe audio. Makannya, pengelompokan ini buat saya sangat membantu sekali…

Dalam proses belajar mengajar, saya perhatikan si sulung benar-benar mendapatkan apa yang dia butuhkan. PR ada tapi jarang sekali, paling seminggu sekali itu pun kadang-kadang saja. Kenapa sih dari tadi sibuk ngurusi PR? Karena setahu saya, kebanyakan PR itu berdampak negatif buat anak-anak usia dini termasuk buat putra saya. Jadi, bersyukurnya saya bisa menemukan sekolah yang tepat meskipun saya bukan orang yang lama menetap di Jakarta.

Sekolah si sulung juga lumayan jauh dari rumah. Tetapi, itu bukan kendala. Banyak orang yang bertanya, kenapa sih sampai sekolah ke sana? Kan di sini juga banyak. Memang banyak tetapi pastilah tidak serupa seperti yang saya harapkan.

Sebagai orang Islam, saya tentu tidak mau anak hanya sekolah dan dapat materi umum saja, saya juga mau anak saya sekaligus bisa mengaji meskipun setiap hari dia belajar bersama saya. Tetapi menambah ilmu agama itu sangat penting. Nah, di sekolah si sulung, mengaji dan setor hafalan surat dalam Al-Quran memang dimasukkan dalam jadwal rutin. Jadi setiap hari pasti ada jamnya.

Jadi, buat saya, selain memilih sekolah yang terjangkau, ilmu agama serta guru professional juga sangat utama. Nggak populer bukan masalah asalkan anak-anak bisa medapatkan apa yang mereka butuhkan sesuai dengan tahap perkembangannya. Nggak muluk-muluk, cukup yang seperti ini sudah sangat cukup buat saya.


Tulisan ini diikutsertakan dalam tantangan hari ke-14 #SatuHariSatuKaryaIIDN bersama komunitas Ibu-ibu Doyan Nulis

Saturday, February 3, 2018

Reuceuh Mentimun Tauge




Apa sih reuceuh ini? Saya sampai susah sekali menulis namanya..he. Reuceuh ini sebenarnya kalau menurut saya yang orang Jawa Timur mirip banget sama rujak manis. Hanya saja kalau ini isiannya menggunakan irisan mentimun dicampur sama tauge yang sudah disiangi.

Kalau ditanya enak? Tentu saja ini enak pake banget, lho. Apalagi saya yang doyan banget makan pedas. Lebih enak lagi kalau dimakan bersama krupuk yang sedikit dihancurkan. Mentimun memang punya banyak manfaat juga bagi kesehatan. Selain bisa menurunkan tekanan darah, mentimun juga bisa menurunkan kadar kolesterol jahat.

Untuk kudapan berbahan dasar mentimun, reuceuh ini sudah pas banget, lho. Saya sendiri pun sampai ketagihan makan ini. Apalagi kalau dimakan bersama sahabat atau saudara, biasanya kalau sudah kumpul keluarga, makanan seperti inilah yang paling laris manis.

Karena kebetulan jarang berkumpul sama keluarga, jadilah saya hanya membuatnya dalam porsi kecil saja. Kalau teman-teman mau coba membuat lebih banyak, bisa membuatnya dalam porsi dua kali lipatnya atau bahkan lebih.

Bahan:
4 buah mentimun ukuran sedang
1 genggam tauge, siangi
2 sdm air asam jawa

Haluskan bumbu:
10 buah cabe rawit merah
2 siung bawang putih
½ bulatan kecil gula merah
½ sdt terasi bakar
Sedikit garam

Cara membuat:
1. Cuci bersih mentimun serta tauge. Iris mentimun sesuai selera
2. Haluskan bumbu kemudian beri air asam jawa. Tes rasa sampai rasanya pas.
3. Campur bumbu dengan mentimun yang sudah diiris serta tauge yang sudah disiangi. Aduk rata dan sajikan bersama krupuk.



Itulah cara mudah membuat reuceuh mentimun tauge yang bisa teman-teman coba. Ini merupakan kudapan tradisional yang mudah banget dan enaak banget. Apalagi dimakan siang-siang seperti sekarang.

Yuk, ah dicoba dulu..selamat mencoba!


Tulisan ini diikutsertakan dalam tantangan hari ke-13 #SatuHariSatuKaryaIIDN bersama komunitas Ibu-ibu Doyan Nulis

Friday, February 2, 2018

Banana Muffin, Super Simpel dan Yummy!




Banana muffin ini sebenarnya dibuat demi memanfaatkan pisang yang sudah menghitam dan nggak ada lagi yang mau menyentuhnya. Huhu, kasihankan si pisang kalau sampai nggak dimakan dan akhirnya terbuang sia-sia. Mubadzir banget.

Resep ini pertama kali saya dapatkan di Cookpad dari akunnya ci Tintin Rayner. Membuat ini gampang banget, lho. Hanya tinggal diaduk saja tidak perlu pakai mixer. Tapi, perlu diingat mengaduknya santai dan secukupnya saja, supaya hasilnya tidak bantat.

Teman-teman bisa menggunakan pisang apa saja. Kebetulan di rumah ada pisang ambon berukuran cukup besar. Nanti pisangnya cukup dilumatkan saja dengan garpu. Saya pun menghancurkannya nggak sampai haluus banget kok. Masih ada bagian pisang yang belum halus bukan masalah asal nggak besar-besar banget, ya.




Kalau mau mencoba, sambil menyiapkan bahan sebaiknya sambil panaskan ovennya ya suhu 180’C. Yuk, kita bikin.

Bahan A:
3 buah pisang ambon besar
1 butir telur ukuran besar
100-110 gr gula pasir
85 gr butter atau margarin, cairkan
1 sdt vanilla essence
Bahan B:
190 gr terigu serbaguna
1 sdt baking powder double action (sy pakai 1 ½ sdt yang biasa)
½ sdt baking soda
Secukupnya chocohip atau kismis

Cara membuat:
1. Lumatkan pisang kemudian campur dengan bahan A sampai gula larut. Gunakan wisk.
2. Ayak bahan B kemudian buatlah lubang di tengah dan tuang bahan A. Aduk dengan wisk pelan sampai rata.
3. Masukkan chocochip dan aduk kemudian tuang dalam cup yang sudah disiapkan. Jangan terlalu penuh karena nanti akan mengembang, ya.
4. Panggang selama kurang lebih 25-30 menit tergantung ovennya, ya.
5. Angkat dan sajikan.



Mudah banget, lho. Rasanya pun enak. Kemarin jadinya 9 cup kecil dan 3 cup besar. Besoknya dibawa untuk bekal si sulung dan dibawa sama paksu buat dimakan bareng temennya..he. Alhamdulillah, senanngnya baking kalau laris manis seperti ini, ya. Capeknya terbayar sudah. Padahal kalau bikin ini sih nggak capek…hihi.

Selamat mencoba, happy baking!


Tulisan ini diikutsertakan dalam tantangan hari ke-12 #SatuHariSatuKaryaIIDN bersama Komunitas Ibu-ibu Doyan Nulis

Thursday, February 1, 2018

Nagasari, Si Legit yang Menggoda




Pernah makan nagasari? Kalau zaman saya kecil dan masih di rumah orang tua, setiap ada acara hajatan, kue tradisional ini selalu disediakan buat pelengkap kue lainnya. Bahannya pun mudah dan rasanya tentu saja enak. Jangankan yang sudah diisi pisang, adonan tepungnya yang sudah dimasak saja enak banget, lho. Apa karena saya doyan aja, ya? Hehe.

Ternyata membuat kue satu ini juga nggak susah. Zaman sekarang, banyak juga yang membuat nagasari dengan cara dikukus di dalam pinggan tahan panas bukan dibungkus daun pisang. Kalau saya pribadi masih lebih suka tampilan jadulnya karena daun pisang ketika dikukus juga memiliki wangi yang khas.

Tapi, kalau tidak ada daun pisang, cara satu ini juga bisa dicoba, lho. Membuatnya pun nggak berbeda jauh dengan yang dibungkus daun. Resep ini sudah pernah saya posting di cookpad. Sekarang saya tuliskan kembali buat teman-teman barangkali ada yang ingin mencoba.

Bahan:
100 gr tepung beras
50 gr tepung tapioka
75 gr gula pasir
350 ml air
1 bungkus kecil santan instan
1 lembar daun pandan
1 bungkus kecil vanili
¼ sdt garam
Secukupnya pisang

Cara membuat:
1. Campur santan dan air kemudian nyalakan api kecil. Masukkan juga gula pasir, vanili, garam serta daun pandan.
2. Masukkan tepung beras dan sagu. Aduk rata sampai tidak bergerindil dan adonan menjadi padat.
3. Setelah adonan mulai padat dan menyatu, matikan api.
4. Ambil selembar daun pisang sebagai alas pada loyang tahan panas. Masukkan adonan tepung beras dan ratakan, kemudian letakkan pisang yang sudah diiris. Kemudian tutup dengan adonan tepung beras kembali. Tutup dengan daun dan kukus sampai matang sekitar 20 menit.
5. Angkat dan biarkan dingin, barulah dipotong sesuai selera.



Itulah cara membuat kue tradisional nagasari yang enak dan legit. Makanan ini bisa kita kenalkan kepada anak-anak zaman now yang jarang kenal sama makanan tradisional. Kalau perlu ajak mereka ikut membuat dan membungkusnya. Mereka pasti suka makan makanan yang mereka buat sendiri, lho. Agak ribet sedikit nggak masalah, asalkan mereka senang. Toh emak-emak sudah biasakan serba ribet? Hehe.


Tulisan ini diikutsertakan dalam tantangan hari ke-11 #SatuHariSatuKaryaIIDN bersama komunitas Ibu-ibu Doyan Nulis