Selasa, 17 Oktober 2017

Cerbung Tentang Kita Bag 4; Patah Hati

sumber


(Bagas)
aku pilih mencintai
dan mengizinkan dirimu belajar menyukai apa yang telah aku sukai
dari setiap detail pertemuan kita


Sungguh di luar dugaan. Dia menolak kedatangan saya dan sebuah cincin emas putih yang di atasnya terdapat sebuah permata berkilau. Hampir tak bisa dipercaya, seorang dokter ditolak ketika ingin mempersunting seorang gadis. Padahal, kebanyakan orang justru berlomba ingin menikah dengan seorang dokter. Sayangnya itu tidak terjadi pada Raina.

Saya harus pulang dengan besar hati. Tidak mudah keluar dari rumah Raina. Dia seolah mimpi yang telah bermalam-malam ingin saya singgahi. Sayang sekali, mungkin kali ini kita belum akan menikah. Tapi, keyakinan tak pernah enyah dari pikiran. Saya percaya, suatu saat Raina akan menerima pinangan saya. Hanya butuh waktu untuk meyakinkan dia. Ini hanya soal waktu. Selalu itu yang saya bisikkan. Membesarkan hati dan menolak patah hati.

Dia meminta maaf dengan suaranya yang lembut. Katanya belum bisa menerima apalagi dalam waktu singkat, perkenalan yang hanya sekadar saling sapa, bahkan dia tidak memberikan alasan lebih kenapa akhirnya menolak pinangan lelaki seperti saya.

“Maafkan karena Raina belum bisa menerima lamaran ini, Mas.” Katanya dengan tenang.

Mungkin saya harus lebih banyak lagi memperbaiki diri. Katanya, orang baik akan berdampingan dengan yang baik pula. Meski tak mustahil juga seorang yang baik akan mendapatkan ujiannya ketika berdampingan dengan orang yang tak baik. Itulah hidup.

Dan penolakan kemarin sore benar-benar membuat saya ingin menghilang sebentar dari peredaran bumi. Malu sekaligus gelisah, sampai kapan saya harus bertahan dan apa mungkin saya mampu melupakan Raina dalam hitungan hari?

Rasanya sangat mustahil.

***

Akhir-akhir ini saya memang selalu berharap bisa lebih banyak mengenal Raina, saling mengirimkan pesan singkat dan mungkin sesekali bicara tentang apa yang dia suka dan saya suka.

Sayangnya, hingga pertemuan terakhir dengannya di suatu sore di mana hati saya tiba-tiba saja ngilu, Raina belum juga menunjukkan persetujuannya untuk itu. Baiklah, mungkin bukan dengan cara seperti itu saya harus mengenal Raina. Tapi, adakah yang jauh lebih baik selain bicara langsung ketimbang hanya mengira dan menafsirkan seseorang dengan pemahaman yang salah?

Saya khawatir Raina akan semakin enggan jika setiap hari hanya melihat saya lari pagi setelah dari masjid, lalu kemudian bergegas menyalakan motor Yamaha R15 berwarna merah dan menghilang selama seharian. Tidakkah kita bisa lebih banyak mengenal seperti yang sempat Raina ucapkan. Dan yang sangat membingungkan, perkenalan seperti apa yang Raina harapkan? Jika tidak berkenalan dan saling bicara, lalu dengan cara seperti apa kami bisa saling tahu?

Astagfirullah, saya harus banyak-banyak istigfar. Bukan itu cara yang diajarkan dalam islam. Berkhalwat itu sangat dilarang. Tapi, mustahil kami berduaan, jalan ke bisokop atau dinner di salah satu restoran di Jakata. Dan seingat saya, khalwat bukan hanya bertemu dan bertatap muka berdua saja dengan lawan jenis, tapi juga khalwat di sosial media. Zaman sekarang, gadget menjadi alat yang bisa mendekatkan yang jauh, dan tentu saja menjauhkan yang dekat. Begitu juga dengan berduaan, hukum haram tidak hanya jatuh saat berduaan secara fisik, tapi juga berduaan di sosial media.

Dan gadis itu seperti sangat mengerti apa yang terbaik untuk kami berdua.  

***

#ODOPOKT15
Tulisan ini diikutsertakan dalam One Day One Post bersama Blogger Muslimah Indonesia 

Baca juga cerita sebelumnya Cerbung Tentang Kita Bag 3; Sebuah Pilihan

Senin, 16 Oktober 2017

Resep Dasar Adonan Roti



Assalamualaikum…ini resep dasar adonan roti yang sering saya buat. Sudah pernah saya share sih tapi mau share lagi versi 3 kuning telur. Adonan ini hasilnya lembuut dan empuk banget nget. Bahannya sederhana saja tanpa bahan pengembang dan pelembut hasilnya sangat memuaskan.

Saya biasanya hanya bermain pada takaran air dan kuning telur saja. Selebihnya semua hampir sama. Semakin banyak kuning telur, hasilnya semakin lembut. O ya, kuncinya juga pada proses mengulennya, ya. Harus benar-benar sampai kalis. Biasanya tandanya adonan mengkilat, tidak lengket dan ketika dibentangkan tidak mudah sobek.

Nah, kalau mau membuat dengan isian gurih atau dibuat model pizza roti, sebaiknya gulanya dikurangi supaya rasa manisnya pas dengan gurihnya isiannya nanti. Memang membuat roti ini butuh 2x proofing, tapi insya Allah nggak bakalan mengecewakan hasilnya.



Bahan:
500gr terigu cakra (boleh mix 450gr cakra, 50gr segitiga)
80-90gr gula pasir
2sdt ragi
3 kuning telur plus sedikit saja putih telur
240ml air hangat kuku
3sdm susu bubuk
90gr butter atau margarin
1/2sdt garam

Cara membuat:
1.      Campur setengah dari takaran air hangat dengan 1sdm gula pasir dan semua ragi. Aduk rata dan biarkan sampai berbusa.
2.      Campur semua bahan sisa kecuali butter dan garam. Masukkan campuran ragi yang telah berbusa. Uleni sampai kalis atau asal rata.
3.      Masukkan butter dan garam. Uleni adonan roti sampai kalis elastis. Bulatkan dan olesi sisi bowl atau mangkuknya dengan minyak goreng sedikit saja atau boleh seluruh sisi adonan yang diolesi minyak tipis saja (ambil minyak olesi ke tangan).
4.      Diamkan adonan selama 1 jam atau sampai mengembang 2x lipat dengan ditutup lap bersih.
5.      Tinju adonan dan uleni sebentar untuk membuang udaranya. Timbang sesuai selera dan bulatkan. Diamkan 10 menit. Saya bagi adonan antara 35gr-40gr.
6.      Beri isian dan bentuk sesuai selera. Ingat, ya setiap proofing selalu tutup adonan dengan lap atau plastik wrap.
7.      Panaskan oven selama 10-15 menit sebelum digunakan. Saya pakai suhu 180’C dengan api atas bawah. Loyang saya taruh di bagian bawah. Keluarkan saat roti mulai keemasan. Lamanya semua tergantung dari oven masing-masing, berat adonan, bentuk loyang juga berpengaruh.
8.      Setelah keluar dari oven, olesi atasnya dengan margarin atau butter. Selesai!



Alhamdulillah, selalu suka dengan hasil dari resep-resep seperti ini. Saya selalu memasukkan roti-roti ini ke dalam plastik supaya tetap empuk dan bersih. Kalau anak-anak ingin makan, tinggal ambil satu, dua juga boleh…he.




Membuat roti itu butuh keihklasan, iya ikhlas repot dan ribet…he. Kalau nggak mau repot kadang lebih suka beli aja, kan? Saya juga kadang masih suka beli walaupun sekarang sudah lebih sering bikin sendiri di rumah. Kalau sering mencoba insya Allah bakal kelihatan deh hasilnya. Jangan nyerah, ya bu..Semangat! 

Baca juga resep 3 Varian Isian Roti

Cerbung Tentang Kita Bag 3; Sebuah Pilihan

sumber


(Raina)
Memikirkanmu serupa mimpi
yang sulit sekali bertandang pada malam-malam pekat


Melihat punggung mas Bagas berlalu dari hadapanku, sedikit meninggalkan kecewa yang menusuk di hati. Sebenarnya tidak mudah menemukan pemuda seperti dia. Tapi, lelaki yang dengan gagah bertemu ayah itu justru aku tolak. Dia pergi dan menyisakan teka teki yang belum usai. Hatiku bukannya lega dengan kepergiannya malah justru sebaliknya.

Mungkin aku adalah orang yang tidak pandai bersyukur. Apa yang kurang dari mas Bagas? Dia pandai dan alim. Wajahnya pun tak kalah menarik. Tapi, soal hati jujur saja aku belum merasa klik.

Semoga saja lelaki berhidung mancung itu mengerti apa maksudku. Tidak mudah mengatakan ‘tidak’ tapi bukan sesuatu yang ringan juga memutuskan untuk mengiyakan permintaannya. Aku yang tak pernah jatuh cinta, kini seperti sedang patah hati. Aneh, tapi rasanya hati ngilu teriris. Bagaimana dengan mas Bagas? Apa dia baik-baik saja?

            Aku membuka pintu balkon kamar. Yang pertama kali terlihat adalah rumah mas Bagas. Benar, rumah kami saling berhadapan. Cat berwarna putih menjadi dominan ketika melihat rumahnya pertama kali. Bangunan itu sudah sejak lama menjadi pemandangan yang tak asing lagi. Hampir setiap malam aku bisa melihat dengan jelas siapa yang sedang duduk di kursi berwarna putih dengan kacamata menghiasi wajah dan sebuah buku tebal di tangannya.

            Tentulah dia adalah mas Bagas yang seperti sedang jatuh cinta pada buku-buku. Lelaki seperti dia apa bisa jatuh cinta pada wanita? Apalagi secepat ini? Tidakkah itu terlalu mencurigakan? Batinku berkecamuk.

            “Memangnya mas Bagas serius, Bang?” Aku menyempatkan bertanya sambil mengambil selembar roti tawar dan mengusap satu sisinya dengan selai blueberry. Pagi itu, aku memutuskan bertanya lebih jauh tentang mas Bagas. Meski akhirnya hanya jadi bahan ledekan oleh kakak sulungku yang paling menyebalkan itu.

            “Kalau dia main-main, pastilah kamu hanya diajak pacaran, Rai.” Sahutnya sambil mengunyah roti.

            Benar juga, tapi sikap mas Bagas yang terlalu buru-buru itu apa bisa disebut serius? Aku takut ada rahasia yang sedang disembunyikan. Aku khawatir dia sedang menyembunyikan sesuatu.

            “Lagian siapa sih yang mau mainin kamu. Kayak kamu laku aja!”

            “Astagfirullah, Rio. Hati-hati kalau bicara.” Ibu ikut protes.

            Bang Rio meminta maaf dan tertawa habis-habisan sebelum akhirnya dia tersedak.

            “Syukurin!” Aku tertawa puas.

            Ayah dan Ibu yang sedang menyantap sarapan hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan kami yang masih serupa anak-anak. Masih suka gebuk-gebukan. Adu jotos dan jelas kami sering meledek satu sama lain. Tapi, jujur saja kami berdua tidak pernah betah ketika salah satu marah.

            Bang Rio yang biasanya merayu. Dan aku, jelas yang paling suka ngambek dan mengancam tidak mau memaafkan jika permintaanku tidak dia kabulkan. Kebayang bagaimana ekspresi kesalnya bang Rio ketika aku meminta eskrim dan sepuluh batang cokelat favorit? Bahkan membayangkan saja aku ingin sekali tertawa lebar.

            “Bukannya kamu sudah menolak Bagas, Rai?” Ayah tiba-tiba saja bertanya setelah menyesap secangkir teh berwarna pekat buatan ibu.

            Aku yang ditanya begitu justru gelagapan. Iya, Ayah benar juga, kemarin aku jelas telah menolak lamaran mas Bagas. Lalu, untuk apa aku menanyakan sesuatu yang sebenarnya saling berlawanan? Hanya mempermalukan diri di depan bang Rio saja. Menyesal, sebab nasi sudah menjadi bubur. Dan bubur itu kini sudah dianggap umpan oleh bang Rio. Lihat saja, dia menahan tawa sampai wajahnya merah. Aku kesal dan ingin sekali menimpuknya dengan roti tawar di tangaku.

            “Kalau tidak suka kenapa nanya?” Bang Rio melirikku dengan tatapan sinis. Sekali lagi sangat sinis, seolah ingin balas dendam.

            Aku manyun dan pura-pura tidak mendengar pertanyaannya barusan. Dan setelahnya, bang Rio bicara dan meledekku tanpa ampun.

            “Bang Rio, berhenti!”

***

#ODOPOKT14
Tulisan ini diikutsertakan dalam One Day One Post bersama Blogger Muslimah Indonesia

Baca juga cerita bagian 2 Tentang Kita

Minggu, 15 Oktober 2017

Cerbung Tentang Kita Bag 2; Tentang Kamu

sumber


(Bagas)
Aku kumpulkan seribu tangkai mawar
Berharap wanginya sejenak mengenyahkan bayangan tentangmu
Sayangnya, justru wajah ayumu lagi yang menghampiri
Tak kunjung pergi bahkan semakin mendekap
Erat...

Untuk pertama kalinya saya melihat gadis ayu berhijab rapi mengetuk pintu hati. Pelan tapi pasti semakin hari wajah itu semakin lekat. Saya sama sekali tidak mengenalnya. Dia tetangga dekat. Rumahnya hanya berjarak beberapa meter dari rumah baru yang sudah beberapa bulan saya tempati.

Setiap sore saya bisa melihat dia menyiram tanaman di halaman rumahnya yang asri. Pohon-pohon menghijau dan bunga-bunga menyembul indah di antara rindangnya. Sayangnya, keindahan itu tak mampu juga menyembunyikan wajah itu dari pandangan saya. Sulit sekali diterka, entah saya hanya sedang mengagumi atau telah…

Tapi entahlah, selama ini belum pernah ada gadis yang mampu menaklukkan hati. Kata teman-teman, saya ini berhati batu dan sulit sekali ditaklukkan oleh wanita. Faktanya saya memang hampir tidak pernah menyukai perempuan kecuali hanya sebagai teman diskusi dan teman biasa.

Dan sekarang, gadis yang belakangan saya ketahui namanya itu benar-benar menggoyahkan keyakinan saya. Saya kira tidak mudah menyukai siapa pun kecuali nanti saat saya akan menikah. Tapi tunggu sebentar, apakah saya menyebutkan bahwa saya akan menyukai seseorang ketika hendak menikah? Apakah ini pertanda bahwa saya akan segera menikah dengannya? Hm, sepertinya saya harus segera tidur supaya besok tidak gugup saat memeriksa pasien di rumah sakit.

Sayangnya, saya harus tidur dengan membayangkan sesuatu yang sulit sekali diterjemahkan oleh hati dan akal sehat. Saya seorang dokter, tapi untuk menyembuhkan resah sesederhana ini saja tak mampu. Lalu untuk apa saya belajar mati-matian tentang dunia kesehatan jika saya sendiri saja tidak merasa sehat sejak kedatangan gadis itu. Saya sakit, dan rasa sakit yang menggetarkan hati seperti ini sungguh sangat tidak menyenangkan.

O ya, seperti yang saya sebutkan. Gadis itu bernama Raina. Ternyata dia adalah adik dari sahabat saya di kampus, Rio. Dia yang mengenalkan saat tanpa sengaja kami saling bertemu. Jika ditanya apakah dia wanita tercantik yang pernah saya temui, maka saya pastikan dia bukan orangnya. Tapi, jika ditanya apakah dia sanggup mengguncang ketenangan hati dan pikiran saya, maka jawabannya adalah benar.

Cinta dan mencintai itu adalah fitrah. Tidak ada seorang pun yang bisa membuat dan membelinya. Pejabat setinggi apa pun pangkatnya tentu tidak akan sanggup membeli rasa serta cinta. Begitu juga mustahil memaksa seseorang untuk jatuh cinta pada orang yang sama sekali tidak disukainya.

Maka, yang selalu menjadi pertanyaan dalam pikiran saya, apakah gadis berpenampilan sederhana itu bersedia mencintai saya ataukah hanya saya saja yang selalu memikirkan pertemuan singkat di antara kami?

Jujur saja saya ragu ketika melihat Raina hampir selalu cuek ketika bertatap muka dengan saya. Dia enggan sekali menyapa meski saya sudah mulai menegur atau melemparkan seulas senyum terbaik yang saya miliki untuknya. Dia tetap seperti biasa, hanya mengangguk dan tersenyum tipis. Segera melanjutkan rutinitasnya setiap pagi dan sore di halaman rumah.

Saya gugup. Ingin mundur tapi jujur saja saya selalu suka melihat bahkan mencuri pandang ke arahnya. Itu adalah hal tergila yang pernah saya lakukan seumur hidup. Tapi Raina telah merubah segalanya, mengganggu tidur malam serta ketenangan hidup saya.

Allah, sepertinya saya sedang jatuh hati…

***

Sore itu, saya memutuskan untuk segera datang dan melamar Raina. Hanya sendiri. Kebetulan orang tua saya tinggal dan menetap di Surabaya, karena sekolah dan tempat tugas saya di Jakarta, maka dengan berat hati saya harus tinggal berjauhan dengan mereka.

Sebelumnya saya tidak pernah membayangkan betapa nekatnya saya ketika memutuskan untuk segera datang dan menemui ayah Raina. Hal tergila yang saya lakukan untuk seorang gadis berjilbab sepertinya. Ketika saya mengatakan keinginan ini kepada orang tua, mereka seperti disengat petir. Kaget dan sangat tidak percaya sampai-sampai mereka mengira saya telah menghamili anak orang di luar nikah.

“Memangnya kenapa buru-buru, Gas? Kemarin Bapak jodohkan sama anak teman Bapak yang ayu kamu nolak. Sekarang pengen cepetan nikah. Semua baik-baik aja, kan?”

Dari seberang telepon saya tertawa. Tentu saja tidak ada masalah. Masalahnya adalah ketika saya sudah merasa mampu dan hati saya mengatakan telah menemukan orang yang tepat untuk mendampingi hidup saya. Saat itulah saya memutuskan untuk segera menikah. Saya tidak mau mempermainkan perasaan orang atau malah menjerumuskannya dalam liang dosa jika saja saya berani mengajaknya terikat tanpa kehahalan agama.

Tapi, ya Allah, saya harap dia adalah jodoh saya. Rio bilang adiknya adalah gadis yang baik. Setelah menamatkan S1 di UI, gadis berlesung pipit itu memutuskan mengajar di sekitaran kawasan Klender. Dia berangkat ke sana dengan angkutan umum atau dengan naik ojek. Ya, sesekali saya juga melihat dia mengenakan ransel biru cerah, berjalan menghentikan angkutan umum. Tapi, saya yang masih baru kenal tidak pernah berani bertanya.

Raina selalu mengakui bahwa dirinya adalah seorang pengangguran. Kerjanya hanya di rumah setelah kuliahnya selesai. Gadis manis yang tidak suka mengumbar kebaikan. Padahal, di kawasan pabrik di daerah Klender, dia mengajar anak-anak kurang mampu secara percuma. Katanya dia kasihan, daerah kumuh dan banyak sekali anak-anak yang tak bisa melanjutkan sekolah. Atas inisiatifnya, Raina dan beberapa orang temannya aktif mengajar di sana.

Cerita yang sempat membuat hati saya terkagum-kagum setelah mendengarnya dari Rio. Gadis itu, meski tidak bergaya seperti jilbaber masa kini, tapi kecantikannya keluar dari hati. Dia tersenyum seperti bidadari yang sedang menyapa. Jika terus-terusan memikirkan Raina, saya bisa pastikan akan tidur kemalaman dan begadang setiap hari.

Untuk itulah, sore itu ketika matahari mulai merangkak turun, saya memberanikan diri mengetuk pintu rumahnya. Celakanya, Rainalah yang membukakan pintu. Dengan ramah dia mempersilakan saya masuk. Saya coba menata hati, saya seorang dokter yang telah memeriksa banyak sekali pasien, kenapa harus gugup ketika bertemu Raina? Anggap saja dia adalah salah satu pasien saya juga. Benarkan?

Sayangnya, sebelum benar-benar siap, saya hampir saja terjatuh. Tidak jelas apa yang membuat langkah kaki saya tiba-tiba seolah terbentur sesuatu yang keras. Alhasil, saya hampir saja terpelanting di depan gadis pujaan hati. Benar-benar sesuatu yang sangat memalukan. Dan celakanya saya sempat melihat Raina menahan tawa.

“Hati-hati, Mas.” Katanya.

Lalu, bisa dipastikan setelahnya, jantung saya berdetak semakin kencang mengalahkan roller coaster. Raina, semoga kamu segera lupa dengan kebodohan saya. Semoga…

***

Tulisan ini diikutsertakan dalam One Day One Post bersama Blogger Muslimah Indonesia
#ODOPOKT13

Baca juga cerita sebelumnya bag 1 Sebuah Permintaan

Sabtu, 14 Oktober 2017

Cerbung Tentang Kita Bag 1; Sebuah Permintaan

sumber

(Raina)
Bahagia itu hanya sebatas sesapan bibir tipismu
Pada salah satu sisi cangkir teh yang selalu aku hidangkan
Di dekat tempat berbaringmu...

“Benarkah?”

Aku menatap kedua matamu sekali lagi. Ingin memastikan bahwa ucapanmu barusan hanyalah sebuah guyonan. Tapi, hingga debar dalam dadaku semakin bergemuruh, wajahmu justru semakin serius meminta persetujuan.

“Apa Mas serius?” Suaraku terdengar serak. Kepala tiba-tiba saja terasa pening. Tidakkah aku sudah salah dengar, apakah benar kamu meminta izin untuk menikah lagi?

Kepalaku semakin berat, mata berkunang. Wajahmu seolah bayangan yang berputar semakin cepat. Membuat pandanganku kabur. Kemudian, hanya gerakan tubuh limbung dan kerasnya hantaman lantai yang menyentuh kepala yang pada akhirnya menidurkanku begitu lama.

***

Dia adalah tetangga dekat. Bangunan rumahnya berdiri tepat di depan rumahku. Namanya mas Bagas. Sore ini, dengan terburu-buru sekali, dia datang menemui ayahku. Wajahnya terlihat gugup. Berkali-kali kulihat kedua tangannya mengepal. Dia, setengah tersenyum saat melihatku mengantarkan secangkir teh manis di ruang tamu.

Tanpa menyapa, dia kembali menekuri kedua kakinya yang saling bersinggungan. Menahan gelisah yang menyergapnya tiba-tiba saat mulai mengetuk pintu rumahku.

Mas Bagas, dia tetangga baru. Enam bulan yang lalu baru pindah dari Surabaya. Penampilannya rapi dan sikapnya santun serta ramah. Aku mulai mengenal mas Bagas ketika tanpa sengaja bang Rio mengenalkannya padaku.

Rupanya dia adalah teman satu kampus bang Rio. Mahasiswa kedokteran yang terlihat tampan dengan kaca mata minus yang berada di atas hidung mancungnya.

Mas Bagas bahkan tak pernah sekalipun menyapa atau meminta nomor handphone. Sesekali saja kadang dia menitipkan salam lewat bang Rio. Aku pikir, itu hanyalah perkenalan biasa, salam tanpa rasa apalagi cinta. Insya Allah, aku mengenalnya sebagai pribadi yang shaleh. Tak banyak bertingkah bahkan cenderung pendiam ketika berhadapan dengan perempuan. Setidaknya seperti itulah yang sering bang Rio ceritakan akhir-akhir ini.

Hingga detik ini, tanpa basa basi dia datang dan berniat melamarku. Lelaki bertubuh tinggi itu datang dengan kemeja berwarna biru cerah serta selop berwarna abu-abu. Penampilannya sederhana, tapi selalu menyenangkan setiap kali bertemu atau tanpa sengaja bertatap muka dengannya.

Aku mengintip dari balik tirai. Menyibaknya sedikit, lalu tampaklah wajahnya yang bersih sedang bicara terbata, mengungkapkan isi hati dan keinginan segera menikahiku. Ayah tampak terkejut, namun tak lama kemudian segera memanggilku ke ruang tamu.

Sungguh sulit dibayangkan, bagaimana aku bisa menikah dengan laki-laki yang baru saja kukenal. Tidakkah bisa kita berteman sebulan atau dua bulan saja. Saling bertanya tentang kesukaan atau sesuatu yang barangkali harus saling diketahui sebelum akhirnya memutuskan untuk segera menikah.

Aku duduk dengan wajah bersemu merah. Tidak kalah gugup, bahkan kedua tanganku terasa sedingin es.

Ayah menjelaskan padaku tentang maksud kedatangan mas Bagas ke rumah. Lelaki itu, mengangkat wajahnya, melemparkan senyum ramah. Aku bingung harus balas tersenyum atau mendiamkan. Sebab, jantung masih melompat dan menghempas begitu dahsyat. Membuat debar tak karuan sejak pertama kali mendengarnya mengatakan ingin segera menikahiku.

Mas Bagas, menaikkan kedua alisnya, memohon persetujuan, supaya bisa segera menikahiku. Lelaki itu entah terlalu serius sehingga begitu cepat bertandang ke rumah atau justru terlalu terburu-buru?

            Dan jujur saja aku tidak begitu suka dikejutkan dengan hal-hal seperti ini. Kejadian sore ini seperti mimpi yang bahkan malu mendatangi tidurku di malam hari. Sebab terlihat begitu mustahil. Hm, tapi aku harus percaya bahwa tidak ada sesuatu yang mustahil di sisi Allah. Pertemuan ini bukan sebuah kebetulan.

Aku bahkan tak tahu harus menjawab apa. Usiaku sudah menginjak 23 tahun. Sudah lulus kuliah, pengangguran dan tidak ada alasan untuk menolak sebuah pernikahan. Aku juga punya impian menikah, tapi rasanya ini terlalu cepat. Oh, Allah…

Belum lagi bang Rio yang tanpa henti selalu berniat menjodohkanku dengan teman-teman seprofesinya. Bang Rio kira aku ini gadis yang tidak laku. Padahal jodoh pasti bertandang meski tanpa diundang. Bukan begitu?

Oh, ya. Jangan-jangan mas Bagas datang ke rumah karena permintaan bang Rio. Kalau sampai itu benar, alangkah malunya aku. Seperti perawan tua saja. Ditawarkan ke sana kemari seperti permen. Aku berjanji akan memarahi bang Rio jika saja setelah ini dia segera muncul di hadapanku.

Tapi ini bukan hanya tentang bang Rio. Ini tentang lelaki tampan yang sedang berdebar menunggu jawabanku. Iya, apakah aku siap mendampingi masa sulit serta bahagianya ataukah aku menolak bersanding dengannya?

Sama seperti dirinya, hatiku pun melompat-lompat tak karuan. Keringat dingin mengucur meski kipas angin menyala bahkan menghadap wajahku.

Dengan gugup, berkali-kali kupilin ujung jilbab berwarna pastel. Bismillah…

***

Ketika membayangkan pelaminan dan siapa pasanganku kelak, aku sedikit takut dan mengusir pikiran itu jauh-jauh. Buru-buru mengatakan pada diri sendiri bahwa usia 23 tahun masih terlalu dini untuk memikirkan pernikahan.

Mungkin lebih baik mencari pekerjaan ketimbang segera menikah. Lagipula, teman-teman sebayaku juga masih single dan bahagia saja menjadi jomblo. Tapi, apakah aku juga bahagia menjadi jomblo dari zaman SD sampai kuliah bubar? Tentu saja kujawab lantang, “Aku adalah jomblo bahagia yang bermartabat!”

Bang Rio sering menertawakanku. Katanya jomblo sepertiku selalu saja kesepian setiap malam minggu. Seumur hidup, belum pernah dia melihat ada lelaki datang apel ke rumah. Jangan-jangan semua pemuda itu takut pada gadis galak sepertiku. Ah, bang Rio selalu saja berlebihan ketika bergurau, sehingga tak jarang kami selalu bertengkar. Tapi, kami juga tidak betah saling mendiamkan. Paling lama dua jam saja, setelah itu kami kembali akur dan parahnya bertengkar kembali.

Bang Rio memang keterlaluan. Padahal faktanya, bang Rio juga tidak pernah membawa gandengan ke rumah. Aku yakin sekali dia pun masih memilih fokus menyelesaikan kuliah S2 ketimbang pacaran yang tidak jelas ujungnya.

Tapi, rupanya ketika mas Bagas datang ke rumah dan berniat serius membina hubungan denganku, hati ini tersentuh dan jujur saja haru. Perasaan yang awalnya biasa menjadi spesial. Ini bukan hal baik. Tentu saja aku harus berhati-hati dengan perasaan. Sebab nyatanya kami masih berstatus sebagai tetangga bukan pasangan yang dihalalkan untuk saling jatuh hati. Jangan sampai hati ini salah melabuhkan cinta.

“Jadi kamu terima lamaran Bagas atau?” Tiba-tiba saja suara bang Rio mengagetkan. Setelah mengetuk pintu, tanpa permisi dia segera menyambar guling dan duduk manis di depanku.

Wajahku manyun seketika. Saudara laki-lakiku satu-satunya ini benar-benar tidak tahu diri. Masuk tanpa permisi dan tiba-tiba saja memberondongku dengan pertanyaan tentang mas Bagas.

“Kamu tahu nggak? Bagas itu nggak pernah dekat dengan cewek. Dia anak paling alim di antara teman-teman bang Rio. Udah pinter, pendiam pula. Kalau kamu tolak, bang Rio jamin kamu bakalan nyesel seumur hidup!” Tanpa titik, tanpa koma, bang Rio terus saja bicara.

Aku menarik napas, “Jadi, bang Rio sebaliknya? Kerjanya jalan melulu, nggak alim dan punya IQ rata-rata pula. Betul, Bang?” Aku tertawa. Lalu tanpa rasa iba bang Rio menjitak kepalaku keras.

“Sakiiit!”

*Bersambung


Tulisan ini diikutsertakan dalam One Day One Post bersama Blogger Muslimah Indonesia
#ODOPOKT12

Jumat, 13 Oktober 2017

Ciri-Ciri Dokter Anak yang Nempel di Hati

Dokter Apin


Halah, judulnya bikin baper aja, yaa..hehe. Saya mau sharing beberapa dokter anak yang menjadi favorit saya selama ini dan alasan kenapa mereka bisa nempel di hati *eaaa

Jujur saja pengalaman saya keluar masuk rumah sakit mulai padat saat kakak masuk sekolah dan adiknya lahir. Dulu, hampir tidak pernah saya membawa ke dokter ketika kakak sakit kecuali memang sangat dibutuhkan. Bukan, bukan karena saya seorang dokter yang bisa mengobati anak sendiri, saya juga bukan pakar herbal yang anti dokter. Saya tidak sering ke dokter karena memang saat itu tidak dibutuhkan.

Misalnya saja ketika kakak kena HFMD atau flu singapura, saya tetap di rumah dan memberikannya lebih banyak cairan, makanan lembut dan dingin seperti pudding sebab saat HFMD, hal paling menyakitkan adalah sariawan di seluruh rongga mulutnya. Selama ini saya tahu kalau HFMD sebabnya hanyalah virus, jadi tidak perlu obat macam-macam kecuali penurun panas untuk meredakan demam dan mengurangi rasa sakit.

Atau ketika si sulung kena Roseola, biasanya ditandai dengan demam tinggi selama hampir 72 jam. Bahkan mepet sampai 72 jam. Ketika saya berniat membawanya ke dokter (karena memang Roseola ini nggak pakai gejala lain), biasanya suhu tubuhnya berangsur normal dan keluarlah bintik-bintik merah di sekujur tubuhnya terutama di punggung. Fix, ya itu Roseola dan anak-anak pun akan membaik setelahnya. Roseola penyebabnya juga virus, jadi nggak perlu obat macam-macam selain penurun panas.

Dan beberapa kejadian yang membuat saya terpaksa ke dokter misalnya ketika kakak pertama kali kejang demam, setelahnya saya tidak pernah membawanya ke dokter meski dia kejang demam lagi, terakhir saat usianya 6 tahun kemarin. Karena apa? Karena saya pribadi sudah tahu gejala dan tanda darurat kapan harus ke dokter. Dan kondisi kakak alhamdulillah selalu membaik meski sebelumnya sempat kejang demam.

Saya juga terpaksa membawanya ke dokter saat dia terkena DBD, saya masih ingat, di depan kamar sebelum dia dipasang infus, saya menangis seperti anak kecil kehilangan balon. Hampir setiap hari saya menangis, saya takut dan entahlah meski mulut dipenuhi doa-doa, mata tak pernah kering. Selalu saja diliputi rasa takut, padahal menurut dokter, perkembangan kakak lumayan bagus dan cepat pulihnya. Sayangnya saya tetaplah emak-emak yang cengeng…he. Jadi, kesimpulannya, saya meski jarang ke dokter, bukan berarti se-setrong yang orang katakan. Saya ya sama aja kayak emak lainnya bahkan jauh lebih cengeng!

Saat itu saya pun ingat, dokter anak yang menangani si kakak sebenarnya bukan dokter yang RUM atau rational use of medicine. Tapi karena sejak awal saya sudah bilang bla, bla, maka saat dirawat, kakak hanya diberi obat penurun demam kalau masih demam dan cairan infus. Tidak ada vitamin, AB apalagi. Yang pernah saya komplain saat itu adalah penurun demam yang mengandung ibuprofen. Setahu saya, anak dengan DBD sangat tidak disarankan memakai penurun demam jenis ini. Karena bisa meningkatkan risiko perdarahan pada lambung (cmiiw). Tapi dokter itu tidak marah saat saya protes dan menggantinya dengan penurun demam yang mengandung paracetamol. Itu baru benar. Sok bangetkan sayah? He..

Entahlah, yang jelas saya hanya sedang melakukan apa yang saya yakini. Saya tidak sembarangan menolak ini dan itu. Saya membaca dulu, cek sana sini, konsultasi dulu dengan dokter di milis sehat bahkan saya jauh-jauh mencari dokter yang RUM hanya demi sebuah diagnosa.

Dan sejak beberapa tahun terakhir, saya bertemu beberapa dokter yang bagi saya mereka cukup bisa diandalkan.

1.      Dokter Arifianto atau dokter Apin. Beliau adalah seorang dokter spesialis anak yang praktik di rumah sakit Pasar Rebo, Markas Sehat, di kediamannya dan juga seorang penulis buku. Selain sangat RUM, beliau juga super duper ramah dan santai pada saatnya dan serius pada waktunya…he. Beliau juga menulis di blog A Doctor’s Journal.
2.      Dokter Herbowo yang praktik di rumah sakit Hermina Jatinegara dan entahlah di mana lagi. Yang jelas saya bertemu beliau saat di rumah sakit Hermina Jatinegara. Dokter Herbowo ini lebih ngartis gitu kali, ya. Beliau juga orangnya santai meski buat saya tidak terlalu RUM juga tapi ketimbang yang lainnya, beliau bisa jadi pilihan. Insya Allah, masih aman yaa…he.
3.      Dokter Mata Flourence yang praktik di Jakarta Eye Center. Beliau adalah dokter paling menyenangkan yang pernah saya temui, tegas tapi masih suka bercanda. Beliau ‘Cerdas’ luar biasa. Sangat teliti saat mengobati mata anak, maka nggak heranlah ya dia memang ahli di situ..he.
4.      Dokter Idham Amir di rumah sakit Hermina Jatinegara, beliau kalau tidak salah juga merupakan tim dokter spesialis anak dari keluarga pak SBY. Beliau ini senior dan orangnya galak banget. Tapi saat bertemu saya beliau baik, kok…hehe.  Dan beliau ini ahlinya soal bayi-bayi merah yang baru lahir. Pengalaman saat konsultasi dengan beliau, cukup memuaskan, kurang RUM tapi masih enak diajak diskusi.

Saya termasuk yang sangat pemilih ketika mencari dokter karena ini benar-benar sangat menentukan. Anak saya akan mendapatkan obat apa, perawatan bagaimana? Semua sangat tergantung dari dokter yang saya pilih. Apalagi kalau ternyata saya kurang menguasai ilmunya seperti misalnya saat si adik kena otitis media, ini benar-benar pengalaman baru dan saya harus bolak balik masuk website AAP dan Kids Health untuk tahu lebih banyak karena sebelum penyakit ini ketahuan, dokter-dokter lain sudah mendiagnosa macam-macam seperti TB. Padahal anak kecil tentu hanya bisa terkena jika ada yang menularkan. Sedangkan yang bisa menularkan TB hanyalah orang dewasa. Dan kenyataannya selama ini, hanya saya dan ayahnya yang merawatnya di rumah. Tidak ada kontak langsung dengan penderita TB selama minimal 6 bulanan. Jadi kecurigaan semacam itu sangat fatal.

Adik juga sempat disarankan dirawat karena dia memang demam hampir sebulan penuh setiap jam 2 malam, suhunya bisa mencapai 39,6’C. Dan entah bagaimana dulu saya bisa menjaganya sendiri, bahkan sekarang pun saya takut membayangkannya.

Alhamdulillah, semua bisa dilewati meski masih banyak khilaf di sana sini. Saya percaya, belajar itu tentu nggak boleh nunggu anak sakit. Karena kalau begitu isinya hanya panik dan panik! Tapi bukan berarti kita juga ingin anak sakit. Tentu saja bersiap payung sebelum hujan akan menjadi jauh lebih baik ketimbang buru-buru berhenti dan berteduh di tengah jalan.

Beberapa teman atau sahabat selalu panik ketika anaknya sakit, padahal buku bahkan beberapa artikel kesehatan dari web shahih sering saya kirimkan. Tapi sampai di situ saya tidak pernah keberatan jika memang mereka bertanya, hanya saja saya menyayangkan kenapa ilmu sebanyak itu tidak pernah dibaca. Bukankah semua memang demi anak sendiri bukan anak orang lain?

Ketika ditanya, bagaimana nih anakku? Menurut kamu nggak masalah? Saya akan tanya balik, terus menurut kamu sebagai ibunya gimana? Kalau saya bahkan tidak bisa melihat langsung kondisi anaknya, klinisnya seperti apa, tapi saya informasikan apa itu tanda gawat darurat, kapan harus ke dokter, apa yang wajib dilakukan saat anak diare atau demam sesuai dengan petunjuk resmi dari badan kesehatan dunia. Kalau ditanya seperti itu saya jadi baper, memangnya ibunya siapa, sih? ^^

Jujur saja saya takut ketika terjadi apa-apa malah saya yang disalahkan, misalnya saja ketika ada yang bilang, “Dokternya lebay, ya. Padahal anakku nggak panas waktu kejang kemarin. Tapi udah disuruh EEG.”

Saya sempat terkejut, bukankah yang tidak masalah memang kejang demam? Kalau kejang tanpa demam memang perlu observasi lebih lanjut. Kejang demam pun juga harus dicocokkan tanda-tandanya masuk kejang demam apa. Dan banyak sekali kejadian yang menurut saya bikin kaget dan WOW! Hehe. Siapa saja boleh bertanya kepada saya, bahkan saat mereka panik-paniknya, bahkan saat anak saya pun sedang sakit juga, insya Allah saya akan membantu sebisa saya. Tapi untuk keputusan, semua selalu di tangan orang tua. Benar, kan?

Dan hal menentukan berikutnya dari bijak menggunakan obat adalah menemukan dokter yang RUM. Kalau sudah dapat, plis pegang tangannya dan jangan lepaskan *eist dah…hehe.

Karena dokter yang seperti itu susah sekali dicari. Dari sekian jarak dan rumah sakit yang saya kunjungi, hanya satu dua yang klik di hati. Lalu dokter seperti apa sih yang nempel di hati saya? ^^

1.      Enak diajak diskusi. Ke dokterkan memang perlu diskusi. Kalau baru masuk ruang dokter saja sudah dingin dan angker, gimana mau mulai bertanya. Ah, jadi kayak nonton film horor aja, kan? Apalagi yang ketika ditanya malah nyuruh kita kuliah kedokteran…hoho. Ini memang nyata ada, lho. Jadi, kriteria pertama pastilah mau diajak diskusi.
2.      Mengedukasi. Kalau sudah enak diajak diskusi, dokter sebaiknya juga pandai mengedukasi pasiennya supaya pasiennya nggak gampang pakai AB misalnya, supaya pasiennya tahu kapan harus rawat inap dan banyak contoh lainnya.
3.      Bijak menggunakan obat. Dokter yang nggak suka ngumbar resep kecuali saat memang sangat dibutuhkan. Benarkan? Pernah nggak pulang dari dokter hanya karena anak kita demam dan batuk, dibekalin obat satu kantong plastik? Horor banget tuh dokter! Padahal kita sakit aja nggak perlu terlalu banyak obat, gimana bisa yang kecil bisa lebih banyak obatnya?
4.      Ramah dan murah senyum. Wajiblah dokter anak itu ramah dan murah senyum. Kalau nggak pastilah bikin anak kita jadi teriak-teriak dan ngajakin pulang..he. Mau periksa aja udah horor. Apalagi kalau lihat dokternya serem?
5.      Nggak main keroyokan. Dokter yang santai dan professional tentu nggak main keroyokan saat memeriksa pasien terutama anak-anak. Mereka cukup butuh bantuan satu perawat dan orang tua. Itu udah maksimal banget. Pengalaman banget saat adik matanya kemasukan pasir, dia harus dipegang beberapa dokter praktek dan suster, dia menjerit ketakutan dan yang itu harus terjadi berulang kali. Jadi kebayang traumanya. Tapi saat sampai di JEC, setiap ruang dokter hanya ada satu perawat. Kita sebagai orang tua diminta santai dan bekerja sama dengan baik, cukup kami bertiga dan dokter dengan nyaman melakukan tindakan. Meski begitu, dokter yang sempat menangani adik berkali-kali minta maaf karena pemandangan itu agak seram dan mungkin terlihat menyakitkan. Tapi it’s oke, semua akan baik-baik saja. Sopan sekali, dan beliau adalah dokter Ginting yang praktik di JEC ^^
6.      Nggak horor. Jangan sampai ketemu dokter yang suka nakut-nakutin, yaa..hihi. Nggak tahan kalau udah panik karena anak sakit, masih disuguhin informasi horor yang bikin orang tua rasanya tercekik. Aih, saya sudah berkali-kali ngalamin…hihi.


Karena sudah terlalu panjang, maka saya harus menutupnya. Jangan sampai yang baca jadi kelaparan juga…he. Yuk, Bu, pandai-pandailah memilih dokter anak, demi mereka, hanya demi anak-anak kita. Kita tidak sedang ingin membuat mereka sehat dalam waktu sebentar. Tapi mau mereka sehat dalam jangka waktu yang panjang. Insya Allah, anak-anak selalu sehat…Amiin.

Tulisan ini diikutsertakan dalam One Day One Post #ODOPOKT11 bersama Blogger Muslimah Indonesia