Anak TK Full Tatap Muka Selama Masa Transisi

Monday, November 15, 2021

Anak TK Full Tatap Muka Selama Masa Transisi
Photo by Kelly Sikkema on Unsplash


Sejujurnya saya penasaran, bagaimana sekolah-sekolah usia dini seperti TK atau sejenisnya di masa transisi seperti sekarang? Apakah sudah banyak yang full tatap muka, atau sebagian besar justru masih online?


Waktu pertama kali diumumkan bahwa TKIT si adek mau mengadakan full tatap muka setiap hari dengan waktu yang lumayan lama, dari pukul setengah delapan sampai setengah sepulu, bisa jadi hanya saya saja yang menolak untuk masuk. Karena anak SD saja waktu itu masih full online dan belum mengadakan PTM. Juga, di bulan Juli baru saja terjadi gelombang kedua Covid-19 yang jaraknya sangat dekat dengan PTM yang direncanakan oleh sekolah si adek ini. Tanpa berpikir panjang, saya belum bersedia.


Saya tidak berkenan ikut PTM karena anak-anak saya belum bisa diantar jemput orang tua. Saya nggak bisa ke sekolah sendiri, sedangkan suami saya harus bekerja. Dalam waktu beberapa minggu pertama, si adek masih bisa ikut online meski hanya sendirian. Hari-hari berikutnya mulai ditanyakan kapan mau tatap muka. Lama-lama emaknya sungkan meskipun mestinya ini adalah hak saya sebagai orang tua dan wajar kalau nggak semua orang tua siap dengan PTM terutama di waktu anak SD saja belum full PTM.


PTM Pertama Kali

Setelah terlalu sering ditanya dan diminta masuk dengan alasan anak-anak mesti sosialisasi, akhirnya saya mengambil keputusan untuk ikut PTM, tapi dengan waktu yang terbatas sesuai jam kerja suami. Pagi dia diantar oleh ayahnya, setelah satu jam atau satu jam setengah dia dijemput kembali sebelum ayahnya berangkat ke kantor.


Anak-anak di sekolah lain rata-rata hanya sekolah satu jam dan hanya tatap muka beberapa hari saja dalam seminggu. Sisanya belajar online. Mereka tidak diperkenankan membawa makanan dan hanya boleh membawa minum. Karena waktunya hanya sebentar, masih memungkinkan bagi anak-anak untuk tetap memakai masker dan tidak membukanya sama sekali. Prokes di sekolahnya pun sangat ketat. Kira-kira seperti inilah hasil sharing dari para orang tua di Milis Sehat.


Namun, di sekolah si adek, anak-anak dibolehkan membawa makanan bahkan di jam belajar ada anak yang merengek minta membuka camilannya. Ini cerita dari si adek…hihi. Inilah salah satu alasan lain kenapa saya masih ragu ikut PTM. Karena bagi saya, ini kurang disiplin prokes. Membuat kondisi menjadi riskan dan rentan. Meksi hanya batuk pilek, tapi ketika terjadi di masa pandemi, horornya bukan main :(


Saya merasa lebay banget sebagai orang tua. Ketika orang lain mungkin sudah santai dan nggak peduli, kenapa saya masih separno ini? Banyak faktor kenapa saya merasa masih perlu disiplin prokes, salah satunya karena riwayat penyakit anak-anak saya. 


Common Cold Pertama Setelah PTM

Sekitar tiga minggu yang lalu si adek common cold untuk pertama kalinya. Teman-teman bisa membaca ceritanya di sini. Ini memang common cold plus demam pertama kali selama masa pandemi. Qadarallah, kondisi kesehatan anak-anak benar-benar membaik sejak mereka nggak pernah masuk sekolah. Satu hal yang saya syukuri.


Namun, setelah PTM dimulai lagi, common cold pun mampir kembali. Waktu adek pertama kali mengeluh sakit tenggorokan, hari itu juga saya meliburkannya. Kemudian bergiliran menular kepada saya dan juga kakaknya. Selama common cold, si adek benar-benar nggak ikut PTM. Walau batuk dan demamnya sudah hilang, tapi melernya itu lho masih awet banget. Namun, saya tidak tahu, bagaimana dengan teman-temannya. Apakah sedisiplin ini juga?


Saya nggak berani mengikutkan si adek PTM karena setahu saya, anak-anak yang ikut PTM mesti benar-benar sehat. Namun, saya kecewa karena selama dua minggu penuh nggak ada pembelajaran online sama sekali. Dia memang sudah bisa membaca dan menulis karena sudah lama belajar sendiri di rumah, tapi dia bosan karena nggak sekolah sama sekali...kwkwk.


Sangat berbeda dengan si kakak yang bisa tetap belajar meski dia harus di rumah karena belum sepenuhnya sehat. Kondisi seperti ini akhirnya memaksa saya sebagai orang tua untuk lebih berani mengambil keputusan. Di mana saya yang awalnya nggak berani menggunakan ojek sama sekali, akhirnya saya memutuskan pakai ojek lagi.


Tidak Ada Pilihan

Waktu mau PTM di sekolah kakak, kepala sekolah menyampaikan bahwa semua keputusan dikembalikan kepada orang tua. Kewajiban sekolah menyediakan adanya pembalajaran online dan tatap muka sehingga orang tua bisa leluasa memilih sesuai kondisinya masing-masing.


Buat saya, keputusan ini sangat baik karena tidak semua orang tua bisa mengantar sendiri anak-anaknya sekolah, juga nggak mungkin anak batuk pilek bisa leluasa masuk seperti saat sebelum pandemi. Yes or no? Dekat-dekat sama orang yang batuk-batuk saja parno…kwkwk. Saya nggak mau membahayakan anak sendiri, juga orang lain. Ikut PTM ya hanya ketika sehat. Semua juga pasti paham kalau common cold ini sangat menular terutama di ruangan ber-AC. 


Namun, di sekolah adek, nggak ada pilihan semacam itu. Semua orang ‘dipaksa’ secara halus untuk ikut PTM. Meskipun awalnya kami dibolehkan memilih, tapi ujungnya nggak ada pembelajaran online ketika anak-anak nggak bisa PTM.


Nggak semua orang tua siap dengan kondisi seperti sekarang. Justru masa transisi ini lebih berat dibanding pandemi kemarin. Anak-anak mesti tetap masuk, tapi harus jaga prokes. Anak-anak harus sekolah, padahal kondisi belum sepenuhnya aman dan pandemi belum sepenuhnya berakhir. Anak-anak harus sekolah dan masuk dalam lingkungan yang kita nggak pernah tahu, apakah semua orang benar-benar taat prokes atau nggak? 


Qadarallah, saya salah satu orang tua yang masih parno apalagi ketika melepas anak keluar tanpa saya. Karena saya mengurus mereka sendiri, saya jauh dari orang tua, nggak ada ceritanya saya menitipkan anak-anak ke orang lain dalam waktu lama. Jadi, sangat wajar ketika saya selalu was-was apalagi di masa pandemi seperti sekarang.


Semoga kondisi sekarang benar-benar sepenuhnya aman. Saya berusaha berpikir positif dan mengenyahkan semua ketakutan. Berusaha cuek dan setenang mungkin melepas anak-anak PTM. Karena saya nggak punya pilihan. 


Salam hangat, 


Comments

  1. Sekolah tempat suamiku kerja mulai PTM minggu ini mba, tapi kusus buat yg orang tua murid setuju aja, jadi ga semua kelas PTM, ada bbrp kelas yg masihs epakat buat PJJ.

    Semoga aja pandemi ini segera berakhir ya mba, biar kita bisa menjalani hidup tanpa was was lagi

    ReplyDelete
  2. TK anakku juga udh ptm, tapi aku kayaknya 1-1 nya ortu yg menolak . Ya gimana ga mba, prokes aja ga ketat kok. Lah ibu2nya masih ngumpul, guru2nya kadang kalo ada ibu murid yg lahiran, masih ngajak ketemuan utk jenguk. Gila ajaa 🤣. Udh jelas aku tolaklah. Memang nya ga bisa kasih kado doang. Aku beneran curiga mereka ini tipe org yg ga percaya pandemi. Makanya pas dilakuin PTM, sorry aja, anakku ga boleh ikut. Mending aku ajarin di rumah.

    Tapi kalo kakanya udh SD, dan udh disiplin prokes. Sekolahnya juga ketat. Makanya aku izinin utk PTM. Btr aku bolehin si adek, kalo pandemi udh selesai, atau dia udh vaksin komplit.

    ReplyDelete