Melepas Anak di Hari Pertama Sekolah

Friday, July 30, 2021

Melepas Anak di Hari Pertama Sekolah
Kangen banget bisa antar anak masuk sekolah, ya :)


Hari pertama sekolah merupakan hal yang ditunggu-tunggu, entah bagi anak-anak ataupun orang tua. Buat saya, hari pertama skeolah bukanlah hal yang menyenangkan karena saya mesti berpisah dari orang tua dan duduk di bangku kelas bersama orang-orang baru. Saya tidak suka melakukannya, makanya saya selalu menangis hingga akhirnya batal masuk TK…hehe.


Saya masih ingat betul, Bapaklah yang selalu mengantarkan saya ke sekolah dan menenami di dalam kelas. Sering saya tidak mau ditinggal dan lebih banyak mesti ditemani. Hal itu membuat Bapak akhirnya lelah dan memutuskan tidak lagi menyekolahkan saya.


Setelah menjadi orang tua, saya tidak mau punya anak yang seperti itu. Iya, yang seperti saya saat masih kecil, suka merengek di dalam kelas karena takut ditinggalkan. Perasaan takut ini menyiksa sekali dan tentu saja membuat hari-hari di sekolah menjadi tidak menyenangkan.


Waktu si sulung mau masuk TK, qadarallah saya sedang hamil besar dan akan melahirkan. Perhitungannya, saya melahirkan dan dia masuk sekolah dengan jarak hanya beberapa hari saja. Siapa yang akan menemani jika dia tidak mau ditinggalkan? Perjuangan pun dimulai.


Banyak cara bisa kita lakukan untuk meyakinkan anak-anak supaya bisa berani selama di sekolah dan mau bermain dengan teman-temannya. Minimal tidak menangis saat ditinggalkan. Anak saya, dua-duanya bukan termasuk yang saya lepas ketika bermain apalagi di luar rumah. Mereka lebih banyak menghabiskan waktu di rumah ketimbang bermain di luar bersama teman-temannya.


Sejujurnya, saya tidak yakin dia akan seberani itu saat masuk sekolah di hari pertama. Tapi, saya berhasil membuat dia merasa aman dan nyaman, sehingga mulai hari pertama hingga masuk SD kelas lima seperti sekarang, dia tidak pernah merepotkan sama sekali. Mau diajak kerja sama tanpa drama, mau ditinggal bahkan ketika bukan Ayah dan Bunda yang mengantarkannya ke sekolah.


Jangan Berbohong

Melepas Anak di Hari Pertama Sekolah


Saya tidak mau berbohong apalagi mengancamnya. Sejak awal saya jujur pada dia sehingga dia percaya dan berani berangkat sekolah sendiri. Jangan sampai kita bilang akan menunggunya di luar, sementara kita pulang ke rumah. Jika dia tahu, pastilah sangat kecewa bahkan mungkin marah.


Saya selalu bilang,


“Kamu akan diantar oleh ojek yang sudah kamu kenal. Kamu akan diantar sampai ke sekolah dan belajar bersama ibu guru dan teman-temanmu. Ibu guru adalah orang yang bisa kamu percaya untuk dimintai pertolongan saat kamu merasa kesulitan. Jangan khawatir, kamu akan dijemput tepat waktu. Jika ojek atau Ayah Bunda belum datang menjemput, tetaplah bersama Ibu guru di kelas.”


Kalimat senada selalu saya ulang-ulang karena tidak mudah menanamkan rasa percaya diri pada anak terutama saat dia mesti masuk dalam lingkungannya yang baru. Saya tidak bercerita tentang orang lain, saya bercerita tentang diri saya yang sendiri yang selalu kesulitan beradaptasi di lingkungan baru. Sering membuat saya stres hingga sakit tanpa sebab. Hanya karena saya selalu merasa takut berlebihan setiap bersama orang yang baru saya kenal. Saya pun paham ketakutan yang dihadapi oleh anak saya nanti. Maka saya selalu mengatakan hal yang serupa hampir setiap hari, sampai akhirnya dia memahami dan sangat percaya bahwa semua akan baik-baik saja meski tanpa bundanya.


Sugesti Positif Secara Rutin

Melepas Anak di Hari Pertama Sekolah


Komunikasi dengan anak tentu tidak sama seperti saat kita berbicara pada orang dewasa. Apa yang kita sampaikan bisa jadi sulit dipahami oleh mereka. Saya selalu berusaha sesering mungkin menjelaskan bagaimana nanti dia akan berangkat ke sekolah, bersama siapa, di sana akan ngapain aja, dan siapa saja orang yang akan menemaninya.


Ide mudahnya, saya lakukan sesering mungkin dengan bercerita sambil menggambar. Ini sekolah. Kamu akan berangkat bersama ojek. Kamu akan bertemu guru-guru dan teman-teman. Kamu akan belajar di sini sampai siang hari. Jika kamu ingin ke kamar mandi, kamu bisa meminta bantuan kepada ibu guru. Nanti, ojek akan menjemput dan mengantarkanmu pulang ke rumah. Kira-kira seperti itu ceritanya.


Saat hendak tidur, saya selalu berbisik di telinganya, Kakak anak baik, kakak hebat, kakak berani ke sekolah sendiri. Dan seterusnya. Semua itu dilakukan tidak hanya seklai dua kali, tapi sampai berminggu-minggu hingga hitungan bulan. Dan, voila! Semua berhasil sesuai yang saya harapkan, masyaallah.


Komunikasi dengan Guru

Melepas Anak di Hari Pertama Sekolah


Saya yakin, semua orang tua pasti akan berkomunikasi dengan guru dari anak-anaknya. Dan itulah yang saya lakukan ketika anak saya akan masuk sekolah. Dari awal saya telah menjelaskan bagaimana kondisi saya. Saya menitipkan si sulung kepada guru kelasnya sekaligus memperkenalkannya lebih awal sebelum dia masuk sekolah.


Jadi, saat dia sudah masuk sekolah, sudah ada orang yang dikenalnya dengan baik dan pastilah sudah amat dia percaya. Ini benar-benar membantu. Semua guru berusaha membantu anak-anak supaya bisa lepas dari orang tuanya saat sekolah terutama di hari-hari pertama. Jadi, sebaiknya orang tua jangan terlalu khawatir. Sudah, titipkan saja dan lepaskan anak-anak. Andai pun ditemani, sekolah biasanya hanya memberikan waktu tidak lebih dari seminggu.


Percayalah, walaupun anak menangis, dia akan belajar mengatasi ketakutannya. Guru-guru pun akan menemani dan menghibur. Karena karakter setiap anak berbeda, maka tidak semuanya bisa lepas dari pelukan kita dengan mudah terutama saat pertama sekolah.


Kalau orang tua tidak berani melepaskan anak-anak, maka anak-anak pun akan merasa berat untuk ditinggal pergi. So, bekerja samalah dengan baik.


Sekolah Adalah Tempat Belajar dan Bermain

Melepas Anak di Hari Pertama Sekolah


Sekolah bukan penjara. Jadi, jangan sampai anak merasa takut saat mau sekolah. Masih zaman nggak sih ada anak takut ditinggal sendirian saat sekolah di minggu-minggu pertama? Karena rasa-rasanya di zaman sekarang anak-anak tumbuh dengan rasa percaya diri yang lebih tinggi. Nggak sama dengan dulu.


Jangan suka mengancam, misalnya dengan berkata, jangan nangis, ya. Nanti Ibu nggak akan jemput kamu, lho. Jangan nakal, ya. Nanti Ibu akan tinggalkan kamu di sekolah.


Jangan jadikan sekolah sebagai ancaman apalagi tempat belajar rasa penjara. Sekolah adalah tempat bermain dan belajar. Mereka akan senang di sana. Dan itulah yang mesti ditanamkan. Berhati-hatilah dengan ucapan sendiri, meski sedang lelah dan kesal, jangan sampai mengancam anak-anak sehingga membuat mereka trauma. Nanti, kita sendiri yang menyesal karena kurang berhati-hati saat bicara.


BTW, tahun kemarin harusnya jadi tahun pertama untuk si bungsu masuk sekolah. Qadarallah bertepatan dengan pandemi sehingga dia batal saya sekolahkan. Baru tahun ini dia masuk sekolah dan langsung TK B. Kangen banget melihat anak-anak bisa belajar maksimal bersama guru dan teman-temannya tanpa harus capek-capek menatap layar.


Buat anak TK, sekolah online sangat melelahkan. Namun, masuk sekolah bukan tanpa risiko. Saya belum ada niatan memasukkan anak sekolah walaupun di sekolah sudah sesuai protokol kesehatan. Masih parno banget pokoknya.


Sekolah sekarang, benar-benar tergantung sama kita sebagai orang tua. Mendampingi belajar di rumah harus, ngajarin semuanya mulai dari membaca, menulis, dan mengaji. Pintar-pintar orang tuanya ngajarin supaya anaknya nggak bosan.


Semoga pandemi lekas usai dan anak-anak bisa segera kembali ke sekolah dengan aman. Paling terasa untuk anak usia TK karena waktunya sedikit dan kasihan sekali kalau mesti nge-zoom terus. Tetap semangat, ya. Semoga kita semua sehat.


Salam hangat,

Comments