Resep Biji Salak Ubi Kuning, Mudah dan Lembut

Monday, July 6, 2020

Siapa yang suka makan biji salak? Kalau di kampung halaman, ada hari tertentu membuat biji salak kemudian di antar ke tetangga dekat. Namanya bukan biji salak, tapi tajin grendul..hihi. Rata-rata nggak pakai ubi. Jadi, tekstur biji salaknya nggak selembut biji salak yang diberi campuran ubi.

Sejak tinggal dan menetap di Jakarta, jadi sering makan biji salak. Apalagi pas Ramadan, yang jualan banyak banget di mana-mana. Benar-benar beda dengan di kampung halaman yang mesti nunggu hari tertentu dan itu pun hanya setahun sekali.

Biji salak ini saya buat pas Ramadan kemarin sebenarnya. Ambil gambarnya pun nggak niat banget...hihi. Asal jepret aja kemarin. Tapi, soal rasa Alhamdulillah enak banget. Lembut nggak susah dikunyah. Anak-anak juga doyan.

Tapi, saya nggak pakai resep sendiri. Nyontek resep di Instagram dari akun @aguswatis. Bikinnya nggak susah-susah banget, cuma memang agak berasa lelah ya kalau ngebuletin biji salak sendiri...hehe. Satu resep pakai hampir sekilo tapioka dan ubi. Kemarin saya bikin setengah resep dan ternyata banyak banget hasilnya.


Bahan biji salak:


500 gram ubi kuning

400 gram tepung tapioka

½ sdt garam

Cara membuat:



  • Rebus air hingga mendidih sambil mengukus ubi.

  • Kukus ubi hingga matang lalu haluskan, tambahkan tepung tapioka ke dalamnya. Tambahkan juga garam. Uleni hingga bisa dibentuk.

  • Bulat-bulatkan adonan hingga habis.

  • Rebus adonan biji salak yang sudah dibentuk hingga matang dan mengapung. Sisihkan.


Bahan kuah gula:


350 gram gula aren (saya pakai campuran gula aren dan gula merah)

800 ml air

2 lembar daun pandan, simpulkan

400 ml santan

½ sdt garam

Secukupnya larutan tapioka

Cara membuat:



  • Rebus gula aren sampai mendidih. Saring.

  • Masukkan biji salak yang sudah direbus, rebus kembali.

  • Tuang larutan tapioka, aduk hingga mengental. Matikan api.


Bahan kuah santan:


Secukupnya santan kental

Sedikit garam

Cara membuat:



  • Rebus santan hingga mendidih. Tambahkan sedikit garam. Angkat.


Penyajian:



  • Sajikan biji salak dalam mangkuk, jangan lupa tambahkan siraman kuah santan ke dalamnya.


Voila! Biji salak buatanmu sudah bisa disantap selagi hangat. Kemarin, saya sempat menambahkan air juga ke dalam adonan biji salaknya supaya lebih mudah dibentuk. Kamu juga bisa olesi tangan dengan sedikit air supaya lebih mudah membulatkan adonan.

Lumayan banget bisa bikin sendiri di rumah, ya. Karena saat awal pandemi hingga sekarang, bisa dihitung berapa kali saya membeli makan di luar. Hampir nggak pernah. Selalu bikin sendiri meskipun agak capek, tapi lega aja menyantap makanan yang dimasak sendiri.

Memang, pandemi ngajarin kita banyak hal. Nggak selalu negatif memang, meskipun dampak negatifnya juga begitu nyata terlihat di mana-mana. Tapi, sisi positifnya termasuk membuat kita emak-emak jadi rajin di dapur. Bahkan, waktu terasa berlalu begitu cepat. Apalagi anak-anak dikit-dikit minta camilan. Masya Allah, bikin roti bisa setengah hari...kwkwk. Besoknya bikin apa lagi.

Namun, ada kepuasan tersendiri jika kita bisa menyajikan menu di meja makan dari hasil tangan kita. Apalagi kalau mereka suka dan doyan makannya. Lega dan happy. Bagi yang punya aktivitas lain seperti menulis dan ngeblog begini, harus pandai-pandai bagi waktu, keteteran banget ngerjain semuanya sendiri...hihi.

Malam udah tepar dan ngantuk. Nidurin anak-anak bisa ketiduran juga, padahal nggak pengen tidur, tugas lain masih banyak *curhat, Mah :D

Tapi, semua mesti disyukuri dan dinikmati. Pandemi seperti ini jadi momen buat mendekatkan kita sama keluarga. Alhamdulillah, Allah datangkan musibah menyertakan juga hikmah di balik semuanya. Tetap semangat, ya semua. Semoga hari-hari ke depan semakin baik dan mendatangkan hal-hal baik.

Salam hangat,

 

Comments

  1. Duh, jadi pengen coba Mbak. Soalnya luama nggak pernah makan tajin grendul.

    ReplyDelete