Pengalaman Kuliah Online di IOU

Sunday, January 11, 2026

 

Pengalaman Kuliah Online di IOU
Photo by Bunly Hort on Unsplash


Assalamualaikum, teman-teman... Yeay! Postingan pertama di 2026, masya Allah. Seneng banget akhirnya bisa ngisi blog lagi setelah sekian bulan dicuekin...kwkwk. BTW, kali ini saya akan membahas tentang IOU atau International Open University. Sebuah kampus sunnah yang bisa diakses via online dan berpusat di Gambia, Afrika. Jadi, IOU ini sama seperti UT atau Universitas Terbuka. Bedanya, IOU itu bisa disebut UT internasional dan islami.

Sebenarnya, sudah lama penasaran dengan IOU. Waktu itu, ada salah satu editor saya resign karena mau melanjutkan kuliah di IOU sekaligus jadi editor di sana (setahu saya). Dari sanalah saya tahu IOU dan mulai tumbuh keinginan untuk melanjutkan pendidikan meski rasanya ini terlambat banget, ya? Memangnya kemarin ke mana saja? Adalah pokoknya...kwkwk.

Kalian denger nggak sih ada pasangan yang memutuskan menikah di usia 19 tahun dan menyebut kuliah itu scam? Jujur ya, sebagai perempuan yang menikah tepat di usia 19 tahun, saya merasa malu banget karena menikah di usia semuda itu...huhu. Jadi ngerasa keseret-seret gitu...haha.

Setelah lulus SMA, saya masih melanjutkan sekolah hingga DI, tapi ketika saya minta izin untuk kuliah S1, orang tua tidak mengizinkan. Sama sekali nggak ngizinin. Nggak bilang nggak ada duit. Nggak bilang apa-apa. Pokoknya nggak boleh. 

Meski Bapak dulu pernah menjadi seorang guru, ternyata beliau tidak mau memperjuangkan pendidikan anak-anaknya. Mereka merasa anak perempuan nggak perlu sekolah tinggi-tinggi. Malah khawatir kalau keluar rumah jadi nakal. Benar-benar di luar logika...huhu.

Kayak patah hati banget ketika melihat teman-teman lain diperjuangkan sama orang tuanya untuk melanjutkan pendidikan, sedangkan saya harus menerima keputusan tersebut dengan lapang dada. Sempat berpikir bahwa orang tua kami memang tidak berkecukupan, tapi setelah dewasa, kami baru tahu dan sadar bahwa sawah orang tua kami lebih dari cukup kalau cuma biayain kuliah sampai lulus, tapi takdirnya memang nggak sejalan dan gapapa banget, kok.

Mereka berpikir begini, setelah sekolah, langsung nikah saja. Jangan ditunda karena nanti jadi susah dapat jodoh. Gimana kalau jadi perawan tua? Miris banget dengan pemikiran keluarga besar kami yang sungguh aneh. Padahal saya anak millenial. Zaman itu sudah banyak banget yang kuliah. Karena alasan itulah, saya batal kuliah dan akhirnya menikah.

Alhamdulillah, saya menikah dengan pria baik-baik dan support banget sama pendidikan anak-anaknya. Setelah punya anak, apakah saya tetap pengin kuliah? Masih pengin, tapi selalu takut dan merasa tidak cukup baik untuk melanjutkan pendidikan. Kayaknya sudah kelamaan nggak sekolah. Nggak yakin bisa mulai sekolah lagi.

Namun, di sisi lain keinginan itu selalu muncul. Sampai akhirnya saya mendaftar diam-diam karena takut nggak diizinin sama si bungsu...kwkwk. Ternyata, semua mau support dan merestui...huhu. Latar belakang lain untuk lanjut kuliah sebenarnya karena mau cari kesibukan yang positif.

Tahun 2024 sempat dikasih ujian sama Allah yang bikin saya nangis melulu hampir setiap hari. Sampai susah tidur. Sampai minum antimo nyaris setiap hari supaya ngantuk...kwkwk. Nggak merasa depresi, tapi kayaknya saya mulai stres...haha.

Saya memberanikan diri untuk konsul dengan psikolog. Katanya, saya terlalu banyak pikiran. Saya memikirkan hal yang sama terus menerus. Mungkin karena ini berhubungan dengan orang terdekat. Saya patah hati. Saya kecewa. Saya sakit. Saya marah, tapi tidak pernah berani bilang marah.

Kata psikolog, saya tidak pernah jujur dengan perasaan saya. Dari situlah saya buru-buru mendaftar kuliah supaya bisa mengalihkan pikiran. Dan beneran, bener-bener sibuk....kwkwk. 

Pengalaman Kuliah Online di IOU

Saya ambil Psikologi Islam di IOU dan bulan ini sudah mau UAS dan segera masuk semester 2. Enaknya, perkuliahan bisa diikuti via zoom atau ketika berhalangan, kita bisa menyimak rekaman. Materi bisa diakses seluruhnya via website IOU. Begitu juga dengan ujiannya.

Materinya lengkap. Ada perkuliahan dari dosen-dosen pusat yang menggunakan Bahasa Inggris dan sudah disiapkan terjemahan bagi kampus bahasa. Ada transkrip, PPT, kuis yang mesti dikerjakan oleh mahasiswa, ada buku-buku penunjangnya juga.

Dosen-dosen dari Indonesia seperti asisten dosen yang bisa berinteraksi langsung dengan mahasiwa via zoom atau diskusi via website. Materi yang diberikan temanya sama, tapi dosen kami membuat versi mereka masing-masing yang menjelaskan modul-modul selama perkualiahan.

Meski online, kuliahnya nggak main-main. Materinya bagus banget. Dosennya pun baik-baik banget. 

Setiap satu semester ada satu tugas esai untuk tiap matkul. Insya Allah nggak terlalu sulit. Asalkan mau baca modul, ikut live session, disiplin belajar, dan kerjakan kuis, semua materi bisa dipahami dengan baik. 

Kalau masih kesulitan, kita bisa bertanya via website kepada dosen bersangkutan. Semua informasi bisa diakses lengkap di website, begitu juga ketika teman-teman kesulitan, kita bertanya kepada admin via Whatsapp atau grup.

Ujian di IOU

Waktu UTS kemarin, ujian di IOU mesti offline di exam center terdekat. Ada fasilitas ujian online, tapi hanya diberikan kepada yang membutuhkan, seperti ibu hamil, punya anak kecil, menjaga dan merawat orang tua yang sakit, dll. Khusus buat mahasiswa yang punya uzur syari saja, tapi saat UAS tahun ini, kuota ujian online diperbanyak hingga 700an yang akhirnya ngasih peluang ke mahasiwa lain yang merasa lebih baik ujian di rumah saja untuk mendaftar.

Saat ujian, kita mesti membayar infak di exam center. Nominalnya ada yang ditentukan, ada yang free, ada yang terserah antum saja...hehe. Sedangkan ketika ujian online, kita harus membayar sebesar 75 ribu untuk keseluruhan matkul.

Ketika mau ujian, password akan diberikan oleh pengawas yang artinya kita punya keterbatasan waktu untuk akses soal-soal tersebut. Jangan berpikiran bahwa soalnya bisa dibawa pulang setelah dibuka karena ada batas waktunya di website. Ketika waktunya habis, soal-soal akan ditutup secara otomatis.

Kemarin, sempat ada yang kehabisan waktu di exam center dan berniat mengerjakan saat sampai di rumah, tapi begitu pulang, soalnya sudah nggak bisa dibuka lagi. Mungkin, ini bisa jadi poin penting yang kita perhatikan ketika mau ikut ujian, ya.

BTW, sejak tahun angkatan saya, soal ujian sudah dibuat oleh dosen-dosen Indonesia sehingga bahasanya lebih mudah dipahami dan materinya jadi lebih dekat dengan materi saat zoom. Jadi, jangan khawatir soal-soalnya sulit, asal mau baca dan pelajari modul, serta materi dari dosen, insya Allah soalnya cukup mudah diselesaikan.

Biaya Pendaftaran Kuliah di IOU

Informasi seputar kuliah sebenarnya bisa diakses lengkap di sosial media IOU Indonesia. Saya spill biaya kira-kira untuk S1 kampus bahasa sekitar 2,4 juta per semester (tanpa uang pendaftaran), sedangkan S2-nya kalau nggak salah sekitar 6 jutaan per semester.

Melihat betapa bagusnya materi yang diberikan selama kuliah satu semester ini, rasanya worth it banget kuliah di IOU dengan biaya yang saya sebutkan. Apalagi buat yang pengin menikmati belajar dari rumah, ini mah saya banget...kwkwk.

Jangan merasa terlalu tua untuk belajar karena banyak yang usianya di atas 50 tahun tetap memilih kuliah di IOU. Katanya, mereka pengin belajar lagi padalah sudah pernah kuliah psikologi, ada yang sudah jadi dokter, hingga dosen juga. Pendidikan memang sepenting itu sehingga menjadi aneh rasanya kalau ada orang yang tidak mau mementingkan pendidikan. Jelas, cara berpikirnya sudah keliru.

Buat teman-teman yang pengin daftar kuliah di IOU, bisa cek instagram IOU Indonesia atau via di sini. Semoga informasi ini bermanfaat dan menguatkan keyakinan teman-teman untuk melanjutkan pendidikan yang sempat tertunda sebelumnya.

Butuh waktu belasan tahun bagi saya untuk bisa kuliah seperti sekarang. Hampir setiap hari nangis karena terharu ketika buka modul yang akhirnya membuat saya tidak belajar di awal-awal masuk kuliah karena nangis melulu...kwkwkwk. Saking merasa mustahil banget buat lanjut pendidikan, tapi kemudian Allah mudahkan :)


Salam hangat,

Comments