Mengajari Anak Toilet Training Sejak Dini

Wednesday, October 28, 2020

Melatih anak toilet training



Toilet training
pada anak usia balita memang tak selalu mulus sesuai harapan. Ada saatnya anak mau dan mudah diajak kerja sama. Ada saatnya mereka justru memancing emosi orang tua. Apakah sesulit itu menerapkan toilet training?

Saya sedikit cerita tentang pengalaman anak-anak saya yang dulu pernah belajar toilet training di usia yang berbeda. Si sulung disunat saat usianya masih 1 tahun. Gara-gara sunat itulah, dia belajar BAK sambil berdiri dan enggan kencing di popoknya lagi. Meskipun dia belum bisa bicara, tapi saya rutinkan mengantarnya ke kamar mandi untuk buang air kecil.

Lucunya, ketika saya ajak pergi dan tidak mengantarnya ke toilet tepat waktu, dia menahannya sampai saya antarkan ke kamar mandi. Dari sini sudah kelihatan kalau dia mulai paham mesti BAK di toilet, bukan di popok.

Salah satu kunci kesuksesan toilet training terletak pada konsistensi kita juga. Sejauh mana kita bisa disiplin ngajak anak buang air kecil ke toilet? Sejauh mana kita telaten ngajakin mereka dan nggak bosan-bosan mengedukasi lewat pesan-pesan penuh harap *tsah

Sayangnya, setelah luka sunatnya sembuh, saya sempat nggak konsisten lagi. Akhirnya ambyar sudah latihan selama sekian minggu. Dan, dia pun jadi terbiasa lagi BAK di popoknya. Sedih banget, tapi salah siapa?

Dimulai Saat Sudah Siap


Memang, ada usia tertentu yang bisa dijadikan patokan kapan anak siap toilet training. Tapi, setiap anak akan berbeda-beda saat menjalani prosesnya. Ada yang masih belum genap 2 tahun sudah pinter banget komunikasi sama ornag tuanya ketika dia kebelet ke kamar mandi. Ada juga yang belum siap di usia yang sama.

Tapi, buat saya, nggak ada salahnya membiasakan ngajakin anak-anak BAK atau BAB ke kamar mandi sambil terus diulang-ulang ‘kalau kencing atau PUP harus di kamar mandi, ya?’ tanpa pernah bosan. Walaupun hasilnya nggak akan kelihatan instan, setidaknya dia akan mendengar itu dan mengingatnya pelan-pelan.

Dan, nggak perlu dipaksakan karena nanti anak malah jadi stres. Saat si bungsu sudah 3 tahun, dia belum juga lulus toilet training. Ketahuan dong emaknya santuy banget mentang-mentang bungsu…kwkwk. Nggak terlalu heboh seperti saat anak pertama. Saking santainya sampai lupa waktu.

Di usia yang sama, selain belum lulus toilet training, dia juga belum disapih…hiks. Diomelin sama suami karena terlalu santai. Eh, tapi saya memang nggak mau memaksakan diri waktu itu terutama saat menyapih karena pengen adek bisa lepas popok atau berhenti ASI tanpa dipaksa atau minimal nggak terlalu beban ke dia.

Dan saya memutuskan memulainya satu per satu. Iya, jadi saya putuskan disapih dulu, barulah saya ajarkan toilet training. Nggak usah buru-buru semua harus berhasil dalam beberapa hari. No, sabar, Bu. Kita lakukan pelan-pelan supaya dia nyaman dan nggak stres. Kasihan banget kalau sampai anaknya stres, takutnya malah nggak berhasil dua-duanya.

Tetap Pakai Popok atau Lepas Popok Saat Toilet Training?


Saat si sulung belajar toilet training, saya nggak setengah-setengah memulainya. Saya biarkan dia nggak pakai popok! Jadi, banjir dan PUP di mana-mana udah biasa. Dan saya nggak capek bersihin dan menyucikan lantainya karena semangatnya 45 pake banget…kwkwk.

Tapi, jangan harap itu terjadi pada si bungsu. Energi saya kayaknya udah nggak cukup buat melakukan hal yang sama. Bisa keluar tanduk kalau banyak hal terjadi di luar harapan…hihi. Jadi, dia tetap pakai popok sekali pakai, tapi rajin diajak ke kamar mandi untuk buang air kecil. Dan, hasilnya sama aja. Alhamdulillah, berhasil dan lebih santai karena minim kebobolan di lantai gitu.

Lebih enak yang mana? Kalau sudah siap dan merasa bisa menjaga 'kewarasan' ketika anak kencing sembarangan di mana-mana, silakan lepas popoknya karena memang itu membantu si kecil mengetahui kenyataan yang sesungguhnya di balik BAB dan BAK…kwkwk. Yang biasanya kencing menyerap di popok, ini malah jadi banjir. Eh, baru tahu dong kalau basah dan menjijikkan gitu.

Kira-kira itulah ilustrasinya yang saya bayangkan ada dalam benak balita :D

Masalahnya, nggak semua anak mau diajak kerja sama. Contohnya keponakan saya. Dia bisa histeris ketika diajak ke kamar mandi sekadar buat BAK doang. Nggak disiksa, lho. Ketika dilepas popoknya, dia kencing di mana-mana. Menguras emosi dan air mata banget yang begini, ya?

Nah, solusinya bisa tetap pakai popok sambil disiplin diajak ke kamar mandi jika memungkinkan atau pakai aja training pants supaya ketika kencing minimal nggak banjir ke lantai.

Solusi Supaya Anak Nyaman ke Kamar Mandi Saat Toilet Training


Jadi, waktu si sulung berlatih toilet training, rumah kami masih pakai toilet jongkok. Ini agak menyulitkan si kecil karena mustahil dia bisa duduk di WC ukuran orang dewasa tanpa bantuan kita dan agak merepotkan kalau mesti kita gendong.

Berbeda kalau pakai WC duduk seperti sekarang, saya tinggal beli aja potty seat. Beres. Karena kondisi rumah lama kami berbeda, suami nyari ide supaya si sulung bisa nyaman ketika BAK atau BAB di kamar mandi, tentunya tanpa terlalu banyak kita bantu. Biar dia nyaman dan kita pun nggak terlalu repot.

Suami saya membuat WC kecil dari potty training portable dan kursi plastik yang pendek. Potty training portable yang tidak berlubang dilubangi dulu kemudian disambung sama kursinya supaya bisa berdiri di WC jongkok dengan aman. Karena dulu belum ada yang bisa diletakkan di WC, ya. Sekarang sepertinya sudah ada di marketplace.

Dengan cara seperti ini, anak saya jadi nyaman ke kamar mandi. Saat dia mau BAB, kita nggak perlu megangin karena dia bisa duduk dengan nyaman. Pintu biasanya ditutup juga karena dia nggak mau dilihat.

Dengan cara seperti ini, latihan toilet training jadi lebih gampang :)

Edukasi Lewat Cerita


Jadi, dulu saya sering ngajarin anak-anak pakai cerita. Saya gambar apa yang mesti mereka lakukan saat kebelet ke kamar kecil. Dengan cara seperti ini, mereka senang dengerin dan saya harap mereka jadi lebih paham dan kebayang aja ketika harus ke toilet.

Dan cara kayak gini saya ulang-ulang terus, lho. Saat mau tidur juga saya sampaikan hal yang sama. BAB dan BAK di kamar kecil, berhenti kencing di celana. Dan hasilnya tetap nggak instan-lah…kwkwk.

Berhenti Ngompol di Malam Hari


Kalau masih ngompol saat tidur itu wajar. Kalau sudah sampai di tahap ini, setidaknya kita sudah jauh lebih lega. PR-nya jadi lebih sedikit dan insya Allah sedikit lagi selesai. Yeay! Happy banget, kan?

Caranya supaya anak-anak berhenti ngompol di malam hari gimana? Ajakin BAK sebelum tidur sekalian sikat gigi. Nah, kalau setelah ritual bersih-bersih kayak gini mereka belum juga tidur, saya akan ajak mereka ke kamar kecil lagi supaya BAK lagi.

Saat si sulung dulu masih belajar lepas popok, dia malah mau dibangunin tengah malam gitu. Saya lupa tepatnya, apakah saya pakai alarm atau memang bangun sediri. Yang jelas, dia manut ke kamar kecil. Nah, pas si bungsu diajarin kayak gini, nggak bisa ternyata. Dia nolak, sampai kamar kecil dia nangis sebel…kwkwk. Akhirnya saya biarkan dan nggak memaksa.

Malam hari tetap saya pakaikan popok, tapi selalu BAK sebelum tidur. Lama-lama popoknya selalu kering dan akhirnya dia lulus! Masya Allah. Happy banget.

Paling penting dari semua tahapan itu adalah kita mesti tahu bahwa setiap anak itu unik dan pintar. Setiap anak berbeda mengenai kesiapannya saat dilatih toilet training. Jadi, nggak perlu emosi, tapi bersabarlah sampai mereka memahami apa yang kita inginkan. Kalau dibawa stres, saya yakin anaknya lebih stres lagi. So, seng sabar ya, Bu :)

Salam hangat,

 Featured image: Photo by Klikdokter

Comments

  1. Waah saya jg lg mau toilet training anak sulung niiih, masih belum konsisten karena kadang capek sambil ngurus adeknya juga. Semoga secepatnya bisa meluluskan si sulung toilet rtraining kayak mbak juga

    ReplyDelete
  2. Aamiin. Semangat, Mbak...semoga lekas lulus yaaa :)

    ReplyDelete
  3. jaman sekarang lebih susah karena anak sejak kecil sdh dibiasakan pakai pampers. Jaman aku belum ada pampers, jd lbh mudah

    ReplyDelete