Tips Berhemat di Masa Pandemi

Thursday, October 29, 2020

Berhemat di Masa Pandemi



Berhemat di masa pandemi itu sepertinya menjadi keharusan. Terutama setelah banyak orang kena dampak adanya pandemi hingga berbulan-bulan. Misalnya, kehilangan pekerjaan. Mau nggak mau, kita harus belajar berhemat supaya tetap survive hingga pandemi usai.

Siapa yang nggak kena dampak pandemi? Hampir semua orang terkena dampak pandemi. Rasanya masih nggak kebayang kalau pandemi bakalan menimpa kita hingga hampir setahun lamanya. Kaget sudah pasti. Nggak siap dengan keadaan yang tiba-tiba berubah jungkir balik naik turun. Tapi, mau sampai kapan kita kayak gini? Kita nggak mungkin terus menerus menyesali keadaan tanpa memikirkan solusinya.

Yuk, tetap semangat melihat masa depan. Saya yakin, ada banyak hikmah di balik ujian ini. Ketika kita pun terdampak dan hampir nggak tahu mau ngapain, di luar sana mungkin malah ada yang lebih susah daripada kita. Ada orang yang buat makan aja susah. Ya, Rabb. Kita harus bisa melewati ujian ini.

Belajar Melihat ke Bawah


Soal harta kekayaan, kita nggak boleh terus menerus melihat ke atas. Khawatir kesandung langkahnya saking fokusnya melihat orang yang posisinya ada di atas kita. Akhirnya malah bikin kita kurang syukur dan kufur nikmat.

Sesekali mungkin bisa membuat kita termotivasi, tapi dalam kondisi seperti sekarang, sepertinya kita perlu banyak-banyak belajar melihat ke bawah. Iya, biar tahu dan mengerti bahwa bukan hanya kita saja yang diuji, melainkan juga orang lain. Bukan hanya kita saja yang kehilangan pekerjaan, yang lain justru malah kekurangan sekadar untuk makan. Ternyata, semua hamba itu pasti diuji. Ternyata, di bawah kita ada yang lebih kekurangan, tapi, kok hidupnya adem ayem aja, ya? Ternyata dan ternyata. Akhirnya membuat kita sadar bahwa kita itu masih lebih beruntung.

Hemat Bukan Pelit


Perlu diingat, hemat itu bukan pelit. Jangan ragu membantu orang lain yang lebih membutuhkan jika kita masih dikasih kecukupan. Iya, karena hemat itu bukan pelit. Justru banyak orang berlomba-lomba bersedekah di saat kondisi sulit seperti sekarang. Bukan karena mereka punya dan berlebih, tapi karena ingin berbagi di saat sulit.

Jika ada niat pengen dimudahkan urusannya, setidaknya harapan itu disandarkan pada Allah dan apa yang dilakukan adalah kebaikan. Kenapa nggak?

Tips Berhemat di Masa Pandemi


Di masa pandemi seperti sekarang, sebenarnya kita bisa lebih banyak berhemat karena aktivitas memang berubah total. Nggak ada sekolah offline sehingga kita nggak perlu bayar tukang ojek, nggak perlu repot bikin bekal atau pesan catering sekolah juga, lebih berasa karena kitanya juga terus menerus di rumah dan jarang keluar. Sehingga kita pun jarang jajan di luar dan ya benar-benar makan secukupnya dan yang ada aja.

Nah, kira-kira teman-teman punya tips apa selama pandemi supaya bisa tetap berhemat dan insya Allah kita bisa survive sampai pandemi berakhir? Kalau ini versi saya, ya. Silakan disimak siapa tahu bisa terinspirasi :D

  • Tentukan budget per bulan


Meskipun saat ini kita punya uang yang sangat cukup bahkan lumayan, tapi kita nggak boleh seenaknya membelanjakan dan menghabiskan uang tersebut untuk hal-hal yang kurang perlu. Setidaknya, kita harus bersiap-siap minimal untuk setahun ke depan. Iya, sampai akhir 2021 semoga pandemi sudah benar-benar berakhir dan kita bisa hidup normal kembali.

Nah, untuk menyiasati itu, kita perlu menentukan budget bulanan. Kita boleh belanja apa pun yang diperlukan, tapi jangan lebih dari budget yang ditentukan tersebut. Saya berasa banget sih bisa berhemat berkali lipat karena memang aktivitas kita sekarang berbeda dengan dulu saat normal.

Dan, tentu saja saya merasa sangat terbantu dengan cara ini. Akhirnya, kalau belanja benar-benar dipikirkan mana yang perlu atau sekadar buat senang-senang doang? Mana yang mesti didahulukan dan mana yang masih bisa ditunda.

Saya nggak terlalu susah mengubah budget bulanan karena ya memang sehari-hari sejak dulu sampai sekarang terbiasa hidup apa adanya. Bukan belum ada diada-adain *eh :D

  • Beli saat butuh


Kalau memang merasa perlu membeli ya silakan dibeli. Intinya, kita harus tahu mana yang jadi prioritas dan mana yang bukan. Kalau nggak penting-penting amat, ya usahakan nggak usah dibeli. Tapi, kalau memang diperlukan apalagi mendesak, ya kenapa nggak?

Supaya bisa memudahkan, kita mesti bikin list daftar kebutuhan pokok setiap bulannya dan apa aja yang mesti dibayar bulan itu juga. Misalnya, beras, gas, susu, belanjar sayur dan teman-temannya, bayar SPP, bayar listrik, dll. Nah, list itu harus diutamakan karena sudah jelas dibutuhkan. Sisanya, boleh dipertimbangkan dulu.

Kadang, kita kebiasaan beli barang bukan karena butuh, melainkan karena kita senang atau pengen. Padahal, kadang barang yang kita beli nggak selalu dipakai. Mulai sekarang kita mesti mengubah hal kayak gini kalau mau berhemat.

  • Belanja beberapa hari sekali


Untuk belanja kebutuhan pokok di supermarket, saya hanya melakukannya sekali dalam sebulan. Ini nggak berubah seperti sebelum pandemi. Biasanya memang belanja sekaligus banyak. Beli minyak, sabun, dan teman-temannya sudah ditentukan buat kebutuhan sebulan.

Saat pandemi, tentu saja kebiasaan ini nggak berubah juga. Hanya saja mulai memilih yang penting. Nggak perlu main dulu, belanja buku-buku bacaan dan kawan-kawannya yang kurang dibutuhkan. Anak-anak juga nggak pernah ikut karena ngeri, jadi benar-benar bisa dikendalikan…kwkwk.

Sedangkan untuk kebutuhan lain seperti belanja sayur dan teman-temannya, saya hanya pergi seminggu sekali. Iya, hanya seminggu sekali. Masya Allah, kembali ke zaman saya dan Mas masih baru nikah dan punya rumah baru…kwkwk. Kadang, kalau ada yang butuh banget tetap belanja tapi ini jaraang banget. Emang bisa begitu? Bisa banget, insya Allah.

Saya bisa membeli tomat 4-5kg sekali belanja karena rutin bikin jus. Kebutuhan lainnya juga sama disesuaikan. Misalnya telur beli berapa kilo. Mau makan apa selama seminggu ke depan? Harus direncankan baik-baik biar nggak mati gaya pas belanja.

Dengan cara begini, saya bisa berhemat beberapa kali lipat ketimbang sebelumnya.

  • Bikin menu dalam seminggu


Sempat saya singgung di awal, ya kalau kita sebaiknya bikin menu mingguan. Dalam seminggu mau masak apa aja? Misalnya seminggu makan telur ceplok mulu…kwkwk. Tinggal hitung berapakah jumlah telur yang dihabiskan oleh Doni? *soal ujian anak SD :D

Soalnya kalau nggak begini, kita bisa berlebihan saat belanja. Malah semua diborong karena merasa bahwa seminggu itu lama. Padahal, yang dibeli nggak semuanya dihabiskan. Ada yang akhirnya busuk nggak kemakan. Kan, sedih kalau begini.

  • Buka usaha dengan modal kecil


Karena banyak yang kena PHK, akhirnya banyak pula yang pengen buka usaha sendiri. Saran dari ahlinya, usahakan jangan memulai usaha dengan modal besar atau sekaligus. Meskipun setelah dipertimbangkan kayaknya untungnya lumayan banget. Tapi, no, no. Sebaiknya mulai usaha dari modal kecil. Jangan buru-buru sewa ruko, beli peralatan ini dan itu. Karena risikonya lebih besar.

Paling disarankan sih buka usaha kuliner. Dan ternyata memang banyak yang udah mulai. Tetangga saya juga ada yang buka kedai minuman di depan rumahnya. Karena posisi rumahnya pas menghadap jalan raya, kayaknya peluangnya lumayan juga.

Atau, bisa mulai dari jualan online. Mulai dari mulut ke mulut, dari status WA, dsb. Insya Allah bisa berjalan asal tetap konsisten, ya.

  • Jangan belanja dengan cara berutang


Pernah denger seorang karyawan yang kesulitan membayar cicilan mobil dan benda lainnya karena pandemi? Sebenarnya gajinya besar. Tapi, karena punya cicilan banyak, akhirnya dia kesulitan dong buat memenuhi kebutuhan sehari-harinya akibat harus membayar cicilan dulu. Karena pandemi, gajinya juga berkurang. Eh, tapi kalau hanya untuk sehari-hari lebih dari cukup. Masalahnya dia punya banyak cicilan aja.

Hidup itu katanya apa adanya aja. Jangan nggak ada diada-adain. Sudah berapa orang pengen berutang cuma demi membayar cicilan mobilnya? Ampun, deh. Kadang nggak paham kenapa bisa memaksakan diri sampai begini?

Kalau berutang karena mau bayar sekolah anaknya atau membiayai perawatan keluarganya di rumah sakit kayaknya masih wajar. Ini malah buat bayar cicilan mobil? Pengen ketawa, tapi takut dosa *Eh :D

  • Pilih harga diskon atau barang bekas pakai


Nggak selamanya barang diskon itu nggak berkualitas. Ya, ada beberapa yang memang jadi turun harga dan mungkin bisa dipertimbangkan untuk dibeli jika memang butuh. Atau, kita bisa pertimbangkan membeli barang bekas pakai dengan harga lebih murah, tapi kondisinya masih oke.

Kedua hal ini bisa dipertimbangkan dan mungkin juga bisa kita lakukan bahkan meski pandemi sudah berakhir. Dengan catatan ya memang kita butuh sama benda tersebut. Bukan sekadar karena lagi murah, nih. Kapan lagi?

Saya yakin, kita udah dewasa dalam menentukan sikap *tsah. Nggak sama dong dengan anak kecil yang apa-apa mau dibeli dan diborong. Lihat mainan mau dibeli, lihat es krim mau dibeli juga. Meksipun anak saya nggak seheboh itu. Tapi, hal-hal kayak gini sepertinya lebih identik sama kelakuan anak-anak, kan? Anak-anak mana tahu ada uang atau nggak, pokoknya mereka harus punya dan dapat.

Dan, kita bukan anak-anak yang sepolos itu. Insya Allah kita sangat paham bagaimana cara membelanjakan uang sehingga bisa tetap berhemat di masa pandemi. Yuk, biasakan hidup apa adanya. Bukan orang kaya namanya kalau masih malu pakai sepeda ontel dan bukan orang kaya namanya kalau naik mobil masih sombong. Eaa…pinjem kalimatnya mas Jaya Setiabudi :D

Salam hangat,

 

Comments

  1. Lagi masa pandemi gini ekonomi emang susah banget ya mbak, akupun merasakan betapa harus pinter2 kelola uang skrg, belanja sayur seminggu sekali, kurangi makan di luar, stop gaya hidup hedon pokoknya.

    ReplyDelete
  2. Iya, Mbak. Sangat setuju. Semoga keadaan terus membaik yaa..

    ReplyDelete