Covid-19: Allah Mau Kita Lebih Peka Lagi

Monday, April 20, 2020

Covid-19



Sebelumnya, nggak pernah kebayang negara kita bakalan kena pandemi seperti ini. Waktu orang udah panik membeli masker, saya bahkan baru sadar kalau masker sudah langka di pasaran. Saat saya baru sadar butuh hand sanitizer, ternyata harganya udah nggak karuan. Saya pikir, kondisi nggak sehoror itu, lho. Ke mana saja saya ini saat semua orang sudah mempersiapkan diri?

Saat pertama tahu covid-19 sudah menginfeksi di Indonesia, jujur saja saya termasuk yang nggak terlalu panik. Waspada iya, tapi sampai borong masker, dll nggak kepikiran saat itu. Bukan karena nggak mau berhati-hati, tapi kayaknya kondisinya memang tidak seburuk saat ini.

Pemakaian masker dulu belum diwajibkan kecuali bagi orang sakit. Sedangkan sekarang, semua warga Indonesia sudah diharuskan menggunakan masker kain. Penggunaan masker ini diharapkan bisa meminimalisir jumlah pasien yang kena covid-19. Karena kita nggak pernah tahu siapa saja yang sudah positif dan bisa menulari yang lain. Sebab tidak semua orang yang kena covid-19 menunjukkan gejala yang sama. Bagi yang imunitasnya tinggi, sudah pasti lebih kuat ketika terkena covid-19.

Covid-19 Membuat Kita Belajar Lebih Peka


Lebih peka dalam hal apa, nih? Sadar nggak, sih sejak pandemi, banyak sekali pelajaran berharga kita petik. Iya, ini memang cobaan, ujian juga buat semua orang, sekaligus teguran. Tapi, setiap kepahitan yang datang silih berganti dalam hidup kita nggak mungkin datang gitu aja tanpa ada sebab, tanpa ada hikmahnya juga. Pasti Allah kasih pelajaran berharga di dalamnya. Tentunya asal kita ber-positif thinking.

Emang bisa ber-husnudzan di saat nggak mengenakkan seperti sekarang? Mana sempat mikir baik-baik, isi kepala penuh dengan kehororan...kwkwk. Insya Allah kita bisa. Insya Allah kita mampu melewati semua ujian ini dengan sabar dan kuat. Allah yang kuatkan kita, Allah yang mampukan kita untuk sabar.

Demi menjaga kewarasan, saya memang jarang nonton berita. Aslinya saya panikan. Kemarin-kemarin sering lihat video pemakaman dan cerita sedih soal keluarga yang ditinggalkan karena positif covid-19, nangis dong :(

Akhirnya kebawa perasaan dan mikir jadi ke mana-mana. Suami bersin aja parno. Saya tahu, nggak boleh kita meremehkan virus satu ini. Tapi, terlalu panik juga nggak bisa meningkatkan imunitas. Justru daya tahan tubuh jadi lemah.

Dengan tidak mengurangi kewaspadaan serta kehati-hatian, akhirnya saya memutuskan untuk menyaring informasi dari media mana pun. Nggak semua perlu dilihat dan dibaca. Nggak semua perlu diperhatikan apalagi ditonton sampai selesai. Cukup kita tahu harus bagaimana menjaga keselamatan diri, keluarga, dan orang lain. Bisa skip yang bikin panik apalagi berita hoax yang sering kita temukan di grup-grup Whatsapp.

  • Lebih peka terhadap kebersihan


Dulu, kita jarang cuci tangan setelah beraktivitas di luar. Nggak seperti sekarang, pulang dari tukang sayur yang deket aja langsung cuci tangan, mandi, dan ganti pakaian. Anak-anak pun jadi lebih perhatian sama kebersihan terutama saat mau makan. Nggak perlu susah ngingetin, karena beberapa kali diedukasi lewat cerita mereka akhirnya paham.

Begitu juga dengan kita yang dewasa. Biasanya orang dewasa lebih ndableg ya kalau diingetin suka ngeyel...kwkwk. Tapi, sejak pandemi, suami jadi super rajin mandi, ganti baju, cuci tangan pun nggak ketinggalan. Sampai semua barang dicuci...kwkwk. Masya Allah. Semoga kebiasaan baik seperti ini nggak hilang setelah pandemi pergi.

  • Lebih peka dengan orang lain


Jangan mentang-mentang kita fit dan masih muda, akhirnya jalan aja ke mana-mana. Nggak peduli apakah nantinya kita bisa menularkan ke orang lain terutama orang tua di rumah atau tidak. Asalkan kamu bahagia aja :(

Saat pandemi, kita nggak boleh kayak gini, lho. Kita harus peka dengan kondisi orang lain. Karena nggak semua orang yang kena covid-19 bisa kuat dan sembuh dengan mudah. Ada orang-orang tertentu yang lebih rentan dan berisiko tinggi, seperti orang tua kita di rumah.

Demi menjaga keluarga, terutama orang tua di kampung halaman, saya dan suami memutuskan nggak akan mudik tahun ini. Karena kondisinya juga nggak terlihat membaik. Padahal kami sudah beli tiket pulang pergi sebelum pandemi. Semoga masih bisa dibatalin tiketnya :(

Semua demi siapa? Kalau nurutin keinginan sendiri, pengennya mudik dan jalan-jalan aja. Tapi, sadar bahwa saya bisa jadi silent carrier, akhirnya saya memilih menunda mudik tahun ini daripada harus membahayakan orang-orang yang saya cintai. Atau, jangan sampai saya dzalim sama diri sendiri dengan membahayakan kesehatan saya nanti.

  • Tengok kiri kanan kita


Nggak bisa kita hanya memikirkan perut sendiri di saat pandemi. Lihat kanan kiri kita, apakah ada orang yang akhirnya tidak bisa bekerja dan tidak punya penghasilan setelah pandemi? Di sini kita dituntut lebih peka terhadap yang lain. Di saat kita sendiri juga sedang berhemat dan butuh, di saat yang sama kita pun harus memikirkan apakah ada kenalan kita yang kelaparan atau kesulitan.

Donasi untuk orang-orang yang terdampak covid-19 atau untuk membantu tenaga medis bisa juga kita salurkan lewat lembaga terpercaya. Misalnya yang paling mudah saat ini adalah lewat kitabisa.com. Puluhan ribu hingga jutaan pun bisa kita salurkan.

Menariknya, jika dilakukan bersama-sama, ternyata terkumpul juga dananya. Walaupun hanya dari 10 ribu rupiah, tapi jika diberikan oleh banyak orang, 10 ribu akan bernilai juga dan bisa membantu sesama yang membutuhkan.

  • Pekalah dengan teguran Allah


Eh, jangan merasa kita nggak punya dosa, ya. Karena semua dari kita pasti pernah melakukan kesalahan. Pandemi ini bukan hanya ujian, tapi juga teguran. Benar, bumi kayaknya sedang memulihkan dirinya. Sedangkan selama ini kitalah virus itu, yang sengaja merusak alam, yang sengaja mencemari, nggak sadar dengan kesalahan sendiri.

Belum lagi biasanya kita sibuk nyenengin diri sendiri. Nggak peduli sama kesulitan orang. Di saat seperti sekarang, akhirnya kita sadar bahwa ada banyak kesalahan pernah dilakukan. Shalat masih nggak bener. Khusyu'-nya mikirin cucian belum kering...kwkwk *eh ini saya dong...hiks.

Saat pandemi, kayaknya ajal deket banget, lho. Padahal, nggak ada pandemi pun harusnya kita udah siap-siap, ya. Mau bawa bekal apa, ya, nanti? Mau pensiun aja nyiapinnya dari jauh-jauh hari. Bagaimana dengan kematian yang bisa saja sudah dekat menghampiri?

Nggak perlu dibuat panik dan susah. Bukankah seharusnya memang selalu ada perbaikan di dalam hidup kita? Meskipun itu nggak mudah.

  • Peka dengan keluarga yang membutuhkan kehadiran kita


Selama ini sibuk terus dengan pekerjaan. Ketika sampai rumah pun kadang jarang bercengkerama dengan anak-anak. Saat pandemi, saatnya kita belajar lebih dekat dengan mereka dan memberikan haknya mereka.

Selama ini, mereka butuh bermain dengan kita tanpa diduakan sama smartphone. Setelah pandemi, kita lebih lama di rumah bareng-bareng, masa masih dicuekin aja, sih? Ah, nggak peka banget ya kita ini :(

Tahu nggak, sih? Covid-19 bukan hanya membawa kesedihan, dampak buruk di mana-mana, tapi juga memberikan kita pelajaran berharga. Saya yakin, Allah paling tahu dengan apa yang kita butuhkan. Lebih dari sekadar apa yang kita inginkan selama ini.

Memetik hikmah dari pandemi ini, kita pun harus jujur sama diri sendiri, kira-kira sisi mana yang mesti dibenahi?

Salam hangat,

Featured image: Photo by Anna Shvets on Pexels

 

Comments

  1. Semenjak ada covid-19 ini, keluarga jadi berkumpul satu rumah. Membahas hal yang sebelumnya tidak pernah dibahas. Jadi sering curhat sama keluarga sekarang hikmahnya

    ReplyDelete
  2. Dari ceramah yang saya denger terakhir (tentunya via online), jadi inget pandemi ini banyak ngajarin kita banget. Memang yah, banyak hal positif dan negatif. Tinggal kita yang pinter pinter milih, mau ngambil yang mana. 😁

    ReplyDelete
  3. Alhamdulillah. Selalu ada hikmah di balik setiap peristiwa, ya. Terima kasih sudah mengingatkan untuk bersyukur dalam situasi ini

    ReplyDelete
  4. Semua hal dapat kita ambil hikmahnya. Jujur aja, semenjak WFH dan LFH, kita jadi makin dekat dengan anak2 dan suami. Jadi sering sibuk di dapur memasak makanan kesukaan mereka, sering mengobrol dll. Lebih peka juga soal kesehatan dan makin menjaga kebersihan.

    ReplyDelete
  5. Saya pun sekarang cuma baca berita dari media mainstream yang saya suka. Media lainnya cuma selayang pandang aja, gak mau baca detail, takut parno dan pening kepala. Hihihi

    ReplyDelete
  6. Benar sekali mbak...
    Aku juga g menyangka, pandemi ini bisa berkembang dgnuas disini...
    Dan memang, kejadian ini juga memberi banyak hikmah, salah satunya membuat kita lebih peka

    ReplyDelete
  7. setuju banget, di dunia ini ngga ada yang kebeneran
    Semua sudah ditakdirkan Allah
    Tergantung kita memaknainya gimana

    ReplyDelete
  8. Awalnya sempat panik juga ya mbak. Lama kelamaan mulai deh terlihat hikmahnya satu per satu. Semoga kebiasaan-kebiasaan baik di masa pandemi ini masih tetap bisa kita pertahankan walau pandemi sudah berlalu

    ReplyDelete
  9. MasyaAllah ya,
    Sungguh Allah sebaik-baik nya pembuat Skenario.
    Jika diambil positif nya sungguh Pandemi ini membawa banyak manfaat

    ReplyDelete
  10. Bener banget, Mbak. Banyak sekali pelajaran yang kita dapat dari kondisi sekarang. Tentu, kalau mau mengambil pelajaran dari kondisi ini.

    ReplyDelete
  11. Aku pun awalnya juga santai, namun ketika mulai bertambah orang yang positif covid, jadi waspada. Bahkan aku bikin masker sendiri karena susah nyari di apotek. Kalo untuk urusan cuci tangan, aku dari dulu udah konsisten karena kebiasaan dari kecil

    ReplyDelete
  12. Setuju banget ini Mbak Muy,, adanya Covid-19 ini mengasah rasa peka bagi kita ya, peka sama saudara2 pekerja harian juga, yg gak dapet duit kl gak berangkat kerja sementara ada kebijakan PSBB. Nice share Mbak,, makasih inspirasinya yaa

    ReplyDelete
  13. Setuju sama kak Muyass, kalau bisa ditelaah lebih dalam sebenernya jadi banyak hikmah dari keadaan ini apalagi di bulan Ramadhan ya. Paling simplenya adalah kalau bukber tahun sebelumnya mungkin sempet ada yang lalai nggak solat maghrib, nah tahun ini semoga jadi lebih baik lagi dengan mengerjakan full solat 5 waktu

    ReplyDelete