Ketika Hobi Dijadikan Pekerjaan

Monday, February 24, 2020

Pekerjaan yang menyenangkan adalah hobi yang dibayar. Kata Kang Ridwan Kamil begitu. Kemarin-kemarin saya setuju sekali dengan quote tersebut, bahkan saya menuliskannya juga di dalam salah satu buku saya yang terbit setahun yang lalu. Karena saya merasa bahwa pekerjaan yang menyenangkan adalah aktivitas yang berasal dari kesenangan kita. Benar, kan?

Namun, setelah melihat postingan salah satu ilustrator favorit saya di Instagram, jiwa labil saya muncul lagi...haha. Iya, katanya hobi harusnya tetap dijadikan hobi karena itu adalah bentuk pelarian kita dari suntuknya ngerjain kewajiban atau pekerjaan. Kalau hobi kita jadikan pekerjaan, saat kita suntuk dan jenuh, mau ngapain coba?

Saya juga pernah membaca caption salah satu postingan dari blogger senior, Mbak Annisast. Beliau, kan suka menggambar dan gambarnya bagus. Tapi, walaupun bikin buku, setahu saya beliau tetap memakai jasa ilustrator. Beliau katakan bahwa hobinya (menggambar) akan tetap jadi hobi jangan dibuat pekerjaan, meski mendatangkan keuntungan misal, tapi itu nggak akan nyaman pada akhirnya.

Apakah saya mulai merasakan penat yang tidak berkesudahan? Kwkwk. Kenapa tiba-tiba membahas tema semacam ini? Apakah saya merasa hobi menulis yang sekarang saya geluti telah menjadi beban? Kadang iya, kadang nggak. Kalau dikejar deadline, saya merasa diuber setan...haha. Tapi, kalau saya menyelesaikan naskah sesuai target tanpa beban deadline dari editor, semua berjalan lebih nyaman dan enteng.

Dan, sebenarnya pelarian saya bukan menulis buku memang. Karena menulis buku seolah sudah saya anggap sebagai pekerjaan (meskipun banyak orang memandang ini sebelah mata). Pelarian terindah saya adalah curhat di blog...kwkwk. Dan, setelah biasa mengisi blog hanya seminggu sekali, rasanya membuat saya kehilangan banyak hal. Apalagi setelah kemarin saya curhat soal blog ini yang kayaknya nggak bekembang alias tetap aja di tempat. Kemudian saya merasa kehilangan kesenangan saya selama ini, yang biasa cuek dan nggak peduli sama DA, tiba-tiba rempong mikirin DA. Kayaknya saya salah memang terlalu ribet memikirkan blog, padahal seharusnya blog cukup jadi tempat curhat yang berfaedah sama seperti dulu.

Tidak Mau Menjadikan Hobi Sebagai Pekerjaan


Kita harus punya hobi yang memang benar-benar hobi, yang bisa dikerjakan dengan senang hati dan mengusir penat di hati *eaaa...haha. Karena kalau semua hobi kita jadikan pekerjaan, betapa beratnya beban hidup ini? Cukup berat badan aja yang berlebihan, beban hidup jangan...haha.

Selain ngisi blog, saya juga suka baking dan menggambar. Sayangnya, akhir-akhir ini memang berkurang sekali porsinya karena saya lebih mementingkan prioritas. Prioritas sampai detik ini adalah menulis buku. Nggak mau sekadar jalan memang, saya benar-benar berusaha istikamah menulis buku meskipun pada akhirnya nggak mungkin juga bisa terbit setiap bulan...haha *dikira penerbit emaknya..kwkwk.

Tapi, ini adalah bentuk ikhtiar saya untuk memperbaiki kualitas tulisan dan sengaja fokus di nonfiksi. Karena memang bukan saatnya lagi main-main dan nyoba-nyoba seperti dulu. Saya pikir akan lebih baik jika saya fokus dan nggak rakus ambil semua genre :)

Hobi Harus Menyenangkan


Ya, kali ada hobi yang nyiksa...kwkwk. Maksud saya, semisal persoalan saya kemarin, hobi ngeblog yang biasa saya jadikan pelarian dari penatnya menulis naskah akhirnya menjadi agak horor dan serius sebab saya nggak lagi ngisi blog dengan senang hati, ada target yang mungkin terlalu tinggi (walaupun saya tahu sebenarnya perlu banget ada target meski ini sekadar kesenangan). Dan pada akhirnya, saya merasa lelah dan berat saat ngisi blog.

Beda aja dengan dulu yang nggak ada beban sama sekali. Dan saya nggak mau seperti ini terus..huhu. Beberapa teman menasihati,
"Nggak usah dibikin ribet ngeblog, mah. Kan, sekadar kesenangan. Kembali lagi ke tujuan awal bukan demi uang, tapi untuk menghibur diri."

But, ini nggak semudah seperti yang kamu katakan karena mungkin saya orangnya nggak selalu pasrah dengan posisi yang sama dalam perjalanan ngeblog. Masa iya ngeblog nggak ada target? Kalau begini terus berasa nggak berkembang aja :(

Tapi, ngejar sesuatu yang agak sulit diraih memang bikin beban hidup bertambah...haha. Meskipun saya percaya, asal dijalanin, jalan terus, pasti nanti kita akan sampai di tempat tujuan. Insya Allah :)

Butuh Waktu Untuk Ikhlas dengan Semua Hasil yang Kurang Memuaskan


Pada akhirnya memang waktulah yang akan menyembuhkan. Ini bukan soal jatuh hati saat SMA, ini tentang usaha-usaha yang pernah saya lakukan demi kemajuan blog ini. Bela-belain sampai migrasi ke wordpress, dan bisa kamu lihat, saya seperti masih di posisi yang sama. Apalagi saat mendengar nasihat blogger senior, yang mana mereka lebih suka kalau kita membuat blog baru ketimbang membenahi yang sudah ada. Rasanya penuh beban banget pokoknya pas denger...haha.

Tapi, sebenarnya nggak masalah juga kalau saat ini hasilnya masih begini-begini aja. Karena jika mau menoleh ke belakang sebentar, blog ini banyak banget jasanya... :(

Kenapa saya kurang menghargai beberapa tahun penuh drama dan beberapa tahun menyenangkan? Qadarallah, dengan blog ini saya bisa memenangkan beberapa kompetisi ngeblog yang sebelumnya tidak pernah saya bayangkan. Blog ini menemani perjalanan menulis saya, lho. Kenapa juga harus saya tangisi? Penting saya sudah berusaha maksimal untuk membuatnya menjadi lebih baik dan lebih baik *berasa lagi ngomongin pacar...kwkwk.

Dan saya rasa, nggak perlu menjadikan semua hobi sebagai pekerjaan. Sebab kita butuh ruang untuk rehat dan melakukan kesenangan demi menjaga kewarasan. Dan blog adalah tempat paling menyenangkan untuk pulang setelah lelah-lelah ria menulis naskah.

Saya cinta dengan hobi saya dan saya menyukai pekerjaan saya sekarang :)

Salam hangat,

Featured image: Photo by Isabelle Taylor on Pexels

 

Comments

  1. Lihat lihat di forum & grup kalau enggak diterima adsense bekali2 lbh baik ajukan blog baru. Sayang banget padahal udah hampir 3 tahun ngeblog. Tp saya juga masih belum menyerah mba.

    ReplyDelete
  2. kalo saya pribadi menjalani hobi dgn sukacita dan suatu ketika mendapati jika hasil dari hobby ternyata lbh bagus daripada pekerjaan utama. keduanya bisa berjalan dengan harmonis

    ReplyDelete
  3. Dulu target saya bikin blog untuk arsipkan karya dan ikutan banyak lomba. Sempat agak bergeser sampai kemudian saya harus fokus lagi pada tujuan awal bahwa blog penunjang kinerja dalam berkarya.
    Mbak Muyass bagus langkahnya, fokus pada satu tujuan hidup berupa menulis buku. Saya harusnya bekerja lebih giat lagi. Semisal susun buku mengenai pengalaman menjadi admin dan pendiri follow loop Instagram Indonesia Saling Follow. Tapi mau tuangkan satu demi satu di blog dulu.
    Semangat jalani hobi menulis. Profesi dari hobi itu jangan dijadikan beban karena hidup memang harus ada target. Saya juga harus ingat umur dan Palung yang bertambah besar nanti akan butuh banyak biaya sekolahnya.

    ReplyDelete
  4. Yang bagus tuh pekerjaan dijadikan hobby, supaya tiap hari menyenangkan!!- tapi dibayar hehe..

    ReplyDelete
  5. Saya pernah mengalami hobi yang akhirnya dijadikan penghasilan. Tapi ciyus malah jatuhnya nggak semangat! Bahkan ngilang. Jadilah hobi ya tetap hobi. Ketika ada kesempatan buat kejar dapat uang dari lomba misalnya ya ambil. Tapi saat pengen santai ya udah nulis aja. Iya hobi saya yang sempat mau saya jadikan pekerjaan itu adalah menulis.

    ReplyDelete
  6. saya masih kepikiran hobi dijadikan pekerjaan, tp memang ada benernya juga sih, kalo hobi dijadikan pekerjaan pasti ada masanya jenuh dengan "hobi" itu. solusinya ada 2, cari hobi baru atau hobi tetaplah sebagai hobi, jangan dijadikan pekerjaan.

    memang belum saya alami mbak, gimana rasanya menjalani hobi sebagai pekerjaan, pengen nyoba sayanya

    ReplyDelete
  7. kalau saya bakal saya pisah, meskipun hobi saya terserbut merupakan pekerjaan saya. jadi ada waktu untuk pekerjaan sendiri, ada waktu untuk hobi sendiri. ada porsinya masing-masing. tapi setiap orang mempunyai kapasitas yang berbeda-beda, jadi jalani semampumu, dan istirahat sebentar kalau sudah lelah, hehe

    ReplyDelete
  8. kalau kata orang mengalir saja, hobi memang bikin kita happy dan bisa dikerjakan dengan bahagia tapi kalau ujungnya menghasilkan ya alhamdulilah

    ReplyDelete
  9. Tapi kalau bisa bekerja sesuai hobby sih udah pasti menyenangkan kayaknya ya mbak, soalnya tanpa dibayar aja kita suka melakukannya, apalagi kalau dibayar, akupun bgt pgn punya kerjaan yg sesuai sama hobbyku (jalan2 & ngeblog) hahahaa

    ReplyDelete
  10. Iya juga ya mbak, harus ada hobi yang selamanya kudu jadi hobi. Saya hobi gambar juga sih, tapi udah lama juga nggak bikin gambar. Sekarang hobinya malah ngedrakoršŸ˜‚
    Capek kerja, sampai rumah ya nontonin drakor. Ini nih, hobi yang bikin ngehalu, tapi nagih.

    ReplyDelete
  11. coba cek pasti ada alasan kenapa ditolak. Semoga bisa segera diterima ya :)

    ReplyDelete
  12. Siap...biasanya sesuatu yang dirawat dengan baik akan menghasilkan juga memang...

    ReplyDelete
  13. Tetap semangat, Mbak..semoga segala urusannya dimudahkan oleh Allah, yaa..semoga impiannya juga terwujud..

    ReplyDelete
  14. Kalau bisa maunya begitu :D

    ReplyDelete
  15. Betul, setuju banget sama argumennya hehehe. Jadi inget alasannya Fiersa Beshari untuk vakum dari dunia permusikan. Katanya, ketika kegiatan bermusiknya menjadi sebuah rutinitas, malah jadi membosankan dan melelahkan.
    Pun begitu juga dengan daku, sampai sekarang hanya fokus berbagi cerita dan menumpahkan emosyonil saja, belum ada kepikiran target dapet a b c d dari blog. Hanya bisa mencoba konsisten, evaluasi dan berharap panen di masa yang akan datang.

    ReplyDelete