Thursday, October 10, 2019

7+ Tips Berwisata Halal ke Australia Bersama Si Kecil

wisata halal australia



Memangnya bisa traveling sambil membawa si kecil juga? Ke Australia? Apa nggak kejauhan, tuh? Traveling dengan membawa serta anak-anak usia balita pasti bukan hal mudah. Tapi, kalau kita titipkan mereka kepada kakek dan neneknya, liburan kita pun jadi nggak asyik lagi dong. Mau happy-happy-an malah kepikiran anak di rumah, sedang apa, ya, mereka? Apa mereka sudah makan? Apa mereka sudah tidur siang? Dan seabrek kekhawatiran lainnya yang bisa merusak momen menyenangkan selama liburan berlangsung.

Buat saya pribadi yang terbiasa mengurus anak-anak sendiri, meninggalkan mereka selama liburan ke luar negeri rasanya bukan hal mudah. Meski membayangkan harus membawa koper banyak dan amunisi penuh, tetap saja saya memilih membawa serta anak-anak ketika liburan.

Pengalaman selama traveling ke luar negeri bersama anak-anak memang kenyataannya penuh dengan drama. Kadang mereka yang biasanya anteng dan tidak suka digendong, tiba-tiba jadi manja dan nempel seperti perangko. Pernah juga Dhigda menangis di pesawat dalam perjalanan panjang kami selama hampir 13 jam. Kebayang nggak, sih, dia nangis kenceng sampai muntah-muntah hanya karena ingin bermain air di wastafel toilet pesawat? Sedangkan saat itu kita dalam posisi mau landing. Alhasil suami harus memaksanya tetap duduk meski akhirnya membuat seisi pesawat panik, dikira dia sakit telinga karena tekanan udara di dalam pesawat...hiks.

Tapi, tanpa mereka, liburan saya ke luar negeri tak akan sempurna. Wajarlah kalau anak-anak kadang cranky apalagi si Dhigda yang masih usia empat tahun. Jadi, meski harus kerepotan dua kali lipat karena membawa anak-anak, saya dan suami tetap sepakat bahwa liburan ke mana pun nggak boleh ninggalin mereka di rumah. Lagian, yang mau jagain mereka siapa secara kakek neneknya di kampung...hihi.

Setelah sebelumnya pernah traveling rame-rame ke Turki, kali ini kami ingin mengunjungi negara  yang lebih dekat dengan Indonesia. Yups! Australia. Meskipun penduduknya bukan mayoritas muslim, tetapi Australia punya banyak fasilitas ramah muslim, lho. Salah satunya yang ada di Australia Barat atau Western Australia.

Western Australia dengan ibukota Perth ini merupakan negara bagian yang ditinggali oleh bermacam-macam penganut agama, termasuk di dalamnya umat Islam. Kita nggak perlu khawatir ketika berkunjung ke sana, karena Australia sangat terbuka bagi semua orang. Nggak perlu takut menjadi minoritas di sana, insya Allah kita akan aman selama berlibur nanti.

Di Perth, ada lebih dari 40 ribu muslim tinggal di sana. Soal fasilitas, sudah pasti sangat memadai, termasuk fasilitas tempat ibadah bagi muslim seperti kita. Enaknya jalan-jalan ke negara yang ramah muslim ya seperti ini, kita nggak perlu khawatir ketika akan shalat atau mencari makanan halal. Karena di Perth, kita bakalan dengan mudah menemukan restoran dengan sertifikat halal. Masya Allah. Contohnya Chee Tayeb yang menyediakan makanan khas Timur Tengah bahkan hingga makanan sehat bebas gluten sekalipun tersedia di tempat ini.

Kalau mau shalat, kira-kira kita bisa menemukan masjid dengan mudah nggak, sih? Jika kebetulan kamu berada di Australia Barat, kamu bisa mengunjungi masjid Perth yang merupakan masjid tertua di kota ini. Dibangun pada tahun 1905, masjid ini bukan hanya layak dijadikan sebagai tempat ibadah, tetapi juga bisa menjadi wisata halal menyenangkan bagi muslim yang ingin mengetahui sejarahnya secara lebih detail.

Selain masjid Perth, kamu juga bisa menjumpai masjid-masjid lainnya, lho. Jadi, soal ibadah terutama shalat lima waktu, sepertinya tidak perlu dirisaukan apalagi sampai bikin migren segala, ya? Hehe. Insya Allah negara ini sangat layak kita jelajahi tanpa khawatir dengan status kita sebagai seorang muslim.

Inilah alasan kenapa saya dan suami ingin sekali berlibur ke sana, menikmati keelokan alam Australia serta mengajak si kecil mengenal dan melihat langsung hewan-hewan khas Australia yang selama ini hanya bisa mereka lihat di layar televisi saja. Pasti seru banget, kan?

Lantas apa saja yang bisa kita siapkan sebelum keberangkatan hingga beberapa hari selama menginap di Australia?


1. Rencanakan Liburanmu dengan Matang


Jangankan untuk liburan ke luar negeri seperti Australia, untuk liburan yang dekat-dekat saja kita butuh merencanakannya dengan baik, mulai dari budget hingga tempat-tempat wisata yang akan kita kunjungi. Riset beberapa tempat wisata yang ada di Australia dapat dilakukan jauh-jauh hari sebelumnya.

Kalau tidak mau dipusingkan dengan hal semacam itu, ada baiknya kita menggunakan travel agent. Meski harus menambah budget lagi, tetapi setidaknya perjalanan kita akan lebih terjamin kenyamanannya. Apalagi jika kita pergi bersama anak-anak, fokus kita mending untuk mereka saja, tidak perlu dipusingkan dengan aktivitas mencari hotel atau memilih wisata halal yang tepat selama di Australia nanti.


2. Membawa Pakaian Esktra untuk Anak-anak



Kalau liburannya hanya berdua bersama pasangan, membawa pakaian secukupnya sepertinya masih masuk akal, ya? Tapi, kalau sudah membawa anak-anak liburan juga, kira-kira bisa nggak, ya, kita membawa pakaian secukupnya alias paling banyak satu koper? Sepertinya sangat tergantung dari seberapa besar usia anak yang kita ajak liburan.

Anak-anak saya tipe orang yang mudah sekali muntah. Apalagi si sulung, bahkan ketika dia salah makan makanan yang tidak disukainya saja, dia bisa muntah. Begitu juga dengan adiknya. Intinya, saya mungkin akan kesulitan membawa baju sedikit buat anak-anak, tetapi untuk saya dan suami, sepertinya masih bisa dikurangi.

Minimal kami akan melakukan perjalanan selama kurang lebih delapan hari. Kira-kira bawa bajunya seberapa banyak, ya? Buat saya, membawa beberapa setel pakaian yang bisa dipadu padankan dengan lainnya adalah pilihan yang tepat untuk menghemat baju. Meskipun membawa anak-anak, kita juga harus tampil stylish juga dong...hihi. Supaya koper nggak penuh dengan pakaian dan aksesoris emaknya, ada baiknya kita pintar-pintar memadukan beberapa busana.

Buat yang berhijab, sebaiknya pilih bahan hijab yang tidak mudah kusut sehingga kita tidak akan kerepotan selama berlibur. Iya, kali sambil bawa anak-anak yang heboh lari-larian ke sana kemari kita masih dipusingkan juga dengan hijab-hijab yang kusut? Saya pribadi lebih nyaman memakai hijab instan asal menutup dada, karena ada kemungkinan juga kita bakal menggendong anak-anak. Jadi, hijab tetap di posisi yang pas meski dijambakin sama mereka...hihi.

Jangan lupa juga membawa perlengkapan musim dingin seperti jaket khusus dan sejenisnya. Pengalaman berlibur saat musim dingin memang butuh persiapan ekstra, ya. Nggak boleh sok tahan sama dingin karena dinginnya di negara kita akan sangat berbeda dengan musim dingin di negara empat musim seperti di Australia.


3. Jangan Lupa Siapkan Obat-obatan Lengkap


Selain membawa obat-obatan wajib bagi kita sendiri, jangan lupa juga membawa obat-obatan khusus untuk anak-anak. Terutama jika memiliki riwayat sakit tertentu, ada baiknya kita menyiapkan segala kemungkinan yang bisa saja terjadi di sana.

Misalnya anak-anak saya, keduanya ada riwayat kejang demam, bahkan Alby mengalaminya sejak usia 2 tahun hingga 6 tahun. Dengan riwayat kejang demam seperti ini, saya tidak pernah lupa membawa obat penurun demam serta obat kejang seperti stesolid rektal yang akan sangat berguna digunakan ketika mereka kejang. Intinya, sedia payung sebelum hujan!

4. Sedia Mata Uang AUD Saat Berwisata Halal ke Australia


Iyess! Di Australia, kita akan menggunakan mata uang Dolar Australia (AUD). Sebelum keberangkatan, sudah seharusnya kita menukar uang rupiah dengan mata uang AUD. Sebagai persiapan ketika nanti tiba-tiba dibutuhkan. Di sana, kita memang bisa menukar rupiah dengan AUD, tetapi pengalaman selama traveling bersama anak-anak, kadang kita sudah nggak sempat melakukan itu, keburu riweh, euy...hehe.


5. Membawa Bekal Makanan Terutama untuk Si Kecil


Karena anak-anak saya pemilih banget soal makan, setiap kami pergi jauh terutama ketika traveling dan liburan ke luar negeri, saya tidak lupa membawa bekal makanan kesukaan mereka. Misalnya saja abon atau makanan lain yang bisa bertahan selama kita berada di negeri orang. Karena selama traveling, kita akan menghabiskan banyak waktu di luar, istirahat akan dilakukan secukupnya, maka penting menjaga asupan nutrisi yang masuk ke dalam tubuh demi menjaga daya tahan tubuh agar tidak mudah sakit selama liburan berlangsung. Ya, meski makanan di Australia tampaknya enak-enak di lidah kita, tapi, tetap tidak ada salahnya jika kita membawa sedikit bekal terutama bagi anak-anak.

Selain itu, jangan lupa juga membawa botol minum sendiri. Saya biasa membawa botol minum sendiri setiap melakukan perjalanan terutama ke luar negeri. Dengan cara ini kita bisa berhemat, lho. Di Australia, kita bisa mengisi minuman dari tap water atau water fountain. Katanya, tap water yang ada di sana semisal di Sydney bisa diminum dengan aman. Jadi, kita nggak perlu khawatir. Cukup perhatikan saja informasi yang diberikan di sana, kita akan tahu apakah air tersebut dapat diminum langsung atau tidak.


6. Stopkontak Listrik di Australia

 
Meski mungkin poin ini tampak remeh, tetapi kita perlu memastikan bahwa nanti tidak akan kesulitan mengisi baterai kamera ataupun smartphone. Di Australia umumnya memakai stopkontak tiga pin yang tidak sama dengan yang kita gunakan di Indonesia. Maka, kita butuh adaptor supaya nanti tidak kesulitan lagi saat mengisi batera kamera atau smartphone. Sebelum menutup koper, jangan lupa selipkan travel adapter, ya!


7. Riset Tempat-tempat yang Ingin Dikunjungi Selama Berwisata Halal ke Australia



Poin ini memang penting banget. Jangan sampai setelah menabung sekian lama untuk berlibur bersama, kita malah nggak tahu wisata yang mau dikunjungi ketika pergi ke Australia. Di Australia banyak banget wisata yang menarik, mulai dari Sydney Opera House yang menjadi icon negara Australia, berwisata sejarah ke The Rock di kota Sydney, mengunjungi Brisbane, bersenang-senang di kota Gold Coast atau kita bisa mengunjungi Dreamworld Theme Park. Anak-anak juga pasti seneng banget kalau diajak berwisata ke Queensland dan berfoto bersama koala.

Sekali lagi, jika kita merasa kesulitan mengurus semua sendiri, saya sangat menyarankan untuk menggunakan travel agent. Pengalaman saat traveling sebelumnya pun saya merasa sangat terbantu dengan cara seperti ini. Travel agent bisa membuat perjalanan kita lebih mudah dan nyaman.


8. Pilih Cheria Halal Wisata Tour Travel untuk Menemani Perjalanan Selama di Australia



Masa, sih, kita mau mengurus semua sendiri? Mengurus anak-anak yang lincahnya Masya Allah aja sudah bikin ngelus dada. Jadi, selama berlibur ke Australia, saya pribadi lebih menyarankan teman-teman untuk menggunakan travel agent demi kenyamanan saat liburan. Saya rekomendasikan teman-teman menggunakan Cheria Halal Wisata Tour Travel.

Cheria hadir sejak tahun 2012 dalam rangka memenuhi kebutuhan para traveler muslim yang berencana melakukan perjalanan ke berbagai negara bahkan ke negeri nonmuslim sekalipun. Dengan Cheria, perjalanan kita akan lebih nyaman karena kita tidak perlu khawatir dengan menu-menu yang disajikan di tempat-tempat yang akan dikunjungi, insya Allah kita bakalan mendapatkan menu halal yang bikin kenyang dan tenang.

Tidak hanya untuk perjalanan ke luar negeri, layanan Cheria mancakup juga semua kebutuhan paket tour bagi muslim di dalam negeri juga, termasuk menyediakan tiket, hotel, visa, dan kebutuhan lainnya.

Kabar baiknya, Cheria juga menyediakan paket tour wisata muslim ke Australia, lho! Girang banget, kan, saya secara kami sedang merencanakan liburan ke sana dalam waktu dekat ini, Insya Allah.

Semoga beberapa tips ini bermanfaat terutama bagi teman-teman yang berniat membawa anak-anak saat liburan ke Australia. Yuk, traveling nyaman dan menyenangkan bersama keluarga!

Salam,

 

Wednesday, October 9, 2019

Merajut Impian dari Langit-langit Pesantren An-Nur 3, Ketika Mimpi Tak Lagi Sebatas Ingin

impian di pesantren



Yup!
Saya adalah alumni dari Pesantren An-Nur 3, Bululawang, Malang. Jika ditanya kapan mulai bermimpi yang benar-benar serius banget? Jawabannya ketika masuk SMA. Qadarallah saya masuk pesantren. Ini sebenarnya bukan niatan awal saya. Maunya nggak masuk pesantren karena mau ngekor teman satu bangku, kemudian karena satu dan lain hal akhirnya Allah antarkan saya masuk pesantren ini.

Ketika masih kecil, kita sering melontarkan keinginan menjadi dokter dan guru saat ditanya apa cita-citamu saat besar nanti? Berbeda dengan saya, sejak kecil cita-cita saya mau jadi pelukis. Wajar karena sejak kecil saya senang menggambar. Kemudian berkembang menjadi komikus setelah masuk SMP. Lantas setelah masuk pesantren, saya jadi tergila-gila banget dengan dunia literasi. Pokoknya aku harus jadi penulis! Tekad saya dalam hati.


Meski nggak pernah tahu mau lewat mana memperjuangkan impian itu, bahkan belum tahu bagaimana caranya, saya tetap usaha mati-matian. Jadwal sekolah dan belajar seabrek di pesantren An-Nur 3 nggak pernah menjadi alasan buat saya menyerah. Saat itu, saya belum kenal slogan “Orang sukses mencari jalan, orang gagal mencari alasan.”, yang saya pahami saat itu, aku pengen jadi penulis, maka aku melakukan sesuatu yang bisa membuatku happy menjalankan dan mengusahakannya. Satu-satunya jalan yang aku bisa hanya menulis, maka aku menulis dan terus menulis.”




Setiap dapat hadiah buku tulis tebal-tebal karena mendapat peringkat tiga besar di sekolah diniyah, selalu saya pakai buat menulis cerpen atau novela. Saat itu, mustahil pakai komputer kecuali saya membajak milik ustadz. Sayangnya, saya nggak sesadis itu, sih, walaupun impian melangit begitu tinggi...hihi. Saya juga bukan anak orang kaya, untuk membeli sebuah buku bacaan saja harus menabung sekian lama, jika terkumpul justru dipakai untuk membeli LKS...hihi. Satu-satunya cara yang bisa saya lakukan adalah mencatat semua kalimat indah dalam buku-buku yang sempat saya pinjam baik dari teman atau perpustakaan.


Zaman dulu, saya tidak memahami betapa pentingnya menulis sebuah impian di dalam buku harian. Menulisnya setiap hari, setiap malam ketika beranjak tidur. Nggak pernah paham ternyata apa yang kita tuliskan benar-benar bakal membantu kita mencapai apa yang kita inginkan. Masya Allah. Saat itu, saya hanya menuliskan impian sekadar karena saya memang benar-benar suka melakukannya. Seperti ada energi positif yang enggan beranjak setiap saya menggambarkan impian menjadi seorang penulis.


Ketika di pesantren sempat ada penulis dari Yogyakarta datang, happy bukan main. Perasaan meletup-letup tak tertahan saking senengnya. Impian semakin melambung tinggi tanpa bisa dicegah lagi. Setiap kalimat yang keluar dari Mas Shachree (salah satu penulis yang sharing ilmu), saya dengarkan baik-baik. Saya catat benar-benar di dalam hati. Saya tidak sempat membayangkan bagaimana kalau saya gagal jadi penulis? Kemudian saya harus mengganti impian itu menjadi apa? Nggak pernah ada bayangan semacam itu.


Tahun berganti, impian masih tetap sama. Nggak pernah goyah, malah semakin menjadi. Sehingga ketika saat itu datang seorang penulis senior dari Malang, almarhumah Ratna Indraswari Ibrahim, semakin menyala saja impian di dalam hati. Saya sangat percaya, andai kita memiliki keinginan kuat, usaha adalah cara terbaik dan Allahlah yang akan memampukan. Allah juga akan membuka jalannya. Kita nggak perlu khawatir.


Meski saat itu saya tidak pernah tahu akan lewat mana mewujudkan, tetapi akhirnya satu per satu jalan terbuka lebar. Misalnya, buku antologi pertama saya terbit tahun 2009. Buku ini saya kerjakan saat masih STIKK (Sekolah Tinggi Ilmu Kitab Kuning) di pesantren An-Nur 3 pada tahun 2008/2009. Nggak pernah ngebayangin bisa menulis buku bareng beberapa penulis senior dari kota Malang. Kok, bisa gabung bersama mereka, sedangkan saya saat itu masih pemula banget dalam dunia literasi. Allah begitu pemurahnya memberikan kesempatan besar itu kepada saya *mewek. Setelahnya, meski tidak selalu mudah, selalu ada kesempatan baik datang kepada saya.


Lantas bagaimana kabar impian besar itu setelah saya menikah dan menjadi ibu rumah tangga?

 

Masih zaman nggak, sih, emak-emak ngomongin soal impian? Apa nggak terlambat mengingat sekarang kesibukan nggak bisa disebut sederhana. Dari pagi menyiapkan bekal, memasak, mengantar anak sekolah (sampai depan teras maksudnya...hihi), mengantar suami ngantor (tetap sampai teras doang), dan mengerjakan pekerjaan rumah yang seabrek nggak ada habis-habisnya.


Meski telah menjadi seorang ibu, mengejar impian di masa lalu bukan hal yang memalukan, kok. Bahkan bisa jadi inilah saat yang tepat mengingat kita sudah lebih pandai mengatur waktu ketimbang waktu masih sekolah. Meskipun pada akhirnya kita harus mengorbankan waktu istirahat, bahkan sampai lupa kapan terakhir nonton film. Kita harus menerima itu sebagai pilihan yang pasti juga ada risikonya. Masa iya kita hanya mau enaknya aja, sih? Sedangkan saya pun mengerti, untuk menggapai impian tidak bisa dilewati dengan cara bersantai-santai saja.


Tahun 2013, saya lebih serius menekuni dunia literasi. Saat itu mulailah saya mengenal komunitas menulis dan beberapa penulis senior yang dengan senang hati membantu. Tahun 2014, keinginan menulis buku solo terwujud. Sayangnya, tidak semudah itu buku bisa terbit meski telah masuk penerbit dan mengantongi ISBN, buku pertama saya masih menggantung di atas awan. Iya, nggak tahu kapan terbitnya. Menunggu bertahun-tahun rasanya serupa sambil menelan duri. Apalagi setelah tahu bahwa buku itu gagal terbit setelah menunggu hingga empat tahun lebih. Ngilu.


Tahun 2017, saya memutuskan melupakan naskah pertama saya dan memulai menulis naskah baru.  Tahun ini juga saya memulai semuanya dari nol setelah sekian tahun istirahat. Saya mulai dengan mengikuti banyak kelas-kelas menulis online. Dalam sebuah kelas menulis, saya beranikan diri menulis sebuah buku kembali. Yang lalu biarlah berlalu. Kata mentor menulis saya, “Anggap aja itu jamu pahit yang menyehatkan.” Iyess, baru saya sadari ternyata masuk dunia kepenulisan begitu mengerikan. Entah kita dicurangi dan hak kita tidak dipenuhi, atau malah ada penulis lain yang menusuk kita dari belakang. Ternyata semua kemungkinan itu selalu ada. Bahkan hampir keseluruhannya sudah saya rasakan *kibas gamis.


Tahun 2018, saya memutuskan menarik naskah pertama saya dan mengirimkannya ke penerbit mayor yang lain. Keputusan ini tidak saya ambil dengan mudah, sempat berdiskusi dengan teman dan mentor, hingga kemudian saya mantap menarik naskah tersebut dan berharap bisa diterbitkan di penerbit lainnya.


Orang-orang nggak akan tahu rasanya, betapa kecewanya ketika kita punya calon buku, tetapi belum kunjung terbit. Ini bukan semata-mata tentang uang, tetapi penulis butuh fisik dari buku yang ditulisnya. Tahun-tahun berikutnya memang berjalan lebih mudah. Qadarallah, selain naskah lama yang akhirnya dipinang oleh Quanta (lini buku islami dari Elex Media), beberapa naskah lain pun menyusul dipinang oleh penerbit yang sama.



Dari langit-langit pesantren An-Nur 3, impian itu kini telah menjadi nyata



Kalau ditanya apakah impian saya sudah terwujud keseluruhannya? Belum. Saya memang sudah punya beberapa buku yang terbit mayor, dipajang di seluruh Gramedia di Indonesia, bahkan beberapa buku saya sudah meluncur ke luar negeri (meski orangnya masih di rumah aja...hihi), tapi ada beberapa impian yang masih digantungkan di langit dan belum terwujud. Selain memang sepertinya ini masih baru buat saya. Masih ingin bertahun-tahun belajar lagi supaya bisa sebaik Ustadz Salim A. Fillah saat menulis buku nonfiksi islami. Atau sebaik mbak Watiek Ideo saat menulis cerita anak. Hmm, bahkan sebaik Bang Tere Liye ketika menulis cerita fiksi. Berhubung saya memang menulis beberapa genre, jadi semua diharapkan *serakah..hihi. Intinya ini masih awal dan baru dimulai.




Bicara tentang mimpi, ternyata ada seorang adik kelas saat saya masih di pesantren An-Nur 3 yang baru-baru ini begitu dekat dan akrab dengan saya. Dulunya kami jarang banget bertegur sapa. Saya introvert, begitu juga dengan dia. Kenal pun sebatas tahu saja. Padahal, bertemu setiap hari, lho. Ajaibnya, sekarang kami malah akrab dalam suasana yang sangat berbeda. Sudah jadi emak-emak, tetapi masih kekeh pengen mewujudkan impian. 


Baru-baru ini buku kami terbit di Quanta. Dia pun berkisah tentang aktivitasnya semasa masih di pesantren An-Nur 3. Dia anggota mading Al-Fikri (mading pesantren). Dia aktif di sana sejak lama. Sedangkan saya, meski senang menulis, dari dulu tidak masuk sebagai anggota. Mengisi mading iya, sebatas diminta teman-teman membantu ketika mereka mendapatkan tugas. Dan kami bercerita mengenang zaman dulu ketika masih di pesantren.


Bagaimana kami begitu happy ketika ada orang baru datang ke pesantren, sadar kami ini nggak banyak mengenal dunia luar. Jadi, kalau ada tamu seperti penulis datang buat sharing, rasanya bahagia banget. Pengen segera dapat ilmu baru supaya bisa segera dipraktikkan.


Namanya Rizka Amalia Asdia. Berbeda dengan saya, dia punya impian menjadi ilustrator. Impiannya terbilang bisa terwujud cepat, karena tidak lama setelah kami belajar bareng tentang ilustrasi digital, dia sudah punya buku terbit mayor. Beda banget dengan kakak kelasnya ini yang mesti menunggu beberapa tahun...kwkwk.


Saya merasa heran dengan pertemuan kami sekarang, dulu nggak kenal, kok, sekarang malah akrab. Bahkan sekarang dia sedang menggarap buku saya juga. Kita sering ngobrol mengenai impian, yang kadang membuat kita begitu semangat, di sisi lain kadang nyaris membuat kita ingin berhenti berjuang saat itu juga.


Bagi kami, perjalanan ini memang dimulai sejak kami mengenyam pendidikan di pesantren An-Nur 3. Banyak banget kenangan menyenangkan saat itu, dan dari sanalah kami mulai melangitkan impian.



Tak ingin muluk-muluk, cukup lakukan yang terbaik demi mengharumkan nama pesantren An-Nur 3 di mata dunia



Bicara soal keinginan, bakalan banyak banget pendapat yang mampir kepada kami. Mau bikin ini dan itu, mau  melakukan ini dan itu. Tapi, selama itu hanya sekadar ingin, mimpi ya nggak berbeda dengan bunga tidur, jangan harap kita bisa melakukan sesuatu.


Ada orang yang hanya sekadar antusias memulai, tetapi tidak mampu mewujudkan, ada orang yang begitu heboh mau melakukan sesuatu, tetapi mental berjuangnya hanya sampai di situ atau malah ketahuan banget cuma bisa ngomporin tanpa kerja nyata alias nggak konsisten, ya udah. Kalian sama ajalah intinya. Setelah ngobrol berdua kemarin dengan Rizka, kami sepakat tetap fokus dengan impian kami. Dia menjadi ilustrator profesional, sedangkan saya menjadi penulis buku-buku best seller, insya Allah. 


Akhirnya kami sepakat,


Kita kerjakan apa yang bisa kita lakukan sekarang. Jika saya mampu menulis, maka saya akan menulis hanya tentang kebaikan demi diri saya, orang-orang yang mendukung saya, dan demi pesantren yang telah membesarkan saya. Begitu juga dengan kamu. Kamu suka menggambar, maka jadikan gambar itu sebagai media dakwah. Kita berjuang bukan hanya demi diri sendiri, tetapi juga demi banyak orang yang telah ikhlas mendoakan.

Ketika mendapatkan foto di atas, saya begitu rindu dengan kehidupan pesantren dulu. Saat itu, saya begitu senang belajar kaligrafi, belajar jurnalistik, hingga belajar menjahit. Saya rindu dengan semua itu. Tiba-tiba mata berair. Rasanya satu per satu slide kenangan di masa lalu diputar kembali. Bagaimana antusiasnya saya ketika duduk di aula itu sambil mendengarkan sharing ilmu dari para penulis yang datang jauh-jauh dari Yogyakarta. Saya pun masih ingat ketika mengikuti kelas jurnalistik bersama ustadz Heru dan ustadz Solihin.

Kita memang tidak bisa mengulang kembali masa lalu, tetapi kita bisa berjuang melakukan yang terbaik demi orang-orang yang telah membantu kita hingga menjadi seperti sekarang. Dan cara kita nggak akan selalu sama. Orang-orang introvert seperti saya dan Rizka selalu suka bekerja di belakang layar. Nggak pernah jago bicara, kalaupun dulu sempat masuk kelas dakwah di pesantren, semata-mata itu hanyalah salah jurusan...hihi. Jadi, passion kami sekarang, itulah yang kami perjuangkan. Semata-mata bukan buat kami pribadi, tetapi juga buat orang-orang telah susah payah mendoakan, mendidik, dan mendukung kami *mirip pemilu aja.



Salam hormat kepada guru-guru yang pernah mendidik saya selama ada di pesantren An-Nur 3. Dari sanalah saya belajar menjadi pejuang yang tidak akan pernah menelantarkan impian begitu saja. Dari sanalah saya belajar memperjuangkan sesuatu tanpa banyak beralasan. Dari sanalah saya belajar memercayai impian. Dari sana pula saya belajar memercayai sesuatu yang bagi orang terdengar mustahil untuk diwujudkan.


Salam,

Friday, October 4, 2019

Cara Verifikasi Identitas Akun Adsense Lewat Hp Android Supaya Berhasil

verifikasi akun adsesnse



Gimana cara verifikasi akun Google adsense kita? Pernah nyoba dan gagal? Lewat hp android emang bisa? Kalau gagal lagi gimana? Bisa ditangguhkan dan iklan nggak tayang lagi di blog...hiks.

Selama ngeblog, sejak awal nggak pernah ngebayangin bisa menghasilkan uang dari blog sendiri. Kenapa? Karena awalnya ngeblog memang karena sekadar suka menulis, blog sebagai wadah kreativitas, biar ada tempat cerita dan curhat *lha. Karena itu, selama hampir 3 tahun ngeblog, menang kompetisi, dapat content placement dan me-review produk kayaknya sesuatu di luar bayangan saya. Dari situlah saya mendapatkan penghasilan selama ngeblog. Balik lagi, meski sudah merasakan ‘hasil’ dari apa yang saya rawat, tetap saja ngeblog adalah sesuatu menyenangkan yang murni saya kerjakan karena saya suka. Dapat uang ya senenglah, tapi saya pun sangat menyayangi blog saya. Jungkir balik ngisi blog sambil ngerjain naskah rasanya bukan hal mudah. Bisa dilihat di bulan Agustus, blog ini hampir nggak kesentuh, postingan barunya hanya sekitar 8 saja. Karena di bulan Agustus saya dikejar deadline menulis buku. Di bulan itu saya merasakan mual-mual...kwkwk. Bukan karena hamil, tapi puyeng...hihi.


Dan, sekarang jadi lebih puyeng lagi ketika dapat email dari Google Payments yang intinya berisi permintaan verifikasi identitas akun adsense saya. Selama ini saya jarang banget ngecek akun adsense, udah berapa uangnya, mau diapain biar maksimal, dan semua hal tentang adsense itu agak kurang saya perhatikan. Bukan karena saya nggak pengen dapat uang, tapi karena saya ini gaptek...kwkwk. Sudah ikut kelas optimasi Google Adsense, tetap saja kemampuan segini-segini aja. Kalau ditanya, “Dulu gimana daftar adsense?” Saya akan jawab, udah lupa...haha. Biasanya saya hanya browsing-browsing sana sini, kemudian mencoba sendiri sampai berhasil. Yess, saya bisa, tetapi kalau ditanya lagi jujur saja saya nggak bakalan bisa memandu kalian dari awal...kwkwk. Tapi, kamu bisa pelajari di sini jika mau mendaftar adsense.


Begitu juga ketika dapat email dari Google Payments, bayangan saya tinggal kirim foto KTP, ya udah berhasil dong harusnya. Kenyataannya tidak semudah itu, Ferguso! Beberapa kali saya gagal verifikasi pakai KTP dengan alasan KTP saya sudah tidak berlaku. Padahal meski tertera tanggal tidak berlakunya sejak 2018, tetapi status KTP saya, kan, seumur hidup.


Karena merasa benar, saya upload ulang foto KTP saya...kwkwk. Hingga akhirnya saya sadar, ini bukan masalah enteng alias harus serius. Alhasil saya browsing dan menemukan kenyataan pahit, sepahit hidup kamu...kwkwk. Iya, ternyata memang saya nggak bakalan bisa verifikasi akun Google adsense saya dengan KTP. Terus, gimana mau pakai SIM gitu? Kan, saya nggak punya SIM, naik sepeda aja harus bonceng *emak-emak kalem banget...kwkwk. Terus mau pakai paspor, emang masih berlaku paspor saya dulu? Akhirnya ya udahlah, lupain aja. Toh iklannya masih muncul. Begitulah pemikiran emak-emak gaptek yang maunya gampang...hihi.


FYI, katanya kita bakalan dapat email dari Google Payments ini setelah penghasilan kita di akun adsense ini mencapai kurang lebih 10$. Dan emang bener, penghasilan saya mencapai yang disebutkan tadi. Kebayang ngumpulin segitu berapa tahun? hihi. Nggak usah dibayangkan udah ketahuan berapa tahun... :D

 
Setelah sebulan saya abaikan, tiba-tiba iklan saya nggak tayang lagi. Saya pikir karena saya otak atik layout, setelah saya masuk ke akun adsense, ternyata karena saya belum verifikasi identitas plus bank...kwkwk. Duh, gimana ini?


Karena takut gagal lagi, akhirnya saya browsing-browsing lagi dan menemukan fakta bahwa saya nggak bakalan bisa pakai cara sebelumnya. Iya, saya nggak mungkin pakai foto KTP karena sudah jelas bakalan gagal. Sedangkan untuk upload foto ini dibatasi, kalau tiba-tiba gagal dan udahan gitu, gimana? Akhirnya memutuskan mencoba lagi dengan paspor. Alhamdulillah, paspor saya masih berlaku.


Dari penjelasan di Google, saya mendapatkan informasi berikut supaya kita berhasil verifikasi identitas.

1. Nama serta alamat yang kita gunakan harus sama dengan yang tertera di kartu identitas. Jangan sampai salah, perhatikan betul-betul. Nggak usah main-main pakai nama pena, apalagi nama alay segala...hihi.

2. Foto identitas yang dikirimkan harus jelas bisa terbaca dengan utuh dan tidak terdapat pantulan cahaya.

3. Sebaiknya menggunakan aplikasi scanner untuk mengambil foto identitas yang kita gunakan.


Siang-siang sengaja ngambil foto paspor. Sebisa mungkin pakai alas kertas HVS dan usahakan nggak ada pantulan cahaya. Kemudian saya pakai aplikasi scanner. Memberanikan diri upload foto identitas lagi setelah beberapa kali gagal. Alhamdulillah, nggak lama langsung berhasil. Yeay! Happy banget meski nggak tahu di tahun ke berapa penghasilan pertama dari adsense ini bisa saya ambil...hihi.


Bukan hanya verifikasi identitas, saya juga harus verifikasi bank yang saya gunakan. Caranya? Kemarin saya asal pencet-pencet aja, kan...kwkwk. mengisi data di akun adsense kita, kemudian muncul permintaan verifikasi bank. Lha, gimana caranya? Emang aneh banget, udah ngisi-ngisi sendiri, setelah itu lola...haha.


Jadi, waktu saya coba verifikasi, muncul permintaan mengisi jumlah nominal di bawah 1000 rupiah, di mana angka itu telah dikirimkan oleh Google ke rekening saya. Baiklah, itu udah lewat sebulan, lho. Gimana nyari datanya coba...kwkwk. Sempat asal ngisi dan udah jelas ya gagal. Akhirnya saya buka internet banking dan mencoba menyisir nominal yang dikirimkan oleh Google. Alhamdulillah, ketemu! Tinggal isi sesuai nominal yang dikirimkan kepada kita, langsung verifikasi dan berhasil.


Setelah ini, tinggal menunggu kiriman PIN untuk verifikasi alamat. Katanya butuh waktu 2-4 minggu. Tergantung jarak yang memisahkan *eaa...kwkwk.


Saya sempat bertanya pada mentor saya dan pada teman-teman sesama blogger, tapi sepertinya belum ada yang merespon tentang ini. Mentor saya sempat mau bantu, tetapi beliau belum sempat jawab, saya sudah nekat upload paspor. Untung berhasil, kalau gagal bisa disebut murid bandel...kwkwk.


Pengalaman seperti ini sengaja ditulis di blog, siapa tahu ada yang bingung juga sama seperti saya. Atau suatu saat saya lupa, kan tinggal buka di blog...hihi. Antisipasi itu perlu, Guys. Namanya juga emak-emak, yang dipikirin banyak banget dari pagi sampai mau tidur lagi. Jadi, lupa itu manusiawi...apalagi kalau selama ini kerjanya hanya nyoba-nyoba...kwkwk.


Apa Saja yang Perlu Disiapkan untuk Verifikasi Identitas Akun Adsense Lewat HP Android?



Dari cerita di atas, sudah jelas ya apa saja yang saya lakukan ketika verifikasi akun adsense menggunakan HP android? Kira-kira seperti ini caranya,


1. Siapkan kartu identitas yang masih berlaku

Bisa memakai KTP (tanpa masa kadaluarsa), SIM, atau paspor.


2. Siapkan kertas HVS A4

Pakai kertas HVS sebagai alas ketika mengambil foto.


3. Usahakan ambil foto di tempat terang, hindari menggunakan lampu

Kenapa sebaiknya nggak pakai lampu, tetapi mending pakai cahaya matahari alami? Supaya nggak ada pantulan pada foto yang dihasilkan. Verifikasi ini agak rewel, ya. Jadi, kalau burem dikit aja nggak bakalan berhasil (menurut informasi yang pernah nyoba).


4. Pakai aplikasi scanner

Wajib banget pakai aplikasi ini supaya fotonya jadi jelas maksimal. Install aja kemudian uninstall lagi setelah selesai...hihi.*jahat


5. Upload foto



Setelah foto identitas kita scan pakai aplikasi, saatnya upload foto di akun adsense dan verifikasi. Insya Allah dalam waktu nggak sampai sehari sudah ada konfirmasi berhasil. Iklan pun akan tayang kembali setelah beberapa jam kemudian.

Kira-kira seperti itulah alurnya. Informasi berkaitan dengan verifikasi identitas bisa dibaca juga di sini.



Dulu saya sempat menyatakan adsense ini nggak ada gunanya. Kok, gitu? Karena saya nggak pernah membayangkan bisa mengumpulkan uang dari Google adsense. Kayaknya udah pesimis aja mengingat saya ini nggak jago main SEO dll. Jadi, pasang iklan adsense ini sebagai pemanis aja. Nggak banyak ditempel di mana-mana. Justru hanya sedikit di blog saya, begitu juga di website saya.


Meski sekarang saya tahu adsense bisa menghasilkan juga, tetapi saya masih kurang nyaman jika harus menempel iklan di dalam artikel, di bawah sub judul dan lain-lain. Ketika saya berkunjung ke blog yang seperti itu, rasanya kurang nyaman aja membaca blognya karena di sana sini penuh dengan iklan.


Semoga yang sedikit saja bisa maksimal. Ini bonus aja dari perjuangan selama ngisi blog. Entah cairnya kapan, yang penting ngeblog aja karena dari sini saya mendapatkan kebahagiaan *eaaa.


Kira-kira itulah yang bisa saya bagikan pada postingan kali ini. Sambil kejar-kejaran dengan menggarap naskah baru. Rasanya sayang banget kalau blog nggak terisi. Bagaimanapun ini adalah rumah yang saya bangun dengan susah payah, penuh drama, dan semoga ending-nya bikin bahagia seperti cerita dongeng...hihi. Nggak nyambung banget, kan? Baiklah. Semoga bermanfaat dan semoga teman-teman bisa segera memetik penghasilan dari ngeblog. Meski sedikit, yang penting nanti banyak dan halal...haha. Aamiin. *nggak mau rugi.


Salam,

Wednesday, October 2, 2019

Resep Bakpao Antigagal dengan Bahan Sederhana dan Mudah Dibuat

Resep Bakpao Antigagal dengan Bahan Sederhana dan Mudah Dibuat



Bakpao merupakan salah satu jenis kudapan yang mengenyangkan karena terbuat dari tepung. Biasanya, pedagang bakpao keliling suka lewat di depan rumah, tapi selama tinggal di Jakarta, jarang banget mendengar pedagang bakpao teriak-tariak di depan rumah (mungkin takut diomelin...hihi).

Dulu, pernah bikin bakpao dengan resep yang saya temukan di Cookpad. Sayangnya, gagal total bakpao-nya. Selain bantat, bakpao jadi lebih mirip kue moho gitu. Pernah tahu kue moho nggak, Guys? Yups! seperti itulah hasilnya. Jadi, ujung-ujungnya lebih sering bikin roti ketimbang bakpao karena keseringan gagal.

Beberapa bulan yang lalu, kakak saya sempat menanyakan resep bakpao. Iseng-iseng akhirnya saya mencoba mencarinya di Cookpad, dapatlah resep satu ini yang katanya di-recook dari resep Melz Kitchen. Kalau dipikir, resep ini adalah yang termudah karena nggak perlu ngulen sampai tangan pegal, nggak perlu bahan-bahan yang susah karena semuanya hampir selalu tersedia di rumah. Dan paling asyik, bakpaonya empuk dong hingga keesokan harinya, masya Allah.

Di sini, saya nggak pakai mentega putih karena nggak punya persediaan di rumah. Saya ganti blueband cake and cookie. Hasilnya tetap cantik. Karena dikukus dan tanpa ulen, waktu pengerjaannya pun cukup singkat dan nggak memakan waktu banyak. Jadi, meski udah sore saya berani membuatnya, beda banget sama bikin roti yang bisa bikin melek hingga jam 12 malam hanya demi menunggu proofing sampai memanggang.


Untuk isiannya, saya pakai mesis cokelat, biar mudah dan nggak pakai ribet. Maklum lagi malas...kwkwk. Kalau mau, isiannya bisa divariasikan dengan selai rasa buah atau kacang hijau buatan sendiri. Kapan-kapan mau coba bikin dengan isian selai stroberi atau kacang hijau, insya Allah.


 Nah, berikut resep bakpao antigagal dan antigalau, Guys...kwkwk. Cuslah, dicatat resepnya, ya!

Bahan biang:


150 ml air hangat

30 gram gula pasir

6 gram ragi instan (1 sdt penuh)

Bahan A:


250 gram tepung terigu protein sedang atau rendah

1 sdm susu bubuk (saya pakai 2 sdm)

½ sdt baking powder

Bahan B:


30 gram mentega putih

½ sdt garam


Cara membuat:



  1. Campur bahan biang jadi satu. Ingat, ya, suhu airnya harus hangat, tidak terlalu dingin karena ragi sulit aktif, tidak terlalu panas juga karena ragi bisa mati. Aduk rata dan diamkan selama kurang lebih 5-10 menit. Jika berbusa, maka campuran biang siap digunakan. Tapi, kalau tidak berbusa, sebaiknya ganti dengan ragi yang baru atau suhu airnya kurang tepat.

  2. Campur air biang ke dalam bahan A. Aduk dengan sendok kayu atau spatula sampai rata saja. Masukkan bahan B. Uleni sebentar sampai rata dan adonan tidak terlalu lembek (agak kalis).

  1. Bulatkan adonan kemudian tutup dengan kain bersih. Diamkan selama 30 menit.

  2. Kempeskan adonan dan uleni sebentar saja. Ambil secukupnya adonan dan beri isian. Bentuk bulat dan diamkan 10 menit sambil memanaskan panci kukusan. Alasi bagian bawah bakpao dengan kertas minyak atau daun pisang.

  3. Panaskan panci kukusan dan jangan lupa bungkus tutupnya dengan kain bersih supaya uang air tidak menetes ke bakpao-nya.

  4. Kukus bakpao selama kurang lebih 10 menit. Angkat dan sajikan hangat.

Resep Bakpao Antigagal dengan Bahan Sederhana dan Mudah Dibuat
Proses proofing sebelum dikukus

Resep Bakpao Antigagal dengan Bahan Sederhana dan Mudah Dibuat
Setelah dikukus

Resep Bakpao Antigagal dengan Bahan Sederhana dan Mudah Dibuat



Voila! Bakpao buatan kita sudah jadi, nih. Kalau mau dibentuk seperti landak, cukup gunting saja setiap permukaan bakpao sesaat sebelum dikukus. Gampang banget, kok, bikinnya. Dan buat saya, resep ini termasuk antigagal banget dibandingkan resep lain yang pernah saya coba.

Lihat penampakannya, empuk meski sampai esoknya, lho. Simpan dalam wadah tertutup supaya bakpao tetap empuk dan lembab. Anak-anak juga senang ikut membentuk bakpao-nya. Selamat mencoba dan semoga bermanfaat, ya!

Salam hangat,


Monday, September 30, 2019

Agar Anak Kecanduan Membaca

agar anak senang membaca



Saya pribadi sering gemas ketika melihat anak-anak terlalu fokus bermain gadget, tidak peduli dengan lingkungan sekitarnya, cenderung tidak acuh dengan orang-orang terdekat terutama orang tua. Saya tidak perlu melihat anak orang, karena anak saya pernah ada di posisi itu meski yang dilihat dan dimainkan bukan game, tetapi sekadar melihat video atau film kartun favorit mereka. Membayangkan sekarang anak-anak tidak pernah meminta menonton televisi atau Youtube seperti dulu rasanya seperti mimpi yang mustahil terjadi.

Saya pribadi termasuk orang tua yang ‘tega’ melihat anak-anak ngambek dan ngamuk karena tontonan mereka saya batasi. Pada akhirnya, ketika tidak satu pun dari saya dan suami yang senang menonton televisi, mereka pun sama sekali tak tartarik meski itu hari libur sekalipun.


Dulu, sempat susah memisahkan anak-anak dari televisi atau gadget karena suami saya sering melihat berita ketika malam hari, ternyata itu memancing anak-anak untuk meminta tontonan lainnya. Ujung-ujungnya sayalah yang banyak bermain drama karena paginya suami sudah berangkat bekerja, sedangkan saya di rumah bersama anak-anak. Kebayang dong sampai tantrum dan segalanya. Tapi, memang konsisten mendidik itu perlu. Dan kompak bersama pasangan itu harus. Kalau sekarang bilang tidak, besok juga katakan hal serupa. Kalau kitanya plin plan, anak-anak malah memainkan kita. Ketidakkompakan dengan pasangan juga bisa mempengaruhi cara mendidik kita.


Dan sekarang? Anak-anak sudah benar-benar nggak tertarik minta nonton televisi lagi. Sehari-hari mereka lebih sering main berdua. Setiap hari Jumat, saya berjanji membolehkan mereka nonton Nusa dan Rara, tetapi tidak nonton yang lain. Hanya Nusa dan Rara yang baru saja, dengan kata lain, cuma nonton sekali aja..hihi. Alhamdulillah, mereka setuju.
 

Sesekali mereka nonton dan asyik banget kalau ke rumah kerabat. Ya udah, nggak masalah. Toh dulu saya juga senang nonton juga, kok. Lalu, apa hubungannya dengan judul di atas? Kebanyakan anak sekarang lebih senang memegang gadget ketimbang membaca buku. Memang tidak semua anak demikian, tetapi sebagian besar iya. Untuk anak-anak di rumah, meski mereka senang nonton film kartun, tetapi mereka juga candu banget sama buku. Tiap bulan kami ada waktu khusus main ke toko buku dan biasanya selalu membeli beberapa buku. Si sulung dan bungsu sama-sama senang membaca dan dibacakan. Memangnya bagaimana cara menumbuhkan kesenangan membaca? Mengalahkan keinginan nonton dan main gadget?


Teladan Lebih Baik daripada Seribu Nasihat


Sebelum meminta anak-anak senang membaca, sebaiknya berkaca dulu, apakah kita sudah memberikan contoh demikian sehingga mereka bisa meniru dengan mudah? Kalau emak bapaknya pegang gadget saja setiap hari, setiap menit, setiap detik, jangan harap anak-anakmu bisa senang membaca. Sudah pasti bakalan senang pegang gadgetlah..hihi. Karena itu, daripada sibuk menasihati ini dan itu, kasih mereka contoh yang baik.


Di rumah, yang suka membaca dan mengumpulkan buku adalah saya. Setiap menjelang tidur, anak-anak selalu dibacakan buku sesuai permintaan mereka. Setelah besar, sulung membaca bukunya sendiri. Setiap membeli buku, sudah pasti dia bakalan diam saja (membaca) sampai bacaannya tuntas. Kalau belum selesai dibaca, jangan harap dia bersuara...kwkwk.


Bacakan Buku Setiap Menjelang Tidur




Kebiasaan baik ini bisa dimulai setiap hari sejak mereka masih kecil dan belum bisa membaca. Meski belum bisa membaca, mereka paham dan senang mendengarkan, kok. Bahkan si bungsu sudah mampu menghapal setiap text pada setiap halaman di buku-buku favoritnya. Dia menirukan bukan karena sudah bisa membaca, tetapi karena dia menghapal text dalam buku tersebut saking seringnya dibacain buku.


Bersenang-senang Bukan dengan Main Game, Tetapi dengan Membeli Buku


Kamu pasti terbiasa main ke mall bersama anak-anak. Yups! Di sana ada sejenis Timezone di mana selalu  menjadi pusat perhatian hampir semua anak, tak terkecuali anak-anak saya. Dulu, kami sesekali mengajak mereka bermain ke sana. Tapi, pelan-pelan kami mengubah kebiasaan itu dengan berbelanja buku. Jadi, ketika melewati tempat permainan tersebut, anak-anak santuy aja, Guys...kwkwk. Lewat ya sekadar lewat saja, lihat ya sekadar lihat saja. Lebih heboh ngajakin beli buku, apalagi kalau tahu emaknya yang beliin...hihi. Ampun, deh, habis jatah sebulan...kwkwk


Nggak ada cara-cara khusus yang saya lakukan kepada mereka. Saya berusaha konsisten dengan apa yang saya ajarkan. Misalnya, nonton itu boleh bagi mereka, tetapi terlalu sering bisa membeirkan dampak negatif seperti menjadi tidak aktif bergerak, jadi malas mau melakukan hal lain bahkan ibadah seperti shalat, dan yang paling penting, nonton dan main gadget nggak banyak faedahnya kecuali membuang waktu. Nah, kalau sekarang dikatakan tidak bermanfaat, besoknya jangan tiba-tiba dikasih nonton, ya.


Saya bersyukur anak-anak bisa mencintai buku. Suka nonton wajar aja, tapi, bisa mengerem keinginan biar nggak heboh dan merasa biasa aja dengan televisi dan gadget adalah sesuatu yang tidak mudah dan butuh proses. Semoga kita sabar dengan mereka, semoga kita nggak mengorbankan waktu berharga mereka hanya demi menenangkan kita pribadi yang pengen tenang saat masak, maka diberilah tontonan televisi dan sejenisnya.


Semoga bermanfaat dan salam,

Sunday, September 29, 2019

Resep Sayur Lodeh Bumbu Iris

Resep Sayur Lodeh Bumbu Iris



Buat pencinta menu bersantan, kayaknya kamu harus coba resep sayur lodeh satu ini. Meski lebih cocok disebut resep bagi yang malas masak, tetapi rasanya nggak mencerminkan itu sama sekali, kok. Sayur lodeh adalah menu favorit suami saya. Kadang, kalau bikin dengan bumbu lengkap yang dihaluskan bosan juga, selain bosan sama rasanya, bosan juga nguleknya...kwkwk. Meski senang memasak, tetapi saya nggak pandai menghaluskan bumbu dengan ulekan...hihi. Saya biasa menghaluskan bumbu dengan chopper kasar-kasar, kemudian saya haluskan lagi pakai ulekan (ribet amat hidup saya, ya?).


Sayur lodeh bakalan lebih sedap dengan tambahan ebi. Lebih enak dihaluskan bersama bumbunya. Tapi, kalau kamu malas ngulek bumbu, pakai resep ini saja. Sekejap jadilah masakan spesial yang insya Allah disukai semua orang.


Isiannya bisa menggunakan apa saja. Bisa tahu putih, tahu goreng, kacang panjang, potongan tempe, terong, dan apa saja asal masih jenis makanan, ya? Hihi. Kalau suka udang, bisa banget ditambahkan udang. Sayangnya, suami saya nggak terlalu suka menyantap udang. Jadi, isiannya hanya tempe, tahu goreng, kacang panjang, terong dan sejenisnya.

 
Kalau mau pedas, kamu bisa tambahkan irisan cabai rawit merah yang banyak, ya? Sedangkan untuk santannya bisa memakai santan instan atau santan segar. Saya lebih sering pakai santau instan karena mudah...hihi. Ketahuan, kan, malas banget ini, mah...kwkwk.


Cuslah kita catat resep mudahnya!


Bahan:


1 buah terong ukurang sedang

Segenggam kacang panjang

Sedikit potongan tempe, potong dadu

2 buah tahu goreng, potong sesuai selera

1 batang daun bawang, iris

4 cabai merah keriting, iris serong

4 siung bawang merah, iris

2 siung bawang putih, iris

5 cabai rawit merah, iris

2 lembar daun salam

1 ruas lengkuas, iris aja

1 bungkus santan instan

Secukupnya air

Secukupnya garam dan gula

Sedikit kaldu bubuk, jika suka

Sedikit minyak untuk menumis


Cara membuat:


1. Tumis bumbu: bawang merah, bawang putih, daun salam, lengkuas dengan sedikit minyak sampai harum. Masukkan irisan cabai. Gunakan api kecil supaya tidak cepat gosong.

2. Tuangkan air dan santan instan ke dalamnya. Aduk rata.

3. Masukkan bahan sisa selain daun bawang.

4. Masukkan gula, garam, dan penyedap.

5. Setelah mendidih dan sayur matang, masukkan irisan daun bawang.

5. Angkat dan sajikan.


Voila! Lodeh bumbu iris buatanmu pun siap dihidangkan di meja makan. Rasanya? Jangan ditanya, deh. Bakalan ngabisin nasi banyak kalau makan dengan menu sederhana satu ini. Menu ndeso seperti ini kadang memang ngangenin banget, lho. Bosan juga kalau setiap hari makan ayam dan daging terus. Sekali-kali bisa menyantap menu sederhana seperti ini. Lengkapi dengan nasi panas, kerupuk, sambal, dan ikan asin.


Akhir-akhir ini selera makan menurun karena bosan dengan menu-menu yang itu-itu saja. Zaman saya kecil, makan daging dan ayam itu jarang banget. Jadi, kalau ada menu itu di meja makan, sudah pasti nggak akan disisain...kwkwk. Beda banget dengan sekarang yang tahu sendiri, menu seperti itu sudah biasa dan menjadi menu harian. Jadi, setiap ketemu daging dan ayam rasanya sampai bosan.


Dan menu sederhana seperti sayur lodeh bumbu iris ini bisa jadi penyelamat di kala nafsu makan menurun karena bosan. Murah meriah, tetapi jangan harap dietmu berhasil kalau menyantap menu seperti ini. Gagal itu jawaban yang tepat kayaknya...hihi. Semoga bermanfaat dan menginspirasi dapur kamu, ya! Selamat mencoba.


Salam,

Baru Pertama Kali Menulis Buku Solo? Tips Ini Bisa Membantumu!

menulis buku solo



Nggak terasa, besok sudah hari terakhir ODOP (One Day One Post) bersama Estrilook Community. Kalau melihat peserta, kayaknya lebih ramai tahun ini daripada kemarin. Saya senang, meski dengan challenge sederhana seperti ini, ternyata banyak yang merasa terbantu, terlecut semangatnya buat mengisi blog. Abis itu, lemes lagi, ya? Hihi. Masa iya harus nunggu ODOP lagi buat konsisten ngisi blognya? Memang, kesibukan masing-masing kita berbeda. Tapi, kalau memang suka, harusnya kita meluangkan waktu untuk menulis dan ngisi blog. Kalau kamu merasa nggak sanggup, mungkin kamu memang kurang cocok dengan dunia menulis seperti ini.


Dan, bulan depan setelah menyelesaikan ODOP, akan dimulai challenge yang lebih seru lagi, lho. Yups! Sebulan Menulis Buku bersama Estrilook Community. Nggak nyangka, yang gabung banyak banget, Guys. Masya Allah. Semoga semua yang bergabung benar-benar berniat menyelesaikan buku solo mereka, bukan sekadar ngintip aja, ya? Hihi.


Apa, sih, keuntungan mengikuti challenge kali ini? Selain bisa termotivasi karena kita ramai-ramai menggarap buku solo masing-masing, sebisa mungkin saya berusaha mengisi materi tentang literasi terutama tentang menulis dan menerbitkan buku solo (sesuai pengalaman selama ini). Ini bekal buat teman-teman yang mungkin belum pernah menulis buku. Selain saya, ada beberapa editor di grup yang juga memberikan materi terutama tentang penulisan buku fiksi, yakni mbak Salmah yang merupakan editor dari AT Press.


Malam ini mungkin kebanyakan sudah mulai ngebut menggarap outline masing-masing, karena saat saya lihat ketika mereka mengisi data, rupanya masih banyak yang belum menyelesaikan outline-nya. Semoga besok semua sudah beres dan sudah bisa menulis halaman per halaman buku pertama dan ke sekian mereka. Seru, kan? Ah, rugi banget kalau kamu nggak ikutan. Terutama karena tidak dipungut biaya sepeser pun. Cukup bayar dengan niat, ya..hihi. Kapan lagi coba bisa gabung sama orang-orang seirama begini?


Nah, untuk menyelesaikan challenge ODOP, kali ini saya mau berbagi sedikit tips tertama bagi yang beru pertama menulis buku solo. Apa saja, ya? Cuslah, catat tips berikut ini,


1. Buat Naskah Buku Pertama Kamu dari Hal-hal yang Kamu Kuasai


Akan jauh lebih baik jika kamu menulis tentang hal-hal sederhana, tetapi telah kamu kuasai betul-betul. Minimal kamu punya banyak referensi mengenai tema yang akan kamu angkat menjadi sebuah buku. Kenapa? Karena dengan cara seperti ini, kamu bisa menyelesaikan naskahmu dengan lebih mudah, lebih semangat karena apa yang akan dituangkan sudah ada di kepala.


2. Buat Target Tebal Halaman Sesuai Kemampuan


Iyess! Menulis buku yang tebal itu memang keren banget, kok. Tapi, bukan berarti kamu harus menulis setebal buku-buku Tere Liye itu, apalagi jika ini kali pertama kamu menulis buku. Coba tanyakan pada diri kamu, apakah kamu sanggup menulis sebanyak itu? Kalau sanggup, kenapa nggak? Tapi, kalau memang terlalu memberatkan, sebaiknya jangan lakukan itu.


Mending kamu tulis buku yang bagus dengan tebal semanusiawi mungkin, deh. Kita tidak sedang mengejar target halaman yang panjang, tetapi kita mengejar target menyelesaikan satu buku dengan isi yang bagus, bukan bertele-tele demi mengejar panjang halaman. Setuju?


3. Berjanjilah pada Diri Sendiri


Pernahkah kamu mengingkari janjimu sendiri? Rasanya gimana? Kesel, sebel, bete! Ya, begitulah. Makannya, jangan khianati apa yang telah kamu janjikan pada dirimu, termasuk janji menyelesaikan naskah buku.


Memang, akan ada hal-hal yang dikorbankan karena kita harus fokus pada buku selama beberapa hari, bahkan bulan. Tapi, setelah buku kamu selesai, bahagianya pasti nggak habis-habis dirasain. Karena itu, tepati janjimu sendiri. Kalau kamu siap kecewa, nggak masalah nggak ditepati lagi, lagi, dan lagi. Sampai kamu nggak percaya lagi pada dirimu sendiri. Miris, kan?


4. Terbit Indie atau Mayor, yang Penting Kelar Dulu!


Ada nggak, sih, orang yang akhirnya nggak pernah bisa menyelesaikan naskahnya hanya karena dia bingung mau diterbitkan di mana bukunya? Ada! Menurut saya, memang penting mengejar mayor, tetapi lebih penting lagi kamu selesaikan naskahmu, jika ditolak, terbitkan indie. Itu nggak masalah, kok. Besok bikin target lebih tinggi, harus masuk mayor.


Yang penting  naskah kamu harus kelar dulu, ya. Jangan sampai berhenti di tengah kemudian membuat naskah dengan tema baru. Jadi, kapan selesainya buku solomu itu, Guys?


Orang-orang di sekitarmu hanya bisa memotovasi, setelah mereka berhenti memotivasimu, apakah kita juga bakalan berhenti berusaha? Karena itu, andai kamu punya impian, kamulah yang seharusnya punya niat dan keinginan kuat, dorongan terbaik datang dari dirimu sendiri. Cobalah dan cobalah, insya Allah impianmu untuk memiliki buku solo akan terwujud dalam waktu dekat. Semoga, ya :)


Salam,