Monday, June 17, 2019
(Review) Pengalaman Berkesan Saat Menginap di Grand Surya Hotel Kediri
![]() |
| Foto: Dok pribadi |
Rencana ke Kediri sebenarnya tidak direncanakan jauh-jauh hari. Justru malah mendadak banget. Ngapain aja ke sana? Mengunjungi kerabat, main ke Gunung Kelud dan suami ikutan gowes bersama tim suami yang lain. Nah, selama para suami bersepeda di Kota Kediri, saya dan ibu-ibu yang lain tetap menjaga kedamaian anak-anak dengan tidak keluar sehingga dikhawatirkan justru akan timbul kericuhan di luar…kwkwk. Secara, anak dua aja kerjanya ribut mulu. Baru masuk mobil saja sudah rebutan tempat duduk, apa kabar kalau perginya tanpa Mas?
Selama di Kediri, saya sempat menginap semalam di Grand Surya Hotel Kediri. Lokasinya tepat berada di Jl. Dhoho No. 95, Pakelan, Kecamatan Kota Kediri, Kemasan, Jawa Timur. Letak Kota Kediri sendiri dari Malang ternyata lumayan banget meskipun sudah melewati jalan tol yang mulus, ya. Kirain hanya tiga jaman, lho. Ternyata lebih!
Saya berangkat sekitar pukul 11 siang. Sampai di lokasi saat adzan Magrib. Waktu kurang dari satu jam digunakan untuk shalat Dhuhur di tengah jalan. Bisa hitung berapa jam lamanya? Anak-anak ribut, akur lagi, ribut lagi, akur lagi, eh belum sampai juga, lho…haha. Mungkin yang berat memang bukan rindu, tetapi menahan ngomel ketika mereka berdua ribut, Subhanallah *curhat colongan…kwkwk.
Dan seperti apa suasana hotel yang termasuk sangat lumayan di Kota Kediri ini? Yuk, simak review jujur tanpa pamrih dari saya…hehe.
Fasilitas Grand Surya Hotel Kediri
Ketika pertama membuka pintu, sudah ketahuan kamarnya lumayan luas, jika anak-anak kejar-kejaran dan terjadi baku hantam, Insya Allah masih ada lokasi aman untuk bersembunyi. Tempat tidur, kursi, dan fasilitas lainnya terbilang sangat lumayan, kok.
Saya juga tertarik dengan bangku yang posisinya menempel dengan dinding kamar mandi. Terkesan unik dan lucu banget seperti bangku-bangku di taman dengan lampur di atasnya. Terdapat sajadah juga, lho. Di mana sangat jarang saya temukan di hotel lain. Petunjuk arah kiblat memang pasti ada di hampir semua hotel, tetapi kalau sajadah, sangat jarang disediakan.
Poin paling penting adalah kamar mandi. Karena saya orangnya suka risih kalau sampai kamar mandinya kurang bersih…haha. Di sini, perlengkapan mandi disediakan lengkap, ya. Sedangkan kondisi kamar mandinya lumayan bersih dan terjaga sehingga bagi kamu yang seperti saya, suka geli-geli kalau lihat kamar mandi kotor, bisa bernapas lega.
Makanan di Grand Surya Hotel Kediri
Saya pribadi belum mencoba makanan di sini karena memang sengaja tidak memesan makanan. Kemarin sempat pesan nasi goreng buat anak-anak dengan harga Rp. 60 ribu untuk satu piring. Isinya banyak banget. Ditambah telur, sate ayam, dan topping udang goreng tepung di atasnya. Iya, lumayan harganya, tetapi dengan porsi sekian dan tambahan lauk lengkap, kayaknya masih terbilang wajar.
Kamu yang ingin makan menu lain pun bisa banget memesan langsung. Menunya bervasiasi banget. Kebetulan saya sedang ikut JSR, sehingga nggak terlalu memusingkan juga soal sarapan. Saya juga tidak mencoba menu sarapan yang dipesankan untuk anak-anak…hehe. Cuma lihat penampilannya saja yang kayaknya sih enak, ya.
Pelayan Ramah dan Baik
Iya, sih, di mana-mana pastilah pelayan akan melayani dengan baik, ramah, dan pasti lekas tanggap. Uniknya, di sini, kamu bisa memberikan penilaian lebih terhadap karyawan tertentu yang menurut kamu patut diacungi jempol. Tinggal tulis saja siapa nama karyawan yang menurut kamu sangat baik, sopan, dan telah membantumu semaksimal mungkin.
Pelayanan seperti ini memang sangat diperlukan saat menginap di sebuah hotel, ya. Kebayang dong, udah capek, pelayannya kurang tanggap, jadi malas banget, ‘kan jadinya?
Selama menginap di Grand Surya Hotel Kediri, saya merasa sangat nyaman. Pengalaman pertama yang tak terlupakan pastinya serta memberikan kesan baik. Semoga suatu saat saya bisa traveling lagi ke Kota Kediri dan bisa menginap kembali di Grand Surya Hotel Kediri. Semoga bermanfaat, dan jangan lupa bersyukur.
Salam,
Sunday, June 16, 2019
Urap Sayur Ala JSR (Jurus Sehat Rasulullah), Tanpa Gula dan Garam Ternyata Enak, lho!
![]() |
| Photo on Unsplash |
Makan tanpa gula dan garam pastinya membuat hidup rasanya hambar, ya. Itulah yang saya rasakan ketika pertama kali mencoba meninggalkan gula dan garam yang sebelumnya sangat akrab dengan hidup kita. Gimana masakan tanpa garam? Hambar dong? Padahal, justru tanpa gula dan garam, kita bisa merasakan rasa alami makanan itu sendiri. Kita terlalu takut dan parno duluan, sehingga keinginan untuk hidup lebih sehat jadi terhembat karena khawatir tidak mampu memuaskan lidah.
Padahal, apa yang enak di lidah belum tentu baik bagi tubuh kita. Nggak berbeda seperti ketika memberikan MPASI kepada bayi enam bulan ke atas. Zaman si sulung baru MPASI, saya nggak memberikan dia gula dan garam hingga usianya mencapai 1,5 tahun. Kebiasaan baik ini mestinya terus dilakukan bahkan saya sebagai orang tua juga harus ikut makan seperti si sulung. Kenapa ujung-ujungnya malah diubah sehingga sekarang jadi rewel dan pilah pilih makanan? Di sini saya merasa aneh…kwkwk.
Sejak ikut JSR, saya memang benar-benar menghindari dan meninggalkan gula. Meskipun masih boleh konsumsi gula aren, tetapi saya memilih tidak mengonsumsinya. Sedangkan untuk garam, saya pakai garam pink atau garam Himalaya. Itu pun jumlahnya sangat sedikit dan tidak setiap masak saya pakai. Lebih sering saya makan tanpa garam.
Ternyata, jika terbiasa, makan tanpa gula dan garam bukan hal buruk apalagi mengerikan, kok. Sebab setiap makanan entah itu sayuran atau daging-dagingan memiliki rasa alami yang unik dan sangat bersahabat dengan lidah. Hanya karena lidah kita sudah dicemari banyak perasa, maka makan makanan hambar tanpa gula dan garam seperti sesuatu yang menakutkan dan hampir semua orang enggan mencoba.
Jika hanya dikonsumsi sendiri, saya lebih memilih tidak menambahkan garam dalam menu harian. Kecuali jika menu itu akan disantap bersama Mas, maka saya dengan senang hati akan menambahkan garam Himalaya ke dalamnya. Takutlah diprotes…kwkwk.
Karena bosan dan bingung mencari menu simpel dan cocok, akhirnya saya mencari referensi dari menu-menu harian. Memilih yang cocok dengan JSR kemudian dihilangkan penggunakan gula dan garamnya. Salah satu menu yang kemarin sempat saya buat adalah urap sayuran ini.
Jujur saja, lidah saya ini ‘ndeso’ banget. Dibanding makan salad sayur, saya lebih suka makan sayuran rebus dicocol sambal atau sayuran dibuat urap. Saya makan sayuran dalam porsi yang lumayan, ya. Kalau masih lapar, nggak masalah kamu nambah, asalkan jangan berlebihan. Pastikan kamu memahami kebutuhan nutrisi pada tubuhmu sendiri. Kondisi orang akan berbeda-beda, sehingga tidak semua bisa disamaratakan.
Misalnya saja saya, saat ini, makan berat berupa sayuran saat siang hari sudah sangat cukup. Saya jarang menambahkan sumber karbohidrat seperti kentang, ubi, atau singkong. Tanpa itu saya sudah merasa kenyang hingga malam hari. Alhamdulillah. Tapi, bagi kamu yang belum terbiasa, jangan memaksakan diri untuk jadi seperti saya, ya. Sesuaikan dengan kebutuhanmu sendiri. Iyap! Kamu harus paham betul dengan kondisi tubuhnya.
Alhamdulillah, selama menjalani JSR, saya hampir tidak pernah keliyengan karena lapar…hehe. Sempat pusing jika terlalu sering konsumsi kayu manis dalam infused water. Selebihnya saya merasa sangat nyaman.
Bagi kamu yang sudah mulai hidup sehat, baik itu JSR atau sejenisnya (karena nama tak selalu sama meski pola makannya sejenis), mungkin resep urap sayuran satu ini bisa jadi referensi menarik.
Bahan:
Sayuran rebus secukupnya
Kelapa muda parut
Bumbu, haluskan:
Cabai merah keriting
Bawang putih
Sedikit kencur
Daun jeruk
Cara Membuat:
1. Haluskan bumbu, kemudian campurlah dengan kelapa muda parut.
2. Aduk rata kemudian sangrai di atas teflon hingga bumbu matang dan tidak langu.
Sajikan bersama sayuran rebus favoritmu.
Voila! Urap sayur ala JSR pun sudah bisa kamu santap. Nikmati setiap suapannya, Insya Allah akan terasa nikmat. Syukuri nikmat terindah yang sudah Allah beri. Insya Allah apa pun yang dikonsumsi akan sangat nikmat di lidah terlebih jika kita pandai-pandai bersyukur.
Salam,
Saturday, June 15, 2019
Tips Traveling Mudah dengan Pola Makan ala JSR (Jurus Sehat Rasulullah)
![]() |
| Tip traveling ala JSR |
Assalamualaikum! Alhamdulillah, senang pake banget akhirnya bisa menulis lagi dan posting tulisan baru di blog. Saat mudik ke Malang kemarin, saya memang sengaja tidak membawa laptop dan tidak juga memaksakan diri untuk menulis pakai handphone. Alasannya karena benar-benar ingin berlibur serta berkumpul bersama orang tua dan saudara. Tanpa menulis saja sudah banyak waktu tersita di jalan apalagi kalau harus menulis? Lagian, momen pulang ke kampung halaman tidak terjadi setiap saat. Bahkan hanya setahun sekali.
Saat mudik kemarin, sempat khawatir dengan pola makan ala JSR yang baru saja saya jalani. Takut banget tergoda makan makanan yang aneh-aneh. Masa saya kuat nggak makan menu yang biasa tersaji di meja makan terutama jika itu adalah masakan Ibu? Rasanya hampir mustahil. Tapi, saya coba meyakinkan diri bahwa semua itu bisa saja terjadi jika saya memang benar-benar ‘niat’ untuk makan apa yang sekarang saya konsumsi setiap hari.
Soal godaan makan nasi bukan hal berat untuk saat ini. Justru makan kerupuk dan gorenganlah yang selalu melambai-lambai minta dikunyah…haha. Apalagi ibu suka bikin kerupuk tepung beras yang enak banget. Hadeh, akhirnya beneran saya makan satu hingga dua kerupuk…kwkwk. Tapi, setelah itu nggak bablas, kok. Saya tetap sadar bahwa apa yang saya lakukan selama ini bukan hanya berdampak baik pada penurunan berat badan, tetapi juga membuat kondisi tubuh jauh lebih sehat.
Menjalani pola makan ala JSR bukan sesuatu yang harus dipaksakan, diratapi, apalagi dibuat sedih. Sejak awal saya memang ingin menurunkan berat badan, tetapi seiring berjalannya waktu, saya tidak hanya ingin kurus dan langsing, tetapi juga mau sehat. Saat lebaran kemarin, banyak banget saudara yang menderita diabetes, kolesterol, berat badan lebih dari normal, bahkan ada juga yang kena struk hingga kanker. Entah awalnya dari berat badan berlebih atau pola makan yang tidak benar, yang jelas, kedua hal ini saling berkaitan satu sama lain.
Melihat kondisi seperti ini, diam-diam saya bersyukur bisa mengenal JSR. Tanpa harus menanti saya sakit, saya sudah bisa memulai semuanya dengan senang hati. Nggak pernah merasa terpaksa untuk menjalankannya. Saya pun tidak mau kaku sama diri sendiri, terutama saya sadar bahwa saya adalah pemula dalam hal ini. Belum ada hitungan tahun, jadi semua dijalankan harus dengan senang hati.
Saat melihat ibu memasak opor ayam kampung, saya kangen dan pengen banget makan seperti dulu-dulu. Dua potong ayam bukan dosa besar. Ya, saya juga mau ibu melihat saya makan masakannya. Sebab beliau memang sengaja memasak itu demi menyambut kedatangan saya. Rasanya? Enak banget, Masya Allah.
Selain saya, ibu pun sudah banyak berubah. Selain rajin minum jus sayuran setiap hari, beliau juga mengurangi garam dan menghindari penyedap rasa. Beliau sadar itu tidak selalu baik bagi kondisi kesehatan terutama saat ini ketika beliau sudah berusia lanjut. Kemarin saya pun sempat membantu ibu membuat jus sayuran. Jujur saja, untuk minum jus sayur dan ampasnya sekaligus bukan hal mudah. Mungkin jika dipaksa saya bisa mual hingga muntah, tetapi, karena keinginan kuat untuk sehat, ibu meminumnya dengan senang hati dan tanpa beban. Setiap hari.
Qadarallah, Ibu merasa jauh lebih sehat jika minum jus. Karena itu, tidak ada alasan untuk menghindarinya. Sekarang saya jadi punya teman sehati, ‘kan saat mudik?
Selain mudik ke rumah orang tua dan mertua, saya juga sempat traveling ke Kediri selama dua malam. Ya, total 3 hari plus di jalan. Kebayang dong, saya sempat panik dan khawatir, bakalan makan apa nanti saat dalam perjalanan? Karena sudah hitungan bulan kedua menjalankan JSR, saya jadi lebih percaya diri. Iya, nggak mau ribet apalagi dibikin ribet. Hidup saja sudah berat, kenapa makan pun dibikin berat? Haha. Jadi, saya bikin semua berjalan dengan sangat santai dan mudah. Alhamdulillah, semua berjalan sesuai rencana.
Nah, kira-kira persiapan apa dan makanan seperti apa yang harus dibawa saat traveling? Simak pengalaman singkat saya selama menjalankan JSR dan harus traveling beberapa hari.
1. Bawa Camilan Wajib
Makanlah apa pun yang ada di sekitarmu. Nggak usah ribet nyari ke negeri orang untuk menyantap kacang-kacangan. Jangan pula mencari yang mahal jika hanya ingin ngemil. Itulah alasan kenapa saya selalu membuat kacang tanah sangrai sendiri. Sebab kacang tanah adalah kacang-kacangan yang mudah dijumpai di sekitar kita. Pastilah Allah sangat paham dengan kebutuhan kita. Tanpa harus makan kacang almond pun, Insya Allah kebutuhan nutrisi kita telah terpenuhi.
Kalau harus mengonsumsi kacang almond yang per kilonya mencapai Rp. 200 ribu, rasanya sangat memberatkan buat saya pribadi. Solusinya, saya membuat kacang tanah sangrai sebagai pengganti dan saat ini menjadi camilan wajib yang bisa mengalihkan pandangan dari gorengan dan kerupuk. Simpel, tapi enak banget dan nggak bisa berhenti makan…haha.
Jadi, camilan wajib bagi saya adalah kacang tanah sangrai yang selalu saya buat sendiri. Sangrai kacang tanah di atas api kecil sampai krispi. Simpan dalam toples selai ukuran sedang. Percayalah, rasanya nggak buruk. Bahkan suami dan anak-anak pun doyan.
Saat lebaran, saya selalu bawa toples berisi kacang tanah ini ke mana pun. Saat orang lain makan kue lebaran, saya dengan nyaman mengunyah kacang tanah serta buah. Orang-orang sempat membicarakan pola makan saya yang mungkin bagi mereka cenderung aneh dan di luar kebiasaan. Eh, istrinya Q nggak makan nasi, cuma makan buah dan sayur. Padahal, saya juga makan daging, telur, dan ayam. Cuma mau menjelaskan juga terlalu ribet..hihi. Jadi, saya diamkan saja selama tidak mengganggu.
Kenapa harus kacang tanah sangrai? Kenapa nggak yang lainnya? Karena mudah dibuat dan mudah dibawa ke mana-mana. Rasanya bisa menggantikan makanan lain yang enak di lidah. Jujur saja, saya sama sekali tidak menyentuh kue lebaran seperti nastar dan kawan-kawannya. Terlebih kemarin di kampung mertua, sedang ada panen jeruk berlimpah. Setiap pergi ke rumah saudara, selalu ada jeruk atau kurma. Jadi, itu benar-benar real food yang bisa memanjakan lidah saya. Jika pun ingin ngemil, kacang tanah ini sudah bisa menggantikan semua yang saya inginkan. Saya sudah merasa sangat cukup dengan ini, tidak menginginkan lebih.
Nah, buat kamu, bisa jadi ada camilan lain yang mungkin lebih enak daripada kacang tanah sangrai. Yang penting, jangan hanya sekadar ikut-ikutan orang lain, jadilah diri sendiri dengan kondisi kantong sendiri juga…hihi. Bagi orang lain, ngemil kacang almond bisa jadi hal biasa dan tidak memberatkan, tetapi buat saya, bisa jadi ngunyah sambil nangis karena memikirkan harganya yang T-E-R-L-A-L-U. Mustahil saya ngemil cuma 7 butir sehari, anak-anak dan Mas pastilah pengen nyomot juga, ‘kan? Kwkwk, sekilo pastilah nggak sampai seminggu. Miris juga, ‘kan? Mending saya pakai untuk beli buah aja...haha *emak hemat dan pelit beda tipis.
2. Bawa Kurma
Kurma merupakan salah satu jenis makanan real food yang sangat bagus untuk tubuh. Seperti saat puasa, kondisi kita akan membaik setelah makan kurma karena kandungan nutrisinya yang sangat bagus. Saya pun tak pernah lepas membawa kurma ke mana-mana sejak ikut JSR. Selain bisa langsung dimakan, kamu juga bisa merendamnya menjadi infused water yang mudah. Saya mengharuskan diri membawa kurma ke mana pun. Sejak ikut JSR, saya jatuh hati pada buah dengan rasa manis ini. Padahal seharusnya sudah dari dulu, ya? 'kan sudah jelas banyak dalil yang menganjurkannya. Sayangnya, karena kebanyakan makan makanan 'aneh-aneh', lidah jadi kurang peka sama makanan sehat seperti ini. Hiks.
3. Bawa dan Konsumsi Buah-buahan
Saat pergi ke Kediri, saya bawa pisang dan jeruk. Setiap lapar, saya makan. Bahkan sepanjang perjalanan sepertinya ngunyah terus tanpa jeda. Makan kacanglah, ganti buah, begitu sampai lelah…haha. Padahal, prinsipnya JSR nggak seperti itu, ya. Makan jangan berlebihan. Karena ngantuk banget dan harus nemenin Mas tetap melek saat nyetir, alhasil saya ‘mengharuskan’ diri untuk ngunyah terus sambil nyuapin Mas…wkwk.
Makan buah itu adalah sesuatu yang paling simpel terutama saat traveling. Di jalan kita mudah menemukan buah. Di supermarket pun demikian. di hotel apalagi. Jadi, nggak ada alasan untuk makan yang lain kecuali kamu merasa sangat pengen dan percaya bisa mengontrol diri.
Waktu tiba di Gunung Kelud, semua orang makan gorengan, bakso, dan mie instan. Saya ngapain? Ngunyah nanas. Di Gunung Kelud banyak banget nanas madu yang dijual dengan harga sangat murah. Saya membeli saat di jalan menuju Gunung Kelud. Pilih yang sudah dikupas dan dipotong. Saya bisa habis sekantong…kwkwk. Masya Allah, nikmat banget.
Karena sudah menyiapkan diri sejak awal, saya pun nggak tergoda dengan mie kemasan gelas dan bakso. Dulu mungkin makanan itu bisa membuat saya happy, tetapi sekarang saya bisa mengontrol diri dan mengatakan bahwa makanan yang enak di lidah tidak selalu baik dan dibutuhkan oleh tubuh saya saat ini. Saya merasa bangga karena bisa menolak semua itu tanpa drama. Saya apresiasi niat dan keteguhan diri ini *lebay…haha. Tapi, dengan begitu saya bisa lebih semangat menjalani semuanya.
4. Pilih Menu Berbahan Sayuran Saat Mengunjungi Rumah Makan
Sebenarnya, saya nggak mewajiban diri makan pagi, siang, apalagi malam. Pagi bisa hanya dengan minum air putih hangat plus jeruk nipis. Bisa juga dengan mengonsumsi beberapa butir kurma kemudian disambung makan sore harinya.
Tapi, karena yang lain terbiasa makan tiga kali sehari, setiap mampir ke rumah makan saya pun ikut dipesankan makanan…hihi. Ibu sudah tahu kalau saya tidak makan nasi dan kawan-kawannya. Jadi, beliau selalu memesankan menu berbahan sayur seperti gado-gado atau pecel.
Meskipun dulu saya penggemar pecel dan gado-gado, tetapi sekarang saya coba menghindari bumbunya yang manis itu. Jadi, makan sayurannya saja. Bisa ditambahkan kacang tanah sangrai yang selalu saya bawa. Udah, begitu saja sangat enak buat saya.
Bisa jadi karena saya tipe ‘pemakan segala’ kwkwk, bahkan makan bayam rebus hangat-hangat tanpa apa pun bisa sangat nikmat. Jadi, nggak ada masalah soal menu makanan seperti ini.
Kamu bisa memesan tumis kangkung misalnya. Menu ini banyak dan mudah dijumpai di mana-mana. Bilang saja tanpa kecap dan gula. Supaya kamu bisa makan tanpa rasa bersalah…kwkwk.
Selebihnya, luruskan niat kamu. Alasan ingin langsing bukan sesuatu yang salah. Saya pun sangat bersyukur, bahkan setelah mudik dan mengunyah tanpa henti, berat badan saya tetap stabil bahkan turun beberapa ons ketimbang saat bulan Ramadhan kemarin. Saya bisa menurunkan total 6 kg lebih sejak April kemarin hingga sekarang. Berat badan saat ini 42,7 kg. Angka yang bahkan nggak pernah saya bayangkan bisa sangat mudah dicapai dengan cara semudah dan senyaman ini.
Mau sehat ataupun langsing, sama-sama harus dijalani dengan benar. Jangan pakai cara aneh-aneh yang justru bikin tubuh kita sakit. Saya percaya sekali, dengan pola makan ala JSR seperti yang saya terapkan saat ini, kondisi tubuh dan batin jauh lebih baik. Mood jadi lebih bagus. Semoga ke depannya saya bisa tetap istiqomah. Langsing itu memang bonus, tetapi nggak ada salahnya jika itu jadi alasan utama kamu mengubah pola hidupmu menjadi lebih baik. Suatu saat kamu akan menyadari bahwa kesehatan itu tak kalah pentingnya! Tetap bersyukur dan sehat, ya.
Salam,
Friday, May 31, 2019
Tentang Jurus Sehat Rasulullah (JSR) dan 5 Menu Real Food Super Enak Serta Mudah!
![]() |
Apa, sih, JSR itu? Kenapa banyak banget tagar JSR di mana-mana? Apa hanya saya saja yang baru tahu dan merasa JSR ini lagi nge-trend? Awalnya saya nggak paham juga, apa itu JSR? Meski sudah beberapa kali melihat video dr. Zaidul Akbar, tetap saja saya belum memahami singkatan JSR hingga saya follow akun Instagram beliau. Barulah ngeh, ternyata JSR itu adalah Jurus Sehat Rasulullah yang diambil dari judul buku dr. Zaid. Oalah…begitu…hehe.
Apa, sih, JSR Itu?
Meskipun sering dianggap diet, tetapi nyatanya JSR bukan termasuk diet, lho. Jadi apa JSR itu? Secara mudah bisa didefinisikan sebagai perubahan pola makan mengikuti sunah Rasulullah saw. Iya, kita yang biasanya makan sampai kenyang, makan ini dan itu yang ternyata nggak sehat meskipun enak di lidah, berubah menjadi makan yang apa adanya dan alami atau real food. Kita juga dianjurkan bersahabat dengan rasa lapar, karena seperti Rasulullah saw, selama hidupnya tidak pernah makan sampai kenyang. Berbeda sekali dengan kita yang seumur hidup bahkan jarang banget kelaparan.
Rasa lapar diketahui sangat berguna bagi tubuh karena bisa meningkatkan hormon HGH yang diketahui dapat membakar cadangan lemak di dalam tubuh. Jadi, adanya kewajiban berpuasa serta anjuran puasa sunah bukannya tanpa alasan. Allah paling mengerti dan memahami makhluk ciptaan-Nya. Adanya kewajiban puasa terutama dalam bulan Ramadhan pastinya sangat berkaitan dengan kesehatan kita. Sayangnya, karena salah makan, berlebihan, dan cenderung kalap ketika berbuka, ujung-ujungnya bukannya tambah sehat selama Ramadhan, malah jadi sakit atau berat badan naik.
Antara Ramadhan dan lebaran, terdapat banyak makanan yang sebenarnya justru jadi musuh bagi tubuh kita. Terutama gula. Selama Ramadhan, biasanya boros banget konsumsi gula pasir di rumah. Entah buat teh hangat, es belewah, atau camilan mengandung gula. Ketika lebaran, kue-kue yang disajikan di atas meja ruang tamu juga tak kalah manisnya, merupakan makanan yang sebenarnya tidak layak disebut makanan. Sudah diolah berlebihan dan tinggal gulanya aja. Ngeri banget, ‘kan?
Ketika saya baru belajar tentang JSR, rasanya terlihat sangat sok sehat…kwkwk. Paling ujung-ujungnya buyar semua, 'kan? Apalagi saya termasuk orang yang nggak pernah betah ikutan program diet jenis apa pun. Ada nggak yakin di awal itu pasti. Tapi, setiap hari saya antusias banget mendegarkan kajian dr. Zaid di Youtube, hingga akhirnya mulai menerapkan pelan-pelan.
Hindari 5 Jenis Makanan Ini Saat Ikut JSR
Mengingatkan kembali, ada 5 jenis makanan yang dianjurkan untuk dihindari saat ikut JSR.
- Nasi putih
- Tepung-tepungan mengandung gluten
- Minyak atau makanan yang diolah memakai minyak sawit
- Susu dan produk turunannya
- Gula
Jika kamu ingin menumis misalnya, disarankan memakai minyak kelapa. Jika ingin konsumsi gula, disarankan memakai gula aren. Jika ingin makan nasi, ganti saja dengan nasi merah. Tapi, karena sebelum ikut JSR saya sudah tidak makan nasi meski baru banget, akhirnya nggak mengganti nasi putih dengan jenis nasi yang lain juga. Tetap tanpa nasi.
Sumber karbo saya ganti dengan singkong, ubi, atau kentang. Kita juga nggak dilarang konsumsi protein hewani, hanya saja ada baiknya tidak terlalu sering. Saya pribadi tidak terlalu pengen makan ayam, daging, atau telur. Selama ikut JSR, yang paling penting adalah konsumsi sayuran. Jika mentah saya buat menjadi jus sayuran plus buah. Jika ingin konsumsi matang, saya rebus sebentar saja.
Justru dengan Ikut JSR, Hidup jadi Lebih Mudah
Karena makanan yang dikonsumsi berubah jadi simpel, akhirnya hidup kita pun jauh lebih mudah. Contohnya, saat Ramadhan, biasanya saya sibuk membuat takjil seperti kolak atau es buah. Nah, sejak ikut JSR, saya lebih suka membuat jus sayuran dan ditambah buah. Jika ingin berbeda, saya buat buah potong yang dicampur cincangan kurma, dikucuri jeruk nipis serta sedikit madu. Ini bahkan semua orang suka banget, bukan saya saja.
Terus saat berbuka makan apa aja? Makanan beratnya apa? Makan itu nggak harus berupa karbo dan lauk, ‘kan? Iya, kita mungkin terlalu terpatok sama hal semacam ini sehingga jika makan sayur saja atau buah saja jadi terasa nggak makan. Padahal, makan nggak harus seperti itu.
Saya kadang konsumsi singkong kukus, kadang saya cukup hanya dengan sayuran rebus plus buah. Jika belum sanggup makan sedikit, jangan dipaksa berubah cepat, pelan-pelan saja dan bertahap. Saya dulunya suka makan meski tubuh nggak seheboh apa gedenya…haha. Porsi makan saya banyak terutama nasi. Karena sejak kecil sudah dibiasakan makan kenyang, tapi, nggak boleh ngemil. Jadi, saat makan berat adalah hal yang paling ditunggu. Selebihnya nggak bisa jajan, ‘kan?
Nah, untuk mengubah menjadi seperti sekarang, pastinya butuh usaha banget. Dimulai dari mengurangi porsi nasi, mengubah menu menjadi lebih sederhana, hindari minuman manis (ini nggak terlalu sulit buat saya), pelan-pelan ajarkan diri kita merasa kenyang dengan makanan yang ada di depan mata (jadi, nggak perlu pengen mie instan juga…kwkwk), dan maafkan diri kamu jika memang saat mencoba masih suka nyomot bakso goreng (saya banget…haha), coba lagi. Insya Allah, setelah merasakan enaknya ikut JSR, pastilah keinginan untuk konsisten itu bakalan datang dengan sendirinya. Percayalah!
Kenapa Harus Ikut JSR?
Pastilah bukan hanya sekadar untuk gaya-gayaan. Yaiyalah, nggak bisa makan nasi padang masa dibuat gaya? Itu favorit saya banget yang sekarang sudah jadi mantan…haha. Sadar atau tidak, selama ini kita terlalu banyak mengonsumsi makanan yang bukan benar-benar makanan. Misalnya, suka minum jus dalam kemasan, itu beneran jus atau hanya berisi gula dan perasa? Kebayang, selain itu masih banyak banget makanan yang tak layak masuk ke dalam tubuh? Iya, makan mie instan nggak bikin kita mati mendadak, tetapi menimbun racun yang suatu saat akan mencelakakan kita sendiri.
Selama ini kita nggak mau membuka mata akan hal itu. Karena merasa tubuh baik-baik saja, kita pun akhirnya mencari pembenaran sendiri. Makan sedikit nggak masalah, ‘kan? Ujung-ujungnya malah terbiasa makan tanpa rasa bersalah.
Usia saya 29 tahun saat ini. Sudah mau kepala tiga. Mengingat ini, saya khawatir akan kondisi kesehatan yang pastinya akan menurun seiring berjalannya waktu. Kalau dulu kita bisa makan mie instan tanpa khawatir kolesterol dan ini itu, berbeda ketika usia kita sudah lebih dewasa, kondisi tubuh akan menurun sehingga pada akhirnya nggak bakalan kuat juga menghadapi cobaan seperti itu setiap saat.
Keanyataannya juga, kita sering menyaksikan dengan mata sendiri, orang sakit struk atau penyakit tidak menular lainnya terjadi bukan hanya pada mereka yang berusia lanjut atau lansia, melainkan juga dialami oleh orang yang usianya masih terbilang sangat muda. Salah siapa? Apa yang salah dalam hidup kita sehingga banyak terjadi masalah seperti ini? Pernah mikir begitu nggak, sih?
Dengan ikut JSR, kita bisa memperbaiki semuanya. Karena semua masalah kebanyakan datang dari sistem pencernaan yang kurang baik. Pencernaan yang kurang baik menimbulkan banyak masalah baru dalam hidup kita. Padahal ini sudah diatur juga dalam Islam, lho. Saya saja yang masih mengabaikan dan lalai. Dzalim sekali sama badan sendiri. Sedih dan miris.
Dimulai dari makan hanya real food, makanan yang tumbuh di tanah, disinari matahari. Kemudian sering berpuasa sunah, makan tidak berlebihan, dan perbaiki niat. Sebab JSR bukan diet. Jadi, niatkan untuk taat pada apa yang Allah perintahkan, sehat itu adalah hasil dari ketaatanmu.
Setelah ikut JSR, banyak yang akhirnya sehat dari diabetes, susah hamil, qadarallah bisa hamil, langsing pun sudah pasti. Sebab, jika kita sudah makan real food, berat badan akan normal dengan sendirinya.
5 Menu Real Food yang Sehat dan Mudah Dibuat
Karena mencoba itu tidak akan selalu mudah, maka sejak awal kamu harus pandai-pandai mencari tahu menu yang cocok untuk dirimu sendiri. Kalau masih suka ngemil, selain buah, adakah camilan sehat lain yang masih bisa dikonsumsi? Saat ini, banyak banget yang sudah berkreasi dengan catatan tetap pada jalur JSR. Karena meski tak makan nasi, sejatinya makanan lainnya tetap nikmat parah…hihi. Apalagi jika sudah terbiasa makan tanpa gula dan garam, makanan alami akan terasa banget ‘rasa aslinya’ di lidah.
Di bawah ini saya mau berbagi beberapa menu atau camilan yang bisa dicoba bagi kamu yang ikut JSR.
1. Kacang Tanah Sangrai
Percayalah, kacang tanah sangrai ini tak kalah dengan kacang almond…hihi. Jika telaten, kamu bisa buang kulitnya supaya tidak ada rasa getir. Karena malas, saya tidak membuangnya…hehe. Bikinnya mudah banget, cukup taruh kacang tanah tanpa kulit di atas teflon atau penggorengan, nyalakan api kecil saja. Aduk-aduk terus sampai kacang krispi dan jangan sampai gosong, ya. Harus sabar supaya kacangnya tetap cantik tapi krispi.
2. Jus Sayur dan Buah
Jika makan sayuran sebaskom terasa tidak mudah, ada baiknya kamu menjadikannya sebagai jus supaya lebih mudah dikonsumsi. Jangan buru-buru eneg melihat jus berwarna hijau, sebab jika ditambah sebutir apel atau nanas, rasanya akan sangat enak. Percaya!
Jus ini bisa kamu kreasikan sendiri. Saya biasa memakai apel, tomat, sayuran hijau seperti bayam atau pokcoy, mentimun, seledri, belimbing, atau apa pun yang ada di sekitar kita. Kamu bisa menambahkan sedikit madu dan garam Himalaya atau him salt. Saya pribadi, cukup jus saja tanpa tambahan apa pun, rasanya sangat enak, kok.
3. Terancam
Buat saya, makan terancam adalah sesuatu yang istimewa banget. Ketika pertama kali mencium aromanya, langsung terbawa pada suasana rumah dan melihat orang tua. Ini makanan zaman saya kecil, terutama ada saat Ramadhan karena Bapak suka banget.
Dan menu ini nggak masalah dimakan karena sesuai dengan jalur JSR…kwkwk. Saya pakai kelapa parut (masih muda), tempe kukus, sayuran seperti mentimun, kemangi, atau sayur rebus seperti bayam. Bumbunya cukup pakai bawang merah dan kencur bakar. Haluskan bumbu, beri sedikit garam Himalaya, masukkan kelapa parut dan tempe kukus, campur dan penyet-penyet tempenya, masukkan sayuran. Sesimpel ini.
Kalau makan terancam, saya tidak menambah karbo lagi. Karena saya makan sayur agak banyakan dan pasti udah kenyang.
4. Takjil Simpel dengan Potongan Buah
Coba ganti es buah atau kolak dengan menu satu ini. Cukup potong-potong semangka, bisa tambahkan melon, kemudian taburi cincangan kurma, kucuri jeruk nipis, dan beri sedikit madu. Jika mau, boleh tambahkan garam Himalaya. Aduk dan konsumsi dingin. Segar sekali, lho.
5. Infused Water
Tidak setiap kita merasa lapar menandakan kita benar-benar lapar, lho. Bisa jadi itu sinyal kalau kita butuh cairan. Karena itu, coba banyak minum air, terutama air rendaman buah, sayur, dan rempah.
Dr. Zaid senang banget berbagi resep infused water, lho. Sejak ikut JSR, saya pun jadi senang sekali minum infused water. Saat sahur, saya hanya minum air rendaman kurma (pakai 3 butir kurma). Rasanya masih bertenaga sampai berbuka, Masya Allah.
Pilih Buah Lokal
Pasti kamu juga sudah tahu, buah lokal kondisinya lebih segar dibanding dengan buah impor. Minim juga obat atau lilin yang dibuat sebagai pengawet buah biar tidak mudah busuk.
Banyak faktor kenapa kita disarankan memilih buah lokal. Selain membantu petani di negeri sendiri, buah lokal juga terjangkau dan mudah dicari. Allah pasti paham banget dengan kondisi tubuh kita. Sayur dan buah yang tumbuh di sekitar kita diciptakan berbeda dengan di tempat lain pastilah sudah disesuaikan juga dengan kebutuhan. Masa iya, nyari vitamin C aja harus nyari buah dari Belanda? Nggak banget, ‘kan? Ini contoh aja...kwkwk.
Karena itu, biasakan mencari buah lokal saja. Gizinya tak akan kalah dengan yang impor. Dan pastinya sesuai dengan kantong. Ada apa saja? Ada salak, jambu merah, tomat, mentimun, apel malang, dan masih banyak lagi.
Ganti Garammu
Saat menjalankan JSR, boleh kita mengurangi penggunaan garam atau menggantinya dengan garam himalaya. Garam ini jadi hits seiring dengan meningkatnya kesadaran banyak orang akan pentingnya menjaga gaya hidup sehat. Harganya memang tidak semurah garam dapur yang biasa kita konsumsi, tapi soal manfaat, garam sehat jauh lebih unggul pastinya.Manfaat garam himalaya untuk melawan infeksi bisa kita dapatkan dengan mengonsumsinya dalam menu sehari-hari. Saya biasa mencampurkan sedikit garam himalaya ke dalam jus buah dan sayuran yang biasa saya konsumsi setiap pagi. Rebusan air jahe plus madu juga cocok ditambahkan garam himalaya, lho.
Garam himalaya diketahui mengandung antimikroba yang dapat meningkatkan daya tahan tubuh serta membantu tubuh kita melawan infeksi. Luar biasa sekali, kan manfaatnya :)
JSR Bisa Berhasil Jika Didukung Kondisi Hati yang Bersih
Katanya percuma makan sehat, tetapi batin dan hati kita kotor. Tetap nggak bakalan sehat. Hiks. Jadi, jika ikut JSR, hati kita pun harus dikelola supaya tetap bersih, positif, dan banyak bersyukur. Sering kali kita kebanyakan mengeluh, ‘kan, ya? Malu lama-lama jika mengeluh dijadikan kebiasaan, hingga kita lupa nikmat lain jauh lebih besar.
Mengeluh bukan hanya perkara kurang bersyukur, melainkan termasuk dosa, lho. Saya pernah mengikuti kajian dan membahas soal ini. Ternyata mengeluh itu buruk sekali. Tapi, kenapa malah jadi kebiasaan yang tidak ada habisnya kita lakukan?
Meski tidak ikut JSR, ada baiknya kita kurangi mengeluh. Banyakin bersyukur, sebab dengan bersyukur, hidup jadi lebih indah. Cobain, deh.
Bersih hati juga bisa meliputi bersih dari rasa iri dengki. Kita yang diperlakukan demikian pun jangan nelangsa kebangetan. Kita masih punya Allah, yang iri sama kita mungkin dapat mengusik ketenangan hati, tetapi sejatinya tidak mengubah apa pun di sisi Allah. Kalau kitanya baik, sudah pasti tetap akan baik di mata Allah.
Ada baiknya kita mulai mengikuti pola hidup sehat seperti yang diajarkan oleh Rasulullah saw, dan mulailah memperbaikin kondisi hati supaya tidak gampang sakit hati. Memang tidak mudah, saya pribadi pun belum sepenuhnya bisa. Tapi, sejak ikut JSR, rasanya semua lebih baik.
Dr. Zaid pun pernah mengatakan bahwa mood seseorang, baik buruknya bisa dipengaruhi juga oleh makanan yang dikonsumsi. Karena itu, cobalah makan makanan yang baik dan real food, dan clean food. Pikirkan makanan apa yang dibutuhkan oleh tubuh kita, bukan hanya makanan yang sekadar kita inginkan saja.
Salam sehat,
Mengeluh bukan hanya perkara kurang bersyukur, melainkan termasuk dosa, lho. Saya pernah mengikuti kajian dan membahas soal ini. Ternyata mengeluh itu buruk sekali. Tapi, kenapa malah jadi kebiasaan yang tidak ada habisnya kita lakukan?
Meski tidak ikut JSR, ada baiknya kita kurangi mengeluh. Banyakin bersyukur, sebab dengan bersyukur, hidup jadi lebih indah. Cobain, deh.
Bersih hati juga bisa meliputi bersih dari rasa iri dengki. Kita yang diperlakukan demikian pun jangan nelangsa kebangetan. Kita masih punya Allah, yang iri sama kita mungkin dapat mengusik ketenangan hati, tetapi sejatinya tidak mengubah apa pun di sisi Allah. Kalau kitanya baik, sudah pasti tetap akan baik di mata Allah.
Ada baiknya kita mulai mengikuti pola hidup sehat seperti yang diajarkan oleh Rasulullah saw, dan mulailah memperbaikin kondisi hati supaya tidak gampang sakit hati. Memang tidak mudah, saya pribadi pun belum sepenuhnya bisa. Tapi, sejak ikut JSR, rasanya semua lebih baik.
Dr. Zaid pun pernah mengatakan bahwa mood seseorang, baik buruknya bisa dipengaruhi juga oleh makanan yang dikonsumsi. Karena itu, cobalah makan makanan yang baik dan real food, dan clean food. Pikirkan makanan apa yang dibutuhkan oleh tubuh kita, bukan hanya makanan yang sekadar kita inginkan saja.
Salam sehat,
Wednesday, May 29, 2019
Belajar Ilmu Parenting Langsung dari Syeh Salim, Hafidz Muda dari Gaza yang Datang Langsung ke Indonesia
![]() |
| Photo by Kelli McClintock on Unsplash |
Berbeda dari tahun sebelumnya, syeh yang dulu datang cenderung pemalu. Bisa jadi karena beliau masih remaja, yakni berusia 20an lebih sedikit. Sedangkan yang datang tahun ini kalau tidak salah usianya sudah 30an. Di atas saya satu tahun saja. Bukan hanya hafidz, beliau juga sudah menempuh pendidikan S3, lho. Wah, bikin takjub, Masya Allah.
Biasanya, syeh yang datang dari Palestina lebih banyak bercerita tentang kondisi di sana. Bagaimana kejamnya Israel, bagaimana kondisi mereka dan keluarga. Saya membayangkan, tahun ini pun tak akan jauh berbeda. Sebab mereka tinggal di tempat yang sama, ‘kan?
Siapa sangka jika syeh Salim justru bicara soal parenting. Awalnya beliau merasa senang melihat anak asuh pesantren tahfidz yatim dan dhuafa yang dikelola oleh majelis taklim kami ikut hadir di sana. Bahkan ada seorang santri sudah menamatkan hapalannya hingga 30 juz. Selain itu, beliau juga senang saat mendengar kami belajar bahasa Arab setiap minggu demi mendalami Alquran.
Dari sana bisa jadi beliau akhirnya bicara soal parenting. Tentang kita yang sangat sibuk dengan urusan dunia. Yang sangat jarang sempatnya untuk mengurusi pendidikan anak-anak, misalnya mengajari mereka menghapal Alquran. Kata beliau, manusia sibuk itu adalah hal wajar. Kita sibuk nyuci baju, setrika, masak, dan sibuk dengan pekerjaan lain adalah hal lumrah, kok. Tapi, sebisa mungkin kita maksimalkan waktu antara Magrib ke Isya’ untuk membantu mereka menghapalkan Alquran.
Tahapan Mendidik Anak-anak Hingga Dewasa
Kalau kita membaca artikel parenting pasti sudah biasa, ‘kan? Hmm, tapi, kalau yang membahas langsung seorang Hafidz dari Gaza, kayaknya ini ‘beda’ dan menarik sekali. Meski apa yang disampaikan pernah juga saya pelajari di beberapa artikel parenting, tapi, ada poin lebih yang tidak bisa kita dapatkan kecuali dari apa yang beliau sampaikan kemarin.
Mendidik anak-anak soal agama tidak harus dimulai sejak mereka mengerti (seperti usia sekolah). Justru mulailah sejak dini. Meskipun mereka masih kecil (usia balita), tapi jangan remehkan hal itu. Tanamkan ilmu agama dengan mengenalkan kalimat tauhid. Walaupun mereka belum bisa bicara, belum dapat menirukan apa yang kita ucapkan, tetapi hal itu tidak akan sia-sia, lho.
Lalu, tahapan apa yang perlu kita lakukan saat mendidik anak-anak dari usia 0-21 tahun?
1. Usia 0-7 Tahun, Ajari Mereka dengan Kasih Sayang
Sebelum usia 8 tahun adalah masa emas bagi pertumbuhan anak kita. Maksimalkan usia 0-7 tahun dengan mengenalkan mereka pada pendidikan agama. Mulailah dari mengajari mereka hal-hal sederhana seperti membaca basmalah hingga shalat.
Usia 0-7 tahun tidak perlu dipaksakan. Biarkan berjalan alami dan menyenangkan. Kamu pasti paham, meskipun kita ingin anak-anak mengerti ilmu agama bahkan hingga menghapal Alquran, tetapi jangan sekali-kali rebut waktu bermain mereka. Ya, mereka tetap harus bermain seperti anak-anak lainnya. Itu sesuatu yang wajar dan pastinya dibutuhkan juga.
Kalau saya pribadi, mengajarkan Alquran bukan dipaksa belajar membaca huruf hijaiyah, melainkan lebih banyak memperdengarkan murattal Alquran dan diulang-ulang. Anak usia dini memang tajam sekali ingatannya. Mereka bahkan bisa menirukan kebiasaan kita tanpa perlu dilatih sebelumnya, cukup dengan melihat saja. Karena itu, penting bagi kita untuk berhati-hati dalam bersikap. Jangan sampai salah memberikan contoh pada mereka.
2. Usia 7-14 tahun, Ajak Mereka dan Beri Hukuman Ringan Jika Melanggar
Kalau mereka tidak mau shalat padahal mereka sudah paham bahwa shalat itu wajib, nggak masalah memberikan hukuman bagi mereka. Yang pasti hukuman itu bersifat ringan dan tidak menyiksa.
Tapi, jika sejak awal kita sudah membantu mereka melakukan semuanya dengan baik dan menyenangkan, Insya Allah ke depannya pun nggak akan susah buat mereka menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Iya, ‘kan?
Kalau kita terlalu keras pada anak-anak, sudah bisa dipastikan mereka melakukan apa yang disuruh hanya karena takut dan takut. Jika tidak ada orang tua, mereka dengan santai melanggarnya. So, jangan jadi musuh bagi anak-anak. Jadilah teman dan pendengar yang baik.
3. Usia 14-21 Tahun, Berdiskusi dan Jadilah Teman Mereka
Jika kita menemukan teman yang tepat, pasti mau curhat pun nggak akan sungkan, ya? Semua beban bisa dikeluarkan tanpa aling-aling. Nah, maka seperti itulah kita seharusnya memosisikan diri saat anak-anak berusia 14-21 tahun.
Syeh Salim menitikberatkan pendidikan agama dan mengajari mereka menghapal Alquran sejak dini. Kenapa kita harus mengajari mereka menghapalkan Alquran? Sebab banyak sekali keistimewaan yang didapat.
Suatu saat, Alquran itulah yang akan menuntun mereka menjadi anak yang shaleh dan taat. Alquran itu pula yang akan menyelamatkan dunia dan akhirat mereka. Alquran itu juga yang kelak bisa memberikan syafaat kepada penghapalnya dan orang-orang terdekatnya (seperti orang tua).
Syeh Salim sempat bercerita, ada orang tua yang telah meninggal. Kemudian Allah naikkan derajatnya. Orang tua tersebut kaget, amalan apa yang membuatnya seperti itu? Ternyata itu berkat anaknya yang shaleh dan penghapal Alquran. Derajat orang tuanya naik lagi dan lagi. Masya Allah.
Kalau dipikir, kita di dunia hanya sebentar. Kematian itu pasti adanya. Tidak bisa dipilih apalagi ditunda. Semua akan menemui kematian. Tapi, selama hidup, kita diberikan banyak pilihan. Mau ngapain aja di dunia? Sekadar bersenang-senang atau berpeluh-peluh menjadikan anak-anak kita shaleh dan sekaligus menjadi penghapal Alquran? Pilihan itu ada di tangan kita.
Buat menghapalkan Alquran pastilah bukan hal yang mudah terlebih kalau di rumah saya, saya dan suami bukan seorang hafidz dan hafidzah. Saya pribadi memang tidak mendaftarkan si sulung untuk ngaji di TPQ. Selain jarak yang lumayan dengan kondisi saya yang tidak bisa mengendarai motor sendiri (memalukan..hehe), saya juga terbiasa seperti ibu saya dulu, mengajari anak-anak ngaji di rumah. Alhamdulillah, meskipun begitu, pendidikan Alquran di sekolah si sulung sangat maksimal. Itu adalah kelebihan tersendiri yang pada akhirnya membantunya menghapalkan Alquran pelan-pelan. Di usianya yang saat ini 8 tahun lebih, dia sudah hampir menyelesaikan hapalan juz 30. Masya Allah tabarakallah, baru satu juz aja sudah membuat orang tuanya bahagia banget, gimana yang usia segitu sudah hapal 30 juz?
Syeh Salim sempat bicara begini, kita tuh terbiasa memusingkan soal makanan anak-anak, “Udah makan belum mereka?”, “Hari ini mereka makan apa, ya?”, tetapi kita tidak pernah khawatir ketika mereka belum mengaji seharian? Miris banget dan nampar muka saya langsung.
Alquran itu penting. Alquran yang akan menuntun mereka. Jika sejak dini kita didik mereka dengan benar, mengajarkan Alquran hingga mereka dewasa, ketika mereka pergi dari rumah untuk menyelesaikan pendidikan, jangan khawatirkan mereka lagi, Insya Allah mereka akan berpegang teguh pada apa yang kita ajarkan dulu.
Jika ingin anak kita sukses, jangan sibuk menjadikannya dokter dulu, arsitek dulu, tapi bantu dia menghapalkan Alquran dulu. Barulah mereka akan dengan mudah mengejar profesi lain yang diinginkannya.
Semoga kelak kita menjadi orang tua yang mampu mencetak anak-anak generasi Qurani, ya. Meskipun tidak akan mudah, setidaknya kita harus berusaha dan pantang menyerah.
Salam,
Thursday, May 23, 2019
Trik Menghindari Makan Nasi, Dibikin Enjoy dan Menyenangkan Aja!
![]() |
| Trik menghindari nasi :) |
Sudah nggak fokus mau ngapain di rumah, perasaan sama pikiran sudah mudik duluan ke kampung halaman. Apakah kamu merasakan hal yang sama? Akhirnya kegiatan beberapa minggu ini hanyalah ngeblog. Sementara naskah buku dan yang lain disimpan dulu. Kembali serius Insya Allah nanti setelah lebaran.
Kali ini saya mau bahas tentang trik bagaimana cara bisa menghindari nasi. Sebenarnya nggak ada cara khusus selain kemauan yang kuat, tetapi dalam prosesnya saya melakukan banyak tahapan yang mungkin tidak orang ketahui. Meski saya pemula banget dalam hal ini, baik soal OCD, diet kenyang, dan JSR (Jurus Sehat Rasulullah), tetapi saya pengen banget berbagi pada teman-teman. Saya ingin manfaat yang saya dapatkan bisa teman-teman rasakan juga.
Nah, tahapan-tahapan itulah yang ingin saya bagikan, berharap orang-orang yang membutuhkan bisa ikut praktik dan semoga berhasil memulai hidup sehatnya.
Kenapa Harus Menghindari Makan Nasi?
Jika kamu mengikuti OCD, makan apa pun itu diperbolehkan. Nggak ada larangan bahkan yang berlemak sekalipun. Bebas! Tapi, makan hanya pada jendela makan yang sudah kamu tentukan sendiri waktunya.
Sedangkan untuk diet kenyangnya Dewi Hughes, kamu benar-benar harus menghindari nasi. Nah, dari sini saya mempelajarinya. Dewi Hughes sama sekali tidak konsumsi nasi, baik nasi merah, hitam, atau apa pun jenisnya. Karena ketika kamu makan nasi merah misalnya, nantinya kamu bakalan tergoda untuk makan nasi-nasi yang lain. Nah, dikhawatirkan malah kamu sendiri yang melanggar pantangan dalam diet ini. Lagian, karbo itu nggak harus dari nasi, kok. Masih banyak jenis karbo lain yang tentunya lebih menyehatkan.
Kenapa harus meninggalkan nasi terutama nasi putih? Seperti kamu ketahui, nasi putih yang sekarang kita konsumsi sudah tidak lagi memiliki serat dan zat gizi lainnya. Ya, bahkan kandungan glukosanya tinggi banget. Itulah kenapa dokter menyarankan penderita diabetes menghindari nasi. Alasannya karena nasi putih yang cantik, wangi, dan putih di atas meja makan kita tidak baik bagi kesehatan.
Berbeda dengan nasi yang biasa dikonsumsi orang-orang zaman dulu, masih ada kulit arinya, seperti beras pecah kulit kalau nggak salah istilahnya. Karena alasan kesehatan, saya pun mencoba menghindari nasi terutama nasi putih. Jika saya ingin konsumsi nasi di suatu hari (yang entah kapan…hehe), saya lebih memilih makan nasi jagung murni, deh. Tapi, selama menghindari nasi beberapa hari terakhir, masih belum ingin makan nasi.
Jika kamu mempelajari JSR atau Jurus Sehat Rasulullah dari dr. Zaidul Akbar, kamu akan menemukan alasan yang sama seperti yang saya jelaskan sebelumnya, bahwa beliau menganjurkan kita menghindari konsumsi nasi karena alasan kesehatan. Terutama menghindari nasi putih. Sedangkan untuk beras merah dan beras yang masih kaya akan gizi, masih dibolehkan, kok.
Karena dalam JSR kita tidak disarankan kenyang (seperti kebiasaan Rasulullah yang seumur hidupnya tidak pernah kenyang), maka tanpa nasi pun rasanya tetap oke bagi saya. Iyap! Saya mencoba untuk makan makanan sederhana, nggak usah banyak jenisnya, dan penting untuk tidak berlebihan. Sekadar bisa membuat kita kuat berkativitas seharian.
Karena menahan lapar itu sebenarnya bukan hal yang buruk. Itulah kenapa OCD tetap efektif dilakukan meskipun kamu masih dapat makan nasi padang, sebab menahan lapar atau puasa mampu meningkatkan hormon HGH yang diketahui dapat membakar cadangan lemak dalam tubuh.
Tahapan Menghindari Makan Nasi
Mustahil dong saya yang suka makan nasi tiba-tiba berhenti sama sekali tanpa tahapan tertentu sebelumnya. Sejak awal ikut OCD, saya nggak pernah kaku sama diri sendiri. Saya nggak mau grasak grusuk ambil keputusan sehingga di kemudian hari dikhawatirkan malah balas dendam dan ujung-ujungnya malah berdampak lebih buruk. Nggak banget, ‘kan?
Karena itu, saya longgar aja dalam menjalankan OCD. Kadang masih kecolongan makan di luar jendela makan, kadang makan berlebihan. Tapi, kayaknya untuk kali ini komitmen buat lebih sehat dan nurunin BB jauh lebih besar ketimbang sebelumnya, sehingga saat saya menjalankannya dan sesekali melanggar, saya balik lagi ke awal. Alasan lainnya bukan hanya karena komitmen untuk hidup lebih sehat, tetapi juga karena sudah merasakan manfaatnya. Badan enteng dan lebih fit.
Baik OCD, diet kenyang, dan JSR, semua saya ketahui memang membuat kita lebih sehat. Setelah BB turun, masa iya, mau diet terus? Ya, nggak. Tapi, kalau mau sehat terus? Itu sudah pasti. Karena itulah, meski di awal rasanya agak berat, suka lapar tiba-tiba, tapi tetap dijalankan.
Lalu bagaimana tahapan menghindari makan nasi seperti yang saya lakukan sampai benar-benar berhenti? Pertama saya ikut OCD, artinya saya sudah belajar mengurangi makan dan ngemil. Saya hanya makan sekitar pukul 11 siang sampai jam 1 siang. Kadang pilih jam 12 sampai jam 3 siang. Nggak konsisten banget pokoknya…kwkw. Tapi, saya tetap pakai jendela makan.
Setelah beberapa hari menjalankan OCD, kondisi tubuh sudah menyesuaikan diri, sudah jarang merasa lapar. Dari situ saya coba kurangi nasi jadi 3 sdm aja sehari. Meskipun dalam OCD dibolehkan makan berat atau ngemil lebih dari sekali, tetapi saya, kok lebih suka makan berat dan ngemil sedikit dalam satu waktu saja, selebihnya hanya minum air putih. Kalau teman-teman ikut jendela makan 8 jam, teman-teman bisa aja makan berat dua kali. Dan itu nggak masalah. Justru memang harusnya bertahap dulu, dari 8 jam, 6 jam, 4 jam, dan puasa 24 jam atau hanya makan sekali saja.
Nah, setelah melalui proses itu, saya akhirnya memberanikan diri menghindari nasi. Ya, sama sekali nggak makan nasi. Dan itu nggak berat sebenarnya mengingat sebelumnya sudah makan nasi dalam porsi kecil. Dari tahap inilah akhirnya benar-benar nggak makan nasi selama dua mingguan terakhir.
Sebenarnya, yang menggoda banget itu bukan makan nasi buat saya, lho. Justru gorengan atau menu yang digorenglah yang sangat menggoda iman, Sodaraah…kwkwk. Beneran. Saya hobi banget masak. Bikin bakso, terus digoreng kering, bikin sambal. Setelah itu saya hanya bisa menyaksikan gitu? Mana tahan, ‘kan? Akhirnya ambil satu, kemudian dua, kemudian menyesal…haha. Saya yakin, teman-teman pun mampu menghindari makan nasi jika memang ingin. Selain melakukan tahapan tersebut, teman-teman juga harus senang mendengarkan video-video dr. Zaid atau Dewi Hughes. Sugesti itu penting biar kita tetap semangat, apalagi jika hanya saya yang menerapkan ini di rumah. Kebayang dong tiap hari saya makannya beda sama yang lain? Kwkwk. Dan isengnya si Mas, nyodorin Indomie goreng ijolah, es pisang ijolah. Dih, mana tergoda, Mas...kwkwk *sambil nelen ludah.
Sumber Karbohidrat Pengganti Nasi
Nah, setelah menghindari nasi, lalu makan apa coba yang bisa mengenyangkan? Kamu bisa mencari sayuran penuh serat dan tak kalah mengenyangkan. Bisa kentang, ubi, bahkan pisang rebus pun oke.
JSR atau Jurus Sehat Rasulullah sebenarnya berbeda dari OCD dan diet kenyang. Sebab JSR bukan diet, melainkan mengubah pola makan kita menjadi seperti apa yang dicontohkan oleh Rasulullah saw. Selama menjalani JSR, kita boleh makan apa aja asalkan real food, alami, yang tumbuh di tanah dan disinari matahari langsung. Dari JSR, justru saya nggak mau ribet soal makan. Nggak harus begini dan begitu. Yang penting hindari 5 jenis makanan yang sebelumnya pernah saya sebutkan, yakni nasi, gula, gluten pada tepung-tepungan, makanan yang diolah pakai minyak, dan produk dari susu. Jadi, masih bisa makan garam juga. Karena itu saya sempat beli garam Himalaya untuk dikonsumsi sehari-hari.
Saat berbuka makan apa aja, nih? Kadang saya rebus kentang, ubi, edamame, pisang, sayur itu wajib banget. Kalau tidak minum jus sayur dan buah, saya pilih makan buah potong. Menu lain yang bisa teman-teman coba adalah trancam. Dibuat dari parutan kelapa, mentimun, tempe kukus, cabai, bawang merah dan kencur bakar. Simpel, tapi ini favorit saya banget, lho.
Kalau saya pribadi, prinsipnya konsumsi apa yang ada di rumah. Nggak usah ribet-ribet nyari ini dan itu. Jika ada rempah-rempah seperti kunyit dan jahe, gunakan saja untuk infused water. Enak, kok dan pastinya bermanfaat juga bagi tubuh. Jika ada sayur dan buah, kamu bisa gunakan juga untuk direndam dan diminum airnya atau dibuat jus. Apa pun itu, nikmati dan seperti kata Dewi Hughes, ajak ngobrol makananmu, lebih tepatnya berdoa dulu, semoga makanan itu menyehatkan badanmu dan selalu bersyukur. Sebab itu adalah nikmat.
Jika pola makan kita sudah bagus, berat badan bakalan turun dengan sendirinya meskipun kita nggak sering olahraga. Bahkan menurut dr. Zaid, olahraga itu hanya berpengaruh sebanyak 20% saja, lho. Sisanya makanan yang kita konsumsi.
Rasulullah saw sudah mencontohkan seperti apa seharusnya kita menyikapi makanan. Tidak mengeluh, tidak mencela atau memuji berlebihan, makan secukupnya, menu sederhana, berpuasa, tidak pernah kenyang apalagi kekenyangan. Dengan cara seperti itu, Insya Allah kita akan jadi muslim yang sehat, bukan sekadar gemuk, tetapi gampang ngantuk *duh, gueh banget…kwkwk.
Setiap kita melanggar sunah Rasulullah saw, akan timbul masalah baru. Begitu juga ketika kita taat pada apa yang diperintahkan dan dicontohkan, sehat adalah efek, bukan tujuan. Jadikan ketaatan itu sebagai tujuan kita. Insya Allah kita akan tumbuh menjadi muslim yang sehat, kuat, dan maksimal dalam beribadah. Aamiin.
Salam,
Kebiasaan-kebiasaan yang Bisa Membantu Menurunkan Kolestrol
Kita semua tentu sepakat bahwa tubuh yang sehat menjadi hal yang sangat berharga. Sebab, saat tubuh kita sehat, kita bisa menjalani berbagai aktivitas secara lebih mudah. Tapi, sayangnya tidak selamanya kita bisa berada dalam kondisi kesehatan terbaik. Karena, seringkali penyakit hadir begitu saja dan menyerang sistem kerja dalam tubuh manusia.
Kebanyakan penyakit muncul karena pola makan kurang baik dan tidak terjaga. Banyak orang yang makannya sembarangan, padahal gula darah di dalam tubuhnya sudah tinggi. Sudah kena diabetes, nggak mau jaga pola makan, masih punya beberapa jenis penyakit lain seperti kolesterol dan asam urat. Kebayang berat banget kalau kitanya nggak mau jaga pola makan.
Padahal, dari pola makan yang diperbaiki saja, kita bisa sembuh dengan sendirinya, lho. Hanya saja, untuk menjaga pola makan dan mulai mengerem keinginan makan macam-macam tentu sulitnya minta ampun. Mana bisa nggak makan mie instan? Mana bisa nggak makan gorengan lagi, kan ini enak banget dan susah ditolak? Dan seabreg alasan lain yang membuat kondisi tubuh malah semakin memburuk saja :(
Bersyukur banget, Ibu saya mulai mengerti bahwa menjaga kesehatan di masa tua tak terllau rumit sebenarnya asal kita mau jaga pola makan dan konsumsi makanan lebih sehat. Dan itulah yang Ibu lakukan selama setahun terakhir. Awalnya kecanduan sama obat hipertensi, kemudian mulai lepas dan nggak konsumsi setiap hari. Saya yakin, semua orang bisa mendapatkan kondisi tubuhnya yang sehat dengan cara sederhana seperti yang saya contohkan barusan.
Kebanyakan penyakit muncul karena pola makan kurang baik dan tidak terjaga. Banyak orang yang makannya sembarangan, padahal gula darah di dalam tubuhnya sudah tinggi. Sudah kena diabetes, nggak mau jaga pola makan, masih punya beberapa jenis penyakit lain seperti kolesterol dan asam urat. Kebayang berat banget kalau kitanya nggak mau jaga pola makan.
Padahal, dari pola makan yang diperbaiki saja, kita bisa sembuh dengan sendirinya, lho. Hanya saja, untuk menjaga pola makan dan mulai mengerem keinginan makan macam-macam tentu sulitnya minta ampun. Mana bisa nggak makan mie instan? Mana bisa nggak makan gorengan lagi, kan ini enak banget dan susah ditolak? Dan seabreg alasan lain yang membuat kondisi tubuh malah semakin memburuk saja :(
Bersyukur banget, Ibu saya mulai mengerti bahwa menjaga kesehatan di masa tua tak terllau rumit sebenarnya asal kita mau jaga pola makan dan konsumsi makanan lebih sehat. Dan itulah yang Ibu lakukan selama setahun terakhir. Awalnya kecanduan sama obat hipertensi, kemudian mulai lepas dan nggak konsumsi setiap hari. Saya yakin, semua orang bisa mendapatkan kondisi tubuhnya yang sehat dengan cara sederhana seperti yang saya contohkan barusan.
SBTW, salah satu penyakit yang perlu diwaspadai adalah kolestrol. Kolestrol biasanya hadir karena kebiasaan yang kita lakukan sehari-hari. Kolestrol dalam tubuh perlu diwaspadai agar tidak mengganggu sistem kerja tubuh lainnya. Lalu, bagaimana cara mencegah kolestrol? Berikut ini beberapa cara menurunkan kolestrol yang bisa Anda lakukan setiap harinya.
Bebas stres
Tingkat stress yang Anda rasakan tidak hanya mengganggu psikis atau mental saja, tapi juga dapat mengganggu kesehatan tubuh Anda. Sebab, ketika Anda mengalami stress yang berkepanjangan, maka secara tidak langsung kadar kolestrol dalam tubuh juga akan meningkat. Sehingga, bisa dikatakan kondisi mental memiliki pengaruh yang besar terhadap kesehatan tubuh Anda terutama dalam hal menjaga kandungan kolestrol dalam tubuh.
Agar kolestrol dalam tubuh Anda tetap terjaga, maka sebaiknya mulailah kurangi tingkat stress dalam rutinitas harian Anda. Alihkan hal-hal yang bisa membuat stress dengan melakukan aktivitas yang menyenangkan seperti berolahraga, mendengarkan musik atau bermain. Dengan menghindari stress, tubuh akan menjadi lebih sehat dan kadar kolestrol dalam tubuh pun bisa terjaga. Sebelum lanjut, kunjungi laman berikut https://www.frisianflag.com/ terlebih dahulu, ya.
Memperhatikan pola makan
Jika ingin mencegah kolestrol dalam tubuh, maka makanan jadi hal terpenting yang perlu Anda waspadai. Sebab, saat Anda mengonsumsi makanan yang berbahaya maka kadar kolestrol dalam tubuh dapat meningkat secara tajam. Sehingga, Anda sangat dianjurkan untuk memperhatikan betul pola makan sehari-hari agar kadar kolestrol dalam tubuh tetap terjaga.
Untuk menjaga kadar kolestrol dalam tubuh, maka sebaiknya hindari makanan yang memiliki lemak tinggi atau yang digoreng. Sebab, saat Anda menggoreng makanan maka secara tidak langsung minyak yang digunakan untuk menggoreng dapat memicu kolestrol dalam tubuh. Konsumsi makanan yang lebih sehat seperti sayuran atau makanan-makanan yang dikukus. Sehingga, kadar kolestrol dalam tubuh terjaga dan Anda pun dapat menjalani hidup secara lebih sehat.
Salam,
Subscribe to:
Posts (Atom)
Hey there!
Part of

%20Pengalaman%20Berkesan%20Saat%20Menginap%20di%20Grand%20Surya%20Hotel%20Kediri.jpg)
%20Pengalaman%20Berkesan%20Saat%20Menginap%20di%20Grand%20Surya%20Hotel%20Kediri%20(1).jpg)





