Sunday, November 4, 2018
Ini yang Harus Kamu Lakukan Ketika Hak Sebagai Penulis Tidak Dipenuhi
Pernah nggak nulis artikel tapi fee nggak dibayar? Padahal menulis itu meski kelihatan gampang, kenyataannya lebih sering bikin orang mual. Ya, menulis itu butuh banyak persiapan. Harus cari sumber yang benar, harus cari beberapa referensi, harus banyak membaca, harus menulis yang rapi, butuh waktu yang kadang ngorbanin waktu istirahat. Dan cuma penulis yang tahu rasanya ini. Betapa ini tidak mudah.
Kemudian, ketika hak sebagai penulis nggak dikasih, gimana rasanya? Eneg, mual, sebal, kesal, marah. Tapi, biasanya sebagian besar penulis meskipun berada pada posisi seperti ini, tidak bisa banyak melakukan apa-apa kecuali hanya berusaha untuk sabar dan meyakinkan diri sendiri bahwa ini adalah sebagian dari ujian untuk naik kelas. Drama dan lebay banget, nggak, sih? Nggak juga kok. Ini manusiawi banget terjadi. Saya yakin, siapa juga yang nggak kecewa ketika ini terjadi setelah perjuangan yang nggak mudah itu?
Hal semacam ini pasti banget terjadi pada beberapa penulis. Baik itu penulis buku ataupun artikel. Apakah saya pernah mengalami? Apa saya perlu membeberkannya di sini? Hihi. Saya nggak selebay itu kok. Menulis itu memang sudah menjadi passion buat saya. Menulis itu sungguh menyenangkan hati. Belakangan mulai merasakan jika menulis tidak hanya menyenangkan, tetapi juga menghasilkan.
Tapi, sungguh sebal ketika fee kita nggak cair. Karena kadang saya menulis artikel hingga larut, kadang hanya tidur beberapa jam saja ketika harus mengerjakan artikel. Apakah semua demi materi? Ketika ada orang berharap untuk itu pun saya merasa itu bukan kesalahan. Semua orang memiliki kehidupan sendiri-sendiri. Ada yang menjadikan profesi menulis sebagai pemasukan untuk memenuhi biaya hidup. Ada yang menulis hanya untuk menyalurkan hobi. Dan saya? Menyalurkan kegemaran dan ingin menghasilkan dari profesi satu ini.
Lalu bagaimana ketika ada orang yang nggak amanah, yang nggak memenuhi kewajibannya kepada penulis? Kebetulan, kamu ada di posisi sebagai penulis yang nggak dipenuhi haknya. Tarik napas dulu sebelum melanjutkan! hihi.
Kamu Nggak Sendiri
Ya, kamu tidak sendiri dalam hal ini. Saya yakin, hampir semua penulis pernah mengalami lika liku dalam dunia literasi yang cukup menguras air mata, bikin nyesek, bikin marah tapi nggak tahu harus apa, bahkan ada yang sampai difitnah teman sendiri. Yakinlah kamu nggak sendiri karena di sekitar kamu, tanpa kamu tahu juga banyak yang mengalami ini.
Hanya saja, kebanyakan dari penulis lebih suka mendiamkan setelah sebelumnya berusaha meminta haknya. Penulis tugasnya menulis, bukan berdebat. Bukan pula ngeyel soal siapa yang benar dan salah. Kadang percuma juga menagih berkali-kali tapi ujung-ujungnya nggak ada solusi. Apalagi jika sampai berbulan-bulan lewat.
Apakah saya pernah mengalami? Pernah. Bahkan beberapa kali. Fee satu juta lebih nggak cair setelah memenuhi kewajiban. Editor pun nggak bisa membantu. Menyerah karena itu keputusan atasannya. Lalu saya ngapain? Sebal? Banget. Kesal? Iya dong! Manusiawi banget, saya bukan malaikat. Tapi, setelah itu kita pun harus belajar untuk tidak melakukan kesalahan yang sama. Kadang orang yang terbiasa tidak jujur dan nggak amanah dengan omongannya sendiri pasti juga sulit berubah. Apalagi tiba-tiba berubah.
Selain itu, apakah pernah mengalami hal serupa? Pernah. Bahkan untuk platform yang sebelumnya membayar tepat waktu kemudian nggak menepati kewajibannya. Pernah jadi juara tapi nggak dapat hadiahnya? Pernah kok *kenapa jadi bangga banget seperti menyebut prestasi..kwkwk.
Tapi, percayalah, masih ada banyak job buat kamu di tempat lain. Yang lebih nyaman dan nggak bikin nyesek. Hei! Kamu nggak sendiri. Ada banyak orang yang senasib denganmu. Yuk, belajar mengikhlaskan itu. Mungkin itu bukan rezeki kamu. Sebab yang namanya rezeki tentu tidak akan tertukar apalagi nggak sampai.
Belajar Ikhlas dan Sabar
Ini ujian buat kamu. Silakan raut pensil 2B, ya! Hehe. Untuk naik kelas, kamu harus melewati ujian. Dan inilah salah satu bagian dari ujian yang kamu hadapi sekarang. Setelah nulis sampai larut dan mual-mual, tiba-tiba nggak dibayar. Wow! Tega sekali.
Mungkin kamu mulai berpikir bahwa orang itu nggak punya hati. Apalagi nggak satu dua penulis yang dibohongi. Tapi, percayalah, semua itu akan ada balasannya masing-masing. Yang sekarang kamu simpan dalam hati, yang bikin kamu nyesek dan sakit hati itu akan terbuka tanpa perlu kamu koar-koar ke sana kemari. Allah itu nggak tidur. Yang bohong akan ketahuan belangnya.
Ikhlasin, sabarin. Ini ujian buat kamu karena kamu bakal naik kelas! Saya yakin, ada rezeki lain yang lebih berkah, lebih besar daripada yang hilang dan akan menggantikan kecewa dan sedihmu itu. Kuy, sabar!
Pengalaman Seperti Itu Akan Menguatkan Kamu
Setelah jatuh bangun, jungkir balik, dikerjain orang lain, dikatain, diremehkan dan semua yang bikin nyesek, insya Allah kamu akan berubah jadi pribadi yang lebih kuat. Masalah itu ada buat menguatkan kamu, lho. Bukan sebaliknya.
Seperti tubuh bayi, ketika terkena infeksi virus, dia akan membentuk antibodi yang kemudian membuat dia lebih kuat sehingga bisa melawan infeksi ketika usianya lebih besar dan imunnya lebih kuat. Maka seperti itu pula pengalaman menyedihkan yang harus kamu lewati. Ya, karena di depan kamu akan ada jurang yang lebih dalam, tanjakan yang lebih tinggi. Jika sejak awal kamu belajar dari masalah, ke depannya kamu akan lebih kuat menghadapi yang lebih besar daripada sebelumnya.
Pelajaran Untuk Tidak Melakukan Hal Serupa
Kamu tahu apa ujian orang yang udah di atas dan jago? Pertama, sombong. Kedua dia bisa jadi meremehkan orang yang kemampuannya di bawah dia. Ketiga, dia nggak menghargai orang lain. Keempat, bisa jadi dia bermain-main sama juniornya karena menganggap orang lain bukan apa-apa. Kelima? Nggak amanah karena merasa bisa melakukan apa pun kepada orang lain tanpa merasa orang benar-benar dirugikan karena ulahnya.
Semua itu jadi pelajaran berharga buat kamu. Jangan sampai ketika kamu ada di posisi itu kemudian melakukan hal serupa. Kamu boleh tinggi setinggi-tingginya, tapi jangan lupa berpijak. Nggak susah buat Allah mengubah posisi orang yang sekarang di atas kemudian jadi di bawah banget. Nggak susah. Jadi, cobalah profesional ketika bekerja. Dan itu juga perlu kamu lakukan ketika sudah ada di atas. Ingat, profesional!
Allah Nggak Tidur
Orang yang ‘merasa’ benar biasanya menganggap dirinya paling benar, sedangkan orang yang benar nggak pernah berpikir dirinya paling benar. Orang benar nggak perlu banyak membuktikan dan bicara pada banyak orang untuk membuktikan dirinya benar, sebab sejatinya dia paham, kebenaran punya cara sendiri untuk bicara.
Allah itu nggak tidur. Karena itu, jangan sedih karena hak kamu belum dipenuhi. Sebab Allah pasti akan membayarkannya tunai di dunia dan akhirat. Gusti Allah mboten sare. Yakinlah, Allah tahu dan mendengar doa hamba-Nya yang didzalimi.
Gimana, masih nyesek? Hehe. Sebenarnya ketika mengalami ini saya pun susah buat ikhlas dan sabar. Rasanya pengen bicara panjang lebar di media sosial. Tapi, ketika dipikir lagi, ngapain juga. Berarti itu bukan rezeki saya. Ketika kamu belajar untuk ikhlas, insya Allah, Allah ganti dengan yang lebih baik. Yuk, tetap semangat menulis dan menebarkan kebaikan. Jerih payahmu nggak akan sia-sia. Suatu saat akan berbuah manis, Yakinlah!
Friday, November 2, 2018
1000 Hari Pertama Ananda dan Nutrisi Terbaik untuk Mencegah Stunting
Hampir semua orang tua menganggap bahwa anak gemuk adalah tanda bahwa mereka sehat. Padahal, tidak cukup dengan melihat berat badannya saja. Pertumbuhan tinggi badan mereka pun cukup penting untuk dipantau.
Anak-anak yang memiliki tubuh pendek, terutama jika berat badan sulit naik, bahkan cenderung turun bisa menjadi salah satu tanda bahwa mereka terkena gangguan pertumbuhan stunting. Indonesia termasuk negara dengan jumlah penderita stunting yang cukup tinggi. Menurut data dari WHO, penderita stunting di negeri ini mencapai 7,8 juta dari 23 juta balita. Angka yang tidak bisa diremehkan lagi.
Apa, sih Stunting Itu?
Stunting merupakan kondisi di mana seorang anak mengalami gangguan pertumbuhan sehingga dia memiliki tubuh lebih pendek ketimbang teman-teman seusianya. Kondisi ini tidak banyak disadari oleh orang tua karena tidak dianggap sebagai masalah gangguan kesehatan. Padahal, tubuh pendek bisa jadi indikasi adanya masalah pertumbuhan yang disebut stunting.
Stunting biasanya disebabkan karena kurangnya asupan gizi sejak anak ada di dalam kandungan hingga dia berusia kurang dari dua tahun. Penderita stunting yang masih berusia di bawah dua tahun harus segera ditangani karena kondisi ini pasalnya tidak bisa dikembalikan jika telah terjadi atau sulit kembali normal. Anak yang sudah terkena stunting akan tetap mengalami pertumbuhan yang lambat hingga dia dewasa. Tidak hanya itu, anak yang terkena stunting juga memiliki risiko lebih tinggi terkena penyakit kronis dan penyakit infeksi lainnya.
Karena itu, sangat penting mengoptimalkan pemberian nutrisi terbaik pada 1000 hari pertama buah hati, yakni dimulai sejak fase kehamilan hingga anak berusia 2 tahun.
Penuhi Kebutuhan Gizi pada #1000HariTerbaik Buah Hati dengan ASI
Pemberian ASI eksklusif hingga bayi berusia enam bulan merupakan salah satu cara tepat untuk memenuhi kebutuhan gizi anak. ASI adalah anugerah Tuhan yang begitu menakjubkan. Selain mudah dicerna dan diserap oleh tubuh bayi yang sedang berkembang, ASI juga mampu memenuhi kebutuhan nutrisi tumbuh kembang bayi.
Proses pemberian ASI memang tidak selalu mudah. Tapi, dengan pengetahuan yang cukup, seorang ibu tentu akan lebih gigih berjuang untuk memberikan ASI kepada anaknya bahkan hingga usianya mencapai dua tahun.
Sejak sebelum melahirkan, calon orang tua harus mencari rumah sakit dan dokter yang pro ASI. Hal ini menjadi sangat penting karena akan berpengaruh pada proses inisiasi menyusui dini atau IMD yang biasanya dilakukan sesaat setelah bayi dilahirkan.
Selain itu, dukungan penuh dari keluarga tercinta menjadi salah satu faktor penting yang tidak bisa diabaikan. Kondisi mental ibu baru melahirkan harus sepenuhnya dibantu dan didukung supaya tidak stres sehingga berpengaruh pada proses menyusuinya nanti.
Kecukupan ASI Bagi Tumbuh Kembang Buah Hati
Kecukupan ASI bagi tumbuh kembang buah hati tidak bisa dilihat dari jumlah ASI perah yang dihasilkan setiap hari. ASI dikatakan cukup jika frekuensi buang air kecil lebih dari 6 kali per hari. Selain itu, ASI dikatakan cukup jika berat badan bayi mengalami kenaikan yang sesuai dengan usianya, bisa tidur dengan nyenyak, bayi pun aktif dan sehat.
Prinsip ASI adalah supply by demand. Semakin sering disusui, maka semakin banyak juga produksinya. Sejak bayi baru lahir, jangan lewatkan IMD dan teruslah belajar menyusui bayi meski ASI belum keluar pada hari pertama melahirkan.
Jumlah ASI akan bertambah seiring pertumbuhan bayi. Saat baru lahir, lambung bayi hanya sebesar kelereng, sehingga pemberian ASI sedikit saja sudah bisa memenuhi kebutuhan mereka. Seiring waktu, jumlah ASI pun akan semakin meningkat mengikuti kebutuhan bayi.
Pemberian MPASI yang Tepat pada #1000HariPertamaAnanda
MPASI biasanya diberikan saat bayi berusia enam bulan. MPASI adalah makanan pendamping ASI, bukan makanan pengganti ASI. Kenapa harus menunggu hingga enam bulan? Sebab saat usia enam bulan, organ penting pada bayi seperti ginjal, syaraf, dan motorik bayi sudah siap.
MPASI harus diberikan pada usia yang tepat. Pemberian MPASI terlalu dini dapat meningkatkan risiko gangguan pencernaan, malnutrisi, obesitas, hingga alergi makanan. Begitu juga sebaliknya, pemberian MPASI terlalu lambat juga tidak baik bagi tumbuh kembang buah hati. MPASI yang diberikan terlalu lambat bisa menyebabkan kekurangan energi hingga gangguan tumbuh kembang.
MPASI Bayi 6 Bulan
1. MPASI sebaiknya diberikan menggunakan sendok, bukan dengan botol meskipun itu tampak lebih mudah.
2. Berikan MPASI secara bertahap. Dimulai dari memberikan satu sendok makan bubur beras yang dicampur dengan ASI hingga jumlahnya mencapai empat sendok makan pada usia enam bulan.
3. Tingkatkan tekstur bubur dari encer hingga lebih kental.
MPASI Bayi 7 Bulan
1. Tingkatkan jumlah MPASI dari empat sendok makan menjadi 6-8 sendok makan dibagi dua kali per hari.
2. Selain bubur beras, MPASI usia 7 bulan juga bisa lebih beragam seperti dengan memberikan kentang, jagung, ataupun ubi.
3. Mulailah mengenalkan sayuran dan buah saat usianya mencapai 7 bulan. Kenalkan sayur terlebih dulu. Berikan 1-4 sendok makan sayur atau buah yang dihaluskan per hari.
4. Kenalkan hanya satu jenis makanan dalam waktu 3-5 hari. Selain untuk memberikan kesempatan bagi anak mengenali rasa, cara semacam ini juga bisa dilakukan untuk mengetahui jika bayi memiliki alergi pada jenis makanan tertentu.
5. Hindari pemberian gula dan garam hingga bayi mencapai usia satu tahun
MPASI Bayi 8-9 Bulan
1. Jangan lupa tingkatkan tekstur makanannya menjadi lebih kental atau lebih kasar daripada sebelumnya.
2. Berikan delapan sendok makan pokok dengan tiga kali pemberian per hari.
3. Tambahkan variasi sayuran dan buah sebanyak empat sendok makan per hari. Bayi akan menyukai dengan mudah meskipun tanpa gula garam karena sebelumnya dia hanya mengenal ASI.
4. Mulailah memberikan daging, ayam, atau ikan. Ikan air tawar lebih diutamakan terutama jika ada riwayat alergi dari orang tua. Tunda pemberian seafood hingga bayi burusia satu tahun.
MPASI Bayi 9-12 Bulan
1. Cobalah berikan makanan dengan tekstur lebih kasar daripada sebelumnya.
2. Berikan sayur dan buah sebanyak 3-6 sendok makan per hari. Jumlah ini bisa ditambah secara bertahap.
3. Jumlah makanan pokok sudah bisa diberikan dengan jumlah 8-12 sendok makan per hari.
4. Berikan daging ayam atau ikan dengan jumlah 3-4 sendok makan per hari.
5. Mulailah mengenalkan telur dan produk olahan susu.
6. Finger food sudah bisa dikenalkan saat bayi berusia 9 bulan.
7. Saat usia bayi mencapai 12 bulan ke atas, dia sudah bisa makan makanan keluarga.
Jadi, pemberian ASI dan MPASI yang tepat pada 1000 hari pertama ini terbukti dapat mencegah stunting yang ternyata risikonya sangat merugikan anak. Yuk, sama-sama belajar dan bantu mengedukasi orang lain untuk mencegah stunting pada buah hati tercinta.
Sumber referensi:
1. Hellosehat.com
2. Buku Q&A Smart Parents for Healthy Children
Sumber referensi:
1. Hellosehat.com
2. Buku Q&A Smart Parents for Healthy Children
Wednesday, October 31, 2018
Kejang Demam pada Anak, Penyebab dan Cara Mengatasinya
![]() |
| Photo by Kelli Sikkema on Unsplash |
Pagi-pagi kemarin, tiba-tiba terdengar suara kencang dari tetangga sebelah. Sayup-sayup terdengar oleh telinga seperti sedang membangunkan seseorang. Yang terbayang saat itu apakah ada yang kecelakaan dan pingsan? Hampir meninggal, atau malah apa?
Suami bergegas keluar dan mencari tahu. Ternyata cucu tetangga sebelah sedang kejang demam. Neneknya pernah cerita juga kalau cucunya beberapa kali kejang demam. Saya kemudian ingat bagaimana saya menangani si sulung yang sering banget kejang demam dari usia dua tahun sampai enam tahun. Lama banget, ya? Betul, lama sekali. Tapi, saat usia empat sampai lima tahun dia tidak mengalami kejang hingga enam tahun usianya, kejang demam pun kembali terjadi di usia yang menurut saya sudah besar.
Kaget? Panik? Gimana menanganinya? Mengingat saya tidak tinggal bersama orang tua dan suami saya juga ngantornya di luar Jakarta? Meskipun sering sekali saya mengalami dan menghadapi ini sendirian, bahkan terakhir hanya bersama si bungsu yang nggak ngerti apa-apa, tetapi Alhamdulillah saya tidak pernah sampai sepanik apa.
Qadarallah, saya sangat bersyukur karena bisa mengenal milis sehat. Karena dari sana saya belajar mengatasi semua dengan lebih bijak. Panik boleh, tapi saya tahu apa yang harus saya lakukan, ke dokterkah? Ngasih obatkah? Ditungguin sampai berapa lama? Apa yang berbahaya dan perlu diwaspadai? Dan semua itu saya pelajari pelan-pelan saat bergabung dengan milis kesehatan ini.
Lalu Apa, sih Kejang Demam Itu?
Kejang demam adalah kejang yang timbul akibat demam yang terjadi pada bayi atau anak kecil yang tentu saja tidak disebabkan oleh adanya kelainan pada otak. Sebagian besar kejang demam terjadi saat anak demam dengan suhu di atas 38,3’C. Biasanya kejang demam juga terjadi pada hari pertama anak demam.
Kejang demam ini tidak terjadi pada banyak anak. Hanya satu dari 25-40 anak demam saja yang mengalami kejang demam. Salah satunya adalah putra saya. Kenapa sampai putra saya bisa memiliki risiko besar mengalami kejang demam? Alasannya karena ada riwayat kejang demam dari keluarga terdekat dan itu adalah saya sendiri.
Apakah Kejang Demam Berbahaya?
Sampai saat ini tidak ada bukti yang menyatakan bahwa kejang demam dapat merusak otak. Kejang demam juga tidak memengaruhi inteligensia dan tidak juga dapat meningkatkan risiko epilepsi. Jadi, jika sudah dipastikan itu adalah kejang demam, nggak perlu lagi merasa khawatir karena itu tidak akan memengaruhi kecerdasan seorang anak.
Kejang demam adalah kondisi kegawatdaruratan. Jika memiliki anak dengan riwayat kejang demam, sebaiknya selalu sedia obat kejang seperti diazepam rektal atau stesolid rektal. Obat ini memang tidak bisa sembarangan dibeli di apotek. Harus ada resep dokter dan biasanya disesuaikan dengan berat badan masing-masing anak.
Ingat, obat ini tidak bisa mencegah seorang anak dari kejang demam. Obat ini hanya dipakai saat anak kejang. Sepanik apa pun, jangan sampai salah memberikan obat. Stesolid termasuk obat keras, karena itu tidak sembarangan bisa dibeli. Setelah anak diberi stesolid rektal, biasanya mereka terlihat lemas, tertidur, dan beberapa saat atau tak lama akan sadar lagi. Biasanya saya segera memberikan dia minum sedikit demi sedikit untuk mencegah dehidrasi.
Berapa Dosis Obat Kejang Demam?
Karena termasuk obat keras, harus benar-benar dipastikan dosisnya sudah sesuai petunjuk. Obat Diazepam dengan nama dagang Stesolid ini biasanya dimasukkan lewat anus. Bentuknya memanjang berisi cairan bening dan harus disimpan di lemari pendingin.
Dosis yang semestinya adalah 0,3-0,5 mg/kg/kali. Obat ini hanya tersedia dalam dua jenis, yakni 5 mg dan 10 mg. Jika berat badan anak di bawah 10 kg, bisa pakai sediaan 5 mg. Jika berat badan anak di atas 10 kg, bisa gunakan sediaan 10 mg. Tapi, jika berat badan antara 10-12 kg, akan jauh lebih aman memakai sediaan 5 mg saja.
Jika dalam 4 jam kejang demam kembali terjadi, boleh saja diberikan obat kejang. Sebab obat ini tidak akan lama di dalam tubuh. Dia akan mudah dan segera dibuang dari dalam tubuh anak. Tapi, yang penting adalah atasi penyebab kejangnya. Jangan sampai justru hanya fokus pada kejang demam sehingga mengabaikan penyebab kejang demam yang seharusnya segera diatasi.
Untuk pemberian Diazepam berulang, harus benar-benar diawasi tanda-tanda vitalnya seperti napasnya apakah masih normal atau tidak. Jika kejang demam berulang dalam satu episode demam, perhatikan apakah kejangnya berlangsung lebih dari 15 menit, apakah mengalami kejang fokal (hanya sebagian sisi saja yang kejang). Jika demikian, jangan menunda untuk membawanya ke dokter.
Apakah Kejang Demam Butuh Antibiotik?
Sekali lagi kejang demam itu nggak berbahaya, scarry but harm less. Jadi, apakah butuh antibiotik? Antibiotik itu diperuntukkan untuk infeksi bakteri yang sudah terbukti atau bisa dibuktikan. Tidak hanya sekadar diagnosis saja, lho.
Saat anak kejang demam, cukup berikan Diazepam saja. Sedangkan untuk mengatasi demamnya cukup berikan penurun demam seperti Paracetamol. Jika kejang demam sudah berlalu, tidak ada yang bisa dilakukan orang tua. Mencegahnya pun tidak mungkin.
Saat anak kejang demam, perhatikan penyebab kenapa dia demam. Jika demamnya hanya disebabkan oleh virus seperti common cold, maka tidak butuh antibiotik untuk menyembuhkannya. Virus tidak mempan dengan antibiotik. Penyakit yang disebabkan oleh virus akan sembuh dengan sendirinya.
Meskipun panik dan trauma dengan anak yang mengalami kejang demam, tapi tidak dibenarkan juga memberikan mereka obat-obatan yang sebenarnya tidak diperlukan seperti antibiotik atau diazepam yang kadang diresepkan saat anak mengalami demam tinggi. Padahal sekali lagi itu tidak berguna mencegah dan apa pun alasannya.
Apa yang Harus Dilakukan Saat Anak Mengalami Kejang Demam?
Saat anak mengalami kejang demam, jangan biarkan dia dalam posisi telentang karena berisiko tersedak. Baringkan anak yang kejang di tempat datar dan dengan posisi menyamping. Jangan memasukkan apa pun ke mulutnya seperti yang sering dilakukan oleh orang tua zaman dulu seperti memasukkan sendok ke dalam mulut. Sebab itu bisa menyebabkan jalan napas tersumbat. Ketika anak kejang demam, jangan memegangi mereka terlalu kuat karena bisa menyebabkan patah tulang atau fraktur.
Penyebab Anak Memiliki Risiko Kejang Demam Berulang
Sekali saja terjadi rasanya seperti kehilangan napas. Bagaimana kalau kejang demam berulang? Duh, nyesek banget tapi bagaimanapun harus diingat bahwa jika memang benar-benar terjadi karena demamnya, kejang ini tidak akan membahayakan. Lalu, apa saja yang bisa menyebabkan anak berisiko mengalami kejang demam berulang?
1. Jika kejang terjadi pada usia di bawah 12 bulan. Bahkan putra sulung saya yang kejang saat usia dua tahun pun mengalami kejang demam berulang.
2. Ada riwayat kejang demam dari keluarga dekat. Jika ayah atau ibunya pernah mengalami kejang demam saat masih kecil, risiko itu bisa terjadi juga pada sang anak.
3. Kejang terjadi pada suhu tidak terlalu tinggi. Ya, kadang demam tinggi pun tidak selalu terjadi kejang demam, lho. Ini pun saya alami.
4. Kejang demam terjadi sesaat setelah anak demam.
Apakah Anak yang Kejang Demam Harus Rawat Inap?
Anak yang mengalami kejang demam memang bikin panik. Apalagi jika itu terjadi pertama kali. Belum ada persiapan, apalagi jika sebelumnya tidak pernah mempelajari soal ini. Tapi, apakah semua anak yang mengalami kejang demam harus rawat inap?
Dan ini terjadi ketika si sulung pertama kali kejang pada usia dua tahun. Malam hari dia kejang demam, esoknya berulang. Saya segera membawanya ke UGD karena seperti itulah yang seharusnya.
Sampai di UGD dia dalam keadaan sadar, tapi saya mau memastikan dia baik-baik saja. Ada di UGD dia minum, menangis, dan sadar saat diperiksa dokter. Dokter jaga memaksa rawat inap dan harus infus. Infus? Tapi anak saya tidak dehidrasi? Kalau hanya mau observasi, cukup rawat inap saja, ‘kan?
Karena sudah membaca beberapa kondisi serupa di buku yang ditulis oleh dr. Wati, jadi saya pun tahu apa yang harus dilakukan saat itu. Observasi itu sebenarnya dilakukan untuk mengetahui penyakit penyebab demam sang anak. Nah, saat itu anak saya memang batuk dan pilek sehingga tidak memerlukan penanganan khusus. Lalu kenapa harus ke UGD? Selain untuk memastikan anak saya baik-baik saja, saya juga butuh resep Diazepam yang tidak bisa dibeli bebas tanpa resep dokter. Karena setelah terjadi kejang demam, saya pun harus berhati-hati sebab bisa jadi kejang demam itu berulang. Dan benar saja, dalam setahun, putra saya kadang mengalami 3-4 kali kejang demam. Ngeri? Banget.
Setiap dia demam, rasanya hidup nggak tenang banget. Mau minta temenin siapa kalau sudah begitu? Ya, harus sayalah yang bisa mengatasi dan menjaganya sendiri. Biasanya suami datang dari bekerja saat anak saya sudah sadar dan tidak kejang lagi. Jadi, kebanyakan dari kejangnya dilewati hanya bersama saya.
Kapan Anak Harus Rawat Inap Ketika Terjadi Kejang Demam?
Menurut dr. Wati yang membangun milis sehat, anak harus dirawat jika terjadi tanda gawat darurat seperti kejang terjadi cukup lama, setelah kejang anak tidak sadarkan diri, kejang berulang dalam waktu cukup singkat, kejang fokal atau sebagian, atau penyebab demamnya menyebabkan anak harus dirawat.
Jika mau rawat inap, harus benar-benar dipastikan dan jelas diagnosis dan indikasinya. Karena rawat inap tanpa alasan jelas justru lebih banyak risikonya bagi anak-anak. Misalnya saja terkena bakteri yang lebih berbahaya selama di rumah sakit, biaya, waktu yang nggak sebentar, dan trauma pada anak. Karena itu, penting banget sebagai orang tua memerhatikan dan mempelajari dunia kesehatan walaupun tidak berprofesi sebagai dokter.
Kejang demam memang menakutkan dan bikin trauma, hal ini tidak bisa dipungkiri ataupun dihilangkan dengan mudah dari benak orang tua. Tapi, setidaknya saat itu terjadi, orang tua sudah lebih siap, tahu apa yang harus dilakukan, tahu kapan ke dokter, dan tahu tanda gawat darurat. Semua itu bisa dipelajari. Yuk, jadi orang tua yang cerdas serta bijak dalam menggunakan obat. Jangan sampai anak jadi korban kepanikan orang tuanya sendiri.
Salam hangat,
Thursday, October 25, 2018
Review Novel Pulang, Ini Tentang Memeluk Erat Kenangan dan Berdamai dengan Hati
![]() |
“Kau boleh melupakan Mamak, kau boleh melupakan seluruh kampung ini. Melupakan seluruh didikan yang Mamak berikan. Melupakan agama yang Mamak ajarkan diam-diam jika bapak kau tidak ada di rumah….” Mamak diam sejenak, menyeka hidung, Mamak tahu kau akan jadi apa di kota sana…. Mamak tahu ….. Tapi, tapi apa pun yang akan kau lakukan di sana, berjanjilah Bujang, kau tidak akan makan daging babi atau daging anjing. Kau akan menjaga perutmu dari makanan haram dan kotor. Kau juga tidak akan menyentuh tuak dan segala minuman haram.” (Hal 24)
Sebuah kisah tentang perjalanan pulang, melalui pertarungan demi pertarungan, kesedihan demi kesedihan, untuk memeluk erat semua kebencian dan rasa sakit. Pulang – Novel ‘Pulang’ Tere Liye
***
Novel ‘Pulang’ karya Tere Liye ini berkisah tentang Bujang, remaja berusia lima belas tahun, putra dari Samad, si tukang jagal yang menikah dengan Midah. Samad diceritakan tidak pernah hangat pada putranya, bahkan setiap kali Midah mengajari Bujang tentang agama, belajar shalat, dan mengumandangkan adzan, Samad bisa marah besar, memukul Bujang sebanyak Midah mengajarinya tentang agama kemudian menghukumnya bermalam di luar rumah. Meski tempias hujan mengenai tubuh putranya dan membuatnya menggigil, tak sedikit pun Samad ingin membuka pintu rumahnya dan menyuruh Bujang masuk.
Hingga usianya memasuki lima belas tahun, Bujang tidak pernah menyentuh bangku sekolah. Tidak hanya itu, Midah yang disebut Mamak begitu mencemaskan Bujang sehingga tak pernah mengizinkannya pergi ke rimba. Tapi, takdir berkata lain, saat usianya masih lima belas tahun, Tauke Besar, saudara angkat Samad datang mengunjunginya. Dengan alasan berburu, Tauke pun mengunjungi keluarga Samad dan mengenal Bujang untuk pertama kali.
Bujang yang tak pernah diizinkan menyentuh rimba oleh Mamaknya justru akhirnya pergi menemani Tauke Besar untuk berburu babi. Mamak dengan cemas berpesan agar dia tidak melakukan apa pun selama di hutan. Mamak bilang Bujang hanya boleh menonton, tidak boleh melakukan hal bodoh. Bujang yang tak mengerti pun mengiyakan. Tapi, berbeda dengan rencana Mamak, malam itu, saat gerimis membungkus langit, ketika beberapa kawanan babi dilumpuhkan dan beberapa anak buah Tauke terluka parah, justru muncul pimpinan kawanan babi hutan yang begitu murka.
Di saat genting seperti itu, ketika Tauke Besar tersungkur dan begitu mudahnya dijatuhkan oleh babi hutan raksasa, di saat itu pula Bujang melanggar janjinya kepada Mamak. Dia menggenggam tombak pemberian Bapaknya kuat-kuat, kemudian mengalahkan babi raksasa itu dan menyelamatkan semua orang. Maka sejak saat itulah, rasa takut dari diri Bujang telah diangkat, bahkan sejengkal pun ia tak pernah merasa ketakutan terhadap apa pun.
“Jika manusia memiliki lima emosi, yaitu bahagia, sedih, takut, jijik, dan kemarahan, aku hanya memiliki empat emosi. Aku tidak punya rasa takut.” (Hal 1)
Sejak pertemuan itu pula, Bujang dibawa Tauke Besar dan tinggal bersamanya. Jangan tanya bagaimana perasaan Mamak saat itu, ia bahkan tak terlihat mengantarkan Bujang karena sibuk berkutat dengan rasa sedihnya, mengutarakan semua perasaannya di kamarnya, tepat di atas sajadah dengan air mata meleleh sempurna.
Dan kehidupan Bujang yang sebenarnya pun baru dimulai. Ia pun akhirnya bergabung dengan keluarga Tong yang merupakan organisasi pasar gelap atau Shadow Economy. Bujang yang di dalam darahnya mengalir darah tukang jagal sejak awal diperlihatkan begitu antusias dengan kehidupan barunya. Perkelahian dan segala macam hal yang berghubungan dengan kekerasan begitu memantik semangatnya.
Sayangnya, Tauke Besar tidak sedang ingin menjadikannya tukang pukul seperti Samad, Bapaknya. Tauke justru ingin Bujang_yang begitu genius meski tak pernah mengenyam pendidikan_sekolah, menyelesaikan pendidikan setinggi-tingginya. Sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh keluarga Tong sebelumnya. Tauke Muda ingin masa depan keluarga Tong lebih baik, tidak melulu tentang perkelahian dan kekerasan. Mereka haruslah berubah demi memenangkan persaingan yang semakin keras.
Tapi, ternyata tak mudah membujuk Bujang untuk belajar. Bahkan ia sempat membuat Tauke marah besar karena menolak sekolah. Tapi, sejak awal Tauke diceritakan berbeda ketika berhadapan dengan Bujang, ia tak pernah sampai hati menghajar Bujang meskipun ia sering membuat Tauke kesal bukan main.
Kemudian apa solusinya? Adalah Kopong yang dulu pernah berhutang budi kepada Samad, meminta Tauke mengizinkannya mengajarkan Bujang berlatih menjadi tukang pukul saat malam hari, dan paginya Bujang bisa belajar. Pilihan itu pun disambut baik oleh Bujang, ia tak lagi keberatan membaca buku setumpuk, sebab ia begitu antusias untuk berlatih bersama Kopong.
Bujang, si Babi Hutan, remaja yang kemudian tumbuh luar biasa. Tangguh, kuat, tak punya rasa takut, dan yang pasti dia genius bukan main. Hanya dia yang berhasil menyelesaikan pendidikan tinggi hingga ke luar negeri dalam waktu cukup singkat, membuat Tauke begitu bangga padanya. Bukan hanya itu, Bujang juga menjadi tukang pukul yang begitu disegani dan ditakuti oleh semua orang. Dia berlatih dari guru-guru terbaik yang didatangkan oleh Tauke Besar atas usul Kopong.
Tapi, ketika keberhasilan demi keberhasilan diraih oleh Bujang, satu per satu berita duka menggulung hari bahagianya. Sekejap semua kebahagiaan itu berubah menjadi menyedihkan. Pertama, ketika Mamak meninggal dunia, ia bahkan merasa sangat buruk sampai-sampai dia merobek undangan dari Universitas ternama di luar negeri tepat di hadapan Tauke Besar. Tapi, Tauke cukup sabar sehingga Bujang tak kena pukulannya. Kedua, ketika Samad, Bapak Bujang meninggal. Saat itu tak kalah menyedihkan, apalagi ketika menerima surat dari Samad yang meminta maaf, merasa terlalu egois sehingga sulit sekali mengatakan rindu pada putranya.
Tapi, puncak dari semua kejadian menyakitkan itu adalah ketika Tauke meninggal dunia. Sebelumnya, Tauke yang sudah berusia lanjut memang sakit-sakitan, tapi dia meninggal bukan hanya karena itu, tapi karena adanya pengkhianatan anak buahnya sendiri, yang sudah sangat ia percaya layaknya Bujang.
Tauke berhasil diselamatkan oleh Bujang yang rela mengorbankan nyawanya sekalipun demi melindungi ayah angkatnya itu. Bujang yang tak rela meninggalkan Tauke di lorong darurat meski kaki dan seluruh tubuhnya terluka parah. Maka ia menggendong Tauke Besar menuju tangga darurat yang sebelumnya telah dibuat oleh Kopong yang ternyata berujung di rumah kawan lama Tauke. Sayang, Tauke terlalu kepayahan malam itu, hingga ketika Bujang tak sadarkan diri, Tauke pun meninggal.
“Aku menunduk, menggigit bibir. Kesedihan ini terasa sangat menyakitkan. Inilah hal yang paling kutakutkan dalam hidupku. Sejak aku menyelamatkan Tauke dari serangan babi raksasa di lereng rimba Sumatra, aku tidak lagi memiliki rasa takut kecuali atas tiga hal, kematian orang terdekatku. Ada tiga lapis benteng rasa takutku. Satu lapis terkelupas saat Mamak pergi. Satu lapis lagi terlepas saat Bapak pergi. Malam ini_entah ini malam atau siang di luar sana, lapisan terakhirnya telah rontok, ketika Tauke Besar akhirnya mati. Itulah kenapa aku tidak mau membicarakan soal kematian Tauke. Aku tahu persis, itulah benteng terakhir ketakutan yang kumiliki.Aku menangis tersedu tanpa air mata, tanpa suara. Tauke, hiduplah! Aku menggerakkan tubuh Tauke. Aku memohon. Jika Tauke juga pergi, maka ke mana lagi aku harus pulang?” (Hal 319)
Dan sejak itulah Bujang merasa ketakutan yang sempat hilang dalam dirinya kembali. Bagaimana Bujang menyelesaikan masalah yang begitu pelik dalam dirinya sedangkan di luar sana, ia pun harus segera merebut kekuasaan yang sempat diambil alih oleh rekannya yang kemudian bekhianat. Bagaiman Bujang bisa berdamai dengan semua kenangan pahit itu?
****
Tere Liye begitu lihai menuangkan kisah Bujang di dalam novel ‘Pulang’, membuat saya merinding, menangis, dan ketakutan. Novel ini memang sedikit berbeda, banyak sekali adegan perkelahian yang begitu menakutkan. Sampai-sampai saya meringkuk, sedikit bersembunyi dan tidak berani membacanya lebih detail, terlalu jelas bayangannya, termasuk ketika Bujang harus berhadapan dengan Basyir dan menyelamatkan Tauke Besar.
Ada saat-saat di mana jantung saya bedetak begitu cepat, rasanya saya sedang melihat adegan nyata, sampai tangan dan kaki dingin. Mungkin terlalu lebay, tapi ini memang terjadi ketika membaca Novel ‘Pulang’. Benar-benar bikin ngeri.
Pengkhianatan dan memeluk erat kenangan serta kepedihan yang diceritakan dalam Novel ‘Pulang’ mengingatkan saya akan kisah Sri Ningsih dalam Novel Tere liye lainnya, ‘Tentang Kamu’. Di sana juga ada balas dendam dan pengkhianatan, serta bagaimana Sri Ningsih memeluk erat pahit getir hidupnya. Kebanyakan tokoh utama dalam novel-novel Tere Liye selalu digambarkan genius, gagah, keren banget, sehingga tak sulit menyukai tokoh itu. Termasuk di sini Bujang.
Novel ‘Pulang’ ini benar-benar bernyawa. Saya bisa melihat darah yang terkena tempias hujan di kamar Tauke Besar, saya bisa melihat Tauke besar yang berbaring di ranjang sambil membantu Bujang dan Joni. Saya bisa melihat betapa sedihnya Bujang ketika tahu Tauke meninggal. Dan saat membaca bagian ini, saya menangis, benar-benar menangis. Selama ini, dikisahkan Tauke benar-benar perhatian dan sayang dengan Bujang. Begitu juga Bujang yang menghormati Tauke Besar dengan senang hati.
Setiap bab dihubungkan begitu apik, sampai-sampai nggak sadar buku setebal 400 halaman itu pun tandas dini hari ketika semua sedang terlelap, sedangkan saya, sibuk menata perasaan setelah semua yang terjadi pada Bujang. Tere Liye banget yang bisa bikin pembaca sampai seperti ini. Duh, masih pengen nangis.
Novel ini, tak berbeda dengan novel-novel Tere Liye lainnya, begitu sarat makna, pasti ada pesan moralnya, ada kalimat yang bisa membuat pembaca merenung. Dari beberapa novel Tere Liye yang pernah saya baca, hampir semuanya memang membuat saya menangis. Tapi, hanya buku satu ini saja yang berhasil membuat saya meringkuk ketakutan, deg-degan bukan main.
Buku ini layak banget kamu baca. Keren dan menginspirasi. Saya termasuk penggemar beratnya Tere Liye. Dan selalu suka buku-bukunya. Termasuk Novel ‘Pulang’ satu ini. Setelah ini, masih ada sekuelnya yang berjudul ‘Pergi’. Bersiap dengan kisah Bujang selanjutnya!
“Ketahuilah, Nak, hidup ini tidak pernah tentang mengalahkan siapa pun. Hidup ini hanya tentang kedamaian di hatimu. Saat kau mampu berdamai, maka saat itulah kau telah mampu memenangkan seluruh pertempuran….” (Hal 340)
Monday, October 22, 2018
9 Persiapan Mengajak Anak-anak Umroh Plus Turki, Berlipat Repotnya, Berlipat Serunya
Pergi Umroh plus Turki bareng anak-anak? Rasanya itu hanya seperti mimpi di siang bolong. Awalnya hanya ingin pergi umroh, kalau bisa bersama anak-anak juga, tapi Allah justru begitu baik sehingga memberikan kami kesempatan untuk beribadah umroh plus Turki bersama. Alhamdulillah, bahagia tak terkira saat itu.
Saya pribadi termasuk orang yang kurang suka dan selalu ribet kalau harus pergi-pergi. Entah itu hanya sekadar ke luar kota atau liburan mengisi weekend bersama anak-anak. Jadi, ketika suami memutuskan ikut serta untuk mengajak anak-anak beribadah umroh plus Turki, rasanya nggak kebayang aja bawaan akan sebanyak apa. Lebih mirip mau pindahan rumah…he.
Kami harus berangkat menuju Turki pada akhir bulan Februari, dan ternyata di sana sedang musim dingin. Salju sedang turun dan udara pastilah menusuk tulang. Yang terbayang saat itu, bagaimana dengan anak-anak? Bagaimana nanti di jalan? Bagaimana nanti kalau repot bawa dua anak? Tapi, kami harus tetap berangkat, semuanya sudah mulai dipersiapkan dengan matang, termasuk mengurus paspor dan segala keperluannnya.
Dan pilihan terakhir yang harus saya ambil adalah, dibuat santai saja. Kalau saya tetap membawa mental super ribet seperti biasanya, saya yakin, perjalanan umroh plus Turki ini nggak akan nyaman, bikin deg-degan, nggak bakalan saya nikmati saking ribetnya memikirkan ini dan itu. Jadi, saya nggak mau ambil pusing, sebelumnya saya tetap mempersiapkan segalanya dengan matang, dan mencoba memikirkan banyak hal baik, bahwa kami akan pergi beribadah, insya Allah akan dimudahkan.
Lalu apa saja yang harus dipersiapkan ketika membawa serta anak-anak untuk beribadah umroh plus Turki yang butuh waktu sekitar 12 hari?
Bawa Pakaian Secukupnya
Saat berangkat, si sulung berusia tujuh tahun, yang artinya sudah lebih mudah buat saya membawanya pergi karena dia sudah lebih mandiri dan bisa melakukan banyak hal tanpa membutuhkan bantuan orang lain. Sedangkan adiknya saat itu berusia 2 tahun lebih. Belum lulus toilet training dan masih ASI. Itu menjadi kesulitan sekaligus kemudah juga buat saya.
Pertama, kalau masih ASI, apa-apa serba mudah aja, deh. Tapi, dia belum lulus toilet training, itu artinya saya harus membawa bawaan lebih karena bakal memasukkan popok berapa biji ke dalam koper? Hehe. Saya menghitung berapa jumlah pakaian dan popok yang akan dibutuhkan selama perjalanan umroh plus Turki yang diperkirakan memakan waktu hampir dua minggu. Dihitung segala kemungkinannya, misalnya kalau sampai ketumpahan minuman, kalau muntah di jalan, dan banyak kemungkinan yang akhirnya bikin bawaannya nggak sedikit.
Buat orang tua, bawa pakaian memang bisa secukupnya saja, tapi buat anak-anak rasanya itu nggak bisa dilakukan dengan mudah. Karena kami berangkat saat di Turki musim dingin, kami harus membawa baju dalam serta jaket musim dingin yang sangat tebal untuk persiapan selama berada di Turki.
Baju-baju dalaman itu bisa menghangatkan. Kamu bisa memakainya sebelum mengenakan pakaian biasa, baru kemudian bisa memakai jaket hangat. Selain itu, butuh sarung tangan dan kaos kaki juga. Di Turki, kamu juga bisa membelinya dengan mudah, misalnya saat berada di hotel, tapi kadang kita nggak punya cukup waktu untuk melakukan itu ketika sudah dalam perjalanan. So, saran saya persiapkan jauh-jauh di rumah supaya nanti saat di sana kita sudah siap.
Untuk ibadah umroh, anak-anak bisa dibelikan kain ihram khusus anak-anak yang bisa dibeli dengan mudah. Kalau dari travel yang saya ikuti, anak-anak dapat kain ihram ukuran orang dewasa, jadi sebagian bisa dipakai, sebagian nggak. Si adik dibelikan kain ihram anak-anak, sedangkan kakak dipakaikan satu kain ihram dewasa yang dibagi menjadi dua. Biar lebih hemat juga, kan? Sayang kalau nggak dipakai. Jadi, rombongan kami yang jumlah anak-anaknya hampir sepuluh orang melakukan hal serupa.
Jangan Lupa Membawa Obat-obatan
Saat akan pergi jauh, jangan sampai kamu lupa membawa obat-obatan. Terutama jika ada riwayat penyakit tertentu seperti kejang demam. Obat-obatan yang saya bawa hanya standar saja, termasuk obat flu, penurun panas dan vitamin. Obat-obatan ini sebaiknya juga masuk dalam tas yang selalu kita pakai, jangan simpan di dalam koper karena akan menyulitkan kita ketika mencarinya di saat yang tidak tepat.
Nggak kebayang 'kan lagi di pesawat, terus butuh obat dan obatnya ada di dalam koper? Hiks. Pasti harus repot banget bongkar koper, lebih repot lagi kalau kopernya nggak masuk bagasi. Baiklah, tamat sudah riwayat kita, kan? Jadi, selalu sedia obat-obatan ini di dalam tas yang selalu kita bawa sendiri.
Bawa Camilan dan Lauk yang Bisa Tahan Lama
Kalau bawa anak kecil, jangan sampai kamu lupa membawa makanan ringan dan makanan kering seperti abon untuk di perjalanan. Terutama saat ke Turki, makanan di sana cenderung nggak cocok buat orang Indonesia seperti kami. Karena kadang kami makan tidak di hotel, tapi di rumah makan di dalam perjalanan. Nah, kalau di tempat makan seperti ini, menunya nggak bakalan sebanyak saat ada di hotel. Jadi, kamu butuh makanan yang bisa disantap sama anak-anak.
Sebagian dari kami juga membawa penanak nasi dan beras. Jadi, selama di jalan, selalu ada kotak bekal berisi nasi dan lauk buat anak-anak ketika tiba-tiba lapar atau nggak cocok dengan makanan di sana.
Kamu bisa membawa secukupnya saja, karena faktanya justru nggak bakalan kekurangan makanan insya Allah. Kadang kita jajan di pinggir jalan ketika mengunjungi wisata di Turki. Dingin-dingin, enaknya makan yang hangat seperti jagung bakar dan aneka camilan lain yang mengenyangkan seperti roti khas Turki dengan selai Nutella yang yummy!
Jangan Lupa Membawa Kantong Kresek
Benda satu ini termasuk remeh banget, ya? Tapi, ternyata kita cukup membutuhkan ini ketika berada di perjalanan, lho. Misalnya ketika anak muntah, membungkus baju yang basah dan kotor, membungkus makanan, membuang sampah selama di jalan, atau untuk keperluan lainnya.
Karena anak-anak termasuk yang mudah muntah, baik karena menangis atau mabuk perjalanan, suami menyiapkan kantong kresek yang telah dilipat rapi. Ketika dibutuhkan, kita bisa dengan mudah mengambilnya.
Bawa Mainan atau Buku Kesayangan Anak-anak
Anak-anak itu kadang mudah bosan, lho. Daripada mereka rewel, nggak ada salahnya membawah mainan atau buku kesayangan mereka sehingga mereka bisa dengan mudah memakainya bersama yang lain.
Karena perjalanan umroh plus Turki kali ini bareng sama keluarga lain yang membawa serta anak-anak, perjalanan kami rasanya nggak terlalu sulit. Mereka berbaur satu sama lain, berkumpul, main-main bareng, ke masjid dan shalat bareng. Intinya begitu menyenangkan ketika mereka bisa bertemu teman sebayanya.
Membawa Uang Saku
Ini merupakan salah satu hal yang wajib banget dibawa, ya. Bawalah mata uang negara yang mau kita kunjungi. Bawa secukupnya saja, karena biasanya hanya kita pakai untuk membeli oleh-oleh atau jajan di jalan. Sedangkan untuk makan biasanya sudah diurus oleh travel yang kita ikuti.
Bawa Kereta Bayi dan Gendongan
Buat yang akan membawa balita, kamu harus perhitungkan betul, jangan sampai melewatkan dua hal ini, lho. Kereta itu begitu dibutuhkan selama di Turki, karena kadang anak capek digendong atau berjalan kaki sehingga dia bisa istirahat di kereta. Begitu juga dengan gendongan.
Sedikit cerita, saat umroh, suami menolak membawa gendongan karena yakin si bungsu bisa digendong sendiri. Selama perjalanan di Turki, si bungsu nempel banget sama ayahnya sehingga dia begitu pede saat umroh bakalan terjadi hal serupa. Ternyata oh ternyata, saat baru memasuki pelataran Kakbah, adik udah minta gendong Bundanya saja. Dan itu terus belanjut sampai sa’i.
Kenapa nggak naik kursi roda? Jalur kursi roda berbeda dengan pejalan kaki. Dan tentu saja saya tidak mau berpisah dari yang lain. Selain saya, ada juga saudara yang mengalami nasib serupa. Entah kenapa ia tidak mau lepas dari gendongan ibunya padahal biasanya mudah saja.
Begitu juga yang terjadi dengan si bungsu, sampai orang lain ingin menggendongnya, membantu saya, melihat adik sepertinya tertidur, tapi saat dipindah, tiba-tiba saja bangun dan menangis kencang. Ujian banget dan sempat rasanya pengen nyerah saat itu. Tapi, Alhamdulillah, akhirnya bisa selesai tanpa banyak kendala.
Berbagi Tugas dengan Suami
Bagaimana ibadah umroh plus Turki membawa serta balita? Sebenarnya sudah banyak sekali yang melakukan ini. Saya mungkin termasuk salah satu yang berkesempatan juga membawa anak-anak saat ibadah umroh dan traveling ke Turki.
Supaya ibadah tetap maksimal, dan perjalanan traveling tetap menyenangkan, cobalah berbagi tugas dengan pasangan kamu. Saat di Turki, adik bersama ayahnya, dan si sulung kebih sering bersama saya. Saat di Mekkah pun sama, kami bergantian shalat dan melakukan ibadah lain. Thawaf sunnah bersama, saya menggendong si bungsu dan ayah menggandeng si sulung. Saat ingin shalat, kami bergantian menjaga si bungsu, sampai kami juga bisa menyentuh Kakbah dan shalat di Hijir Ismail. Ketika itu jangan dibayangkan mudah, ya? Butuh tenaga dan kerja keras buat sampai di sana, bahkan saat akan keluar dari kerumunan saya sampai kesulitan dan dibantu orang lain yang tidak kami kenal. Masya Allah, perjalanan yang tidak mudah.
Persiapkan Mental
Perjalanan ibadah umroh plus Turki merupakan perjalanan yang benar-benar tidak mudah buat kami karena ini kali pertama kami pergi jauh bersama keluarga. Kami harus berada di pesawat selama hampir 13 jam menuju Turki. Bersyukurnya kami berangkat malam hari sehingga anak-anak bisa tidur dengan pulas di pesawat. Selain itu, terjadi drama juga, salah satunya ketika si bungsu tiba-tiba minta cuci tangan di kamar mandi sedangkan saat itu pesawat mau landing. Duh, dia nangis sampai muntah-muntah, disangka orang sedang sakit atau kesakitan telinganya...he.
Tapi, apa pun kesulitan itu, jangan dibawa ribet. Si bungsu sempat demam selama di Madinah dan Mekkah dan susah banget minum penurun panas, tapi saya coba menenangkan diri supaya tidak panik. Mencoba menikmati, dan Alhamdulillah, saat mau pulang, di pesawat selama 13 jam, bungsu suhunya normal dan tidur nyenyak.
Itulah beberapa persiapan yang harus dilakukan saat akan melakukan ibadah umroh plus Turki ketika musim dingin. Tetaplah berpikir positif, sebab semua akan berjalan sesuai dengan apa yang kamu pikirkan. Banyaklah berdoa semoga perjalanan menyenangkan itu benar-benar berpahala dan bisa jadi bonding bersama anak-anak.
Salam hangat,
Sunday, October 21, 2018
Beda Antara Passion dan Hobi, Ketahui Masing-masing yang Menjadi Kelebihanmu!
Apa passion kamu? Lalu apa hobi kamu? Tahukah kamu jika passion dan hobi itu berbeda? Passion adalah sesuatu yang nggak pernah bikin kamu bosan untuk melakukannya, bikin kamu selalu bersemangat dan rela melakukan banyak hal untuk mencapainya.
Apa Passion Kamu?
Butuh waktu yang cukup lama untuk mengetahui apa passion saya. Sejak lama, saya melakukan banyak hal menyenangkan untuk mengisi waktu. Apa pun saya lakukan, terutama saat baru menikah dan pindah ke Jakarta. Sambil menunggu suami pulang kerja, saya mengerjakan berbagai macam kegiatan, termasuk sesekali menulis, menggambar, membuat berbagai macam kerajinan tangan seperti membuat bunga dari kertas krep, membuat tas rajut, membuat tas atau celemek dengan sulam pita, sampai pada suatu hari saya juga berjualan barang-barang handmade yang sudah saya buat itu. Betapa banyak kegiatan yang saya lakukan, tetapi saya seringkali bosan melakukan itu dalam waktu cukup lama.
Tahun 2014 saya mulai menulis kembali dengan lebih serius, tapi saya harus berhenti saat itu karena kondisi yang tidak memungkinkan. Saya hamil anak kedua, dan mual-mual parah. Entahlah, saya merasa harus fokus saja dengan kehamilan yang saat itu banyak mengalami masalah.
Setelah anak kedua lahir, drama sakit antara adik dan kakanya cukup menyita waktu. Tak jarang saya juga sering ikut sakit ketika mereka sakit. Saya demam tinggi dan harus menjaga bungsu yang demam juga. Duh, rasanya nggak ada pikiran buat melakukan hal lain lagi saat itu.
Seiring waktu, bungsu semakin besar. Saya merasa sudah banyak waktu longgar. Akhirnya saya mulai membuka akun sosial media. Pertama kali sih dimulai ikut bikin akun di Cookpad dan aktif di sana. Setelah itu, tergelitik kembali menulis. Duh, rasanya kangen banget. Karena sudah lama tidak menulis, jari-jari rasanya sudah kaku banget. Mulai lagi dari nol.
Tapi, dari sinilah saya mulai dan bertahan hingga sekarang. Setelah sekian lama mencoba menekuni banyak hal, barulah saya sadar bahwa passion saya adalah menulis, bukan yang lain. Saat menulis, saya bisa terjaga hingga larut, senang dan bersemangat sekali rasanya. Dan itu bisa bertahan dalam waktu yang lama, susah bosan apalagi berhenti.
Belakangan saya mencoba masuk kelas menggambar. Setelah beberapa kali masuk kelas, jujur saya merasa berat melakukan tugas-tugas itu. Sejak kecil memang suka menggambar, tapi belakangan saya paham kalau itu hanyalah hobi. Menggambar butuh waktu lama, menyita sekali apalagi saya belum mahir. Dan saya sedih sekali melewatkan banyak waktu yang biasanya saya isi dengan menulis.
Passion Bukan Hobi
Hobi berbeda dengan passion. Dan sekarang, saya tahu apa hobi saya, saya paham apa passion saya. Keduanya berbeda. Sesekali saya masih menggambar, bahkan ada tugas terakhir kelas menggambar yang belum rampung….hiks. Kemarin menyempatkan diri, tepatnya memaksakan diri untuk ikut kompetisi membuat lembar aktivitas. Kenapa memaksakan diri? Nggak pede aja ikutan kompetisi seperti ini. Karena selama ini memang belum pernah mencobanya.
Tapi, bukan saya kalau menyerah sebelum mencoba *eaa…haha. Pantang banget buat mundur selama masih punya kesempatan. Dan kemarin baru saja diumumkan siapa pemenangnya. Alhamdulillah, saya menang. Girang banget? Hihi, iya banget dan kaget karena buka pengumuman setelah bangun tidur.
Kompetisi ini diadakan oleh Wonderland Creative untuk merayakan hari jadinya yang pertama. Kompetisi menulis cerpen belum menang, tapi terpilih untuk dibukukan. Menyenangkan sekali kalau semua yang kita usahakan mulai terlihat hasilnya, ya.
Dalam kompetisi membuat lembar aktivitas ini saya menggunakan Ibis Paint X. Ini merupakan aplikasi menggambar yang enak banget buat pemula. Apakah aplikasinya nanti jalan sendiri? Seorang teman pernah bertanya demikian. Tentu saja tidak..hihi. Kita tetap harus menggambar manual seperti biasanya.
Selain Ibis, saya juga biasa menggunakan Medibang. Aplikasi kedua ini bahkan juga dipakai oleh penulis komik untuk membuat buku, lho. Jadi, asalkan kita bisa menggunakannya dengan baik, aplikasi simpel begini bisa banget dipakai untuk apa saja.
Bagaimana cara menggunakannya? Saya pribadi belajar secara otodidak dengan membaca beberapa artikel terkait dan juga menonton videonya di Youtube. Zaman sekarang apa sih yang nggak bisa dicari? Kecuali kita nggak niat mencarinya aja, ya? Hehe.
Sampai sekarang masih suka menggambar, tapi tidak selalu saya lakukan apalagi setiap hari. Sedangkan menulis, selalu saya usahakan setiap hari. Bagaimana dengan kamu? Apakah passion dan hobimu?
Isi Liburan dengan Membuat Roti Karakter Homemade Bersama Si Kecil, Seru dan Mengasyikkan!
Alhamdulillah, kemarin kembali menyalakan oven setelah sekian lama diabaikan, dicuekin. Nggak kebayang bagaimana perasaan si oven saat saya cuekin. Baper nggak, ya? Haha.
Nah, kemarin si sulung ada jadwal berenang di sekolah. Tapi, saya tidak bisa mengantar, alhasil dia hanya di rumah saja bersama adiknya. Agak siangan saya ajak membuat roti bersama. Biar dia senang dan nggak bingung ngisi waktu di rumah.
Si sulung ini doyan banget makan roti. Ya roti beli, roti buatan emaknya, pokoknya satu loyang kadang dia yang habisin. Duh, kebayang nggak sih doyannya dia sampai sebegitunya, lho. Kalau sudah makan roti, makan nasinya pun pasti berkurang juga. Tapi, nggak masalah, biasanya saya biarkan saja karena sekarang saya tidak terlalu sering juga bikin roti.
Untuk membuat roti empuk dan mengembang, butuh berapa kali gagal dan jatuh bangun? Hihi. Saya tergelitik membahas ini mengingat ada banyak teman yang mencoba resep saya tapi harus gagal dulu. Yap! Tak terhitung sih berapa banyak adonan bantat dan nggak matang di tangan saya. Nggak terhitung juga berapa kali salah menimbang. Kadang lupa memasukkan air terlalu banyak…hiks.
Semua pengalaman itu justru bisa membuat kita jauh lebih mudah ke depannya saat akan membuat roti lagi. Pengalaman itu bisa jadi pelajaran buat kita. Kalau sebelumnya udah pernah gagal nggak matang padahal warnanya udah cantik, bisa jadi suhu ovennya nggak tepat, ‘kan? Banyak hal bisa banget kamu pelajari dari sebuah kegagalan.
Nah, kali ini saya bikin roti killer soft bread satu kali proofing. Jadi, nggak lama nungguin, setelah diulen sampai kalis, kamu bisa langsung membentuknya dan menunggu proofing selama satu jam atau kurang.
Bahan:
500 gram terigu protein tinggi (Saya pakai Cakra)
8 gram ragi instan
120 air hangat
120 air dingin atau suhu normal
1 sachet susu bubuk
110 gram gula pasir
80 gram butter atau margarin
3 butir kuning telur, beri putihnya sedikit.
Sejumput garam
Cara Membuat:
1. Campur 1 sdm gula pasir bersama ragi dan air hangat. Aduk rata. Cara ini bisa dilakukan juga untuk mengetahui apakah ragi masih aktif atau tidak. Terutama untuk ragi yang sudah lama dibuka kemasannya.
2. Dalam wadah lain, campur terigu, sisa gula pasir, susu bubuk, air dingin, kuning telur, dan campuran ragi yang sudah berbusa (setelah 5-10 menit). Mixer sampai rata.
3. Masukkan butter dan garam. Mixer sampai kalis elastis sehingga adonan bisa ditarik dan dibentangkan hingga tipis tanpa sobek.
4. Bentuk dan beri isian. Tutup dengan kain bersih dan diamkan selama 1 jam atau sampai mengembang dua kali lipat.
5. Panaskan oven 10 menit sebelumnya. Panggang hingga matang kurang lebih 15 menit, tergantung ovennya masing-masing.
6. Setelah matang, keluarkan dari oven dan olesi atasnya dengan butter. Sajikan atau bungkus dengan plastik supaya roti awet dan tidak mengeras saat bersisa.
Voila! Roti satu kali proofing siap disantap bersama si kecil. Mudah banget, ‘kan? Kamu bisa ajak anak-anak membuat roti bentu karakter sesuai dengan keinginan mereka. Kemarin saya membuat bentuk kura-kura. Saya ambil sedikit adonan dan dicampurkan dengan sedikit cokelat bubuk. Lalu gunakan sebagai hiasan baik mata ataupun motif tempurungnya.
Bagaimana, menarik sekali, ‘kan mengisi liburan atau weekend dengan membuat roti homemade? Meski sedikit repot, tapi hal ini begitu mengasyikkan bagi mereka. Yuk cobain resepnya!
Subscribe to:
Posts (Atom)
Hey there!
Part of







