Menjalani Hidup 'Berbeda' dengan Penuh Syukur

Friday, April 30, 2021


Penuh syukur


 “Andaikan kita bisa mengubah sikap, kita tidak hanya akan melihat hidup secara berbeda, tetapi hidup itu sendiri pun akan menjadi sesuatu yang berbeda.”

(Katherine Mansfield)


Saya percaya, di dalam hidup ini nggak ada yang namanya kebetulan. Meksipun saya sering terlambat menyadarinya, tapi saya selalu percaya semua sudah diatur sedemikian indah oleh Allah. Seperti saat saya mendapat hadiah salah satu buku Chikcken Soup for the Soul yang berjudul Kekuatan Berpikir Positif dari Gramedia Pustaka Utama sekitar bulan Agustus 2020 lalu. Sekali lagi, ini bukan kebetulan. Di antara tumpukan buku yang dikirimkan oleh Gramedia Pustaka Utama, buku inilah yang paling berperan mengubah mindset saya, terutama ketika melewati masa-masa sulit selama pandemi.


Hidup di masa pandemi bukan sesuatu yang mudah. Saya nggak pernah membayangkan harus mengalaminya di saat semua baik-baik saja dan nyaris sempurna. Tiba-tiba, seperti dentuman, bukan hanya mengubah, tapi juga membuat yang utuh menjadi berantakan. 


Awal pandemi tahun lalu, si Mas mulai bekerja dari rumah seperti orang kebanyakan. Merasa jauh lebih tenang karena itu adalah masa-masa paling parno, ya. Nggak kebayang kalau harus keluar rumah dan bekerja hingga sore. Apalagi dia ada alergi dingin sama debu. Kena debu sedikit saja bisa membuatnya bersin-bersin. Namun, bersin-bersin di masa pandemi bukan hal sederhana. Pasti bikin parno orang serumah.


Namun, bukan itu masalah yang tersulit. Bukan tentang saya yang selalu was-was kalau mesti keluar rumah atau mengantarkan si Mas yang mau berangkat bekerja hingga pintu pagar. Ini bukan hanya tentang orang lain yang saya lihat di berita, kehilangan pekerjaan hingga kesulitan memenuhi biaya hidupnya. Ini tentang kami, tentang saya dan si Mas yang ternyata mesti mengalami juga yang namanya PHK. Ya, si Mas kena PHK masal dan kantornya tutup.


Sejak awal, Mas memang sudah sering menceritakan kondisi tempat kerjanya yang ‘kurang baik’. Ibaratnya manusia, dia sudah nggak sehat lagi. Sudah ada gejala, tapi nggak tahu sampai kapan bisa bertahan. Tanpa aba-aba sebelumnya, tiba-tiba muncullah keputusan besar dari perusahaan.


Gimana rasanya waktu tahu suami di-PHK? Dibilang kaget banget, ya nggak juga karena sudah jauh-jauh hari Mas menceritakan kondisi tempat kerjanya. Tujuannya juga supaya saya nggak terlalu terkejut ketika itu benar-benar terjadi. Namun, siapa, sih yang benar-benar siap kehilangan? 


Mas sudah belasan tahun bekerja di sana. Mulai dari selesai kuliah hingga menikah dengan saya dan sekarang punya anak-anak. Pekerjaannya sebagai engineer adalah passion-nya. Saya tahu betul itu. Dia bukan hanya bekerja, tapi merasa memiliki sehingga tak setengah hati dia melakukan semuanya. 


Sekitar enam tahun lalu waktu dia mesti pindah kantor, dia memilih ikut membangun kantor yang baru bersama timnya ketimbang memilih ke kantor satunya yang jelas sudah lebih gagah berdiri. Dia sampai jarang pulang ke rumah dan lebih banyak tidur di sana. 


Berhenti bekerja pasti akan terjadi. Mas bilang, ini hanya soal waktu saja. Walaupun bukan sekarang, suatu saat pasti akan pensiun. Namun, setelah PHK, hampir semua yang sudah dirumahkan benar-benar kesulitan masuk ke sana. Sekadar buat beres-beres barangnya aja susah. Itulah yang disesalkan oleh banyak orang waktu itu. Padahal, kantor itu dibangun bareng oleh orang-orang lama hingga bisa bertahan dalam waktu nggak sebentar.


Namun, it’s okay. Nggak perlu menyesali banyak hal karena kita nggak mungkin mengendalikan sikap orang. Kita hanya bisa mengatur sikap kita sendiri, bagaimana kita bereaksi ketika mengalami suatu masalah atau ketika diperlakukan kurang layak oleh orang lain. Diterima saja dan mari berdamai dengan semua yang sudah terjadi.


Saya adalah tipe orang yang gampang banget mewek dan panik. Mudah takut juga dengan sesuatu yang belum terjadi. Tapi, setahun belakangan, saya belajar untuk berpikir lebih positif akan banyak hal.


Ketika kami harus mengalami masa sulit itu bersama, saya berusaha mengatakan pada diri sendiri bahwa semua akan baik-baik saja. Nggak usah takut dengan masa depan, karena rezeki itu sudah Allah atur. Nggak usah takut besok-besok mau kerja apa, saya percaya Allah akan gantikan yang telah hilang dengan yang lebih baik.


Meskipun sudah sepositif itu, tapi tetap saja bawaannya mellow kalau ingat suami sudah di-PHK. Kalau dekat-dekat suami, saya nggak akan memperlihatkan muka sedih, tapi berusaha se-happy mungkin dan menunjukkan, ‘Udah nggak masalah, kita bisa lewatin semua bareng’. Saya nggak mau dia merasa semakin buruk, dan kenyataannya memang semua baik-baik saja, kok. 


Sedikit pun saya nggak pernah berburuk sangka pada takdir Allah. Setiap sujud, saya menangis sejadinya dan berkata dengan yakin,


Saya percaya Engkau akan ngasih yang lebih baik. Saya percaya dan sangat percaya….


Di luar salat, saya akan menahan kesedihan itu dan berusaha lebih tegar meski kenyataannya saya cengeng parah. Berusaha sebisa mungkin tetap bersyukur karena nikmat Allah begitu luas untuk saya dan keluarga. Kesedihan ini hanyalah bagian kecil yang insyaallah akan ada masanya juga untuk berakhir.


Saya sering bilang pada Mas, ‘kita itu beruntung banget, lho. Lihat tetangga kita, dia kena PHK dan pesangonnya yang nggak seberapa malah dicicil entah sampai kapan. Kita nggak sampai mengalami hal seburuk itu. Kita beruntung, sangat beruntung. Banyak banget hal yang sudah kita capai dan miliki. Kalau dihitung juga nggak akan mampu saking banyaknya hadiah yang sudah Allah kasih. Alhamdulillah banget.’


Bersyukur sekali, kami hidup bukan karena ‘apa kata orang’. Kami terbiasa hidup biasa-biasa saja dan sewajarnya. Waktu kena PHK, nggak pusing mikirin cicilan ini dan itu. Tabungan pun lebih dari cukup. Hanya saja, melihat suami yang biasanya bekerja, tiba-tiba hanya di rumah itu bikin nyesek. Nelangsa banget rasanya.


“Alhamdulillah, bisa ngumpul lebih lama sama keluarga. Di tengah pandemi yang sedang heboh-hebohnya pula,” ucap saya suatu hari. Itu juga sebuah keberuntungan. Tak seharusnya saya banyak mengeluh.


Pernah Ingin di-PHK Dini

Penuh syukur



Satu tahun sebelumnya, Mas pernah pengin di-PHK dini. Waktu itu, saya lihat dia benar-benar nggak happy dengan pekerjaannya. Dia bekerja pada orang yang ‘kurang menyenangkan’. Gimana rasanya harus kerja, tapi nggak dihargai?


Datanglah tawaran dari bosnya yang lama. Orang yang dia segani dan sudah bertahun-tahun dia kenal. Waktu itu, dia mau saja pindah meskipun jarak kantornya lebih jauh dari rumah. Saya tahu, dia pengin nyaman kerja, nggak mau tertekan. Itu saja. Namun, usaha habis-habisan nggak bisa mewujudkan keinginan si Mas. 


Hampir setiap hari dia memohon untuk di-PHK dini, tapi bosnya selalu menolak. Dan ternyata, waktu pandemi, setelah tawaran kerja itu nggak berlaku lagi, Mas di-PHK. Kalau mau kesal, mungkin kami akan menyalahkan si bosnya yang keras kepala banget nggak ngasih izin Mas berhenti sejak awal. Diminta tetap membantu, tapi kurang dihargai, aneh banget, kan?


Alih-alih kesal, saya justru bersyukur Mas nggak jadi kerja di tempat lain. Iya, karena jaraknya jauh banget di Tangerang sana. Sedangkan rumah kami di Jakarta. Mas nggak mungkin pulang pergi dalam kondisi pandemi, minimal dia harus mencari tempat tinggal di sana dan pulang hanya seminggu sekali. 


Dulunya kami pikir, berhenti lebih awal adalah jalan yang paling baik. Jadi kami minta sama Allah supaya dikasih yang terbaik. Ternyata sesuatu yang kita anggap baik belum tentu baik juga di sisi Allah. Benar, doa kami tidak tertolak untuk segera di-PHK, tapi di saat nggak ada pekerjaan pengganti, rasanya itu cukup berat. Namun, Allah buktikan bahwa rencana-Nya nggak pernah keliru. 


“Aku itu sudah yang paling tahu dan paham. Kamu jangan sok tahu!”


Rasanya seperti ditampar. PLAK! Tiga bulanan setelah di-PHK, Mas dapat tawaran kerja dari bosnya yang lain. Bukan hanya dia tahu betul siapa yang menawarkan pekerjaan, tapi jarak kantor dengan rumah kami dekatnya minta ampun. Setiap hari, dia bersepeda menuju kantornya yang baru. Dia nggak perlu macet-macetan di jalan hingga berjam-jam. Dia nggak perlu pulang sampai larut karena jarak kantor yang sangat jauh. Banyak sekali hal yang dulunya nggak pernah kami sadari, sekarang terbuka begitu luasnya.


Gimana, rencana Allah lebih baik, kan daripada rencana manusia? Duh, malunya sama Allah.


Hidup Itu Pilihan

Hidup penuh syukur


Hidup itu adalah pilihan. Bagaimana kita mau merespon suatu kejadian, itu juga pilihan. Apakah mau terus menerus menyesali nasib yang mungkin sedang kurang beruntung atau justru menerimanya dengan penuh syukur? 


Waktu Mas kena PHK, nggak berselang lama saya dapat kiriman buku dari Gramedia Pustaka Utama. Judulnya sudah ketebak, benar-benar sesuai dengan kondisi saya dan si Mas waktu itu. Kekuatan Berpikir Positif yang terbit pertama kali pada 2014 ini mengisahkan banyak pengalaman buruk, tapi berubah menjadi menakjubkan ketika disikapi dengan amat positif.


Iya, setiap hari saya membaca buku setebal hampir 500 halaman ini sedikit demi sedikit. Saya merasa ada banyak hal ajaib terjadi setelahnya. Bagaimana saya menyikapi keadaan yang kurang menyenangkan, bagaimana saya bisa lebih banyak bersyukur dan menerima keadaan.


Saya belajar bersabar dan meyakinkan diri bahwa rencana Allah itu sudah pasti yang paling baik dan mustahil Allah dzalim pada hamba-Nya. Saya belajar banyak hal dan merasa jauh lebih bahagia dengan keadaan sekarang.


Buku Kekuatan Berpikir Positif ini juga mengisahkan seorang wanita yang selalu merasa begitu buruk dan bermental negatif hanya karena dia senang membaca buku-buku yang bertema serupa. Rak bukunya dipenuhi dengan bacaan yang mengerdilkan harapannya sehingga dia merasa keadaannya sulit diubah.


Namun, pada suatu hari, dia menemukan sebuah buku yang mengubah mindset-nya. Ternyata, ketika kita membaca buku-buku yang berisi kalimat-kalimat positif dan memotivasi, pola pikir kita pun akan berubah dengan begitu ajaibnya.


Maka, dia segera pergi ke toko buku bekas dan mencari buku-buku terbaik yang bisa ditemukannya kemudian mengganti semua buku yang telah memenuhi rak bukunya dalam waktu yang cukup lama. Dia memutuskan untuk mengubah pola pikirnya yang salah.


Kebayang apa yang dia dapatkan setelah itu? Dia akhirnya bertemu dengan pria yang tepat. Dia nggak jomlo lagi seperti yang diucapkan teman-temannya. Dia kebagian stok pria baik yang menurut temannya sudah habis…haha. Mereka pun akhirnya menikah dan hidup bahagia. Ini bukan kisah dalam dongeng yang dibacakan oleh orang tua kita semasa kecil. Cerita ini ditulis dari kisah nyata dan pengalaman hidup yang begitu berharga.


Di halaman lainnya, ada kisah seorang wanita yang merasa begitu terpuruk karena telah kehilangan pekerjaan di masa-masa yang begitu sulit. Kemudian dia berhenti di sebuah halte dengan perasaan yang amat kalut. Tanpa sengaja, datanglah seorang gelandangan dan duduk di sebelahnya. Mereka ngobrol sebentar. Gelandangan itu tidak punya rumah, dia bekerja serabutan, tidak punya keluarga, dan benar-benar sendirian.


Sampai di sini, wanita yang telah kehilangan pekerjaannya itu merasa hidupnya jauh lebih baik dan beruntung. Jika si gelandangan saja bisa merasa baik-baik saja dengan keadaannya yang jauh dari sempurna, lantas kenapa dia merasa begitu hancur padahal dia masih punya rumah yang hangat untuk pulang, dia masih punya suami dan anak-anak yang selalu mendukungnya bahkan dalam keadaan yang paling sulit sekalipun. Hidupnya baik-baik saja, kenapa dia mesti merasa nelangsa dan hancur? Setelah obrolan singkat itu, dia pulang dengan perasaan yang jauh lebih baik.


Banyak sekali kisah menakjubkan dalam buku ini yang akhirnya bisa mengubah mindset saya. Dulu, hanya karena mesti duduk terpisah gerbong dengan si Mas saja, saya bisa panik dan mau menangis, lho. Dada rasanya sesak dan pikiran dipenuhi oleh rasa takut yang berlebihan. Saya merasa semua akan berjalan sangat menakutkan dan hal buruk akan terjadi.


Yups! Itu hanya bayangan. Sesuatu yang belum terjadi, lho. Waktu itu saya sudah belajar ngobrol dengan diri sendiri. Di salah satu stasiun di Kota Bandung, saya menutup mata yang sudah berkaca-kaca. Saya menarik napas panjang dan berkata pada diri sendiri,


“Semua akan baik-baik saja. Ini adalah hal menyenangkan dan tidak ada yang perlu ditakutkan.”


Air mata saya urung jatuh. Meskipun masih takut dan was-was, saya merasa bahwa perasaan ini jauh lebih baik. Kami pun naik kereta dan duduk berbeda gerbong. Dan hal yang saya takutkan tidak pernah terjadi. Semua baik-baik saja. Anak-anak happy, saya pun tidak sampai pingsan di kereta…haha.


Dari sebuah buku saya bisa mengambil banyak sekali pelajaran. Waktu kecil hingga sedewasa ini, yang saya tahu, dalam sebuah permainan pasti ada menang dan kalahnya. Semua orang pasti setuju. Namun, setelah membaca buku ini, saya jadi tahu bahwa semua orang bisa saja jadi pemenang asalkan dia tetap meneruskan perjalanan.


Seorang anak yang dikalahkan oleh ibunya dalam permainan ular tangga misalnya, dia juga bisa menang asal terus melempar dadu dan berjalan hingga finish. Itulah yang dikisahkan di dalam buku bersampul putih ini.


Jadi, saya pun tidak mau berhenti hanya karena saya pernah kalah atau gagal ketika melakukan suatu hal. Hidup akan terus berlanjut dan pandemi mestinya bukan alasan bagi kita untuk berhenti berjuang. Justru karena pandemi, saya pun bisa mencapai impian masa kecil yang belum terwujud. Karena alasan sedang pandemi, saya mengeluarkan tablet dan mulai menggambar lagi.


Awal tahun ini, sebuah buku cerita anak yang saya ilustrasikan telah terbit di Mesir dengan Bahasa Arab. Menyusul buku-buku lainnya yang terbit di Indonesia dan Malaysia. Bahkan tahun ini juga, saya berhasil menerbitkan sebuah buku solo yang saya ilustrasikan sendiri. Impian ini memang bukan keinginan yang paling sering saya ucapkan, tapi pernah menjadi yang paling saya inginkan terutama ketika masih kecil dulu.


Lihatlah, semua terjadi begitu cepat bukan karena saya memang kukuh dan gigih sekali berusaha, tapi juga karena ada Allah yang menjadi sebaik-baik perencana. Semua terjadi di saat yang sangat tepat dan ketika saya pun telah amat siap. 


Awalnya, saya berpikir bahwa pandemi ini benar-benar mengubah hal baik menjadi buruk bahkan sangat buruk. Kemungkinan besar tahun ini tidak ada buku saya yang terbit karena kebanyakan penerbit menunda jadwal terbit hingga berbulan-bulan. Ternyata, saya salah lagi. Tahun ini, justru rasanya jauh lebih baik dan tentu saja lebih banyak bersyukur.


Kita punya pilihan untuk menjalani hidup yang tidak kekal ini. Apakah kita akan menghabiskannya dengan penuh syukur atau justru mengeluh tanpa ada habisnya? Pikirkanlah hal-hal baik dan jangan sekali-kali berburuk sangka pada Allah. Kadang, hidup berjalan tidak sesuai rencana, tapi semua akan baik-baik saja karena Allah adalah sebaik-baik perencana. Apa yang kita anggap buruk, belum tentu buruk pada akhirnya. Maka bersabarlah sedikit dan biarkan Allah menjalankan rencana-Nya yang amat indah dan sempurna.


Salam hangat,





Comments

  1. Masya Allah tabarakallah ❤️ sukses terus ya mba, jadi pengen beli juga buku nya biar diingetin terus untuk positive thinking

    ReplyDelete
  2. buku yang bener bener menginspirasi ini.menarik
    setuju, kadang hidup memang nggak berjalan sesuai rencana kita, dan Tuhan pasti akan memberikan waktu terbaik kapan keinginan kita itu akan tercapai

    ReplyDelete