Menebar Kebaikan Saat Pandemi

Wednesday, April 29, 2020

Nggak pernah terbayang Indonesia akan menjadi salah satu negara yang mengalami pandemi. Tahun 2020, seharusnya banyak hal menyenangkan bisa kita lakukan, banyak target bisa kita kejar dengan penuh antusias dan suka cita. Tapi, sejak pandemi datang, luluh lantak sudah semua harapan besar yang telah direncanakan sejak jauh-jauh hari.

Siapakah yang paling terdampak? Orang-orang yang hidupnya sudah susah, semakin susah ketika ada pandemi. Tukang ojek online, pengemudi taksi, tukang becak, supir angkot, pedagang kecil, pemulung yang setiap harinya mencari nafkah untuk kebutuhan hari itu juga, hingga karyawan serta buruh yang kehilangan pekerjaan tanpa pernah mereka duga.

Ngilu rasanya melihat kisah pilu mereka. Kadang, mereka harus berangkat kerja tanpa sempat sarapan. Bukan karena terburu-buru. Namun, karena nggak ada yang bisa dimakan. Penumpang sepi, nggak ada orang berani keluar. Karyawan kebanyakan kerja dari rumah. Anak-anak sekolah diliburkan dan diharuskan belajar di rumah. Lalu siapa yang akan mereka antar? Sedangkan setiap hari mereka perlu makan.

Berbagi Dalam Kondisi Membutuhkan


Apa, sih, makna berbagi buat kamu? Memberikan sedikit harta kita yang berlebih kepada orang yang membutuhkan? Bersedekah karena itu adalah anjuran di dalam agama Islam? Atau sebagai salah satu empati kita sebagai manusia yang satu sama lain saling bersaudara, di mana ketika sebagian tubuh kita ada yang terluka, maka sebagian yang lainnya ikut merasakan sakit?

Berbagi nggak hanya ketika kita mampu dan mempunyai harta berlebih. Saat pandemi seperti sekarang, kedermawanan kita benar-benar diuji, lho. Berhemat dan menimbun demi perut sendiri atau berbagi dengan mereka yang sedang membutuhkan meskipun kita sendiri sejatinya butuh.

Saya benar-benar merasakan bahwa ketika kita hanya mementingkan diri sendiri, mencari keuntungan pribadi, nggak harus saat pandemi, walaupun itu dari hasil jerih payah kita sendiri, ujung-ujungnya kita nggak akan pernah merasa puas, lho. Malah yang ada kurang dan kurang terus.

Kita mengejar kekayaan supaya bahagia, nyatanya kita nggak pernah merasa cukup. Tapi, ketika kita mau berbagi dan menyisihkan sebagian harta kita buat yang lain, maka hati rasanya jadi lapang banget. Hidup jadi adem banget kayak ubin masjid...hehe. Itulah kenapa kaya itu nggak identik dengan kekayaan harta, melainkan kaya hati. Hatinya lapang, luas, selalu merasa cukup dengan apa yang dimiliki. Dan sadar betul apa yang kita punya, di dalamnya terdapat hak orang lain yang mesti ditunaikan. Nggak boleh kita makan sendiri.

Ajaibnya Sedekah



Suatu hari, tanpa sengaja saya melihat sebuah video di Youtube yang berkisah tentang keajaiban sedekah. Dalam video itu, diceritakan ada seorang pemuda yang merantau ke Ibu Kota, tapi saat dia sampai di terminal, justru ia kesulitan mencari tumpangan menuju tempat tujuan. Tumben banget nggak ada bus menuju tempat tujuannya.

Kebayang nggak, sih kalau kita jadi dia? Panik sudah pasti. Apalagi kalau ada janji bertemu dengan orang penting. Sedangkan untuk menghubungi temannya dia merasa kesulitan. Teleponnya nggak diangkat. Di sana juga nggak ada orang yang ia kenal. Horor banget, kan?

Tiba-tiba, seorang teman menelepon. Menanyakan kabar. Ketika tahu dia sedang dalam kesulitan, sontak sang teman bertanya,

“Ada berapa uang di dalam dompetmu?”

“Sekian.”

“Sedekahin semuanya. Kasih aja ke orang-orang yang kamu anggap butuh di situ.”

“Eh, kamu gila, ya! Di sini nggak ada orang yang aku kenal sama sekali. Belum lagi aku kesulitan mencari tumpangan, tiba-tiba kamu menyuruhku untuk menghabiskan semua uangku? Nasihat macam apa ini!”

“Eh, kamu mau kesulitanmu cepet selesai atau nggak?”

“Iya, sih. Okelah aku coba.”

Meskipun nasihat itu terdengar sangat gila, tapi akhirnya ia kerjakan juga. Dia panggil beberapa anak yang mengamen dan menjual makanan ringan di terminal itu. Baiklah, dia sudah melakukan apa yang temannya minta. Dan hanya butuh waktu untuk menunggu keajaiban.

Tahukah kamu? Nggak lama setelah itu, ada anak kecil menghampiri dan menanyakan ke mana tujuannya? Dia menjawab pasti akan ke tempat A. Anak itu menyuruhnya segera menyusul mobil yang terparkir malas di depan, tak jauh dari tempatnya berdiri. Katanya, sang pengemudi tidak tahu jalan. Dia butuh pemandu. Dan ajaibnya, tujuan mereka sama, lho.

Dengan semangat pemuda itu mengatakan aku bisa membantu! Masya Allah. Ajaib sekali, ya sedekah itu? Ini bukan fiksi. Bukan juga kisah dongeng. Nyata-nyata terjadi, lho. Saking inspiratifnya, saya pun jadi ikut-ikutan senang melakukan hal yang sama.

Kalau kita mau bahagia, kita bahagiakan orang lain. Kalau kita mau dapat kejutan menyenangkan, kita beri kejutan menyenangkan juga dong pada orang lain. Lalu siapa yang akan membalas kebaikan kita? Allah.

Sedekah Bisa Melepaskanmu dari Kesulitan


Sekitar bulan Agustus 2019, saya memutuskan pergi ke Perpustakaan Nasional untuk menghadiri Gramedia Writers and Readers Forum atau GWRF 2019. Dengan naik KRL, saya serta suami dan anak-anak berangkat penuh semangat. Lumayan juga hiburan buat mereka. Karena kami jarang sekali traveling. Mainnya kurang jauh kata anak zaman sekarang...hihi. Naik KRL aja happy banget.

Sampai di Perpustakaan Nasional sudah agak siang. Saya datang untuk bertemu salah satu editor penerbit di Editor’s Clinic. Tapi, waktu baru naik lift, tiba-tiba mati lampu, meskipun akhirnya nyala lagi karena sudah pasti di sana pakai genset, ya.

Nggak pernah kebayang kalau itu mati lampu paling lama yang saya alami selama tinggal dan menetap di Jakarta. Benar, sampai saya pulang menjelang sore, lampu belum nyala dong. Ya Allah, hati rasanya dag dig dug mengingat kami berangkat naik KRL dan memutuskan nggak bawa kendaraan pribadi demi menghibur anak-anak.

Sambil mencari makan siang, saya melihat banyak sekali supir ojek online menumpuk di mana-mana. Nggak hanya di satu titik saja. Mereka kesulitan mencari penumpang karena jaringan internet pun terganggu. Semakin bikin ketar ketir, itu artinya kami pun nggak bisa pulang naik taksi online. Sudah mencoba beberapa kali, selalu  gagal.

Kami memutuskan istirahat di depan sebuah ruko. Nggak jauh dari sana ada seorang nenek penjual masker yang menggelar dagangannya di lantai. Sebelum kami kembali ke stasiun, kami sempatkan menghampiri nenek tersebut dan membeli satu masker. Saya memang sengaja memberikan uang lebih saat itu. Nenek itu berterima kasih dengan wajah sumringah meskipun saya tahu, nilai uang yang saya berikan nggak seberapa.

Kami pun segera kembali ke stasiun yang masih ditutup dan dijaga oleh para petugas. Berbaur bersama penumpang KRL yang lain. Capek, panas, nyari tempat duduk juga susah. Anak-anak mulai rewel. Eh, tapi nggak boleh ngeluh, harus positif thinking. Saya yakin Allah bakalan bantu.

Suami masih berusaha mencari taksi online lewat aplikasi. Aplikasinya hanya muter-muter mirip isi kepala kami yang sudah pusing...hihi. Gagal! Eh, tapi tunggu dulu. Tiba-tiba ada yang menelepon. Driver taksi online! Masya Allah, entah dari mana ini orang bisa menghubungi, padahal ketika dilihat di aplikasi hanya muter-muter nggak jelas.

Kami pun pulang dengan selamat tanpa perlu berdesakan di bus Transjakarta. Sinyal handphone benar-benar lenyap setelahnya. Kayaknya driver ini muncul tepat waktu banget. Nggak meleset sedikit pun. Masya Allah.

Dipikir-pikir lagi, di dunia ini nggak ada yang namanya kebetulan. Saya bersyukur saat itu bisa pulang dengan selamat sebelum malam. Karena setelah itu, Jakarta gelap gulita hingga berjam-jam lamanya. Masalahnya, kami membawa anak-anak yang mesti diprioritaskan.

Tapi, Allah baik banget, ya. Kami dimudahkan betul bahkan rasanya ajaib juga ketika ada driver menghubungi padahal di aplikasi nggak tampak apa pun. Kita mudahkan hidup orang lain, kita bantu yang lain, kita bahagiakan orang, benar, lho Allah bantu kita tepat waktu. Nggak meleset sedetik pun. Masya Allah.

“Sungguh bersedekah itu mencegah kematian yang buruk, mencegah malapetaka, sampai sedekah itu melindungi dari orang yang dzalim. Ibrahim An-Nakha’i mengatakan, ‘Orang-orang dahulu memandang bahwa sedekah akan melindungi dari orang yang suka berbuat dzalim.’ Sedekah juga akan menghapus dosa, menjaga harta, mendatangkan rezeki, membuat gembira hati, serta menyebabkan hati yakin dan berbaik sangka kepada Allah.” (‘Uddah Ash-Shabirin wa Dzakhirah Asy-Syakirin, hlm. 313)


Kebaikan Berbagi Saat Pandemi


Di saat seperti ini, sebagai manusia kita harus lebih peka kepada sesama. Iya, jangan sampai kita kenyang, sedangkan tetangga di depan rumah malah kelaparan. Jangan sampai kita tenang dengan stok makanan berlebih, sedangkan nyata-nyata kita lihat masih banyak orang kesulitan sekadar untuk mengganjal perutnya demi bertahan hidup. Covid-19 mengajarkan kita supaya lebih peka terhadap keadaan orang lain. Mereka sakit, kita pun harusnya merasakan hal yang sama.

Nggak bisa kita berdiam diri dan pura-pura nggak tahu dengan keadaan orang lain. Justru di saat seperti inilah kita harus ikhlas meluangkan harta demi menyelamatkan nyawa orang lain dan meringankan beban mereka. Apalagi ini bulan Ramadhan yang mulia. Di mana banyak sekali diskon besar-besar Allah berikan buat hamba-Nya yang mau berbuat baik.

Nggak harus berdonasi hingga milyaran, kok. Cukup lakukan yang terbaik sesuai kemampuanmu. Masa kita kalah sama anak-anak yang menyumbangkan celengannya? :(

Eh, tapi gimana cara menyalurkannya supaya tepat sasaran, ya? Soalnya kalau di sekitar rumah, insya Allah sudah merata bantuannya.

Tenang, kita bisa menyalurkan donasi lewat Dompet Dhuafa. Dompet Dhuafa merupakan lembaga filantropi dan kemanusiaan untuk pemberdayaan umat dan kemanusiaan melalui dana ZISWAF serta dana sosial lainnya yang dikelola secara modern dan insya Allah amanah. Dompet Dhuafa punya 27 cabang di dalam negeri dan 5 cabang di luar negeri. Pada tahun 2019, Dompet Dhuafa menghadirkan 157 zona layanan di dalam negeri serta 29 jaringan global dunia. So, kamu nggak perlu khawatir. Donasimu insya Allah akan tepat sasaran dan sampai kepada yang membutuhkan.

Dompet Dhuafa Blusukan Demi Jangkau Orang yang Membutuhkan


Saat pandemi seperti sekarang, kita butuh lembaga kemanusiaan yang mau terjun langsung ke lapangan, melihat kondisi saudara kita yang kekurangan, membantu dan menjangkau langsung orang-orang yang kesulitan akibat pandemi. Dompet Dhuafa termasuk salah satu lembaga yang turut berperan aktif membantu, mulai dari memasang disinvection chamber di beberapa titik, juga memberikan bantuan sembako bagi masyarakat terdampak pandemi, dsb.

Bagaimana cara berdonasi di Dompet Dhuafa? Kamu bisa berdonasi langsung lewat website resmi Dompet Dhuafa atau melalui aplikasi Dompet Dhuafa. Selain donasi untuk terdampak covid-19, kamu juga bisa menyalurkan zakat fitrah, zakat penghasilan, zakat maal, infak atau sedekah, wakaf, kemanusiaan, hingga fidyah. Insya Allah, semua akan disalurkan kepada yang berhak menerima.


Sedekah tidak mengurangi hartamu. Justru dengan sedekah, harta kita akan semakin bertambah. Entah bertambah jumlahnya, atau mendatangkan keberkahan dan ketenteraman di dalam hidup. Harta yang berkurang karena sedekah akan ditutupi dengan keberkahannya. Makannya, nggak heran ketika kita senang bersedekah, hati jadi lapang dan selalu merasa cukup.

أنفقي أَوِ انْفَحِي ، أَوْ انْضَحِي ، وَلاَ تُحصي فَيُحْصِي اللهُ عَلَيْكِ ، وَلاَ تُوعي فَيُوعي اللهُ عَلَيْكِ


Infakkanlah hartamu. Janganlah engkau menghitung-hitungnya (menyimpan tanpa mau mensedekahkan). Jika tidak, maka Allah akan menghilangkan barokah rezeki tersebut. Janganlah menghalangi anugerah Allah untukmu. Jika tidak, maka Allah akan menahan anugerah dan kemurahan untukmu.”


(HR. Bukhari dan Muslim)


Mumpung kita masih sehat, mumpung kita masih punya, mari berdonasi untuk meringankan beban saudara-saudara kita di luar sana sambil berdoa semoga pandemi ini segera berlalu. Ini ujian buat kita semua. Saat ada yang membutuhkan, saatnyalah kita ulurkan tangan.

Salam hangat,

"Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Menebar Kebaikan yang Diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa."


 

Comments

  1. Keajaiban sedekah itu memang luar biasa ya mba. Apalagi di bulan Ramadan ini, pasti pahalanya bisa berlipat ganda.

    ReplyDelete
  2. Saya percaya aih keajaiban sedekah
    Allah akan ganti berlipat2
    Ga harus dengan yg smaa
    Kadang terhindar dari sakit dan kecelakaan juga karena rajin sedekah

    ReplyDelete
  3. Saya juga percaya kalau sedekah itu membawa kebaikan dan keajaiban. Saya sendiri saat sakit dulu, kemudian bersedekah, enggak lama kemudian dikasih kesembuhan padahal dulu udah berobat ke mana-mana. Alhamdulillah dikasih nikmat sehat dengan sedekah

    ReplyDelete
  4. Keajaiban sedekah dan keajaiban dari berbagi kebaikan sudah sering saya rasakan. Masyaallah... Tidak perlu diragukan lagi memang apa yang sudah dijanjikan Allah SWT. Saya yakin tidak ada sebuah kebetulan, melainkan sudah ketentuan Nya

    ReplyDelete
  5. Masya Allah keajaiban sedekah memang luar biasa. Nalar kita kadang takbisa memahaminya karena keajaiban itu hanya bisa dipahami dengan hati. Negosiasi dengan Allah memang selalu berkah.

    ReplyDelete
  6. Ketika kita memberika dalam keadaan lapang. Semua terasa mudah ya mba. Tapi ketika kita memberi ketika sulit, disitulah keimanan dan kemanusian kita sedang diuji. Dan allhamdulillah ya mba, lewat dompet Dhuafa ini kita bisa berbagi ke lembaga terpercaya dan amanah inin

    ReplyDelete
  7. Iya alhamdulillah skrg itu ada lembaga yang bisa menyalurkan ZIS kita ya jadi kita ga usah susah lagi terlebih sekarang bisa online

    ReplyDelete
  8. Bersedekahlah saat diri sudah lapang atau malah masih sempit.
    Kesadaran ini membuat saya ambil jalur relawan karena baru punya tenaga.
    Tapi memang tidak selalu bisa.

    ReplyDelete
  9. Makanya sedekah itu bisa dikatakan juga jalan menuju lancarnya apa yang akan kita lakukan ya Kak, makin banyak sedekah makin lancar pula karena dengan izin-NYA

    ReplyDelete
  10. Nggak pernah akan rugi ya kalo berbagi dan bersedekah ikhlas karena Allah :)

    ReplyDelete
  11. kebaikan berbagi memang kerjakan saja tanpa pamrih

    Andai berbuah, Alhamdulillah, jika tidak kita sudah berusaha semaksimal mungkin

    ReplyDelete
  12. Suka deh ama program DD yang mau blusukan demi menemukan orang yang kurang mampu. Bisa makin percaya ya

    ReplyDelete
  13. Ibu saya selalu berpesan tentang sedekah ini,bahkan meskipun tidak banyak kalo bisa rutin tiap hari ada yang dikeluarkan. Dompet dhuafa ini sudah lama sekali memang dikenal yah untuk mengajak menebar kebaikan apalagi saat ramadhan ini semakin semangat untuk membantu sesama.

    ReplyDelete
  14. MasyaAllah inspirasi menebar kebaikan memang harus dilaksanakan justru saat kita sedang dilanda kesusahan ya. Karena pahalanya besar

    ReplyDelete
  15. Bener banget, sedekah malah justru melipat gandakan rezeki kita. Allah balas lebih dari yg sudah kita beri. Aku sendiri juga turut merasakan manfaatnya.

    ReplyDelete