Review Novel Kelanar, Jangan Pernah Jatuh Cinta, Jangan Mati

Saturday, January 11, 2020

Review Novel Kelanar



Judul buku      : Kelanar

Penulis             : Yandi ASD

Penerbit           : AT Press

Tahun terbit    : 2019

Tebal buku      : 231 halaman

Novel ini ditulis oleh Yandi ASD, fans Albert Camus dan Franz Kafka. Jujur saja, membaca novel Kelanar sedikit membuat mual karena adegan-adegan di dalamnya sungguh berbeda dengan novel-novel lain yang pernah saya baca. Ajaib, kenapa ada penulis fiksi bisa menghayal sedemikian rupa sampai-sampai logika manusia normal seperti saya nggak nyampe-nyampe...kwkwk.

Prolog dari novel ini digambarkan dengan begitu sadis, hingga membacanya membuat merinding bukan main. Saya kurang suka nonton film horor, sama kurang sukanya membaca novel yang mengerikan semacam ini.

Meski cukup menyeramkan, namun novel ini juga menceritakan kisah cinta yang manis antara Sentanu dengan Meranti. Sayangnya, keduanya harus menjalani hubungan yang cukup rumit. Hingga Sentanu terpaksa harus menikahi dua gadis sekaligus.

Novel Kelanar yang merupakan pemenang ketiga tantangan menulis novel dalam sebulan bersama AT Press ini memiliki bab-bab yang cukup rumit untuk disambungkan satu dengan lainnya. Benar-benar penuh misteri. Setiap baca bab-babnya harus berpikir keras, bahkan mungkin sangat keras biar paham alurnya. Atau jangan-jangan karena ini saya yang baca? :D

Sekian lama saya mulai mengurangi membaca buku fiksi karena keinginan mau fokus menulis buku-buku nonfiksi, Kelanar akhirnya membuat saya kembali pada kesenangan yang dulu-dulu. Membaca buku sambil berhayal, membayangkan satu demi satu kejadian yang mengerikan, sambil sedikit bergidik penuh ngeri.

Kematian, nafsu bejat manusia, siksaan penuh dengki, kasih sayang, serta cinta semua dituangkan dengan baik di dalam novel ini. Yandi sepertinya kehilangan akal sehat saat menulis novel ini. Setelah memuji, ngatain kemudian*eh.

Lukisan hidup, bekas rautan pensil yang bisa bicara, misteri potongan tubuh, belum lagi ada anak suka makan ekor cicak plus saus kacang, aduh sungguh tidak habis pikir kenapa bisa ada cerita serumit ini di dunia yang sebenarnya sudah sangat rumit juga, kan, Gaes? Kebayang saya yang biasa membaca novel Asma Nadia, tiba-tiba disodorin novel beginian? Rasanya seperti sedang naik roller coaster! Anak kalem gini disuruh baca novel sadis, kan jantung jadi lompat-lompat :D

Menjadi hiburan tersendiri ketika menyelesaikan novel dengan cover dominan putih ini. Karena selama ini saya hanya tahu kisah-kisah sederhana dari novel-novel yang menumpuk di lemari. Kelanar memang sangat berbeda.

Sebagian Kisah Kelanar


Saya mau menunjukkan beberapa potongan paragraf dari novel Yandi yang mungkin bisa sedikit mengurangi rasa penasaran kamu terhadap novel Kelanar. Ya, kamu nggak akan tahu ketakutan serta perasaan lain, kecuali kamu membacanya secara langsung.

“Sentanu senang melukis. Kamu tahu itu. Tetapi dia orang yang berantakan. Tak heran jika banyak kertas dan kanvas bertebaran di apartemen sempitnya yang hanya memiliki sekat di bagian dapur dan ruang tamu; beberapa pajangan lukisan bertema alam menempel pada dinding yang catnya mengelupas...”
“Siang itu, dengan balutan darah. Aku datang membawa perih bersama bangunan pencakar langit dan pohon-pohon menjulang. Bangunan itu tak lagi kukuh. Dia rubuh bersama kekakuan yang ada pada dirinya. Pohon itu tak lagi teduh. Dia kering bersama kegersangan yang ada pada dirinya...”

“Pria itu menunduk, menatapmu. Dia tidak tampak kelihatan terkejut ketika mendapati ada ampas rautan pensil yang bisa bicara...”
“Pada akhirnya aku kembali menjalani kehidupan yang normal, seperti orang-orang kebanyakan. Keinginanku setelahnya hanya satu, yakni bahagia. Aku melukis sesosok bayi yang akan kurawat sendiri. Bayi itu adalah kebahagiaanku. Bahkan sampai saat ini...”

Oke, cukup. Nggak boleh banyak-banyak nanti kamu malah semakin betah aja bacanya...kwkwk. Selengkapnya kamu bisa membaca sendiri novel Kelanar ini. Meski ada beberapa kekurangan seperti bahasanya kadang kurang luwes, tetapi selebihnya Yandi hebat, sih sudah menyelesaikan novel dengan tema ‘seaneh’ ini. Pembaca aja geleng-geleng kepala, bagaimana bisa dia menyelesaikan menulis cerita ini sampai tuntas? Ini terlihat seperti pujian atau justru sebaliknya, ya? Hihi *auto dilempar panci :D

Semoga kamu nggak tambah penasaran setelah membaca review ini, ya! Banyak-banyaklah membaca. Karena dengan membaca kita bisa menemukan banyak hal yang belum pernah kita dapati sebelumnya.

Salam hangat,

 

Comments

  1. Hahahaha...tahu aja Mba kalo aku betah berlama-lama membaca review Mba. Duh, jadi penasaran kan?

    ReplyDelete
  2. penasaraaan, pengin baca nih mbak.. kutipannya uuuw, diksinya kerennnn bikin baper masa.. wqwqwqw

    ReplyDelete
  3. Aw..aw..aw, wedi aku baca novel kayak gini, Tapi jujur judulnya bikin penasaran. Aku baca Aroma Karsa aja agak takut karena kebayang mau hiking ke Lawu. Padahal itu diksinya Dee udah soft banget untuk menggambarkan situasinya. Wah, kalau baca Kelanar musti siapin keberanian berlipat-lipat nih. Btw, nama tokoh-tokohnya kusuka. Unik!

    ReplyDelete
  4. Kwkwk, saya juga takut mbak baca ini lama-lama :D

    ReplyDelete
  5. Ampas rautan pensil bisa bicara? Wah, serem tapi bikin penasaran nih mbak 😆 wkwkw

    ReplyDelete