Top Social

Tentang Followers dan Sosial Media

Tentang followers dan sosial media
Ketika sosial media semakin mendominasi kehidupan manusia (Foto: Unsplash)


Rasanya kangeen banget mengisi blog setelah sebulan ini harus mengejar pekerjaan lain sehingga seperti bisa dilihat, postingan blog di bulan Agustus sangat sedikit. Selain itu, si bungsu kesehatannya sedang kurang baik, rentan sekali demam dan common cold. Akibatnya, saya jadi terlambat belum blogwalking kepada teman-teman blogger yang sudah mampir ke blog ini. Tapi, insya Allah nanti akan silaturahim supaya bisa saling berkunjung lagi. Dan terima kasih banyak buat teman-teman yang sudah mau mampir, meskipun kita jarang berinteraksi di sosial media, bahkan sebagian hanya kenal di blog, tapi rasanya berteman seperti ini jauh lebih ‘sehat’ ketimbang pertemanan di sosial media yang kadang penuh dengan ‘drama'.

Tema ini sebenarnya ingin saya bahas jauh-jauh hari, tapi karena kendala waktu, akhirnya saya urungkan dan baru saya tulis sekarang. Apa arti followers dan sosial media buat hidup kamu? Tepat di bulan Agustus 2019, saya memutuskan menghapus semua aplikasi sosial media di ponsel. Di antaranya yang saya hapus adalah Instagram, Facebook, dan Twitter.

Sebenarnya ini bukan pilihan mudah mengingat saya harus mengadakan ODOP (One Day One Post) di bulan September dimulai dari kemarin. Jadi, bakalan banyak notifikasi dan pertanyaan terutama di facebook. Dan benar saja, setiap buka Facebook dari Google, notifkasi penuh dan banyak pertanyaan terlewat bahkan banyak anggota baru yang belum dimasukkan ke dalam grup Estrilook Community.

Ngapain sih repot-repot sampai menghapus aplikasi? Emangnya kamu kecanduan main gadget? Mungkin itu menjadi salah satu pertanyaan di benak teman-teman. Saya mau jawab jujur, untuk Facebook, saya jarang banget buka kecuali ada notifikasi penting. Twitter pun saya pakai karena sempat ikutan jadi buzzer dan itu hanya sekali, Guys…kwkwk. Tapi, untuk Instagram, saya lumayan sering buka karena penuh dengan hiburan. Hiburan apa? Banyak banget. Contohnya ngintip postingan para ilustrator yang saya follow. Dan ini jadi semacam kesenangan meski saat ini saya lumayan lama berhenti menggambar, tetapi saya suka melihat gambar-gambar mereka. Terlebih saya punya seorang teman yang sama-sama suka melihat dan membahas gambar-gambar seperti ini. Jadi, kita suka ngobrol di Instagram. Dibilang nyandu sih nggak juga. Tapi, suka buka Instagram memang iya.

Untuk posting gambar, saya termasuk yang jarang juga saat ini. Tapi, sebelumnya saya sempat ikut-ikutan Follow Loop di Instagram yang akhirnya membuat saya lumayan jadi bahan tertawaan orang serta membuat saya mulai berpikir keras, sebenarnya kamu ngapain, sih? Buat apa ikut beginian?

Apa Arti Jumlah Followers Buat Kamu?


Tentang followers dan sosial media
Apa arti jumlah followers dalam hidupmu? (Foto: Unsplash)

Saya punya pengalaman buruk ketika ikut follow loop demi mendapatkan followers di Instagram.  Karena kejadian ini dan beberapa alasan lain, akhirnya saya benar-benar berhenti mencari pengikut dengan cara instan. 

Sebenarnya alasan utamanya apa? Kenapa sampai mau ikutan beginian? Seperti teman-teman lain, alasan saya ikut supaya bisa punya pengikut yang lebih banyak dan bisa dapat job dengan lebih mudah. Kemudian muncul pendapat, kok sampai segitunya, sih?

Pertanyaan itu bisa beragam. Ada yang sampai serius banget menanggapi soal ‘job’ karena dianggap kami terlalu lebay nyari job hingga mau melakukan segala cara. Begini, Zubaedah…hehe, selama saya ngobrol tentang followers di grup WAG Estrilook, banyak member yang menganggap hal semacam ini sebagai salah satu hiburan saja. Iya, nggak dianggap serius banget, kok. Jadi, kita nyari followers tuh buat happy-happy-an saja, bukan yang sampai serius banget apalagi sampai nggak bisa makan kalau sampai nggak dapat followers…hihi.

Sama seperti yang lain, saya juga hanya sekadarnya saja ikut-ikutan follow loop, hingga sampai ada teman sesama blogger yang menawarkan saya untuk jadi admin salah satu akun follow loop yang mau dibuat waktu itu. Sejak pertama saya sudah mengatakan bahwa saya tidak akan sanggup membantu banyak, tetapi hanya bisa membuatkan gambar-gambar saja. Orang mungkin merendahkan mereka, ngapain sampai segitunya? Followers, kan harusnya didapat dengan cara yang alami. Jangan instan sekilat operasi plastik. Yup! Tapi, tahu nggak sih alasan teman saya membuat akun seperti ini tujuannya untuk apa? Karena ingin membantu sesama blogger saja. Dia sudah merasakan pengalaman pahit ikut berbagai macam follow loop, baik luar negeri atau dalam negeri. Dan kebanyakan memang ngasih kebijakan yang cukup kurang nyaman buat anggotanya. Jadi, dia ingin membuat aturan yang lebih ‘ramah’ dan bersahabat.

Mengurus akun seperti ini asli nggak mudah, Guys. Butuh waktu dan fokus penuh. Hanya sekadar ikutan follow loop saja sudah makan waktu, apalagi sampai bikin akun sendiri. Jadi, kadang komentar negatif tentang mereka tidak selalu benar. Meskipun cara mendapatkan followers seperti ini kadang kurang positif memang, tetapi tidak ada benarnya juga merendahkan apalagi menertawakan mereka yang ikutan follow loop. Seperti kata sahabat saya, ikuti kata hatimu. Kalau emang nggak nyaman, kenapa harus diteruskan? Kalau memang kamu memilih tidak ikut, kenapa harus menertawakan mereka yang ikut?

Setelah mengalami banyak kejadian, melihat di depan mata seperti apa tanggapan orang-orang tentang follow loop, saya memang akhirnya membenarkan bahwa hati saya nggak nyaman dan memutuskan benar-benar berhenti mencari followers dengan cara seperti ini. Apa saja alasan yang membuat saya akhirnya berhenti?

1. Andai kita mendapatkan pekerjaan karena dianggap pengikut kita cukup, apakah hasilnya kita bisa memuaskan bagi klien nantinya mengingat interaksi dari pengikut hasil follow loop sangat-sangat sedikit jumlahnya. Dan ini membuat saya berpikir, kayaknya yang begini termasuk ketidakjujuran. Lagian ngapain ngejar pengikut, selama ini juga nggak pernah mendapat job dikarenakan jumlah pengikut yang ribuan jumlahnya. Selama ini saya justru mendapatkan penghasilan karena kemampuan saya menulis baik itu di blog, menulis artikel pesanan, atau dari menang lomba. Jadi, buat apa diteruskan?

2. Mencari pengikut dengan cara seperti ini sangat menyita waktu. Benar-benar ngabisin waktu meskipun memang hasilnya sangat lumayan bisa ribuan bertambah. Tapi, saya mengingat kembali apa tujuan saya membuka akun sosial media. Tujuannya hanya untuk memudahkan saya menulis. Nggak lebih dari itu. Jadi, kalau akhirnya justru merusak niat saya yang dulu, untuk apa diteruskan?

3. Nggak mau ditertawakan orang. Itu salah satu alasan saya karena jujur saja saya ini orangnya sensitif, lebih sensitif daripada alat tes kehamilan…kwkwk. Dapat komentar kurang menyenangkan membuat mental saya down. Tapi, di sisi lain saya mengambil pelajaran dan hikmah atas masalah yang saya hadapi selama ikut follow loop.

4. Pengikut justru lebih banyak dapat dari luar negeri yang nggak kenal sama sekali. Tapi, jujur saja, orang luar negeri lebih komit dan loyal daripada orang Indonesia bahkan sesama blogger sekalipun. Selama ini, saya selalu dengan senang hati mengikuti akun-akun para blogger dan penulis karena menganggap mereka dan saya sama-sama membutuhkan untuk saling follow. Tapi, kenyataannya, banyak blogger yang tidak seperti itu. Bahkan ada juga yang tega unfollow. Drama banget dunia maya ini, Guys…kwkwk. Dari situ saya akhirnya cuek sama Instagram. Mau ikut, mau ninggalin, yang penting kau bahagia ajalah…hihi.

Pengaruh Sosial Media dalam Kehidupan Manusia



Tentang followers dan sosial media
Sosial media berdampak positif atau negatif tergantung penggunanya (Foto: Unsplash)

Ada nggak sih orang yang benar-benar kecanduan menggunakan sosial media, sampai segala aktivitasnya dipos di sana? Mulai dari angkat jemuran, berantem dengan tetangga, sampai ngomelin supir bus juga? Dan tahu nggak sih apa pengaruhnya bagi kita yang jarang nyetatus, tapi ikut membaca status seperti itu?

Bagi sebagian orang, sosial media adalah media yang sangat pas dipakai untuk umbar perihal kehidupan. Jadi, sampai nggak ada batas sama sekali dengan dunia nyata. Kalau menurut saya, nggak perlu juga sampai segitunya karena meskipun kita bebas melakukan apa pun di sosial media, tetap saja kita butuh batasan. Tidak semua yang kamu tahu harus mereka ketahui juga, kan? Tidak semua yang kamu lihat dan kamu rasa, harus dirasakan juga oleh teman-teman di sosial media yang membaca statusmu?

Saya pernah membaca satu artikel menarik dari sebuah platform remaja yang mengatakan bahwa sosial media itu sebaiknya dijadikan sebagai tempat berbagi hal menyenangkan dan bermanfaat bagi orang lain. Meskipun kita bebas mengungkapkan apa pun, tetap saja kita harus membatasi diri jangan sampai bikin mood orang rusak akibat membaca status kita yang gaje banget…kwkwk. Jangan sampai kita menjadi salah satu di antara mereka yang ‘nyampah’ di sosial media, Guys. Bahkan kalau sampai yang punya Facebook tahu kita sering ‘nyampah’, mungkin dia bakalan kecewa parah. Jleb banget bacanya…hiks.

Pengaruh menggunakan sosial media terlalu sering juga bisa membuat seseorang membanding-bandingkan hidupnya dengan hidup orang lain. Padahal, kebanyakan sosial media hanya jadi tempat buat ‘pura-pura bahagia’ saja. Kenyataannya? Semua orang pastilah memiliki ujian dalam hidupnya, termasuk saya, kamu, dan mereka. Jadi, nggak perlu sampai iri dengan hidup orang lain apalagi hingga membuat kita lupa bersyukur akan apa yang kita miliki *ceramah :) 

Meskipun kita tidak ikut curhat di sosial media, tetapi melihat dan membaca curhatan negatif dari orang-orang rupanya mampu menarik energi negatif itu pada diri kita. Saya pun akhirnya mengerti, kenapa kita juga nggak boleh sembarangan menerima curhatan orang karena energi negatifnya ikut kebawa pada kehidupan kita *sotoy banget...kwkwk. Tapi, kenyataannya memang jadi ikut bete minimal jadi kesal karena banyak orang 'nyampah' di sana. Hidup memang hidup mereka, makannya saya memutuskan rehat supaya nggak kebawa suasana yang kurang nyaman juga.

Pada akhirnya saya pun harus mengambil ‘jeda’ supaya kehidupan nyata tetap berjalan sebagaimana mestinya. Saya memutuskan untuk mengurangi penggunaan sosial media dan mengabaikan jumlah followers untuk sekarang hingga waktu yang belum ditentukan *eaaa dan kembali fokus melakukan aktivitas lain yang lebih berguna. Bagi mereka yang masih tertarik mencari pengikut, nggak ada pembenaran juga buat kita menertawakan, karena sampai blogger senior pun tetap ada yang ikutan, kok. Apa pun yang kamu pilih, semoga itu sesuai dengan kata hatimu, jangan hanya ikut-ikutan orang lain.

Kamu yang memiliki hidup, kamu juga yang paling berhak memutuskan :)

Salam,
10 comments on "Tentang Followers dan Sosial Media"
  1. aku sempat ikut satu kali follow loop ini dan akhirnya nggak ikut lagi. soalnya kebanyakan yang difollow akhirnya aku malah ketinggalan feed ig yang benar-benar aku suka. jadinya sekarang kalau mau follow-follow gitu tergantung mood aja

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Mbak. Saya dulu juga hanya ikut beberapa kali saja. Sekarang sudah rehat dan fokus pada tujuan awal :)

      Delete
  2. Dulu sebelum loop populer, saya ikutan namanya follow for follow, tiap hari sibuk mantengi IG isinya hanya nyari follower. Sampai saya merasa lelah. Akhirmya saya lebig fokus ngurusin konten ketimbamg ikutan yang dilakukan banyak oranh.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul sekali, kalau inget pas masih ikutan loop, sehari bisa berapa kali buka IG. Sangat melelahkan :(

      Delete
  3. Saya juga termasuk yg konsen terhadap pengaruh sosmed di kehidupan kak. Sudah hampir setahun sy uninstall instagram dr hp saya. Dan rasanya lega bgt. Seminggu pertama mungkin berat tapi. Setelah itu rasa itu hilang. Hidup lebih santai tanpa mesti mikirin apa yg terjadi di sosmed.

    Ketika main sosmed ada yg disebut mind scrolling. Kecenderungan untuk terus scroll dan klik..

    Semua sosmed juga dibuat supaya penggunanya betah di sana. Ini tugas dari tim UI UX platform.

    So kalau begitu bukan salah sosmednya jika kita terus main. Tapi bagaimana cara kita menyikapinya.

    :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah, saya juga merasa lega dan nyaman banget tanpa aplikasi sosial media di handphone.

      Iya, kalau udah buka IG, scroll sekali terus aja nggak berhenti. Padahal yang dilihat cuma orang makan-makan :(

      Memang balik lagi kepada kita pemakainya, harus bijak dan ambil saja manfaatnya kalau nggak mau rugi :)

      Delete
  4. Pengalaman ikutan follow loop jadikan pelajaran aja. Sah-sah aja bagi yang merasa perlu nambah follower buat berbagai alasan.

    Memang kadang ada perbedaan pendapat, itu wajar dan biasa, sih. Saya yang penting terus nulis lagi aja, kan balik lagi ke tujuan awal nulis ubtun apa.


    Soal job atau apa pun itu bonus sebenarnya. Semua usaha pasti ada rezekinya. Meski follower ig saya enggak seberapa bahkan follower twitter dikit, alhamdulillah ada aja yang kasih amanah job.


    Menjemputmu rezeki lakukan dengan cara yang baik, insyaallah ada jalannya. Meski bukan dari yang ada ketentuan banyak follower.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Mbak...asal mau bergerak, insya Allah ada saja rezekinya :)

      Delete
  5. Saya pengen banget punya banyak pengikut, tapi entah kenapa malah jarang banget buat status atau ngepost foto. Kalau pengikut nggak nambah, ya udah, nggak masalah....
    Btw bener juga ya mbk, media sosial kadang cuma jadi tempat buat pura-pura bahagia.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaa...gppa, Mbak bisa fokus aja sama menulis. Toh itu yang bikin kita happy :)

      Delete

EMOTICON
Klik the button below to show emoticons and the its code
Hide Emoticon
Show Emoticon
:D
 
:)
 
:h
 
:a
 
:e
 
:f
 
:p
 
:v
 
:i
 
:j
 
:k
 
:(
 
:c
 
:n
 
:z
 
:g
 
:q
 
:r
 
:s
:t
 
:o
 
:x
 
:w
 
:m
 
:y
 
:b
 
:1
 
:2
 
:3
 
:4
 
:5
:6
 
:7
 
:8
 
:9

Custom Post Signature

Custom Post  Signature