Top Social

Ketika Seorang Ibu Ingin Anaknya jadi Superhero

Foto: Pexels.com

Yakin kita nggak pengen anak jadi superhero? Kayaknya hampir semua dari kita ingin anak-anak yang hebat, juara pertama di sekolah, dan selalu jadi nomor satu dalam banyak hal. Iya, itu bukan impian yang salah, tapi kadang kita harus sadar juga, jika anak yang kita kandung selama  sembilan bulan dan kita lahirkan dengan bertaruh nyawa itu hanya makhluk biasa sama seperti kita.

UTS sudah di depan mata. Mau nggak mau, kita jadi ikut nggak tenang dan ribet sendiri meski anak kita santai aja. Belum lagi yang mau ikut UN. Mereka baru pulang sekolah jam 2 siang atau malah ada yang lebih sore, baru masuk rumah dan duduk sebentar sudah disodorin pertanyaan, "Ada PR nggak? Besok ada ulangan, lekas belajar gih." 

Pernah terlontar kalimat seperti itu? Terutama bagi anak SD, ternyata hal seperti itu sangat tidak bijak. Ketika mereka pulang sekolah, baru main sebentar, kita udah merasa mereka membuang waktu, nganggur nggak jelas. Duh, Bu, tolong dipikirkan baik-baik, mereka di sekolah seharian memangnya nggak belajar? Kenapa masih dikatain kok nggak pernah belajar? *nangis bombay.

Saya merasa beberapa paragraf di atas menampar diri sendiri. Itu sebagian kalimat yang saya dapatkan ketika ikut kajian setiap Jumat. Ustadz yang mengisi memang seorang dosen psikologi juga, jadi ketika membahas hal semacam itu, rasanya nampol banget dan pedasnya tingkat dewa….haha.

Sekolah zaman sekarang serba rumit


Foto: Pexels.com
Kalau nggak mau dikatakan rumit, ya ribet…haha. Dan sulit! Jujur saja, ketika melihat buku-buku si sulung yang masih kelas dua, saya sempat melongo beberapa detik *pengennya beberapa bulan tapi takut kelamaan…kwkwk. Kenapa sampai begitu? Karena itu buku-buku pelajaran isinya berat semua, seperti rindunya Dilan…huhu.

Berhitung aja udah rumit, belum bahasa Inggris, dan pelajaran agama seperti Bina Fikih. Memang ini bukan zaman kita dulu, bukan zaman saya, tapi kayaknya kalau sesulit itu, apa nggak bikin anak stres?

Tapi, mau gimana lagi, kita pun serba salah. Nggak mungkin nggak mengikuti. Pada akhirnya, kita sebagai orang tua harus pandai-pandai memosisikan diri. Jangan terlalu berambisi untuk memiliki anak 'superhero' sampai-sampai anak yang udah seharian sekolah masih diharuskan ikut les lagi di luar sekolah. Masya Allah, itu otak kapan istirahatnya? Kalau kita jadi mereka, sudah pasti akan mengeluh, “capek”.

Jangan menuntut anak usia sekolah 1-3 SD

Foto: Pexels.com
Memang bangga ya punya anak yang serba bisa, nilainya bagus, dan selalu berprestasi di sekolah. Tapi, semoga itu bukan karena kita sebagai orang tua selalu menuntut dan memaksakan kehendak. Usia sekolah 1-3 SD sebaiknya santai saja belajarnya. Saya pribadi setuju banget kalau anak SD nggak perlu diberikan pekerjaan rumah berlebihan. Cukup sekali dalam seminggu, yakni ketika mau libur di akhir pekan.

Kemarin di sekolah si sulung juga sempat ada PR hampir setiap hari, akhirnya wali murid protes dan dikurangilah tugas di rumah. Di rumah sebenarnya sudah nggak perlu ngoyo lagi belajarnya. Kan di sekolah sudah seharian belajar. Dunia mereka juga nggak itu-itu saja, mereka juga butuh bermain dan lain-lain.

Sekolah bukan hanya tentang nilai akademik saja, tetapi ada proses belajar sosialisasi juga di sana. Tapi, kadang sebagai orang tua kita egois banget, ya. Maunya lihat mereka belajar terus, padahal mereka juga punya rasa capek, bahkan lebih mudah stres.

Jika saat kelas 1-3 SD mereka terlalu dituntut untuk banyak belajar, khawatir mereka suntuk dan setelahnya mereka down.

Saya pribadi setuju banget. Mereka yang selalu peringkat satu di sekolah belum tentu saat keluar jadi orang hebat. Anak hebat apakah selalu mereka yang punya nilai akademik terbaik? Ternyata nggak, lho. Anak yang hebat adalah mereka yang punya mental dan psikis yang sehat. Mereka tumbuh sesuai fitrah. Nggak teraniaya mentalnya. Nggak merasa disakiti hatinya.

Wah, di sini saya menyadari, masih banyak yang harus dibenahi di rumah. Sampai sekarang, si sulung bukan termasuk anak yang susah diajak belajar. Dia cek ada ulangan, sudah dipastikan dia akan belajar tanpa dipaksa. Tapi, kadang saya suka panik kalau dia asyik main saja, rasanya dia nggak usaha. Padahal, terutama saat ujian, biarkan saja mereka lebih santai. Harusnya belajar itu, 15-30 menit setalah pulang sekolah. Ngapain? Baca-baca pelajaran yang sudah diberi di sekolah. Itu sudah cukup.

Tapi, kebanyakan nggak menerapkan itu. Bahkan saya yang tahu itu sejak masih sekolah, tetap saja memakai cara lain, yaitu ngoyo ketika mau ujian. Mau bel saja masih membolak balik buku, baca pelajaran semalaman suntuk. Oh, tidak. Saya nggak mau anak saya seperti saya dulu. Saya stres, tetapi saya tidak sadar dan tak tahu harus apa.

Maka saya belajar lebih santai. Menyadari bahwa anak saya bukan superhero. Ketika dia dapat nilai bagus, saya senang, tetapi tak seharusnya terlalu bangga sehingga anak merasa bahwa nilai akademik adalah segalanya. Atau ketika dia kena remedial, kenapa kita harus menyesal dan kesal sendiri sehingga anak kebawa energi negatif dari kita? Anak jadi sedih karena remedial?

Ya, ampun! Zaman sekarang remedial nggak berarti nilai dia buruk. Karena pelajaran Tematik seperti sekarang cenderung lebih ribet. Dibagi-bagi dalam satu soal. Salah satu soal aja, kemarin sulung sempat remedial, lho. Kebayang itu gimana bisa membuat mental mereka oke. Yah, remedial, nilaiku jelek.

Pasti ada kesan seperti itu, kan? Harusnya belajar santai saja. Dan jangan melulu tentang nilai akademik. Mereka yang sering remedial bukan berarti akan jadi orang biasa aja kelak. Bahkan yang pakai ijazah paket C juga nggak berarti kurang pintar. Saya bicara tentang diri sendiri dan orang-orang di sekitar saya yang sempat mengeluhkan soal ini.

Jadi, sekarang, apakah ibu yakin nggak pengen anaknya jadi superhero sementara selama ini, cara kita mendidik masih memperlihatkan hal semacam itu? Ini pertanyaan buat saya pribadi... :)

Salam,
6 comments on "Ketika Seorang Ibu Ingin Anaknya jadi Superhero"
  1. Ya semua ayah dan ibu pasti ingin anak nya menjadi yg terbaik,
    Tapi kita kuga tidak boleh melupakan keinginan dan kemampuan anak kita itu apa..., karna kita tidak bisa mendidik anak menurut kemaum kita,
    Lebih baik kita mengarahkan anak sesuai dengan bakat dan kemauan dia,

    ReplyDelete
  2. Aku jadi inget murid2 ku dulu sewaktu aku masih ngajar..
    kasian bgt mereka dituntut orang tua untuk les ini dan itu. pulang sekolah jam 3 langsung les matematika. setelah itu, langsung les musik dan sebagainya. Sampai rumah masih disuruh belajar (lagi). Gitu terus setiap hari.. kasian bgt sih, keliatan capek banget gitu anaknya dan gak enjoy ngejalaninnya.

    semoga nanti kalo anakku udah sekolah, aku bisa bijak dan gak memaksakan anak.. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin...sedih ya kalau mereka harus melakukan aktivitas sebanyak itu...


      Delete
  3. Kebetulan anak saya belum mengalami stresnya ulangan, soalnya dia masih PG.

    Dan betapa beruntungnya saya bisa membaca ini jauh sebelum anak saya menjalani masa2 SD-nya.

    Thanks for share this 😊

    ReplyDelete

EMOTICON
Klik the button below to show emoticons and the its code
Hide Emoticon
Show Emoticon
:D
 
:)
 
:h
 
:a
 
:e
 
:f
 
:p
 
:v
 
:i
 
:j
 
:k
 
:(
 
:c
 
:n
 
:z
 
:g
 
:q
 
:r
 
:s
:t
 
:o
 
:x
 
:w
 
:m
 
:y
 
:b
 
:1
 
:2
 
:3
 
:4
 
:5
:6
 
:7
 
:8
 
:9

Custom Post Signature

Custom Post  Signature