Top Social

Bolehkah Menggambar Makhluk Hidup dalam Islam?

Foto: Pexels.com

Adakah yang suka menggambar sama seperti saya? Jika menulis sudah jadi passion, maka lain lagi dengan menggambar. Ya, menggambar sama dengan memasak. Sekadar hobi, tapi belakangan pengen banget saya tekuni lebih serius.

Selama ini saya hanya belajar menggambar dengan asal, asal jadi tanpa peduli benar atau salah cara menarik garisnya, gimana harus bikin wajah yang seimbang, dan banyak ilmu lain yang tidak saya ketahui. Menggambar adalah hobi sejak kecil. Hampir semua anak kecil suka menggambar, bedanya, hingga SMA saya masih suka mengerjakan hobi ini, bahkan sampai detik ini.

Setelah beberapa tahun terakhir mulai serius menekuni profesi sebagai penulis buku anak-anak, keinginan membuat ilustrasi untuk buku sendiri semakin besar. Iya, keren banget ‘kan seperti Stella Ernes yang bisa menulis buku anak-anak sekaligus jago membuat ilustrasinya juga. Kebayang betapa menyenangkannya jika punya buku yang kita buat sendiri semua bagiannya? Seneng banget dan impian saya banget.


Karena sering menulis buku anak-anak, bahkan sampai sekarang, jumlah buku anak-anak yang saya tulis lebih banyak daripada buku lain, maka nggak heran saya pun semakin ingin bisa membuat ilustrasi sendiri. Awalnya sempat nyerah dan enggan belajar lagi, kenapa? Kayaknya susah, menggambar satu halaman saja lama! Buang-buang waktu, bikin waktu menulis semakin berkurang. Saya jadi suntuk! Kwkwk. Labil banget emak-emak…haha.

Tapi, semakin ke sini, kalau melihat buku bacaan anak-anak disertai gambar, atau melihat ilustrasi beberapa ilustrator luar negeri, rasanya kok belum ikhlas ya melepaskan hobi ini. Yang ada malah semakin pengen, semakin bermimpi supaya kelak bisa membuat buku sendiri dengan gambar sendiri.

Tapi, rupanya keinginan itu sempat ragu buat diteruskan karena ada beberapa ustadz yang mengatakan bahwa menggambar makhluk hidup itu haram. Iya, dulu waktu di pesantren memang dibolehkan, asal bukan patung. Bahkan banyak banget yang jago menggambar di sana, termasuk kakak kelas saya dan sekamar juga dulu.

Untuk lebih berhati-hati, saya akhirnya mencari banyak referensi. Dengerin ceramah ustadz Somad, ustadz Adi Hidayat, ustadz Khalid Basalamah, dan Buya Yahya.

Dari semua pendapat di atas apa sih kesimpulannya? Kenapa ada ulama’ yang mengharamkan secara muthlak aktivitas menggambar ini dikarenakan takut merusak akidah. Contohnya, seperti ketika kita mengagumi sebuah gambar, dan kita katakan mirip banget, dari sana mulai ada kekaguman dalam hati, dan itu mulai mengusik akidah kita. Ngeri banget, ya?

Selama ini, gambar mirip nggak melulu tentang lukisan, bahkan gambar kartun saja sekarang sudah banyak yang dibikin mirip dan lucu. Salah satu gambar saya dulu juga pernah dibilang mirip dengan foto saya…hiks. Yang seperti ini sebaiknya dihindari, ya jika mau berhati-hati.

Pengecualiannya apa nih? Yang dibolehkan menurut ustadz Adi adalah gambar yang digunakan untuk edukasi. Kita nggak mungkin dong mengenalkan Harimau tapi nggak menunjukkan gambarnya. Masa ketika ditanya sama muridnyam "Gambarnya mana, Bu?", kita jawab, “Haram, Nak.” Kwkwk, mustahil banget. Maka beliau mengatakan yang seperti  itu dibolehkan.

Alangkah lebih baik memang tidak menggambar mahkluk hidup, jika terpaksa menggambar, sebaiknya tidak disempurnakan. Misalnya tanpa mata. Waduh, serem dong gambarnya? Ih, lucu juga asal kamu bisa menggambarnya dengan baik…haha. Saya sudah mencari beberapa referensi unyu untuk ini. Dan hasilnya tetap lucu, lho.

Bagi teman-teman yang masih bingung, saya kutip beberapa kalimat dari Buya Yahya tentang hukum menggambar makhluk hidup ini, ya!

1. Gambar atau lukisan yang muthlak haram

Foto: Pexels.com
Pada hukum pertama ini disebutkan gambar atau lukisan yang diharamkan secara muthlak tanpa tawar menawar, yakni yang termasuk berbentuk dari yang bernyawa. Termasuk juga patung-patung di dalamnya, ya.

2. Gambar yang dihalalkan

Foto: Pexels.com
Apa saja gambar yang dihalalkan dan sama sekali tidak dilarang baik berbentuk atau tidak? Yaitu gambar-gambar yang berupa benda mati atau bukan makhluk hidup. Kamu yang suka menggambar gunung dan matahari tentu nggak perlu khawatir dong dengan hukumnya. Sebab yang seperti ini memang diperbolehkan. Bahkan ada pelukis yang karena sangat berhati-hati, akhirnya dia hanya melukis benda mati seperti pemandangan, pohon, gedung, dan benda lainnya. Itu nggak mengurangi keindahannya, kok.

3. Khilaf untuk gambar bernyawa, tetapi tidak berbentuk

Foto: Pexels.com
Nah, ini yang sering bikin galau karena selama ini kerjaan saya bikin gambar bernyawa tapi tidak berbentuk. Walaupun dulu sempat di pesantren lama, tapi belakangan saya agak ragu dengan apa yang saya kerjakan dulu. Memang semua ada dalilnya, karena itu, saya pun tidak menyalahkan mereka yang masih suka menggambar dengan anggota tubuh sempurna. Semua kembali pada diri masing-masing.

Menurut Buya Yahya, sebagian kecil ulama' membolehkan karena tidak ada bentuknya. Tapi, sebagian besar mengharamkannya meski tidak ada bentuk. Tapi, kalau tidak sempurna, maka itu dibolehkan. Misalnya menggambar kartun tanpa mata, atau lukisan tapi dipotong atau tidak seluruh tubuh.

Nah, saya sempat ngobrol dengan teman satu pesantren dulu, yang sekarang juga aktif menggambar sama seperti saya. Kita ingat dulu pernah belajar menggambar vector. Meski itu nggak sempurna seluruh tubuh, tapi jujur saja itu sangat mirip dengan aslinya. Ya gimana nggak mirip, kita bikin gambar juga asalnya dari sebuah foto. Hmm, kita berdua sepakat, setelah ini nggak akan menggambar yang seperti itu meski nggak sempurna seluruh tubuh…haha.

4. Gambar fotografi

Foto: Pexels.com
Fotografi bukan kegiatan seperti menggambar, bukan mengarang sesuatu. Kebanyakan ulama’ mengatakan bahwa ini dibolehkan selama tidak membangkitkan syahwat dan tidak membuka aurat. Nah, kita juga sering mengambil foto buat kenang-kenangan, kemudian dibuka lagi beberapa bulan mendatang, yang begini boleh karena memang itu foto adalah gambar kita asli, bukan dibuat-buat. Dan ada baiknya, kurangi memasang foto di sosial media atau publik. Kenapa? Walau udah menutup aurat? Walau udah berhijab syar’i bahkan bercadar? Saya pribadi sih sangat mengkhawatirkan adanya penyakit ‘ain serta pandangan orang-orang.

Kita nggak pernah tahu, apakah teman di sosial media, lawan jenis pula, kemudian menyukai kita hanya karena melihat foto kita di sosial media. Jangan dipancing, nanti dapat ikan bahaya…huhu. Yang begini banyak udah kejadian.

5. Gambar berbentuk, tetapi diperbolehkan

Foto: Pexels.com
Misalnya boneka buat anak-anak. Selama masih anak-anak boleh lho beli boneka atau dibelikan boneka. Kemudian saya ingat deh boneka segede gajah di rumah yang sempat dibeliin paksu. Alhamdulillah, sekarang jadi bantal kok..kwkwk.

Sejak anak tamyiz, anak-anak sudah harus dikenalkan sama yang haram. Jadi, jangan nunggu dia baligh. Masya Allah. Kalau ada perkakas yang unyu dan berbentuk makhluk hidup? ya, mending pakai aja yang bukan itu. Gampang. Yang suka bikin ribet kita sendiri emang...hiks.

Dari kelima poin yang saya sebutkan di atas, Insya Allah semua akan lebih paham seperti apa hukum menggambar, ya. Buat saya, jujur saja untuk menggambar makhluk hidup lengkap sudah saya kurangi. Misalnya, saya lebih banyak menggambar muslimah tanpa mata. Meski berat, karena pasti godaan banget gambar pakai mata-mata kartun yang lentik itu, apalagi dulu memang itu kesenangan saya, tapi untuk lebih berhati-hati saya mulai menghindarinya. Jika pun harus menggambar makhluk hidup yang sempurna, pastinya itu hanya untuk edukasi buat buku anak-anak misalnya. Sebisa mungkin nggak perlu.

Hmm, adakah yang masih galau soal hukum menggambar? Yuk, belajar lagi dan lagi. Semakin kita cari tahu, semakin kita tau bahwa rupanya ada banyak hal yang belum kita tahu *nah lho…kwkwk.

Salam,
10 comments on "Bolehkah Menggambar Makhluk Hidup dalam Islam?"
  1. Kalo aku udah ngga galau sih dan emang kupusing sama anatomi jadi sekarang lebih seneng gambar pemandangan aja tapi ngga terlalu realis klo realis mah foto aja atuh hehhe, gambar bagus sih buat edukasi anak, tergantung niat brati ya mba heheh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tergantung kebutuhannya mbak...Kalau buat anak-anak memang ada haditsnya seperti saat Aisyah ra bermain boneka dan dibolehkan...

      Delete
  2. Banyak hukum nya ya mbak, walaupun ada juga yang bilang tergantung "nawaitu"

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau mau lebih berhati-hati sebaiknya nggak sekadar tentang niat...Karena awalnya niat orang hampir semua pasti baik sih ya mbak...


      Delete
  3. Suami
    Dari dulu keras terhadap hal yg begituaan mbaak, saya setuju semuanya dengan isi tulisan mba muyash

    ReplyDelete
  4. Saya hoby menggambar mangaa tapi karena perdebatan halal haram ini jadi bingung mau diterusin atau tidak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tinggal dipelajari saja mbak hukumnya...Simpel aja sih sebenarnya...

      Delete
  5. bener mba, semakin dipelajari semakin dibanyak hal yang belum diketahui akhirnya diketahui. sejak kecil dulu saya sering diberi tahu orang tua kalau menggambar jangan yang ada mata-nya. nanti diminta pertanggungjawaban untuk membangkitkan yang ada di dalam gambar kita itu. serem ya.

    sampai sekarang masih ingat hal itu. makanya sy gak gambar2 yg demikian. tapi kalau foto saya hobi banget. hehee..

    dengan terus belajar kita makin banyak tahu mana yang baik dan mana yang tidak.

    ReplyDelete
  6. Wah.... Menulis sambil menggambar, keren. Semoga tercapai mbak. ..

    www saifuddinsyadiri.com

    ReplyDelete

EMOTICON
Klik the button below to show emoticons and the its code
Hide Emoticon
Show Emoticon
:D
 
:)
 
:h
 
:a
 
:e
 
:f
 
:p
 
:v
 
:i
 
:j
 
:k
 
:(
 
:c
 
:n
 
:z
 
:g
 
:q
 
:r
 
:s
:t
 
:o
 
:x
 
:w
 
:m
 
:y
 
:b
 
:1
 
:2
 
:3
 
:4
 
:5
:6
 
:7
 
:8
 
:9

Custom Post Signature

Custom Post  Signature