Top Social

9 Tips Mudik Lebaran Supaya Lebih Seru dan Menyenangkan

Foto: Pexels.com

Siapa yang termasuk pejuang mudik lebaran? Bahasanya maksa banget, ya…haha. Sejak menikah pada 2009 silam, iya, nikah di usia 19 tahun, iya, kata orang itu terlalu muda, tapi di kampung saya setelah SMA aja sudah banyak yang menikah. Saya pribadi waktu itu nggak pernah menargetkan, kapan saya akan menikah? Tiba-tiba saja pangeran berkudanya nyasar ke rumah dan langsung melamar meski ngobrol aja belum pernah…kwkwk.

Jadi curhat, kan? Haha. Sejak menikah pada 2009, saya pun menjalani satu rutinitas baru dalam hidup saya, sama seperti orang lain yang merantau. Yup! Saya mudik setiap lebaran. Yeay! Dan saya harus katakan, mudik itu nggak gampang. Butuh banyak biaya, butuh tenaga, butuh tiket yang sekarang ternyata ruar biasah mahalnya. Kalau nggak kuat bayar nggak usah beli, ngapain ngeluh? Iyap, saya nggak pengen mengeluh, tapi jujur saja, selama 10 tahun menetap dan tinggal di Jakarta, baru tahun ini tiket pesawat semahal ini…kwkwk.

Selisih harga tiket buat kami berempat sekitar 2-3 jutaan untuk tahun ini. Buat kami itu nggak wajar aja naiknya sampai segitunya. Setiap tahun memang selalu ada kenaikan, tapi tidak pernah setinggi sekarang. Akhirnya, setelah sekian lama nggak pernah naik kereta, tahun ini kita putuskan mudik naik kereta!


Sejak punya anak pertama, kami nggak pernah punya rencana mudik naik kereta. Kebayang aja rempongnya bawa anak kecil selama sehari semalam. Sedangkan dulu, tiket kereta sama pesawat nggak jauh beda harganya. Sama-sama hampir satu juga per orang, mending naik pesawat ‘kan bisa lebih cepat.

Tapi, tahun ini kami harus putar otak. Iya, nggak mau sok-sokan terlihat kayah rayah karena tinggal di Ibu Kota, saya dan suami pun nggak perlu gengsi juga pulang naik kereta…kwkw. Mau ekonomi, mau yang apa aja terserah pokoknya kita pulang…haha. Ini kita kesannya udah pasrah banget, ya? Karena selama dua malam kami niat nyari tiket kereta sampai rela begadang, ternyata kami kehabisan mulu. Itu orang pesan jam berapa sih? Suami saya sampai dini hari nggak tidur demi mencari tiket, nggak lama udah penuh aja. Dan itu terjadi pada semua jenis kereta dari Jakarta ke Malang.

Dan saya sempat bilang, udahlah nggak usah pulang…kwkwk. Udah nyerah aja. Qadarallah, entah suami dapat ide dari mana, tiba-tiba dia bilang kita pulang tanggal 2 Juni. Wah, dia berhasil beli tiket…kwkwk.

“Tapi, kita ke Bandung dulu, baru ke Malang.”

Ha? Segitunya kita harus mudik? Kwkwk. Nggak kebayang berapa kali lipat rempongnya kita. Harus pindah kereta lagi setelah sampai di Bandung. Tapi, kayaknya ini jauh lebih murah daripada kami harus naik pesawat, dan lebih nyaman daripada kami harus naik bus. Satu tiket sekitar 750an ribu. Udah lebih hemat daripada pesawat, kan dikalikan empat orang…kwkwk.

Kalau bukan mau lebaran, satu juta sekian sudah bisa buat empat orang dan itu sudah bisa naik pesawat. Beda cerita ketika lebaran dan kenaikan jadi tidak wajar. Itu bikin kami yang biasa mudik setiap tahun menjerit…kwkwk.

Bersyukur, anak-anak sudah cukup usia, mereka malah antusias mau naik kereta. Selama ini mereka nggak pernah kami ajak naik kereta. Si sulung malah senang, tapi entah bagaimana dia ketika ada di kereta, saya khawatir dia ngeluh pegel, nggak bisa selonjoran, dan keluhan lain sama seperti ketika kita umroh dan ke Turki dulu. Perjalanan sehari semalam tentu bukan hal yang mudah.

Saya pribadi bukan termasuk orang yang santai, malah suka ribet dan panikan. Tapi, perjalanan kami umroh dulu mengajari saya banyak hal. Kita nggak boleh berpikir begini dan begitu selama itu belum terjadi. Pikirkan yang baik, dibawa santai, dan dipersiapkan sematang mungkin.

Lalu apa yang saya siapkan untuk mudik tahun ini?

1. Beli bantal leher biar kompak warnanya samaan

Foto: Pexels.com
Bukan biar kompak warna dan motifnya jadi samaan, kebetulan saja tadi ketika kita main ke ACE Express ketemu bantal leher yang ngasih free 1 bantal lagi setiap pembelian satu bantal. Jadi, kita cukup beli dua aja biar dapat empat…haha. Tapi, warnanya hampir sama semua.

Jadi, coba cari bantal leher yang ada diskonnya, deh! Lumayan berhemat, kan? Dan pasti bakalan berguna banget saat kamu di perjalanan terutama bagi kamu yang memutuskan naik kereta atau bus.

Satu bantal leher biasanya sekitar 100-150an ribu, ini bisa dapat harga setengahnya ketika diskon. Coba dikalikan empat, kalau 100 ribuan aja sudah mau setengah juta…haha. Ibu negara memang harus perhitungan banget kalau belanja, apalagi lagi saya bukan tipe perempuan yang senang beli ini dan itu. Kalau ke mall paling hanya masuk ke toko buku dan makan siang. Jadi, ketika beli sesuatu dipikirkan banget untung dan ruginya *sambil naikin alis…kwkwk.

2. Bawa barang secukupnya

Foto: Pexels.com
Ujian banget bawa anak kecil tapi harus bawa barang secukupnya. Gimana kalau anak kita muntah? Ketumpahan susu? Dan semua alasan yang akhirnya bikin kita harus bawa baju dan celana dalam jumah lebih banyak. Ini kadang bikin saya berlebihan bawa pakaian buat mereka.

Tapi, sebisa mungkin tahun ini nggak begitu, ya. Bawa baju secukupnya saja. Itu juga memudahkan banget ketika harus paking dan mencuci. Insya Allah nanti bisa cuci kering pakai saja ketika di rumah ibu. Dan kurangi bawaan yang nggak perlu. Tahun ini pastinya nggak akan bawa laptop karena tidak ada pekerjaan yang mendesak dan diburu seperti tahun kemarin. Sekarang aktivitas menulis lebih santai sejak saya berhenti mengirimkan artikel ke media. Sehari-hari hanya ngeblog dan menulis buku saja. Alhamdulillah, yang begini jauh lebih nyaman.

3. Bawa obat-obatan wajib

Foto: Pexels.com
Saya dan anak-anak sama-sama gampang mabuk kendaraan. Kami juga punya riwayat kejang demam yang sama parah. Kami juga punya alergi kulit. Kalau dingin berlebihan atau salah makan, muncul urtikaria atau biduran. Saya nggak pernah menyangka, ternyata saya paling banyak ngasih warisan berupa penyakit sama mereka…kwkwk. Salah apa bundamu ini? Hiks.

Dan, ketika mudik, sudah bisa dipastikan kita harus pulang bawa obat-obatan seperti obat kejang, penurun demam, obat anti mabuk, dan salep alergi. Iya, itu wajib banget ada di dalam tas melebihi kebutuhan make up emaknya. Kalau kamu gimana?

4. Bawa uang kecil dan amplop

Foto: Pexels.com
Namanya juga mudik, udah pasti kita harus bawa uang kecil dan amplop buat saudara-saudara yang masih imut-imut. Kalau kata suami, THR itu rezeki orang, rezeki saudara kita di kampung. Kapan lagi kita bisa kumpul kalau bukan ketika lebaran? Saat itulah, kita harus berbagi *mamah ceramah…kwkwk.

5. Jangan lupa tiketnya

Foto: Pexels.com
Saya sering teledor. Pernah ketika ada acara kantor suami, saya lupa nggak bawa tiket padahal kita udah siap-siap dari malamnya. Hanya karena tiketnya saya letakkan di atas lemari ketika sedang ganti pakaian, akhirnya lupa dan baru ingat ketika berangkat. Untung itu hanya tiket masuk tempat wisata, kebayang kalau yang ketinggalan tiket kereta.

Karena keperluan kita banyak banget, sibuk ini dan itu, ada baiknya kita siapkan baik-baik jangan sampai ketinggalan atau kamu akan merugi sebab di sebelahmu ada yang ngomel..kwkwk.

6. Bikin list bawaan

Foto: Pexels.com
Ini pengalaman waktu umroh kemarin, karena bawaan banyak dan saya nggak hapal nyimpen barang di koper mana, akhirnya saya tulis daftar barang yang saya bawa plus ada di koper yang mana.

Ini sangat memudahkan sekali. Sebelum berangkat cek catatan kamu dan periksa yang belum kamu masukkan dalam tas atau koper. Jangan sampai ada barang penting ketinggalan, selain bikin ribet dan panik, hal kayak gini juga bikin mood buruk.

7. Jangan lupa lepas selang gas dan matikan pompa air

Foto: Pexels.com
Ini akan kita lakukan terakhir kali sebelum kita berangkat ke stasiun atau bandara. Iya, saya tahu saya sangat pelupa, karena itu saya akan tempelkan catatan khusus di pintu yang pasti akan terlihat ketika kami membukanya.

Sebisa mungkin kamu titipkan rumah pada orang terdekat. Saya juga biasanya menitipkan rumah supaya bisa dijaga juga sama orang terdekat. Bukan berarti mereka harus tidur di rumah kita, tetapi setidaknya mereka tahu rumah kita kosong dan mereka bisa ikut mengawasi dan memberi kabar jika sewaktu-waktu ada sesuatu terjadi.

8. Bawa barang kesukaan anak-anak

Foto: Pexels.com
Kalau bawa anak-anak pasti bakalan lebih merepotkan karena mereka bisa jadi nggak cukup betah selama di kereta. Tapi, kalau naik kereta kayaknya masih nyaman bawa buku. Dan ini rencana saya sama si sulung, selain bawa buku untuk menggambar, kami juga akan membawa buku-buku favorit kami. Kami nggak terbiasa main game di tablet. Tablet saya hanya berisi aplikasi menggambar…kwkwk. Anak-anak saya juga senang main game, tapi kami mencoba membatasi itu. Jadi, kami nggak mungkin hanya bawa tablet, kayaknya bakalan lebih banyak ngemil biar sehat *alias subur dan bawa buku karena kami suka membaca*pencitraan…kwkwk.

9. Pulang karena ingin silaturrahim bukan karena hal lain

Foto: Pexels.com
Apa alasan kenapa kami memaksakan setiap tahun harus mudik? Karena kami punya orang tua yang rindu setiap saat dan selalu ingin bertemu. Karena mudik jadi salah satu kewajiban kami setelah akhirnya merantau jauh dari mereka. 

Tinggal dan menetap di Ibu Kota memang membuat kami tampak berbeda di mata orang-orang. Bahkan nggak jarang banyak saudara yang menanyakan langsung berapa gaji suami. Ini sempat bikin suami saya risih. Tapi, mereka mungkin nggak tahu gimana harus santun dan tidak sampai menanyakan privasi yang bikin orang lain ilfeel. Celah seperti ini bikin kami ingin menyombongkan diri biar mereka nggak bisa tidur sekalian. Pengen bilang rumah saya pakai lift di dalamnya....kwkwk. Karena terlalu mengurusi orang sampai-sampai mereka nggak paham batasan.

Kita mudik nggak gampang. Kalau sampai di sana hanya pengen pencitraan ya buat apa? Selama ini yang tinggal di Ibu Kota kadang berpenampilan ‘wah’ meski di Jakarta hidupnya biasa-biasa saja. Ini sih kenyataan yang saya lihat. Kenapa harus menutupi kalau rumah ngontrak, kenapa harus malu bilang belum punya mobil, kan mereka nggak tahu kita menahan diri nggak punya mobil biar bisa punya rumah dulu tanpa riba dan bisa daftar haji…kwkwk..curhat, Mah. Kondisi seperti ini bikin kita nggak nyaman aja.

Kalau dipikir ngapain, di atas langit masih ada langit. Jangan sampai niat kita salah. Iya, ini nasihat buat saya sendiri aja yang berusaha menjaga hati, jangan sampai ketika pulang saya pamer emas dari lengan sampai ujung kuku *pedagang emas kali ah..haha.

Dan, selama mudik biasakan santai dan jangan anggap ribet, termasuk ketika banyak pertanyaan aneh mampir. Kita istimewa karena nggak semua orang bisa merasakan serunya berdesak-desakan saat mudik. Kadang ada orang yang jarak rumahnya hanya beberapa langkah saja dari rumah orang tuanya, jadinya nggak pernah ngerasain susahnya mudik seperti kita.

Nikmati, syukuri, dan jalani. Jangan lupa banyak-banyak lihat ke bawah, jangan melulu melihat ke atas kecuali dalam hal ibadah. Semoga mudik tahun ini lebih berkesan dan menyenangkan, Insya Allah…aamiin.

Terima kasih karena sudah membaca postingan saya yang kebanyakan isinya malah curhatan…kwkw. Semoga bermanfaat dan nggak sabar menunggu Ramadhan datang, ya.

Salam,

Be First to Post Comment !
Post a Comment

EMOTICON
Klik the button below to show emoticons and the its code
Hide Emoticon
Show Emoticon
:D
 
:)
 
:h
 
:a
 
:e
 
:f
 
:p
 
:v
 
:i
 
:j
 
:k
 
:(
 
:c
 
:n
 
:z
 
:g
 
:q
 
:r
 
:s
:t
 
:o
 
:x
 
:w
 
:m
 
:y
 
:b
 
:1
 
:2
 
:3
 
:4
 
:5
:6
 
:7
 
:8
 
:9

Custom Post Signature

Custom Post  Signature