Top Social

5 Alasan Kenapa Santri juga Harus Menulis

Foto: Pexels.com

Ada banyak ide yang ingin saya tulis malam ini, termasuk satu naskah buku yang ingin diajukan ke penerbit. Tapi, tema satu ini terlalu menarik untuk saya abaikan begitu saja. Ini tentang saya dan kamu. Iya, kamu. Yang pernah mengenyam pendidikan di pesantren. Yang setiap hari memakai sarung, bahkan sekolah pun tetap pakai sarung. Iya, kamu yang bangga dengan identitasmu sebagai santri. Yang senantiasa menjaga nama baik pesantren di mana pun kamu berpijak. Iya, ini buat kamu yang selalu bangga, menyematkan nama pesantrenmu setiap kali mengenalkan diri. Yang selalu ingat pesan Kyai. Yang kadang rindu dan menahan tangis setiap kali melihat foto Kyai diposting di sosial media.

Ini tentang kita. Yang sadar dulu juga nggak sebaik apa. Yang dulu pernah berbuat salah, kadang melanggar aturan dan melakukan hal konyol. Sekarang, kita hanya bisa menertawakan apa yang sudah lewat. Tidak ada kesempatan untuk kembali. Tapi, ada satu hal yang bisa dilakukan untuk menyimpan ingatan itu supaya tidak menguap ditelan waktu. Menulis. Iyap! Menulis!


Ingatan bisa menua. Sedangkan tulisan kita akan tersimpan sebagai sejarah. Kamu bisa bayangkan, jika ulama zaman dulu tidak menulis, kitab-kitab kuning yang setiap hari kita kaji pasti tidak akan ada wujudnya, nggak akan kita pegang dan sentuh.

“Orang boleh pandai setinggi langit. Tapi, selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.”-Pramoedya Ananta Toer

Tapi aku nggak bisa menulis, lho. Masa, sih? Menulis bukan tentang bakat. Sama seperti keahlian lainnya, aktivitas satu ini juga bisa kamu pelajari, kok. Jika kamu merasa tak berbakat, maka cobalah belajar dari penulis lain. Banyak-banyaklah membaca, pelajarilah ilmunya, jangan hanya membayangkan saja. Jika hanya dibayangkan, keinginan kamu hanya jadi keinginan yang tak pernah terwujud. Dan itu pahit banget, sih buat saya…hehe.

Selama beberapa bulan terakhir, saya bersyukur sekali karena bisa dipertemukan dengan teman-teman yang dulu sempat tinggal satu atap di pesantren. Tidur bareng, nangis bareng, konyol bareng, sedih bareng, ribut juga kadang barengan…haha. Dan ternyata, di antara mereka juga ada yang senang menulis. Betapa menyenangkannya bisa bertemu dengan teman lama dan tak disangka kami justru lebih dekat karena punya hobi dan passion yang sama.

Saya percaya, mereka memulainya dengan sangat tidak mudah. Iya, menulis itu bukan hal mudah karena memang tidak akrab dengan kehidupan kita, kita nggak familiar saja dengan aktivitas baru ini. Tapi, selama masih ada keinginan, tentu saja tidak ada yang mustahil. Harapan dan impian itu membuat hidup kita terus berjalan. Iya, karena ada impian, kita terus berusaha melakukan banyak perubahan. Impian apa pun itu akan menuntut kita untuk gigih berusaha. Termasuk saat menulis.

Jangan membayangkan menulis itu ribet. Apalagi membayangkan menulis buku setebal ratusan halaman. Aktivitas baru ini bisa kamu mulai dari hal-hal kecil. Misalnya mulai menulis yang bermanfaat di Facebook atau Twitter*daripada hanya curhat. Lebih nyaman lagi buatlah blog. Pakai yang free saja dulu. Sebab kita tidak sedang berkompetisi dengan orang lain, kita sedang menantang diri sendiri, apakah kita sanggup melawan rasa malas dalam diri? Apakah kita mampu istiqomah menulis atau malah gagal di tengah jalan hanya karena tiba-tiba kita merasa tak sebaik yang lain?

Ujian di awal pastilah tentang konsistensi. Iyap. Sebab semua orang punya kesibukan yang kadang nggak mudah ditinggalkan. Semua orang punya hobi yang kadang susah diganti. Jadi, kalau kamu nggak pandai meluangkan waktu sedikit saja untuk aktivitas baru ini, maka lupakan saja mimpi itu. Jahat, ya? Haha. Iya, saya memang agak sadis kalau soal beginian. Sebab intinya bukan saya atau orang lain yang menentukan keberhasilan kamu. Tapi kamu sendiri. Iya, kamu yang sekarang sedang serius membaca dan menduga-duga..haha.

Lalu, apa saja 5 alasan yang bisa kamu jadikan prioritas, kenapa santri juga harus menulis bukan hanya sekadar pandai membaca kitab kuning?

1. Menulis berbagi manfaat

Foto: Pexels.com
Jika ilmu yang kamu pelajari hanya disimpan sendiri, lalu bagaimana ia dapat bermanfaat bagi orang lain? Padahal, sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain, lho.

Nah, di zaman secanggih sekarang, nggak mustahil menjangkau banyak orang dengan satu tulisan kita. Baik lewat postingan di blog, artikel terbit di media, atau dengan cara menerbitkan buku. Dengan cara seperti ini, apa yang kamu tulis akan jauh lebih bermanfaat karena nggak hanya bisa dibaca oleh orang terdekat kamu, tetapi juga oleh mereka yang bahkan nggak kenal sama kamu. Betapa menakjubkannya profesi satu ini.

2. Menulis untuk saling mengingatkan


Foto: Pexels.com
Kita semua wajib berdakwah. Iya, saling mengingatkan satu sama lain tanpa julid…haha. Tapi, dakwah itu nggak terbatas hanya buat mereka yang jadi penceramah saja. Kita yang nggak berbakat bicara di depan publik tentu bisa melakukan cara lain, termasuk dengan menulis.

Kita yang berusaha mengingatkan bukan berarti sudah sempurna. Ini juga bisa jadi pelajaran bagi diri sendiri. Nggak ada salahnya dong mengingatkan mereka yang mungkin belum sempurna menutup aurat dengan cara menulis cerpen atau artikel motivasi. Cara seperti ini nggak akan membuat orang lain kesal karena merasa disindir, justru diam-diam mereka sadar dan segera berbenah.

Sudah banyak penulis yang melakukannya. Dan kamu, iya, kamu yang katanya santri, sudah pasti banyak banget materi yang bisa ditulis dan jadi pengingat bagi diri dan orang lain. Pastinya itu akan jauh lebih berguna jika bisa dibaca oleh banyak orang tidak sekadar kamu pikirkan sendiri.

3. Santri harus berani berkarya


Foto: Pexels.com
Dulu, saya nggak pernah membayangkan akan semudah sekarang. Ketika satu demi satu tahapan telah dilalui, tiba-tiba semua menjadi jauh lebih mudah. Tapi, memang perjuangan selama 10 tahun lebih terbilang berat.

Saya nggak perlu gengsi mengakui, jika dulu saya pernah menabung uang receh hanya demi membukukan kumpulan cerpen saya. Konyol dan memalukan kalau diingat. Orang bebas menertawakan saat itu. Iya, tapi sayangnya saya tidak mendengar ketika mereka meremehkan atau menertawakan apa yang saya kerjakan.

Saya hanya fokus pada impian saya. Saya hanya fokus memikirkan apa yang akan saya tulis lagi dan lagi. Satu peta impian bahkan masih saya simpan hingga saat ini. Dan semuanya memang sudah terwujud.

Meski dulu minim fasilitas, tetapi orang yang niat pasti akan mencari jalan, bukan alasan untuk gagal. Nggak bisa punya laptop, tulis saja di buku! Nggak bisa pakai internet untuk kirim email, kirim saja tulisan tanganmu lewat orang lain. Dan itu benar-benar saya kerjakan tanpa ragu.

Masya Allah. Saat ini saya pun tidak bisa membayangkan seberapa besar energi saya saat itu. Kenapa bisa sampai segitunya ngejar impian sebagai seorang penulis. Kenapa mau capek-capek meluangkan waktu buat menulis, padahal saat itu kita sekolah saja dua kali. Mending tidur saja kalau ada waktu luang.

Dan sekarang saya tahu, tak perlu banyak alasan untuk berkarya. Usahamu menunjukkan seberapa besar impianmu. Bukan salah orang jika kamu masih begini aja? Bukan salah mereka jika kamu masih berjalan di tempat. Itu salah kamu yang nggak mau beranjak dari zona nyamanmu. Iya, nggak mau sedikit repot. Akhirnya kesulitan kecil saja sanggup menghabisi keinginanmu untuk berkarya. Dan santri seharusnya lebih tangguh daripada itu.

4. Menulis adalah memahat peradaban


Foto: Pexels.com
Yup! Seperti itulah yang disampaikan oleh penulis senior Helvy Tiana Rosa. Apa yang kamu sampaikan kepada orang lain mungkin hanya bisa diingat dan dia dengar sendiri, mudah dilupakan dan tidak mustahil hilang ditiup angin. Sedangkan ketika kamu menulis, maka apa yang kamu sampaikan akan tetap ada bahkan hingga ketika kamu meninggal sekalipun. Kamu akan tetap dikenang dan tulisanmu tetap bermanfaat bahkan bisa jadi amal baik yang terus menerus mengirimkan pahala.

5. Menulis adalah warisan ulama


Foto: Pexels.com
Kamu bayangkan saja jika ulama terdahulu tidak menulis, maka apa yang akan kita pelajari di pesantren? Karena ulama menulis, maka kita bisa mempelajari banyak ilmu hingga sekarang bahkan hingga para ulama tersebut wafat.

Menulis curhatan di sosial media adalah hal biasa. Iya, apalagi ketika kamu sedang jatuh hati hingga sakit hati, bisa-bisa jadi satu buku…haha. Tapi, cobalah mengubah kebiasaan itu, nggak semua perlu dipertontonkan di media sosial, apalagi sesuatu yang kurang berfaedah. Cobalah menulis sesuatu yang lebih bermanfaat, yang ketika diposting, kamu nggak akan menyesal selamanya, yang ketika sudah dibaca banyak orang, kamu nggak akan malu karenanya.

Lalu dari mana aku harus memulai? Dari menulis dan menulis! Iya, nggak ada trik khusus yang bisa kamu pelajari, menulislah tanpa memikirkan teori dulu. Tulis dulu apa yang kamu kuasai dan kamu inginkan. Biarkan orang lain membaca dan menilai. Tugas kamu hanya menulis dan menulis. Ide mampet biasanya disebabkan karena kamu malas membaca. Jadi, dua hal ini akan sangat berkaitan erat.

Jika kamu ingin menjadi penulis yang baik, maka bacalah banyak buku berkualitas dan mulailah praktik!

Kamu santri? Yakin udah cukup dengan apa yang kamu miliki sekarang? Apakah kamu tidak ingin memahat peradaban? Minimal tulislah satu buku seumur hidupmu! Iyap! Satu buku seumur hidup, Insya Allah bisa.

Salam,
2 comments on "5 Alasan Kenapa Santri juga Harus Menulis"
  1. setuju banget mba. meskipun ada rasa males dan sulit manage waktu tapi saya masih suka nulis. hehehe.

    ReplyDelete
  2. Daleeeem. Menulis di blog gratisan. Kita tidak sedang berkompetisi, tapi menantang diri sendiri. #bener juga ya hehehe

    ReplyDelete

EMOTICON
Klik the button below to show emoticons and the its code
Hide Emoticon
Show Emoticon
:D
 
:)
 
:h
 
:a
 
:e
 
:f
 
:p
 
:v
 
:i
 
:j
 
:k
 
:(
 
:c
 
:n
 
:z
 
:g
 
:q
 
:r
 
:s
:t
 
:o
 
:x
 
:w
 
:m
 
:y
 
:b
 
:1
 
:2
 
:3
 
:4
 
:5
:6
 
:7
 
:8
 
:9

Custom Post Signature

Custom Post  Signature