Top Social

Sunat Bayi atau Nanti? Benar-benar Bikin Dilema

(Sunat memakai metode smart klamp, sunatmodern.com)

Pernah nggak sih mengalami dilema waktu mau menyunat si kecil yang sudah pandai lari ke sana kemari? Sebenarnya, mau kapan pun rasanya saya nggak siap melihat dan merawat anak yang disunat. Sebab ya itu, mana tega lihat anak kesakitan. Tapi, ini merupakan salah satu kewajiban yang harus kami tunaikan sebagai orang tua. Qadarallah, anak-anak saya cowok semua, Sodaraah. Jadi, dua kali harus mengalami hal menakutkan begini…hiks.

Si sulung, dulu sunat saat usianya masih satu tahun. Di hari kelahirannya, saya bawa dia ke rumah sunatan di daerah pasar Gembrong. Duh, emak sadis nggak, ya? Hihi. Bukan tanpa alasan saya memutuskan itu. Alby ini sejak kecil ada fimosis, jadi semakin cepat disunat akan semakin baik. Daripada kena ISK (infeksi saluran kemih), mending segera disunat saja meski saya pribadi masih ketar ketir juga membayangkannya.

Waktu proses sunatnya sendiri, saya nggak berani masuk ruangan. Hanya ada dokter dan suami serta beberapa asisten dokter yang membantu. Drama nggak? Banget. Nangis udah pasti. Sedih banget tapi ini jauh lebih baik daripada menunggu ada masalah. Sebelumnya kami berkonsultasi dulu, jika memang memungkinkan, kami setuju kalau langsung sunat.

Untuk lebih memudahkan dan berusaha bikin anak senyaman mungkin, kami pilih sunat metode smart klamp yang tanpa jahit. Sebenarnya, kalau berkonsultasi sama dokter-dokter di milis Sehat, kebanyakan dokter nggak merekomendasikan sunat metode klamp ini. Tapi, buat kami orang tua, kayaknya ini jauh lebih mudah dan nyaman ketimbang pakai metode konvensional dan gonta ganti perban.

Kalau pakai klamp, kita hanya butuh waktu seminggu untuk kemudian melepas si klamp itu. Sakit ya pastilah, tapi Insya Allah itu lebih ringan daripada harus ganti-ganti perban. Ini juga diiyakan oleh beberapa orang tua pasien. Keuntungan lainnya, anak bisa bebas main-main meski baru aja selesai sunat, itu kalau anaknya nggak kesakitan. Kalau si sulung, tetap aja drama setelah selesai, apalagi pas dia lihat ada yang berbeda dengan dirinya…hihi. Sebab respon anak itu 'kan beda-beda, ya. Bisa jadi ada yang kuat atau sebaliknya. Ada yang cepat sembuh, sebaliknya malah lama.

Nah, masalah baru sekarang muncul. Kapan ya waktu yang tepat untuk sunat si bungsu? Dulu waktu usianya masih empat bulanan, saya bawa juga dia ke rumah sunatan. Setelah berkonsultasi, dokter bilang keadaan Dhigda nggak darurat kok buat sunat secepatnya. Bahagia dong emaknya karena emang nggak siap….kwkwk. Kenapa kita bisa memutuskan akan segera menyunat si bungsu? Karena waktu itu dokter anak mengatakan dia harus segera sunat. Sama seperti kakaknya.

Karena dokter di rumah sunatan menyuruh kami pulang dan memikirkan lagi (itu pun setelah beliau menjelaskan kekurangan sunat saat bayi), akhirnya kami pun sepakat, ya udah, sunatnya ditunda dulu.

Sekarang usia di bungsu sudah tiga tahun. Kayaknya nggak ada salahnya diajak sunat karena dia sudah banyak mengerti. Tapi oh tapi, ternyata dia mengiyakan tapi menolak. Nah, lho. Apa yang benar? Hahaha.

Bunda: Kapan mau sunat?
Dhigda: Besok.
Bunda: Benar ya, mau?
Dhigda: Hmm, mau. Besok ya.

Keesokan harinya ketika diajak berangkat dia akan berkilah dan beralasan, kan sunatnya besok, walaupun itu udah besok…kwkwk. Atau seperti tadi ketika kami bercanda. Sunat yuk, kita berangkat sekarang? Dia dengan lucunya menjawab, “Kan ini masih hujan.” Emang benar di luar masih hujan, “Kita bisa naik mobil.” Jawab saya sambil menahan tawa. 'Kan Grab car di luar banyak, Dek…kwkwk.

Kemarin sempat pengen banget bawa Dhigda segera ke rumah sunatan, tapi kondisi kami belum membaik. Saya masih meriang sudah masuk hari ketiga, anak-anak juga masih batpil. Lama-lama mikir juga, ya udah nanti aja sunatnya…haha. Karena jujur saja saya belum siap…hiks.

Sunat bayi atau nanti sebenarnya ada kekurangan dan kelebihan masing-masing. Kalau bayi menurut saya, sekalian aja pas dia baru lahir gitu, jadi belum mengerti dan belum banyak bergerak. Kalau sudah besar, usahakan tunggu sampai dia mau sendiri, asal jangan lama-lama.

Kemarin waktu lewat di pasar Gembrong, ada yang menarik perhatian juga, yakni ‘Sunat Tanpa Suntik’. Wah, semakin simpel aja mau sunat…hehe. Tapi, kalau dibilang nggak sakit, ya mustahil, namanya juga sunat, ya. Walaupun pakai klamp, tetap sakitlah L

Sempat penasaran juga biaya sunat di rumah sunatan sekarang berapa, ya dengan metode klamp? Kalau dulu, tujuh tahun silam ketika menyunat si sulung, harganya kurang lebih satu juta. Nah, baca-baca pengalaman orang tua di blognya yang memakai rumah sunatan dan metode klamp pada tahun 2017, ternyata sudah hampir satu setengah juta. Nah, apa kabar ya, sekarang? Mungkin tak jauh berbeda dengan harga terakhir.

Sunat bayi atau nanti? Sepertinya saya masih benar-benar dilema…hiks. Teman-teman adakah pengalaman serupa seperti saya yang bingung ketika mau ajak anak sunat?

Salam,
2 comments on "Sunat Bayi atau Nanti? Benar-benar Bikin Dilema"
  1. aku awalnya mau pas lahir langsung sunat hanya saja karena pemulihan sesar kondisiku ga memungkinkan mba akhirnya pas masih bayi 6 bulan sunat deh apalagi sama kondisinya fimosis biayanya murah cuman 400rb krn metode konvensional soalna kami takut pake metode macam2 dan sunnahnya kan yg konven katanya :p.skrg anakku 10 bulan alhamdulilah sehat :) smeoga lancar ya buat si bungsu y mb

    ReplyDelete
  2. Saya si belum punya anak cwok ya kak, tapi menurut saya alangkah lebih cepat lebih baik kak.. biar dedeya belum terlalu kerasa sakitnya.. semoga diberikan jalan terbaik yaaa

    ReplyDelete

EMOTICON
Klik the button below to show emoticons and the its code
Hide Emoticon
Show Emoticon
:D
 
:)
 
:h
 
:a
 
:e
 
:f
 
:p
 
:v
 
:i
 
:j
 
:k
 
:(
 
:c
 
:n
 
:z
 
:g
 
:q
 
:r
 
:s
:t
 
:o
 
:x
 
:w
 
:m
 
:y
 
:b
 
:1
 
:2
 
:3
 
:4
 
:5
:6
 
:7
 
:8
 
:9

Custom Post Signature

Custom Post  Signature