Top Social

5 Hal yang Bikin Kangen Pesantren, Sederhana Tapi Keren



Tanggal 10 Maret 2019, Pondok Pesantren An-Nur III ‘Murah Banyu’ akan mengadakan reuni akbar. Seluruh alumni bakalan berkumpul dan mengikuti beberapa event menarik yang telah diadakan oleh panitia. Sebagai alumni, saya bahkan tidak pernah datang meski hanya sekali. Sejak boyong selepas STIKK (Sekolah Tinggi Ilmu Kitab Kuning) pada 2009, saya langsung pindah ke Jakarta dan menetap di sini.

Saya nggak pernah pulang sendirian. Bukannya dilarang sama suami, tetapi saya sejak kecil memang anak rumahan banget. Terbukti waktu di pondok saya nggak pernah bolos keluar*alasan…haha. Selain nggak pernah berpikir untuk pulang sendiri, saya juga memikirkan anak-anak yang sudah sekolah, suami yang ngantor lima hari dalam seminggu dan jarang ambil cuti panjang kecuali pas lebaran, dan rumah yang perlu diurus. Emak-emak mikirnya banyak banget emang, ya…haha.

Ketemu dan ngumpul bareng teman-teman memang merupakan suatu yang menyenangkan, terlebih sejak dulu kita nggak hanya satu kelas, tetapi juga satu kamar terutama saat STIKK. Kita udah ngerasain seneng bareng, nangis bareng, ‘gila’ bareng, bahkan baik bareng *kalau ingat.


Setelah kita menikah dan berkeluarga, bertemu dan ngobrol bareng adalah sesuatu yang sulit banget ditemui. Kita sudah sibuk sendiri, kita sudah punya pekerjaan yang menyita waktu, pokoknya serba ribet kalau sudah jadi emak-emak. Apalagi yang jarang keluar rumah sendiri seperti saya…huhu.

Lalu apa sih yang bikin saya kangen pesantren lagi setelah hampir sepuluh tahun menjadi alumni?

Selalu ingat pesan Kyai Qusyairi

Foto: Pexels.com
Saya yakin, hampir semua santri mengingat pesan-pesan Kyai, dan saya pun yakin, pesan yang kami ingat tidak selalu sama. Saya masih ingat, saat kami ngaji di jerambah depan kamar, Kyai pernah berpesan, “Jangan mudah menyalahkan orang (dalam hal agama) ketika kamu keluar dari pesantren. Karena di luar itu macam-macam isinya.”

Dan setelah tinggal dan menetap di Jakarta, saya baru sadar, rupanya banyak orang yang berbeda pandangan dengan saya meski akidah kami sama. Bahkan saya sempat ditolak oleh lingkungan saya sendiri. Tahun-tahun itu bukan hal yang mudah. Saya pernah menangis di jalan selepas pulang kajian. Alasannya bukan hanya karena saya cengeng, tetapi karena sempat ditertawakan dan ditegur secara blak-blakan di depan umum karena saya belum memakai hijab syar’i, padahal saya santri. Saya belum terbiasa menutup aurat dengan sempurna, termasuk nggak terbiasa memakai kaos kaki. Kalau mau egois, saya pasti tidak akan peduli dan keluar dari kajian saat itu juga. Bisa saja saya merasa paling benar mengingat saya santri. Tapi, qadarallah saya nggak seperti itu.

Pelan-pelan saya belajar dan tetap ikut kajian. Nggak mau menutup diri apalagi dendam. Saya yakin, cara mereka mengingatkan memang cenderung menyakitkan, tetapi bisa jadi memang ini yang terbaik menurut Allah. Mungkin dulu udah disentil tapi nggak merasa.

Pelan-pelan saya mengubah penampilan bukan karena takut dimusuhi, tetapi karena sadar saya salah. Yang biasanya canggung pakai hijau menutup dada, sekarang malah nggak nyaman kalau pakai hijab pendek apalagi pakaian ketat. Yang biasanya nggak pernah pakai kaos kaki kecuali waktu sekolah, sekarang berusaha memakai setiap keluar rumah.

Saya tinggal di lingkungan yang bukan ‘dunia’ saya dulu. Saya dekat dengan orang salaf, saya dekat dengan mereka yang nggak mau disebut NU atau Muhammadiyah, saya pun sering mendengarkan kajian dari ustadz-ustadz salaf. Saya benar-benar di luar lingkungan saya dulu. Terus kamu mau sok benar dan menyalahkan yang berbeda dengan kamu? Rasanya itu gila. Saya belajar untuk tidak mendebat orang yang berbeda pandangan. Saya belajar menerima jika yang lain berbeda dan mengambil apa yang baik. Toh, selama ini ustadz-ustadz yang saya ikuti tidak pernah mengajarkan yang aneh-aneh, nggak pernah nyuruh musuhan apalagi merendahkan, justru membantu saya lebih berhati-hati dalam menjalani hidup, terutama berhati-hati soal akidah.

Pesan Kyai dulu mungkin tak langsung saya terapkan saat pindah ke Jakarta. Ada saatnya saya merasa egois dan mau benar sendiri dan menyalahkan mereka yang berbeda. Tapi, belakangan saya mulai menyadari, yang begitu itu tidak tepat. Proses yang saya lalui tidak mudah, berbeda jika saya tinggal di lingkungan sendiri.


Saya sempat menuliskan perjalanan ini dalam sebuah antologi dan bisa dibeli di toko buku kesayangan kamu *tetap promosi…kwkwk.

Minim fasilitas, tetapi kreasi tak terbatas

Foto: Pexels.com
Zaman dulu, kita nggak banyak punya fasilitas seperti saat ini. Tapi, kreativitas justru sangat tinggi. Saya merupakan tim kaligrafi yang bertugas membuat dekorasi panggung ketika ada acara. Saya yang suka melek malam dan tidur setelah Shubuh karena semalam suntuk mengerjakan dekorasi panggung bersama ustadzah dan santri lain. Zaman dulu, semua dikerjakan manual. Motong Styrofoam sampai menjadi huruf dan diberi warna. Disusun dengan susah payah meski kenyataannya hanya dipakai semalam saja.

Saya masih ingat ketika hendak pergi mengikuti kompetisi kaligrafi, Kyai sempat bertanya, yang intinya seperti ini, “Sudah yakin bakal menang? Kalau tidak yakin, ngapain berangkat.” Jleb! Jujur saja saya percaya diri, tapi yang amatiran seperti saya masa iya bisa menang melawan peserta senior lainnya? Pertanyaan itu sebenarnya nggak sesederhana yang kita dengar. Jika boleh saya memaknai, maka saya akan katakan seperti ini,

Setiap impian itu butuh proses yang tidak mudah. Yakin menjadi salah satu kunci meraih mimpi. Tidak ada yang mustahil bagi Allah. Maka yakinlah bahwa kita pun mampu meraih apa yang kita inginkan meski semua orang menertawakan.

Yakin menjadi salah satu kunci keluasan hati. Bagaimana kita bisa sukses kalau hati kita sempit? Dikit-dikit mikir nggak bakalan bisa, mustahil, nggak mungkin. Yang begini memang akan membuat kita gagal duluan bahkan sebelum maju ke medan tempur. Seperti itulah yang saya pelajari dari buku Hijrah Rezeki yang ditulis oleh ustadz Arafat.

Maka tak berbeda dengan pertanyaan Kyai dulu, kalau nggak yakin, ya nggak perlu pergi. Maka yakinlah! Sebab ada Allah. Kalau kita hanya berpegang pada logika dan kemampuan kita sendiri, rasanya tak mungkin juga saya bisa seperti saat ini. Sebab Allah izinkan, saya pun mampu mendapatkan satu demi satu impian yang dulu sempat saya tuliskan dalam buku harian.

Sering dapat tugas di tempat sampah hingga sempat menemukan segepok uang

Foto: Pexels.com
Saya sampai sekarang masih heran, kenapa zaman masih jadi santri selalu dikasih piket di tempat sampah yang kayaknya lebih sering daripada yang lain. Ini kayak nggak wajar banget…haha. Atau hanya perasaan saya saja?

Tempat sampah itu empuk ketika dipijak karena di bawahnya nggak langsung menyentuh tanah melainkan sampah plastik yang susah banget didaur ulang. Plastik botol air mineral dan gelas-gelas minuman ringan, hingga benda-benda menjijikkan lainnya. Pijakan kami hangat…kwkwk. Karena di bawahnya kayaknya terjadi proses fermentasi *mirip bikin roti. Kadang ulat gendut-gendut keluar tanpa malu. Bikin geli dan ngeri.

Pernah suatu saat saya menemukan amplop berwarna cokelat. Biasanya saya abaikan dan langsung dibakar karena merasa semua yang ada di sana adalah sampah. Tapi, kayaknya amplop itu berbeda. Tebal dan bersih. Akhirnya saya beranikan diri membukanya, dan ternyata, isianya uang, Dilaan!

Saya pun langsung menyerahkannya kepada ustadzah yang saat itu juga sedang bertugas di sana. Beliau langsung menyerahkannya kepada Kyai yang sedang berkeliling sambil naik sepeda. Piket di tempat sampah nggak bikin kangen juga sih, tapi, menyembulkan kenangan tersendiri. Kalau disuruh kembali, kayaknya mending saya lanjut mencuci baju di rumah, deh.

Dipanggil Cah Ayu

Foto: Pexels.com
Ngerasa spesial banget kalau jadi santri Kyai Qusyairi. Setiap ditegur selalu dipanggil Cah Ayu. Beliau merupakan pribadi yang ramah dan hangat, Masya Allah. Saya sempat ditegur ketika memberikan gunting kepada beliau, karena posisi ngasihnya kebalik.

Kemudian dibenarkan oleh beliau, katanya jangan sampai salah ketika ngasih ke mertua nanti..hehe. Malu, ya? Banget. Tapi, panggilan itu ngangenin banget. Jadi ingat zaman dulu masih di sana*usap air mata.

Masa-masa masuk STIKK (Sekolah Tinggi Ilmu Kitab Kuning)

Foto: Pexels.com
Waktu kami STIKK, rasanya hubungan dengan teman satu kamar lebih dekat, lebih drama, dan lebih segalanya…haha. Satu angkatan nggak lebih dari 15 orang, dan semuanya nggak ada yang mau jadi ustadzah...kwkwk. Ampuun, saya dulu boyong karena diajak nikah sama kang mas *alasan.

STIKK itu adalah waktu ketika kita hampir jadi senior, tapi bukan juga junior. Jadi, gilanya kadang kelewat gitu…kwkwk. Ingat teman bawa televisi ke kamar, ada juga yang bawa radio besar milik pesantren juga dalam ransel, ya Allah, bikin ngakak.

Jadi, kangen waktu masuk pesantren, nangis di awal, sempat nangis di depan Kyai juga waktu baru jadi santri, sempat dipanggil ke ndalem saat baru menikah dan diberi nasihat bareng mas, dan banyak banget kenangan manis yang tak bisa dilupakan. Meski jarang pulang, tetapi saya dan mas yang sama-sama merupakan alumni An-Nur selalu mengusahakan untuk sowan.

Semoga Allah senantiasa menjaga kesehatan Kyai Qusyairi dan mengangkat penyakitnya. Masya Allah, terima kasih, Kyai atas semua yang telah diberikan selama ada di pesantren.

Salam,
5 comments on "5 Hal yang Bikin Kangen Pesantren, Sederhana Tapi Keren"
  1. Mbak dari awal saya ndak tau itu kepanjangan STIKK apa ya? Sekolah Tinggi Islam Kabupaten Kota?

    Emang berat sih mbak, hijrah itu.. Apalagi sesuatu yang baru yang bukan diajarin sama guru dan orangtua kita dulu.. Tapi ternyata setelah dibaca lagi, nuntut ilmu, ikut pengajian, ternyata emang dulu kita cuma diajarin sesuai kebiasaan.. Bukan sesuai dalil-dalil yang shahih ataupun hasan..

    Tapi sepertinya emang anak pesantren itu emang punya kisah sendiri yang ga bisa dirasain anak non-pesantren ya mbak.. Jadi saya ga bisa tau rasanya di Pesantren :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihi, STIKK itu Sekolah Tinggi Ilmu Kitab Kuning, Mas...kwkwk. Lupa nggak disebutin (langsung edit) haha..

      Betul sekali, kita diajarkan sesuai kebiasaan. Jadi ingat Ibu kemarin bilang, kalau sekarang di sini juga udah musim pakai hijab panjang. Tapi hijab panjang bukan hanya trend, kan? :)

      Hanya santri yang tahu rasanya memang kwkwk


      Delete
  2. Mbak Muyyas, request cerita tentang pertama ketemu sama kangmas dong. Eh, nggak nyambung ya komennya. Aku salut sama mbak Muyyas. Kereen bingiiit...aku dulu pengen pesantren, tapi nggak boleh sama ibu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha...cerita sama suami mah terlalu singkat Mbak buat ditulis...soalnya cuma ketemu sekali terus dilamar, ketemu lagi nikah. Selesai... :D

      Masya Allah...

      Delete
  3. Ning muyass....
    Jadi terharu baca ceritanya😢😢
    Jadi pengen mondok lagi..
    tapi dengan teman yang sama😄😄😄

    ReplyDelete

EMOTICON
Klik the button below to show emoticons and the its code
Hide Emoticon
Show Emoticon
:D
 
:)
 
:h
 
:a
 
:e
 
:f
 
:p
 
:v
 
:i
 
:j
 
:k
 
:(
 
:c
 
:n
 
:z
 
:g
 
:q
 
:r
 
:s
:t
 
:o
 
:x
 
:w
 
:m
 
:y
 
:b
 
:1
 
:2
 
:3
 
:4
 
:5
:6
 
:7
 
:8
 
:9

Custom Post Signature

Custom Post  Signature