Top Social

Membantu Anak Menghapal Alquran, Belajar Bersama Orang Tua Lebih Menyenangkan



Sebenarnya agak ragu mau menulis topik ini. Sebab saya bukan panghapal Alquran. Tapi, semoga pengalaman yang sedikit bisa bermanfaat juga untuk orang tua yang inginkan anaknya menghapal Alquran dengan lebih mudah dan cepat.

Ini bukan tentang saya, ini tentang Alby, sulung saya yang Januari lalu baru genap delapan tahun. Di sekolahnya memang diharuskan setor hapalan. Setiap anak memiliki kemampuan yang berbeda, karena itu, hapalan Alquran tak menuntut mereka harus selesai kapan dan berapa jumlah juz yang dihapalkan. Semua dikerjakan semampu mereka bisa.

Nah, Januari kemarin Alby harus mengikuti sertifikasi juz 30. Awalnya sertifikasi dilaksanakan bulan Februari, tetapi kemudian maju sebulan lebih awal. Alby yang saat didaftarkan oleh gurunya belum sepenuhnya menghapal semua juz 30 akhirnya mulai keteteran.

Iya, saya nggak maksa. Kalau dipaksa justru yang ada ribut dan mana mau dia belajar menghapal lagi. Ada sekitar 3-4 surat yang belum dia hapal saat itu. Setiap hari dia tahu rasanya seperti dikejar target menuju sertifikasi. Saya ingin mundur, tetapi gurunya bilang sebaiknya ikut saja.

Alby ini anaknya gigih. Kalau ada ulangan, PR, atau ujian saya nggak perlu memaksa dia belajar karena dia tahu harus belajar, Masya Allah. Anaknya juga seperti anak-anak yang lain, kadang harus nunggu mood dulu baru mau. Kalau sudah mood, hapalannya pasti lebih cepat. Sayangnya, saya jadi susah membedakan apakah dia sedang mau belajar atau malah suntuk, tetapi masih tetap mencoba.


Dan terjadilah momen di mana dia tiba-tiba menangis saat harus menghapalkan surat. Baru menyalakan murattal, baru beberapa ayat dibaca, tiba-tiba dia menangis kenceng banget. Duh, saya sedih dan bingung…hehe. Karena pernah sekali dia juga begini ketika mempelajari Tematik. Waktu itu dia kekeh mau belajar, padahal menurut laporan di grup, banyak temannya bahkan sudah tidur. Setelah mulai paham, tiba-tiba dia menangis dan bilang capek. Hiks. Padahal sejak awal saya sudah katakan supaya dia istirahat dan nggak perlu dipaksa. Tapi, dia mencoba lagi hingga akhirnya pecah juga.

Sama seperti saat menghapal Alquran untuk persiapan sertifikasi juz 30 kemarin. Nggak ada angin nggak ada hujan tiba-tiba dia nangis kenceng. Langsung saya suruh berhenti. Dia langsung diam dan mengambil buku. Anteng baca buku. Hadeeh. Emak pusing…hihi.

Saya tidak berniat mengatakan bahwa setifikasi juz 30 yang maju sebulan itu mustahil dia taklukkan. Tapi, kenyataannya kalau di rumah dia cukup enggan menghapal. Agak susah diajak apalagi setelah pulang sekolah yang sudah sore. Saya nggak mau memaksa karena ini bukan kompetisi. Saya juga ingin dia menghapal Alquran tapi bukan karena terpaksa. Saya ingin dia mencoba karena dia suka. Dan sejak ada target untuk sertifikasi semua terasa lebih rumit. Bukan hanya anaknya yang suntuk, tetapi juga emaknya…hehe. Merasa dikejar apa gitu.

Setiap pulang sekolah Alby katakan bahwa dia bisa menghapal beberapa surat yang belum dihapal hanya dalam waktu seminggu. Emak gigit jari aja. Antara gemas dan pengen nangis juga…kwkwk.

“Bunda bilang nggak boleh ngomong susah. Jadi, Alby bilang gampang aja!” sahutnya dengan percaya diri.

Iya juga, sih, By. Tapi semua juga harus sesuai sama kenyataan…hehe. Kalau mau bisa ya harus berjuang lebih giat. Semakin ditarget semakin merasa berat. Saya juga sebenarnya nggak menyangka dia bakal dipilih sertifikasi karena memang dia belum merampungkan hapalannya. Tapi, kenyataannya dia memang sudah terdaftar. Yang pada akhirnya gurunya ngasih kelonggaran, tetap datang ikut ujian atau tidak. Dia dengan santai bilang mau ikut walaupun dia belum maksimal hapalannya. Percaya diri penuh…hihi.

Dan hari paling dinanti itu pun tiba. Alby berangkat pagi dan hingga pukul 12 siang ternyata dia belum mau pulang. Ngapain? Ternyata dia memilih menghapalkan surat-surat yang belum dihapal. Duh, hati ini rasanya gimana. Selama beberapa hari terakhir dia sudah mencoba dibantu saya, tetapi hasilnya memang belum maksimal. Masih tersisa 3 surat lagi yang belum dihapal.

Setelah shalat Dhuhur saya samperin ke sekolah untuk mengantarkan makan siang. Saya panggil dia yang masih menghapal di dalam kelas. Dia menolak, dikira mau dijemput. Saya tunjukkan makan siangnya. Dia nyamperin dan bilang nggak mau pulang, tinggal dua surat lagi.

“Emang kamu nggak masalah hapalan di sekolah?”
“Iya, bentar lagi Alby pulang. Kurang dua surat lagi.” Katanya sambil mencium saya dan bilang terima kasih.

Eh di situ air mata emaknya mau jatuh, Sodaraah. Sambil nulis ini aja masih kebayang waktu kemarin di sekolah. Ini anak gigih, tapi butuh momen tertentu yang bikin dia mau mencoba lebih keras. Sambil menuruni anak tangga dan hendak pulang, saya ingin menangis. Kalau nggak malu sama orang lain, sudah nangis di sekolah kali…hehe. Lebay, ya.

Dan menurut cerita Alby, dia berhasil menyelesaikan hapalannya meski sebenarnya masih sambil terbata alias belum hapal sepenuhnya. Bukan masalah berapa surat yang kamu hapal, tetapi usaha kamu itu, Nak yang bikin bundamu mewek. Hiks.

“Hapalin Alquran, By. Karena itu yang nantinya akan nolongin kamu. Kita juga nggak punya amal sebaik apa. Kita juga bukan orang sebaik apa. Kalau kamu hapal Alquran, Insya Allah itu akan jadi penolong buat kamu di dunia dan akhirat.”

Alby memang bercita-cita jadi hafidz Alquran dan arsitek. Tapi, saya percaya itu memang nggak akan gampang. Emaknya mau jadi penulis saja harus jungkir balik dulu, tetapi semoga Allah mudahkan langkahnya untuk mewujudkan impiannya. Tidak ada yang tidak mungkin.

Nah, selama ini apa saja yang saya lakukan demi membantu dia menghapal Alquran?

Ajak anak membaca surat bersama
Saya tidak paham dengan anak-anak yang lain, tetapi buat Alby, hapalan itu harus membaca Alquran bersama saya. Kalau sendiri dia nggak mau. Walaupun sudah saya belikan radio khusus yang berisi murattal, tetap saja dia harus mendengar suara emaknya yang cempreng ini biar lebih gampang hapal. Mungkin suara emaknya yang cerewet terdengar sangat merdu apa gimana…hehe.

Dibaca berulang, bukan dihapalkan
Waktu masih di pesantren, Kyai saya nggak pernah nyuruh muridnya menghapal, tetapi hanya meminta kami membaca berulang-ulang. Kalau sepuluh kali belum hapal, maka kami diminta membacanya lagi.

Nah, begitu juga dengan Alby yang ingin menghapal Alquran. Saya meminta dia mengulang-ulang saja dengan membacanya berkali-kali. Sebab bagi saya itu menjadi lebih mudah. Padahal kesannya nggak jauh berbeda, pada akhirnya sama-sama dibaca berulang juga. Tapi, dengan kalimat membaca berulang rupanya nggak jadi beban.

Nyalakan murattal setiap saat
Nyalakan murattal setiap saat supaya dia lebih mudah mengikuti nada yang cukup familiar dan bisa mengingat kapan pun. Jika anak-anak sudah menemukan nada yang tepat dan dia suka, menghapal akan jauh lebih mudah.

Menghapal dengan sambung ayat
Kalau Alby intinya harus ada emaknya. Kuy, kita sambung ayat biar lebih mudah. Dan ternyata cara ini sangat lumayan bikin dia semangat. Lakukan saja berulang dan tukar ayatnya setelah selesai. Misalnya tahap pertama saya mulai dari ayat pertama, maka tahap kedua saya akan mulai setelah Alby membaca ayat pertama, yakni saya mulai ayat kedua. Begitu seterusnya.

Ajak anak mengulang apa yang sudah dia hapal
Kalau tidak pernah diulang, pasti akan lupa. Itu sudah pasti. Nah, mengulang ini bisa disengaja saat waktu luang atau suruh anak-anak membacanya saat shalat. Saya pernah membaca kisah Alvin yang menghapal Alquran dan tafsirnya, dia mengulang hapalannya dalam shalat. Cara ini Insya Allah akan lebih mudah menguatkan hapalan mereka.

Selebihnya, saya berusaha membuat mood dia supaya tetap baik. Jangan dipaksa, nanti malah ribut dan batal hapalannya. Wajar saja anak seusia itu kadang enggan hapalan apalagi lingkungan kami bukan lingkungan yang familiar dengan itu. Melihat Alby yang sekarang saja sudah sangat membahagiakan, Masya Allah. Semoga kelak kamu bisa mendapatkan apa yang kamu inginkan, ya, jadi arsitek dan hafidz Alquran. Aamiin.

Salam,
2 comments on "Membantu Anak Menghapal Alquran, Belajar Bersama Orang Tua Lebih Menyenangkan"
  1. Subhanallah, bisa ngga ya aku hehheu soalnya aku ngajinya jelek jadi fokus baca artinya dab belajar mengamalkannya 😂

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe, belajar membaca juga perlu, Mbak. Yuk, mencoba lagi insya Allah bisa... :)


      Delete

EMOTICON
Klik the button below to show emoticons and the its code
Hide Emoticon
Show Emoticon
:D
 
:)
 
:h
 
:a
 
:e
 
:f
 
:p
 
:v
 
:i
 
:j
 
:k
 
:(
 
:c
 
:n
 
:z
 
:g
 
:q
 
:r
 
:s
:t
 
:o
 
:x
 
:w
 
:m
 
:y
 
:b
 
:1
 
:2
 
:3
 
:4
 
:5
:6
 
:7
 
:8
 
:9

Custom Post Signature

Custom Post  Signature