Top Social

Ketika Si Bungsu Kejang Demam, Pertama Kali dan Berulang Dalam Waktu Singkat



Setelah sulung berusia enam tahun, saya pikir drama kejang demam yang dialaminya sejak berusia dua tahun sudah berakhir. Sebab selama ini, Dhigdaya, adiknya tidak pernah mengalami hal yang sama hingga usianya 3,5 tahun seperti sekarang. Obat kejang yang dulu sering disimpan di kulkas, sekarang sudah tidak pernah ada. Nggak pernah kebayang kalau kemarin saya harus menghadapi anak kejang demam lagi dan ternyata itu bukan lagi si sulung, melainkan si bungsu yang demam sejak tiga hari lalu.

Sejak Senin dini hari, Dhigdaya demam. Seperti biasa, dia paling susah disuruh minum obat penurun panas. Dan selama ini saya tidak pernah memaksanya asalkan dia masih mau minum. Dipaksa pun malah ujung-ujungnya muntah dan menangis. Dari pagi sampai malam demam naik turun, belum mengukur suhu, tapi kayaknya sekitar 38’C lebih. Besoknya demam turun dan dia main-main lagi, gesit naik sepeda dan makan banyak.

Pukul 10 siang, ternyata suhunya naik lagi. Kali ini rupanya lumayan banget kalau diraba. Penasaran saya ukur ternyata 39,4’C. Kaget juga sampai tinggi banget suhunya. Malamnya dia sempat muntah tiga kali. Saya pikir mungkin gastroenteritis yang sebabnya virus. Siang hidungnya juga mampet. Jadi nggak mikir ini demam sebabnya apa, kayaknya sih virus biasa.

Sore suhunya naik sampai 39.9’C. Ini mah udah terlalu panas, saya paksa minum penurun panas, kompres hangat, minum hangat, sampai berendam air hangat. Suhunya tetap nggak mau turun. Berkeringat tapi panasnya nggak hilang juga. Malam jadi susah minum. Saking panasnya, jadi diam dan tidur saja. Kalau nggak salah, Isya’ saat dia tidur dan saya membaca email dari dokter Yulianto di Milis Sehat, Dhigda tiba-tiba kejang demam.

Panik dan kaget banget. Saya nggak punya stesolid (obat kejang). Benar-benar nggak menyimpan karena selama dua tahun ini sudah tidak ada lagi yang kejang demam. Meski panik, saya tahu apa yang harus dilakukan. Saya pindahkan Dhigdaya ke tempat datar, dimiringkan, nggak lama kejangnya berhenti. Meski telah melihat dan menghadapi hal serupa pada si sulung sejak lama, tetap saja yang namanya kejang demam itu menakutkan. Walaupun saya juga paham kejang demam tidak memengaruhi otak, kejadian seperti ini bikin trauma nggak habis-habis. Apalagi setiap anak-anak kejang demam, ayahnya sedang tidak di rumah.

Ketika Dhigdaya masih kejang, saya sempat menghubungi suami berkali-kali. Di luar hujan, mungkin dia masih di jalan untuk pulang. Telepon tidak dijawab, hingga Dhigdaya pun mulai tidur pulas usai kejangnya berakhir.

Si sulung yang baru pertama kali melihat adiknya kejang, tiba-tiba menangis, entah takut atau sedih. Nggak kebayang sih menghadapi hal semengerikan ini sendiri, jauh dari orang tua, nggak ada suami. Tapi, qadaralllah meski saya nggak sekuat apa, saya ingat harus apa dan bagaimana. Meski sebenarnya saya penakut, tetapi tetap saja saya harus kuat menghadapi ini sendiri.

Setelah kejang, Dhigdaya susah dibangunkan. Jangankan buat minum, bangun aja susah. Sebenarnya ini wajar dan dulu sulung pun tiap habis kejang selalu pulas. Sayangnya, suhu Dhigdaya masih tinggi, jadi saya berusaha memberikan dia minum khawatir dehidrasi. Dibangunkan susah, tangan kaki mulai kaku. Karena takut dan trauma, dia bergerak merinding karena BAK saya kira dia kejang lagi, atau gempa? Entahlah. Yang jelas saat itu saya langsung menggendongnya panik.

Nggak lama kemudian suami pulang. Dhigdaya masih lemas dan panas tinggi. Udah hampir nyerah gimana supaya dia mau minum. Tiga jam setelah kejang demam pertama, dia kejang lagi untuk kedua kalinya, pertama kali dan berulang dalam waktu kurang dari 24 jam. Nggak ragu saya langsung ganti baju dan mengajak suami ke dokter. Kali ini saya bahkan sudah siap jika dia dirawat. Kenapa? Karena kondisinya yang susah banget dibangunkan, cenderung nggak sadar, lemas bukan main, jika memang diperlukan, saya bersedia jika dia harus dirawat.

Suami sempat nyeletuk, kalau dibawa ke UGD rumah sakit biasanya, pasti suruh rawat. Saya bilang, nggak masalah sih dirawat kalau memang perlu, saya nggak keberatan. Tapi, kali ini saya tidak ke rumah sakit biasanya, memilih dokter berbeda karena trauma dengan pelayanan di sana yang nggak RUM pake banget. Bukannya sok pinter, tetapi rawat inap tanpa alasan yang benar justru lebih banyak merugikan anak saya nantinya. Dia trauma kena jarum infus, tusuk sana sini karena observasi, cek darah, dan kemungkinan tertular penyakit yang lebih berat di rumah sakit.

Kami bertemu dokter pukul 11 malam kalau nggak salah. Dhigda masih lemas, bahkan sempat muntah dahak. Ketika dibawa ke dokter, dia membuka mata, tapi nggak bisa nolak atau apa. Diam dan tidur lagi saking lemasnya. Minum nggak mau, katanya nggak enak. Ini bukan hal biasa, dulu-dulu, meski sakit apa pun, dia tetap mau minum. Makannya saya takut banget dia dehidrasi saat itu. padahal BAK masih normal sih. Emaknya aja udah panik..hihi.

Ketika bertemu dokter, dia juga nggak bisa meronta. Dokter memeriksa seperti biasa. Nggak ada masalah. Hanya disuruh minum cairan lebih banyak, khawatir dehidrasi. Jika susah minum dan masih sakit, bisa kembali dan cek darah khawatir DBD. Saya sih nggak mikir ini DBD karena pola demamnya berbeda. Setelah memastikan Dhigdaya kondisinya masih normal, saya tidak lupa meminta obat kejang (Stesolid rektal) untuk persiapan saja.

Pulang dari dokter Dhigdaya tertidur pulas. Sampai rumah jam setengah satu malam. Pukul setengah dua, Dhigdaya bangun dan senyum. Mau minum, dan melukin saya sambil bilang, “Sayang Bunda.”

Lega banget dia sudah membaik, selama sehari kemarin demamnya reda, hanya masih hangat. Tapi, semalam dia kembali demam sekitar 38,7’C. Pagi ini sudah makan kentang goreng, telur orak arik, susu, dorayaki separuh, dan minum teh hangat. Suhu sekarang sudah turun lagi.

Benar-benar seperti mimpi. Masih nggak kebayang sekarang siapa yang dapat warisan kejang demam dari emaknya…hehe. Waktu kejang demam kemarin, saya masih sempat chat sama teman-teman, bukan sok santai, tapi mengalihkan kepanikan juga. Ketika suami pulang dan Dhigdaya kejang demam kedua, suami mungkin nggak kebayang harus apa karena dia memang jarang melihat langsung anak-ananya kejang demam, kemarin dia samperin terus dia ciumin anaknya.

“Ngapain diciumin, Yah? Miringin.” Celetuk saya cukup gemas…haha. Setelah kejang dan masih kaku badannya, suami gendong. Saya takut ada patah..hihi. beneran saya selalu menunggu tubuhnya kembali normal baru digendong. Suami benar-benar bikin saya ingin ketawa dan gemas…haha.

Di atas saya sempat bercerita, kalau saya membaca email di milis sehat yang mengatakan sejak bulan Desember kemarin banyak kasus anak kena common cold seperti batpil yang sebabnya virus, tetapi uniknya demamnya tinggi banget sampai 40’C. Begitu juga yang terjadi pada Dhigdaya.

Selama ini saya tahu, kejang demam tidaklah berbahaya dan tidak memengaruhi otak kecuali ada penyebab lainnya. Tanda-tanda kejang yang berbahaya juga saya pelajari sebelumnya. Kapan saya harus ke dokter, kapan harus EEG, kapan butuh obat kejang, dan banyak hal lain yang tidak boleh diabaikan. Bagi orang tua yang memiliki riwayat kejang demam waktu kecil, mempelajari semua ini benar-benar bermanfaat.

Saya berharap, ini adalah kejang pertama dan terakhir kalinya bagi bungsu. Meski telah mengalami hal serupa sejak lama, berulang, tetap saja kejang demam itu mengerikan, terlebih ketika tidak ada siapa-siapa di rumah selain saya dan anak-anak.

Tulisan ini diikutsertakan dalam One Day One Post bersama Estrilook Community #Day9

Salam,

2 comments on "Ketika Si Bungsu Kejang Demam, Pertama Kali dan Berulang Dalam Waktu Singkat"
  1. jadi orang tua memang susah mbak, apalagi kalo anak lagi sakit gitu, dirumah gak ada siapa-siapa pasti bingung apa yang hatus dilakuin, meski belum ada pengalaman tapi saya tau gimana rasanya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, betul sekali...jadi kebayang perjuangan orang tua kita dulu seperti apa ya..

      Delete

EMOTICON
Klik the button below to show emoticons and the its code
Hide Emoticon
Show Emoticon
:D
 
:)
 
:h
 
:a
 
:e
 
:f
 
:p
 
:v
 
:i
 
:j
 
:k
 
:(
 
:c
 
:n
 
:z
 
:g
 
:q
 
:r
 
:s
:t
 
:o
 
:x
 
:w
 
:m
 
:y
 
:b
 
:1
 
:2
 
:3
 
:4
 
:5
:6
 
:7
 
:8
 
:9

Custom Post Signature

Custom Post  Signature