Top Social

Manajemen Waktu Buat IRT Tanpa ART yang Hobi Menulis, Pilih Pekerjaan atau Anak-anak?



Kenapa membahas manajemen waktu buat IRT tanpa ART? Kebetulan di wag Estrilook.com, saya meminta semua member untuk mengajukan pertanyaan. Apa pun itu. Dan salah satu pertanyaan menarik yang sudah dibahas adalah manajemen waktu atau cara mengatur waktu saya sebagai IRT tanpa ART, yang masih harus ngerjain pekerjaan rumah, mengurus anak-anak yang jauh dari eyangnya, dan menyempatkan menulis buku atau artikel.

Kalau dibayangkan memang rumit dan bikin pusing. Tapi, percayalah saya juga hanya memiliki waktu 24 jam, kesibukan sama-sama menumpuknya, bahkan kalau saya sudah di dapur dan memasak, setelah selesai sudah siang aja. Rasanya memang luar biasa melelahkan. Tapi, sekali lagi menulis merupakan sesuatu yang saya sukai, sudah bukan sekadar hobi, tetapi sudah jadi passion. Nggak nulis sehari rasanya ada yang hilang aja. Lebay nggak, sih? Gimana dengan teman-teman yang juga suka menulis juga?

Saya pribadi bukan termasuk orang yang pandai mengatur waktu. Ya, masih suka berantakan mengatur jadwal menulis dan mengurus semua keperluan sehari-hari. Tapi, setidaknya dalam sehari saya tetap menulis minimal di blog dan mengirimkan artikel ke media online.

Lalu sebenarnya seperti apa cara mengatur waktu buat ibu-ibu yang suka menulis, tetapi tidak juga mau mengorbankan waktu bersama anak-anak dan setrikaan sehingga jadi menumpuk dan bikin nggak mood?

1. Dahulukan yang Jadi Prioritas


Apa yang jadi prioritas utama seorang IRT? Selain mengurus keperluan suami, IRT juga punya tanggung jawab mengurus anak dan memenuhi semua kebutuhannya. Kelihatannya IRT ini sepele banget kerjaannya. Kelihatannya malah kayak pengangguran aja yang nggak ada kegiatan. Bahkan saya sempat ditampar keras (baca: ditegur dengan nyelekit…kwkwk) karena saya termasuk IRT yang jarang banget keluar rumah. Saya juga tidak suka ikut arisan bersama ibu-ibu di kompleks karena saya memang tidak suka. Alasannya simpel aja…haha. Jadi, kelihatannya nganggur banget hidup kamu, Muyass! Netizen menjadi maha tahu segalanya. Tapi, sejak saya kecil hingga beranjak remaja, saya terdidik seperti ini. Bahkan untuk mengetahui dan jalan-jalan di kota kelahiran saya pun tidak pernah benar-benar terjadi kecuali hingga saya keluar dari pesantren dan menikah. Kemudian saya ikut suami dan merantau di Jakarta. Anak yang empat tahun di pesantren tiba-tiba ada di Ibu Kota, ngapain aja kalau suami kerja?

Merajut, menyulam, bikin bunga-bunga dari kertas krep…kwkwk. Itu terjadi sebelum saya menekuni kegiatan menulis. Dan itu terjadi hingga hampir sepuluh tahun saya di sini. Masih sama, tidak suka keluar rumah kecuali memang perlu banget. Karena faktanya mengurus rumah itu nggak mudah. Saya tidak sedang mencoba mengeluh, tetapi kenyataan berkata, buat masak aja kadang di dapur sampai beberapa jam, terus anak-anak apa kabar? Belum ngeberesin cucian dan setrikaan. Sisa waktu istirahat saya dibuat melakukan kegiatan yang paling saya sukai, menulis! Itu adalah me time ala saya.

Dan saya harus memilih mana yang jadi prioritas, anak-anak atau passion saya? Anak-anak tetap yang utama. Walau sekarang masih belum bisa jadi ibu yang terbaik, tetapi mereka memang sudah jadi amanah dan kewajiban saya. Jika mereka sudah jadi prioritas, maka selanjutnya bisa diurutkan apa saja yang memang harus dikerjakan.

Anak-anak yang pertama, kemudian kerjaan rumah seperti memasak dan membereskan cucian menjadi yang kedua, kalau yang kedua diganti yang lain, gimana anak-anak dan suami makan dan ganti pakaian? Haha. Lalu menulisnya kapan? Ketika anak-anak tidur, tidak membutuhkan saya di dekatnya. Itu memang hanya terjadi saat mereka tidur atau asyik bersama dengan kakaknya atau ayahnya. Selebihnya saya harus mengurangi waktu istirahat untuk menyelesaikan buku, artikel, atau ngisi blog. Ini nggak drama, lho. Nggak, saya menikmati semuanya.

Belakangan saya memang mulai mengurangi banyak target, bukan cepat merasa puas karena sudah ada beberapa buku solo di-acc penerbit, tetapi memang waktu saya semakin sempit setelah bungsu beranjak besar. Dia yang biasanya tidur siang dari pukul 10 sampai 12, kini sudah pensiun, saudaraaa. Iya, dia sudah nggak suka tidur siang, bahkan kadang saya yang kecapean kemudian ketiduran, dan dia dengan muka sedih bilang, ‘Adek nggak bisa merem sendiri.’ Duh, piye kamu, Nak? Haha. Emaknya tepar.

Kalau saya memaksakan diri dengan keadaan saya sekarang, saya percaya dan yakin, semua yang saya rencanakan bukannya jadi baik, malah berantakan karena suntuk nggak bisa capai target. So, mungkin ini adalah saat yang tepat untuk lebih santai dan terus menulis sesuai kemampuan. Begitu juga dengan teman-teman, jangan suntuk kalau ada yang nggak tercapai, apalagi sampai ngomelin anak-anak. Pelan-pelan mungkin kamu bisa mengatur waktu dan kerjakan semua sesuai kemampuanmu.

2. Ukur Kemampuan Diri


Ada banyak perempuan yang tetap bisa menulis dan produktif ngurus ini dan itu, tetapi itu bukan saya yang sekarang. Dulu, saya bisa mengejar banyak target karena memang keadaannya memungkinkan. Si sulung masih santai sekolahnya, si adik masih bayi dan imut. Dan sekarang? Semua sedang butuh saya banget. Akhirnya saya harus sadar diri, bahwa kemampuan saya tidak lagi seperti dulu.

Saya tetap punya target, tetapi saya tidak mengambil terlalu banyak. Saya sadar kemampuan saya menyelesaikannya seberapa besar. Saya harus tahu apa yang harus saya selesaikan sekarang, dan apa yang bisa ditunda dulu.

Kalau sekarang saya ingin menyelesaikan satu buku, berarti saya harus memilih tidak terlalu aktif menulis artikel dan ngeblog. Begitu juga sebaliknya. Semua tetap berjalan, tetapi waktunya harus diatur sesuai kemampuan.

3. Kamu Bukan Wonder Women


Saat diskusi tadi, ada yang mengatakan bahwa kalau memang sudah capek banget, apalagi sampai sakit, ya sebaiknya istirahat, jangan dipaksa. Ini memang ada benarnya, karena kesehatan kita memang utama. Karena kalau seorang ibu sakit, siapa yang bakal mengurus keluarga? Atau, walaupun sakit, kadang kita tetap memaksa bekerja karena memang tidak ada gantinya. So, kamu bukan wonder women yang bisa begadang sepanjang malam dan besoknya masih bisa melek segar? Kamu butuh istirahat, kamu butuh tidur cukup, bahkan kalau kurang tidur jadi susah menulis karena lesu.

4. Konsisten dan Disiplin Menyelesaikan Target


Bagi yang punya waktu sedikit, disiplin dan konsisten adalah hal yang sangat penting. Kalau kamu tidak menggunakan waktu dengan baik, target kamu akan berantakan dan tak ada mimpi yang benar-benar berhasil dicapai. Mengecewakan, ya?

Walaupun kamu hanya bisa menyelesaikan satu sampai dua halaman per hari, tetapi jika kamu konsisten dan disiplin menyelesaikannya, kamu pasti bisa mencapai keinginan dan memiliki buku solo sebulan atau dua bulan kemudian. Untuk memulai, memang berat banget. Tapi, kalau sudah jadi kebiasaan, Insya Allah semua akan berjalan dengan mudah.

5. Hindari Sikap Menunda-nunda Pekerjaan


Kamu punya waktu cukup sebenarnya untuk menyelesaikan tulisan kamu, walaupun itu harus dikerjakan malam hari setelah semua tidur. Tapi, karena kamu menunda terus menerus, akhirnya semua itu tak pernah beres. Bahkan seharusnya sudah istirahat, malah sibuk ngurusin setrikaan, dan ini saya banget..haha.

Itulah beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika ingin mengatur waktu dan memilih mengutamakan antara menulis atau anak-anak? Karena terlalu banyak target yang tidak bisa terpenuhi bikin kita suntuk. Padahal, sejatinya menulis adalah hal menyenangkan dan bikin kita gembira. Masalahnya, kalau tidak bisa mengatur waktu, bukan hanya target menulis yang berantakan, tetapi rumah juga berantakan, dan anak-anak bakal kehilangan kita sebagai sosok Ibu. Ingat, kemampuan kita hanya kita sendiri yang tahu, bukan orang lain. Bisa jadi mereka dapat mengerjakan banyak hal dalam sehari, tetapi belum tentu kita bisa seperti mereka. Jadi, usaha itu harus, tetapi memaksa menjadi mereka itu tidak perlu. Kamu punya jalan sendiri untuk mencapai kesuksesan dengan tidak menomorduakan keluarga dan kewajiban sebagai seorang ibu.

10 comments on "Manajemen Waktu Buat IRT Tanpa ART yang Hobi Menulis, Pilih Pekerjaan atau Anak-anak?"
  1. waah mantap nih sarannya buat buibu yang suka nulis yaa mba :))
    dibaca calon ibu juga boleh kan yaa wkk

    ReplyDelete
  2. Tetep family first ya mba, ternyata bukan saya aja yg riweuh, seneng kalo ada temen senasib berbagi pengelaman, semoga 2019 kita lebih baik lagi, aamiin

    ReplyDelete
  3. Ketahuan sekarang, kalau mbak Muyass jarang ke luar rumah, full di rumah trs mengurus rumah tangga. Wkwkwkwk.

    Kalau saya masih banyak iklannya. Temen,tetangga kadang masih merebut waktu saya. Hiks.Padahal saya sebenernya gak terlalu suka kumpul2. Ada saat tertentu, kalau kumpul2 malah kepala saya jadi pusing dan emosi tidak stabil.
    Terima kasih untuk sharingnya, mbak. Sudah dapat gambaran memperbaiki jadwal. Mudah2an bisa jadi lebih baik lagi.

    ReplyDelete
  4. Makasih sharingnya ya mbak, bermanfaat banget buat saya biar bisa mengatur waktu lebih baik lagi 😊

    ReplyDelete
  5. Tak ada kerjaan tertunda
    Pasti selalu beres dan bahagia

    Salam kenal ya

    ReplyDelete
  6. point pertama memang harus didahulukan, dan setelah itu kita selanjutnya melakukan hal-hal yang akan kita kerjakan..dan sebaiknya tidak menunda-nunda pekerjaan kita :j

    ReplyDelete
  7. Sama dong mbak saya juga tanpa IRT kadang suka bikin kerajinan di rumah. Akhir2 ini lebih fokus urusin blog sama rencana mau buat buku juga (naskahnya udah lama di flashdisk nggak ke cetak juga)

    ReplyDelete
  8. Iya benar, jangan menunda pekerjaan. Kalau sudah menjadi kebiasaan susahnya untuk langsung kerjain tugas

    ReplyDelete

EMOTICON
Klik the button below to show emoticons and the its code
Hide Emoticon
Show Emoticon
:D
 
:)
 
:h
 
:a
 
:e
 
:f
 
:p
 
:v
 
:i
 
:j
 
:k
 
:(
 
:c
 
:n
 
:z
 
:g
 
:q
 
:r
 
:s
:t
 
:o
 
:x
 
:w
 
:m
 
:y
 
:b
 
:1
 
:2
 
:3
 
:4
 
:5
:6
 
:7
 
:8
 
:9

Custom Post Signature

Custom Post  Signature