Top Social

Cara Memelihara Kelinci yang Masih Kecil Khusus Buat Kamu yang Masih Pemula



Drama banget ketika memelihara kelinci apalagi yang usianya masih terbilang kecil, yakni usia dua bulan. Kenapa memelihara kelinci saja harus pake drama? Saya mau bercerita dari awal kenapa tiba-tiba di rumah mau memelihara kelinci, padahal saya paling enggan kalau ada hewan di rumah.

Awalnya ketika kami berbelanja ke pasar tradisional dekat rumah, tiba-tiba si sulung merengek minta dibelikan kelinci yang dijual di dekat tempat parkir. What? Sempat kaget dan nolak langsung karena kebayang gimana itu kotoran dan bau pesing dari kencingnya. Hiks. Tapi, ternyata sulung benar-benar pengen, sampai akhirnya dia mau berjanji membersihkan dan memberi makan sendiri. Perjanjian itu dilakukan bersama ayahnya, sedangkan emaknya sudah mau jantungan dan memilih diam daripada akhirnya bawel…kwkwk.

Setelah itu, akhirnya si sulung berhasil membawa pulang seekor kelinci lokal berwarna putih yang usianya sekitar 2-3 bulanan. Wah, saya sih nggak kebayang aja gimana ngurus kelinci, secara ini di Jakarta, mana ada lahan berupa tanah buat ngelepas dia jalan-jalan…haha. Jauh banget bayangan emaknya sampai-sampai super lebay begitu.

Karena melihat si sulung serius dan mau menepati janjinya, akhirnya suami memutuskan membelikan kandangnya juga. Si sulung saat itu berusia tujuh tahun. Ya, usia segitu dia mana pernah mau pergi ke warung untuk membeli apa pun. Jangankan sayur buat emaknya, beli permen buat dia sendiri saja nggak mau. Dan ajaibnya, dia berubah ketika punya kelinci.

Pagi-pagi dia sudah bangun dan segera membersihkan kandang kelincinya. Dia juga nggak ragu lari ke warung untuk membeli pakan bagi kelincinya. Yap! Saat itu karena ketidaktahuan kami, kelinci kecil itu makan wortel dan sawi putih. Di film kartun 'kan memang kelinci makannya wortel…kwkwk.  Mana tahu kalau ternyata itu sangat dilarang karena bikin kelinci diare…hiks.

Saat itu, umur kelinci ini bisa dibilang lumayan lama bersama kami. Nggak cepat sakit, tetapi lama-lama kelihatan kalau dia diare. Tapi, kami nggak pernah tertarik mencari tahu, jadi ya hanya didiamkan, bahkan biar bersih sama suami dimandiin, padahal itu juga nggak boleh, lho. Hiks.

Nggak lama kemudian, si kelinci putih kesayangan sulung ini pun akhirnya mati. Saya dan suami biasa saja. Nggak ada yang aneh karena sebelumnya memang dia tampak sakit. Tapi, hal berbeda terjadi sama sulung. Dia masuk kamar dan nggak nyangka banget dia menangis sedih, bahkan bisa dibilang super sedih. Saya nggak pernah membayangkan dia bakalan sesedih itu, karena selama ini dia anaknya cuek banget.

Kisah si sulung sempat saya ikutkan kompetisi menulis di DIVA Press dan Masya Allah terpilih serta sudah terbit. Bukunya bisa kamu cari di toko buku (baca: nggak lupa promo…kwkwk).



Dan kejadian itu terjadi lama banget. Udah lama banget kandang yang dibeliin ayahnya juga nggak dipakai dan dibiarkan di lantai atas. Sampai berdebu. Hingga suatu hari, saya iseng buka Tokopedia dan nyari-nyari yang jual kelinci. Ternyata banyak, Saudaraa! Si sulung yang ada di sebelah saya langsung heboh minta dibelikan, nggak mau nunda, maksa pake banget, bahkan sampai rela pake uangnya sendiri. Duh, gimana emaknya bisa nolak sedangkan mata dia aja berbinar-binar penuh harap? Hehe.

Kelinci lokal berusi 2-3 bulan dihargai Rp. 45-60 ribu, sama seperti ketika kami beli di pasar tradisional dulu. Sedangkan kelinci berbulu tebal dan mini dutch dihargai Rp. 150 ribu per ekor untuk usia 2 bulanan. Wah, itu emang gambarnya bikin gemas banget, lho. Apalagi yang bulunya sampai menjuntai dan telinganya beda sehingga mirip sama anjing kecil.

Saya mikir gimana milihnya? Kalau yang bulu tebal khawatir susah dirawat, padahalkan sama saja, ya…haha. Kalau yang mini ducth yang mirip panda ini kayaknya lebih pas secara dia bulunya pendek, tetapi ukuran dan wajahnya so cute!

Yap! Seperti yang kamu kira, akhirnya saya benar-benar memilih kelinci mini ducth itu, lho. Sepasang kelinci dihargai Rp. 280 ribu. Sebelum membeli, saya menanyakan juga semua kebutuhannya, termasuk makanan dan cara merawatnya. Karena penjualnya cukup responsif, akhirnya semua pertanyaan terjawab sudah.

Jadi, perawatan yang saya lakukan pada kelinci pertama dulu semuanya 100% salah. Duh, jadi sedih juga kenapa nggak mencari tahu..hiks. Untuk kelinci kedua ini saya sudah yakin bakalan bisa merawatnya sampai besar, tapi ternyata apa yang terjadi? Kelinci ini diambil sekitar pukul 4 sore oleh ojek online. Hingga pukul 6 dia belum juga datang. Nggak lama berselang dengan adzan Maghrib, akhirnya sampai juga. Kebayang dong berapa jam perjalanan?

Kelinci sampai rumah tampak oke aja, lho. Sayangnya, makanan yang saya beli nggak keangkut karena ojek online satunya membatalkannya tiba-tiba. Jadi, pas sampai rumah hanya diberi air mineral dan sisa rumput kering dari penjualnya. Nggak nyangka, kelinci warna abu-abu putih yang paling saya suka malah mati besoknya. Iya, secepat itu matinya. Kaget banget dan segera menghubungi penjualnya.

Karena tidak ada kesalahan yang saya lakukan, penjualnya ngasih ganti tanpa saya minta. Mungkin dia juga kaget, kok cepet banget matinya..hehe. Pagi itu juga, sambil mengantarkan makanan dan obat diare yang saya pesan, kelinci pengganti datang.  Dan waktunya cukup satu jam perjalanan saja. Warnanya sama seperti yang masih hidup, yakni hitam dan putih.

Keduanya tampak sehat-sehat saja, hingga malam kok kayaknya kelinci yang datang pertama menggigil dan nggak doyan makan sama sekali. Beda banget dengan yang baru datang, lahap! Ketika suami pulang dari kantor, dia pun membantu memberikan obat diare, karena ketahuan dia diare walau hanya makan rumput kering dan pelet. Entah kenapa, bisa juga dingin atau entahlah.

Setelah memberikan obat, suami membuat rumah-rumahan yang diisi dengan rumput kering. Supaya kelinci-kelinci itu bisa tidur di sana dan nggak kedinginan. Rumahnya oke banget…haha. Lucu dan gemesin. Sayangnya, besoknya yang sakit kembali tumbang. Yap! Kelinci yang diberi nama Comel itu pun mati menyusul Cimol. Hiks. Super sedih dan kayaknya takut banget tiap bangun tidur khawatir mati lagi dan lagi.

Dan ternyata hanya tersisa satu kelinci saja, lho. Sedih parah karena jujur saya suka banget  malah sama kelinci ini, imut dan menggemaskan. Sebelumnya, karena khawatir kedinginan, saya membungkus kandang mereka dengan kain gorden mungil. Jadi semua tertutup supaya nggak kena angin, dan kalau malam masuk rumah. Kebetulan di dalam rumah ada taman kecil yang lantainya bukan keramik, ruangan ini atapnya tembus ke langit tapi disertai penutup.

Jujur saja, saya sangat tidak setuju kalau sampai kandang kelinci ini masuk ke rumah dan ada di lantai keramik. Najisnya itu, lho nggak banget. Bagi muslim, bakalan ribet deh nanti mau shalat kalau ada najis di mana-mana. Walaupun pakai kandang, kencing kelincinya suka keluar batas gitu. Jadi, saya sangat resah…kwkwk. Bersyukur ada taman kecil ini, jadi kalau pagi saya siram lantai pavingnya dan kelinci dibawa ke luar.

Hingga saat ini, terhitung ada semingguan, kelinci satu ini masih sehat, Masya Allah. Saya pribadi sangat berharap dia bisa tumbuh besar karena saya juga jadi suka, bahka pagi-pagi dan malam saya lebih rajin membersihkan daripada sulung…haha.

Walaupun masih pemula, bahkan karena pemula ini saya mau berbagi tips bagaimana merawat kelinci tanpa induk, yang masih berusia 2-3 bulan, yang masih mungil dan imut banget.


Kelinci Kecil Hanya Makan Pelet dan Rumput Kering
Kelinci saya sekarang hanya makan pelet dan rumput kering. Saya juga membelinya di tokopedia ketika membeli kelincinya juga. Ternyata kelinci kecil nggak bisa makan sayuran karena bikin dia diare dan sakit. Sebelumnya, saya merasa sotoy banget karena kayaknya di mana-mana, kelinci itu makan wortel, ya? Haha, ternyata saya salah.

Untuk 1 Kilogram pelet harganya Rp. 29.500, sedangkan untuk 1 kilogram rumput Hay Timothy harganya Rp. 35 ribu. Ini jumlahnya banyak banget. Dibungkus plastik berukuran besar. Dan kayaknya ini bisa dipakai sampai beberapa minggu.

Berikan Hanya Air Matang
Manja banget kelincinya, ya? Karena trauma sering mati, sejak awal beli yang baru, saya langsung memberikan air mineral yang biasa kami minum. Penjualnya juga menyarankan hal serupa.

Berikan Tatakan Kelinci di Dalam Kandang
Tatakan kelinci itu yang berwarna putih. Itu tebal banget dan emang nyaman kalau kita coba…kwkwk. Kalau nggak pakai itu, kaki-kaki kelinci mudah terperosok dan langsung kena alas kandang yang dipenuhi dengan kotoran dan kencing. Selain itu, kata penjualnya tatakan ini juga bisa menghindarkan kelinci dari penyakit atau kaki bengkok. Kalau dilihat, memang dia tampak lebih nyaman dengan tidur di atasnya. Harga satu tatakan kelinci ini adalah Rp. 30 ribu. Ada yang juga yang menjualnya hingga Rp. 35 ribu. Plastiknya asli tebal banget memang. Saya kemarin beli dua, tetapi ternyata kandangnya nggak muat, akhirnya dikasih satu, dan di sebelahnya diberi rumah buatan suami. Seperti arsitek aja bikin rumah...haha.

Jangan Sampai Kelinci Kedinginan Apalagi Kena Tampias Hujan
Karena masih kecil, jadi mereka seperti bayi juga nggak bisa kena dingin. Kalau kamu memelihara kelinci seperti ini, sebaiknya kandangnya diberi penutup. Saya kemarin menggunakan gorden kecil dan ditutup melingkar hingga bagian atasnya. Tenang, dia masih bisa bernapas karena bagian bawahnya kan juga longgar.

Kalau malam, usahakan dimasukkan ke dalam rumah, apalagi sekarang musim hujan, jangan sampai kena tampias hujan dan angin.

Bersihkan Kandang Kelinci Dua Kali Sehari
Ini aturan dari mana? Dari saya sendiri…hehe. Karena nggak suka kotor, saya berusaha sesering mungkin membersihkan kandangnya. Pertama pagi, dan kedua ketika sore supaya ketika kita tinggal tidur, kandangnya sudah bersih dan dipastikan jumlah makanannya cukup. Jangan sampai air minum habis atau makanan juga habis.

Buatkan Rumah dan Isi dengan Rumput Supaya Lebih Hangat
Ini memang ide suami. Dadakan banget. Sampai rumah, malam-malam setelah dari kantor langsung bikin. Hasilnya ternyata berguna banget. Kelincinya hampir selalu di dalam rumahnya. Setiap hari, saya membuang alasnya yang berupa koran dan sisa rumput kering. Kemudian menggantinya dengan yang baru. Jujur saja, kandangnya memang cenderung bersih, apalagi pakai tatakan dan rumah-rumahan ini. Dan pastinya bisa membantu bikin dia hangat.

Jangan Mandikan Kelinci
Teman saya mengatakan bahwa kelinci itu sebaiknya memang nggak perlu mandi. Kalaupun mandi, kamu harus punya hair dryer supaya kelinci lekas bisa dikeringkan setelah mandi. Kelinci memang sangat sensitif, makannya nggak jarang cepat mati. Ada baiknya memang biarkan saja dia nggak mandi yang penting pemiliknya mandi..hehe.

Berikan Obat Ketika Dia Sakit
Yang paling saya takutkan, kelinci diare dan mati. Karena sebelumnya memang kejadiannya seperti ini. Jadi, kalau kamu membeli kelinci, coba beli juga obat diare. Ada juga obat penyakit lain, tetapi paling mendesak menurut penjual adalah obat diare ini. Hagranya murah, satu botol kecil seukuran obat tetas mata harganya Rp. 20 ribu saja. Diberikan 3 tetes sebanyak dua kali sehari. Berikan langsung ke mulutnya.

Selebihnya, banyaklah berdoa supaya kelinci kamu sehat. Saya juga sempat membaca, kalau kelinci kecil itu rawan stres. Jadi, ada baiknya jangan terlalu sering diajakin main, dan hindarkan dari cahaya juga. Semoga bermanfaat, barangkali kamu tertarik memeliharanya juga.

8 comments on "Cara Memelihara Kelinci yang Masih Kecil Khusus Buat Kamu yang Masih Pemula"
  1. sama ya. pertama kali beli dulu saya dapat yang umur 3 bulanan. lupa harganya berapa yang jelas jenis lokal. beli sepasang dari saya SMA sampe saya kuliah semester 4. Cuma menginjak semester 3 yang betina mati duluan. pas mau masuk semester 5 baru yang jantan mati. malah saya nggak pernah kasih pelet bahkan nasi sisa dimakan juga sama kelinci ini. sampe heran saya dulu hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tapi, memang saya lihat ada yang makan2 sayuran tetap sehat kok, Mbak. Bahkan kalau di kampung mana ada sih yang mau beliin pelet buat kelinci? Cukup rumput aja kalau mertua saya. Kalau usianya udah agak besar, mereka juga bisa makan sayuran. Katanya begitu..hihi

      Delete
  2. Aih, saya jadi teringat waktu masih kecil dulu pernah memelihara beberapa ekor kelinci bersama ayah saya.. walaupun endingnya semua mati -,-
    Setelah baca ini, sekarang saya baru sadar kalau banyak sekali kesalahan yang saya dan ayah buat sampe buat kelinci2 itu mati T_T

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, walau mati tapi terbangun stasiun kenangan yang manis bersama orang tua. Yang selalu bikin kita ingat mereka ketika ada cerita serupa..

      Delete
  3. Wah ini baru kejadian sama kami, ceritanya mirip banget sama yang kami alami. Baru beli sepasang kelinci.yang 1 hidup seminggu dan yg 1 nya lagi 2 mingguan. Matinya pas pagi kita bangun nengon kelinci dah mati. Anak yang minta pelihara kelinci langsung nangis masuk kamar sambil liatin foto2 kelinci di kamera. Mungkin ya... Sebabnya karna kelinci kami rajin dimandiin dan makanin sayuran. Kedinginan pula Karna kandangnya diluar siang malam. Terimakasih infonya. Kini kami jadi ngerti kenapa kelinci gampang mati pas kita beli dan pelihara.tapi waktu kita beli pada penjualnya sehat-sehat aja.yup cara pemeliharaan yg salah dan ketidaktahuan. Semoga setelah ini kami bisa pelihara kelinci lagi,buat anakku yg masih kangen sama kelinci2nya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama, Mbak..di rumah masih hidup satu nih..hehe, kayaknya sekarang udah lebih tangguh kelincinya..

      Delete
  4. Senengnya bisa punya pet kelinci, kelinci kecil ga makan wortel ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makan boleh aja mbak asal udah agak berasan gt..hihi..klw masih segini nggak boleh..

      Delete

EMOTICON
Klik the button below to show emoticons and the its code
Hide Emoticon
Show Emoticon
:D
 
:)
 
:h
 
:a
 
:e
 
:f
 
:p
 
:v
 
:i
 
:j
 
:k
 
:(
 
:c
 
:n
 
:z
 
:g
 
:q
 
:r
 
:s
:t
 
:o
 
:x
 
:w
 
:m
 
:y
 
:b
 
:1
 
:2
 
:3
 
:4
 
:5
:6
 
:7
 
:8
 
:9

Custom Post Signature

Custom Post  Signature